SHINGEKI NO KYOJIN © Isayama Hajime
ANGELFALL © Susan Ee
Cover Image © Never be mine
Warning : Alternative Universe, Semi-dystopia, Shounen-Ai, typo(s), OOC, novice writer, 'rabbit plot', and many more.
Dystopia is defined as "a society… characterized by human misery, as squalor, oppression, disease, and overcrowding.
-DYSTOPIA-
Udara dingin sore hari kota Shiganshina menerpa wajah tampan Rivaille. Pandangan matanya tajam dan lurus tepat kepada objek yang berdiri gagah dengan kedua sayap terbentang di punggung kekarnya. Erangan tidak nyaman terdengar dari pemuda bersayap yang terikat di belakang tubuh Rivaille, sedikit keluhan dan gerakan menyamankan tubuh, dan pemuda itu kembali terlelap.
Rivaille berdecih ketika melihat sayap pemuda itu -yang berdiri di atas gedung tua beberapa meter di depannya bergerak perlahan. Pemuda itu membungkuk dalam pada Rivaille. Entah tanda penghormatan ataukah sebuah bukti merendahkan. Pria bermata hitam kebiruan itu mendelik tajam. Cahaya temaram dari matahari senja di balik Mariabell Raksasa berkilat di kedua irisnya yang memesona.
Mata cokelat madu milik pemuda itu menatap Rivaille tidak kalah menusuk. Di balik bayangan tubuhnya sendiri, warna iris kecoklatannya menyala. Samar-samar seringai terlihat mengembang di bibir tipisnya ketika melihat Rivaille meraih sesuatu dari balik saku celana.
Alis Rivaille terangkat ketika pemuda yang berdiri jauh darinya itu menggelengkan kepalanya pelan. Rambut cokelat lembut milik pemuda itu berayun pelan seirama gerakan kepala dan angin sore yang membelainya. Rivaille yakin, meski suaranya terbawa angin sore yang dingin, pemuda itu terkekeh geli. Moncong Berettanya sudah terpaku lurus tanpa ragu, namun pemuda itu juga menatapnya sama tidak ragu. Rivaille seharusnya tidak membuang-buang tenaga di saat senja. Dia berburu di saat bulan sudah tinggi, dan sudah seharusnya seperti itu.
BANG!
Suara pistol yang ramping dan berat menggema, tersamarkan Maria Bell Raksasa yang menggaung enam kali. Matahari sudah benar-benar terbenam, jalanan Mariabell sudah benar-benar sunyi. Manusia seperti takut pada keangkuhan bulan yang mulai menunjukkan kilau keemasannya perlahan. Tidakkah mereka sadar, kalau mereka sendiri yang membuat bulan menunjukkan sisi terangkuh dan terabsolutnya.
Bau khas besi dan amis, bercampur dengan bau mesiu. Rivaille tau dirinya terluka, namun Berettanya tetap memaku buruannya yang jauh dari moncongnya. Luka melintang yang menggores tipis sisi rahang Rivaille mulai terasa perih. Namun, Rivaille menyeringai tipis, entah kenapa dia ingin sekali tertawa.
Buruan di hadapannya sama sekali tidak merasa gentar, sosok lain yang baru saja menarik pelatuk pistol berukuran minimalis menurunkan senjatanya. Postur tubuhnya masih terlampau santai dan ringan. Kedua sayap di belakang tubuhnya yang berwarna tidak biasa mengembang, dan menghempas udara di sekelilingnya dengan kuat. Bermanuver kuat, namun nampak anggun dan berbahaya seperti kilau sang Ratu di langit Shiganshina yang mulai berkabut. Buruannya hanya satu, dan tidak boleh ada yang dengan sombong mengganggu.
Pemuda memesona itu berdiri di ujung balkon apartemen Rivaille yang sudah tidak karuan isinya. Postur tubuhnya nampak sangat ringan dan terlalu relaks. Angin malam Shiganshina berhembus dingin, menerpa surai-surai cokelat lembut pemuda yang mengarahkan ujung pistol minimalisnya ke arah Rivaille. Rivaille tidak bergeming. Telapak tangannya yang kuat harus menjadi tumpuan bagi pistolnya untuk memburu pemuda di hadapannya. Rivaille tidak ragu, pandangan mata obsidiannya berkilat sama mengerikan dengan mata hazzel di hadapannya.
