[ Series 3 ] – Way Back Into Love
Suggest Song; A Rocket To The Moon – Like We Used To
( I might suggestions to u, listen to the song while reading. )
(( requested by; SilverPearl03 ))
Kim Jongin – Oh Sehun
KaiHun
girl!Sehun
Romance, School Life
Warn; Genderswitch, alternative-universe, genderswitch, bahasa informal&semi-formal, out of character, typo(s)
.
Happy Reading
.
.
.
Menjalin hubungan selama sepuluh bulan dengan gadis pencinta dunia fiksi adalah sebuah pencapaian terbesar seorang Kim Jongin dalam hidupnya. Dan hubungan yang sudah susah payah ia bina bersama gadis bernama Sehun itu harus kandas dengan mudahnya akibat sebuah kesalahpahaman biasa.
Move on.
Sepasang kata yang menjadi suatu hal tersialan bagi Kim Jongin saat ini. Dulu, Jongin tidak pernah berempati kepada teman-temannya yang tidak bisa Move On. Jongin selalu mengatakan, "Apa susahnya Move On? Lo tinggal cari yang lain, Bro. Masih banyak yang lebih baik dari dia diluar sana," dan teman-temannya pun rata-rata membalas dengan kalimat yang sama, "Lo sih gampang tinggal ngomong aja karena lo gak ngerasain,"
Dan sekarang Jongin tengah merasakaannya. Merasakan betapa sulitnya menjalankan kata yang berbunyi Move On itu. Merasakan kegundahan yang sempat melanda teman-temannya.
Empat bulan sudah setelah hari dimana ia memutuskan Sehun, Jongin nyaris seperti orang tidak waras karena terluntang-lantung dengan perasaan yang masih tersisa sangat banyak di lubuk hati paling dalam pada gadis berkulit putih pucat itu.
Karma. Ya, Jongin tahu sedikit banyak ini pasti karma untuknya karena selalu menyepelekan apa itu Move On.
Chanyeol, sahabat karib Jongin, menatap Jongin yang kini tengah memainkan gitar nya tanpa minat diatas meja. Menghela nafas sebentar, lalu Chanyeol membuka suaranya.
"Jongin, lo mau sampai kapan begini terus?"
"Sampai hati gue mau berhenti lah. Pakai nanya segala lagi," Chanyeol mengacak rambut nya frustasi. Jongin itu sudah bodoh, sekarang semakin terlihat bodoh hanya karena belum bisa move on dari Sehun.
"Jongin, segitu sayangnya lo sama Sehun?" Tanya Chanyeol memastikan dengan alis tertautkan. Pasalnya, selama Chanyeol mengenal Jongin sejak mereka di bangku taman kanak-kanak, Jongin tidak pernah sampai jatuh selarut ini dalam kesedihan putus cinta.
Jongin hanya melirik Chanyeol malas sekilas dengan tatapan yang seakan berkata lo-udah-tau-kenapa-masih-nanya-idiot.
"Yaudah kalau emang masih sayang, kenapa gak balikan aja?" Saran Chanyeol sebelum melanjutkan kata-katanya, "Shipper lo sama Sehun juga kayak nya pada sedih banget gak bisa liat ciuman live streaming antara Peterpan sama Tinkerbell di koridor lagi gara-gara lo putus sama Sehun,"
"Maunya sih gitu," Tanggap Jongin singkat, jujur dari hatinya yang paling dalam.
"Terus, kenapa gak langsung tembak lagi aja?" Chanyeol menatap Jongin bingung. Jongin tersenyum kecut sebelum akhirnya berkata, "Masalahnya, Sehun udah deket sama yang lain."
"Terus, kalo Sehun udah deket sama yang lain, lo mau nyerah aja gitu?" Chanyeol memanas-manasi Jongin karena gemas dengan sahabatnya yang terlalu bertele-tele itu.
"Ya gimana, dong? Kayaknya emang udah saling gak cocok," Suara Jongin terdengar parau ditelinga nya sendiri. Chanyeol membisu di tempatnya duduk, "Kalau gitu, lo harus relain dia sama yang lain. Lo gak bisa kayak gini terus-terusan, yang ada lo gila nanti. Gue gak mau punya temen gak waras," Chanyeol melayangkan tatapan iba pada Jongin dan memberikan tepukan di bahu tegap milik Jongin yang terbalut seragam sekolah kusut.
"Gue mau move on dari Sehun," tatapan Chanyeol pada Jongin langsung berubah berbinar dengan cengiran sumrigah begitu Jongin mengeluarkan kata-kata sakral itu.
"Serius? Gue suruh nyokap gue bikin nasi tumpeng sekarang juga nih," Girang Chanyeol tak karuan. Jongin kembali melirik malas Chanyeol yang terkadang bisa sangat berlebihan dalam pengungkapan ekspresi itu.
"Iya, tapi nanti. Kalau otak gue udah siap dipaksa buat mikirin orang lain,"
Plak.
"Sialan lo, gak usah ngomong!" Chanyeol bersungut-sungut pada Jongin yang terlihat biasa-biasa saja setelah ia memukul kepala belakang lelaki berkulit tan itu.
"Yaudah gue cabut dulu ya," Jongin bangkit dari atas meja yang ia duduki. Chanyeol menghela nafas nya sekali lagi ketika melihat cara berjalan Jongin yang terkesan seperti tanpa tujuan hidup itu.
"Jangan bunuh diri ya lo!" Seru Chanyeol iseng dan dibalas dengan dengusan tertahan milik Jongin.
.
