.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : T Rate/AU/Typo(s)/OOC (maybe)/Hinata-centric/Multi hint
Main Pair : SasukexHinataxSasori
Another pair : NarutoXSakura/Slight NejiXMatsuri/Slight GaaraXMatsuri/Slight GaaraXSakura/Slight SakuraXSasori
Genres : Supranatural/Fantasy/Action/Romance/Angst/Hurt-comfort
This Time, they should be got their happniness
For Hinata Lovers
By Devilish Grin
.
A Tale Between Light And Dark
Chapter 2
(Welcome Back)
.
Underworld...
Di tempat yang lain, Hinata tengah duduk di bangku kebesarannya dengan dikelilingi oleh beberapa orang kepercayaannya. Topeng itu sudah terlepas dari wajahnya, memperlihatkan kedua sorot lavender yang tengah memandang belasan iblis di hadapannya, membungkuk penuh hormat, juga memancarkan ketakutan saat tatapan mereka bertemu pandang dengan mata sang pemimpin.
"Sekarang jelaskan padaku. Siapa yang telah memerintahkan kalian untuk menyerang manusia dan berbuat seenaknya di luar perintah Mito-san?" Tanyanya dengan nada tajam.
Iblis-iblis itu terdiam dengan tubuh bergetar takut. Semuanya membisu tak ada yang berani menjawab pertanyaan dari Hinata yang jelas-jelas merupakan pemimpin mereka. Gadis indigo itu mengernyit. Sebegitu takutnya kah mereka pada sosok tersebut, sampai menyebutkan namanya saja mereka enggan.
"Aku tanya kalian sekali lagi, siapa yang menyuruh kalian melakukan pemberontakan!?" Hinata menaikkan volume suaranya. Ia memukul pegangan bangkunya yang terbuat dari lapisan emas dan membuat bangku tersebut membeku seketika.
Hanya sekali melihat saja sudah ketahuan kalau Hinata sedang marah. Matanya menatap tajam satu-persatu iblis-iblis yang telah berhasil ia bebaskan dari kurungan lentera. Ah, dia tidak akan segan memusnahkan mereka saat ini juga kalau sampai tidak bisa diajak bekerjasama dengannya. Kehilangan 11 iblis pemberontak bukan masalah untuknya.
"Ka-kami... Jujur kami juga tidak tahu, siapa, ta-tapi..." Seorang iblis akhirnya berani buka suara. Dengan takut-takut ia mencoba menjelaskan kepada Hinata. "Tapi dia dikenal dengan sebutan Blue Demon Butterfly," ungkapnya mengenai iblis pemberontak yang menjadi pimpinan mereka.
Hinata terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah empat sosok berjubah hitam yang berdiri di sebelahnya, seolah mempertanyakan mengenai iblis tersebut.
"Sebenarnya dulu ada seorang iblis dengan kekuatan kupu-kupu biru, tapi dia sudah lama meninggalkan komunitas semenjak kekasihnya terbunuh," jawab salah satu dari mereka sambil mengingat-ingat. Maklum saja, kejadian itu sudah sangat lama, bertepatan saat Hinata masuk ke dunia manusia.
"Namanya adalah Konan, sang iblis biru," timpal sosok lainnya.
Di Pusat Kota Konoha
Seorang gadis berkimono biru gelap tengah berdiri di balik kegelapan malam bersama dengan beberapa sosok di kiri dan kanannya. Gadis bertudung itu tampak dikelilingi oleh kupu-kupu yang memancarkan cahaya kebiruan dan memiliki sayap transparan.
"Jadi, dia sudah kembali?" Wanita itu berbicara dengan iblis-iblis lainnya dengan nada datar.
"Benar. Kami diserang secara tiba-tiba oleh pasukannya." Salah satu dari mereka membenarkan, dan kemungkinan besar mereka sedang membicarakan Hinata juga anak buahnya.
"Sepertinya teman-teman yang tertangkap dibawa pergi olehnya dan aku takut, kalau iblis-iblis itu akan melapor," timpal iblis lainnya.
