Beberapa gelas whiskey dan segelas wine. Itu saja, 'kan?
Lalu kenapa? Dia tidak pernah K.O hanya dengan itu.
Kyuhyun menggigit bibirnya, beranjak menuju kasur untuk mencari pakaiannya. Memakai celananya yang ternyata jatuh di samping kasur dan menuju sofa tempat bajunya tergeletak. Pusingnya memaksa Kyuhyun menekan pelipisnya. Saat membenahi kemejanya, dia menemukan sebuah catatan di meja. Mengancingkan kemejanya secepat mungkin, dia mebawa kertas itu dan membaca tulisan tangan yang rapi disana.
'Tadi malam sangat hebat. Hubungi aku. 010-237-5638 –Hero'
.
.
.
Title: Masquerade
Disclaimer: FF ini, Masquerade, secara penuh adalah milik topsyhobby. Plot dan segala yang terjadi di dalamnya murni milik topsyhobby yang ditulis dalam Bahasa Inggris. Chisana Yuri hanya menyadurnya ke dalam Bahasa Indonesia atas izin author tersebut.
Rating: M
Character: Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Kim Youngwoon, Kim Heechul, and other
Warning: MalexMale, Typo(s), OOC
Type: Chaptered
Don't Like, Don't Read.
.
.
.
-Chpater 3-
"Shit!" Tiga umpatan dalam lima menit. Kyuhyun tidak ingat kapan terakhir kali ia merasa sekacau ini. Baik, salahkan kertas itu. Salahkan dirinya. Salahkan Kim Heechul! Manwhore itu akan menjadi orang pertama yang harus bertanggung jawab atas apapun yang terjadi padanya.
Remasan keras pada kertas di tangannya sebelum mata Kyuhyun menangkap ponselnya di bawah bantal. Jarinya menekan keras layar ponsel saat mencari nomor Heechul.
[Yo, Man.] Kyuhyun menggeram marah saat mendengar suara bahagia Heechul.
"What the fuck, Kim fuckin' Heechul! Apa yang kau lakukan padaku kemarin!"
Heechul tertawa senang. [Kau baru bangun? Jam segini? Wow daebak!]
"Jawab. Aku." Tawa Heechul makin keras saat mendengar nada mengancam yang terselip dalam suara Kyuhyun. Kalau dirinya bukan Kim Heechul, mungkin bibirnya sudah memucat dan bergetar saat mendengar suara Kyuhyun.
[Oh, Kyuhyun-ah, pemandangan yang penuh gairah saat melihat kalian berdua semalam. Aku sampai turn on. Ah~ sayang aku harus kehilangan pemandangan yang kusuka itu saat kau membawa Hero ke hotel. Bukan karena tidak mau memperhatikanmu, aku hanya terlalu sibuk dengan milikku sendiri.]
"Aku membawanya ke hotel?" Sedikit banyak perasaan was-was berayun bersama pertanyaannya.
[Apa? Jangan bilang kau tidak ingat apapun tentang kemarin.]
"Menurutmu?" Kyuhyun tetap memutar bola matanya sekalipun Heechul tidak bisa melihatnya.
[Astaga! Itu benar-benar bekerja dengan baik dalam tubuhmu.]
Emosinya berubah. Kemarahan Kyuhyun sudah berada di puncak saat mendengar tawa di sela jawaban Heechul. Ia jelas menangkap maksud Heechul. "Kau memasukkan sesuatu dalam minumanku? Brengsek!"
[Hero masih disana? Berikan ponselmu pada dia.] Hanya Heechul yang berani mengabaikan pertanyaan Kyuhyun.
"Dia pergi. Hanya ada catatan di meja," respon Kyuhyun, napasnya masih memburu dan ia siap berteriak. Dengan cepat Kyuhyun sadar dan menutup matanya pelan. Emosinya yang meluap-luap tidak akan menyelesaikan apapun. Heechul akan berpesta jika tahu perangkapnya berhasil melumpuhkan kesadarannya.
[Apa isi catatannya?]
"Apa akan ada hubungannya denganmu?" Ia mencoba membuat suaranya sedatar mungkin. "Kupastikan kau akan mati saat aku tiba di kantor."
[Woah, santai, tuan.] Heechul tidak berhenti tertawa. [Kau tidak perlu ke kantor, sebenarnya. Karena aku sudah yakin kau akan menghabiskan sarapanmu di tempat tidur bersama kekasihmu tercinta, jadi aku sudah sampaikan kalau kau tidak masuk hari ini karena sakit.]
"Kau apa?!" Kyuhyun gagal. Ia berteriak dengan keras barusan.
[Ngomong-ngomong...] Teman kerjanya itu melanjutkan tanpa memedulikan teriakan Kyuhyun. [Sekretarismu bertanya mengenai jadwal dengan psikiatermu pagi ini, dan aku mengatakan kalau aku akan mengurusnya. Jadi, ketika aku melihat jadwal kosongmu hari ini, kupikir aku akan memindahkannya pada pukul 4 sore ini. Kau setuju? Oh! Atau kalau kau masih ingin bermesraan dengan kekasihmu, cukup hubungi aku dan akan kubatalkan janji dengan psikiatermu saat itu juga.]
"Ini tidak lucu!" Kyuhyun membentak lawan bicaranya. Ia memutar tubuhnya untuk bergerak mengitari ruangannya, mencari jam tangannya. "Kembalikan jadwalnya seperti semula! Aku akan sampai kantor dalam sepuluh menit."
[Baiklah kalau begitu. Aku harus kabur sepertinya.] Iblis itu tertawa sambil memutus panggilannya.
