Haah, akhirnya ngapdet chapter 2. Hehehe maapin Macho ya kalau ngapdetnya kelamaan, soalnya Macho mesti ngurus ina-ini-itu di rumah terus belum lagi sekolah baru Macho! Sebel -.- curcol sembarangan.
Okay, sebelum lanjut ke ceritanya, mari kita balas review dulu….
Melody Valentine : Huaa maapkan daku Senpai~ Bukan maksud daku menyinggung anda, maap kalau a/n chap kemarin ngeganggu banget. Jangan dendam sama Macho ya.. #lebay. Ehehe makasih buat reviewnya ya senpai .
FlyGirlz : Anu—kecepetan ya? Maap deh soalnya Macho terlalu semangat #plak. Ohaha sebenarnya Macho buat ciri2nya emang mirip Sasu, padahal bukan lho! Nyehehe dibunuh readers.
Shiho Nakahara : Haha, yang main game itu juga asli cerita dari aku juga. Tapi bedanya adik aku udah 10 tahun, mana nakal pula. Haah ojan-ojan -.- curcol lagi. Hehe ketosnya emang bukan Sasuke, tapi siapa yaa? Yang nelpon? Uhm, baca chap ini deh ^.^
CcloveRuki : Oh begitu ya Senpai, makasih buat kritikkannya . Semoga chapter ini bisa lebih baik dari sebelumnya. Maaf kalau abal-abal, namanya juga pemula..hhe :D
NanaMithrEe : Makasih buat dukungannya! Jujur sih aku sering baca kalau bagian Ketua Osis itu Sasuke, wah maruk bener dia! Makanya aku jadiin dia sahabat jauh Naru #diterkam Sasuke FG. Oke semoga chapter 3 ini tidak mengecewakan anda :D
NaruDobe Listachan : Makasih senpai :D Hehe jadi malu~ #wkaz?. Maap senpai kalau masih banyak typo dll, Macho kurang teliti dan masih termasuk author abal-abal. Hehe, wah yang suka FemNaru banyak juga ya :D
Sudah semuanyakah? Maaf banget ya kalau chapter 2 tidak memuaskan! (daritadi minta maaf melulu, emang mau lebaran?). Macho jadi lebay karena si Sule (?). Oke selamat membaca chapter 3 XD
Naruto's Jurnal
Naruto © Masashi Kishimoto
Naruto's Jurnal © Macho Moshi Moshi
Rate : T
Genre : Romance – Drama (little bit Comedy)
Pair : SasuFemNaru, …FemNaru
Warn : FemNaru, typo(s), OOC, AU, dll. If you mind to read, please read :D
In this chapter, its All Naruto's POV
Chapter 3 – Masalah Baru!
"Hai, Namikaze Naruto. Ternyata tidak susah mencari nomor handphonemu,"
'Su-suara menyebalkan inikan—'
"DEI-NIISAN?" teriakku histeris. Darimana dia tahu nomor ponselku? Padahal mati-matian aku menyembunyikan nomorku. Diakan orang ter-iseng yang pernah ada. Udah gitu suka gonta-ganti nomor lagi. Sedikit info, suara laki-laki bak knalpot bajaj ini bernama Yamanaka Deidara #digampar Deidara FG#. Dia sepupu jauhku yang tinggal di Suna. Sudah kuliah semester 2 di kampus ternama.
"Ehehe ketauan ya?" Ugh, jelaslah ketauan. Suara kayak gitu mau disamain kayak suara emas Ahmad Dhani juga ga akan sama. Hah, aku kira siapa pula yang menelpon. Karena aku sedang banyak pikiran di sekolah, tadinya aku berfikir yang menelponku itu Sasori-senpai atau malah Ketua Osis—
"Oi aku mau minta tolong nih!" seru Dei-nii disebrang sana.
"Bentar, sebelum itu darimana niisan tahu nomor ponselku?" tanyaku heran.
"Dari Sasuke!" jawabnya enteng. Si Teme mulut ember itu sialan!
