Author note :
Genre misteri keluar tapi genre humor jadi berkurang. Ini hanya misteri kecil yang nggak sampai ke pembunuhan. Masa anak SMA kelas satu udah disuruh nyari pelaku pembunuhan?
Maaf, saya hanyalah author pemula yang nggak pinter menggabungkan dua genre.
Enjoy?
.
Atas usulan (jebakan) wali kelasnya, Yuuma resmi bergabung dengan kelompok orang gila berlabelkan klub misteri. /"Ta-tapi, aku memang butuh bantuan kalian, aku-"/ / "Diikuti stalker?"/
Disclaimer : Yamaha Corp., .Ltd., etc.
Warning : humor garing, typo bertebaran, aneh, abal, dll.
Misteri III : surat penggemar
"Kau tidak bercanda, kan?" tanya Yuuma, alis bertaut tanda heran. Tak pernah terpikir olehnya bahwa ada makhluk waras (selain dirinya, tentu saja) yang mau mendekati pojok gedung buangan ini. Karena bukankah sebenarnya cukup lucu jika berpikir ada yang berani menapak kemari? Dan parahnya dia bilang bahwa dia butuh bantuan mereka? Saking lucunya bahkan sampai Yuuma tak tau harus bereaksi seperti apa selain tertawa hambar.
"Aku tak tau harus kemana lagi," akunya lirih, nada bicara cenderung ke arah putus asa, mungkin juga masih trauma dengan anggota klub yang horor semua. Tanpa pengecualian, termasuk Yuuma yang ngaku-ngaku normal tapi kadang sado nggak ketulungan.
"Utatane Piko, kan?" sang ketua tiba-tiba buka suara, membuat seluruh atensi di ruangan jadi terpusat ke arahnya. Sang tamu hanya menjawab dengan mengangguk pelan, tak menaruh rasa curiga apa-apa.
Meski Yuuma sudah merinding lahir batin, tak mau membayangkan bagaimana sang ketua bisa tau nama sebelum sang empu memperkenalkan. Juga tentu saja ia tak mau tau apa yang Dell sudah selidiki dari tamu mereka yang bahkan baru resmi dianggap menjadi tamu seperempat jam lalu. Yuuma bergidik, tak usah membayangkan saja ia sudah ngeri sendiri.
"Kau kenal, Ketua?" pertanyaan yang tak perlu dijawab, Kokone. Seolah kau lupa saja bagaimana sebenarnya sosok asli ketuamu yang punya wajah malaikat kepleset dari khayangan tapi kelakuan macam setan kabur dari neraka jahanam.
"Kalian tidak kenal?" sang ketua malah balas bertanya, sukses membuat anggota lain menautkan alis tak paham.
Yuuma memang pernah lihat, entah dimana sih sebenarnya. Tapi memang seaneh itu jika mereka sampai tak kenal? Sampai-sampai sang ketua bertanya dengan raut wajah menjijikkan nan menyebalkan seolah melihat mereka sebagai orang paling bodoh sedunia? Hei, Piko bahkan bukan kaisar atau orang penting lainnya, kan?
"Terutama kau, Yum. Kau beneran nggak kenal?" Yuuma menggeleng, masih dalam kondisi gagal paham mengapa sang ketua menatapnya dengan pandangan heran yang amat sangat, yang membuat Yuuma menahan emosi dan godaan agar tak melempar Dell dengan kapak di pojok ruangan –jangan tanya kenapa benda begituan ada disana.
"Kalian memang tak bisa diharapkan. Terutama Yuuma, padahal kau alasan dia ada disini."
Perkataan barusan jelas membuat Yuuma semakin mengernyit tak paham. Hah, yang benar saja? Dia alasan sang tamu tak diundang disini? Apa perlu Yuuma periksa ke THT terdekat? Karena entah mengapa Yuuma merasa kalimat barusan terlalu ajaib untuk dicerna otaknya yang jenius tujuh turunan.
