Naruto milik Masashi Kishimoto
Story by me
Warning : Typo, OOC, bahasa tidak dimengerti, dan lain-lain
Mimpikah ini? atau benar-benar sebuah Kenyataan?
Dream or Reality
Sebelumnya…
Bruukk
Sasuke melihat Hinata menabrak seseorang, kemudian ia berhenti ketika melihat Hinata memeluk orang yang ditabraknya. "Gaara?" gumam Sasuke sambil menatap Gaara tajam. Begitupun dengan Gaara, sambil membalas pelukan Hinata, dia menatap Sasuke tajam.
"Apa yang dia lakukan padamu?" bisik Gaara ditelinga Hinata.
Dream or Reality
Hinata sadar Sasuke sudah menatapnya lebih dari lima belas menit, tapi ia tak bisa marah mengingat Kurinai-sensei sedang sibuk menjelaskan bagaimana cara menyelesaikan soal logaritma dipapan tulis. Sasuke menyebalkan, tapi logaritma lebih penting untuk hidupnya. Ia tak mau mengambil resiko kehilangan fokus untuk memahami materi penting ini hanya karena kesal dengan Sasuke.
"Ahhh…" Hinata meringis, ia baru ingat kalau dirinya perlu bantuan Sasuke. Hinata menggigit kukunya pertanda ia sedang gelisah, maukah Sasuke membantunya setelah apa yang dikatakannya tadi siang?
Dua jam yang lalu…
"Apa yang dia lakukan padamu?" bisik Gaara ditelinga Hinata. Hinata tak menjawab, ia sibuk mengatur pernapasannya yang memburu.
Gaara yang menyadari itu langsung menggendong Hinata dipunggungnya lalu membawanya pergi dari koridor. Gaara tahu, sudah terjadi sesuatu antara Hinata dan Sasuke, ia penasaran tentunya tapi ia tak bisa langsung memaksa Hinata menjawab. Baginya, kesehatan Hinata jauh lebih penting dibanding rasa penasarannya.
Gaara membawa Hinata keatap sekolah , satu-satunya tempat disekolah ini yang memiliki udara segar. Ia mendudukkan Hinata disalah satu kursi panjang kemudian ia berjongkok didepan Hinata."Kau baik-baik saja? Kenapa kau harus berlari seperti itu? Kau masih ingat kan, dengan kondisimu?" tanya Gaara bertubi-tubi.
Hinata hanya mengangguk, jika Gaara sudah masuk dalam mode mengomel seperti ini, mengangguk adalah solusi paling tepat. Karena mengangguk artinya ia berjanji akan setuju dengan semua omelan Gaara dan itu juga berarti ia mengaku salah.
Sesuai dugaannya, sekarang tatapan Gaara sudah mulai melembut, tidak ada sisa-sisa kekesalan lagi disana."Jangan seperti itu lagi" pinta Gaara penuh perhatian.
Jika sudah seperti ini, Hinata hanya bisa tersenyum polos sambil mengakatan 'Maaf' pada Gaara.
"Setidaknya katakan padaku, kenapa kau sampai kabur dari Sasuke? Dia melakukan sesuatu padamu?" tanya Gaara.
Hinata mengangguk lagi.
"Apa yang dia lakukan?"
Kali ini Hinata menghela nafasnya. "Gaara, sekarang aku tahu kenapa kau sering bertengkar dengannya dulu.." Hinata menjawab pertanyaan Gaara. Tidak, dibanding menjawab , ini lebih seperti Hinata sedang berbicara sendiri.
"Huh..?" Gaara tak mengerti dengan perubahan topik yang mendadak ini.
"Dia itu punya aura yang menyebalkan, aku tak menyukainya" lanjut Hinata tak mempedulikan tatapan bingung Gaara.
"Eumm..Kita masih membicarakan Sasuke kan?" Gaara memastikan. Pasalnya, pertanyaan yang diajukan dengan jawaban yang diterimanya sama sekali tak menyatu.