"Hah, ya udah deh mau minta tolong apa?" tanyaku pasrah.
"Ehehe, gini besok Sabtu tuh Kaasan dan Tousan bakalan dinas keluar kota. Terus aku juga punya urusan kampus yang tugasnya mesti di selesain hari Senin. Ya terpaksa aku harus nginep di rumah temen buat ngerjain tugas. Imoutoku sendirian di rumah jadi aku mau nitipin di rumahmu! Cuman 2 hari 1 malem kok," jelasnya panjang lebar. Apuah? Nitip katanya?
"Hee? Kenapa tidak di panti asuhan atau sodaramu di sana atau—"
"Ummmm—pleaseee~ Ayolah aku tipe orang paranoid! Apalagi di sini aku ga punya saudara selain dirimu bung! Imoutoku juga takut dengan orang asing dan lagi dia itu—"
"Haaah! Okeoke, apa boleh buat aku bersedia!" ckck, jawabanku seperti sedang menjawab lamaran pernikahan dari orang saja (?).
"Yay! Jemput kami di bandara okay! Oh ya aku sudah memesan tiket kemarin. Jemput kami jam 10 pagi ya! Jaa~"
TUT!
"Uggyaaaa~" teriakku frustasi. Niatanku bermain game pupus sudah. Memangnya ini tempat penitipan anak? Dan lagi, kalau misalnya dia mengantarkan Imoutonya ke sini, berarti dia harus balik lagi naik pesawat ke Suna dong? Dasar orang kaya boros duit!
Aku menghempaskan diriku di atas kasurku. Baiklah Naruto, sabar…sabar! Mungkin ini cobaan agar kau mendapat amal baik. Apa susahnya sih mengurus seorang anak kecil? Oh iya aku lupa, Dei-niisan mempunyai adik perempuan bernama Yamanaka Ino. Dia tuh gadis berusia 6 tahun yang sudah menggilai Morgan SM*SH yang pernah aku ceritakan kepada kalian. Kecil-kecil cabe rawit, bahkan dia mengharapkan memiliki kekasih seperti Morgan itu. Waduuuhh, dasar anak kecuuil! Aku harap dia dijodohkan saja dengan Kyuubi. Mereka berdua cocok sekali. Sama-sama menyebalkan.
Aku harap Sabtu bisa kujalani seperti hari-hari biasanya.
…..
…..
"Kyyaaaa! Aku lupa kalau hari Sabtu aku harus jemput TemeTomat!" teriakku setelah otak lemotku menloading apa yang ada dipikiranku sedari tadi.
And the next day…
"Sekian pengarahan dariku, Terimakasih." Ucap si Ketua Osis menutup pidatonya. Lalu disambut teriakan histeris dari para gadis dan tepuk tangan meriah. Tak kusangka pidatonya tidak lebih dari 5 menit pun sudah. Memang sangat irit kata dan efisien (?). Lalu disambung oleh wakil ketuas Osis, Danzo Sai. Saat dia membawakan pidatonya, dia terlihat tersenyum ramah dan berkata, "Gadis-gadis tahun ini manis-manis semua ya," gombal-gombal kuadrat. Ternyata 'pangeran' es yang satu ini sudah berubah menjadi pangeran murah senyum. Kulihat juga Sakura ikut berteriak histeris melihatnya. Apa dia sudah mulai melupakan Sasori-senpai?
"Hey Saku, kau menyukai Sai-senpai ya?" tanyaku tiba-tiba. Sakura yang berada di sebelahku seketika menoleh ke arahku dengan mata yang membulat.
"Ekhh? Ehehe iya sih! Dia kalau senyum itu guanteng banget lho!"
Haaa, sepertinya aku sudah tahu jawabannya. Sekarang aku mulai mengerti apa yang dimaksud dari film-film di sinetron apa itu 'cinta monyet'.
Mulai dari hari ini, aku terlihat sangat tidak bersemangat. Aku jadi kurang memperhatikan apa yang disampaikan sebagian guru-guru pengajar dan Kepala Sekolah. Yang kupikirkan adalah hari besok. Uuuhh apalagi perkataan Kaasan dan Tousan tadi pagi.
