Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan
Rate : M for Save.
catatan : fic ini tidak mengandung unsur gore atau pun horor yang wow banget, fic ini hanya di bubuhi humor yang semoga terkesan lucu meskipun garing XD
.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
- Ghost Terror -
[chapter 03]
.
.
.
"Oi, apa kau tidak bosan bekerja di sini? Gajinya kecil, kau harus bekerja ekstra dan tidak mendapat gaji tambahan, aku sarankan kau sebaiknya mencari pekerjaan baru yang lebih cocok untukmu." Ucap Naruto, dia sedang melayang-layang di atas Sasuke yang sedang sibuk melap meja.
Berharap pagi yang terasa damai, Sasuke sudah harus mendengar arwah itu untuk mengoceh lagi. Sasuke sangat betah di cafe ini, tapi yang membuatnya tidak betah hanya arwah blonde yang sangat cerewet itu.
"Apa kau pura-pura tuli? Halo, oii, Sasuke! oi, pelayan bodoh." Naruto sengaja mengeraskan nada suaranya.
Sasuke berhenti melap dan menatap ke arah Naruto, tidak ada ucapan apapun yang keluar dari mulutnya, Sasuke hanya menatap tajam ke arah Naruto. Dia sangat tidak suka jika di panggil 'bodoh'.
Apa! Kau sangat berisik! Diamlah! bodoh!
"Apa? Kenapa menatap ku seperti itu!" Ucap Naruto, dia cukup kesal dengan Sasuke yang menjawab ucapannya dengan tatapan tajam, seakan-akan tidak menyukai apa yang di ucapkan Naruto.
Sasuke kembali sibuk dan mengabaikan Naruto. Sakura berada di cafe dan dia tidak ingin berbicara dengan arwah penasaran itu. Hari-harinya cukup menyebalkan jika terus-terusan saja di ganggu Naruto, Sasuke menjadi bingung dengan roh suami Sakura yang tidak juga pergi, berharap dia segera menghilang dan Sasuke bisa tenang, namun itu hanyalah harapan kosong yang sangat di harapkan Sasuke. Naruto tidak juga menghilang sampai detik ini.
"Sasuke." Panggil Sakura saat berjalan keluar dapur.
"Ya?" Sasuke berhenti melakukan kesibukannya.
"Mungkin kita akan telat buka, jika kau ingin sarapan aku sudah menyiapkan dan kau bisa mengambilnya di dapur, aku harus pergi, hanya beberapa menit saja." Ucap Sakura, dia terlihat cemas dan terburu-buru membuka baju kokinya dan menyimpan di meja.
"Ah, baiklah."
"Dah." Sakura bergegas dan berjalan keluar cafe.
"Hati-hati di jalan, sayang." Teriak Naruto saat Sakura sudah keluar.
Mendengar teriakan Naruto membuat kuping Sasuke terasa Sakit, dia melayang di samping Sasuke dan teriak dengan cukup keras, Sasuke melirik malas ke arahnya. Sasuke tahu meskipun Naruto berteriak hingga ke ujung dunia pun Sakura tidak akan mendengarnya. Seperti membuang garam di laut, itu hanya hal yang sia-sia.
Tidak ingin bermalas-malasan, Sasuke segera menyelesaikan tugasnya. Cafe sudah bersih, Sasuke berjalan masuk ke dalam dapur dan sudah dua sarapan tertata di sana, Sasuke sangat lapar, dia tidak sempat makan apapun sejak pagi. Sasuke harus pergi lebih pagi, dia tidak ingin bertemu dengan Itachi dan akan di tanya bermacam-macam jika Sasuke tidak pergi dengan pakaian kantornya.
Berjalan santai ke salah satu meja dan duduk di sana, Sasuke mulai mencicipi sarapan paginya. Setiap hari Sakura akan selalu membuat sarapan yang berbeda-beda, Sasuke merasa sangat senang dengan hal ini. Walaupun dia hanya pegawai Sakura, Sasuke cukup suka dengan perhatian Sakura terhadap pegawainya.
"Ada apa? Kau terlihat sangat senang." Ucap Naruto, dia duduk di kursi yang berhadapan dengan Sasuke.
"Bukan urusanmu." Ucap Sasuke cuek. Mulai menyantap sarapannya.
"Untuk apa kau bekerja di sini? Kau bahkan bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik."
Sasuke mengabaikan Naruto.
"Hei, aku berbicara padamu." Ucap Naruto.
"Bosan."
"Apa?"
"Aku hanya bosan."
"Bosan? Apa maksudmu?"
"Ahk, sudahlah, kau tidak bisa memahaminya."
"Kau sungguh menyebalkan." Naruto menjadi kesal dengan ucapan Sasuke.
"lalu, apa yang kau lakukan di sini? Seharusnya kau berkumpul dengan makhluk-makhluk seperti mu?" Ejek Sasuke.
"Apa kau sedang mengejekku? Jika sejak dulu aku tahu caranya kesana, detik ini juga kau tidak akan melihatku."
"Oh, mungkin kau perlu membunuh dirimu lagi."
"Aku merasa sedang berbicara dengan orang bodoh."
"Berisik."
"Jangan coba-coba mengganggu Sakura, aku sangat mencintainya dan dia juga sangat mencintaiku, kau tidak akan bisa mendapatkan hatinya." Ucap Naruto. Dia merasa jika 'bosan' bukan satu-satunya alasan Sasuke untuk bekerja di cafe yang sederhana ini. Naruto tahu, jika istrinya itu sering menjadi pusat perhatian para lelaki, bahkan saat mereka masih pacaran, beberapa teman prianya ingin mencoba memisahkannya dengan Sakura. Namun semuanya gagal, Sakura sangat menyukai Naruto dan tidak akan berpaling darinya.