"Dia hanya seorang gadis kecil dan bukan merupakan masalah besar untuk kita." Wanita berkimono itu tampak meremehkan dari nada suaranya. "Lebih baik kita kembali dan melaporkan hal ini pada Pein," ucapnya memberi perintah pada yang lain.
Satu-persatu sosok-sosok itu melompat berkelebatan dalam bayang-bayang malam lalu menghilang dalam sekejap.
.
.
Kediaman Uchiha
Sasuke tengah bersandar pada tembok bagian halaman depan kediamannya sambil memegangi kepalanya yang terasa nyeri. Memorinya terus berputar ke sebuah masa lalu yang tak dapat ia ingat seutuhnya. Potongan-potongan gambaran masa lalu itu menghantui otaknya, terus, terus dan terus bagaikan sebuah video rekaman rusak.
Gadis itu, surai indigo itu, mata lavender itu, tapi wajahnya masih tampak samar untuk Sasuke. Dia tidak mengenalinya, tapi, sebuah gelang yang melingkar pada pergelangan tangannya, kenapa sama dengan gelang yang mengikat tangan iblis ungu itu. Sasuke tak ingin berspekulasi lebih jauh lagi. Dia berusaha untuk bergerak dan memegang tembok untuk menopang berat tubuhnya sendiri.
"Sasuke, apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak apa-apa?" Seseorang muncul di hadapannya, menepuk bahunya yang gemetar.
"Itachi-nii." Sasuke tersadar kalau di depannya sudah berdiri Itachi bersama dengan beberapa orang polisi Konoha.
"Apa yang terjadi?" Melihat dari wajah adiknya, Itachi tahu, sesuatu telah terjadi.
"Maafkan aku... Aku telah membiarkan perempuan iblis itu mengambil semua 'tawanan'." Sasuke hanya dapat bergumam lemah dengan perasaan yang sangat menyesal.
Kalau kau menginginkan Ibumu kembali dan mengejarku, jadilah lebih kuat dariku, Sasuke.
Sasuke menggeram, mengepalkan tangannya kuat-kuat saat teringat ucapan iblis itu kepadanya. Ia berani bersumpah akan membuat iblis berkimono ungu itu membayar semuanya, dan akan dia pastikan, suatu saat nanti mereka akan bertemu kembali.
"Lupakan itu, sekarang bantu aku mengambil obat-obatan, apa kau mengerti?" Itachi tampaknya tidak terlalu mempersalahkan mengenai iblis-iblis yang berhasil direbut. "Keadaan di pusat kepolisian rusak parah karena serbuan para iblis, banyak orang-orang kita yang terluka. Ayah menyuruhku untuk segera membawa ramuan." Itachi menjelaskan keadaan di pusat kepolisian yang berada pada jantung kota Konoha.
"Sasuke, kau dengar aku? Sasuke!" Uchiha sulung itu meneriaki sang adik berkali-kali, karena Sasuke seperti tenggelam ke dalam dunianya sendiri.
"Itachi..." Sasuke tiba-tiba saja menatap sang kakak dengan serius, "Iblis yang datang kemari adalah iblis yang menculik Ibu kita beberapa bulan lalu," ucapnya kembali mengeratkan kepalan tangannya.
Itachi terdiam setelah mendengar penjelasan adiknya. Ada suatu perasaan yang berkecamuk dalam dada, dan tanpa disadari cengkraman tangannya pada pundak Sasuke semakin menguat. Luapan emosi itu bergemuruh dalam dadanya, seolah menuntutnya untuk mencari iblis itu. Bagaimana tidak? Iblis itu telah menculik ibu yang amat disayanginya beberapa bulan lalu, dan iblis itu kembali muncul, tapi disaat dirinya tidak ada. Itachi merasa geram.
"Sasuke..., kalau boleh jujur, aku ingin sekali mencari jejak iblis itu dan memaksanya untuk mengembalikan Ibu kita, tapi..., saat ini banyak yang membutuhkan bantuan kita..."Cengkraman tangan Itachi pada pundak Sasuke berangsur-angsur merenggang. Pemuda itu menarik napas dan menghembuskannya pelan-pelan. "Teman-temanmu di sana juga butuh bantuan, Sasuke," ucapnya seperti ingin mengingatkan adiknya.
