Warning : AU, OOC, Hard Lime, typos, violence, rape.
Desclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
#Criminal Chapter 3#
By : Rhe Muliya Young
.
.
Setelah mengetahui perbuatan Sasuke tadi pagi, saat pulang sekolah Naruto mengantarkan Hinata pulang ke apartemennya. Dapat Naruto lihat seperti biasa, raut gadis itu tetap terlihat tenang. Padahal ia baru saja berurusan dengan Sasuke. Naruto heran, padahal kalau oranglain berurusan dengan Sasuke pasti hidupnya tak akan tenang.
Pria pirang itu tentu khawatir akan keselamatan Hinata.
"Hinata, kau tidak apa-apa kan?" Ini sudah kesekian kalinya Naruto menanyai hal yang sama pada gadis itu. Dan tanggapan Hinata selalu sama, hanya tersenyum sembari mengangguk pelan. Apa benar Hinata tidak apa-apa?
Dalam hati, sebenarnya Naruto yakin kejadian hari ini ada hubungannya dengan Sasuke yang saat itu terlihat sengaja menendang bola kearah Hinata. Terlintaslah fikiran-fikiran negatif di benak Naruto.
Mungkinkah Sasuke merencanakan sesuatu terhadap Hinata?
"Ne, Hinata? Apa Sasuke melakukan hal buruk padamu?" Naruto menyelidik.
Hinata berniat ingin sekali memberi tahu yang sebenarnya, tapi tentu saja ia tidak ingin melihat Naruto marah, sedih atau malah berkelahi dengan Sasuke. Dia tak akan memaafkan dirinya kalau sampai terjadi apa-apa dengan Naruto.
"Tidak Naruto-kun, Sasuke-san hanya mengantarku ke UKS saja". Biarlah dia akan mengubur niat itu, walau Hinata tidak yakin sampai kapan ia bisa menyembunyikan itu semua. Setidaknya, untuk saat ini ia akan berpangku tangan dulu. Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa dilubuk hatinya yang terdalam, ada niatan untuk melaporkan Sasuke.
Mendengar pengakuan Hinata, Naruto langsung menepis fikiran tersebut. Hinata itu murid baru, mana mungkin dia pernah mengganggu Sasuke. Naruto hanya berharap semoga Sasuke tidak akan menyakiti Hinata, karena ia sungguh sangat menyayangi gadis itu, entah sebagai adik, sahabat atau mungkin lebih, dia juga tak mengerti.
Apalagi Kurenai-sensei telah berpesan padanya agar menjaga Hinata, dan Naruto telah berjanji akan menjaga gadis itu, apapun yang terjadi.
.
.
.
.
.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, sekolah berjalan dengan normal seperti biasa, namun tidak bagi Kurenai-sensei. Ia tahu sesuatu telah terjadi pada Hinata dan ada hubungannya dengan Sasuke. Ia tidak akan tinggal diam begitu saja. Memanggil keluarga Sasuke tidaklah mungkin, jadi ia memutuskan untuk menemui Kakashi-sensei. Pria yang bertanggung jawab atas Sasuke.
"Ohayou Kakashi-sensei" Kurenai menyapa rekan sesama guru sekaligus teman baiknya, Hatake Kakashi. Kakashi menoleh kearah orang yang menyapanya, "Oh! Kurenai-sensei, ohayou."
Kakashi berdiri dan membungkuk hormat saat Kurenai menarik bangku dan duduk diseberang mejanya. "Aku ingin bicara" ucap Kurenai. Kakashi kembali duduk di kursinya, "Ada apa, kelihatannya serius sekali?".
"Ini soal Sasuke, murid kesayanganmu" Kurenai to the point.
Sebenarnya Kakashi menangkap sindiran dari kalimat Kurenai, tapi ia tak mau repot-repot menanggapinya. "Oh, apa dia berkelahi?" Kurenai menggeleng, "Atau menyerang siswa lagi?" dengan cepat Kurenai mengangguk menanggapi pertanyaan pria itu. Kakashi mengernyit, "Memangnya kali ini siapa? Apakah Kiba, tetanggamu itu?" tanya Kakashi masih dengan tampang datar acuh tak acuh.