Hinata mengangguk pasti, tanpa ada keraguan.
"Baiklah, jadi kau tak menyukai Sasuke?" Gaara kembali memastikan. Lagi-lagi Hinata mengangguk. "Baguslah, lagipula kau tak perlu menyukainya" komentar Gaara. "Tapi, apa yang dilakukan Sasuke hingga kau tak menyukainya?" Gaara coba untuk kembali kepertanyaan pertamanya tadi.
"Tadi dia mengajakku bicara" jawab Hinata singkat
"Lalu?" pancing Gaara agar Hinata lebih menceritakan secara mendetail
"Lalu, aku menolak"
"Lalu?"
"Lalu, dia memaksaku"
"Dengan cara?"
"Dengan cara memelukku"
Sambil memejamkan mata, Gaara menarik kemudian menghembuskan nafasnya. Mendengar jawaban terakhir Hinata membuat dirinya ingin segera menghajar Sasuke. "Lalu?" pancing Gaara lagi setelah ia berhasil mengontrol emosinya.
"La-lalu…" Hinata mendadak gugup, ia tahu bagaimana reaksi Gaara jika ia melanjutkan ucapannya. Ia ingin berhenti, tapi ketika melihat tatapan menuntut dari Gaara, Hinata terpaksa memberitahunya. "…Ada orang yang memotret kami berdua. Saat itulah aku kabur darinya"
"APA?!" Gaara nyaris saja berteriak. "Siapa?!"
Hinata menggeleng. "Tidak tahu, aku sungguh tak melihatnya, aku bahkan tak tahu dia itu perempuan atau laki-laki" jawab Hinata jujur.
Mendengar jawaban Hinata, Gaara langsung memijat pelipisnya. Ia tahu Hinata ceroboh, karena itu sudah sejak dulu, tapi ia tak menyanka Hinata bisa langsung mendapat masalah di hari pertama mereka masuk sekolah.
"Bagaimana ini? Bagaimana jika foto itu tersebar? Bagaimana jika orang itu membuat gosip-gosip aneh tentangku?" tanya Hinata panik. "Dari pengamatanku, Sasuke itu sama sepertimu, dia punya banyak fans" Hinata memberi info.
"Lebih tepatnya, fans yang dia miliki lebih agresif dibanding dengan fans-fansku" koreksi Gaara membuat Hinata tambah panik.
"Ahh bagaimana Ini? Gaara…." Hinata hampir menangis. Ia sangat tahu bagaimana rasanya di benci oleh para siswi, bukannya sombong,tapi Hinata memang sudah sangat berpengalaman soal itu. meskipun sudah berpengalaman, Hinata tetap tak bisa menghindari kekejaman mereka.
"Tenanglah, aku akan menyelesaikannya"
Inilah yang membuat Hinata selalu nyaman hingga bergantung pada Gaara. Gaara selalu bisa jadi apa saja untuknya, Gaara bisa obat saat dirinya sakit, Gaara bisa jadi penenang saat dirinya gelisah, Gaara bisa jadi tempatnya bersandar ketika ia sedih, Gaara selalu ada untuknya kapanpun. Hinata jadi ingat surat yang diberikannya pada Gaara sebulan lalu. Saat itu Gaara bertanya padanya,'kau tidak berniat melakukan hal-hal aneh saat aku tak ada kan?' Hinata menyangkalnya, saat itu Hinata tidak mengatakan pada Gaara kalau apa yang ditulis dalam suratnya bukanlah kata-kata kiasan belaka, melainkan sesuatu yang sungguh dicurahkan Hinata dari dalam hatinya.
'Tanpamu, aku sudah lama mati'
Itu benar, kalau 8 tahun lalu Gaara tak datang kerumahnya, Hinata pasti sudah mati. Ia selamat karena Gaara datang, Gaara adalah orang yang memberikan kehidupan baru padanya.