"Aku tidak peduli." Ucap Sasuke. Dia sudah menyelesaikan makannya dan berjalan meninggalkan Naruto.
"Coba saja! Kau juga akan seperti pria lain yang tidak akan di gubris Sakura." Ucap Naruto.
Sasuke membersihkan piring makannya, terdiam sejenak di depan westafel. Jika jujur dengan perasaannya, Sasuke menyukai Sakura. Sejak pertama melihatnya, Sasuke sudah menaruh hati padanya, namun Sasuke tidak merasa jika Sakura akan tertarik padanya. Baik, yaa, Sakura selalu baik pada siapa pun. Sasuke tidak bisa membenarkan jika dia sudah membuat Sakura juga menyukainya. Respon Sakura terhadapnya biasa-biasa saja. Mungkin yang di katakan Naruto benar. Sakura masih mencintai suaminya, bahkan cincin polos perak itu tidak pernah lepas dari jari manis Sakura.
"Oh maaf, aku tiba-tiba pergi begitu saja." Ucap seseorang yang baru saja masuk ke dalam dapur.
Sasuke menoleh dan mendapati Sakura mencoba memakai pakaian kokinya. Sedikit kesulitan dengan resleting pada bagian belakangnya yang tersangkut.
"Kau sudah kembali?" Tanya Sasuke.
"Ah, tadi aku hanya bertemu dengan ibu mertuaku sebentar, aku pikir dia sakit, ternyata dia hanya membohongiku agar aku pergi menemuinya. Padahal dia bisa ke sini jika hanya ingin bertemu." Ucap Sakura, dia masih mencoba menarik resleting baju kokinya namun tidak bisa.
"Biar aku bantu." Ucap Sasuke, dia merasa perlu membantu Sakura yang mulai terlihat kesal dengan baju kokinya yang tidak ingin resletingnya tertarik dengan benar.
Sakura berbalik membelakangi Sasuke. Perlahan Sasuke mulai menarik resleting baju Sakura. memang sedikit macet, namun perlahan-lahan resleting itu bisa naik sampai ke atas. Beberapa detik Sasuke bisa memandangi Sakura dari belakang. Rambut sofpink sebahunya dan tubuhnya yang jauh lebih pendek dan kecil darinya. Namun dia wanita yang sangat bersemangat.
"Terima kasih." Ucap Sakura dan berbalik menatap Sasuke.
"Uhm, tidak masalah." Sasuke menatap wajah Sakura. Cantik. itu adalah hal yang terlintas di pikiran Sasuke, dia bisa melihat secara dekat wajah Sakura.
"Apa kau sudah sarapan?"
"Sudah."
"Baiklah, aku sarapan dulu setelah itu cafe akan di buka."
"Hn."
Beberapa menit berlalu setelah Sakura sudah sarapan dan sudah membereskan piringnya.
'Open'
Hari yang sibuk di mulai. Sasuke berucap dengan ramah pada setiap pengunjung yang datang, wajah dan tubuhnya selalu menjadi pusat perhatian setiap pengunjung wanita yang mendatangi cafe Sakura, seakan-akan Sasuke menjadi satu-satunya ikon di cafe.
Seseorang yang sedang berjalan ke arah cafe membuat Sasuke menjadi panik. Segera saja dia berlari ke dalam dapur untuk menyembunyikan dirinya.
"Ada apa Sasuke?" Tanya Sakura, tidak biasanya Sasuke akan berlari masuk, padahal dia sedang sibuk di luar.
"Apa bos punya semacam topeng? Atau penutup wajah?" Ucap Sasuke. Hanya ide itu yang terlintas dalam pikirannya
"Topeng? Untuk apa?" Ucap Sakura. Dia bingung dengan ucapan Sasuke.
"Aku sangat membutuhkannya."
"Tapi-"
"Jika aku tidak menggunakannya aku akan dalam bahaya."
"Apa kau sedang di incar seseorang?"
"Uhm, bukan seperti itu."
Sakura merasa semakin bingung, tapi melihat tingkah Sasuke, dia merasa perlu menolongnya.
"Di gudang ada topeng yang biasa di gunakan untuk hari halloween. Kau bisa menggunakannya."
Sasuke bergegas ke arah gudang, membuka pintunya dan mencari topeng yang di maksud Sakura. di sana hanya ada kepala berbentuk labu dan tidak ada topeng, mau tidak mau Sasuke harus menggunakan untuk kelangsungan pekerjaannya di cafe ini.
"Selamat datang, mau makan di sini atau bungkus?" Ucap Sasuke dengan kepalanya yang sudah berbentuk labu.
"Makan di sini." Ucap pria yang sangat di kenal Sasuke. Uchiha Itachi.
Sasuke tidak mengetahui jika kakaknya akan mendatangi cafe ini. Dia harus berpura-pura seperti orang yang tidak di kenal Itachi.
"Oh silahkan ikut aku. Meja untuk berapa orang?"
"Dua orang."
Sasuke membawa Itachi ke meja kosong untuk dua orang. Setelahnya, Sasuke menawarkan buku menu kepada Itachi.
"Apa sekarang hari halloween?" Ucap Itachi. Dia merasa pelayan di cafe ini sangat lucu menggunakan kepala labu itu.
"Tidak. Ini hanya prosedur di cafe ini." Ucap Sasuke asal.
"Hoo."
"Tuan Itachi." Panggil seseorang.
Sasuke menjadi terkejut dengan Jugo yang juga datang ke cafe ini.