"Bukan!" sergah Kurenai sambil meremas kasar taplak meja. Kakashi terdiam, melihat guru galak yang sensitif itu mulai serius. "Jadi siapa yang berkelahi dengan Sasuke?"
"Hinata."
Kakashi menghela nafas, dia yang merupakan wali Sasuke merasa kerepotan menerima laporan-laporan penganiayaan oleh Sasuke. Ia pun menyandarkan punggungnya ke kursi, "Wanita lagi, apa Sasuke mencoba membunuhnya seperti Sakura?"
"Bukan perkelahian, itu seperti tindakan...pelecehan seksual".
Pria berambut silver itu langsung menaikkan sebelah alis "Kau yakin Sasuke melakukan itu?" Kakashi terdengar tak percaya pada Kurenai. Pasalnya selama ini, kasus yang sering muncul adalah kasus perkelahian, atau pemukulan yang di lakukan oleh Sasuke. Baru kali ini ia mendengar laporan bahwa Sasuke melakukan pelecehan seksual.
"Kemarin, aku melihat Hinata dan Sasuke di dalam ruang UKS berdua. Aku menemukan baju Hinata yang terbuka. Aku yakin Sasuke melakukannya pada Hinata".
"Apa ada bukti?" ucapan Kakashi sukses membuat Kurenai terbelalak, bahu Kurenai langsung jatuh lemas, "Belum" . Tak lama kemudian, ia menarik nafas dalam, "Tapi, kurasa kau harus setuju untuk mengeluarkan Uchiha itu, dia sudah meresahkan warga sekolah, aku tidak mau ada korban berjatuhan lagi, jadi kumohon Kakashi-sensei" Kurenai memandang Kakashi penuh harap.
Kakashi menghela nafasnya lagi mendengar permintaan sepihak dari guru itu. "Kurenai, kurasa kau terlalu overprotektif terhadap Hinata. Tapi, maaf aku tidak bisa begitu saja mengeluarkan dia" ucapan Kakashi membuat Kurenai semakin membelalak dan bertanya-tanya. Ia tak habis fikir kenapa pria yang hanya wali Sasuke ini begitu melindungi murid yang jelas-jelas telah melakukan tindakan kriminal, bahkan juga asusila.
Kurenai mendecih, "Apa karena keluarga Uchiha yang kaya itu sudah menyogok mu?" sindir Kurenai sarkastis. Kakashi pun memijit dahinya, "Apa yang kau bicarakan Kurenai?"
"Ayolah mengaku saja Kakashi-sensei, jangan berpura-pura baik di depanku".
Kali ini ucapan Kurenai membuat guru-guru yang ada dikantor memandang mereka sambil berbisik-bisik. Kakashi mulai merasa tidak nyaman, dengan perdebatan mereka saat ini.
"Kau tahu itu tidak benar, aku hanya yakin Sasuke dapat berubah menjadi anak yang baik. Aku yang bertanggung jawab pada anak didikku. Katakan juga pada Hinata untuk tidak mendekati Sasuke".
Kurenai sebenarnya sangat marah dan ingin sekali memaki habis-habisan pria ini, tapi ia sadar ini adalah sekolahan. Tidaklah pantas baginya kalau sampai bertengkar di tempat itu. "Baiklah, aku pegang kata-kata mu", Kurenai bangkit dari kursi dan berjalan keluar ruang guru, mengabaikan Kakashi dan beberapa guru yang memandanginya.
.
.
.
Dengan perlahan, sesosok pria berjalan menaiki satu-persatu anak tangga menuju kamarnya dilantai dua. Begitu sampai di depan pintu, sang pria–Sasuke kemudian memutar kenop pintu kamarnya, sampai sebuah suara menginterupsi kegiatannya. "Sasuke, aku ingin bicara", Sasuke menolehkan kepalanya sedikit, dan didapatinya Kakashi yang tengah berdiri menyandar di tangga.
