Catatan : sebelumnya aku minta maaf atas keterlambatan untuk nge-post ff ini, karena lagi sibuk banget sama urusan sekolah :(
Disclaimer : DETECTIVE CONAN IS AOYAMA GOSHO'S
sebelum dimulai, ini balasan reviewnya :
coffeelover98: arigatou, sensei! :D seneng banget direview sama senseii hehe ^^
Akemi4869: terimakasih! ;)
raralarhas: iya hihi sengajaa ;-p terimakasih dukungannyaa ;3
Chairunissa Hailey: siapp!
langsung aja yah kalau gituu :)
Chapter 3 - Is She?
Flashback : On
Shinichi's POV
Bodoh.
Kenapa aku membuatnya menangis?
Ran...
Aku.. mencintainya, bukan?
Benarkah?
Iya, benar. Dia kan cantik, ramah, dan satu-satunya cewek yang akrab denganku dari dulu.
Tapi.. kenapa ada yang mengganjal.?
Tidak, Shinichi. Kau mencintainya.. benar.
Meskipun begitu.. sama saja aku tidak bisa pacaran dengannya.
Kenapa?
Yah, bukankah aku harus menaklukan cewek itu dulu?
Iya, kan?
Setelah itu, aku bisa pacaran dengannya.
EH?!
Bukankah itu sama saja.. menyakiti hatinya?
ARGH! Tidak tahu ah. Dari dulu aku tidak mengerti isi hati perempuan.
Aku harus bicarakan ini dengan siapa?
Heiji? Ah tidak mungkin, nanti malah ditertawakan lagi.
Duh, Shinichi, berfikir dong! BERFIKIR!
Oh, ya. Kan bisa konsultasi dengan Hakase. Ya, benar, lebih baik aku kerumahnya sekarang!
*ting tong* *ting tong* *ting tong*
Lama banget, sih! Jangan-jangan Hakase tidak dirumah?
Sabar, Shinichi. Lebih baik tunggu saja, deh.
Flashback : Off
Normal POV
Kedua remaja itu saling pandang-memandang dan memasang wajah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya masing-masing.
"Maaf. Sepertinya kau salah rumah" kata Shiho singkat lalu segera menutup pintu tetapi gagal karena ditahan oleh kaki Shinichi.
"Hei! Apa-apaan kau? Biarkan aku masuk! Lagian kenapa kau disini, sih? Ini kan rumah Hakase!" ucap Shinichi
"harusnya aku yang bertanya seperti itu. Lagipula ini juga tempat tinggalku kok!"
"Haaah?! Aku tidak mengerti maksudmu! Biarkan aku masuk!"
"Tidak!"
"Aku mau masuk!"
"Tidak!"
Mereka berdua saling tarik menarik pintu dan berlawanan arah. Tapi Shiho sengaja melepaskan gagang pintu itu, dan Shinichi langsung terjatuh ke lantai
"Hei! Kau ini apa-apaan, sih? Kasar sekali" kata Shinichi sambil mengelus-ngelus kepalanya
"Kau justru yang apa-apaan. Tadi kan kau bilang mau masuk, ya sudah aku lepaskan gagang pintunya" kata Shiho sambil memasang muka kesalnya
Shinichi hanya memasang wajah cemberut lalu langsung melangkah masuk begitu saja tanpa mempedulikan omongan Shiho, tetapi gagal lagi karena Shiho menghalanginya dengan merentangkan kedua tangannya
"Apa lagi? Kan tadi kau bilang aku boleh masuk"
"Lho? Memang aku bicara seperti itu?"
"Terserahmu saja, deh. Yang penting aku mau masuk dulu"
"Enak saja. Lagian kan sudah kubilang, kau salah ma -"
"HEI! Ini dari tadi ada ribut-ribut apa, sih? Ada apa Shiho-kun?" terdengar suara Hakase dari dalam rumah dan langkah kaki bersuara ingin menuju ke depan rumah
"Orang ini, nih! Hakase kau kenal dia?"
"Oh, Shinichi-kun! Ada perlu apa? Ayo masuk dulu"
"He-hei! Hakase, kau..? dia kan..!" kata Shiho
"Kenapa? Sudah ayo masuk dulu, dan Shiho-kun tolong buatkan minuman"
"ta..tapi kan!"
"tolong ya" kata Hakase sambil menuntun Shinichi untuk masuk.
