Hi, everyone!
Anne muncul lagi. Sorry ya kemarin nggak bisa update padahal pengen banget pas tanggal 1 September, back to Hogwarts! Tapi apa daya, Anne lagi nggak enak badan, perut Anne kram. Alhasil bisanya baru sekarang. Nggak apa, ya, telat sehari aja. Oke.. chapter ini rasanya agak panjang gitu, jadi.. ya semoga betah. Hehehe.. Kali ini anak-anak akan perkenalan, nih. Eits sebelum baca, Anne balas review deh!
nanda: semoga suka, ya :)
ninismsafitri: jawaban apakah Teddy tahu apa enggak ada di chapter ini, ya :)
AMAZING: waahhh kalau penasaran bisa langsung baca chapter ini! :)
Mrs. X: Yey siap.. aku bisa atur kemunculan bagian anak-anak atau yang ada di masa depan biar porsi pas. Tetep yang anak-anak jadi utamanya. Kalau bisa sih tiap hari. Aku usahain tiap hari. Tapi kan gk tahu juga apa ada kendala bagaimana atau gimana gitu. Stand by aja tengok-tengok ke sini kalau nggak pakai akun (mangkanya pakai akun dan follow Anne) hehehe atau follow akun sosmed Anne biar bisa tahu kapan updatenya :)
Alice keynes: horeee ayo deh langsung di baca! :)
BlaZe Velvet: lanjut belum tahu, ya. Mintanya pendek aja atau panjang? Hehehe *nantangin* :)
Oke, langsung aja!
Happy reading!
Makan malam harus rela kembali ditunda. Alasannya, asal-usul kehadiran kedelapan anak itu harus diketahui segera. Keanehan demi keanehan semakin memperkuat tujuan mereka mengajak anak-anak itu bicara dan menjelaskan semuanya secara jelas. Teddy, sebagai anak yang paling tua ia diminta untuk berbicara lebih dulu. Oleh Arthur, Teddy diminta duduk di kursi sampingnya.
Mata Teddy terus memperhatikan masing-masing wajah yang sangat ia kenal. Ia tahu semuanya berbeda dari sebelum ia sadar beberapa menit lalu. Dan apa yang bisa dipelajari Teddy adalah wajah mereka terlihat jauh lebih muda. "Aku—aku, kan, sudah jelaskan tadi, namaku Teddy. Aku tinggal dengan Nana. Tapi biasanya setiap akhir pekan aku akan tinggal di rumah Uncle Harry dan Auntie Ginny." Cerita Teddy sebagai pembuka pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Arthur.
"Benar sekali, setiap Jumat malam Teddy ke rumah dan baru kembali ke rumah Nana Andromeda di Senin pagi." James ikut menjawab di salah satu sofa tunggal besar yang ia duduki bersama Fred Jr. "Sayangnya, sampai minggu lalu, Daddy tak pernah mengijinkan Teddy tidur di kamarku."
"Karena kau nakal, makannya Teddy tak boleh tidur denganmu, Jamie. Kata Mummy, kau boleh tidur dengan Teddy kalau Daddy mau menghancurkan rumah. Alasan yang sama jika kita akan tidur dalam satu kamar."
Albus berani membalas sang kakak meski suaranya tidak begitu jelas. Rose sesekali memukul pahanya untuk meminta tutup mulut. "Sakit, Rosie." Protesnya.
"Daddy?" tanya Harry. Lily semakin lengket di dadanya, "siapa yang kalian maksud Daddy?"
Tiba-tiba Lily bergumam. "Dada!" kepalanya terus diusap-usapkan ke bagian dada Harry seolah mencari sesuatu. Harry memekik pelan saat mulut Lily bergerak-gerak di sekitar ketiaknya. "Geli. Kau kenapa, sih?" tanya Harry tak nyaman. Jejak air liur Lily tercetak di beberapa bagian tempat ia mengecap kau Harry.
