Udah chap 3.. Hoho.. ^^
Thanx yang uda review yah! Arigatou..
SUKI SUKI CHAPTER 3
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: GaaSaku, SasuSaku, SasoSaku, NaruSaku.
Warning: Don't like, Don't read!
(Normal POV)
Pagi ini secerah hati Sakura. Entah napa hatinya senang sedangkan masalah kemarin masih ada dalam pikirinnya.
Sakura gak boleh sedih! Harus kuat! Batin Sakura dalam hati. Walau hari ini ibunya tidak satupun keluar kamar, Sakura tetap ingin berjualan tahu. Dia tau, kalau tahu-tahu ini tidak dijual maka hari ini ibunya dan dia tidak akan bisa makan.
Sakura berjalan sendiri sambil membawa tahu-tahu yang dijual. Angin yang berhembus menghempaskan rambutnya berwarna pink. Sakura bersyukur, untungnya pagi ini cerah. Karena bila cuaca buruk hatinya pun ikut buruk.
Ditengah jalan dia bertemu dengan seseorang yang sepertinya dia kenal.
"Ah .. Hai" sapanya.
"Hai juga. Terima kasih atas waktu itu" Senyum sakura pada laki-laki berambut kuning yang membuatnya sedikit terpersona dengan senyuman Sakura.
Ternyata laki-laki ini adalah murid sekolah Konoha High School yang pernah ditanyai Sakura tentang ruangan guru.*Chap 1*
"Yah. Sama-sama. Hmm.. Kenalkan aku Uzumaki Naruto, panggil saja Naruto. Kamu?" tanyanya sambil mengulurkan tangan ke arah Sakura.
"Aku Haruno Sakura. Panggil saja Sakura." Jawab Sakura mejabat tangannya.
"Nama yang bagus." Puji Naruto. Membuat muka Sakura muncul semburat merah.
"Ma..Makasih."
"Hmm.. Sakura-'chan' mau kemana dengan bawaan seberat itu?" tanya Naruto.
"Mau berjualan tahu di depan sekolah Konoha" jawab Sakura.
Ternyata Sakura cewek yang beda yang pernah aku temui. Batin Naruto.
"Mari aku bantu."
"Ngg.. Ta.. Tapi.."
Naruto langsung membantu mengangkat barang-barang yang berisi tahu itu dari tangan Sakura.
"Makasih Naruto."
Dari kejauhan terlihat sebuah mobil yang melihat Naruto dan Sakura dari kejauhan yang ternyata mobil ayah Naruto.
"Dasar anak itu. Mentang-mentang ada cewek cantik langsung pergi begitu saja. Haha" senyum namikaze minato.
-flashback-
Ayah naruto yaitu namikaze minato pergi mengantar Naruto ke sekolah Konoha High School dengan Mobil mewah mereka.
Ditengah perjalanan..
"Ng.."
"Naruto, sudah beberapa hari ini kamu tak semangat. Sekali-kali refresing pergi dengan cewek kamu dong."
kata Namikaze pada anaknya yang sejak tadi bosan memandang luar jendela mobil.
"Tou-san, aku lagi tak butuh seseorang untuk refresing." jawab Naruto dengan lesu.
Tiba-tiba Naruto melihat seseorang yang lewat.
Eh? Itu bukannya cewek waktu itu. Batin Naruto.
"TOU-SAN BERHENTI" Teriak Naruto.
CKIIIIIIIIT
"ADA APA NARUTO? KITA MENABRAK ORANG?"kaget Namikaze.
Naruto tidak menjawab dan langsung membuka pintu dan berlari ke arah seorang cewek.
Namikaze yang melihat tingkah laku naruto hanya bisa menertawainya.
Katanya lagi tak butuh seseorang untuk refresing. Batin Namikaze.
Namikaze yang melihat Naruto sudah bersemangat kembali ketika bertemu dengan cewek tadi. Akhirnya Namikaze menghela nafas. Sepertinya musim semi Naruto sudah datang. Batin Namikaze.
-Flashback end-
(Sakura POV)
"Naruto kita sudah sampai. Makasih atas bantuannya yah Naruto-'kun'." Senyumku pada Naruto.
"Sama-sama. Kalau begitu aku masuk kelas dulu yah. Sepertinya aku telat."
"Yah."
Melihat Naruto sudah pergi aku segera menyusun dagangan yang akan dijual. Tiba-tiba seorang datang.
