Falling For My Husband

Chapter 2

.

[WARNING]

Typo everywhere

HUNHAN

BOYXBOY, MPREG, AGEGAP

DLDR – Just go away kalau ga suka

.

.

.

NOTED:

Before you continue reading this chapter,, I want to tell you that there is a change in character, Xiumin becomes Chanyeol. Because I am chanbaek and hunhan enthusiat, so i cant ship xiumin with baek. Sorry if this confused you.

And this chapter is 3 years after the married

Okay happy reading y'all. Sorry for the typos :D

.

.

Luhan

Present

"Ada apa dengan ekspresi cemas mu itu?" Chanyeol menatapku dengan perhatian penuh.

Berapa kali aku harus mengalami pengalaman yang memalukan ini dalam hidupku? "Tidak hari ini, aku mohon. Aku belum tidur sama sekali." Aku menjatuhkan diriku di salah satu tempat duduk, sebelum diriku meneguk segelas kopi. Aku dan Baekhyun berbagi apartemen yang sama dimana Chanyeol menghabiskan sebagian waktunya dengan kami, karena dia selalu mengacaukan hidup kami berdua.

"Apa yang terjadi?" Chanyeol terlihat menekan, karena dia tahu kondisiku dengan wajah yang memerah saat ini.

"Minho mencampakanku. Dia mengatakan kalau menunggu diriku akan memakan waktu selamanya. Ada apa dengan berpacaran sehat? Itu tidak buruk kan?"

"Tidak, tetapi kau tahu semua dominan senang memiliki semua secara keseluruhan." Chanyeol mengedipkan matanya padaku karena aku tahu dia seorang dom sebelum dirinya menggigit roti dan meminum capuccino-nya dan menambah kesengsaraanku. "Kenapa kau tidak, kau tahu melampiaskan hasrat dengan dildo? Atau lebih baik lagi, kau kan sudah menikah; mengapa tidak melakukannya saja dengan suamimu?"

Good question, tetapi aku berpikir meminta kepada si plaboy terkenal yang hampir tidak aku kenal, sangatlah gila. "Kau tahu pernikahan ini tidak nyata, Chanyeol. Selain itu aku tidak berfikir Sehun menyukai seorang perawan. Maksudku, aku tidak berpengalaman, tetapi secara keseluruhan, kau tahu lah?" Dimata Sehun, mungkin aku ditertawakan. Karena dia tidak mungkin akan melakukannya dengan seorang virgin – seluruh Korea Selatan tahun akan hal itu.

Chanyeol tersenyum dan mata coklatnya terlihat menari geli. "Sehun memang suka pasangan yang mencolok. Katakanlah, disisi eksperimentalnya? Aku mengagumi pria itu. Suatu hari kau harus memperkenalkannya padaku."

Aku memutar bola mataku, dan menggigit sedikit roti. "Shut up. Kau hanya iri tidak bisa seperti dirinya, jujur saja." Gumanku kepada orang bebal dan keras kepala yang aku kenal semenak aku pindah ke Seoul 3 tahun lalu.

Aku memang lahir di Seoul, namu keluargaku pindah ke Jeju ketika aku berumur 2 tahun ketika ayah membeli rumah untuk kejutan pada ibu di hari ulang tahun pernikahan mereka. Rumah tersebut adalah tempat terindah di bumi menurutku. Aku sedih saat harus meninggalkan rumah itu, tetapi setahun sekali aku datang dan kembali mengingat bagaimana kehidupan kami sebelum keluarga direnggut. Meskipun aku menyukai Seoul, akan tetapi Jeju akan selalu menjadi rumahku.

Aku sendirian. Jika bukan karena sahabat-sahabatku, aku benar-benar tidak memiliki siapapun.

Aku tersadar dari lamunanku ketika aku mendengar Baekhyun bergumam tentang beberapa proyek yang jatuh tempo hari ini saat dia memasuki dapur. "Chanyeol, tolong ambilkan aku kopi,,,"

Chanyeol melirik tajam pada Baekhyun, namun tetap melakukan perintah Baekhyun seperti biasa. Baekhyun adalah Raja ketika ada Chanyeol. Dinamika mereka berdua memang aneh, akan tetapi tetap cocok satu sama lain.

"Kurasa kalian berdua harus berhubungan dan melakukan sex. Selesai." Aku bergumam sembari tertawa geli.

"Oh, shut it! Chanyeol itu straight. Apa kau tidak tahu?" Baekhyun mengangkat alisnya.