"Akhirnya kau datang, aku dengar cafe ini memiliki makanan yang sangat enak, apa kau mau mencobanya?"
"Aku hanya menemani anda tuan."
"Kau ini, tidak usah seformal itu, kita sudah berteman sejak lama. Bahkan dari kecil. Ayolah, anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah menemaniku beberapa hari ini. Padahal aku berharap anak itu bisa menemaniku." Ucap Itachi. Yang di maksudkannya adalah Sasuke, dia sangat ingin menghabiskan waktu bersama adiknya itu.
Jugo menatap ke arah pelayan yang berkepala labu itu, membuat pelayan itu menjadi tidak tenang dan sedikit berkeringat dengan kepala labu yang lumayan tebal itu.
"Ada apa Jugo?" Tanya Itachi. Jugo menatap pelayan itu cukup lama.
"Tidak, aku hanya merasa seperti tuan Sasuke berada di sini." Ucap Jugo, menatap sekeliling ruangan cafe itu namun tidak menemukan orang yang mirip dengan sosok Sasuke.
"Benar kah? Hahaha, instingmu cukup hebat juga yaa. Tapi, mungkin saja perasaanmu, kemarilah, kita duduk santai sambil menunggu pesanan." Ucap Itachi. "Kami pesan ini, dua." Lanjut Itachi kepada pelayan itu.
"Baik." Ucapnya dengan ramah dan bergegas, hampir terbongkar dengan ucapan Jugo yang sangat tepat sasaran. Dia selalu bisa menyadari keberadaan Sasuke dimana pun.
Sasuke tidak bisa bekerja dengan tenang, dia akan memakai kepala labu itu hingga kakaknya dan Jugo pergi.
"Ada apa dengan kepalamu?" Tanya Naruto, melayang tepat di hadapan Sasuke.
Sasuke memilih diam, dia tidak bisa berbicara dengan leluasa jika cafe sangat ramai. kepala labu ini sudah membuatnya menonjol sendiri, jika dia berbicara sendiri, itu akan membuatnya menjadi pusat perhatian sekarang.
"Ahk, baiklah, aku tahu, kau tidak akan berbicara jika seperti ini." Ucap Naruto. Dia melayang masuk ke dapur, sekedar ingin memperhatikan istrinya yang cukup lihai dalam memasak. Dia merasa rindu akan masakan istrinya itu. Saat mereka masih pacaran, Sakura akan selalu datang ke rumahnya dan membuatkannya masakan yang selalu di sukainya. Ibunya, Kushina, menjadi sangat menyukai Sakura.
"Pelayan." Panggil Itachi.
Sasuke terkejut sendiri dan terburu-buru menghampiri Itachi.
"Apa anda masih butuh sesuatu?" Ucap Sasuke dengan ramah.
"Ah, aku ingin mencoba menu lain."
"Tunggu sebentar." Sasuke bergegas mengambil buku menu dan kembali ke meja Itachi.
Jugo masih memperhatikan sekeliling ruangan, dia masih penasaran dengan yang di rasakannya saat ini, Sasuke seperti benar-benar berada di cafe. Jugo menatap ke arah pelayan itu, membuat Sasuke sedikit tersentak dan sibuk mengalihkan pandangannya. Jugo memicingkan mata ke arah pelayan itu. Sasuke semakin tidak tenang jika saja hari ini dia akan ketahuan.
"Jugo, apa kau masih ingin memesan sesuatu?" Tanya Itachi. Jugo fokus ke buku menu dan tidak memperhatikan pelayan itu lagi. Sasuke bisa bernapas legah.
"Uhm. Aku ingin kopi saja." Ucap Jugo
Sasuke sudah mencatat pesanan mereka dan berjalan pergi dengan santai, dia tidak ingin terlihat seperti sedang panik.
Itachi akhirnya selesai dan pulang. Sasuke baru akan melepas kepala labu itu setelah memastikan Itachi dan Jugo benar-benar sudah tidak berada di area sekitar cafe. Wajahnya penuh keringat dengan memakai kepala labu itu. Entah apa yang di pikiran para wanita dan gadis-gadis saat menatap Sasuke yang baru saja membuka kepala labu itu, rambut dan wajahnya sedikit basah akibat keringat dan terkesan sangat seksi bagi mereka.
'Close'
Pekerjaan hari ini berakhir, Sasuke merasa bodoh sendiri dengan menggunakan kepala labu itu, tapi mau bagaimana lagi, jika Itachi melihatnya, Sasuke akan lebih malu, mungkin saja kakaknya itu akan menyeretnya pulang seperti menarik seorang anak kecil yang di paksa pulang.
"Apa kau sedang bermasalah?" Ucap Sakura, berjalan keluar dari dapur.
"Tidak."
"Untuk apa kepala labu itu?"
"Uhm.. ada seseorang yang tidak ingin ku temui tadi." Ucap Sasuke.
"Hoo, aku pikir ada orang yang mengincarmu, kau bahkan mengatakan dalam bahaya. Aku hanya tidak ingin terjadi hal buruk pada pegawai ku. Apa benar kau tidak apa-apa?"
"Ah, aku tidak apa-apa."
"Sebaiknya kau kenakan lagi kepala labu itu, kau sangat cocok menggunakannya." Ucap Naruto. Dia tertawa terbahak-bahak melihat Sasuke yang cukup terlihat konyol dengan kepala labunya.
Berisik!
"Ya sudah, akan aku ambilkan makan siang." Ucap Sakura, hendak kembali ke dalam dapur dan di susul Sasuke
"Biar ku bantu." Ucap Sasuke.
"Eh, tidak usah, tunggulah di meja." Ucap Sakura, menghentikan sejenak langkahnya.