Sasuke pun mengikuti Kakashi kearah ruang tengah rumah yang memang mereka tinggali berdua. Ya, Sasuke memang tinggal bersama dengan Kakashi di perfektur Kyoto. Keluarganya? Kedua orangtuanya masih hidup dan ia memiliki seorang kakak. Mereka sibuk dengan kehidupan masing-masing, sehingga mereka menitipkan Sasuke kepada Kakashi dan membiayai segala keperluan hidup mereka.
Kini mereka duduk berhadapan di sofa kulit berwarna hitam untuk berbicara berdua. Sesuatu yang sudah jarang dilakukan oleh mereka semenjak Sasuke tersangkut kasus tempo hari.
"Sasuke, ku harap kau tidak melakukan hal buruk lagi" Kakashi memandang intens Sasuke yang sedang menyandar di sofa. "Hn!" hanya itu yang keluar dari mulut Sasuke, Kakashi pun menghela nafas, mencoba sabar.
"Oh iya, tentang gadis bernama Hyuuga Hinata, apa kau punya masalah dengannya?" Mata oniks Sasuke sedikit melebar kala mendengar nama yang disebutkan Kakashi. Hinata? Gadis itu, gadis yang memenuhi pikirannya beberapa minggu ini.
Entahlah, sejak ia melihatnya, ia jadi menginginkan gadis itu, lebih tepatnya tubuh gadis itu. Bagi Sasuke, mencumbu tubuh gadis berambut indigo itu benar-benar membuatnya seperti di surga. Damn! her body is my extacy!.
"Sasuke!" nada Kakashi sedikit meninggi, membuyarkan lamunan Sasuke. Tapi, bagaimana Kakashi bisa tahu masalahnya dengan Hinata? Sial! Jadi gadis itu mengadu rupanya, lihat saja dia akan memberi perhitungan padanya.
"Apa pedulimu?" Sasuke melempar pertanyaan retoris pada Kakashi.
"Sasuke! Aku hanya memperingatkanmu, jangan menyakiti siapa pun lagi, atau kau akan ku kirim ke psikiater" Ancamnya.
Sasuke mengeluarkan tawa meremehkan "...Kau pikir kau itu siapa? Beraninya kau memerintah ku!" sergah Sasuke dengan nada sarkastis, Kakashi pun menghela nafas lagi, dia tak tahu harus berbuat apa lagi untuk membujuk Sasuke yang keras kepala.
"Sasuke, ku mohon jangan membuat ulah lagi" Kakashi masih memohon pada Sasuke.
Ya, Kakashi selalu kalah bila berdebat dengan anak itu.
Sasuke manatap Kakashi dengan tatapan datar khas-nya, ia membuka mulut hendak mengutarakan sesuatu. Namun, ia malah menyembunyikan manik oniks di balik kelopak matanya, "Berhenti menggangguku!" dan dengan kalimat itu, Sasuke berlalu. Kalau sudah begini, maka Kakashi sudah kalah, anak itu tidak bisa diperintah atau diatur olehnya, atau siapapun.
Begitu sosok anak angkatnya itu menghilang, Kakashi langsung merebahkan tubuhnya di sofa dan menyandarkan kepalanya ditempat yang nyaman. Kedua bola matanya menerawang keatas langit-langit, mengingat-ingat lagi riwayat hidup Uchiha Sasuke.
Dulu Sasuke tinggal di perfektur Okiyama dengan keluarganya. Ia merupakan anak bungsu dari pasangan Uchiha Fugaku, seorang polisi dan Uchiha Mikoto wanita yang berkarir sebagai direktur perusahaan peninggalan ayahnya. Dia memiliki kakak bernama Uchiha Itachi yang merupakan satu-satunya orang yang bersosialisasi dengannya.
Ayahnya adalah orang yang mengutamakan aturan, ia selalu mendidik anak-anaknya dengan keras. Ia tak segan-segan menghukum mereka seberat-beratnya jika melakukan kesalahan kecil saja.
Itachi yang saat itu berumur tiga belas tahun, tumbuh sebagai anak yang taat dan patuh. Prestasinya tak dapat diragukan lagi, dan itu membuat bangga ayahnya.