Jongin melangkahkan kedua pasang kakinya tanpa tujuan yang jelas. Sebenarnya, Move On bukanlah hal sulit bagi Jongin kalau ia berniat. Ia bisa mandapatkan Krystal si gadis blasteran Amerika yang juga tergila-gila padanya. Atau Sulli, si gadis imut dengan tinggi diatas rata-rata yang mempunyai kulit sama pucatnya seperti Sehun. Atau mungkin juga, Jongin bisa mandapatkan Nana, sunbae nya yang nampak seperti Barbie hidup. Tapi sayangnya, Jongin tidak pernah benar-benar berniat untuk Move On dari Sehun.
Dan itu masalahnya.
Jongin bimbang apakah hatinya benar-benar masih mengharapkan Sehun untuk kembali dimiliki atau hanya bentuk dari penyesalan belaka karena keputusannya melepas Sehun malah membuat hubungan Sehun dengan Luhan semakin dekat?
Jongin tahu semua ini memang salahnya. Salahnya karena sudah menuduh Sehun yang tidak-tidak dengan seenaknya. Harusnya Jongin ingat bahwa Sehun tidak bisa diajak bicara seketus itu sama sekali. Harus nya Jongin tidak gegabah saat itu.
( Flashback, four months ago )
"Sehun," Jongin memanggil Sehun pelan lebih mirip seperti geraman tepatnya.
"Iya?" Sehun menatap Jongin polos. Polos sekali sampai Jongin jadi tidak tega untuk menanyakan hal yang sudah ingin ia tanyakan sejak lama.
"Kamu, punya hubungan apa dengan Luhan?" Jongin membuang pandangannya ke sembarang arah, menghindari tatapan mata Sehun walau sebenarnya ia ingin.
"Maksud kamu bicara seperti gitu?" Sehun masih setia menatap wajah Jongin dengan pandangan yang mulai berkaca-kaca.
"Jangan bercanda, Sehun. Aku serius bertanya padamu," Sehun bergidik ngeri mendengar suara Jongin yang seakan memojokkan nya.
"A-aku tidak punya hubungan apapun dengan Lu-luhan. Aku hanya berteman dengannya. A-apa itu salah?" Suara Sehun mulai bergetar.
Jongin mendengus meremehkan, kemudian melirik sinis Sehun dengan ekor matanya. Apa Sehun tidak mengerti bahwa aku cemburu? Jongin membatinkan pertanyaan yang terus berkelebatan di otaknya entah sejak kapan.
"Kamu fikir aku percaya? Enggak sama sekali, Sehun." Setitik air mata Sehun jatuh membasahi kedua pipi tirus nya ketika perkataan Jongin mengalun lancar dari bibir sintal kekasih nya itu.
"J-jongin—"
"Sehun, aku tahu kemarin kamu pulang diantar oleh Luhan. Karena itu, kamu sengaja menolak ajakan aku untuk pulang bersama kemarin, kan?" Jongin menatap Sehun yang tengah berusaha keras menyembunyikan tangisnya dengan tatapan kecewa. Sejujurnya, Jongin tidak tega jika harus melihat wajah Sehun dibasahi oleh linangan air mata, tetapi Jongin tidak bisa terus-menerus mengalah dengan Sehun. Jongin ingin Sehun memperdulikan perasaannya, memperdulikan pengorbanannya selama ini. Biarkan Jongin untuk egois kali ini.
Sehun menggenggam tangan besar Jongin, "B-bukan begitu m-maksudku—hiks. Ke-kemarin aku—"
"Cukup, Sehun. Aku tidak bisa mendengarkan penjelasanmu lagi. Karena pada akhirnya aku akan kalah dan kembali jatuh padamu lagi dan lagi." Jongin melepaskan genggaman Sehun pada telapak tangannya perlahan-lahan.
"Sehun, kepercayaan itu ibarat selembar kertas. Jika sudah sekali dilipat, maka tidak akan pernah bisa kembali sempurna tanpa lipatan seperti sedia kala," Isakkan Sehun semakin menjadi-jadi ketika ucapan Jongin terasa menusuk kedalam relung hatinya.
"Jongin—hiks," Sehun menatap Jongin dengan pandangan memohon. Sehun tahu apa yang akan Jongin katakan setelah ini. Sehun belum siap akan hal itu. Sehun tahu ia sudah banyak mengecewakan Jongin. Jongin seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya Jongin mendengarkan penjelasannya dulu, tetapi terlambat Jongin sudah menutup rapat-rapat kesempatan Sehun untuk mengutarakan kejelasan yang sebenarnya.
"Sehun," Sehun menggenggam erat lengan Jongin. Tidak perduli kuku-kuku cantiknya akan melukai Jongin. Sehun malah berharap tajam kuku-kuku nya dapat mencegah Jongin mengatakan hal yang paling tidak ingin Sehun dengar seumur hidupnya.
"Aku rasa, ini sudah waktunya. Aku—" Sehun menggelengkan kepalanya kuat-kuat ketika Jongin mengambil jeda dengan mulai menarik nafas dalam dan menghembuskan nya berat. Sehun mencoba mengunci tatapan sayu Jongin dengan pandangan yang seolah-olah berkata; tidak-jangan-lakukan-itu-jongin-jangan-aku-tidak-siap-untuk-itu-ku-mohon.
"Aku fikir, kita sudah tidak cocok. Daya tarik magnet aku, sudah tidak bisa lagi menarikmu untuk terus berada dalam medan magnetku. Sebaiknya, kita—" Sehun menahan nafas nya selagi menunggu Jongin melanjutkan kata-kata nya. Jongin menatap Sehun dalam. Sehun benci jika Jongin memberikan tatapan sayu yang lemah seperti itu padanya, Sehun merasa secara tidak langsung dia sudah membuat Jongin kehilangan binar dalam kedua bola matanya.
"Sebaiknya kita hentikan saja semuanya sampai disini. Karena aku tahu aku tidak bisa selembut Luhan ataupun setampan dia. Aku tahu aku tidak pantas untukmu, aku harap kamu bahagia setelah ini dengan dia," Jongin mulai bangkit dari duduknya, beranjak meninggalkan Sehun yang tengah menangis sejadi-jadi nya saat ini.