"Tidak, kali ini aku akan membantumu membawakannya." Ucap Sasuke dan berjalan masuk lebih dulu.
Sasuke membawa nampan berisi dua porsi makanan dan menatanya di meja. Dia tidak keberatan jika harus membawa makanan mereka. Sasuke merasa perlu ada pendekatan lebih kepada Sakura. Dia sangat penasaran dengan perasaan Sakura padanya.
Menyantap makan siang dengan tenang tanpa ada pembicaraan apapun. Sasuke melirik sejenak ke arah Sakura yang sibuk dengan makanannya, melirik ke arah jari Sakura dan cincin itu masih ada. Sakura sama sekali tidak berniat untuk melepaskannya.
"Aku tahu kau meliriknya. Dia bukan santapanmu jangan meliriknya terus." Ucap Naruto. Dia tidak senang dengan Sasuke yang selalu saja bertingkah seperti itu, memandangi istrinya.
"Kau tidak berniat mencari pendamping hidup yang baru?" Ucap Sasuke tiba-tiba.
Sakura sedikit terkejut dan menatap Sasuke. Wajah Sasuke terlihat datar dan seperti biasa Sakura tidak akan mendapat ekspresi apapun, bahkan dengan pembicaraan yang menurutnya cukup serius.
Sakura menggelengkan pelan kepalanya. "Aku rasa, uhmm.. aku tidak membutuhkannya." Sakura menundukkan wajahnya.
Tatapan Sasuke masih tertuju pada Sakura. Dia sudah mendapatkan jawabannya, Sakura tidak akan membalas perasaannya.
"Siapa saja akan khawatir jika kau tinggal sendirian." Ucap Sasuke. mencoba membuat Sakura membuka hatinya untuk orang lain.
"Tidak masalah, aku sudah seperti ini setahun lebih." Ucap Sakura, dia sibuk memainkan sendok ke makanannya.
Kosong, tidak ada ucapan apapun yang terlintas lagi di pikiran Sasuke. Sakura sangat berpegang teguh pada pendiriannya. Dia sudah merasa sangat nyaman dengan kesendiriannya.
Suasana menjadi canggung, mereka menyelesaikan makan siang mereka dalam diam. Setelahnya Sasuke pamit untuk bergegas pulang. Menghela napas, Sasuke merasa sedikit sulit untuk membuat Sakura tertarik padanya. Melirik ke arah Naruto yang melambaikan tangannya dengan senyum lebar menghiasi wajahnya, Naruto merasa dia sudah memenangkan hati Sakura untuk kesekian kalinya.
.
.
.
.
.
Sabtu, hari ini tidak ada jadwal untuk berbelanja, Sasuke akan benar-benar libur dan beristirahat. Dia masih tertidur pulas di kamarnya. Itachi berniat mengganggunya namun di depan pintu kamar Sasuke, Jugo sudah berdiri dan mengawasi kamar Sasuke.
"Dia masih tidur?" Tanya Itachi. Dia di tahan untuk tidak masuk ke kamar Sasuke. Sasuke tahu, jika pelayan lain yang menjaga pintu kamarnya, Itachi akan tetap masuk, lain halnya dengan Jugo.
"Iya, sepertinya dia tidak akan bangun hingga siang." Ucap Jugo.
"Ah, baiklah, sebaiknya kau tidak usah menjaga kamarnya, aku janjikan tidak akan mengganggunya." Ucap Itachi. Memilih untuk bersantai dan mengajak Jugo untuk sarapan bersama.
Jugo menerima tawaran Itachi, dia sangat hapal dengan Itachi, dia tidak akan mengganggu Sasuke jika sudah mengatakannya. Mereka turun bersama ke lantai bawah menuju ruang makan.
Sementara itu, di rumah Sakura, hari ini Sakura akan bersantai di rumah. Dia merasa cukup kelelahan beberapa hari ini. Sakura tengah mengecek data keuangan pemasukan dan pengeluaran di cafe. Sebentar lagi dia harus mengaji Sasuke. Meluruskan tangannya tinggi dan Sakura berbaring di teras ruang tvnya. Melirik sejenak ke arah altar suaminya. Foto Naruto akan selalu membuatnya teringat masa-masa dimana mereka selalu bersama. Kembali Sakura mengingat ucapan Sasuke tentang memiliki pendamping hidup lagi. Menatap langit-langit ruang santai dan memejamkan matanya.
"Aku bisa hidup sendiri." Ucap Sakura.
"Tenanglah, aku selalu bersamamu, Sakura." Ucap Naruto. Mencium kening Sakura dan memeluknya meskipun semua yang di lakukannya hanya sia-sia, Naruto akan menembus tubuh Sakura dan tidak akan bisa menyentuhnya.
"Uhm...Naruto."
Naruto sedikit terkejut dan memandangi Sakura. Berpikir jika Sakura merasakannya, namun hanya pikirannya saja, Sakura tertidur dan tanpa sadar memanggil namanya.
"Hei, jangan tidur di sini, kau akan masuk angin, hei, Sakura, Sakura."
Sakura kaget dan segera bangun dari tempatnya berbaring. Melirik kesana kemari dan hanya menemukan dirinya sendirian di rumah. Wajahnya tertunduk sedih. Merasa jika Naruto sedang bersamanya, detik berikutnya Sakura tersadar, dia hanya sedang bermimpi, memimpikan Naruto. Teringat kembali akan kepergian Naruto, air mata Sakura mengalir menuruni pipinya. Kembali merasakan sakit. Sakura masih sulit melupakan Naruto.
"Maaf Sakura, maaf" Naruto semakin merasa bersalah, mencoba merangkul istrinya itu walaupun sekali lagi dia tidak akan bisa menyentuhnya.