Flashback
Pagi-pagi aku sempet nonton tv dulu sambil sarapan sereal. Sekolahku mulai pukul 8 jadi masih sempat nonton film kartun pagi-pagi. Lagi asyik-asyiknya menonton, Kaasan datang memanggilku.
"Naru-chan, sedang apa?" tanyanya basa-basi. Sedang nyuci baju Bu, yaaa lagi makan atuh (?) masa gitu aja ditanya?
"Kaasan mau bilang apa?" tanyaku to the point. Aku tau kalau Kaasan udah mulai merajuk atau menanyakan hal-hal yang menurutnya hanya sekedar basa-basi, pasti ada maunya.
"Kaasan dan Tousan harus berangkat menuju pernikahan sodara jauh Kaasan di Amegakure besok pagi-pagi sekali! Dan kemungkinan harus nginep selama 3 hari 2 malem. Kamu bisakan jaga Kyuu di rumah?"
Glek! Aku hampir keselek mangkok sereal. Aku langsung mengalihkan pandanganku dari layar tv dan melihat Kaasanku yang memasang 'puppy eyes'. Haaa~ Kami-sama, apakah tiada hari bersantai untukku besok? Dan Tousan pun menghampiri kami sambil membenahi jas kantornya.
"Oh ya, kemarin malam Ayahnya Dei menelponku. Dia mau menitipkan Ino di sini. Kau tidak keberatankan menjaga mereka berdua?" tanya Tousan. Aku sih sudah tahu, tapi—masalah keberatan itu, aah biarlah aku ikhlas saja.
"Sasuke juga mau ke sini ya? Ohh bagus kau ada teman Naru-chan, kau jemput ya Naru-chan! Kasihan Sasuke bisa kalang kabut sendiri kalau berada di Konoha! Diakan jarang sekali berkunjung ke sini!" aku juga sudah tahu akan hal itu.
"Ga apa-apa deh. Naru mau jaga mereka berdua dan jemput Sasuke deh!" jawabku dengan nada pasrah. Membantu orangtua memang haruskan? Aku gamau dikutuk kayak Malin Kundang suatu saat.
"Wah bagus deh kalau begitu, Arigatou Naru-chhaan~"
Haaa, jadi kelewat nonton Spongebob deh. Ehm—dan jangan tanyakan kenapa aku masih suka Spongebob. Aku rasa besok adalah hari-hari yang merepotkan (Shikamaru: Trademarkku itu! Mendokusei~).
End of Flashback
"Kenapa murung Naru-chan?" tanya Sakura yang sedang menikmati makan siangnya. Kali ini aku menghabiskan waktu makan siangku di kelas. Aku malas ke kantin, penuh, sesak, dll. Aku merasa tidak lapar karena aku memang tidak mood untuk makan siang.
"Enggak kenapa-kenapa kok. Besok sepupuku akan datang ke rumah, hanya itu saja.." jawabku enteng.
"Oh Dei-nii ya? Tumben dia datang ke rumahmu Naru?" sahut Sakura.
"Bukan Dei-nii sih tapi adiknya, Ino!" ralatku. Kulirik sekilas Sakura tersenyum kepadaku.
"Aku rasa aku tahu kenapa kau bad mood hari ini. Besok kau harus mengurus 2 anak kecil sekaligus ya? Sabar ya! Hmm, gimana kalau besok aku datang ke rumahmu? Aku bisa 'mati kutu' di rumah karena ga ada temen. Boleh ya?"
*Bling* Apa? Benarkah? Aku menoleh ke arah Sakura yang tengah tersenyum tulus kepadaku.
"Benarkah? Ohhh beruntung sekali aku! Tentu saja boleh, hehehe akhirnya aku ada teman juga~" seruku senang lalu memeluk Sakura. Sakura terkikik kecil.