Ingin rasanya Jongin membalikkan badannya dan memeluk Sehun saat ini juga, tapi Jongin tidak bisa. Jongin tidak akan pernah mampu menerima kenyataan bahwa Sehun menangis seperti itu akibat dirinya. Katakan Jongin brengsek, tetapi biarkan Jongin egois untuk kali ini.
Grep.
"Jongin jangan pergi," Jongin membeku ditempat nya ketika Sehun memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Jongin diam, tidak membalas dan tidak juga menolak. Jongin membiarkan Sehun menangis dipunggung lebarnya. Membiarkan dirinya berdekatan dengan Sehun sedikit lebih lama lagi. Cukup lama kedua sejoli itu terjebak dalam posisi seperti itu, sampai akhirnya Jongin menyerah. Jongin melepaskan tangan Sehun yang melingkat di pinggangnya dan berbalik menghadap gadis bersurai madu itu.
"Sehun, jangan menangis," Tangan Jongin terangkat untuk menangkup kedua pipi Sehun yang basah akibat derasnya air mata dan menghapusnya.
"Jangan menangis kumohon," Jongin membawa Sehun untuk menatap kedua bola mata nya. Bukannya malah diam, justru tangis Sehun semakin deras. Tidak tega, akhirnya Jongin menarik Sehun kedalam pelukannya. Menyandarkan kepala gadis nya itu kepada dada bidang nya.
Setelah dirasa Sehun sudah sedikit lebih tenang, Jongin melepaskan pelukannya. Sebersit rasa tidak rela menyelimuti relung hati Sehun.
"Sehun, kamu harus janji sama aku kalau kamu akan selalu bahagia setelah ini. Ada atau tanpa aku," Jongin menatap Sehun dalam-dalam. Mencoba untuk membuat Sehun mengerti.
"Aku tidak mau," Sehun memasang ekspresi wajah sedatar mungkin.
"Kamu harus mau. Kamu harus kembali seperti dulu. Sehun yang ceria, Sehun yang ramah, Sehun yang heboh, Sehun yang selalu tersenyum, dan Sehun yang belum mengenal siapa Jongin."
"Mana bisa seperti itu. Kau bodoh atau bagaimana? Kubilang tidak mau ya tidak mau," Sehun menatap Jongin tajam dengan pandangan yang dapat Jongin artikan sebagai ketidak relaan.
"Terserah. Tapi kamu tidak boleh menangisi hal ini lagi. Kamu harus bahagia Sehun. Aku ingin kamu bahagia, tapi aku tidak bisa membuatmu bahagia. Mungkin Luhan bisa memberikan apa yang tidak bisa kuberikan padamu nanti,"
"Jongin! Aku sudah bilang kalau aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Luhan!" Sehun menatap Jongin dengan kilatan marah di kedua mata beningnya yang kembali berkaca-kaca.
"Tapi tindakan Luhan yang begitu perhatian padamu melebihi aku dan melihat reaksi kamu yang tidak menolak, aku jadi percaya kalau diantara kalian ada apa-apanya." Sehun benci melihat Jongin menatap nya dengan pandangan kalah seperti itu.
"Bukan begitu! Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi! Sebenarnya aku—" Sehun menghentikan ucapannya secara tiba-tiba.
Jongin mengernyitkan dahinya melihat Sehun yang menggigit bibir bawahnya gusar dan terlihat ragu untuk melanjutkan kata-katanya, "Sebenarnya kamu?" Jongin menegaskan ulang kalimat Sehun yang terpotong.
"Sebenarnya aku—maaf Jongin tapi aku tidak bisa memberitahumu," Sehun memalingkan wajahnya dari pandangan Jongin. Sehun benar-benar tidak bisa memberi tahu Jongin, dan lagipula percuma, semuanya sudah terlambat.
"Sudah kuduga, dan aku tidak akan memaksa. Kalau begitu, kamu harus mau untuk mengikuti apa yang aku katakan tadi,"
"Kalau itu memang mau mu," Sehun melirik Jongin sebentar, lalu melanjutkan, "Aku akan melakukannya, walaupun aku sendiri tidak yakin."
"Kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku pulang dulu. Sampai jumpa, Jongin." Sehun bangkit dari duduknya untuk pergi dari hadapan Jongin secepatnya takut-takut air matanya akan kembali turun dan semakin membuat dirinya terkesan lemah dimata Jongin atau semakin membuat Jongin merasa kasihan padanya. Sehun tidak ingin dikasihani oleh siapapun termasuk Jongin.
"Sehun, tunggu!"
Grep.
Sehun membelalakan matanya ketika Jongin menarik lengan nya dan kembali menariknya kedalam sebuah pelukan hangat yang begitu Sehun suka. "Jangan pernah membenciku atau menjauh dariku," Jongin menyesap aroma tubuh Sehun melalui leher jenjang gadis yang sudah menempati kerajaan hatinya selama sepuluh bulan itu.
"Aku tidak akan membencimu," Sehun mengalungkan kedua lengannya dileher Jongin. Menumpukan kepala nya diatas bahu tegap Jongin.
"Kamu jangan terlalu sering pulang larut, ingat waktu makanmu, kerjakan tugas yang diberikan oleh songsaemnim dengan benar, jangan sering membolos lagi, jangan balapan lagi. Dan, janganpernahmelupakanku." Sehun sengaja tidak memberi jeda pada kalimat terakhirnya. Sehun tidak yakin apa Jongin mendengarnya atau tidak sampai Jongin berkata, "Aku tidak akan pernah melupakanmu, Tink."