'Tanpamu aku sudah lama menyerah dalam kehidupan ini'
Ya, Gaara adalah salah satu alasan dirinya untuk bertahan hidup. Dan orang lainnya adalah Neji-nii. Bagi Hinata, mereka berdua adalah segalanya, tanpa mereka Hinata tak akan punya alasan lagi untuk mempertahankan kehidupannya.
'Tanpamu, kurasa aku tak akan pernah bisa menikmati mimpi dalam tidurku'
Sebelum kejadian 8 tahun lalu, tak pernah sekalipun Hinata bermimpi indah, jangankan mimpi indah, untuk tidur nyenyak saja Hinata tak pernah merasakannya. Gaara-lah yang membuat Hinata bisa merasakan mimpi. Tidak, bagi Hinata, kehadiran Gaara sendiri sudah seperti mimpi, mimpi yang sangat indah, mimpi yang membuat Hinata tak mau lagi hidup dalam kenyataan. Jika ini semua hanyalah mimpi, sungguh,Hinata tak mau bangun lagi. Hinata tak mau hidup ditempat yang tak ada Gaara didalamnya.
Jadi kalau ditanya 'Apa Hinata akan melakukan hal-hal aneh jika Gaara tak ada?' jawabannya adalah 'Iya, Hinata akan melakukannya' Hinata yakin dirinya tak akan bisa melakukan apapun jika Gaara tak ada. Kalau Neji-nii tahu ini, dia pasti akan mengatakan Hinata terlalu berpikir negatif tentang dirinya sendiri.
"Ayo kekelas, sebentar lagi bel akan berbunyi" ajak Gaara membuat lamunan Hinata terhenti. Dengan senyuman diwajahnya Hinata mengangguk.
"Eumm.. tapi Gaara, bagaimana jika aku minta bantuan Sasuke saja?" Hinata meminta pendapat Gaara.
"Untuk?" Gaara mengernyit tak mengerti.
"Untuk bantu menjelaskan kalau-kalau foto itu terlanjur disebar" jawab Hinata.
"Tidak perlu, aku tak akan membiarkan foto itu tersebar. Kalaupun itu sampai terjadi, aku yang akan mengurusnya" Gaara menolak.
"Tapi aku yang membuat masalah ini, setidaknya aku ingin coba untuk menyelesaikannya sendiri" Hinata memasang wajah memelas pada Gaara.
Gaara diam sebentar untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau keputusan yang akan ia buat benar. "Baiklah, tapi kalau dia memberi syarat yang aneh-aneh,jangan kau terima"
Hinata mengangguk senang.
Dream or Reality
Bel pulang sekolah baru bernunyi ketika Kakashi-sensei selesai menjelaskan tentang Hukum Newton. Semua murid mulai membereskan buku-buku mereka dari atas meja, tapi tidak dengan Hinata, didetik saat Kakashi-sensei keluar dari kelas, ia langsung menoleh ketempat Sasuke duduk. Jarak tempat duduknya dan tempat duduk Sasuke memang cukup jauh, Hinata duduk di baris pertama dekat pintu bangku nomor dua dari depan sedangkan Sasuke duduk di baris keempat bangku nomor dua dari belakang. Karena jarak yang jauh itu, Hinata jadi sulit menemukan Sasuke disaat banyak sekali murid yang berlalu lalang melewati bangkunya hingga wajah Sasuke selalu tertutupi tubuh murid-murid itu. Hinata sibuk mencari keberadaan Sasuke tanpa menyadari orang yang dicari sudah berdiri dibelakangnya.
"Kau mencariku?"
Hinata nyaris saja melompat, kaget, lebih kaget lagi ketika ia melihat Sasuke-lah yang menanyakannya, ia menatap Sasuke untuk beberapa saat kemudian ia berdehem dan mengangguk ketika menyadari orang didepannya ini adalah Sasuke asli. Tiba-tiba perasaan gugup menyerangnya, bukan karena sedang berhadapan dengan Sasuke, tapi karena sikapnya pada Sasuke tadi siang, ia yakin Sasuke pasti kesal padanya. Ah, tidak, seharusnya Hinata-lah yang kesal.