"Kopimu." Chanyeol memberikan kopi kepada Baekhyun. "Haa,, I'm Bi. Dan kalian harus tahu kalau semalam aku ditemani uke tercantik berasal dari Bucheon di pelukanku." Chanyeol sebenarnya menyukai Baekhyun dan bucheon daerah Baekhyun.

"Really? Kalau begitu aku ingin bertemu dengannya." Aku tersenyum menggoda sembari melihat kearah Baekhyun, "Bagaimana menurutmu, Baek?"

Wajahnya yang cantik dan mata coklatnya terlihat mengeluarkan senyuman bahagia palsu, "Sure. Bawa dia kemari. Aku ingin bertemu dengan salah satu teman satu malam Chanyeol."

Aku tersenyum kecil karena Baekhyun terlihat gagal menyembunyikan reaksinya.

Chanyeol akhirnya pergi ketika aku bilang akan bersiap-siap untuk bekerja. Aku ngin datang lebih awal dan pulang lebih awal. Namun, Baekhyun sengaja datang terlambat dan pulang larut malam. Kami berdua bekerja dengan sangat baik. Jika seorang teman bisa menjadi belahan jiwa, Baekhyun akan melakukannya untukku.

Setelah setengah jam perjalanan menuju gedung kantor kami yang terletak di daerah Cheongdam-dong, Kris yang merupakan kakak laki-laki Chanyeol menghubungiku dan mengajakku untuk makan siang, tentu saja aku aku menerima tawaran tersebut untuk bertemu di tempat favorit kami.

Setelah bekerja selama hampir 3 tahun, aku dan Kris menjadi dekat. Pada awalnya Kris adalah orang yang menyebalkan, bagaimana tidak? Dia melakukan keinginan adiknya untuk memperkerjakan kami, tetapi bukan berarti dia tidak membutuhkan bantuanku atau Baekhyun.

Sikap Kris berubah semenjak kami bekerja bersama hampir setiap hari dan aku membuktikan kemampuanku padanya. Saat pertemananku dengan Chanyeol berisi lelucon dan gurauan, pesta dan curhatan dari hati ke hati setiap 6 bulan sekali, disisi lain pertemananku dengan Kris jauh lebih kepada kedewasaan. Aku selalu menghargai pendapatnya dan kejujurannya ataupun pendapat yang Kris berikan kepadaku ketika aku sedang bekerja pada beberapa proyek.

Chanyeol terkadang lebih terlihat kekanakkan. Kris sangat menawan, rapi dan seakan-akan dirinya terlihat seperti berjalan dengan setelan designer. Okay,, kadang aku lemah terhadap penampilannya, tetapi semua itu hanya cinta monyet dan hanya diriku yang tahu.

Kami berada ditengah-tengah makan siang ketika handphoneku bergetar diatas meja.

Sehun: Apa kau sibuk siang ini?

Sehun mengirim pesan saat diriku makan siang, aneh. Aku penasaran dan segera membalas pesannya.

Bisa diatur. Ada apa?

Handphoneku bergetar sebelum aku meletakkannya kembali ke meja.

Sehun: Ada hal penting yang harus aku diskusikan bersamamu. Jam berapa kau luang?

Okay, sekarang aku makin penasaran dan sedikit khawatir.

Sebenarnya aku sedang makan siang disuatu tempat dekat dengan kantormu. Apakah kau ada waktu luang sekitar 1 jam lagi? Aku bisa mampir.

Seperti yang kuharapkan, handphoneku langsung bergetar saat melihat balasan Sehun.

Sehun: Akan aku kosongkan jadwalku. Sampai nanti.

Apa yang begitu penting sehingga Sehun menghubungiku? Apakah ada masalah keuangan? Tetapi bila itu masalah keuanganku, Sehun pasti akan langsung membereskannya. Apakah ini tentang bisnis baru yang perlu diinvestasikan? Sangat mungkin.

Terakhir kali Sehun menghubungiku adalah ketika membicarakan tentang menempatkan 25% warisanku untuk sektor tehnologi. Atau mungkin ini lebih serius? Tetapi kuharap tidak.

Meskipun aku hampir tidak pernah bertemu Sehun, dia adalah satu-satunya orang yang berhubungan dengan masa laluku. Dengannya, aku selalu teringat kenangan indah bersama Suho. Walaupun kami tidak dekat, aku sangat peduli padanya.

Jadi, apa pun yang mengganggu Sehun sehingga dia memintaku untuk bertemu, aku berharap bahwa itu bukanlah sesuatu yang serius karena terakhir kali seseorang mengatakan hal penting untuk dibicarakan adalah Suho yang sedang sekarat.

Perutku rasanya bergejolak. Aku harus segera menuju kantor Sehun dan berharap tidak muntah di kantor megah dan mewah miliknya.