Dengan ucapan Jongin, Sehun mengeratkan pelukannya pada Jongin yang mungkin akan menjadi kali terakhirnya ia bisa mendekap Jongin seerat ini. Bukan tidak mungkin minggu depan Jongin sudah bersama gadis lain, kan?
"Kajja, aku antar kamu pulang!" Ucap Jongin setelah mereka berdua saling melepaskan pelukan satu sama lain. Tetapi dengan cepat Sehun menolaknya, "Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kamu hati-hati ya. Jangan kebut-kebutan dan ingat, harus langsung pulang. Sampai jumpa lagi , Jongin!"
Jongin terdiam di tempatnya menatap tubuh Sehun yang perlahan menjauh dari hadapannya. Dadanya terasa sesak menyaksikan tubuh ringkih yang baru saja ia peluk menghilang perlahan ditelan gelap malam kota Seoul. Jongin sudah tahu bahwa ia akan menyesal, menyesal karena telah melepaskan sang Tinkerbell untuk pergi bersama Terence nya.
( Flashback four months ago, end )
Jongin menghela nafasnya pelan. Ia masih ingat betul bagaimana raut wajah Sehun pada malam ketika gadis berbibir tipis itu beranjak meninggalkan dirinya di taman favorite mereka.
Jongin membiarkan kakinya melangkah tanpa arah yang jelas di sepanjang lorong koridor yang menghubungkan kelas nya dengan kantin.
Ketika Jongin baru saja berbalik disalah satu tikungan tiga arah—maksudnya pertigaan Koridor,red— ia harus dipaksa menyaksikan pemandangan yang tersuguh di hadapan mata kepalanya.
Jongin mematung ditempatnya berdiri. Menyaksikan Sehun yang tengah tertawa lepas bersama Luhan disampingnya dalam diam. Jongin menatap nanar Sehun yang benar-benar melaksanakan keinginan Jongin empat bulan yang lalu. Jongin tersenyum pedih ketika keadaan memaksanya untuk menerima kenyataan bahwa Sehun sudah menemukan penggantinya. Hati Jongin menjerit tidak rela. Jongin tidak akan pernah rela.
"Maka dari itu, aku juga bingung!"
"Oppa saja bingung, bagaimana dengan aku?" Sehun masih sibuk mengendalikan tertawanya atas lulucon yang diceritakan oleh Luhan.
"Sepulang sekolah nanti, Sehun mau menemani Oppa ke toko buku tidak?"
"Memangnya Oppa ingin membeli apa?" Sehun menoleh kearah Luhan.
"Aku ingin membeli hadiah untuk Minseok Hyung. Bagaimana? Aku akan mentraktirmu bubble tea nanti sebagai imbalannya,"
"Benarkah? Aku mau!" Seru Sehun di iringi dengan ekspresi seorang anak kecil yang begitu menggemaskan.
Dan perasaan tidak rela itu semakin menjadi-jadi ketika Luhan mengacak surai Sehun. Jongin bersumpah tidak ada satu orangpun yang boleh melakukan itu pada Sehun. Tidak boleh.
"Benarkah? Terimakasih, Sehunna!"
"Tidak apa-apa. Itu gunanya teman, bukan?" Sehun memamerkan senyum manis nya pada Luhan.
Muak dengan pemandangan yang tersaji, Jongin melanjutkan langkahnya yang terhenti, melewati Sehun dan Luhan yang masih asyik dengan dunia mereka.
"Annyeong, Jongin!" Seru Sehun girang begitu Jongin melintas didepannya. Jongin hanya menatap Sehun sekilas dengan pandangan dingin yang menusuk dan sukses membuat senyum manis Sehun lenyap dari wajah mulus nya. Tak memperdulikan ekspresi wajah Sehun yang sudah hampir menangis akibat tatapan menusuknya, Jongin kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Sehun dengan Luhan yang sudah siap menghajar Jongin dengan kepalan tangannya yang terjulur indah kebawah disisi tubuhnya.
Jongin sudah menemukan jawabannya. Ia sudah tahu apa yang ia mau saat ini. Ya, dia ingin Sehun. Dia hanya ingin Sehun. Dia ingin memiliki Sehun seutuhnya lagi. Kali ini, Jongin tidak akan membiarkan Luhan menang atas dirinya. Jongin akan merebut Sehun kembali. Merebut Sehun-nya dari Luhan.
Sementara setelah kepergian Jongin, Luhan mati-matian berusaha menenangkan Sehun yang terisak sesenggukan di tengah-tengah koridor yang bisa dikatan tidak sepi.
"Sehun, sudah ya. Jangan menangis lagi, tidak enak dilihat oleh orang-orang," Luhan mengelus-elus punggung Sehun, mencoba untuk membuat gadis cadel itu menghentikan isakannya.
"Jongin membenciku, Oppa. Jongin melupakan aku. Jongin sudah tidak mau berteman denganku lagi," Luhan mendesah berat. Sesungguhnya pola fikir Sehun masih sangat-sangat seperti anak usia TK kalau boleh dibilang, tetapi kenapa Sehun sudah pernah berpacaran dengan Jongin yang notabene-nya adalah pria-dewasa-sebelum-waktunya.
"Percaya sama Oppa, Jongin tidak membenci Sehun," bujuk Luhan pelan-pelan. Jujur saja, ia merasa seperti seorang penculik saat ini. Ditambah dengan tatapan geli yang dilayangkan oleh murid-murid yang melintas didepan mereka.
"Tapi tadi Jongin seperti tidak suka melihatku. Dan Jongin tidak menjawab sapaanku," Sehun masih bersikukuh dengan pendapatnya membuat Luhan ingin menyeret Jongin saat ini juga ke hadapan Sehun dan menyuruh pria berkulit tan itu meminta maaf pada Sehun. Tapi Luhan mengurunkan niatnya, bisa-bisa ia kelepasan meninju wajah Jongin nanti.