Seorang penyaji cerita tua di kota pernah membacakan sebuah buku, dengan sampul cokelat memesona yang di dalamnya terdapat seorang pria rambut pirang dengan topi besar dan sepatu boots kulit di sebuah padang tandus yang penuh dengan kaktus. Pria yang menjadi objek sampul tokoh utama dengan pose menepuk dadanya bangga, berkata melalui tulisannya, dalam keadaan seperti ini, siapapun yang menarik pelatuk terlebih dahulu, dialah yang akan hidup. Ketika mendengarnya Rivaille mendengus. Lain cerita dan buku kalau yang mereka hadapi adalah mereka. Mungkin Rivaille bisa jadi tokoh utamanya.
Bau mesiu kembali tercium. Raungan khas penghancur telinga Beretta kesayangannya terdengar sekali. Pemuda yang menjadi objek garang Beretta Rivaille tidak bergeming. Luka tembakannya terasa perih dan lebih menusuk dibanding manusia-manusia lain yang pernah memburunya. Meski tak lama luka itu menguap menjadi butiran cahaya.
Raungan pistol lain terdengar, susul-menyusul, saling membalas. Rivaille menembak tepat ke titik lemah pemuda yang dengan ahli menghindar. Rivaille sepertinya akan membenci benda terbang. Gerakan pemuda itu melambat, namun tidak membuatnya lemah. Sayap heterochromenya menebas angin di sekelilingnya, terus menghindar tapi tidak akan lari. Memperhitungkan waktu untuk menggunakan peluru tak terbatas di dalam senjatanya nanti. Pemuda itu menyeringai menang.
Secepat pemuda itu menghindar dari serangan Rivaille, secepat pula luka dan darah di tubuh pemuda bersurai cokelat lembut menghilang menjadi butiran cahaya, tanpa terasa senjata milik Rivaille sudah sangat ringan. Rivaille mendesis geram, dia bukan tipe pria yang ingin mati sia-sia, apalagi mati konyol karena kehabisan peluru. Erangan tidak nyaman dan gerakan dari bawah selimut, membuat si hazzel melirik penasaran.
"Kau memiliki apa yang kucari." Heh, yang benar saja.
Kedua iris obsidian itu menelurusi setiap sudut ruangannya dengan cepat menyadari ujung moncong malaikat itu terarah padanya. Mencari sebuah pengalih perhatian agar dia bisa meraih sekoper magazine yang tergeletak membisu di ujung ruangan. Sibuk mencari, kedua mata obsidian itu membulat terkejut tidak suka. Pemuda yang tadi terlelap di lantai dalam waktu singkat sudah membuka mata dalam posisi tertelungkup dengan kelereng jade yang bercahaya marah.
Rahang pemuda yang masih terikat itu mengeras, Eren mendesis berbahaya, "Lepaskan aku."
Rivaille melirik dari sudut matanya. Pandangan Eren telalu menusuk dengan kilatan membunuh yang semakin menjadi-jadi seirama dengan tarikan napas hangatnya. Rivaille menimang-nimang dengan cepat. Satu simpul di pergelangan tangan Eren ditariknya dan seluruh tali yang meremas tubuh cokelat indah itu tergeletak tidak berdaya di lantai.
"Kau tidak boleh melakukan hal-hal sesukamu, Eren," pemuda itu mengeluarkan suaranya yang dalam. Sasaran pistolnya berubah menjadi pemuda yang sedang memperbaiki posisi tubuhnya.
Eren tidak menjawab. Sayapnya membuka, meregangkan otot-ototnya yang kaku. Bulu-bulu indah di kedua sayapnya meremang, menunjukkan bahwa dirinya jauh lebih berbahaya. Dialah pemburu yang sebenarnya, bukan pemburu main-main seperti kandidat Archangel di depannya. Seorang kandidat untuk menjadi ras tertinggi, Penyampai Pesan bagi Chasseur.
Seringai pemuda itu semakin tajam. "Apakah kau senang bisa membunuh manusia? Ah, sang Pemburu yang terpaksa membunuh manusia karena di awasi utusan Chasseur. Jangan bercanda, Pemburu. Tidak mungkin aku harus membuntutimu seperti anak anjing, kau tau."
Kedua tangan Eren menggapai angin, sekelebat cahaya tipis muncul dan berubah menjadi pedang mematikan yang pernah Rivaille lihat sebelumnya. Pemuda beriris cokelat madu itu menyeringai, melihat cahaya di kedua mata Eren semakin tajam. Pesaing abadinya sudah terlampau dari marah akibat perlakuannya. Rivaille melihat satu sisi Eren yang tidak akan pernah dia lupakan. Eren seperti karnivora yang siap menelan hidup-hidup mangsa di depannya.