Kembali ke kediaman Uchiha. Sasuke bangun jam 1 siang, wajahnya masih kusut dan hanya mencuci muka. Dia sangat lapar dan berjalan menuju dapur, di sana Itachi menunggunya untuk makan siang, sedangkan Sasuke baru saja akan sarapan.
"Sebaiknya kau tidak tidur terlalu lama, itu tidak baik untuk kesehatanmu." Ucap Itachi.
"Hmm." Sasuke masih terlihat malas untuk berbicara.
Beberapa pelayan mulai datang dan membawakan setiap menu masakan untuk siang ini. Menaruh satu persatu setiap makanan yang baru saja di masak.
"Mana Jugo?" Tanya Sasuke.
"Sepertinya dia sedang pergi ke kantormu, katanya ada berkas yang mau di selesaikan dulu."
"Oh."
Setelah para pelayan itu sudah menyiapkan makan siang, mereka kembali masuk ke dapur, Sasuke mulai mengambil beberapa makanan dan mulai memakannya. Masakan para pelayan di rumahnya masih jauh dari masakan Sakura.
"Sasuke."
"Hmm."
"Aku harap kau segera menikah."
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Sasuke segera mengambil air dan meminumnya dengan cepat. Ucapan Itachi cukup membuatnya sedikit kaget.
"Aku tidak mau." Tolak Sasuke.
"Kenapa? Aku rasa kau harus cepat-cepat mencari pendamping hidupmu." Ucap Itachi, dia merasa adiknya ini perlu seseorang yang akan mengurusinya saat dia tidak ada.
"Apa aku perlu mencarikanmu wanita yang pas, agar bisa mengurusi hidupmu dan kau tidak perlu mengganggu kehidupanku lagi?" Ucap Sasuke. Mencoba menyinggung Itachi yang jauh lebih tua darinya namun belum juga mendapat pasangan.
"Hahaha, kau ini, aku ingin kau bahagia lebih dulu. Aku bisa kapan-kapan saja."
"Aku menolak."
"Kau harus menentukan sekarang wanita yang bisa kau nikahi. Aku akan membantumu."
"Tidak perlu."
"Kenapa? Apa kau sudah menemukannya?"
Sasuke berhenti makan, melirik sejenak ke arah Itachi dan kembali makan. Sasuke tidak berbicara tentang siapa pun yang ada di hatinya. Dia masih dalam proses pendekatan meskipun orang yang sedang di sukainya tidak juga memberi respon yang positif terhadapnya.
"Ada apa? Jadi benar, kau sudah memiliki calonnya."
"Diamlah, aku sangat lapar dan ingin makan. Aku tidak mau berbicara apapun saat ini." Ucap Sasuke. Dia sedang dalam suasana hati yang tidak mendukung untuk berbicara wanita yang di sukai.
"Baik-baik. Aku harap kau segera menemukannya."
Tidak ada jawaban apa-apa dari Sasuke.
.
.
.
.
.
Cuaca hari ini kurang mendukung, Sasuke harus bergegas pergi ke cafe sebelum hujan turun. Sejak jam 5 pagi langit sudah sangat mendung. Sasuke berlari dengan cepat menyusuri trotoar. Saking terburu-burunya, dia lupa membawa payung dan harus mendahului hujan.
"Sial!" Umpat Sasuke saat masih setengah perjalanan dari hujan sudah turun dengan derasnya.
Sampai di depan rumah Sakura, dia sudah sangat basah dan tidak ada lagi terasa kering di tubuhnya.
"Sasuke." Panggil Sakura.
Sasuke menoleh ke arah rumah Sakura dan bergegas masuk.
"Kau basah semua." Ucap Sakura.
"Aku pikir akan tepat datang sebelum hujan turun."
"Uhm, sebaiknya kau masuk dan mengganti baju." Ucap Sakura. Mengajak Sasuke masuk. Sasuke mengikut Sakura masuk dan masih menunggu di depan. "Akan aku ambilkan handuk." Sakura bergegas masuk dan mengambil handuk kering untuk Sasuke.
"Apa kau sengaja tidak membawa payung?" Ucap Naruto, melayang tepat di hadapan Sasuke.
"Aku melupakannya." Ucap Sasuke malas.
"Apa hanya akal-akalanmu saja untuk bisa masuk ke rumah ini."
"Terserah kau saja."
"Kau sudah berani masuk ke rumahku. Keluar!"
"Ini." Ucap Sakura memberikan handuk kering kepada Sasuke.
Sasuke mengambil handuk itu dan mencoba mengeringkan sedikit rambut dan tubuhnya.
"Kau bisa menggunakan kamar mandi untuk mengganti baju. Aku ada beberapa baju yang cocok untukmu." Ucap Sakura.
"Uhm, maaf merepotkan." Ucap Sasuke
Sakura menuntun Sasuke masuk ke dalam rumahnya dan menunjukkan kamar mandi. Ruangan yang cukup luas untuk sebuah kamar mandi. Sasuke mulai membuka bajunya dan memeras untuk mengeluarkan air yang tertinggal di bajunya.
"Ini baju untukmu." Ucap Sakura. membawakan baju kaos dan celana kain panjang.
Sasuke berbalik dan membuat Sakura cukup malu menatapnya. Sasuke sudah bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana basahnya. Tubuh Sasuke begitu bersih dan putih seperti wajahnya. Beberapa pahatan terbentuk pada tubuhnya. Sasuke menatap sejenak ke arah Sakura dan belum juga mengambil baju gantinya dari tangan Sakura. tatapan Sakura menatap ke arahnya dan ada sedikit semburat memerah menghiasi wajah putih Sakura.