"Lily pasti kelaparan, Daddy." Kata James memahami keinginan sang adik.
Masih syok mendengar pengakuan Rose tentang dirinya, Hermione ikut tak percaya dengan memberi pendapatnya tentang siapa Daddy yang dimaksud oleh James dan Albus tadi. "Sudah kuduga," katanya pelan, "tidak hanya aku ibu gadis kecil ini."
"Ma—maksudmu?" Ginny mendelik.
"Kalian tak dengar apa yang dikatakan anak-anak ini, hah?" Hermione berjalan mendekati bangku tempat anak-anak sedang didudukkan. Arthur dan Tonks—yang menggendong Hugo—memberi celah Hermione untuk memulai analisisnya. "Anak ini, beberapa detik lalu mengatakan ia tinggal dengan Nananya, tapi akhir pekan dia akan tinggal di rumah Uncle Harry dan Auntie Ginny." telunjuk Hermione ikut menunjuk wajah Harry dan Ginny secara bergantian.
"Namaku Teddy, Auntie Mione." Protes Teddy.
Arthur meremas tangan Teddy sebagai penganti perintah, diamlah, nak!
"Lalu bocah rambut hitam acak-acakan ini bilang kalau Teddy, ya, membenarkan tinggal di rumahnya selama akhir pekan dan DADDYnya, melarang untuk tidur dalam satu kamar. dengan sangat jelas sekali, mengingat anak ini dan bocah mata hijau yang duduk di sisi gadis-yang-mengaku-putriku, sangat mirip dengan Harry. Sudah sangat jelas jika mereka adalah—"
"Anak Harry!" Jerit Ron, "bloody hell, kau sudah punya anak, mate? Lalu si—siapa—"
"Tentu saja Ginny, bodoh! Kau tak lihat bayi yang digendong Harry?"
Semua pandangan berganti menyorot Lily. Bayi itu dengan tanpa dosa terus mengusap wajahnya mencari sesuatu yang ia butuhkan di badan Harry. "Kau pasti ingat wajah kecil Ginny, kan?" lanjut Hermione.
Ron murka, wajahnya merah padam tak percaya adiknya memiliki anak dengan sahabatnya yang baru lima belas tahun. "Beraninya kau Potter! Kau sudah diam-diam memainkan adikku bahkan tiga kali disaat beberapa bulan lalu kau bilang suka dengan Cho?!"
"Ron, apa maksudmu—aku—"
Brukk! Satu lemparan buku tebal dari Hermione mendarat di pelipis kanan Ron. "Mereka tidak tahu apa-apa, Ron. Begitu juga aku dengan anak perempuan itu yang bilang aku ibunya." Hermione mendesah sebal. Tindakan Ron selalu ceroboh dalam mengambil kesimpulan.
Sementara itu, Harry dan Ginny masing-masing terdiam menahan malu. Beberapa kali mereka tertangkap basah oleh Tonks saling berpandangan. "Mereka lucu sekali," batinnya sambil menahan geli.
"Georgie, kalau bocah-bocah itu mirip Harry dan Ginny karena mereka anaknya. Gadis cantik perempuan yang jelas mengaku Hermione ibunya, apakah bisa kita tebak siapa ayahnya?" Fred berbisik pelan.
Si kembar Weasley siap berulah. Keduanya, tanpa mempedulikan kecanggungan yang tercipta, Rose langsung digendong paksa oleh George. Oleh Fred, satu persatu pria segera ditarik dan disandingan wajahnya dengan si kecil Rose yang tetap diam.
"Banyak kemungkinan pria yang akan jadi suami Hermione, Fred. Hanya saja, tidak banyak pria yang memiliki rambut merah dan mata biru secantik ini."
"Oh, Uncle," Rose menggeliat pelan, perutnya tertekan karena tangan George terlalu kuat memeluknya, "lepaskan aku. Akan aku adukan kau ke Daddy biar toko kalian ditutup!"