Sasuke tersentak, seolah seperti baru saja tersadar. Pemuda itu teringat pada teman-temannya. Sakura, Naruto, Sai, Neji, Kiba dan Shikamaru yang dengan sukarela mengikutinya, bergabung dengan pasukan ANBU. Mereka semua melakukan itu untuk membantu Sasuke mencari ibunya.
"Maafkan aku..." Sasuke membuang wajahnya dari Itachi. Dia merasa agak bersalah karena sempat-sempatnya berpikir egois.
"Nah, baguslah kalau sudah paham!" Itachi tersenyum lebar dan menepuk keras punggung adiknya. "Sekarang bantu aku untuk membawa obat-obatan. Kita harus cepat!" Pemuda itu kemudian berlari memasuki rumah yang kemudian disusul oleh Sasuke.
Kembali ke Underworld...
Di tempat lain, sesosok tubuh pemuda tengah terbaring di suatu ruangan yang diselimuti oleh kabut es yang begitu dingin. Di sisi pembaringan, ada seorang wanita berambut merah mengenakan kimono putih berdiri, mengecek keadaan pemuda yang terbaring itu.
Wanita itu tak lain adalah Mito yang memang diberi kepercayaan oleh Hinata untuk selalu mengawasi pemuda tersebut. Wajah wanita itu terlihat agak murung saat dirasanya pemuda yang terbaring lelap tak ada tanda-tanda untuk membuka matanya.
"Sigh..., cepatlah bangun Sasori. Hinata membutuhkanmu sekarang," ucapnya sambil menghela napas berat.
Mengetahui ucapannya tidak akan mendapat balasan, Mito memutuskan untuk berbalik, hendak meninggalkan pembaringan si surai merah dan memberikan laporan kepada Hinata.
Saat Mito berbalik, jari-jari pemuda itu gemetar, bergerak-gerak secara perlahan, dan tak berapa lama, kedua manik itu kembali terbuka, bergerak ke kiri dan ke kanan. Sasori bangkit dari posisi tidurnya.
"Sa-Sasori!?" Mito berbalik ke arah belakang dan sangat terkejut mendapati pemuda itu tengah terduduk.
Pemuda itu terdiam sejenak, namun ekspresinya berubah menjadi panik dan seketika ia menjadi histeris.
"Mi-Mito-san? Kau ada di sini? Baguslah, kita harus menolong Hinata dan teman-temannya!" Sasori memang tidak tahu apa yang sudah terjadi. Di dalam ingatannya saat ini ia sedang bertarung untuk menolong Hinata.
"Sasori, tenanglah!" Mito berjalan mendekati Sasori.
"Kita tidak punya banyak waktu, karena mereka akan menjadikan Hinata tumbal!" Pemuda itu berdiri dari atas tempat tidur esnya, dan dengan tergesa ia berniat untuk meninggalkan ruangan sebelum akhirnya dihentikan oleh Mito.
"Tahan dulu Sasori, coba lihat sekelilingmu." Mito menahan pergerakan pemuda itu, memaksanya untuk melihat di mana dirinya berada sekarang.
Sasori terhenyak saat sadar ia telah berada di ruangan yang cukup ia kenal. Ia telah kembali ke underworld, tapi tetap saja ada perasaan yang mengganjal dalam benaknya. Bagaimana caranya dia bisa kembali? Lalu, bagaimana nasib dengan teman-teman Hinata dan Hinata sendiri? Apakah dia berhasil melindungi mereka? Di mana Hinata? Satu-satunya memori yang ia ingat adalah rasa sakit yang tiba-tiba saja menyerang seluruh tubuhnya. Manda telah menghancurkan tubuhnya, kaki, tangan, dada, leher dan perut. Bahkan rasa sakit itu masih dapat ia rasakan.
"Ugh..." Sasori reflek memegangi bagian dada dan perutnya saat mengingat kejadian tersebut dan tanpa sadar sebuah erangan pelan keluar dari bibirnya.