Ia bahkan masih tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tolong paling tidak jelaskan kejadian ini terlebih dahulu sebelum kepalanya keburu berasap dan pening yang sudah komplikasi sampai ke perut dan membuatnya menahan muntah dan mual.
"Namanya Utatane Piko, net idol. Dan Yum, asal kau tau, dia ada di kelas A,"
Yuuma hanya perlu tiga detik untuk sadar bahwa... wajar kalau ia tak kenal. Anak itu mungkin memang pernah ia lihat di dalam kelas. Selain faktor Yuuma yang memang baru pindah sekolah, emang dasarnya saja ia nggak pedulian. Baginya menghafal teman sekelas itu terlalu repot untuk dilakukan. Mau dibilang jahat atau kejam, sekali lagi, Yuuma orangnya nggak pedulian.
"Em, aku kemari karena mendengar Sakaki-kun masuk ke klub ini. Jadi kupikir klub ini tidak seperti rumor yang beredar." Piko berucap pelan, masih menyimpan harapan kalau kasus peyekapan barusan itu hanya sebuah bentuk salah paham.
Tapi pada kenyataan. Nggak, klub ini sama kok kaya rumornya. Makanya Yuuma kagum ada orang yang berani bertaruh nyawa mendekati pojok gedung buangan ini. Setelah disekap barusan, apakah opini Piko akan tetap sama? Yuuma jadi penasaran.
"Dan kau sekarang tau bahwa klub ini memang seperti yang mereka katakan," Fukase, seperti biasa anda jujur sekali. Tanpa sengaja juga membongkar aib sendiri.
"Ta-tapi, aku memang butuh bantuan kalian, aku-"
"Diikuti stalker?" Piko terlonjak, bahkan sampai membuat kursi yang ia duduki bergetar dan menimbulkan suara saat berbenturan dengan lantai. Kepalanya langsung ia tolehkan pada sang pemilik frekuensi suara, netranya jelas menunjukkan pandangan terkejut dan tak percaya. Melihat reaksi Piko, Yuuma yakin tebakannya 100% tepat sasaran.
"Ketua, kau bilang tadi Utatane ini net idol, kan?" Ekor mata Yuuma melirik ke arah Dell yang masih sibuk dengan laptopnya. Dell balas mengangguk dan langsung memperlihatkan layar laptop kebanggaan pada Yuuma.
Isinya tak usah ditanya, paling kalian juga sudah tau sendiri. Lihat saja Yuuma yang sampai bergidik ngeri melihatnya. Dan jelas, Piko bakal lebih merinding lagi kalau tau isinya.
"Utatane Piko, net idol yang kepopulerannya meroket akhir-akhir ini. Sekolah kita bahkan sudah punya fans club sendiri. Saking populernya aku bisa mendadak kaya raya jika menjual semua infoku soal dia," pengakuan dosa lainnya. Untung telinga sang korban, Piko, sudah disegel dengan aman dan tentram oleh tangan Kokone. Yuuma kembali memijit kening. Tuhan, yang benar saja, ia jelas-jelas tak tau dan tak mau tau berapa banyak tindakan kriminal yang sudah dilakukan oleh anggota klub ini.
"Kokone, kau bisa lepaskan tanganmu sekarang," ucap Yuuma pelan meski pening di kepala malah semakin menjadi-jadi. Ia hanya mencoba berpikir positif kalau anggota klub ini melakukan tindakan kriminal karena mereka terlalu polos dan tak tau itu salah –meski ia sendiri juga tau, mau dilihat dari manapun pemikiran barusan itu dusta besar.
"Utatane, abaikan saja yang barusan." Yuuma tersenyum ramah, dan entah mata Piko yang rabun atau gimana, ada efek kira kira yang bikin silau satu ruangan, "Jadi, bisa kau jelaskan apa masalahmu?"
Melihat Yuuma, Piko terharu, ternyata masih ada malaikat di tengah-tengah para iblis jahanam. Mungkin tak ada salahnya ia mencoba percaya pada Yuuma.