"Hah?" seru George dan Fred bersamaan.
"DADDY! Kenapa kau diam saja, Uncle nakal!"
Bukan pada Harry, bukan pada Sirius, bukan pula pada Remus apalagi Mad Eye. Rose, berteriak kencang dengan suara terjepitnya pada pria yang kini bersandar ditembok sembari diam-diam mengambil makanan. Ron menjatuhkan kuenya. Sadar makan malam buatannya telah dimakan Ron, Molly sontak berdiri dan siap memaki putra bungsunya sambil menarik tangan George bersama Rose ikut mendekat. George berseru gembira ia menemukan ayah dari anak yang sedang ia gendong.
"Kau ayahnya, Ronald Weasley!" pekik Molly tanpa ragu, "dan seorang ayah harus yang baik. Bukan mencuri makanan di saat semuanya sibuk membahas jati diri anak-anak ini!"
"Tapi aku lapar, Mum!" Ron tak peduli.
"Cukup!"
Kini giliran Remus ikut ambil bagian. Ia mengambil posisi ditengah kerumunan bersama Sirius yang siap mendampinginya mencari perhatian. Mereka berdua masing-masing mendekati seorang anak yang menjadi daya tarik bagi mereka. Sirius mendekati Albus sedangkan Remus.. mendekati Teddy.
Dengan lembut Remus mengusap rambut ungu Teddy. Sedikit bergerak pelan ketika usapan itu turun kebagian leher belakangnya. Warna ungu itupun seketika berubah menjadi kecoklatan mirip seperti rambut Remus. Teddy tak berkedip memandang pria di hadapannya.
"Semuanya tolong diam. Anak-anak ini bisa ketakutan kalau kalian ribut sendiri." Ujar Remus langsung disambut anggukan mereka. Sejenak suara keributan mereda, hanya sesekali Harry dan Tonks terdengar mendesis untuk menenangkan bayi-bayi digendongannya.
Sirius mengangkat tubuh kecil Albus yang sendirian dan mengantikan kursi itu ia duduki. Albus berganti duduk di pangkuan Sirius. Terkesan lucu jika mengingat penampilan Sirius yang sangar dengan imutnya si kecil Albus dengan rambut hitam tebal acak-acakan serta kilauan manik hijau manis matanya. Berbanding terbalik.
"Mad Eye tadi sempat berbisik padaku kalau.. mereka ini, bisa saja datang dari masa depan."
"Masa depan?" Arthur mengusap-usap punggung Teddy pelan, "jadi, mereka benar cucu-cucuku?"
"Begitulah kalau benar silsilahnya." Mad Eye bergumam. "Tapi itu hanya pendapatku. Sekarang kita tanyakan saja pada mereka. Coba dengan anak yang di sisimu itu, tanyalah Remus!"
Mad Eye menunjuk Teddy. Kini giliran Teddy siap kembali berbicara.
"Ceritakan, nak. Tak perlu takut." Pinta Remus memberi kesempatan Teddy bicara baik-baik tanpa paksaan.
Helaan napas berat dari hidung Teddy terdengar miris. Terasa sekali jika anak lelaki itu begitu kelelahan. Sebagai seorang ibu, Molly paham jika anak itu butuh minum. Secangkir air putih diberikan Molly untuk Teddy tenggak barang sekali.
"Maafkan kami, tapi kami sendiri tak tahu mengapa bisa terjadi." Teddy meletakkan cangkirnya siap bercerita. "Kami sedang berada di Grimmauld Place karena akan ada pesta malam ini. para Uncle dan Auntie sedang mempersiapkan semuanya di lantai bawah, sementara aku dan anak-anak yang sudah datang dan tidak sibuk diminta istirahat di kamar yang ada di lantai tiga oleh Uncle Ron dan Auntie Ginny. Hugo alergi debu jadi kami harus menemaninya. Untuk sementara," Teddy sejenak diam, pandangannya tertuju pada Ginny, "Auntie Ginny sempat menemani kami di kamar ia menyusui Lily sambil menjaga Hugo yang tidur."