Luhan tahu, Sehun masih mencintai Jongin. Itu alasan kenapa Sehun selalu menolak pernyataan cinta Luhan. Karena Sehun masih belum bisa melepaskan bayang-bayang Jongin yang sudah terlalu melekat padanya. Luhan juga tahu bahwa Jongin pun sama hal nya dengan Sehun. Hanya saja, Jongin mengganggap Luhan sebagai dinding penghalang antara dirinya dengan Sehun.
"Mungkin Jongin sedang mempunyai masalah, makanya dia seperti itu tadi. Sekarang, ayo kita kembali ke kelas!"
Berhasil!
Dengan iming-iming sesuatu yang masuk akal tentang Jongin, Sehun dapat diluluhkan begitu saja.
Luhan tahu, Tinkerbell tidak seharusnya bersama Terence. Karena Tinkerbell diciptakan hanya untuk Peterpan. Walaupun Peterpan pada akhirnya akan berujung dengan Wendy. Tetapi selama sosok Wendy itu tidak datang kedalam kehidupan Peterpan dan Tinkerbell dan Peterpan tidak mengizinkan hal itu terjadi, maka Peterpan dan Tinkerbell akan hidup bahagia selamanya.
Simple.
.
.
.
Seminggu berlalu, Chanyeol tengah disibukan dengan segala sesuatu nya untuk persiapan acara konser amal di sekolahnya. Selaku ketua OSIS, sudah sepantas nya Chanyeol bertanggung jawab atas anggota-anggotanya. Tetapi Chanyeol tidak bisa menjalankan tugas nya dengan benar kalau sahabatnya, Jongin, sudah tidak menampakkan batang hidung lebih dari tiga hari ini.
Setelah pria berkulit tan itu berpamitan kepadanya untuk pergi keluar kelas seminggu yang lalu, Jongin malah semakin kacau saat kembali ke kelas. Chanyeol tidak tahu apa yang menimpa Jongin, tapi yang pasti Jongin baru sajamenerima suatu keadaan dimana ada kaitannya dengan Sehun. Dan sudah tiga hari Jongin membolos tanpa kabar, ponselnya pun tidak aktif. Bahkan Sehun sampai bertanya pada Chanyeol tentang keberadaan Jongin. Kalau Chanyeol memberitahukan hal itu pada Jongin, Chanyeol yakin Jongin pasti akan langsung melemparnya dengan buku karena menganggap Chanyeol hanya membual belaka.
"Kyungsoo-ya!" Chanyeol berlari menuju seorang namja bertubuh mungil dengan mata bulat yang menggemaskan.
"Kenapa, Chanyeol? Lo cari Baekhyun?" Tebak Kyungsoo dengan senyum iseng. Chanyeol langsung merona akibat ulah Kyungsoo, tapi tunggu! Ini bukan saatnya Chanyeol memikirkan sang pujaan hati, Baekhyun.
"Bukan! Gue mau tanya, lo liat Jongin gak? Atau mungkin lo ada komunikasi sama si bodoh itu selama tiga hari ini?" Tanya Chanyeol serius membuat Kyungsoo mau tak mau mengurungkan niatnya untuk menjahili Chanyeol lebih jauh.
"Jongin ya? Itu anak masih galau gara-gara Sehun? Haduh, kalau misalnya bunuh orang itu enggak dosa, udah gue bunuh dia dari kapan tahu," ucap Kyungsoo sadis. Habis, Kyungsoo gemas dengan Jongin yang terlalu berlarut-larut dalam ketidak jelasan. Kalau masih ingin lanjut, ya cepat dilanjut. Kalau ingin move on, ya cepat move on. Kalau iya ya iya kalau tidak ya tidak. Jangan nanti iya nanti tidak habis itu iya lagi.
"Tadi gue liat dia jalan di koridor kelas 1A, kayaknya mau ke atap sekolah deh," lanjut Kyungsoo.
Mata Chanyeol langsung membukat seketika, "HAH?!"
Kyungsoo mengelus dadanya, terkejut. Siapa yang tidak terkejut ketika seorang ketua OSIS bersuara bariton seperti Chanyeol memekik dengan tidak tahu dirinya tepat di hadapanmu?
"Lo serius?! Lo gak bercanda, kan?!" Kyungsoo menganggukan kepalanya dengan dahi berkerut heran karena ekspresi Chanyeol yang berlebihan. Memang ada salah nya Jongin pergi ke atap? Bukannya—
"Jangan-jangan dia mau bunuh diri!" Seru Chanyeol heboh.
"HAH?!" Gantian sekarang Kyungsoo yang memekik terkejut dihadapan Chanyeol.
"Kita harus cegah si Jongin, Kyungsoo!" Chanyeol menarik lengan mungil Kyungsoo dengan tak berperasaan. Kyungsoo ingin melakukan acara mengaduh akibat cengkraman Chanyeol yang terlalu kuat pada lengannya, tetapi ia urungkan karena menurutnya ini bukan saat yang tepat untuk sekedar mengaduh. Jongin, sahabat mereka lebih penting saat ini.
.
.
.
Jongin sudah membulatkan tekatnya. Ia harus merebut Sehun kembali. Hatinya masih menginginkan Sehun untuk menjadi pemiliknya. Hari ini, Jongin akan mengajak Sehun untuk kembali bersama dalam sebuah ikatan sepasang kekasih dan disaksikan oleh ratusan murid di sekolah. Tidak peduli apakah Sehun mau menerimanya kembali atau tidak. Kalaupun nantinya Sehun menolak, setidaknya Jongin sudah berusaha mendapatkan apa yang hatinya mau, kan?
BRUK.
"JONGIN!" Jongin tersentak ketika pintu atap terbanting kuat diikuti dengan kemunculan dua orang berwajah panik yang sudah sangat ia hafal.