Mau tak mau Shiho harus mendengarkan kata Hakase dan saat semuanya masuk Shiho segera menutup pintunya. Shinichi langsung berbalik menghadap Shiho memasang muka mengejek pada Shiho sekaligus muka bangga(?). Shiho lalu membalas dengan memasang muka malas dan segera menuju ke dapur untuk membuatkan minuman
.
.
.
.
.
"Jadi.. Hakase, bisa kau ceritakan kenapa cewek itu bisa tinggal disini? Dan kenapa aku baru tahu sekarang?" tanya Shinichi
"Maaf, aku lupa memberitahumu Shinichi-kun. Jadi sebenarnya dia sudah pindah dari 2 hari yang lalu pindahan dari Amerika. Karna dia tidak punya tempat tinggal, ya sudah dia tinggal disini. Dan dia itu anak jauh dari saudaraku. Dia juga sudah kuanggap seperti anak sendiri"
"oh, begitu"
"Ngomong-ngomong, kau kenal dia? Kau satu sekolah dengan Shiho-kun bukan?"
"Ya, dia memang satu sekolah denganku. Tapi sifatnya disekolah sangat buruk, yah walaupun aku baru kenal tadi sih."
"Jangan bicara seperti itu, sebenarnya dia anak yang baik kok. Walaupun mungkin ada sisi dinginnya, tapi setelah kau kenal dengannya pasti kau sangat menyesal sudah berkata seperti itu Shinichi-kun"
"Baik katamu? Baru hari pertama disekolah saja sudah seperti itu, Hakase. Sombong, dingin, cuek, kasar, pemarah, dan-"
"Wah-wah, baru saja ditinggal sebentar detektif ini sudah berbicara banyak berita palsu tentangku" kata Shiho datang dari dapur sambil menaruh minumannya diatas meja ruang tamu sekaligus memasang senyum termanis, tetapi menurut Shinichi itu senyum yang seolah-olah mengartikan akan-kubunuh-kau
Shinichi langsung berkeringat dingin dan tiba-tiba Hakase ikut membantu Shinichi yaitu dengan mengalihkan obrolan lain
"Ah..anu, oh iya Shinichi-kun ada perlu apa kau kesini?"
"itu.. sebenarnya ini.. tentang Ran"
"Ran? Ada apa dengan dia?"
"Um.. sebenarnya tad-"
"Bodoh! Kalau aku bercerita hal ini, bagaimana? Tadi Hakase kan bilang, Miyano itu sudah seperti anaknya sendiri. Nanti kalau aku cerita, bisa-bisa Hakase menanyakan hal kenapa aku menolak Ran, padahal dia tahu kalau aku menyukainya. Kan sebabnya itu, ya karena Miyano. Jangan, deh! Nanti bisa-bisa aku dihabisin sama Hakase," pikir Shinichi sambil mencuri pandang ke arah Shiho
"Ada apa, Shinichi-kun?"
"Ah.. bu-bukan apa-apa kok! Hahaha. Oh iya, aku harus pulang sekarang"
"Lho? Kok buru-buru sekali? Santai saja Shinichi-kun, lagipula rumah kita kan bersebelahan"
"Itu, oh ya! Soalnya malam ini ada acara bola live, jadi aku harus segera pulang" kata Shinichi berbohong
"Masa.? Setahuku tidak ada tuh" sambung Shiho
"A-ada tahu! Loh memangnya kamu juga suka nonton bola?"
"A-apa sih! Jangan samakan aku dengan maniak bola sepertimu. Sudahlah, cepat sana pulang. Kamu disini cuma ngerepotin. Oh iya, Hakase aku ke kamar ya mau mengerjakan pr"
Hakase ingin menjawabnya dengan anggukan tapi sebelum Hakase mengangguk Shinichi langsung berteriak
"EEH?! Memangnya ada PR?" teriaknya
"Berisik banget, sih! Memang kamu pikir ini tempat apaan bisa teriak-teriak sepuasnya? Dasar detektif bodoh"
"Kau ini! Mengata-ngataiku terus. Ta-tapi aku serius Miyano, memangnya ada PR?"