Sasuke menatap Hinata sebentar kemudian ia memandang kesekeliling kelas. Hampir semua murid sudah keluar dari kelas, itu bagus, karena sepertiya Hinata ingin bicara sesuatu padanya."Ada yang ingin kau katakan? Tanya Sasuke to the point.
Hinata menggigit ujung bibirnya sendiri, sebenarnya ia tidak mau meminta bantuan Sasuke tapi ia juga tidak mau menyusahkan Gaara seperti sebelum-sebelumnya. "I-itu.. I-ini soal foto tadi" Hinata diam sebentar, gugup, tapi ia sudah tak bisa mundur lagi, terserah Sasuke mau berkomentar seperti apa nantinya yang penting sekarang ia harus mencobanya dulu. "Bisakah kau membantuku?"
Sasuke mengernyit "Foto?" Sasuke coba untuk mengerti apa yang dimaksud Hinata. "Ahhh… foto yang tadi siang?" tebak Sasuke.
Hinata mendecih pelan, berusaha agar Sasuke tak menyadarinya."Kalau sudah tahu kenapa harus bertanya" gumam Hinata kesal.
"Apa kau bilang?"
"Iya soal foto itu, aku mau minta bantuan soal itu" jawab Hinata cepat.
"Kau ingin aku mencari orang yang memotret kita berdua?" tanya Sasuke tak percaya, padahal tadi siang Hinata bersikap seolah ia tak mau punya urusan dengannya, tapi sekarang gadis itu minta bantuan padanya?
"Aku tahu kau pasti tidak mau melakukannya, karena itu, aku tidak akan memintamu untuk mencari orang itu, tapi setidaknya,bantu aku menjelaskan pada fans-fansmu jika nanti foto itu tersebar, bagaimana?" tawar Hinata. "Ah.. tidak, biar aku yang menjelaskan, kau hanya perlu mengatakan pada fansmu kalau perkataanku itu benar" koreksi Hinata cepat, ia takut Sasuke akan segera menolaknya jika ia meminta sesuatu yang sulit dilakukan Sasuke. Dengan wajah penuh harap Hinata memandang Sasuke.
Sasuke menyeringai ketika mendengar permintaan Hinata. "Kenapa aku harus membantumu?"
"Karena kau juga terlibat dalam foto itu" jawab Hinata, ia masih coba untuk tak meledakkan emosinya.
"Kau benar, tapi aku tak peduli" balas Sasuke santai.
Hinata menghela nafasnya, kentara sekali kalau dirinya sedang menahan emosi. "Kau tahu, penderitaan apa yang akan kualami jika foto itu tersebar?" tanya Hinata.
Sasuke tersenyum meremehkan "Aku tidak bodoh, tentu saja aku tahu"
Mendengar jawaban Sasuke, Hinata merasa darahnya langsung mendidih. "Kau tahu tapi kau tetap membiarkannya?" tanya Hinata tak percaya.
Sasuke mengangguk "Seingatku, kita tak sedekat itu hingga aku harus peduli dengan penderitaanmu, iya kan?"
"Apa ini karena kau kesal dengan kejadian tadi siang?!" suara Hinata meninggi. "Kau tidak pantas untuk kesal, akulah yang seharusnya merasakan itu. Kau menggangguku hingga aku dapat masalah seperti ini, seharusnya…Akulah yang MARAH!" bentak Hinata, ia tak peduli dengan bantuan Sasuke lagi, memang dari awal bantuan Gaara lebih dibutuhkannya.
Sasuke menatap Hinata tak percaya. "Hei! Kau ini sedang minta bantuanku, seharusnya kau coba untuk merayuku bukannya.."