"Iyaya, aah sudah lebih baik kau makan siang dulu deh! Nanti kau bisa mati kelaparan saat pengarahan berlangsung!" guraunya hiperbolis. Kami-sama, terimakasih. Akhirnya aku punya teman untuk mengurus bocah-bocah kecil itu.
"Hehehe dasar SAI-senpai!" gurauku. Kulihat wajah Sakura merona dan melepaskan pelukanku.
"Shuuut diem Naru! Nanti kedengeran anak-anak yang lain~" ucapnya sambil membungkam mulutku dengan tangannya.
"Bodoh! Yang ada di kelas ini cuman kitakan?" cletukku. Beginilah jadi orang SalTing, bisa menjadi eror kalau kau memikirkan orang yang kau suka. Hmm, apa aku juga akan merasakan yang namanya SalTing ga ya? Tapi akhir-akhir ini belum pernah tuh.
Ahh lupakanlah.
And the 'Day Care' will begin…
Konoha's Airport
Pukul 09.30 pagi. Masih ada sisa waktu setengah jam lagi. Syukurlah aku masih bisa santai-santai. Kali ini aku sedang duduk di sebuah café sambil menunggu Sakura, dia janjian denganku akan menemaniku mengurus Kyuu dan Ino di rumahku. Sekalian bisa main bareng juga. Ah tentu saja aku tidak melupakan si TemeTomat itu. Hn, aku ingin tau apa reaksi Sakura jika bertemu dengan Teme. Tapi diakan menyukai Sai! Aaah Sai dan si Teme itu mempunyai ciri-ciri yang hampir sama. Hanya model rambutnya saja yang berbeda. Lho kok aku jadi membedakan keduanya?
"Naru-chan~ Sudah lama menunggu ya?" teriak seseorang dari kejauhan. Kulihat Sakura berlari kecil ke arahku. Dia mengenakan baju serba pinky selaras dengan warna rambutnya. Tanktop putih dan dia memakai rodeo pink, rok diatas lutut, dan sepatu berhak. Aku rasa Sakura mulai berbeda dari yang dulu. Dia terlihat lebih dewasa dengan rambut pink panjangnya –ralat- dengan mode berpakaiannya.
Atau hanya perasaanku atau aku saja yang tidak dewasa-dewasa. Jujur aku masih suka baju Spongebob, Hello Kitty, Disney, dkk. Gaaah DVD Dora The Explorer masih kusimpan juga! Memalukan memang, tapi kenyataannya begitu.
"Hai Saku! Ga kok, aku juga baru nyampe!" jawabku. Penampilanku dengan Sakura beda jauh. Kali ini aku mengenakan kaos orange berlengan panjang yang bergambar anak kucing dan anak anjing, lalu jeans hitam, serta sepatu warrior yang tingginya dibawah lutut. Dari style dan tinggi badan, aku memang lebih cocok jadi anak SMP.
"Syukurlah, eh Naru-chan aku mau curhat nih~" yaaa mulai lagi dia. Kali ini aku mulai mendengarkan curhatannya yang menceritakan tentang Sai-senpai dst. Sakura ini sering sekali jatuh cinta kepada setiap lelaki ya? Aneh sekali, gimana jadinya kalau dia punya kekasih? Haaa akan jadi rumit nantinya.
30 minutes later
"Nalu-neechaan~" teriak seorang bocah perempuan berambut pirang pucat dikuncir kuda sambil membawa ransel kecilya lalu berlari kearahku dan memeluk pinggangku. Kuakui kalau dia memang anak yang manis, tapi sebenarnya jika dia sudah cerewet dan seenaknya saja, sudah termasuk dalam kategori anak menyebalkan.
"Ah Ino-chan, sudah lama tidak bertemu! Mana Dei-nii?" tanyaku sambil menengok kanan-kiri.
"Dei-nii balik lagi, katanya dia halus ketemu sama Do—Do apa ya? Doo.." dasar gadis cadel dan gatau apa-apa.
"Dosen maksudmu?" tambahku. Lalu dia mengangguk-angguk. Haa sudahlah.