"Selamat dat...." aku terdiam ketika seseorang yang datang itu ternyata kakek-kakek yang kemarin yang aku tolong.
"Sakura, bisakah kita bicara?" tanya kakek itu.
Lalu kakek itu aku persilakan duduk di kursi yang telah aku sediakan.
"Kamu benar anak Haruno?"
"Ya"
Kakek itu lalu terdiam dan lalu melanjutkan pertanyaannya.
"Sekarang ibumu dimana?"
"Ibu ada dirumah"
"Ayahmu?"
Aku lalu terdiam. Sebenarnya aku tak ingin membahas tentang ayah. Tapi untuk mencari tau yang sebenarnya terjadi aku terpasak harus memberitahukan ke kakek itu.
"A.. Ayah sudah lama meninggal."
Kakek itu terdiam. Setelah itu dia berbicara lagi.
"Sudah berapa Lama?"
"13 tahun lalu"
Kakek itu menghela nafas.
"Apakah kamu sekarang sekolah?"
"Sebulan lalu saya berhenti sekolah dan pindah ke konoha. Saya berhenti karena ngak mau membebani ibu."
"Sudah berumur berapakah sekarang sakura?"
"16 tahun"
Kakek itu terdiam.. Lalu melanjutkan pertanyaannya..
"Apakah setiap hari kalian menjual tahu-tahu itu?"
"Ya"
Kakek itu lalu menangis. Aku yang kaget ketika kakek itu menangis tidak harus berbuat apa.
"Maafkan kakek yang sudah menyebabkan ini semua Sakura"
Apa maksudnya? Apa yang di lakukan kakek ini padaku.
"Kakek akan cerita apa yang sebenarnya terjadi." jawab kakek itu.
Lalu kakek itu cerita bahwa sebenarnya kakek itu adalah ayah dari Haruno yang berarti ibu aku. Waktu kakek melarang ibu menikah dengan ayahnya karena hanya tukang tahu, ibu kawin lari dengan ayah. Itu karena kesalahan kakek yang memaksa menikah dengan jodoh yang dipilih kakeknya.
"Seandainya aku bisa memperbaiki ini semua, aku akan memperbaikinya. Maka tidak akan terjadi begini" jawab kakek itu sambil menangis. Aku yang hanya bisa terdiam pun akhirnya bicara.
"Masa lalu yah masa lalu. Walaupun berakhir begini tetap harus dijalani. Kakek bisa memperbaikinya bila kakek sudah mengaku salah."
"Kakek mengaku salah. Kakek akan memperbaikinya. Maka dari itu kakek ingin kamu dan ibumu tinggal di rumah kakek. Kakek akan menjemputmu besok pagi"
Kakek itu langsung pergi. Dan saat ini aku masih melamun. Tinggal dirumah kakek? Bagaimana dengan ibu? Apakah dia setuju kalau tinggal dirumah kakek?
huuft.. Sudah waktunya pulang. Bagaimana aku harus menjelaskan pada ibu. Bahwa tadi kakek menemuiku.
"Sakura" Panggil seseorang.
"Naruto? Kok ada disini?" Tanya ku kaget.
"A..Aku dari tadi menunggumu disini." jawab Naruto dengan wajah sedikit memerah.
"Biar aku yang bantu. Cewek gak boleh bawa barang berat"
"Makasih Naruto."
Naruto menungguku disini? hanya untuk membantu barang bawaanku? Benar-benar cowok yang baik.
Sesampai dirumah..
"Makasih Naruto."
"Eits.. Sakura-chan kamu terlalu banyak mengucapkan terima kasih. Saya jadi merasa bersalah" (?)
"Gomen Naruto, saya ngak bermaksud begitu, cuma.."
"hmm.. Bagaimana sebagai tanda terima kasihnya, aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke taman besok siang karena besok hari minggu. Bolehkan Sakura?"
"Ng.. Ya.. Besok aku juga gak ada kerjaan juga."
"Apa perlu aku jemput?"
"Tidak usah naruto-kun, kita ketemu saja di taman."
"Baiklah, aku tunggu jam 1 yah di taman. Bye Sakura" Naruto berbalik pergi sambil berjalan menari-nari. (?)