"Lupakan saja! Aku memang sudah gila karena minta bantuan pada orang sepertimu" potong Hinata kesal. Ternyata, penilaiannya terhadap Sasuke tidaklah salah, pria itu memang punya aura menyebalkan dari ujung kepala hingga kaki.
"Tunggu.." Sasuke menahan tangan Hinata ketika melihat gadis itu bersiap pergi.
Hinata kembali menatap Sasuke, kali ini tidak ada tanda-tanda kegugupan seperti tadi."Ada apa?" tanya Hinata sambil menarik tangannya dari genggaman Sasuke.
"Aku akan membantumu, tapi dengan satu syarat" jawab Sasuke
Hinata mendengus, ternyata tebakan Gaara benar, Sasuke akan meberikan syarat padanya. "Sudah kubilang lupakan" balas Hinata, ia sungguh tak tertarik lagi.
"Aku tahu siapa yang memotret kita, dan aku bisa langsung menghapus fotonya" pancing Sasuke dan berhasil, sekarang Hinata kembali memfokuskan diri pada Sasuke. "Bagaimana?" tawar Sasuke lagi.
Hinata ragu, kalau dia tidak setuju maka foto itu akan jadi masalah untuknya, tapi jika ia setuju itu berarti dirinya harus menuruti syarat dari Sasuke.
Seakan bisa membaca pikiran Hinata, Sasuke tersenyum. "Tenang saja, aku tidak akan memintamu melakukan sesuatu yang aneh"
"Apa syaratnya?"
"Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku dengan benar, mudah kan?"
Hinata menyipitkan sebelah matanya. "Itu mencurigakan" komentar Hinata membuat Sasuke yang mendengarnya tertawa.
"Aku tidak tahu apa yang sudah kulakukan padamu hingga kau sangat membenciku, tapi itu tak akan bertahan lama" ucap Sasuke yakin.
Hinata memutar bola matanya . "Katakan saja apa yang mau kau tanyakan padaku" Hinata tak peduli dengan ucapan Sasuke barusan.
"Dimana pertemuan pertama kita?"
"Hah?" Hinata mendengar pertanyaan itu, tapi ia tetap tak yakin dengan apa yang didengarnya itu.
"Dimana pertemuan pertama kita? Itulah pertanyaannya" Sasuke mengulang pertanyaannya.
Hinata mengernyit, apa Sasuke sedang bermain-main dengannya? "Tentu saja dikelas" jawab Hinata kelas.
Sasuke tersenyum lagi. "Aku tak akan bertanya jika jawabannya semudah itu, ingat lagi! Aku akan memberimu waktu tiga hari, jika kau tak bisa mengingatnya juga maka aku sendiri yang akan menyebarkan foto itu" ancam Sasuke sebelum akhirnya meninggalkan Hinata dalam kebingungan.
Hinata memijat pelipisnya. "Ahh kenapa dia menyebalkan sekali? Kalau bukan dikelas ini lalu dimana?"
Deg
Tiba-tiba Hinata ingat perasaan familiar yang dirasakannya ketika melihat Sasuke tadi pagi. Apa perasaannya tadi pagi benar? Apa dirinya pernah bertemu Sasuke sebelum ini? jika iya, dimana? Hinata memukul kepalanya sendiri. "Ayolah ingat itu!"
Di koridor, Sasuke berjalan dengan seringai tercetak diwajahnya. Sasuke berhenti ketika ia merasa jaraknya sudah cukup jauh dari kelas, sambil mengawasi keberadaan Hinata, Sasuke menghubungi seseorang menggunakan Hpnya.
"Halo?" suara disebrang telpon membuat Sasuke sedikit tersentak.
"Oh,Naruto?"
"Ya? Ada apa? ini baru lima menit setelah aku keluar dari kelas, tapi kau sudah merindukanku?" tanya Naruto tanpa basa-basi.
"Kau pikir aku sudah gila?" balas Sasuke tajam.
Sasuke mendengar Naruto tertawa disebrang sana."Baiklah, baiklah ..Ada apa?" tanya Naruto lagi kali ini ia serius.