"Sasori?" Mito menatap Sasori penuh tanya. Raut pemuda itu seperti sedang menahan sakit.
'Tunggu dulu... Tubuhku tidak apa-apa? Tidak ada luka...? Tidak ada rasa sakit seperti yang kupikirkan barusan?' Sasori terkejut saat menyadari kalau dirinya sekarang baik-baik saja.
"Mito-san, sebenarnya apa ya—" Pemuda itu baru saja ingin mengkonfirmasi apa yang terjadi, tapi kalimatnya terputus begitu ia melihat sosok seorang gadis tengah berdiri di ambang pintu ruangan.
Kedua bola mata berwarna hazel itu memandang ke arah sosok gadis yang sedang memakai kimono ungu gelap. Pandangannya bertemu dengan iris lavender sang gadis yang tak lain adalah Hinata.
Sasori tak mampu berkata-kata selain memandang gadis itu dengan rasa heran, lega yang juga bercampur dengan kekaguman. Hinata seperti memancarkan suatu kekuatan aura yang berbeda dari sebelumnya. Sosoknya membuatnya teringat pada Kaguya.
'Tidak mungkin... Jangan-jangan Hinata sudah...' Seperti telah disadarkan oleh pikirannya sendiri, Sasori kini memberikan tatapan yang menuntut sebuah penjelasan kepada Hinata.
"Mito-san, tolong tinggalkan kami berdua." Tanpa banyak bersuara, Mito lekas meninggalkan ruangan tersebut, membiarkan sang titisan iblis bulan bersama dengan Sasori.
"Hinata, apa kau su— Hinata?" Sebuah kalimat tanya yang tak lolos seutuhnya keluar dari bibir Sasori, berganti menjadi keterkejutan karena tiba-tiba saja gadis itu menghambur memeluknya, erat.
"Yokatta, Sasori-kun...," ucap Hinata penuh kelegaan. Rasanya semua beban berat yang dirasanya menghilang semua ketika melihat pemuda itu sudah berdiri lagi di hadapannya.
"Kau tidak tahu kalau aku sangat menantikan hal ini," ucapnya dengan nada lembut, "Aku ingin sekali melihatmu, bicara padamu, juga menyentuhmu seperti sekarang. Kau adalah teman terbaikku, Aka-chan..." Sasori tercengang dengan semua pengakuan Hinata.
Untuk sesaat Sasori hanya terdiam dan membiarkan dirinya terlarut di dalam pelukan sang indigo, membawanya jauh ke alam bawah sadar. Aroma lavender yang menjadi ciri khas Hinata mulai menguasai indra penciumannya, juga otaknya. Ini pertama kalinya ia bisa berinteraksi bebas dengan Hinata, dan merupakan suatu kejadian yang luar biasa untuknya.
Iris hazelnya kini terarah pada sebuah gelang yang melingkar pada pergelangan tangan Hinata. Pemuda itu terkesikap menatapnya. Gelang itu seperti sebuah pertanda akan kepemilikan hati sang indigo untuk Sasuke Uchiha.
"Berapa lama...?" Tanya Sasori dengan susah-payah. Hinata melepaskan pelukannya dan menatap pemuda di depannya dengan wajah bingung. "Berapa lama aku tertidur?"
"Satu tahun..."
Dada Sasori langsung terasa sesak mendengar jawaban Hinata. Itu artinya gadis itu sudah berada di dunia iblis dan meninggalkan dunia manusia selama satu tahun? Satu pertanyaan yang sepertinya tak dapat ia lontarkan. Bagaimana dengan Sasuke? Hinata tak mungkin pergi begitu saja meninggalkan orang yang sangat ia cintai, atau— benarkah ia melakukan itu? Apa yang membuat Hinata sampai mengambil tindakan senekad itu?
Greb...!
Sasori tiba-tiba menggenggam tangan sang indigo. Ia pernah berjanji untuk memberikan gadis itu kebahagiaan, dan dia sungguh-sungguh dengan niatnya itu. Dia tak ingin gadis itu terpuruk.