Sayap heterochrome pemuda beriris jade menghempaskan angin di sekelilingnya dengan kuat. Serangan kedua pedang Eren menghunus tepat ke arah pemuda itu. Pemuda berambut cokelat lembut hanya menyeringai, mundur ke belakang, dan memancing Eren untuk keluar dari tempat sempit untuk beradu kekuatan. Eren dengan cepat mengejar dan menyerangnya. Rivaille bersumpah, dia melihat Eren tersenyum mengerikan.
"Heh, ada apa denganmu, Pemburu? Tidak bisa menyerangku?" Eren terkekeh ketika berhasil membuat pemuda itu tersudut. Menahan kedua besi yang berkilat tajam pada buruannya. Mangsa Eren hanya menyeringai, dan memperdengarkan gaung tembakan yang keras.
Rivaille mengeluarkan sumpah-serapahnya. Dia sudah repot-repot menginjakkan sepatu bootsnya di aspal dingin kota Shiganshina, dan berkeringat untuk mengejar Eren. Sudah tugas Rivaille untuk memburu mereka, dan Eren cukup memburu manusia seperti tugas yang seharusnya. Bukan ini pemandangan yang diharapkan Rivaille ketika dia berhasil mengejar Eren.
Di salah satu atap rumah yang cukup tinggi Eren terbatuk dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya yang segera menjadi butiran cahaya. Luka di perutnya menganga cukup besar. Ini bahkan tidak bisa disebut luka. Rivaille tidak melihat Eren segera bangkit dan beregenerasi, lukanya tidak menutup. Pria berambut eboni dengan marah mengarahkan Berettanya, menarik pelatuknya dengan cepat ke arah pemuda yang baru saja menghunuskan peluru pada Eren. Kedua iris hitam-kebiruannya berkilat perak akibat cahaya sang Ratu yang menatapnya rendah.
Pemuda yang menjadi sasaran tembakan Rivaille memegang tengkuknya yang mengeluarkan darah. Rivaille menyadari sesuatu, regenerasi pemuda ini sedikit lebih lambat dibanding Eren. Pemuda bermabut cokelat lembut itu menghentikan pergarakannya, seolah memfokuskan sesuatu untuk meregenerasikan tubuh vitalnya. Hipotesis sederhana yang menguntungkannya di tengah pertarungan semacam ini. Suara khas yang menggeram membuat Rivaille terkejut sesaat. "Menyadari sesuatu, Sir?"
"Kepalaku tidak bodoh sepertimu, bocah."
Eren menyeringai. Luka di perut Eren sudah menghilang, meski masih meninggalkan jejak menyeramkan di kulitnya. "Masih ingin menantangku, Jean?"
Pemuda yang dipanggil Jean berusaha keras menahan seringainya. "Dua lawan satu? Heh, tidak lucu, Pemburu. Maukah berdansa denganku dan kita membuat legenda itu terjadi lagi?" Jean mengulurkan tangannya.
Ruang belajar sederhana milik Hanji Zoe menyala temaram. Buku-buku berserakan tidak aturan di lantai, seolah rak buku yang berdiri kokoh di sampingnya hanyalah pajangan. Catatan-catatan, sobekan-sobekan kertas, remah-remah makanan ringan, dan bungkus minuman penahan lapar sementara, menjadi pemandangan wajar di rungan.
Seekor binatang pengerat seukuran anak kucing berwarna putih -yang anehnya dalam keadaan bersih- merangkak ke bahu Hanji yang sedang menulis catatan penting, menyimpulkan bahan baru, dan menambahkan hal-hal yang dirasa janggal. Bulu-bulu halus milik hewan pengerat itu menyadarkan Hanji dari dunianya yang rumit. "Ah, hai, Sawney~ Kau lapar? Kau lapar?" Sawney mencicit senang.
Hanji mengikat kembali rambutnya yang sudah acak-acakan. Bangkit dari kursi kayu tuanya, membelah lautan buku yang menutupi eluruh lantai. Hanji menarik daun pintu dengan susah payah, dan disambut oleh Asisten Rahasianya yang tersenyum maklum. "Selamat malam, nona Hanji." rambut pirangnya bergerak pelan saat dia menyajikan kopi hangat untuk Hanji.
"Malam, malam~ Sudah kubilang panggil saja aku 'Hanji'," Hanji berkata ceria, tangannya mengibas-ngibas santai agar asisten rahasianya tidak terlalu canggung.
"Tapi-"
"Tidak apa-apa," Hanji menunjukkan cengiran khasnya. "Dimana kau meletakkan makanan Sawney? Ah, ini dia!"