-Meski pada kenyataan, Yuuma itu serigala berbulu domba. Amanatnya, jangan pernah tertipu penampilan.
Lalu Piko menelan ludah. Menyiapkan diri lahir batin untuk bercerita. Setelah perang batin lima menit apakah ia benar-benar akan meminta bantuan klub yang isinya orang ajaib semua, ia berkata,
"Mungkin lebih cepat jika kalian semua langsung ke rumahku saja."
.
.
"Woah, jadi ini rumah sang net idol yang sangat terkenal, Utatane Piko," ucap Dell dengan pandangan berbinar-binar. Tangan siap sedia memegang kamera dan memfoto seluruh bagian rumah. Siapa tau laku di pasar gelap. Kan uangnya lumayan buat nambal panci bolong emak.
Kedua anggota lain tak kalah semangat dengan sang ketua yang matanya udah berubah jadi ijo –kelihatan sifat mata duitannya kambuh, tuh. Fukase jongkok di pinggir kolam dengan mata melotot ke arah air, entahlah dia lagi ngapain, mungkin lagi lomba menatap sama ikan koi. Sedangkan Kokone menerobos kebun tanpa ijin dan sempat nyungsep ke semak-semak, mau nyari tanaman yang mungkin ia bisa gunakan, katanya.
Lalu, bagaimana dengan tokoh utama kita? Pundung di belakang, masih merancau tak karuan bak membaca mantra kutukan dari kitab keramat dukun desa tetangga. Raut wajahnya pun sudah berubah bak kaum-kaum wota yang ditinggal kawin idolnya.
"Kenapa aku ada disini?" Yuuma bermonolog nelangsa. Posenya pun sinetron sekali, dagu ditopang kedua tangan lalu netra topaz menatap langit penuh atensi.
"Padahal banyak game yang harus kumainkan saat pulang nanti," Yuuma hanya tak rela waktu istirahatnya dicolong kegiatan klub sendiri. Tapi, ia terpaksa disini gara-gara Fukase sudah siap sedia memaku boneka voodo dengan foto Yuuma di atasnya. Kan bisa gawat entar jadinya.
Piko tertawa hambar, sebagai tuan rumah ia hanya bisa sweatdrop sendiri. Kesampingkan Yuuma, ia tak mengira bahwa anggota klub misteri bisa sangat antusias seperti anak TK diajak wisata ke kebun binatang –bukti kalau umur mental sebenarnya hanya setara anak balita. Yah, seperti yang dituliskan tadi, itu setelah mengesampingkan Yuuma yang sudah pucat dan berubah kaya zombie. Yang sepertinya semangat hidupnya sudah luntur sejak menapak kemari.
"Ano, bagaimana jika kita langsung ke kamarku saja?" lebih cepat lebih baik. Karena sekarang bahkan roh Yuuma sudah mau terbang lewat mulut.
"Hm, baiklah. Ayo kalian semua, kita punya pekerjaan menanti!" Dell berucap penuh semangat, lalu menarik lengan Fukase dan Yuuma paksa, sedang Kokone sudah sadar diri dengan berlari secepat kilat. Bahkan sampai mendahului Piko sang tuan rumah.
Piko membuat catatan batin bahwa klub misteri isinya cuma anak-anak ajaib dengan otak geser lima senti.
.
"Jadi soal masalah stalker ini, apa yang sebenarnya ia lakukan?" tanya Yuuma penuh selidik. Di matanya seorang idol terkenal –tapi, Yuuma ragu karena dia aja nggak kenal –seperti Piko mendapat masalah stalker itu sudah seperti keseharian. Seorang penggemar yang terlalu fanatik juga bisa jadi masalah lainnya, tapi pasti ada alasan mengapa Piko malah meminta bantuan mereka bukannya melapor polisi.
Karena, meski ia sendiri bosen ngomongnya, klub mereka itu sudah masuk tujuh cerita horor sekolah. Cuma orang stres atau paling tidak orang waras tapi putus asa stadium akhir yang mau masuk kesana. Melapor polisi jelas jadi opsi yang lebih menyenangkan.