"Hinata, ayo kembali. Kembali ke dunia manusia dan cari Sasuke," ucapnya penuh keseriusan.
Gadis itu tampak terkejut dengan perkataan Sasori yang tiba-tiba merambat, membicarakan Sasuke. Diam-diam ia melepaskan tangannya yang sedang digenggam oleh si pemuda. Hinata mundur satu langkah, sebelum akhirnya ia berbalik memunggungi Sasori. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan menghempasnya dalam deru napas yang teratur secara perlahan.
"Sudah terlambat, karena..., aku sudah meminta Mito-san untuk menghapus ingatan semua orang di Konoha mengenai diriku." Kata-kata yang terucap dari bibir Hinata seperti pil pahit yang harus dicerna oleh Sasori dan Hinata sendiri.
Hinata masih berdiri membelakangi Sasori. Saat ini, ia tak ingin pemuda itu melihat raut wajahnya sendiri yang tampak menyedihkan. Dia hanya berusaha tegar menjalani semuanya karena ini adalah keputusannya sendiri. Ia sadar, cepat atau lambat, dirinya pasti akan kembali ke tempat yang seharusnya dan Hinata tidak mau terlena dengan dunia manusia, di mana iblis sepertinya tak seharusnya tinggal.
"Maafkan aku..." Sasori bicara dengan nada yang bergetar. Ia dapat merasakan betapa banyak hal yang telah dikorbankan oleh Hinata, termasuk cintanya.
"Sekarang tidak ada waktu untuk menyesal ataupun melihat ke belakang." Hinata kembali berbalik menatap Sasori. "Aku ingin kau segera memulihkan kekuatanmu dan bergabung kembali. Aku butuh bantuanmu." Hinata benar-benar berubah, setidaknya dia jadi sosok yang lebih tegas, memiliki prinsip dan tidak ada keraguan dari tiap kata yang tercelos pada bibir mungilnya.
"I am at your service, Hime-sama," balas Sasori menyatakan kepatuhannya terhadap Hinata. 'Mungkin hanya ini yang bisa kulakukan sementara, tapi aku berjanji akan mempersatukanmu dengan Sasuke suatu saat nanti,' tambahnya dalam hati.
Back To Konoha
Sasuke bersama dengan Itachi sedang membantu para polisi yang terluka akibat dari serangan para iblis sebelumnya. Awalnya pemuda itu sempat khawatir dan panik memikirkan bagaimana nasib teman-temannya. Tapi setelah datang ke tempat kejadian dia merasa sedikit lega, karena semuanya tidak mengalami luka serius.
"Aw, aw, aw! Pelan-pelan sedikit Sakura!" Di pojokan sana terlihat Kiba tengah merintih saat bagian kakinya dibalut perban oleh Sakura.
"Kau itu, bisa diam sedikit tidak? Makanya jangan bergerak terus!" Sembur Sakura dengan nada galak. Meski demikian, gadis itu sebenarnya perhatian. Dia hanya kesal Kiba terus menggerutu.
"Sakura, kemana Naruto, Shikamaru, Neji dan Sai?" Sasuke menghampiri kedua orang itu dan menanyakan keadaan temannya yang lain.
"Aku tidak tahu. Mereka ditempatkan di wilayah yang berbeda..." Sakura terdiam sejenak. Tiba-tiba saja dia jadi memikirkan keadaan keempat remaja itu, terutama Naruto. Pemuda itu suka sembrono dalam segala hal dan ia khawatir kalau sesuatu terjadi padanya.
"Hei, Sakura. Kenapa malah diam? Lukaku kapan dibalut?" Kiba mendengus sambil menunjuk ke arah kakinya yang belum selesai diperban.
"Issh, dasar bawel!" Sakura dengan gemas memukul kaki Kiba yang sebelahnya dan Kiba kembali mengaduh, merasa pahanya jadi panas karena pukulan Sakura.
"Kalian berdua ini..." Sasuke mendengus melihat kelakuan kedua temannya, tapi tak lama pemuda itu tersenyum tipis—SANGAT TIPIS— sampai tak ada yang menyadari senyumannya.