Kyuhyun memasukkan ponselnya. Tangannya meraih mantel di sisi meja dan kakinya sudah bersiap keluar dari hotel itu sebelum ia berhenti. Saat sumpah serapah sudah di ujung lidahnya karena ia tidak bisa mengingat dimana ia memarkirkan mobilnya, Heechul mengiriminya pesan.
'Informasi tambahan. Aku sudah meminta agar mobilmu dipindahkan ke lapangan parkir hotel dan meninggalkan kuncinya di meja resepsionis. Apa? Terima kasih? Sama-sama.'
Kyuhyun menggelengkan kepalanya tidak percaya. Harinya akan sangat kacau. Rutinitas hariannya hancur sesaat setelah ia sadar ia sudah melewati jadwal olahraganya pukul 6. Pekerjaannya akan tertunda—dan artinya beban kerjanya akan berlipat ganda hari ini—tidak akan ada istirahat untuknya, telepon dari ibunya yang khawatir akan datang menceciknya, dan pertanyaan yang tidak Kyuhyun inginkan dari ayahnya akan berputar tanpa henti melalui telepon kantornya.
Saat mobilnya berhenti di persimpangan lampu merah, ponselnya bergetar. Nomor yang tidak dikenal meski sekilas familiar itu terpampang di layar ponselnya.
"Halo," ucap Kyuhyun pada akhirnya.
[Hei, ini aku.] Sebesar apapun keinginan Kyuhyun untuk mengatakan ia tidak tahu siapa yang menghubunginya, ia tahu itu Hero. Ia mengurungkan niatnya untuk memutus panggilannya saat ucapan Heechul tentang dirinya yang membawa Hero ke hotel memaksanya meluruskan sesuatu. Harus ada yang benar-benar diluruskan disini.
[Aku sebenarnya ingin menunggu sampai kau yang menghubungiku lebih dulu, tapi aku tidak sabar.] kata Hero. Kyuhyun yakin kalau ia bisa melihat wajahnya, akan ada senyum yang sangat lebar di hadapannya.
"Darimana kau tahu nomorku?" Suaranya datar saat bertanya.
[Heechul.] Garis-garis kejengkelan tercetak di kening Kyuhyun. Ia terpaksa menggigit lidahnya untuk menahan dirinya yang sudah sangat gatal untuk kembali mengumpat.
"Dengar, apa yang terjadi semalam." Kyuhyun membuang napasnya. "Aku tidak—"
[Tidak perlu minta maaf.] Hero menyela. [Aku tahu kenapa kau harus melakukannya. Dan, tenang saja, aku jadi lebih menyukaimu karena hal itu.]
"Apa?" tanya Kyuhyun kebingungan.
[Ayolah... Saat kita masuk ke kamar, kau juga membuatku merasa bersalah.]
"Apa yang sedang kau bicarakan?"
Jeda dua detik. Membuat Kyhuhyun bertanya-tanya kenapa Hero butuh waktu untuk menjawab pertanyaannya.
[Kau tidak ingat apa yang terjadi semalam?]
"Sepertinya Heechul melakukan sesuatu padaku," geram Kyuhyun lagi, menginjak pedal gas saat lampu lalu lintas berubah hijau. "Itu sebabnya aku tidak ingat apa-apa dan artinya aku tidak bermaksud melakukan apapun yang kulakukan semalam."
[Yah, dia memberimu popper.] Hero berkata dengan nada menyesal. [Dia meminta Hankyung memasukkannya ke dalam minuman kita. Ingat saat dia memesan wine dan mengatakan tiga yang biasa dan satu spesial? Dia jelas berpura-pura saat berlagak kalau yang spesial itu untuknya. Itu untukmu.]
"Itu sebabnya aku membawamu ke hotel?" Kyuhyun menyadarkan tubuhnya, pasrah dengan jawaban apapun yang akan ia dengar. Cemas pun tidak ada gunanya sekarang.
[Kau bicara apa? Aku yang membawamu ke hotel.] Hero tertawa pelan. [Benar-benar tidak ingat ya?]
"Mungkin aku akan ingat kalau kau sudah menceritakan detailnya dari tadi dan bukannya mengulang pertanyaan tidak penting," sindir Kyuhyun saat ia memutar kemudi ke arah kantornya, mengingatkan dirinya sendiri untuk mencincang Heechul saat ia tiba nanti.
Hero tidak menghiraukan sindiran Kyuhyun dan menjawab. [Semalam kau bersikeras menolak untuk terlibat dalam apapun yang Heechul katakan. Kami bertiga lumayan terkejut saat kau masih bisa melakukan penolakan apalagi setelah, kau tahu, kau menghabiskan minuman garis miring poppermu itu.]
Tidak mendengar respon apapun dari Kyuhyun, Hero menganggapnya sebagai isyarat agar ia melanjutkan. [Aku sebenarnya tidak begitu ingat bagaimana cara kita pindah tempat dari bar ke hotel, tapi saat kita ciuman, kita memang sudah disana.]
Kyuhyun mendengus tidak suka saat mendengarkan suara riang Hero. Tidak bisa menebak apa yang ada di otak laki-laki cantik itu sampai ia terdengar begitu senang saat menceritakan apa yang terjadi semalam.
[Aku menghitung kita ciuman tiga kali. Yang pertama sebentar, yang kedua yang paling lama, dan yang ketiga juga lumayan lama, tapi sayang harus terpotong karena kau terus memalingkan wajahmu dan mengatakan 'maaf' berkali-kali. Yah, meskipun kadang kau tetap membalas ciumannya.]