"Bos?" Tegur Sasuke. melihat Sakura yang sepertinya tengah melamun.
"Eh, i-ini, pakailah ini." Ucap Sakura, memberi pakaian itu buru-buru dan bergegas keluar. "Uhm, kau bisa menggunakan mesin pengering itu untuk mengeringkan bajumu." Ucap Sakura lagi sebelum dia benar-benar menghilang dari hadapan Sasuke.
"Apa kau sudah senang? Dia bahkan meminjamkan bajuku padamu." Ucap Naruto yang melayang masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku berterima kasih padamu."
"Ya ya, seharusnya kau mengucapkan itu padaku."
"Apa dia selalu terlihat cantik seperti itu?"
"Apa? Jangan coba-coba menggodanya." Ucap Naruto. Sasuke seperti membuat emosinya naik lagi.
"Aku tidak menggodanya."
"Aku masih ada di sini dan aku mengawasimu, ingat itu!"
"Lakukan saja sesukamu. Aku tidak peduli." Ucap Sasuke, menatap cuek ke arah Naruto.
Tok tok tok
"Sasuke apa kau sudah selesai?" teriak Sakura dari luar kamar mandi.
"Sebentar lagi."
"Baiklah, jika kau sudah selesai, segera ke ruang makan yaa." Ucap Sakura.
"Hn."
"Awas saja kau!" Ancam Naruto.
"Apa yang kau akan lakukan? kau bahkan tidak bisa menyentuhku." Ucap Sasuke dan sukses membuat Naruto sangat kesal. ingin sekali dia memukul wajah tembok itu.
Sasuke sudah selesai, memasukkan baju basahnya ke dalam mesin pengering dan membiarkannya mati secara otomatis. Sasuke berjalan keluar kamar mandi dan di sampingnya akan selalu di ikuti Naruto. Sesuai ucapannya Naruto akan selalu mengawasi Sasuke.
"Mungkin sebaiknya kita sarapan di sini sebelum ke cafe." Ucap Sakura. mulai menata beberapa makanan di meja makan dan memanggil Sasuke untuk duduk di kursinya.
Sasuke berjalan mendekati meja makan dan menarik kursi untuk di dudukinya.
"Ternyata baju itu pas padamu yaa." Ucap Sakura.
"Ah, terima kasih."
"Tidak apa-apa, lagi pula jika kau masih menggunakan bajumu kau akan masuk angin. Aku tidak ingin ada pegawaiku yang sakit. Kau tahu, aku harus libur jika tidak ada yang membantuku." Ucap Sakura dan tertawa pelan.
"Aku tidak akan sakit bos, aku akan selalu membantumu." Ucap Sasuke.
"Lagi-lagi menggombal. Cih" Omel Naruto.
Sasuke mengabaikan Naruto dan mulai sarapan dengan tenang bersama Sakura. Serasa mereka seperti pasangan suami-istri yang sedang sarapan bersama dan cukup membuat Naruto sangat cemburu.
Sarapan berakhir, Sasuke membantu Sakura membersihkan piring makan.
"Bos, ada yang ingin ku bicarakan." Ucap Sasuke. Tatapannya terlihat serius.
"katakanlah." Ucap Sakura selesai dengan piring terakhir dan melap tangannya. Menatap ke arah Sasuke yang sedang menatap balik padanya.
"Apa yang ingin kau katakan padanya?" Ucap Naruto dan berdiri di antara Sasuke dan Sasuke. menghalangi pandangan Sasuke dan menatap kesal ke arahnya.
Sasuke terdiam. Sakura yang menatap Sasuke sedikit bingung dan merasa Sasuke seperti tidak menatap ke arahnya.
"Sasuke? ada apa?"
"Uhm, Bisakah... Bisakah lain kali aku mentraktirmu makan?" Ucap Sasuke.
"Mentraktirku?"
"Hn."
"Apa boleh aku memilih tempat? Ada tempat yang sangat ingin ku datangi." Ucap Sakura, dia terlihat cukup senang dengan ajakan Sasuke.
"Tentu."
Naruto melayang berpindah dari tempatnya. Bernapas sedikit lega, Naruto merasa Sasuke seperti ingin mengungkapkan perasaannya kepada Sakura, namun mungkin hanya perasaannya saja.
Beberapa menit berlalu, mereka berdua sudah berada di cafe dan mulai sibuk untuk bekerja. Walaupun cuaca masih saja belum cerah, Sasuke dan Sakura tidak merasa terkendala untuk tetap bekerja. Untung saja di cafe Sakura bisa lebih hangat dari pada di luar. Alat pemanas akan hidup otomatis mengeluarkan udara hangat saat di luar terasa dingin. Suasana cafe jadi terasa santai. Mungkin karena hari hujan dan tidak ada yang mengantri namun cafe itu tetap ramai. Sasuke dengan ramah melayani setiap pelanggan yang datang.
Jam sudah menunjukkan waktu untuk tutup, pelanggan pun sudah tidak ada dan Sasuke mulai membereskan cafe. Sakura masih sibuk di dapur untuk beres-beres dan membuat makan siang yang hangat untuk hari ini. hujan yang turun sejak pagi masih juga belum redah.
"Kau bisa membawa payungku saat pulang." Ucap Sakura.
Mereka tengah makan siang setelah kelar beres-beres.
"Uhm, terima kasih." Ucap Sasuke. meniup perlahan sup jagungnya dan mulai memakannya sedikit demi sedikit.
"Bawa saja baju itu, kau bisa mengembalikannya kapan saja." Ucap Sakura.