"Bagaimana soal Ino? Kau sudah membereskannya kan?"
"Tentu saja, hal apa yang tidak bisa kuselesaikan?" Naruto sedikit pamer dengan bakatnya, meskipun tak pernah berkata langsung, tapi Sasuke setuju jika Naruto sangat bisa diandalkan.
"Baguslah"
Tuttt ….
Setelah mematikan HPnya, Sasuke menyeringai tipis.
Empat jam yang lalu….
Sasuke melihat Hinata langsung memeluk Gaara saat mereka bertemu dikoridor. Entah kenapa Sasuke merasa kesal melihat itu, lebih kesal lagi saat Gaara menggendong Hinata dipunggungnya dan membawa gadis itu entah kemana. "Berani sekali mereka pacaran disekolah" komentar Sasuke kesal.
"Siapa yang pacaran?"
Sasuke nyaris saja melompat, ketika mendengar suara Naruto. "Sejak kapan kau disini?"
"Barusan"
"Bukankah kau dikantin?"
"Disana penuh, jadi aku kembali kesini" jelas Naruto singkat.
Meilhat keberadaan Naruto membuat Sasuke ingat orang yang memotretnya dengan Hinata tadi. "Oh iya, apa kau kenal dengan gadis berambut kuning panjang, kulitnya putih, dan tingginya kira-kira 165cm?" Sasuke coba mengingat ciri-ciri orang yang memotretnya tadi, meski cuma sekilas tapi Sasuke yakin dengan apa yang dilihatnya.
"Waahh, ini pertama kalinya kau bertanya tentang seorang gadis? Kenapa? Kau menyukainya?" cecar Naruto, dibanding pertanyaan Sasuke dia lebih tertarik dengan alasan Sasuke menanyakannya.
"Jawab saja" Sasuke malas meladeni Naruto.
Naruto mendecak, "Kau ini benar-benar membosankan.." Naruto diam sebentar untuk melihat reaksi Sasuke, sekarang Sasuke sedang menatapnya dengan penuh harap. Diam-diam Naruto tersenyum dalam hati, apa Sasuke sedang menyukai seorang siswi disini? "Eumm jika berambut kuning dan tingginya sekitar 165 cm, bukankah itu Yamanaka Ino?" tebak Naruto.
"Yamanaka Ino?" ulang Sasuke memastikan.
Naruto mengangguk, "Kau pasti tahu dia kan? kita satu SMP dengannya"
Sasuke menggeleng yakin. "Aku tak tahu dia"
"Ahh tidak mungkin, dia itu salah satu kandidat untuk jadi pacarmu saat SMP" Naruto jadi ingat, dulu ia dan teman-teman Sasuke yang lain, sering memilih siswi-siswi cantik yang pantas untuk jadi pacar Sasuke.
"Cari dia dan hapus foto-fotoku dan Hinata yang dia ambil" perintah Sasuke.
Naruto membelalak ketika mendengarnya. "Fo-foto? Dengan Hinata? Foto apa? kau tidak melakukan hal-hal aneh kan?" tanya Naruto curiga.
"Tidak aneh, hanya saja cukup untuk membuat para gadis membunuh Hinata" jawab Sasuke santai.
"Itu artinya aneh!" Naruto langsung panik. "Ahh kau ini! bagaimana jika Gaara tahu? kau pasti langsung dibunuh olehnya. Ingatlah satu hal, aku sama sekali tak terlibat soal ini, jadi jika kau bermasalah dengan Gaara, jangan bawa-bawa aku"
"Kenapa kau takut sekali dengannya, apa karena dulu kau dihajar habis-habisan olehnya?" tanya Sasuke ketika ia mengingat kejadian dua tahun lalu, kejadian yang akhirnya membuat dirinya dan Hinata bertemu.