.
.
Para polisi lain mulai berdatangan ikut memberi bantuan, dan suasana menjadi semakin ramai dengan kedatangan Tsunade, juga Jiraiya, dua orang shaman yang amat disegani di Konoha. Keduanya datang bersamaan dengan Naruto, Sai, Neji, juga Shikamaru.
"Tsunade-sama! Jiraiya-sama!" Serempak kepolisian yang ada di sana memberikan rasa hormatnya kepada Tsunade dan Jiraiya.
"Untunglah kerusakan di kota tidak terlalu parah." Tsunade menghela napas lega saat melihat kondisi di pusat kepolisian tidak separah dari apa yang ditakutkannya. 'Gadis itu menepati janjinya,' ucapnya dalam hati, bersyukur kepada Hinata yang sudah bersedia membantu.
"Yah, kami tertolong berkat pasukan iblis lain yang entah mengapa ikut bergabung dan membantu kami," ucap seorang wanita berambut coklat yang memiliki mark segitiga terbalik seperti Kiba muncul, mendekati Tsunade dan Jiraiya.
"Aku sudah tahu itu," balas Tsunade sambil sedikit tersenyum, membuat Jiraiya merasa ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu dari balik senyumnya.
"Sepertinya kami terlambat untuk sampai ke sini." Sebuah suara memaksa mereka semua untuk mengalihkan pandangan ke arah depan.
Dari kejauhan tampak ada dua sosok yang tengah berjalan mendekat. Seorang pemuda bersama seorang gadis dengan pakaian serba hitam, menapaki tiap langkahnya ke arah gedung kepolisian.
"Tak kusangka, sampai shinigami pun juga datang kemari." Jiraiya terkejut mendapati kedua shinigami yang notabene dikenalnya itu sampai ikutan datang. Pastinya rencana penyerangan besar-besaran ini sudah masuk ke telinga para shinigami sehingga mengutus Gaara dan Matsuri untuk datang.
"Tapi, tak biasanya kau terlambat, Gaara. Apa ada sesuatu yang menghalangi?" Jiraiya setengah mencibir, berharap Gaara akan marah dengan kata-katanya. Jujur saja, dia merasa bosan melihat shinigami itu selalu memasang ekspresi datar yang menurutnya tidak sopan.
"Kami sempat bertarung dengan dua iblis. Salah satunya adalah Mito, iblis rubah dan seorang lagi yang baru kulihat, tapi sepertinya Mito sangat melindungi iblis berkimono ungu itu," jawab Gaara secara detail.
"Jadi kau bertemu dengan ibis berkimono ungu itu?" Sasuke langsung bernapsu begitu mendengar iblis dengan kimono ungu. Perasaanya langsung membuncah.
Matsuri secara reflek teringat akan pertarungannya yang tidak seimbang. Tangannya mengepal erat pada katananya dengan perasaan menyesal. "Seandainya saja aku jauh lebih kuat," bisiknya dengan nada lirih, tak terdengar oleh siapa pun.
"Sepertinya kami jauh lebih beruntung, un!" Terdengar sebuah suara yang berasal dari atas.
Masing-masing dari mereka segera menengadahkan kepala dan melihat di atas mereka ada seekor burung rajawali berukuran cukup besar tengah melayang sambil mengepak-ngepakkan sayapnya yang lebar dan membuat hembusan angin malam bertiup di sekitarnya. Tak jelas ada siapa di atas punggung burung itu, tapi samar-samar mereka menangkap ada tiga sosok yang berdiri di atas burung tersebut.
"Bagaimana kalau kita tanyakan padanya, un?" Dari balik ketinggian mereka mendapati surai keemasan yang tersibak oleh tiupan angin. Ada sosok seseorang berdiri di sana sambil memegangi tubuh seseorang yang kemudian dilemparkannya ke bawah.
Semakin lama mereka dapat melihat jelas sosok yang dilempar ke bawah itu memiliki tubuh dipenuhi oleh luka dan ada beberapa tusukan benda tajam di sekitar lengan, bahu dan kakinya.