"Eh? Itu siapa?" tanya Ino sambil menunjuk-nunjuk ke arah Sakura. Dasar anak ga sopan!
"Aduh, jangan nunjuk-nunjuk begitu dong! Ini temen Naru-nee, namanya Sakura! Ayo beri salam sama Kak Sakura," bujukku.
"Hallo, Namaku Yamanaka Ino yang lucu cekali!" Dasar sok imut kau! Gerutuku dalam hati. Sakura terkikik kecil lalu mengelus rambut pirang Ino.
"Namaku Haruno Sakura, waah kau ini sangat manis ya!"
"Makasih neechan! Neechan juga manis, tapi kok beda ya ama Nalu-neechan! Nalu-nee pendek tapi kok Sakula-nee tinggi ya?"
Kurang ajar! Budak semprul kau, enak ya masih kecil bisa ngomong innocent, kalau kau bukan anak kecil sudah kuhajar kau!
"Hahaha, aah sudahlah ayo kita ke rumah! Naru-chan, ayo kita langsung pulang," seru Sakura. Aha, hampir aku lupa meninggalkan dia!
"Tunggu Saku, aku masih harus nunggu temanku dari Suna!" ucapku.
"Siapa Naru?" tanya Sakura. Tak lama kemudian, datanglah si Teme. Panjang umur dia, baru aku omongin. Dengan coolnya dia berjalan menuju ke arah kami sambil menenteng ransel hitamnya dan jaket hitamnya. Gah kenapa si Teme harus memasang wajah seperti itu sih?
"Hey Dobe, lama tidak berjumpa!" sapa Sasuke sambil memasang senyumannya. Dan bisa kulihat wajah Sakura memerah. Tak terkecuali bocah cerewet ini. Sakura yang berada di dekatku bergumam pelan, "Gila ganteng banget," dan Ino langsung berteriak gaje di hadapan kami.
"Hwaaaa cowok cakep! Cakep, Ino cuka cekali~" Aaah aku malu harus berdekatan dengan bocah ini. Tapi Sasuke tidak menampilkan reaksi apa-apa. Tetap datar kayak aspal di jalanan.
"Teme, kau itu jadi orang jangan tinggi-tinggi dong! Jadi susah ngeliatnya!" ketusku. Tingginya saja sudah mencapai 170-an. Bagaimana aku tidak harus mendongkak kalau berdekatan dengannya.
"Kau saja yang cebol. Gayamu juga ga berubah, rambut pirang diiket dua kayak anak kecil Dobe. Lucu," cletuknya. Grrr—kalau aku udah tinggi nanti, aku sepak kau jauh-jauh.
"Sudahlah Teme, aku tidak mau berdebat! Kenalkan teman sekolahku, Haruno Sakura! Dan ini sepupuku, ingat? Yamanaka Ino!" jelasku. Sasuke hanya tersenyum tipis mendengarnya.
"Ha-Haruno Sa-Saku-kura! Sa-salam ke-kenal Sa-Sasuke-san!" ckck, sepertinya sakura menyukai Sasuke deh.
"Uchiha Sasuke. Salam kenal." Jawabnya datar.
"Huh, Teme juga tidak berubah! Datar, dingin, sok cool, irit kata, bahkan kayak orang sariawan!" ujarku.
Ctak! Sasuke menyentil dahiku kecil lalu berjalan melewatiku.
"Ayo kita pulang ke rumahmu Dobe. Aku rindu suasana masa kecil," ujarnya. Haah, kau saja yang cepat tua Teme! Uhh. Kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah dan menggunakan taxi. Sepanjang perjalanan, Sakura terus berbisik-bisik kepadaku. Kulihat si Teme masih asyik mendengarkan mp3 dari I-Podnya. Dan tentu saja dia duduk dibangku depan. Sementara itu Ino mengoceh-ngoceh sendiri entah kepada siapa. Khas anak kecil.