"Aku melakukannya?" Suara Kyuhyun nyaris tidak terdengar.
[Yap, di ciuman kita yang kedua.] Hero menjawab, kali ini suaranya lebih lembut. [Walaupun pada akhirnya, saat ciuman kedua kita selesai, kau terus mengucapkan kata maaf.]
Kyuhyun mematikan mesin mobilnya saat ia sudah di lapangan parkir SJ Ltd. Dibanding masuk ke dalam, ia lebih memilih duduk diam di mobilnya untuk menenangkan semuanya. Mengatakan maaf sesaat setelah ia membalas ciuman. Bukan kali ini saja Kyuhyun melakukannya, dan kemungkinan besar, bukan juga yang terakhir. Membiarkan kata maaf terucap dari mulutnya saat kejadian seperti itu sudah menjadi kebiasaan baginya. Kyuhyun mendesah berat, menutupi keningnya dengan telapak tangan. Sebuah kekalahan besar untuknya.
[Kau sexy saat tidak mabuk, tapi saat kau tidak berdaya, kau sangat manis.] Hero menggodanya. [Aku tidak mengerti kenapa kau minta maaf padaku. Tidak, sampai kau mengatakan kalau kau tidak bisa melakukan ini.]
Kyuhyun diam tidak merespon. Ia bisa menebak apa yang akan Hero katakan setelah ini.
[Kau bilang kau menyesal saat menciumku karena itu tidak nyata—tidak benar-benar apa yang kau inginkan, karena kau tidak akan mencintaiku bahkan jika aku mencoba membuatmu jatuh cinta padaku.] lanjut Hero. [Yah, kau memang mabuk. Kau tidak tahu apa saja yang kau ucapkan, tapi, damn, kau manis sekali. Itu sebabnya aku tidak bisa pergi jauh-jauh dari tempat itu semalam.]
"Lalu kenapa aku telanjang?" tanya Kyuhyun acuh tak acuh.
Tawa Hero meledak. [Katakan saja kalau aku tidak bisa pergi begitu saja. Maksudku, ayolah, aku susah payah membawamu ke hotel. Kau pikir aku akan puas hanya dengan ciuman sederhana itu? Aku ingin menggodamu, jadi aku menelanjangimu saat kau tertidur sehingga nantinya saat kau bangun, kau akan berpikir kalau ada sesuatu diantara kita semalam. Dan fakta kalau kau lupa kejadian semalam membuatku yakin kalau rencanaku berhasil.]
"Hm." Kyuhyun membalas. "Jadi, kau yakin sama sekali tidak terjadi apa-apa semalam?"
[Tidak ada yang terjadi.] Hero terkekeh. [Kau masih polos, bersih, tidak ternoda, tidak bersalah. Apa lagi kata yang sepadan untuk itu?]
"Aku harap kau mengatakan yang sebenarnya." Kyuhyun mendesah lagi. "Aku hanya tidak mau membuatmu berpikir kalau aku mungkin menyukaimu karena aku memang tidak menyukaimu."
[Aku sangat menyadari hal itu, Tuan Cho.] Hero tertawa lagi. [Lagipula, alasan kita berciuman memang bukan karena cinta.]
Kyuhyun menyeringai saat mendengar pernyataan yang begitu santai dari Hero. Itu yang dia ingin ucapkan.
[Tapi, siapa yang tahu?] Hero berkata dengan nada jahil. [Lain kali kita bertemu, aku mungkin bisa mendapat lebih dari sekadar ciuman darimu.]
"Tidak akan ada lain kali." Kyuhyun memotong cepat. "Lain kali kau menghubungiku, aku akan membuatmu menyesal."
[Kita lihat saja.] Hero dengan berani memberikan tantangan yang tidak akan pernah diambil Kyuhyun. [Nah, kalau begitu, untuk saat ini, sampai jumpa, Tuan Cho.]
.
.
Melempar ponselnya ke dashbor, Kyuhyun kembali menghela napasnya. Dia jelas melakukannya lagi.
Benar kalau Hero bukan yang pertama—dia orang asing ketiga yang Kyuhyun cium sebenarnya. Dua dari tiga kejadian ciumannya terjadi saat ia mabuk, dan yang lainnya terjadi karena ia tidak bisa berpikir jernih. Selalu, ciuman dengan orang tidak dikenal semacam Hero selalu membuatnya menyesal dan kata maaf akan selalu keluar dari mulutnya setelah itu. Dia sendiri tidak tahu kenapa.
Mungkin ia melakukannya karena merasa bersalah pada tunangannya. Mungkin ia melakukannya karena merasa bersalah sudah melakukan hal sia-sia pada mereka yang jelas tidak akan mendapat tempat dimanapun dalam hidupnya. Mungkin juga campuran keduanya. Atau mungkin, rasa bersalah itu sebenarnya untuk dirinya sendiri yang sudah dengan sangat mudah membiarkan orang tidak dikenal menciumnya. Dia memang selalu menolaknya, tapi sepertinya tolakannya tidak pernah cukup untuk kejadian seperti ini.
Kyuhyun kembali menutup matanya, menarik napas dalam-dalam dan menahannya tanpa alasan. Seperti yang ia lakukan di klinik Sungmin kemarin. Persis.
Menarik napas kemudian menahannya seperti sudah menjadi kebiasaan ketika dirinya merasa penuh noda—kotor. Apa yang ia lakukan sekarang ini seperti ritual pembersihan atau semacamnya. Kadang ketika dia menahan napasnya, dia berdoa agar jantungnya terasa nyeri karena remasan kuat sekaligus pompaan darah yang kacau, yang akan mendorong jauh-jauh nyawa dari tubuhnya, sehingga dia bisa mati.