BRUKH!
Tubuh itu terjatuh, mendarat keras pada permukaan aspal yang kasar dan berbatu. Keadaan hening sesaat, masing-masing dari orang yang ada di sana menatap ngeri kepada sosok pemuda berambut hijau yang diam tak bergerak. Masih hidupkah ia? Hanya itu pertanyaan yang melintas dalam benak masing-masing yang ada di sana.
"Hei! Kau sudah gila, ya, melempar orang seenaknya saja!" Kiba tanpa basa-basi lagi langsung merutuk dan menyumpahi sang pelempar.
"Lebih baik kau diam dan lihat saja, un!"
Kiba merenggut kesal, rasanya dia ingin sekali menancapkan gigi-gigi taringnya ke kepala sosok yang bicara dengannya itu, tapi ditahannya. Kini pandangannya beralih ke arah sosok pemuda yang terjatuh tadi. Tubuhnya mulai bergerak dan hal ini membuatnya keheranan. Bagaimana mungkin ada manusia yang masih bisa bertahan setelah dilempar dari ketinggian seperti itu? Ditambah lagi ia mengalami luka yang cukup parah.
"Ughh..." Pemuda berambut hijau itu mulai mengerang kesakitan. Perlahan-lahan ia terbangun dan serempak beberapa orang polisi yang berdiri di sekitarnya langsung menjaga jarak.
"Uhuk... Uhuk..." Pemuda itu memuntahkan cairan merah kehitaman yang pekat dari mulutnya. "Chikuso...," geramnya sambil berusaha berdiri, "DEIDARA TEMEEE!" Makinya sambil memandang ke arah atas.
Selepas umpatan itu keluar dari mulutnya, dari atas sana muncul paku-paku besi dengan kecepatan tinggi langsung menerjang tubuh sang pemuda tanpa ampun. Membuatnya kembali terkapar dengan tubuh dipenuhi paku besi disertai dengan darah segar yang mengalir. Sontak semua yang melihat hal itu bergidik ngeri.
"Bre-brengsek..." Pemuda yang terkena serangan itu ternyata masih dapat bicara.
"Di-dia masih bisa bicara meskipun sudah terkena serangan seperti itu!" Salah seorang polisi terlihat keheranan. Seharusnya pemuda itu sudah mati sejak tadi ia dilemparkan pertama kali.
"Dia pasti iblis, ta-tak salah lagi!" Timpal polisi lainnya.
Para polisi itu semakin mengambil jarak sejauh-jauhnya dari sekitar pemuda tersebut.
Tap! Tap!
Akhirnya kedua sosok itu melompat turun dari atas sana.
"Ara-ara. Lebih baik kau bicara atau kami akan memusnahkanmu sekarang Aoi!" Ancam seorang gadis yang kemudian berjalan mendekat. "Katakan siapa dalang dibalik penyerangan ini!" Gadis itu mengacungkan sebilah pedang ke arah si pemuda yang sudah tak berdaya.
"Hehehe... Uhuk... Uhuk..." Pemuda itu sempat terkekeh sebelum akhirnya kembali terbatuk memuntahkan gumpalan darah berewarna hitam. "Pelakunya adalah..., Hinata, Tsuki no aku...," ucapnya menyebutkan nama Hinata.
'Ini tidak mungkin!' Tsunade merasa tak percaya dengan pengakuan iblis itu.
"Tsunade, kau kenapa?" Jiraiya melirik ke arah wanita yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil itu dengan perasaan aneh.
"Tidak ada." Wanita itu hanya menggeleng, tapi Jiraiya tidak bisa dibodohi begitu saja. Ia sempat melihat raut keterkejutan yang tampak pada wajah Tsunade sesaat tadi saat nama Hinata disebut. Pasti ada sesuatu yang disembunyikannya berkaitan dengan Hinata.
"Kami sudah cukup mendapat informasi darimu, un," pemuda pirang itu tersenyum aneh, "sekarang saatnya kau pergi ke neraka, BANG!" Sambungnya kemudian dan secara tiba-tiba terjadi ledakan.
DHUAR!