"Umm—Naru-chan, kenapa kau tidak pernah memberitahuku bahwa kau punya teman jauh? Ganteng pula. Apa dia masih single?" bisiknya pelan. Kenapa bertanya kepadaku? Tanya saja sendiri.
"Ya Single. Kenapa kau tidak tanya?" jawabku pelan. Sakura tersenyum malu-malu. Mau kau kemanakan Sai-senpai yang sempat kau gilai itu hah? Huft, Sakura…Sakura.
Sesampainya di depan rumahku, kami pun turun dari taxi dan Sasuke membayar ongkosnya. Dia memang menyebalkan tapi baik –sedikit- aku merasa dia mengalami sedikit perubahan. Dia jadi lebih perhatian. Maksudku apa ya? Ya begitu deh!
"Silahkan masuk Sakura, Teme, Ino!" ucapku dan Sasuke pun memberikanku death glarenya andalannya. Tapi ga mempan tuh padaku.
"Panggil namaku yang benar Dobe!" aku mengerucutkan bibir bawahku.
"Iyayaya !" jawabku ketus. Lalu dia menaruh telapak tangannya di atas kepalaku. "Anak pintar," kau kira aku bodoh hah? Tuhkan dia perhatian. Perhatian sebatas sahabat yang kurasakan, atau mungkin—lebih?
"Ehh sudah singkirkan tanganmu! Ayo kita masuk!" lalu kami memasuki rumahku. Ino terlihat girang sekali berada di dekat Sasuke. Berpuluh-puluh pertanyaan dilontarkan kepada Sasuke, tapi Sasuke hanya menjawab "Hn" saja. Dasar.
"Sasuke, kau tidur di kamar tamu ya!" seruku sambil membuka pintu kamar tamu yang kadang-kadang suka ditempati saudara Tousan.
"Kukira kau akan menyuruhku tidur denganmu," katanya dengan seringaian di wajahnya.
"TEMESUM!" (baca: Teme Mesum). Bagus aku punya ide kalau panggilan Teme yang artinya brengsek sudah kuubah menjadi TeMe (yang artinya di atas tadi).
"Bercanda Dobe," ujarnya lalu memasuki kamarnya sambil menyimpan barang-barangnya. Pengen rasanya menendang si Teme itu. Dan Sakura langsung menarik tanganku dan dia memasang wajah berbinar kepadaku.
"Naru-chan~ Dia keren gila, apalagi seringaiannya itu lho. Ughh, Oh iya kayaknya aku harus pulang ada urusan mendadak! Kalau begitu sampai jumpa!"
"Iya sampai jum—APA? Kenapa?" teriakku. Kulihat Sakura berlari keluar rumah sambil memencet hidungnya. Sempat kulihat dia mimisan entah kenapa. Aneh dasar! Setelah itu Teme keluar dari kamarnya lalu menutup pintu.
"Kemana temanmu yang berambut pink itu?" tanyanya. Tumben dia bertanya soal perempuan lain selain—aku..
"Pulang. Katanya ada urusan mendadak, Hah kau lapar tidak? Atau haus? Kau mau kubuatkan apa?" tanyaku.
"Memangnya kau bisa memasak? Setauku kau itu payah dalam soal memasak," ejeknya. Nyesel aku menawarinya makan. Memang benar sih perkataannya itu, aku lemah dalam hal memasak-dimasak (baca: orang memasak daging ayam, anda mengerti? Orang sedang memasak dan daging ayam yang dimasak. Ahh lupakanlah, Ga penting sama sekali dan ga ada hubungannya).
"Huh, kalau begitu ya sudah ga usah!" ujarku ketus.
Plok! Sasuke kembali mengelus kepalaku. Haaa, kenapa sih banyak orang yang seneng ngelus kepalaku?
"Kau memang sama sekali ga berubah Dobe. Lugu dan polos seperti dulu, kapan kau bisa dewasa Hn?" A—ah kenapa tatapan mata onyxnya begitu—indah? Cepat-cepat aku menggeleng kepalaku. Aku ga boleh seperti ini. Kualihkan pandanganku ke arah Ino yang sedang asyik bermain bonekanya Kyuubi. Untung Kyuubi sedang bermain di rumah temannya yang tak jauh dari rumahku.