(Naruto POV)
Sakura.. Sekarang lagi ngapain yah? Apakah dia lagi makan? Tidur? Atau mandi? Walau baru ketemu, rasanya seperti tidak ketemu 1 tahun. Sekarang isi kepalaku cuma hanya Sakura. Apa jangan-jangan aku..
Tok..tok..tok..
"Masuk"
"Naruto.. Tadi kok gak ikut Tou-san naik mobil sih? Malah ninggalin Tou-san." Tanya tou-san
"Ah iya, aku baru ingat tadi aku ikut Tou-san."
"Jadi baru ingat sekarang nih?" kesal tou-san walau hanya pura-pura kesal.
"Iya." Jawab aku sejujurnya.
"Huh! Mentang-mentang ada cewek cantik langsung melupakan tou-san. Hmm, ngomong-ngomong siapa nama cewek cantik itu?" Goda tou-san.
"Haruno Sakura ,tou-san."
"Nama yang indah. Naruto-chan, kenalkan pada ayah yah?"
"Ehem.." Seorang wanita yang berdehem membuat Tou-san dan aku terkejut yang ternyata adalah kaa-san atau kushina.
"Kaa-san?"
"Honey?" kaget Tou-san. *lebay ah nieh namikaze*
"Huh! Tou-sanmu gag setia lagi nieh ma Kaa-san" manja Kaa-san pada ku. Hehe.. Beginilah keluarga kami. Keluarga yang lebay.
(Sakura POV)
"Ibu.." Sejak tadi aku memanggil ibu, juga tidak keluar dari kamar. Ibu tidak makan sejak pagi. Aku sangat cemas kalau ibu ada apa-apa.
"Ibu.. Tadi Sakura bertemu dengan kakek itu lagi. Kakek sudah mengaku salah atas perbuatannya melarang ibu nikah ama ayah. Ibu.. "
Cklek
Pintu yang sejak tadi terkuncipun terbuka. Ibu berdiri didepan pintu dan tiba-tiba memelukku.
"Seharusnya ibu yang minta maaf pada kakek karena telah meninggalkan kakekmu sendirian. Ibu tak sanggup harus bertemu dengan kakek karena kesalahan yang pernah ibu dan ayah lakukan." jawab ibu sambil menangis.
"Ibu.. Kakek dan ibu memang sama-sama melakukan kesalahan. Tapi kakek juga sudah mengaku salah. Apakah ibu juga mengaku salah atas kelakuan ibu."
"Iya sakura. Ibu bersalah telah meninggalkan orangtua ibu sendirian."
"Ibu.. Kakek mengundang kita untuk tinggal dirumahnya"
Ibu lalu terdiam. Lalu menangis lagi.
"Sakura. Maafkan ibu. Ibu gak bisa menemanimu untuk tinggal di rumah kakek. Ibu sudah janji kepada ayah, ibu akan tetap dirumah ini untunk menjaga warisan satu-satunya rumah ini."
"Kalau begitu, Sakura akan tetap disini ibu. Bersama ibu."
"Tidak Sakura. Kamu tetap harus tinggal dirumah kakekmu. Kakekmu sudah lama bertahun-tahun tidak ada yang menemani. Mungkin dia akan membutuhimu dari pada ibu"
Aku lalu diam. Apa yang harus kupilih. Tapi kalau aku ke tempat kakek bagaimana dengan ibu?
"Tenang Sakura. Sebentar lagi sepupumu, Sai juga akan pindah ke sini tinggal bersama ibu. Jadi ibu ngak akan kesepian."
Sekarang aku sudah tenang kalau ada kak Sai sih, aku yakin ibu akan baik-baik saja. Aku lalu melepaskan pelukan ibu lalu mengangguk bahwa besok aku akan pergi. Setelah itu lalu aku membereskan barang-barangku.
-Keesokan paginya-
Kakek sudah datang menjemput dengan sebuah mobil.. Hah? Mobil keluaran terbaru? Ya ampun.. Itu bukan mobil yang bisa dibilang murah. Tetangga rumah pun banyak yang datang untuk melihat mobil mewah itu. Sepertinya kakek tidak datang.
"Nona Sakura?" tanya seorang bapak-bapak.
"Ya?"
"Aku datang menjemput nona."
"Ah iya." Aku mengambil barang-barangku tapi bapak-bapak tadi membantu mengangkatnya masuk ke mobil. Lalu aku beralih ke ibu.
" Ibu. Sakura pamit dulu yah."