"Yaa, bawa saja dan tak perlu kau kembalikan." Ucap Naruto. Baru kali ini Sakura berani meminjamkan bajunya kepada orang lain.
"Besok akan ku kembalikan." Ucap Sasuke.
"Tapi-"
"Tidak apa-apa, besok aku bisa mengembalikannya."
"Uhm, ya sudah, terserah kau saja."
Pekerjaannya selesai dan Sasuke akan pamit untuk pulang, membawa payung Sakura dan berjalan menyusuri jalanan yang lumayan becek dengan derasnya hujan.
.
.
.
.
.
Sesuai janji Sasuke, dia ingin mentraktir Sakura. Hari ini cafe sedang tutup dan Sasuke mengajaknya pergi. Saat akan menjemput Sakura di rumah, Naruto menatap kesal ke arah Sasuke. Entah mengapa Naruto tidak bisa meninggalkan rumahnya kalau bukan menggunakan mobil bak terbuka miliknya, Dia tidak bisa mengikuti Sakura pergi. Sasuke dan Sakura memilih berjalan santai dan mendatangi tempat yang di inginkan Sakura.
Tiba di sebuah kedai. Sakura hanya ingin mencicipi ramen dan tidak lebih dari itu. Mereka memesan dua ramen dengan toping yang berbeda.
"Apa kau hanya ingin memakan ini?" Tanya Sasuke, pikirnya jika Sakura akan mendatangi restoran mewah atau cafe lain.
"Tentu. Asal kau tahu saja, aku masih belum bisa membuat ramen. Sangat susah untuk membuat kuah yang enak dan gurih." Ucap Sakura sambil mencicipi ramennya yang sudah datang beberapa detik lalu.
Sasuke mulai mencicipi ramennya. Enak, ramen yang di makan Sasuke sangat enak, dia bisa merasakan seperti masakan Sakura yang tidak bosan di cicipinya.
"Enak?" Tanya Sakura.
"Hn, ini enak." Ucap Sasuke.
Sakura tersenyum. Seperti yang di katakannya dia akan membawa Sasuke ke kedai ramen yang sangat enak saat mereka akan berangkat. Sebenarnya kedai ini adalah kedai favorit Naruto. Dia yang pertama kali membawa Sakura untuk mencicipinya.
"Dia sangat suka datang ke sini. Bahkan memesan 3 porsi pun dia sanggupi. Dia benar-benar menyukai ramen. Aku uhm... sudah berusaha membuat ramen yang enak untuknya, namun selalu saja gagal." Ucap Sakura.
Sasuke berhenti memakan ramennya dan menatap Sakura yang hanya menatap isi mangkuk ramennya. Sasuke bisa melihat dari pantulan kuah ramen Sakura, air matanya mulai terbendung di sana. Sasuke tahu, jika yang di bicarakan Sakura adalah suaminya, Naruto. Dia masih bersedih meskipun kejadian itu sudah sangat lama. Sasuke merasakan jika Sakura hanya mencoba selalu tegar di hadapan semua orang meskipun kenyataannya dia masih sulit untuk melupakan orang yang sangat di cintainya.
"Kapan-kapan aku ingin mencoba ramen buatan bos." Ucap Sasuke.
"Hee?" Sakura mengangkat wajahnya. Air matanya yang sudah terbendung hilang begitu saja. Menatap ke arah Sasuke yang terlihat serius dengan ucapannya.
"Maukah kau membuatkannya untukku, bos?" Pinta Sasuke.
"Ta-tapi, aku benar-benar tidak pandai membuatnya."
"Aku rasa kau bisa. Kau sangat pandai memasak apapun, hanya ramen biasa saja kau pasti akan bisa." Ucap Sasuke, tersenyum tipis di depan Sakura.
Sakura terdiam dan terlihat tengah berpikir. Ingin meng-iya-kan permintaan Sasuke atau tidak. Dia merasa jika membuat ramen akan membuatnya kembali mengingat masa-masa kebersamaannya dengan Naruto.
"Ma-maaf. Aku sungguh tidak bisa melakukannya." Sakura kembali tertunduk sedih.
"Aku harap penolakanmu bukan karena hal yang akan membuatmu mengingat kembali masa-masa yang sudah lewat."
Sakura terkejut. Kembali mengangkat wajahnya dan masih terkejut dengan ucapan Sasuke. Seakan pegawainya ini bisa membaca pikirannya. Yang di katakan Sasuke benar. Dia hanya takut untuk mengingat. Tidak ada hubungannya dengan kemampuannya bisa atau tidak dalam membuat ramen.
"Akan ku coba, uhm, mungkin nanti." Ucap Sakura pada akhirnya, meskipun masih ada sedikit keraguan di hatinya. Dia akan berusaha melupakan apapun jika mengingat tentang ramen.
"Aku senang mendengar ucapan itu." Ucap Sasuke menopang dagu dengan satu tangannya.
"Kau terlalu memaksa. Apa kau perlu menambah pekerjaanmu, ha?"
"Boleh, Aku harap ada lembur juga." Ucap Sasuke.
Sakura tertawa pelan mendengar ucapan Sasuke. Dia seperti tengah menghibur bosnya yang terlalu larut dalam masa lalunya yang suram.
Suasana yang sangat akrab terjadi di antara mereka. Sasuke tidak pandai bercanda tapi ucapan seriusnya selalu menjadi lelucon ringan untuk Sakura. Dia akan tertawa dan menjadi pemandangan tersendiri untuk Sasuke setiap melihat Sakura tertawa lepas, seakan-akan tidak beban yang sedang di pikulnya.