"Jongin, mau ngapain lo disini?! Jangan bilang lo lagi mau bunuh diri?! Astaga Jongin! Lo gak boleh kayak gitu cuma karena lo putus asa sama perasaan lo!" Chanyeol mengguncang-guncang tubuh Jongin dengan brutal.
"Iya bener tuh apa yang dibilang Chanyeol! Lagian, kan, bunuh diri itu dosa!" Tambah Kyungsoo sama tidak karuan nya dengan Chanyeol membuat Jongin semakin menatap dua sahabatnya itu dengan tatapan bingung yang teramat.
"Apaan sih lo berdua? Aneh banget," Jongin mendorong tubuh Chanyeol yang hanya berjarak kurang dari satu meter dari hadapannya. Chanyeol dan Kyungsoo menganga tidak mengerti atas ucapan ambigu—menurut mereka—Jongin.
"Gue mau Sehun," Jongin menyandarkan dirinya disebuah dinding pembatas yang terdapat disekeliling atas sekolah.
"Maksud nya?" Tanya Kyungsoo tidak mengerti.
"Gue mau Sehun. Sebelum mantan jadi punya orang lain, gue masih boleh menginginkan nya, kan?" Lagi-lagi Chanyeol dan Kyungsoo terdiam membisu. Walaupun mereka tidak paham betul apa maksud dari kata-kata Jongin, tapi mereka tahu, Jongin akan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sedari dulu.
"Lo berdua harus bantuin gue," Chanyeol dan Kyungsoo serempak mengacungkan jempol mereka kearah Jongin, pertanda bahwa apapun yang Jongin perintahkan akan mereka lakukan dengan sebaik-baiknya.
.
.
.
Keesokan harinya, acara konser amal itu berjalan dengan lancar dan cukup meriah. Para tamu undangan sebagian besar dapat memenuhi undangan yang ditujukan bagi mereka. Para pengisi acara juga melakukan perform mereka dengan semaksimal mungkin.
Dan saat ini, waktu sudah menujukkan pukul 15:30. Itu artinya, acara sudah hampir mencapai puncak nya. Sebagian besar siswa dan siswi masih memenuhi aula outdoor yang dijadikan sebagai tempat pementasan. Baekhyun, sang pembawa acara tengah berbisik-bisik dengan Chanyeol dipojok kiri panggung. Beberapa murid memprotes kemesraan dua sejoli yang dinilai kurang tahu tempat itu. Tapi beberapa ada juga yang menahan untuk tidak gigit jari saking iri nya dengan keharmonisan hubungan pasangan Ketua OSIS dan Diva sekolah itu.
"Oppa, Chanyeol dan Baekhyun mesra sekali ya? Didalam kesempatan dalam kesempitan saja masih bisa terlihat seromantis itu dengan saling berbisik," komentar Sehun, iri. Jika saja ia masih bersama Jongin, bukan tidak mungkin Sehun akan mendapat panggung duet bersama pria tan itu.
Luhan terkekeh menanggapi ucapan Sehun, "Kenapa? Kamu cemburu karena Jongin tidak seromantis Chanyeol semasa kalian berpacaran dulu?" Sehun refleks menginjak kaki Luhan yang terbalut sneakers hitam andalannya.
"Oppa apaan sih! Gak lucu tau," Protes Sehun tak terima karena Luhan kembali menyeret-nyeret Jongin dalam pembicaraan mereka. Baru saja Luhan ingin membalas perkataan Sehun, Baekhyun sudah kembali membuka suara dari atas panggung sana.
"Nah, teman-teman sekalian, sepertinya acara puncak kita yaitu berdansa akan ditunda beberapa menit kedepan," terdengar desahan kecewa dari berbagai penjuru murid di lapangan outdoor tersebut. Baekhyun hanya tersenyum lebar, memaklumi atas kekecewaan teman-temannya.
"Mari kita berikan luang untuk salah seorang teman kita yang akan menyumbangkan suara nya disini," suara bisik-bisik mulai menyeruak untuk menerka-nerka siapa kira-kira orang yang akan menyumbangkan suaranya secara mendadak seperti ini?
"Kita sambut, ini dia, Jongin!" Gemuruh tepuk tangan langsung menyambut kehadiran Jongin diatas panggung. Siapa yang tidak excited ketika seorang kinka seperti Jongin akan menyumbangkan sebuah penampilan yang jarang sekali ia tunjukkan didepan khalayak banyak? Jongin pasti merencanakan sesuatu jika sampai melakukan hal selangka ini.
"Selamat Sore semuanya,"
"Sore," Sahut sebagian besar murid yang tengah memfokuskan pandangan pada Jongin yang terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya dengan setelan jeans serta kaus v neck putih yang dibalut dengan kemeja kotak-kotak berwarna biru tua diatas panggung sana. Tak terkecuali Sehun yang merasa bahwa nyawa nya baru saja tercabut akibat sosok Jongin yang muncul secara tidak terduga.
"Izinkan saya berdiri diatas panggung ini untuk menyanyikan sebuah lagu yang saya dedikasikan untuk seseorang dimasa lalu saya dan sampai sekarang masih menjebak saya untuk terus membawa nya ikut serta dalam masa depan saya," Jongin mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok yang sudah hampir empat hari ini tidak tertangkap oleh indera penglihat nya.
Jongin menarik nafas dalam ketika sosok yang ia cari tengah menatap nya dari radius sejauh 15 meter "Dan orang itu adalah, Sehun."
Jongin mulai memainkan gitar nya, di iringi Chanyeol yang memegang kendali drum di belakang sana. Bagaimana dengan Sehun?
I can feel her breath as she's sleepin' next to me,
Sharing pillows and cold feet.
She can feel my heart, fell asleep to it's beat,
Under blankets and warm sheets.