"Sebenarnya aku tak yakin ini stalker, tapi.." Piko terlihat ragu untuk sesaat. Sebelum akhirnya berbalik, mengobrak-abrik tumpukan kertas di meja. Lalu baru berhenti setelah menemukan dua amplop berwarna peach lalu kembali untuk meyerahkan si amplop antah berantah pada Yuuma.
"Surat ini pertama datang empat hari yang lalu. Lalu datang lagi kemarin. Sejauh ini memang hanya ada dua, tapi aku yakin pasti ada lagi yang akan datang," ucapnya lirih. Berusaha untuk terlihat kuat. Tapi Yuuma dapat dengan mudah menebak nada resah dalam suaranya.
Tapi Yuuma tak tertarik meneliti makhluk di depannya lebih lanjut. Jadi tanpa minta ijin, Yuuma membuka amplop pertama, lalu mulai membuka lipatan kertas dan membaca isinya.
Kepada Utatane Piko-sama
Aku tidak akan memaafkanmu. Kau brengsek. Kau busuk.
Jangan sombong hanya karena kau terkenal.
Aku membencimu. Aku sangat membencimu.
Kuharap kau mati secepatnya.
Atau haruskah aku mempercepat jadwal kematianmu untukmu?
"Wow, surat anti fan dengan ancaman pembunuhan ya.. ini menarik," suara Dell tiba-tiba menggema di samping telinga Yuuma. Yuuma langsung menoleh, meski sempet jantungan juga. Meski Fukase sering melakukan hal yang sama padanya setiap hari, tapi tetap saja jantungnya belum siap sedia. Dan akhirnya ia baru sadar bahwa anggota lainnya sudah berdiri anteng di balik punggungnya. Sudahlah, Yuuma lebih baik fokus saja ke suratnya.
"Setidaknya ia cukup sopan dengan menuliskan Utatane Piko-sama," Yum, komentarmu beneran nggak guna sekarang.
"Apa itu di pojok kertas? Coretan?" tanya Fukase, melihat dengan teliti ke arah sudut kertas. Dimana terdapat sebuah bekas tinta yang membentuk sebuah garis pendek. Jelas jika dipikir secara logis, tak ada hubungan dengan isi surat sendiri.
"Memang seperti coretan, kalau tidak ya huruf 'I' kapital dalam alfabet," jawab Kokone setelah mengamati dengan seksama. Yuuma melirik sebentar ke arah Kokone, lalu mengangkat bahu, melihat coretan –tapi, jujur saja itu terlalu rapi untuk disebut sebagai coretan. Meskipun ini inisial, ia juga tak paham mengapa harus dituliskan seperti itu.
Lagipula, memang apa yang bisa berubah hanya dengan satu huruf 'I' saja?
"Kita anggap saja ini coretan, karena tak mungkin ada orang bodoh yang menulis inisial di sebuah surat anti fan. Dan mengapa juga dia harus menulis dengan alfabet bukannya hiragana saja?" Dell merebut kertas itu dari Yuuma secepat kilat. Mulai memfoto kertas itu dari segala sisi lalu sibuk lagi dengan senjata andalannya, laptop putih yang tak pernah lepas dari genggaman.
"Ketua, apa kau bisa melihat siapa yang menulis ini dari tulisan tangannya?" Yuuma merebut kembali kertas dari tangan Dell. Dell sendiri menggeleng, menatap kertas di genggaman Yuuma dengan seksama, menelitinya dari ujung ke ujung. Kemudian mulai menghela nafas kecewa.
"Mustahil. Kita bahkan tak tau yang menulis itu berasal dari kota ini atau bukan. Dan jangan pikir aku punya data tulisan tangan semua orang di dunia."
"Ah, benar juga," Yuuma mengangguk kecil, lalu mulai memijit pangkal hidungnya dengan gaya malas-malasan. Seperti yang ia kira, ia tak bisa mencari pelakunya semudah itu.