Mati? Itu impiannya. Jika saja ia bisa terus menahan napasnya. Sayang, fakta yang ada adalah, tidak ada seorangpun yang bisa bunuh diri dengan cara menahan napasnya sendiri. Dan pada akhirnya, ritual pembersihannya tidak akan berguna dan ia tetap Cho Kyuhyun yang penuh noda. Pecundang.
10
.
.
45 detik.
Kyuhyun masih menahan napasnya.
Saat otaknya mulai mati rasa, ingatan akan sentuhan Sungmin perlahan menyeruak kembali dalam pikirannya. Dan, secara tiba-tiba, Kyuhyun melepaskan semuanya, membuang napasnya kuat-kuat. Membiarkan udara yang ia tahan daritadi keluar, membiarkan semua yang ada dalam dirinya pergi.
"Jangan menghindar."
Saat dr. Lee menggenggam tangannya dan membisikkan dua kata itu, Kyuhyun tidak merasakan apapun selain kejengkelan. Anehnya, ia merasa kalau kata-kata itu memilik arti 'jangan takut' sekarang. Entah merasa atau menginginkan yang lebih tepat untuk menggambarkannya.
"Aku tidak takut pada apapun."
Jangan takut.
Kyuhyun membuka matanya. Sinar matahari yang masuk melalui kaca mobilnya membuatnya silau. Dia menutup matanya lagi. Dan tanpa ragu-ragu sedetik pun, bayangan Sungmin muncul dari kegelapan.
Dia pernah melepas jas putihnya dan mengatakan padanya kalau ia bukan dokter.
Dia melepas kacamatanya dan mengatakan padanya kalau ia tidak bisa melihat wajah pasiennya dengan jelas.
Tapi, dokternya bohong. Sungmin bisa melihat semuanya, dari bagian yang paling lemah dalam pikiran Kyuhyun sampai rasa takutnya.
"Lelah?" Sungmin berbisik untuk kesekian kalinya, masih menggenggam tangannya.
"Ya," bisiknya.
"Haruskah kita berhenti?" tawar Sungmin.
"Ya." Kyuhyun menerima tawaranya dalam bisikan.
Detik berikutnya, tanpa sepenuhnya menyadari apa yang dia lakukan, atau bahkan tanpa repot memikirkan itu, Kyuhyun menghidupkan mesin mobilnya lagi. Dia mengeluarkan mobilnya dari lapangan parkir menuju jalan raya, memutar kemudinya dengan kasar untuk menuju arah yang berlawanan. Klinik.
Untuk saat itu, ia tidak merasa terganggu. Untuk pertama kali dalam hidupnya. Tidak ada yang ia khawatirkan.
.
oo-0-oo
.
Saat itu antara pukul 9 dan 10 pagi.
Ada keributan kecil di luar ruangan kliniknya, dan Sungmin, yang sedang membaca ringkasan laporan tentang pasien skizofrenia sekaligus menulis kemungkinan penyembuhannya, terpaksa melirik ke pintu ruangannya. Suara Yoona yang terdengar sedang berdebat dengan seseorang di luar menarik perhatiannya.
Penasaran dan khawatir dengan apa yang sedang terjadi, Sungmin bangun dari kursinya dan bergerak menuju pintu yang tertutup, tepat ketika pintu itu dibuka dengan kasar dari luar.
Orang yang bersikeras untuk bertemu dr. Lee sekalipun mendapat penolakan dari resepsionisnya ternyata Kyuhyun.
"Aku harus bertemu denganmu," katanya menatap mata Sungmin langsung, tidak memedulikan psikiaternya yang menganga lebar melihat kehadirannya yang tidak terduga.
Yoona buru-buru mengikuti Kyuhyun dari belakang dan ikut masuk. "Tuan Cho, Anda tidak seharusnya menerobos masuk sepeti ini. Janji pertemuan Anda dengan dr. Lee bukan—"
"Tidak masalah." Meskipun sebenarnya dokter itu masih sedikit bingung, ia menengok ke arah Yoona dan tersenyum manis, melanjutkan, "Biarkan dia masuk."
Resepsionisnya kelihatan sedikit tidak yakin, tapi akhirnya mengangguk dan pergi, menutup pintu dengan pelan. Membiarkan pasien dan dokter itu sendirian di ruangan Sungmin yang sunyi.
"Jadi, apa kabar?" Dokter itu bertanya dengan lemah lembut, mengubah ekspresinya menjadi penuh kekhawatiran. "Kau baik-baik saja?"
"Tidak." Kyuhyun menjawab, menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Aku tidak baik-baik saja."
"Duduklah." Sungmin menuntun Kyuhyun menuju kursi yang ia duduki pada pertemuan mereka sebelumnya. Ia sendiri menempatkan dirinya sendiri pada kursi di samping Kyuhyun. Tempatnya kemarin. "Ada apa?" tanyanya.
Kyuhyun menelan ludahnya dan menghindari mata psikiaternya. Dia akhirnya disini. Dia disini, tapi dia tidak ingat alasannya datang kesini. Sekarang, saat ia disini, dia merasa sulit untuk menatap wajah Sungmin, yang ia ingin temui.
Tepat saat Kyuhyun mulai frustasi, Sungmin membuka mulutnya.
"Tatap aku," katanya hati-hati, berusaha tidak membangkitkan emosi Kyuhyun.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya lagi, dan Sungmin memang tidak memaksanya, tapi ia melepas kacamatanya. "Lihat, aku sudah melepasnya," bisiknya.