Ginny tersentak kaget dengan cerita Teddy tentang dirinya di masa depan. "Menyusui? Merlin!" jantungnya berdetak lebih cepat.
"Tapi, tiba-tiba.. James menemukan kantung berisi bubuk biru yang wangi sekali—"
"Seperti bau buah-buahan yang manis sekali." Potong James cepat.
Fred Jr mengangguk setuju, "dan sedikit berkilau jika terkena cahaya." Sambungnya.
"Diam James, Fred!" tegur Teddy tak suka bicaranya dipotong.
Fred di sisi George—yang menggendong Rose, tercengang. "Aku dari tadi diam kok."
"Jadi kau benar Uncle Fred?" ucapan Teddy mulai teralihkan.
Sirius mendesis gusar. Lagi-lagi harus terpecah karena nama. "Oh, tolonglah diam sebentar. Kalau dia menyebut nama apapun diam dulu. Biaran dia memanggil Fred-lah, James-lah—astaga, James? Siapa James?"
"Aku James," James dengan bangga mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. Fred Jr memberinya tepukan penyemangat tak kalah girangnya.
"James? Merlin! Hey, Remus, lihatlah bukan hanya namanya, tapi anak ini mirip sekali dengan Prongs!" kata Sirius sambil terbahak memeluk tubuh Albus. Anak itu mulai mengantuk dan bersandar nyaman di dada Sirius siap memejamkan mata. Semua orang berteriak marah akibat Sirius mulai ikut tak fokus. Banyak dari mereka protes untu memberi kesempatan bagi Teddy bercerita kembali.
"Bubuk itu keluar sedikit. Auntie Ginny marah karena ruangan jadi kotor dan Hugo bisa sesak. Terus Auntie Ginny merampas kantung itu dan menggantungnya di dinding. Saat Auntie Ginny keluar untuk mengambil sapu, aku tak melihat Lily tiba-tiba berdiri lalu Lily menarik kantung itu dari gantungan sampai—boom! Bubuk itu terburai semua dan.. mereka tidur. Begitu juga aku. Maafkanaku tak bisa "
Mendengar cerita Teddy, Arthur dapat menarik kesimpulan akhir, "lalu kalian menghilang setelah kantong bubuk itu terbuka?"
Teddy membenarkan cepat, "lebih tepatnya menghirup baunya."
"Ow, tak apa, dear," Molly cepat-cepat memeluk Teddy yang siap menangis, "maafkan aku, aku tak bisa menjaga Lily sampai semuanya terjadi. Ini semua salahku." Isak Teddy semakin kencang. Ia benar-benar merasa bahwa kedatangan mereka adalah kesalahannya. "Kalau begitu, kita akan mencari cara agar kalian bisa kembali segera."
"Tapi, Mum, kita tak tahu mereka siapa saja, bukan?" tanya Ron.
"Benar," kali ini Molly mengembalikan lagi pada Teddy untuk memperkenalkan diri.
Teddy tersenyum senang ketika Remus menanyakan tentang dirinya lebih dulu. "Aku—"
"Aku Louis Weasley." Potong Louis cepat begitu percaya memperkenalkan dirinya lebih dulu. Ia tak sengaja mendorong tubuh Kingsley demi menunjukkan tubuhnya yang kurus namun cukup jangkung diusia hampir tujuh tahun.
"Weasley?" seru George dan Fred bangga. "Ada generasi rambut baru Wealsey." Ya, mereka senang melihat Weasley memiliki keturunan cukup tampan dengan rambut kepirangan. Bukan merah menyala.
"Siapa orang tuamu?" tanya Remus.
"Bill dan Fleur. Aku anak ketiga. Aku punya dua kakak perempuan." Jelas Louis.