Si Asisten Rahasia terkekeh melihat kelakuan jenius di hadapannya. Hanya si jenius ini yang mampu tertawa dan bermain-main dengan tikusnya ketika bulan menyapa. Sang Ratu akan menghitung dan memilah nyawa mana yang akan bulan antarkan ke tempat yang seharusnya. Kedua iris biru cerahnya berkilat sesaat mendengar suara tembakan yang keras menggaung dari luar rumah.
"Apa ada hal yang baru, nona Hanji?" si Asisten Rahasia menyesap susu cokelat buatannya sendiri. Suara tembakan kembali terdengar, disusul gema Mariabell Raksasa delapan kali.
"Ya, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Penyampai Pesan. Untuk apa, dari siapa, dan kepada siapa dia akan menyampaikannya? Bagaimana cara mereka mendapatkan tittle Archangel itu?" Hanji menggelengkan kepalanya, mengusir pening yang melandanya baru-baru ini.
Si Asisten Rahasia menundukkan kepalanya, berusaha menemukan jawaban yang terbaik. Sawney yang lewat di antara kakinya mencicit minta diberi setetes susu cokelat, namun diabaikan. Hanji menepuk surai si Asisten Rahasia berkepala pirang, "Maaf, tapi kau tidak bisa mengharapkan sebuah utopia dari dunia ini."
Profesor itu membenarkan letak kacamatanya, menatap keluar dan lagi-lagi mendengar suara tembakan mematikan. Hanji menggelengkan kepalanya. Bahkan Hanji tidak akan berharap utopia pada akhir cerita hidupnya.
Si Asisten Rahasia mengangguk dalam diam. Tidak menolak dan mengelak. Di dunia inilah dia hidup, dan dia harus berjuang untuknya. Genggaman tangannya pada mug berisi susu cokelat yang sudah mulai dingin, mengeras.
Eren tersungkur dengan Beretta di tangannya, Rivaille tidak sadarkan diri setelah kehabisan banyak darah. Hal buruk karena Eren bahkan tidak pernah menggunakan Beretta sebelumnya. Jean sudah menarik pelatuknya untuk menembak Rivaille, Eren menggeram, mengambil Beretta di tangan Rivaille yang sudah terbaring menahan sakit dari lukanya yang menganga di perut.
Eren tidak mengerti kenapa dia terus-menerus menembak, padahal dia lebih ahli menghunus daripada membidik. Pemuda beriris jade menembak sembarangan ke arah Jean. Salah satu tembakan Eren berhasil melubangi sayap Jean. Eren melempar sembarangan Berettanya dan memunculkan kembali pedangnya. Kedua sayapnya mengembang penuh hasrat mengejar Jean yang jatuh dari ketinggian. Eren akan menyambutnya segera dengan pedang.
Sang Ratu menutupi dirinya di balik awan. Entah karena dia muak atau takut melihat dua pemuda rupawan yang sedang mencoba membunuh satu sama lain. Kedua iris malaikat itu nampak berkilau dalam suasana yang remang. Kedua senjata yang dipakai oleh mereka melengking dan menggema penuh hasrat. Membelah kesunyian di kota Shiganshina yang dijajah oleh rasa takut rakyatnya.
Aroma polusi dan sulfur yang menyesakkan paru-paru membuat pemuda berambut eboni membuka matanya perlahan. Pandangannya kabur, ditambah dengan kabut dingin di sekelilingnya yang membuatnya semakin sulit melihat. Pria itu menggerakan tangannya perlahan, berusaha meraba mencari Berettanya. Tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan, pria itu dengan perlahan menegakkan tubuhnya dan terbatuk. Darah masih segar mengalir dari sudut bibir dan luka-luka di tubuhnya, terutama perutnya. Rivaille berharap konyol ketika berhasil berdiri dengan kaki gemetar, Semoga isi perutku tidak ada yang dimakan tikus.
Iris obsidiannya menemukan satu Berettanya, berniat mencari saudara kembarnya ketika telinga Rivaille mendengarkan suara teriakkan marah yang memekak telinga. Rivaille melangkahkan kakinya gontai menuju suara yang dia dengar. Memungut kembaran Berettanya yang tergeletak di tanah lembab. Berpegangan pada dinding berair di sebelahnya, kedua mata Rivaille membulat.
Sosok berkulit tan lembut yang penuh luka itu mengerang-ngerang sakit di bawah tindihan pemuda di atasnya. Mahkluk yang menindihnya memegang pedang milik pemuda yang ditindih. Tangan Jean terasa sangat sakit, seperti ingin melarikan diri dari sendinya, bahkan terus menerus mengeluarkan darah, seolah kemampuan regenarisnya tidak berguna. Sudah menjadi sumpah dalam mahkluk sejenis mereka, kalau mereka hanya memegang senjata sendiri, dan memegang senjata mereka lain bila diizinkan.