Sepertinya tak ada pilihan lain. Mungkin kali ini Yuuma harus serius.
"Fukase, apa kau sudah membuka surat yang satunya?" kepala Yuuma ia tolehkan ke arah Fukase dan Kokone yang sibuk dengan surat yang lain. Fukase langsung mengerti, mengoper surat yang ia pegang ke arah Yuuma tanpa bertanya lagi.
Kepada Utatane Piko-sama.
Aku tak tahan melihatmu. Kenapa kau tak mati saja?
Dasar sok manis. Aku tau kau busuk di dalam.
Aku benci kau. Aku benci kau. Aku benci kau.
Tunggu sajalah. Aku akan datang kepadamu.
Tunggu sajalah.
"Lihat sekarang di pojoknya," Kokone menunjuk bagian ujung kertas. Dan ketika Yuuma sudah melihat yang dimaksud, ia membelalakkan matanya.
"See," ucapnya lirih.
I kemudian see.. senyum puas Yuuma mengembang, ia sudah melihat polanya. Seperti yang dikatakan Piko, pasti akan ada lagi surat yang datang. Tak mungkin jika satu kalimat hanya terdiri dari dua kata saja. Tangannya menjangkau kembali kedua surat itu, sensasi aneh mulai menjalar ke tubuh Yuuma saat jemarinya melakukan kontak dengan permukaan datar surat. Kertasnya sama, jadi jelas dikirim oleh orang yang sama.
Sekarang jelas, 'I' bukanlah inisial namun merujuk pada subjek 'aku' dalam Bahasa Inggris. Kemudian 'see' itu adalah kata setelahnya? Yuuma sekarang penasaran apa kata yang akan datang selanjutnya.
Surat-surat ini membentuk pola tertentu. Ini bukan hanya surat ancaman seorang anti fan pada seorang idola. Ini punya makna yang lebih. Tentu makna yang cukup 'rahasia' sehingga harus menggunakan sebuah kode.'I' dan 'see' ia yakin kata-kata itu memiliki arti yang lebih kompleks daripada kelihatannya. Beberapa detik setelahnya, senyuman Yuuma bertambah lebar.
Ini menarik.
"Utatane, bagaimana surat-surat ini datang kepadamu?" Piko tertegun, melihat Yuuma tersenyum sedemikian rupa. Senyuman yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Itu bukanlah senyum ramah yang ia lihat tadi, bukan juga seringaian yang dipakai Yuuma untuk mengancamnya. Terlihat seperti... antusiasme?
Ia tak tau, tapi.. rasanya agak menyeramkan.
"Sebenarnya.. surat ini datang begitu saja. Tiba-tiba ada di meja kamarku setelah aku bangun tidur. Padahal setiap hari aku mengunci pintu dan jendelaku, jadi kupikir seharusnya tak ada yang bisa masuk kemari,"
"Bukankah harusnya kau lapor saja ke polisi?" pertanyaan logis. Tapi Piko hanya menggeleng, tangannya agak gemetar. Dan dapat ditebak dengan mudah, ia sesungguhnya ketakutan. Pasti ada alasan lain, mengapa ia tak mau melapor pada polisi.
"Aku hanya tak ingin ini menjadi keributan, jika para penggemarku tau aku mendapat masalah semacam ini, kalian bisa bayangkan saja apa yang akan terjadi," yang lain mengangguk setuju.
Meski begitu, Yuuma tak bisa percaya begitu saja. Meski alasan barusan dapat diterima logika, tapi tidak dapat menjadi landasan yang kuat. Bayangkan saja, jika ada seorang stalker yang tak kau ketahui siapa dia, mengirim surat –dan tambahan, isinya sudah bisa dikatakan sebagai sebuah ancaman –dan pelakunya bisa masuk ke kamarmu meski seluruh pintu dan jendela kau tutup sedemikian rupa. Dan logikanya, tak ada akses lain yang bisa membuatnya masuk begitu saja. Bahkan maling pun biasanya mendobrak pintu atau nyelonong lewat jendela yang terbuka lebar.