Bisik-bisik mulai terdengar mengingat Molly tidak begitu suka dengan Fleur. Ia ingin protes pada Arthur namun ditahan untuk tidak berbicara. Teddy kembali siap memperkenalkan diri namun seseorang memotongnya.
"Aku Fred Weasley!"
Fred Jr melompat cepat dari atas kursi sambil berkacak pinggang. "Aku anak pertama, aku punya satu adik perempuan yang menyebalkan mirip Mum, Angie, begitu Daddy memanggilnya. Daddyku adalah—" Fred Jr kebingungan ketika melihat George dan Fred berdiri berdampingan.
"Siapa yang George?" tanya Fred Jr pada keduanya.
George—yang masih menggendong Rose—mengedip usil pada Fred. Mereka seolah sudah paham dengan isyarat itu lantas Fred berseru, "aku, nak. Aku George. Ada apa?" Fred berbohong.
"Nah, kau ayahku." Fred Jr bergegas memeluk Fred yang ia sangka sebagai George, ayahnya.
Tidak mendapat pengakuan, George yang asli marah. Ia menurunkan Rose kasar langsung berteriak pada kedua Fred yang saling berpelukan. "Aku yang George. Dia Fred. Jadi aku ayahmu." Bentak George marah. Rose sudah berlari menuju pelukan Hermione.
"Hah? Jadi—"
"Ya, nak. Aku Fred. Jenggot Merlin, kau anak George? Lalu, siapa anakku, nak? Namamu mirip denganku. Kita sama-sama Fred!"
Fred Jr tak bisa menjawab. Apa yang telah ia ketahui tentang kembaran ayahnya sudah jauh pahami saat ia masih balita dulu. Tentang perang besar masa lalu yang merenggut nyawa paman yang kini namanya ia sandang seumur hidup.
"Kenapa kau malah menatapku, nak? Katakan siapa anakku?" pinta Fred luar biasa penasaran.
James ikut tak tega melihat ekspresi wajah sepupunya yang tiba-tiba bersedih, "karena kau tak punya anak, Uncle.. Fred," ujar James.
"Hah? Aku tak punya anak? Kenapa? Aku belum menikah—"
"Kau meninggal, Uncle."
Fred Jr mengatakannya sambil memeluk pinggang Fred erat. Kenyataan masa depannya diucapkan dengan jelas oleh sang keponakan. Sejenak, semua orang tak percaya. Teddy meminta Fred Jr agar tak menangis dan membuat semua orang menangisi masa depan. "Cukup, Fred. Jangan menangis. kau seharusnya tak mengatakan itu. Kau tak boleh mengatakan apa yang sedang terjadi di masa—"
"Tak apa," Fred tersenyum bahkan tertawa sembari mengusap kepala Fred Jr, "itu sudah terjadi, kan. Yang penting, kau kini punya kesempatan untuk melihatku. Kau bisa melihat sendiri bahwa aku jauh lebih tampan dari ayahmu. Bukan begitu, kan, Georgie?"
Setitik air mata meluncur jatuh di pipi George. "Ya, kau bisa mengenal kami semua." George mengangguk. Berusaha tegar.
"Baiklah, kalian boleh tak menceritakan lebih jauh. Kami paham, nak. Hanya saja, kami masih butuh identitas kalian." Kingsley bersikap lebih bijaksana lantas meminta anak lain memperkenalkan diri.
Kali ini giliran James. Ia berdiri dengan percaya diri dan menunjukkan senyumannya yang paling tampan. "Aku James, lebih lengkapnya James Sirius Potter, aku—"
"Sirius? Kau serius?" pekik Sirius syok namanya disebut.
"Aku James, kau yang Sirius. Bagaimana bisa kau tak mengenal namamu sendiri? Aku tahu kau Sirius, kan? Aku ingat fotomu yang pernah ditunjukkan Daddy."
Selain nama Sirius, Potter ikut disebut. Harry berusaha melihat sosok tampan James yang memang memiliki kemiripan dengan dirinya. Dari rambut hingga bentuk wajah. "Dia putraku." Sebuah kebahagiaan tercipta jauh di dalam lubuh hati Harry.