Setelah jeda panjang, Kyuhyun menggertakkan giginya, memaksa dirinya untuk menatap mata Sungmin yang berkilau. Dokternya tidak memakai jas putihnya hari ini. Rambutnya kelihatan halus dan matanya bersinar dengan begitu indah.
Ya Tuhan..
Kyuhyun ingin menembak kepalanya sendiri sekarang. Dia bahkan tidak bisa berpikir jernih. Seseorang harus mengingatkan dirinya tentang alasan kedatangannya kesini.
"Kau mengatakan kalau kau bisa membantuku." Kyuhyun membiarkan suaranya keluar, tidak yakin apakah dia mengatakan hal yang seharusnya.
"Benar. Aku mengatakannya." Sungmin menyetujuinya.
"Kalau begitu," kata Kyuhyun, tanpa mempertimbangkannya sekali lagi. "Bantu aku untuk berhenti."
Sungmin menahan diri untuk tidak mengerjapkan matanya dan memilih menatap laki-laki itu sebentar. Ada sesuatu yang yang berbeda dengannya hari ini. Tidak normal rasanya bagi Kyuhyun, pasiennya yang memperlakukan waktu dengan begitu baik, untuk datang dengan sukarela di waktu yang bukan jadwal mereka. Dan apa tadi? Bantu aku? Pengusaha itu mengatakannya ketika dia pernah mengatakan dengan jelas kalau dia tidak ingin dokternya ini masuk ke dalam hidupnya. Cho Kyuhyun tidak akan meminta pertolongan. Ini tidak biasa.
Apa yang membuat Kyuhyun tiba-tiba berubah seperti ini?
Namun, mengesampingkan itu semua, Sungmin mengangguk dan meyakinkannya—dan dirinya sendiri. "Aku akan melakukannya."
Tiga kata penuh keyakinan yang dikeluarkan dr. Lee membuat Kyuhyun mengeluarkan desahan panjang, mungkin merasa lega, tapi sulit mengatakannya.
"Kenapa kau ingin berhenti, Kyuhyun?" tanya Sungmin baik-baik, dengan sengaja mengabaikan pertanyaan 'ingin berhenti dari apa', karena ia sudah tahu jawabannya.
"Aku lelah." Kyuhyun menghela napas, tidak sadar kalau Sungmin kembali memanggilnya dengan Kyuhyun. "Aku benar-benar lelah."
Pancaran penuh perhatian Sungmin tidak berkurang sedikitpun. Dengan begitu lembut ia kembali bertanya. "Apa yang membuatmu lelah?"
Kyuhyun melirik Sungmin. "Aku pikir kau sudah tahu."
"Memang." Sungmin mengangguk. "Tapi, aku ingin kau mengatakannya keras-keras sekarang."
"Apa akan ada bedanya?" Kyuhyun menyernyit sebal.
"Kau tidak percaya padaku?" tanya sang dokter. Ketika Kyuhyun tidak menjawab, dia melanjutkan dengan suara tegas. "Kalau kau tidak bisa percaya padaku, tidak ada yang bisa kulakukan untukmu. Aku akan ada disini untukmu kalau kau percaya padaku. Jadi, tunjukkan padaku. Tunjukkan kalau kau percaya padaku."
Kyuhyun mengatupkan giginya sebelum memuntahkan balasannya ke Sungmin. "Aku membuang jauh-jauh jadwalku untuk datang ke sini. Tidakkah itu cukup sebagai bukti?"
"Kau melakukannya karena kau lelah, 'kan?" Sungmin tidak menarik ucapannya. "Aku memintamu untuk mengatakan apa yang membuatmu sangat lelah dengan lantang."
Kyuhyun mendesah lagi. Jawabannya tidak bisa keluar begitu saja. Ia tidak menyiapkan apapun untuk menghadapi ini. Langkahnya kesini pun terjadi secara natural dan spontan.
"Aku tahu kalau ini sulit." Setelah jeda lama yang menyebalkan, Sungmin membuka mulutnya dan tersenyum memamerkan giginya. "Biar aku membantumu. Apa yang membuatmu mengabaikan semua rencana yang sudah tersusun dalam jadwalmu dan datang kesini?"
"Aku tidak tahu."
"Okay." Sungmin menyeret jawabannya saat mengatakan 'kay'. "Izinkan aku mengulang pertanyaannya. Apa yang terjadi sebelum kau memutuskan untuk mengabaikan jadwalmu sendiri dan datang kesini?"
Kyuhyun melihat Sungmin sekilas. "Aku sedang di lapangan parkir kantorku, bicara dengan seseorang melalui ponsel."
"Seseorang?"
"Hanya...seorang kenalan." Kyuhyun merengut, mencoba dengan keras untuk tidak mengingat-ingat Hero.
"Bisakah kau ceritakan padaku tentang percakapan antara kau dan kenala—"
"Tidak." Kyuhyun menjawab sebelum dokternya menyelesaikan pertanyaannya.
"Kau masih tidak percaya padaku." Sungmin berkata, memiringkan kepalanya. "Tidak masalah kalau kau tidak percaya padaku. Paling tidak, tolong diingat kalau apapun yang bisa kulakukan untuk membantumu hanya sebatas pada apa yang kau katakan padaku. Dan kau mungkin tidak akan puas hanya dengan itu. Kyuhyun-ssi, ini bukan kantor polisi dimana seseorang memiliki hak untuk menutup mulut untuk melindungi dirinya. Ini mungkin satu-satunya tempat dimana kau bisa bebas membeberkan semua rahasiamu. Untuk menyelamatkan hidupmu."