Orang biasa pasti sudah melapor polisi sejak awal.
Tapi, dapat dilihat dari senyuman Yuuma yang masih saja belum luntur dari wajahnya. Ia tak peduli. Yuuma tak akan melepaskan kasus ini begitu saja.
"Bisakah kalian membantuku menemukan pelakunya?" meski Piko mengucapkan 'kalian' namun pandangannya tetap fokus ke arah Yuuma. Senyuman Yuuma melembut, meski sesungguhnya hasrat pribadi yang mendorongnya, ia tetaplah seorang makhluk sosial yang ingin membantu orang lain.
Melihat kilatan ketakutan di netra Piko, tentu ia tak bisa mengabaikannya begitu saja.
"Kau pikir kau sedang bicara dengan siapa?" Yuuma mengangkat dagu tinggi-tinggi. Senyumnya luntur, tapi sedikit sudut bibirnya masih tertarik ke atas. Menimbulkan kesan angkuh di sekelilingnya.
"Kami klub misteri, kami akan menemukan pelakunya sesuai keinginanmu," Yuuma mengulurkan tangannya, badan membungkuk hormat tapi wajah tetap mendongak agar tetap bisa melihat wajah lawan bicara. Entah untuk keberapa kalinya, ia kembali tersenyum. Namun senyumnya saat ini lebih menimbulkan kesan meneduhkan.
Piko balas tersenyum, lalu membalas uluran tangan Yuuma. Mungkin... ia tak salah dengan meminta bantuan mereka.
"Aku mengandalkan kalian,"
.
.
Omake
Ini hanya sepenggal cerita saat Yuuma masih belum paham karakter ajaib teman-teman satu klubnya.
"Ketua," panggil Yuuma tiba-tiba. Sang ketua langsung menoleh tanpa pikir panjang lagi.
"Hm?"
"Apa keahlian Kokone?" tanyanya penasaran meski sang ketua hanya menjawab dengan menautkan alis heran.
"Maksudku, kau kan hacker, sedangkan Fukase kan... yah begitulah. Bukankah Kokone terlalu normal untuk masuk ke klub ini? Aku normal sih, tapi aku masuk kesini karena pemaksaan jadi beda cerita," ucapnya, ia memang agak penasaran dengan Kokone. Mungkin sifatnya memang agak aneh, tapi belum cukup 'aneh' hingga harus masuk ke klub ini, kan?
"Kokone ya..." Dell menghela nafas, terlihat seperti memikirkan jawabannya matang-matang.
Yuuma masih menunggu, tangannya menjangkau manisan di meja lalu menelannya tanpa berpikir panjang daripada ia hanya bengong menunggu jawaban sang ketua.
Bruk
Suara benturan terdengar lalu disusul oleh teriakan panik Fukase,
"Yum, kau makan kue di meja ya?!" Fukase berlari ke arah Yuuma yang sudah tergeletak tak berdaya dengan mulut berbusa. Ia guncangkan tubuh itu berkali-kali seraya memanggil namanya berulang kali.
"Yuuma, jangan sebrangi sungai itu!" Fukase menepuk-nepuk pipi Yuuma. Bersamaan sang ketua mendekat lalu jongkok di samping Yuuma.
"Keahlian Kokone itu membuat racun dengan bahan-bahan masakan biasa. Kue di meja itu hasil karyanya meski dia bilang itu manisan biasa dan bukan racun mematikan," Dell menatap luar dengan pandangan dramatis.
"Hebat, bukan?"
Hebat pala loe peyang? Ngomong kek dari tadi.
Mata Yuuma langsung berubah putih sepenuhnya.
"YUUMAAA!"
RIP. Sakaki Yuuma.
~TBC~
.
Entah mengapa di akhir humornya hilang drastis. Dan sekarang Yuuma mulai kelihatan freak-nya. Ia nggak senormal yang dibayangkan.
Semoga para reader menikmati cerita saya...