"Iya. Jaga dirimu baik-baik Sakura." lalu aku mencium pipi ibu dan berbalik pergi meninggalkan ibu dan masuk ke mobil.
Selama perjalanan, aku hanya bisa diam.
"Nona, cucu dari tuan Sarutobi?" tanya bapak bapak yang tadi bertanya padaku sambil menyetir mobil
"Iya"
"Perkenalkan saya supir pribadi dari tuan Sarutobi, Iruka umino."
".. Pak Iruka. ng saya.." aku terlalu gugup hingga jawabnya dengan terbata-bata.
"Tidak usah terlalu gugup nona Sakura. Anggap saja kita sudah lama Bertemu." Senyum Iruka sambil menyetir.
"Ya. Pak iruka."
-Sesampai didepan pintu gerbang Sarutobi-
hwaa.. Besar kali. Pagarnya setinggi 30m bakan lebih. Dan tamannya luas, seluas lapangan sepak bola. Dan lagi indah dipenuhi berbagai macam bunga. Indah sekali.
Gerbang pun terbuka secara otomatis. Sesampai dirumah mewah yang besar , sebesar lebih dari taman yang kayak sepak bola. Luasnya bahkan lebih dari lapangan sepak bola. Aku cuma bisa bengong.
"Nona Sakura, silakan." Pak iruka mempersilakan aku dengan cara membuka pintu mobil dan mempersilakanku memasuki rumah.
Aku cuma bisa melongo melihat barang-barang mewah disepanjang jalan menuju ruang tamu. Dan terlihat kakek sudah menunggu ku.
"Sakura,terima kasih sudah datang untuk tinggal bersama kakek. Tapi dimana ibumu?"
"Ibu tak bisa. Ibu harus menjaga warisan yang ayah berikan kepada ibu. Ibu tak bisa meninggalkan begitu saja. Makanya dari itu ibu hanya menyuruhku tinggal disini untuk menemani kakek."
"Yah Sakura. Kakek sudah tau bahwa ibumu pasti tidak akan meninggalkan warisan dari suaminya begitu saja. Kalau begitu. Tsunade." panggil kakek memanggil seseorang
"Yah tuan?"
"Tolong antarkan Sakura ke kamarnya."
"Baik tuan. Mari nona"
Aku mengikuti pelayan bernama Tsunade itu menuju kekamar yang dituju.
"Nona. Ini kamar nona sekarang."
"Terimah kasih" aku lalu memberi senyum lalu pergi ke kamar melihat kamarku. Luas. bahkan luasnya seluar rumah ku yang dulu. bernuangsa pink. Pada saat ku buka lemarinya sudah terisi baju baru. Mataku tertuju pada sebuah seragam sekolah. Itu bukanmya baju sekolah Konoha High School . Lalu aku mencobanya. Pas. Sesuai dengan ukuran badanku.
"Besok kamu akan masuk sekolah Konoha High School jadi besok bersiaplah. Buku-buku sudah dibeli. Jadi besok Sakura sudah bisa masuk sekolah." kata Kakek yang tiba-tiba datang dengan senyum.
"Makasih kakek" jawabku riang sambil memeluk kakek. Kakekpun tersenyum melihat kelakuanku.
Sudah lama aku ingin bersekolah di Konoha High School. Aku sudah ngak sabar bertemu Naruto. Naruto? Ah.. Aku lupa ada janji dengan Naruto. Lalu aku melepas pelukan kakek.
"Ada apa Sakura?"
"Sakura ada janji dengan teman hari ini."
"Pergilah. Biar Iruka yang mengantarmu."
"Makasih kek"
sekarang sudah jam 11 aku harus segera mandi dan ganti baju. Baju? Aku ngak mempunyai baju yang bagus untuk jalan-jalan.
"Sakura, pakailah baju yang telah kakek berikan."
"Tapi kek.."
"Itu kakek beli untuk menyambutmu dirumah ini"
"Baik kakek." aku pun pasrah walau sebenarnya memang aku gag mempunyai baju untuk jalan-jalan.
To be continued..
Bagaimana dengan chaptr 3 nya? Nieh sudah bersusah payah mengejar request untuk memperpanjang ceritanya. Sudah cukup panjangkah?
Hmm.. Makasih yang uda review.. tetap R&R yah fanfic ku yah.. ^^
Review please! :)