"Ada. Fisika halaman 19 bagian I, II, dan III. Sudahlah aku ke kamar dulu, daripada lama-lama disini tak ada untungnya"
Hakase hanya melihat mereka berdua berdebat dan langsung menuju ke kamarnya tanpa mereka berdua sadari
"Tu-tunggu dulu dong!" ucap Shinichi sambil menahan pergelangan tangan Shiho
"A, apa sih?" jawab Shiho lalu melepaskan tangganya dari pegangan Shinichi, serta terlihat sekilas pipinya memerah
"Nanti aku lihat, ya! Kamu kerjakan dulu, nanti aku kesini lagi, daah!"
"Eh! Enak saja, kamu! Tidak mau, masa aku yang kerjakan kamu enak-enakan tinggal nyalin?"
"Pelit! Cewek pelit!"
"Apa kau bilang?" ucap Shiho dan memasang tatapan membunuhnya
"A-aku..bilang cewek pe-pintar maksudnya! Ya sudah deh, kalau gitu kamu ajarkan aku saja. Nanti kamu kerumahku saja deh, sekalian bawa bukunya, ya. Paling telat 1 jam lagi. Sudah ya sepakat! JAA NE!" seru Shinichi dan langsung berlari keluar pintu rumah
Shiho's POV
"...JAA NE!"
"HeiiI! Aku kan belum-" aku tidak dapat meneruskan kata-kata karena dihadapanku sudah tidak ada orang lagi.
"haah.. Hakase, bagaimana in-" ucapanku terpotong lagi untuk kedua kalinya karena saat kulihat tak ada Hakase di sofa itu.
Apa-apaan ini.? Kenapa aku jadi ngomong sendiri, sih?
Terus memangnya aku harus kerumahnya nanti?
Tidak usah, deh. Bikin repot saja.
Tapi, kan kata nee-chan kita itu harus saling membantu orang lain.
Ta-tapi kalau dengan detektif itu mah buat apa? Lagian dia juga dari tadi pagi mengolok-olokku terus.
Tidak usah kan...?
Tapi coba fikir Shiho, kalau kau tidak kerumahnya, bisa-bisa dia malah kesini lagi nanti. Malah bikin repot lagi.
Dan bisa saja besok di sekolah kalau dia tidak buat PR dia malah menyalahkan aku, lagi!
Lebih baik gimana?
Tidak mau, ah. Lagian memang aku siapa? Ibunya? Yang setiap hari harus mengurusnya?
Lagipula kenapa tidak minta diajarin sama pacarnya sih? Kelihatannya pacarnya itu pintar, kok.
Tunggu...
Shiho kenapa kau jadi mikirin dia sampai sejauh ini?
Aneh!
Sudahlah..
"Sepertinya nanti aku harus kesana.. oh ya aku harus mandi dulu" ucapku
.
.
.
.
.
Shinichi's POV
Nanti Miyano beneran kesini tidak, sih? Kalau iya ya baguslah, kan aku jadi lebih mudah untuk mendekatinya. Semakin cepat semakin baik, aku juga tidak mau menyakiti hati Ran lebih dari ini.
Lagian kenapa aku mau taruhan sih, sama Heiji?
Ya iyalah, kalau kutolak aku bakal dibilang gak gentle sama Heiji
Ngomong-ngomong, dia lama banget sih datangnya!
Oh iya kenapa tidak kirim sms saja?
Bodoh, Shinichi. Kau kan tidak punya nomor handphonenya.
Sabar dulu.
Tapi, kenapa aku menanti-nanti sekali kedatangan Miyano?
Aneh.
Hmm.. Sekarang lihat.. supaya dia menambah kesan tertarik kepadaku, sebaiknya apa yang harus kulakukan? Bereskan rumah, sudah. Menyapu dan mengepel sudah.
Oh iya, kan aku belum mandi. Lebih baik aku mandi sekarang, deh. Paling dia datang 15 menitan lagi
"Permisi!"
Siapa itu? Suaranya tidak jelas. Ah, pasti Miyano! Dia cepat sekali datangnya. Jangan-jangan dia ingin cepat-cepat bertemu denganku?
"Permisi!"
Lagi-lagi suara itu tidak terdengar jelas. Tapi aku yakin pasti itu Miyano. Lebih baik kubukakan dulu, deh.
"Ya, sebentar!" kataku sambil berjalan menuju pintu depan
"Selamat datang Mi—"
...
Ucapanku terhenti sampai disitu setelah melihat apa yang ada di depanku.
X
X
X
X
X
To be continued
Jangan lupa RnR yah! Domoo! :D