"Gaara itu bisa jadi sangat menyeramkan jika berhubungan dengan Hinata, apa kau tahu? Dulu dia menghajarku seperti orang kesetanan juga karena Hinata" jawab Naruto.
Sasuke langsung menatap Naruto curiga. "Apa yang kau lakukan pada Hinata?"
"Ahh ceritanya panjang, lebih baik sekarang aku pergi mencari Ino sebelum terlambat" jawab Naruto sebelum akhirnya pergi meninggalkan Sasuke didepan kelas.
Dream or Reality
Gaara datang ke kantor Neji, tidak,dibanding kantor ini lebih pantas disebut ruang konseling. Neji adalah seorang psikolog, seorang psikolog yang meskipun masih muda tapi cukup punya banyak pengalaman.
"Bagaimana Hinata?" tanya Neji sambil membereskan buku-buku yang berserakan dimejanya.
Pertanyaan ambigu bagi sebagian orang, tapi bagi Gaara dan Neji, pertanyaan ini berarti merujuk pada kesehatan Hinata. "Sampai sekarang dia baik-baik saja, dan kuharap dia akan selalu seperti ini" jawab Gaara sambil memandang langit-langit ruangan ini.
"Aku tahu ini sulit untukmu, tapi tolong jaga Hinata setidaknya sampai Hinata bisa sembuh"
Gaara mengangguk. "Itu tidak sulit Neji-nii"
Neji menatap Gaara penuh penyesalan, menyesal karena tak bisa membantu Gaara meskipun Gaara selalu membantunya menjaga Hinata."Lalu, kapan kau akan mengatakan hal itu pada Hinata?"
"Jika kau sudah berhasil menyembuhkannya" jawab Gaara cepat.
"Aku sudah menemukan titik permasalah Hinata, tapi…" Neji tiba-tiba terdiam.
"Tapi apa?"
"Hinata punya dua masalah yang saling berhubungan"
"Maksudmu?"
"Dari hasil diagnosaku, Hinata menderita gangguan Psikosomatis dan DPD(Dependent Personality Disorder)"
Gaara mengernyit, ia masih perlu penjelasan mengenai itu.
Neji yang menangkap maksud Gaara langsung menjelaskan. "Gangguan Psikosomatis adalah gangguan dimana pikiran Hinata bisa membuat fisik Hinata sakit sedangkan DPD adalah kondisi dimana Hinata sangat tergantung pada orang lain"
"Lalu apa hubungannya antara dua masalah itu?"
"Hubungannya ada pada dirimu" Neji diam sebentar. "Psikosomatis adalah penyakit yang disebabkan oleh pikiran Hinata yang stres, dan satu-satunya orang yang bisa mengatasi stres Hinata adalah dirimu. Tapi, kau adalah orang yang membuat DPD Hinata tambah parah" jelas Neji
Gaara mengernyit, sepertinya ia mulai paham. "Jadi.."
"Jadi, keberadaanmu akan membuat Psikosomatis Hinata sembuh tapi hal itu akan membuat DPD Hinata makin parah, sebaliknya jika kau tak ada maka, psikosomatis Hinata tak akan sembuh tapi DPD Hinata mungkin akan sembuh"
Gaara mengangguk paham. "Tapi Neji-nii, kau tahu waktuku tak banyak, kita harus segera menyembuhkan Hinata"
"Aku akan coba sebaik mungkin"
"Menurutmu, mana yang akan memberi dampak paling besar? Saat aku ada atau saat aku tak ada?"
"Begini, jika kau tak ada maka kepala Hinata akan selalu sakit karena ia pasti akan selalu memikirkan masalah 8 tahun lalu, jika itu terus terjadi mungkin Hinata tak akan bisa hidup seperti ini. Tapi, jika kau ada maka DPD Hinata tambah parah, dan seperti yang kau bilang, waktumu sudah tak banyak, itu artinya, saat kau pergi nanti mungkin Hinata akan melakukan hal-hal aneh, kalaupun dia tak melakukannya, aku yakin psikosomatisnya akan datang lagi" kali ini Neji menjelaskan situasinya pada Gaara. Situasi yang rumit, karena apapun pilihannya maka Hinata akan mengalami sesuatu yang buruk.