"Kata Daddy, namaku diambil dari nama Granddad Daddy yaitu James, dan ayah baptis Daddy, yang tentu saja, kau, Granddad Sirius!" James memekik bahagia.
"Wow, cucuku!" Seru Sirius memeluk tubuh James, "thanks Harry!"
Harry hanya bisa mengangguk dan tersenyum bangga.
"Lalu, anak laki-laki yang sedang tidur nyeyang di pangkuanku ini apakah saudaramu?" tanya Sirius menunjukkan Albus yang tertidur pulas bersandar di dada Sirius. "Dia sangat mirip dengan Harry."
James tersenyum, "tentu, dia Albie, maksudku Albus. Albus Severus Potter—"
Remus dan Harry saling beradu pandang mendengar nama itu disebut James. Harry yang tak tahu menahu tentang nama-nama itu hanya bisa menggeleng dan ketakutan. "Untung saja Snivellus sudah kembali," bisik Remus lega.
"Kata Daddy, nama Albie diambil dari nama-nama pria pemberani yang Daddy kenal, Granddad. Begitu juga dengan yang sedang digendong Daddy itu juga adikku. Bulan depan ia ulang tahun yang pertama. Namanya Lily Luna Potter."
"Luna?" ulang Ginny. "Jadi istri Harry itu Luna?" sesuatu yang tidak diinginkan Ginny.
James sontak berbalik cepat mengklarifikasi. "Bukan, Mummy. Kau istri Daddy. Auntie Luna hanya teman kalian. Dia baik sekali, sering memberiku dan yang lainnya mainan. "
Harry memperhatikan wajah Lily digendongannya. Bayi itu masih merengeng mencari sesuatu di tubuh Harry. mengecap-ngecapnya dengan mulut sampai dada Harry basah karena liur. Lama-lama Harry sendiri tak tahan lantas meminta bantuan Molly. "Mrs. Weasley, aku rasa Lily lapar." Ujar Harry. Ginny ikut panik melihatnya.
"Ow, kemari sayang. Tapi—" Lily sudah berganti di gendongan Molly, "oh, James, dear, biasanya Lily makan apa?"
James hanya menepuk kedua dadanya dengan telapak tangannya sambil berkata, "dengan Mummy," masih menepuk dadanya.
"Ah, dia masih minum ASI. Kalau begitu susuilah, Gin," pinta Ron tanpa dosa.
"Bodoh! Mana mungkin aku bisa!" bentak Ginny malu-malu. Tak terasa tangannya bergerak naik memegang payudaranya. Ia meringis.
Molly lantas mengajak Lily berjalan menuju dapur sambil berteriak meminta Ginny memabantunya. "Selain minum ASI, apakah Lily sudah diberi makan yang lain, James? Usia 11 bulan biasanya sudah dikenalkan makanan lain."
"Kadang Lily diberikan bubur berbau gurih yang ada brokolinya. Lily suka sekali dengan itu. Kata Mummy aku dan Albie dulu juga diberi bubur seperti itu juga saat bayi. Mummy belajar dari Grandma." Kata James mengingat-ingat apa yang biasa ada di mangkuk kecil berwarna merah jambu tempat makan Lily.
"Ah," Molly memekik keras mengingat sesuatu, "aku tahu. Bubur krim kentang ayam brokoli, ternyata bubur itu disukai cucuku juga. Ayo, Ginny! Aku ajarkan membuatnya mulai sekarang agar nanti kau bisa pandai membuatnya untuk anak-anakmu!"
Dan dengan rasa canggung, Ginny menurut.
Di sisi lain, Hermione mengingat gadis yang kini ia gendong. Anak yang mengaku putrinya belum menjelaskan tentang dirinya. "Kau cukup besar untuk bisa menceritakan dirimu, kan?" tanya Hermione pada Rose.