"Pidato yang bagus, Dok." Kyuhyun menyeringai. "Kau bebas bermain dengan kata-kata pintar itu semaumu, tapi jangan harap aku akan menceritakan detail terkecil dalam hidupku."
"Oh, aku memang tidak mengharapkannya." Sungmin tersenyum dengan lembut. "Tidak denganmu."
Pernyataan itu berayun dan memukul kepala belakang Kyuhyun keras-keras. Sungmin adalah orang pertama yang dengan jelas mengatakan dengan lantang kepada dunia kalau dia tidak mengharapkan sesuatu dari Kyuhyun. Pemuda yang lebih muda itu memperhatikan Sungmin hati-hati. Mata psikiaternya diam-diam membelai hatinya dengan sinarnya yang meluas, hampir menyinari seluruh hatinya.
"Aku hanya ingin tahu kalau kau memang percaya padaku," kata Sungmin, mengangkat bahunya sedikit. Seolah memberi opsi pada Kyuhyun untuk percaya atau tidak padanya di satu sisi dan membuka lebar-lebar tangannya untuk menyambut jawaban jika Kyuhyun percaya padanya di sisi lain. Dia mengundang Kyuhyun.
Dan Kyuhyun menerima undangan Sungmin. "Aku percaya padamu," bisiknya, tidak yakin apa yang membuatnya mengatakan itu.
"Terima kasih," kata Dokter Lee, tersenyum lebar dan mengangguk. "Jangan takut tentang apa yang akan aku pikirkan tentangmu, karena itu tidak penting. Dan aku berjanji, aku tidak akan mengejekmu." Ia menahan dirinya untuk menambahkan 'seperti apa yang orang-orang lain diluar sana lakukan terhadapmu.' Dia tahu ia tidak harus mengatakan itu. Dan yang paling penting, tidak ingin mengingatkan Kyuhyun pada hal yang membuatnya menderita. Karena tanpa begitu pun, pengusaha muda itu sudah menderita dengan sendirinya.
Sungmin sekarang bertanggung jawab untuk melepaskan genggaman dunia yang terlalu erat mengekang Kyuhyun. Tugasnya adalah untuk membebaskan Kyuhyun dari tatapan dan ucapan-ucapan yang mengelilinginya. Dia harus meneteskan seberkas cahaya pada bagian yang hilang dalam diri Kyuhyun. Bagian yang meringkuk ketakutan, yang dibuang jauh-jauh dan ditekan oleh jutaan bagian Kyuhyun palsu yang menumpuk diatasnya. Sehingga Kyuhyun bisa menemukan jati dirinya yang sebenarnya.
"Sekarang," Sungmin memulai. "Akankah kau mengatakan sesuatu tentang panggilan yang kau dapat sebelum kau kesini?"
Kyuhyun tidak punya pilihan lain selain merespon. "Itu dari seseorang yang kutemui kemarin. Aku sedang mabuk dan tidak bisa mengingat apa yang terjadi semalam, jadi dia menceritakan semua yang terjadi semalam.
"Dan apa yang dia ceritakan padamu?"
"Dia—" Kyuhyun berhenti sesaat, memutuskan untuk menghapus bagian ciumannya dengan Hero. "Dia mengatakan tidak terjadi apapun."
"Kau yakin kau sudah menceritakan semua yang dia katakan padaku?" Sungmin bertanya, menyadari keragu-raguan saat Kyuhyun menjawab.
Kyuhyun menutup matanya, menyernyit dan menggeram. "Kau membuat ini menjadi sangat sulit."
"Aku tahu." Sungmin menyerah. "Kau tidak harus menatapku saat kau berbicara, jika itu membuatmu merasa lebih baik."
Pemuda yang lebih muda itu mendesah dan menoleh ke arah lain. Kemanapun asal tidak ke arah Sungmin. "Dia mengatakan padaku kalau aku menciumnya, tapi tidak terjadi apa-apa setelahnya."
"Bisakah kau ceritakan padaku apa yang kau rasakan ketika mendengar itu?" Sungmin bertanya, tanpa menunjukkan sedikitpun ekspresi terkejut yang membuat Kyuhyun lega. "Apa kau kesal? Atau merasa lega?"
"Dua-duanya," jawab laki-laki tinggi itu dengan wajah yang lelah. "Lega pertama, tapi frustasi dan kesal setelahnya."
"Kenapa bisa begitu?" Sungmin bertanya, meskipun ia sudah tahu jawabannya.
"Karena aku tidak seharusnya menciumnya." Kyuhyun mengusap keningnya, gelisah memikirkan rahasianya akan terekspos besar-besaran di depan Sungmin. "Aku tidak seharusnya minum-minum dan mabuk semalam."
"Kenapa tidak?" tanya Sungmin menaikkan alisnya. "Aku tidak melihat ada yang salah dengan sedikit terhanyut dalam keadaan seperti itu. Kadang kau membutuhkan yang seperti itu dalam hidupmu."
"Hmm, aku tidak." Kyuhyun menunjukkan ketidaksukaannya. "Aku tidak seharusnya melakukan itu."
"Siapa yang mengatakan kalau kau tidak seharusnya melakukan itu?"
"Aku tidak tahu," jawab Kyuhyun, menggelengkan kepalanya dengan gelisah. "Semuanya."