Hanya beberapa menit saja cuaca menjadi mendung dan hujan turun. Sasuke dan Sakura tengah berdiri berteduh di depan kedai ramen. Memandangi cuaca yang tidak bersahabat.
"Tunggu disini." Ucap Sasuke dan langsung berlari ke arah mini market yang berada di dekat kedai ramen itu.
Sakura tidak sempat mencegatnya dan membiarkan Sasuke pergi begitu saja. Tidak lama kemudian dia kembali dengan membawa sebuah payung besar yang cukup untuk dua orang dewasa.
"Kau sampai repot-repot untuk membeli payung? Aku pikir menunggu hujan ini berhenti tidak masalah kan?"
"Hujan seperti akan lama. Aku rasa kau harus segera pulang, lagi pula anginnya terlalu dingin. Kau akan masuk angin jika lama-lama berdiri depan kedai. Aku akan mengantarmu pulang."
"Uhm, baiklah." Ucap Sakura.
Berjalan bersampingan di bawah satu payung. Hujan turun tidak terlalu deras. Mereka bisa berjalan dengan santai.
"Terima kasih untuk hari ini." Ucap Sakura.
"Ah, aku rasa bos tidak perlu berterima kasih."
Sakura menggelengkan kepalanya "Baru kali ini aku bisa keluar rumah dan makan di kedai ramen itu lagi."
"Aku tidak berniat membuatmu ingat akan apapun di sana." Ucap Sasuke, datar dan to the point. Dia hanya ingin menikmati waktu berduanya dengan Sakura tanpa ada yang mengomel di sampingnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud menceritakan hal yang pernah terjadi di kedai itu." Ucap Sakura.
"Sebelumnya, bukan itu yang ingin ku ucapkan saat berada di rumahmu."
Sasuke berhenti berjalan. Sakura ikut berhenti dan memandangi Sasuke yang menatap ke depan. Sakura masih menunggu apa yang akan di ucapkan Sasuke padanya.
"Aku harap bos akan melupakan apapun di masa lalu dan mencoba bersama orang lain." Sasuke mengubah arah pandangannya dan menatap Sakura dengan serius. Di bawah payung dan hujan yang turun. Sakura merasa sedikit aneh dengan tingkah Sasuke yang tidak biasanya.
"Apa maksudmu?"
"Aku mencintaimu."
Sakura menarik napasnya dalam-dalam dan terlihat sangat terkejut. Dia terkejut dan bahkan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Sasuke.
"Jangan bercanda!" Nada suara Sakura berubah, dia merasa tidak senang dengan ucapan Sasuke.
"Tidak, aku tidak bercanda, aku benar-benar mencintaimu, bos." Ucap Sasuke, wajahnya sama sekali tidak menandakan dia sedang bercanda atau main-main dengan ucapannya.
"Maaf." Ucap Sakura.
Sakura berlari meninggalkan Sasuke, berlari dengan cepat hingga Sasuke tidak bisa mengikutinya. Meskipun Sasuke berteriak untuk meminta Sakura berhenti, dia tidak akan berhenti, Sakura terus berlari menerobos hujan, dia tidak perduli lagi dengan tubuhnya yang sudah basah, yang dia inginnya hanya pulang dan tidak ingin bertemu dengan Sasuke. Entah perasaan senang atau kecewa yang ada di hatinya. Dia merasa tindakan Sasuke itu tidak benar. Dia tidak ingin memiliki pendamping hidup yang baru selain Naruto.
Sasuke hanya menatapnya pergi begitu saja. Terasa sedikit sesak di dadanya, sekali lagi yang di katakan Naruto memang benar, Sakura tidak ingin siapapun di sisinya selain suaminya.
.
.
TBC
.
.
update lagi yaa...
ada waktu kosong seharian jadi di gunakan cuman buat ngetik, hahahha
kok, hahahahhahah harusnya ini jadi humor malah jadi menyebalkan. sedih-sedih nggak jelas, suram-suram nggak jelas, hahahahhahhahah, sepertinya author gagal membuat fic humor, mungkin harus mengganti gendre nya yaa.. haaa.. padahal sejak chapter awal sudah semangat dengan "humor" next chapter, humornya mulai padam dan menjadi suram, aduh.. aduh.. susah banget bikin fic humor yang bisa bikin perut sakit. ini si garing-garing lewat doang. hahhahah.
~balas review~
Niayuki : update lagii...
zarachan : lanjutt.
keenan666 : terima kasih. sudah update yaa
yencherry : halo, ketemu lagi di fic baru heheheh... selamat membaca dan moga suka fic yang ini juga *senang* XD
embun(adja1) : entalah, saku masih terbayang-bayang akan mantan suaminya
sitieneng4 : romancenya otw yoo XD
Nasyaila : oh ya ampuuunnn...! malunya malunya malunya... *kubur diri* te terima kasih atas koreksinya author salah paham, mikirnya pake huruf 'g' semua di belakang ternyata salah. aduh malunya... sekali lagi terima kasih, kalau ada typo parah jangan sungkan-sungkan untuk di koreksi yaa author sebenarnya masih suka salah dalam penulisan... *malu*
Mustika447 : hahahhaa. dia setan yang baik kok, cuman reseh minta ampun ahhahaha
Kirara967 : bisa jadi. tapi nggk mau spoiler, hahahahha
Ucihana rin : ngga lama kok, berusaha untuk cepat update. kalau waktu sedang free hehehhe
Shinju Hyuuga : nggak juga sih, sasu nggak punya kemampuan itu, tapi ini khusus untuknya dia bisa lihat naruto. hanya naruto loh tidak yg lain, ehehe. yups. terinpirasi dari mei dan kotanya heheh, selebihnya karangan bebas, XD
see you next chapter.