"Aku Rose Granger-Weasley. Dan itu adikku, Hugo Granger-Weasley." Kata Rose sambil menunjuk Hugo di gendongan Tonks.
Hermione menelan ludahnya tak percaya. Anak yang kini ia peluk adalah buah cintanya di masa depan. Apapun itu, Hermione tak bisa memungkirinya. "Dan aku Mummymu lalu.. Ron—"
Rose tersenyum manja, "Daddy!" teriaknya bangga memanggil Ron.
"Oh, bloody hell!" Ron mendesah. "Aku seorang ayah?"
"Nah," Remus kembali bersuara di dekat Teddy, "tinggal kau, seingatku kau sudah memperkenalkan diri tapi.. aku agak tak yakin dengan pendengaranku tadi. Bisa kau katakan kau siapa? Orang tuamu—"
"Dad!" Hanya itu yang diucap Teddy pada Remus.
Sedangkan Remus, hanya diam dengan keadaan mulut terbuka. Pelan-pelan Remus mengusap rambut Teddy yang kembali berubah ungu. "Rambutmu—"
"Sama seperti Mum, Dad. Rambut kami sama." Mata Teddy mulai berkaca-kaca. Seketika itu pula pandangan beralih pada Tonks. Hanya dia yang memiliki kemampuan yang sama dengan yang dimiliki Teddy.
Teddy menggenggam tangan Remus pelan, menciumnya. "Edward Remus Lupin. Tapi kalian lebih memilih aku dipanggil Teddy. Aku—aku merindukan kalian!"
Tanpa sadar, Remus tengah memeluk tubuh kecil Teddy dalam pelukannya. Tonks ikut mendeka dan mengamati wajah Teddy di balik tubuh Remus. Anak itu menangis. "Mum," panggil Teddy pelan.
"Kenapa kau menangis? Kau merindukan ka-kami?" tanya Tonks.
"Akhirnya aku bisa bertemu kalian," bisik Teddy ia tak bisa melanjutkan alasannya lebih jauh. Ia takut mengulang sesuatu yang membuat semuanya berbalut duka seperti saat Fred Jr menjelaskan tentang masa depan Fred yang telah tiada.
Remus memandang Tonks dengan senyuman hangat. hanya saja mereka terlalu canggung untuk saling berbicara kali ini. "Maafkan aku, aku—"
"Tak apa," Remus memotong cepat. Ia tahu Teddy berusaha keras menyembunyikan sesuatu untuk tidak dibicarakan, "bukankah tadi sudah dikatakan, kami tak akan memaksa kau berbicara terlalu jauh. Kami paham."
"Thanks," balas Teddy singkat.
Remus sejenak lega meski ada rasa mengganjal sebab Teddy tak menjelaskan tentang bagaimana dirinya di masa depan. hanya saja sesuatu yang membuatnya takut tiba-tiba teringat. "Rambutmu itu. Kemampuanmu menurun dari Tonks, ibumu, lalu—apakah kau—aku, maksudku, apakah kau seorang—"
"Tidak. Aku normal. Aku bahkan senang dengan bulan purnama, Dad!"
Semua ikut terhanyut melihat kedekatan Remus dan Teddy. Sirius sendiri melihat betapa tulus dan lembutnya hati Remus ketika Teddy berada di pelukannya. "Kau putraku.. kau putraku—" Remus terus bergumam lirih meluapkan kebahagiaannya. Begitu pula untuk kebahagiaan Teddy. Sebuah kebahagiaan yang tak pernah akan didapatnya di masa mendatang.
TBC
#
Ahhh masih awal dan masih banyak konflik yang akan muncul. Btw soal chapter, maunya berapa chapter nih? Panjang atau pendek aja? Hayoo jawab di review, ya! Anne tunggu loh review kalian. Sorry kalau masih ada typo! Sampai jumpa, ya!
Thanks,
Anne xoxo