Gaara memijat pelipisnya. "Bagaimana jika kita membuat Hinata dekat dengan orang lain, selain aku?"
"Kau tahu kan kalau itu sulit? Dengan Kiba dan Lee yang sudah tiga tahun lebih berteman saja, Hinata belum mau terbuka"
"Sulit bukan berarti tidak mungkin terjadi kan?"
Neji menghela nafas kemudian ia mengangguk. "Dari pada memikirkan Hinata, kenapa kau tidak memikirkan dirimu dulu?" tanya Neji. Neji tahu Gaara sangat peduli pada Hinata tapi bagaimanapun Gaara sendiri juga harus meikirkan kesehatannya.
"Aku sudah tak ada harapan Neji-nii, tapi Hinata, dia masih ada. Bukankah lebih baik kita memikirkan yang masih punya harapan sembuh?"
TBC
Catatan :
(Dependent Personality Disorder; DPD) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu sangat tergantung pada orang lain hingga individu tersebut patuh dan terikat erat perilakunya dan takut akan terpisah dengan orang itu. gangguan DPD merasa butuh pertolongan orang lain, mereka beranggapan bahwa sekelilingnya sangat tidak tidak bersahabat dengannya; pikiran-pikiran tersebut diciptakan sendiri. Mereka membutuhkan orang lain, teman dekat atau seseorang yang dapat membantunya dalam melakukan atau memberi dukungan secara langsung untuk mengerti dan memberikan arahan hal-hal yang perlu dilakukannya dengan demikian kecemasan yang dirasakannya dapat berkurang
Ciri-ciri :
Selalu meminta pendapat orang lain dalam mengambil keputusan
Selalu menunggu dukungan dari orang lain
Tidak merasa nyaman bila sendirian
Khawatir bila orang-orang terdekatnya meninggalkannya suatu saat nanti
Membutuhkan orang lain untuk memikul tanggungjawab pada sebagian besar dalam hidupnya
Takut untuk menunjukkan ekspresi ketidaksetujuan terhadap orang lain dikarenakan takut kehilangan support dan persetujuan dari orang tersebut
Perasaan tidak nyaman karena adanya perasaan takut yang dibesar-besarkan bahwa dirinya tidak mampu untuk mandiri
Gangguan Psikosomatis adalah sebuah gangguan dimana pada saat seseorang seolah mengalami gangguan fisik di bagian tubuh tertentu yang disebabkan dari gangguan pikiran.
Ciri-ciri :
Pengecekan Secara Medis Dinyatakan Aman
Ketika Memikirkan Sebuah Masalah Terasa Sakit Di Bagian Tertentu contohnya kepala, perut, dada.
Gejala Yang Dirasakan Pada Umumnya. Semisal kita merasa mengalami gangguan di daerah perut dan hal ini terus berulang. Biasanya ini berlangsung dalam waktu yang lama, bisa bulanan bahkan tahunan.
Fiuhh fiuhhh akhirnya Ita selesaiin chap ini, maap ya minna karena yang ini lama. Gimana yang penasaran sama penyakitnya Hinata? mudah dimengerti gak? Sebenernya Ita juga baru-baru ini sih dapet penyakit-penyakit itu jadi, kalau misalnya ada yang salah sama penjelasan Ita maap ya… karena Ita bukan Psikolog :D dan Ita juga gak punya temen yang Psikolog XD jadi sumber Ita cuma mbah Google deh… kalau ada yang lebih tahu sama penyakit-penyakitnya boleh deh kasih saran sama Ita …..
Oh iya, makasih ya, yang udah baca dan review ff ini dan maap juga karena gak bisa bales soalnya udah kepanjangan :D
Dan terakhir Sampe ketemu chap depan *lambai-lambai tangan*