"Kau tahu apa?" Dokternya berbicara. "Orang-orang di sekitarmu mengatakan padamu kalau kau tidak seharusnya seperti itu. Mengatakan kalau kau harus pegangan kuat-kuat dan jangan sampai kehilangan dirimu sendiri. Mereka mengatakan itu adalah yang terbaik untukmu. Tapi, yang sebenarnya mereka lakukan adalah merampas waktu istirahatmu. Mereka membuatmu menjadi seseorang yang bukan dirimu, dan membuatmu tetap di tempat itu sepanjang hidupmu. Kenapa kau membiarkan mereka semua melakukan itu?"
Kyuhyun mengembalikan tatapannya pada sang psikiater. Ia merasa Sungmin menelanjanginya dengan pernyataan-pernyataannya. "Itulah caraku bertahan hidup sampai sekarang."
"Lalu bagaimana dengan bagian kecil dalam dirimu yang sebenarnya adalah kau yang asli?" Sungmin bertanya. "Apa kau akan membiarkannya membusuk di sudut lain dalam dirimu? Tidakkah kau ingin bagian itu keluar dan membuatnya melihat cahaya?"
"Aku tidak punya pilihan." Kyuhyun menggelengkan kepalanya lagi, kali ini dengan putus asa.
"Ya, kau punya, Kyuhyun." Sungmin mencoba menyemangatinya. "Hidup adalah pilihan. Lihat, kau datang kesini pun karena kau memutuskan memilih itu. Kau memilih untuk menentang jadwalmu. Menentang apa yang orang-orang harapkan darimu."
"Dan aku menyesalinya sekarang." Kyuhyun bergumam. "Aku tahu kalau aku tidak seharusnya berada disini."
"Begini saja," Sungmin berkata dengan penuh percaya diri, namun suaranya tetap lembut. "Aku akan memberikan penawaran padamu."
.
"Penawaran apa?"
"Pemberontakan."
Kyuhyun menyatukan alisnya. "Itu absurd."
"Memang." Sungmin setuju. "Aku menawarkanmu sebuah pemberontakan yang sama gilanya dengan sesuatu yang absurd. Ini benar-benar terserah padamu jika kau ingin mengambilnya atau tidak. Buat pilihanmu. Dan jangan pikirkan tentang apa yang orang lain inginkan. Aku ingin mendengar jawabanmu, bukan yang lain."
"Aku tidak bisa, itu tidak mudah." Kyuhyun berbisik. "Jika aku harus memilih. Aku akan memilih untuk tidak menjadi pemberontak. Itu adalah diriku yang sebenarnya."
"Dan aku akan mengatakan kalau itu adalah sesuatu yang bodoh," kata Sungmin lantang, meskipun nadanya tetap halus. "Tidak ada yang namanya makan siang gratis di dunia ini, Kyuhyun. Akan sangat bodoh dan naif untuk melakukan sesuatu tanpa keuntungan, apapun balasan yang mungkin didapat. Pernahkah kau memikirkan tentang apa yang kau dapat dari orang-orang diluar sana yang memberikan eksprektasi-ekspektasi itu padamu? Orang-orang di sekitarmu menginginkanmu untuk melakukan sesuatu, tapi setelah kau melakukan itu, apa yang mereka katakan? Mereka mengharapkan kau melakukan sesuatu yang lebih besar, makin membentukmu menjadi Kyuhyun yang lain. Lalu, apa yang mereka lakukan sebagai balasan atas apa yang sudah kau lakukan?"
Kyuhyun tidak bisa mengatakan apapun. Tidak ada apapun yang bisa dikatakan, dan dia tahu Sungmin pasti mengerti. Psikiater itu melontarkan kata-kata yang mencengkram hati dan jiwanya keras-keras. Tidak ada satupun kata-kata Sungmin yang bisa ia sanggah.
"Kau melakukan pekerjaanmu untuk mereka, hanya karena memang itu yang mereka harapkan darimu. Kau berpikir, jika kau gagal, mereka akan berpaling darimu dan menganggap dirimu tidak berguna. Dan kau tahu apa? Begitu kau mencoba beralasan untuk dirimu sendiri sehingga mereka tidak akan melihat dirimu yang kekurangan, mereka hanya akan menjawab dengan mengatakan, 'oh, kau disana?'. Itupun akan mereka lakukan asalkan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, begitu saja. Aku tidak akan berbohong padamu, Kyuhyun. Mereka tidak peduli, dan kau tahu itu. Itulah alasan kenapa kau lelah dan ingin berhenti." Dokter Lee berbicara dengan tegas dan laki-laki 26 tahun itu hanya bisa terkesan dengan semua kata-kata yang keluar dari mulut dokternya dengan begitu tenang.
Dan betapa benarnya semua kata-kata itu.
Kyuhyun berpikir kalau Sungmin sekarang sedang mengingatkan dirinya pada sesuatu yang membuatnya depresi—dan betapa gelap dan dingin semua realita itu.
Bagaimanapun, kenyataanya adalah, psikiater manis itu mencoba menjelaskan bagaimana cara Kyuhyun memandang realita. Dimana realita yang gelap dan dingin itu sebenarnya bukan penyebab dari depresinya. Mereka adalah dampak dari depresinya. Dan penyebabnya adalah pikirannya sendiri. Dunia di hadapan Kyuhyun kelihatan mati karena Kyuhyun melihatnya mati, dengan mata yang depresi. Dan mengkristalkan cara pandang yang abstrak itu adalah hal paling pertama yang dokter itu putuskan untuk membantu Kyuhyun. Ia meminta Kyuhyun mengabaikannya dan menggantinya dengan cara pandang yang baru.
"Biarkan aku bertanya satu hal padamu." Kyuhyun menantang dengan tenang. "Jika tidak ada makan siang yang gratis di dunia ini, dan kau menawarkan sebuah pemberontakan padaku, apa yang kau inginkan sebagai balasannya?"