Jean meringis sakit, "Argh, senjatamu benar-benar merepotkan!"
Eren menggerakkan tubuhnya berusaha meloloskan diri. Eren tidak mencoba mengalah, mengorbankan dirinya untuk meraih pistol milik Jean dan mengarahkannya tepat ke arah Jean. Membuat satu lagi tembakan yang menggema.
Mariabell Raksasa berdentang satu kali, menyadarkan Rivaille dari keterkejutannya. Pertarungan ini tidak memilik tanda-tanda untuk berakhir sejak awal dimulai. Rivaille mengarahkan satu Berettanya ke arah pemuda yang masih terus menerus berusaha menebas Eren dengan pedangnya sendiri. Tangan Rivaille bergetar, fokusnya menjadi kabur dan terus bergerak tidak tentu arah. Shit!
Insting Jean yang sedang meliar menyadarkannya akan sesuatu, dia sedang berusaha dibidik oleh seseorang yang seharusnya sudah mati dengan isi perut dimakan pengerat. Pemuda beriris obsidian itu sudah memantapkan posisinya, menarik pelatuknya tanpa ragu sebelum akhirnya kehilangan kesadaran, dan membuat pergerakan Jean semakin lambat. Eren tertegun dengan suara tembakan yang menggema kuat dari salah satu gang. Rivaille, huh?
Eren mengarahkan pistol Jean ke arah sang empu. Jarinya siap menekuk, menarik pelatuk yang akan membuat Jean tersungkur dan dia akan menang.
SLASH!
Suara memotong terdengar kasar dan keras di telinga Eren. Jean sudah berdiri di belakangnya, dan menghadapkan punggung tegapnya pada punggung Eren. Eren masih terpaku, merasakan aliran darah yang mengalir deras dari punggungnya. Mata jadenya membulat kosong melihat helai-helai dari sayapnya berterbangan di sekitarnya. Pistol Jean terjatuh di tanah, bercampur dengan darah dari Eren yang masih belum menguap. Dentingan pedang yang di lempar ke tanah menyusul kemudian.
Sayap Eren terpotong.
Jean masih mampu menggerakkan sayap heterochromenya maski sudah kyak dimana-mana.
"Kau bukanlah seorang Jaeger, Jaeger."
Jean mendesis tepat di telinga Eren, dan kemudian dengan perlahan menghilang di balik smog Shiganshina. Eren terjatuh di atas genangan merah darahnya sendiri, di antara butir-butir cahaya yang menguap perlahan. Matanya menangkap sosok Rivaille yang terbaring lebih tidak berdaya darinya di ujung gang pinggir jalan. Eren lelah, membiarkan kesadaran pergi dari tubuhnya.
Sepasang bola mata sapphire menyaksikan semuanya dari balik kegelapan. Irisnya membulat geram, dan penuh tekad. Lebih didominasi oleh tatapan terkejut dan tidak percaya. Rambut pirangnya beralun pelan seirama hembusan angin. Pemuda itu merapatkan syal putih tebal di lehernya, memberanikan diri mendekati kedua pria yang tergeletak tidak berdaya. Menekuk kedua lututnya, dan merendahkan tubuhnya pada sesosok malaikat yang sekarat kehilangan sepasang sayapnya.
'Sudah kuduga.'
.
TBC
.
"You still are blind, even if you have it or lose it."
A/N :
*Utopia is the creation of an ideal society.
Intinya Utopia itu kebalikannya dari Dystopia, singkatnya seperti penggambaran sebuah masa yang jauuuh lebih baik dari masa sekarang. Misal baik ekonominya, adat-istiadatnya, hubungannya, politiknya, keadaannya, teknologinya, dan lain-lain.
Kalau Dystopia sendiri it is certainly not an ideal world. But it is a realm that mirrors our current way of life in some way.
Kurang lebih begitu, dari web-web yang terkait xDd
Akhirnyaaa~! Ini sudah update uwaaa! *lari menuju matahari terbenam*
Ngomong-ngomong, ini terlalu implisit ya? *ngumpet*
Terima kasih atas dukungan kalian semua~! Aku sayang kalian! *kecupjauh*
Oyeaah ini sudah NEXT! xDd *nunjukkin jempol*
Dimohon pesan dan kesan dari para senpai dan readers semua yaa!
Dan, terima kasih sudah membaca sampai sini! *membungkuk dalam*
Sincerelly,
Shorinan