Tubuh laki-laki berambut hijau itu meledak dan menjadi serpihan-serpihan potongan daging kecil yang berceceran ke mana-mana, termasuk bagian dalam organ mahkluk tersebut, juga darahnya yang mengenai beberapa orang polisi.
'Dia kejam sekali...' Sakura menelan ludah. Pemuda pirang itu benar-benar bisa melakukan aksi sadis seperti itu bahkan tanpa mengedipkan mata sedikit pun.
"Selanjutnya, aku akan membuat nasib Hinata sama seperti itu, un," ujarnya seraya menyeringai sesaat, dan setelahnya ia kembali melompat ke atas bersama sang partner, menaiki punggung burung yang masih setia menunggunya dan kedua sosok itu menghilang dari balik kegelapan langit malam.
"Aku ingin bicara dengan kalian semua." Tsunade tiba-tiba saja merasakan suatu firasat buruk. "Sementara kalian, pulanglah. Terima kasih atas kesediaan kalian membantu." Tsunade mengalihkan pandangannya pada Sasuke juga teman-temannya, menyuruh mereka untuk pulang. Baginya sudah cukup bantuan yang diberikan oleh anak-anak itu dan ia tak mau mereka terlibat lebih jauh ke dalam permasalahan yang bisa saja mengancam nyawa mereka.
"Tapi kami juga ingin tahu apa yang terjadi, juga iblis yang bernama Hinata itu!" Sasuke merasa tidak terima disuruh pulang begitu saja.
"Otoutou, tenanglah." Itachi menepuk pundak adiknya. "Masalah ini serahkan pada kami. Aku berjanji akan menceritakannya padamu, jadi sekarang kalian pulanglah." Pemuda itu mengedipkan sebelah matanya.
"Ugh..., baiklah..." Itachi tersenyum saat sang adik tidak mendebatnya.
Sementara itu Konoha Underworld
Hinata tampak sibuk sedang mengatur iblis bawahannya dengan memberikan mereka masing-masing sebuah misi untuk mencari seorang iblis dengan julukan blue demon tersebut, juga seseorang yang bernama Konan.
Sasori dan Mito hanya memantau dari kejauhan, melihat setiap gerak-gerik Hinata dan tiap perkataan tegas yang keluar dari bibir gadis yang sudah bertransformasi menjadi seperti sekarang ini. Sasori tentu saja merasa takjub juga kagum melihat perubahan drastis Hinata. Namun, ada segurat rasa sedih yang mampir ke dalam benaknya.
"Aku tak menyangka Hinata bisa seperti ini...," ucapnya dengan tatapan lembut yang mengarah pada gadis itu.
"Hinata memang telah banyak berubah, tapi hatinya tidak," balas Mito seraya mengangguk kecil. Sedikit banyak dia setuju dengan ucapan Sasori. Gadis itu dengan cepat dapat beradaptasi di lingkungan para iblis yang seolah menyiratkan kalau seharusnya sejak dulu gadis itu tinggal di dunia para iblis.
"Heh..." Sasori tersenyum tipis. Dia tahu apa maksud perkataan Mito. Hinata masih sangat mencintai Sasuke, terbukti dari gelang yang masih dipakainya sampai saat ini.
"Apa kau tahu kenapa Hinata terlihat begitu berjuang keras dalam masalah ini?" Tanya Mito secara tiba-tiba dan Sasori hanya menggeleng lemah. Pemuda itu kini berbalik menghadap ke arah Mito di belakangnya.
"Saat pertama kali tiba di sini, Hinata..." Mito tersenyum dan pandangannya menerawang ke atas.
"Atashi wa, otagai o wakaru suru koto ga deki itsunohika ningen to akumataidesu..." (Aku ingin suatu saat nanti, iblis dan manusia bisa saling memahami).
Mito mengulangi kata-kata yang diucapkan oleh Hinata mengenai harapannya itu. Sasori tersenyum dan ia kembali berbalik memandangi Hinata.
'Kau memang tak berubah,' bisiknya dalam hati.
TBC
T
H
A
N
K
S
For Reading :D