Sehun terkejut tentu saja. Sehun tidak pernah membayangkan bahwa Jongin akan melakukan hal senekat ini di hadapan murid satu penjuru sekolah dan jangan lupakan para songsaemnim yang juga menyaksikan aksi Jongin yang—nekat atau romantis? Sehun sudah tidak tahu lagi. Yang Sehun tahu degup jantungnya terus bertalu-talu dalam rongga dada nya sejak nama Jongin terlontar dari bibir Baekhyun.
If only I could be in that bed again...
If only it were me instead of him...
Does he watch your favorite movies?
Does he hold you when you cry?
Does he let you tell him all your favorite parts when you've seen it a million times?
Does he sing to all your music while you dance to Purple Rain?
Does he do all these things, like I used to?
Sehun akan bersumpah bahwa semua yang dilihatnya adalah mimpi jika ia tidak merasakan kehangatan dari genggaman erat Luhan pada tangan nya. Dan demi neverland, Sehun ingin berlari memeluk Jongin saat ini juga lalu berteriak bahwa tidak ada satu orang pun yang akan melakukan semua hal yang Jongin lakukan untuknya.
Fourteen months and seven days ago...
Oh, I know you know,
How we felt about that night.
Just your skin against the window...
Oh, we took it slow,
And we both know...
It should've been me inside that car.
It should've been me instead of him... in the dark.
Does he watch your favorite movies?
Does he hold you when you cry?
Does he let you tell him all your favorite parts when you've seen it a million times?
Does he sing to all your music while you dance to Purple Rain?
Does he do all these things, like I used to?
Air mata Sehun sukses mengalir deras tanpa izin dari gadis berkulit sehalus porcelain itu. Dada nya berdenyut sakit ketika menangkap tatapan kalah dari mata Jongin lagi. Sehun tahu, sedikit banyak hancur nya hubungan mereka pasti akibat dari kedekatan Sehun yang tidak bisa dibilang normal dengan Luhan untuk ukuran seorang gadis yang sudah memiliki sepasang kekasih. Tapi Sehun berani bersumpah atas nama Tuhan, Tinkerbell, Peterpan dan juga Neverland bahwa hubungannya dan Luhan hanya sebatas sahabat, tidak lebih. Terlepas dari perasaan Luhan yang sesungguhnya pada gadis albino itu.
I know, love, (I'm a sucker for that feeling)
Happens all the time, love, (I always end up feelin' cheated)
You're on my mind, love, (or so that matter when I need it)
It happens all the time love, yeah.
Will he love you like I loved you?
Will he tell you everyday?
Will he make you feel like you're invincible with every word he'll say?
Can you promise me if this was right:
Don't throw it all away?
Can you do all these things?
Will you do all these things...
Like we used to?
Oh, like we used to...
Gemuruh tepuk tangan dari seluruh murid mengiringi turunnya air mata Sehun yang semakin deras. Luhan yang sedari tadi membeku disamping Sehun, perlahan-lahan melepaskan genggamannya pada jari-jemari lentik Sehun ketika sosok Jongin turun dari atas panggung dan berjalan mendekat kearah dimana Sehun dan dirinya berdiri.
"Sehun," Jongin sudah berdiri tegap dihadapan Sehun yang tengah menundukkan kepalanya dalam. Entah waktu yang seakan melambat atau Jongin yang berjalan terlalu cepat kearah Sehun dan Luhan, Luhan sudah tidak tahu lagi.
"Tink? Hei, don't cry please, okay?" Jongin menangkup kedua pipi Sehun dan menyeka lelehan kristal bening itu perlahan-lahan, seakan-akan Sehun akan hancur jika tidak dilakukan seperti itu.
"Tink, say anything to me please?" Jongin mengelus kedua pipi Sehun dengan lembut. Mencoba membawa pandangan Sehun tertuju pada matanya.
Sehun mendongakkan kepala nya dan menatap Jongin bengis. Sehun mendorong tubuh Jongin untuk menjauh dari nya, "Go away from me, you stupid brat!"
"Tink—"
"Don't call me like that! We've ended, dude!" Sehun berjalan mundur untuk menjauh dari Jongin yang mendekat kearah nya.
"I know I was wrong. I know it all, but can you just listen to me first?" Mohon Jongin pada Sehun.
"What else should I hear from you, huh?" Balas Sehun ketus. Gantian, Jongin. Gantian aku yang jahat sama kamu, batin Sehun.
"I'm sorry. Aku menyesal, aku tahu ini memalukan tapi kamu harus percaya bahwa aku menyesal," ucap Jongin pelan. Sehun mendengus pelan, walaupun dalam hatinya ia ingin sekali menubruk tubuh tegap Jongin yang berada dihadapannya.
Sehun menyeringai, "Setelah kamu menuduhku yang tidak-tidak dan mengabaikanku, kamu baru menyesal nya sekarang? Kemarin-kemarin kemana saja?"
Sementara Kyungsoo, Chanyeol, Baekhyun dan seluruh Shipper Jongin-Sehun tengah dibanjiri ketegangan ditempat mereka berdiri.
"Let me ask you once again. Does he do what i've done with you, hm? Does he do all these thing like i used to?" Walau hanya sekalipun, Sehun tidak akan pernah berani berbohong pada Jongin. Maka, gelengan lemah diberikan Sehun sebagai jawaban atas pertanyaan Jongin. Senyum Jongin merekah setelahnya.
"Sehun, my momma told me don't lose you, because the best luck i had was you. And i know one thing that i love you. I can't lose you, breathing become so heavy without you," Sehun bisa meleleh sekarang juga kalau ia mau. Manik malam milik Jongin tidak pernah memancarkan keraguan kedalam oniks hazel milik Sehun saat Sehun memblokade mata elang pemuda yang lebih tua tiga bulan dari nya itu.