"Ba-baiklah kalau begitu akan kubuatkan kau nasi goreng tomat deh!" jawabku. Dia tersenyum. Tersenyum lagi? Kurasa Teme sudah mau bertobat ya? Senyum itukan ibadah!
"Hn. Buat yang enak ya," gaah rasanya kami seperti sepasang suami istri saja. HHAA? Lupakan! Aku beranjak menuju dapur, kubuka kulkas, hanya ada sayur-sayuran mentah, susu, dan buah jeruk. Di Freezer ada es batu. Aduh, dan aku buka lemari yang ada di dapur. Cuman ada sereal cokelat Kyuubi dan susu bubuk. Ginilah kalau sedang krisis makanan, tadi malam Kaasan membuat Sukiyaki yang porsinya banyak sekali. Dia bilang sayang kalau tidak dihabiskan dagingnya bisa mubazir. Kaasan memang bukan orang yang memikirkan masa depan apa ya?
"Bahan makanannya habis.." gumamku sedih. Galau sudah. Terpaksa aku harus membeli bahan makanan di luar. Kuingat Kaasan menitipkan uang belanja kepadaku di lemari yang berada di dekat ruang tv. Hah, ternyata Kaasan adalah orang yang memikirkan masa depan (?).
"Teme, bahan makanannya habis. Kita beli bahan makanan di supermarket ya!" ucapku.
"Hah, baiklah. Sekalian jalan-jalan untuk melihat keadaan kota Konoha sekarang," jawabnya setuju. Kalau dilihat-lihat, Teme memang dewasa ya. Tidak seperti aku yang belum terlihat dewasa. Huh. Lalu Teme kembali ke kamar mengambil jaket, dompet, dan ponselnya.
"Neechan mau kemana? Pelgi kemana?" yaaa setidaknya aku tidak bawel dan kekanakan seperti dia.
"Ino-chan temani Naru-nee dan Sasu-nii belanja ya!" jawabku.
"Asyiik! Nanti Ino boleh beli pelmen ga?" tanyanya. Hadooh, permen pun diminta, di warung juga banyak! 3 permen cuman gopek (?).
"Boleh kok! Tapi jangan nakal dan jangan minta yang macam-macam sama Sasu-nii!" perintahku.
"Bhuu, aku ga boleh minta cium sama Sasuke-nii ya?"
Anak kecil menyebalkan!
At Konoha's Market
Kami bertiga berjalan bersama menuju kota dimana banyak toko-toko yang menjual berbagai macam barang, lalu ada kedai makanan, dan menjual bahan pokok untuk memasak. Ino terlihat senang sekali minta digendong si Teme. Hah, tapi biarlah yang penting dia tidak rewel dan berisik.
"Ah itu dia tokonya, ayo kita ke sana Teme!" sahutku sambil berjalan menuju toko yang biasa Kaasan dan aku kunjungi untuk membeli bahan pokok makanan sehari-hari.
"Hn," jawabnya. Masih tetap dingin. Kalau Teme ulang tahun aku kasih kompor sekalian biar panas. Belum kami sampai di toko tersebut, seorang pemuda tanpa sengaja menabrakku. Aku terjatuh duduk karena notabenya dia lebih tinggi dan kuat dariku.
"Ittai, hei lihat-lihat dong kalau ja—"
"Namikaze?" panggilnya.
"Eh?" aku mendongkakkan kepalaku dan melihat pemuda berambut merah bata dengan mata emerald mengulurkan tangannya sambil membungkuk.
"Kau tidak apa-apa?"
Ketua Osis?
"Gaara-senpai!"
TBC
Ya cukup sampai di sini dulu karena sekarang sudah jam 11 malam. Huuaa ga kerasa chapter 3 si KeTos akhirnya Gaara juga. Oke silahkan ripiuw ya :D
REVIEW please ;)
Arigatou sudah membaca pick gajeku XD