Berbeda dengan Sasuke kecil yang saat itu masih berumur sepuluh tahun. Ia tak sepandai kakanya, sifatnya cenderung memberontak, dan keras kepala. Ayahnya tidak suka itu, sehingga ia kerap kali mendapat hukuman.
Yang membuat Kakashi miris adalah jenis hukuman yang dijatuhkan Fugaku pada Sasuke. Ia tak segan-segan memukuli anak malang itu, berulang kali. Setelah tubuhnya memar dan membiru, sang ayah akan menyeret anaknya kedalam kamar mandi. Ia melucuti pakaiannya, dan memasukkan tubuh kecil itu kedalam bathup penuh air. Belum berakhir, Fugaku akan memborgol tangan Sasuke agar tak bisa kabur. Setelah itu ia kunci pintunya.
Sasuke baru akan dilepaskan oleh ibunya saat ia sudah pulang dari kantor. Berbeda dengan ayahnya, Mikoto sangat memanjakan Sasuke, namun secara berlebihan. Saat ia mendapati anaknya terisak di dalam kamar mandinya, sang ibu akan menghiburnya dengan memberikannya uang atau apapun yang dinginkannya.
Padahal bukan itu yang di butuhkan anak itu. Ia butuh kasih sayang.
Dan Sasuke tentu saja muak dengan kehidupan yang disuguhkan orangtuanya. Satu-satunya orang yang mengerti dirinya adalah Itachi.
Begitu orangtuanya pergi dari rumah, Sasuke akan masuk kedalam kamar kakaknya, merangkak naik keatas ranjang dan tidur dengan kakak yang amat ia cintai. Kakashi menemukan keanehan pada Itachi, ia memang mencintai Sasuke, tapi lebih dari sekedar cinta antar saudara.
Itachi mengidap kelainan seksual.
Melihat sang adik down, sebagai kakak yang baik ia berusaha menghiburnya, dengan memberikan 'kasih sayang' yang tak didapatkan Sasuke dari siapapun. Saat itu, Sasuke kecil tidak mengerti apa-apa ia hanya menikmatinya.
Dan mereka terus melakukan itu hingga mereka beranjak remaja.
Tak menunggu lama, sang ayah mengetahui perbuatan mereka. Kakashi tahu saat itu adalah hari dimana Uchiha Fugaku benar-benar murka. Kedua anaknya itu dihajar habis-habisan sampai masuk rumah sakit. Beruntung nyawa mereka terselamatkan.
Beberapa hari kemudian, Fugaku mengusir anak sulungnya. Itachi mengasingkan diri keluar negeri dan menetap disana. Ia tak pernah kembali lagi sampai sekarang.
Sejak saat itu, Fugaku tak sudi walau hanya untuk memandang Sasuke. Membuat anaknya babak belur berulang kali belum bisa menghilangkan kemarahan dan rasa kekecewaannya. Kalau saja saat itu Mikoto tidak nekat membawa kabur Sasuke, bisa dipastikan anak itu tewas ditangan ayahnya sendiri.
Mikoto yang bersimbah air mata datang pada Kakashi. Wanita itu menceritakan keputusan Fugaku yang juga ingin mengusir Sasuke. Tentu saja Mikoto tak ingin kehilangan putranya lagi, setelah kepergian Itachi. Kakashi yang bingung harus berbuat apa pada nasib keponakannya itu, akhirnya memberi solusi agar Sasuke tinggal dengannya.
Entah karena dirinya yang terlalu acuh atau Sasuke yang terlalu acuh, mereka tak bisa saling mengerti. Kakashi sadar dirinya tak bisa memberikan kasih sayang seorang ayah yang dinginkan Sasuke.
Hidup Sasuke makin tak karuan sejak itu. Ia selalu berdiam diri dan tak pernah berbicara pada siapa pun, dan mentalnya mulai tidak stabil. Ia tak segan melukai siapa pun yang mengusik keberadaannya. Ia tumbuh menjadi remaja sadis yang tak memiliki hati.
Karena hatinya memang sudah mati sejak lama.
.
.
.
.
.
TBC
"No hate, no life"
From : Rhe Muliya Young with Love