Jongin menyodorkan satu bucket bunga mawar merah kepada Sehun dalam posisi bertekuk lutut di atas tanah yang tadi ia pijak, "So, comeback to me please. This is a command, I don't accept any kind of rejection,"
Kasak-kusuk kembali terdengar dari para siswa dan siswi yang menyaksikan adegan kembali bersatu nya Peterpan dan Tinkerbell yang teramat romantis. Sebagian besar siswa berfikir, "Pantas saja Sehun betah berlama-lama menjalin hubungan dengan Jongin. Jongin nya saja berani melakukan aksi nekat seperti ini," Lain hal nya para Siswa, lain pula para Siswi.
"Gue sih kalo jadi Sehun, Jongin nya daritadi udah gue peluk kali,"
"Sumpah demi apa, kalo gue jadi Sehun langsung gue terima gak pake babibu lagi,"
"Anjir, tolong, otp —One True Pairing, red— gue mesra banget!"
Sehun sengaja berlama-lama menatap Jongin. Sejujurnya, ia malu karena Jongin memperlakukan dirinya seperti ini di depan umum. Tapi disisi lain, Sehun juga senang melihat Jongin melakukan ini semua demi membawa nya kembali bersama.
"TERIMA UDAH TERIMA LAMA BANGET, ELAH!"
"YAILAH MASIH AJA KAKU PADAHAL UDAH PERNAH JADI MANTAN, TERIMA APA CEPETAN! BIKIN GREGET AJA NIH,"
"TAU NIH SEHUN! KALO LO GAK MAU KAN UDAH BANYAK YANG SIAP GANTIIN,"
"YEE DODOL! UDAH CEPET TERIMA, NANTI KAKI NYA JONGIN KERAM TUH KELAMAAN BERTEKUK LUTUT,"
"ANJIR CEPETAN WOI TERIMA, LO YANG DIAJAK BALIKAN KENAPA GUE YANG DEG-DEG BEGINI?!" ini teriakan Baekhyun yang terdengar paling merdu diantara teriakan teman-teman yang lain.
Sehun mengedarkan pandangannya ke sekeliling, memperhatikan wajah-wajah tidak sabaran dari teman-temannya. Sehun bingung sendiri, apakah seruan teman-temannya tadi adalah sebuah dukungan atau sebuah pelampiasan dari sebuah kegiatan orasi? Takut seruan-seruan tidak sabaran tadi semakin menggila, Sehun beralih menatap Jongin kembali.
"Selfish is that your character can never change," sindir Sehun yang hanya dibalas seringai tipis oleh Jongin.
"So?" Sehun menyambar bunga mawar yang Jongin pegang lalu berkata, "Masih harus aku jawab, ya?" Jongin menyeringai nakal atas jawaban Sehun, lalu Jongin bangkit dari posisi nya dan menyambar bibir ranum Sehun secepat yang ia bisa dan hal itu langsung mengundang jeritan-jeritan histeris para gadis disekeliling Jongin dan Sehun yang tengah mengalami masa pubertas mereka.
"KYAAAA, LIVE STREAMING!"
"WAAAAH AKHIRNYA SETELAH SHIPPER KALIAN PUASA BERBULAN-BULAN YA,"
"TENANG, UDAH GUE VIDEO-IN NIH!"
"BURUAN DI BURN KE DVD WOI, SEBAR KE FANSCLUB SHIPPER MEREKA!"
"OTAK BYUNTAE SEMUA YA LO PADA,"
"ASIK! JONGIN SAMA SEHUN PAJAK BALIKAN NYA BISA KALI SATU SEKOLAH TRAKTIR DI STURBUCKS,"
"YOI! SEKALIAN, J-CO SATU LUSIN PER ORANG YA! DITUNGGU,"
"GAK KASIH PAJAK BALIKAN, BIARIN AJA GAK LANGGENG! HAHAHHAHA BERCANDA BRO,"
Dan seruan tidak tahu diri semakin menggema ditengah lapangan itu. Langit sore yang mulai berwarna jingga drngan puluhan burung yang berterbangan diatas sana menjadi saksi atas kembalinya dua insan manusia tersebut. Jongin masih setia memagut bibir cherry Sehun dengan dalam, membawanya kedalam sebuah french kiss hangat yang memabukkan bagi Sehun.
"Now, lets fly to our neverland?" Jongin semakin melebarkan seringai setannya setelah memutus pagutannya pada bibir Sehun. Tidak ada yang aneh memang atas kata-kata Jongin, tetapi ketika Sehun menyadari apa maksud dari Neverland yang Jongin sebutkan, secara refleks Sehun memukul lengan Jongin.
"YAK, DASAR HITAM BYUNTAE!"
Fin
a/n; Hello! Series ketiga nih, request dari salah satu reviewer! :-D
Dear SilverPearl03,
Ini dia request kamu! :-D Semoga suka ya^^
Maaf ya update nya late banget huhuhuhu kemarin mood buat nulis bener-bener lagi seret banget hiks maaf ya :"( Maaf kalau cerita ini agak kurang memuaskan dan sedikit enggak jelas, soalnya basic lagunya galau sih;-; Tadinya mau dibikin sad ending, tapi lagi gak ngefeel buat yang sedih-sedih /ditabok/
Terus, makasih banget buat yang udah ngereview series kedua! Aku minta maaf banget karena engga bikin balesan. Tapi tenang, review nya udah aku baca semua. Dan buat yang request, sabar yap ada yang udah selesai dan ada juga yang masih in progress mwahahahaha XD Sekali lagi makasih banget 3
Saranghae Yeorobun^^
Okay aku cuap-cuap nya segini aja ya hehehe nanti panjangan author's note nya lagi daripada ceritanya /GAK/
So mind to review again?^^