"Aku ingin melihatmu. Kau yang asli." Sungmin tidak ragu-ragu sedikitpun. "Jangan berpikir kalau aku mengharapkanmu untuk berhasil dalam hal ini. Aku tidak peduli jika kau gagal. Faktanya, aku justru memintamu untuk gagal."
"Apakah kau sadar apa yang sedang kau tawarkan padaku, Dok?"tanya Kyuhyun dengan mata tidak percaya. "Kau mengatakan padaku untuk memutar balik kehidupanku, menggulingkan apa yang sudah kujaga selama 26 tahun."
"Yap," jawab Sungmin mantap. "Selama 26 tahun ini kau dibentuk untuk menyempurnakan dirimu demi keuntungan orang-orang, bukan demi dirimu sendiri. Dan kau sudah mengakui itu."
"Kau mengatakan hal itu seakan-akan aku menyiksa diriku untuk sesuatu yang tidak eksis di dunia ini. Kau benar-benar berpikir seperti itu?" Kyuhyun menyembur, suaranya menandakan kemarahan. "Aku sudah membentuk diriku sesuai dengan apa yang akan orang-orang terima, karena aku tahu itu akan membuatku merasa lebih baik sebagai imbalannya."
"Dan kau disini, depresi. Itu yang kau bilang lebih baik?" Sungmin berkata tidak dengan nada merendahkan.
.
Kyuhyun tidak bisa membalas.
Dia membuka mulutnya, tapi harus menutupnya lagi karena kekalahan yang pahit yang ia telan. Tidak bisa menemukan kata-kata untuk membalasnya karena apa yang dikatakan Sungmin sudah terlalu benar. Dia tidak pernah kalah saat beradu argumen dengan siapapun, kecuali dengan orang di depannya yang untuk pertama kali dalam hidupnya, memiliki nyali untuk berbicara dengan cara seperti itu untuk membuatnya sadar kalau ia ternyata sudah salah selama ini.
"Itulah kenapa aku memberikan kesepakatan semacam ini." Dokter itu melanjutkan. "Karena kau sempurna, tapi sayang itu bukan dirimu."
Jeda panjang itu ada disana, mengisi saat-saat dimana mata kedua pemuda itu kembali bertemu dalam komunikasi yang tidak melibatkan kata-kata di dalamnya. Akhirnya, Kyuhyun menyerah, menghela napasnya. "Kau benar."
"Jadi, biarkan aku menanyakan ini sekali lagi," bisik Sungmin. "Apa yang membuatmu lelah?
.
Apa yang membuatnya lelah?
Apa yang tidak bisa ia hentikan seorang diri?
Apa yang membuatnya depresi? Yang membuatnya datang kesini?
Jawabannya melayang dalam pikirannya. Mereka selalu ada disana, sebenarnya. Menunggu Kyuhyun menyadari keberadaan mereka suatu saat. Berharap suatu saat itu adalah sekarang.
Kyuhyun ingin dirinya dilibatkan, dan untuk itu, dia harus berlari ke puncak, untuk dikenali dan diakui. Tapi ketika dia melakukannya, jadi lebih banyak harapan—ekspektasi yang menjadi lebih sulit untuk ditangani, dan orang-orang tetap tidak akan tinggal dan berada di sisinya. Dia menyadari fakta ini, tapi entah kenapa tidak bisa berhenti melakukan hal sia-sia ini.
Dia ingin menyingkirkan orang-orang dari lantai dansanya—orang-orang yang meninggalkannya sendirian.
Tapi, pada saat yang sama, dia ingin menemukan orang yang tidak menggunakan topeng yang tersenyum padanya—yang benar-benar tersenyum padanya.
Dia hanya ingin pesta topeng sialan ini segera berakhir.
.
.
"Aku lelah dengan orang-orang." Kyuhyun akhirnya bicara, diam dan pelan pada langit-langit di atasnya. "Dan...sendirian."
Di saat itulah Sungmin menggapai tangannya dan menggenggam Kyuhyun, lagi, seperti kemarin.
'Selamat,' pikirnya, tersenyum pada Kyuhyun yang tidak menarik diri. 'Kau sudah mengeluarkan semuanya,' lanjutnya dalam hati saat Kyuhyun menurunkan tatapannya dari langit-langit dan menatapnya.
.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan untuk pertama kali?" Psikiater itu berucap dengan hati-hati, mengencangkan cengkraman tangannya dan membungkuk mendekat. "Sadari bahwa dunia ini penuh dengan orang-orang. Termasuk mereka yang tidak peduli. Termasuk mereka yang peduli."
Kyuhyun menyeringai. "Apa itu artinya aku harus keluar dari tempat dimana aku berada dan kemudian pergi ke tempat lain dimana ada orang-orang yang seperti itu?" Perlahan ia merasakan kehangatan yang menyebar di tangannya. Mencoba mengabaikannya dengan bagian yang bernama harga diri yang belum sepenuhnya ditelanjangi Sungmin.
"Kau tidak perlu pergi jauh-jauh." Sungmin tersenyum lebar. "Temukan seseorang yang yang mau mendengarkanmu sepenuh hati, seseorang yang ada di dekatmu."
"Dan bagaimana mungkin kau mengira aku akan melakukan itu?"
Sebelum berbicara, Sungmin mulai menggerakkan jarinya, menggeser ke bagian bawah tangan Kyuhyun, mencapai tempat dimana jam tangan silver melingkari pergelangan tangannya. Kyuhyun hanya memperhatikan pergerakan itu sampai Sungmin membiarkan jari-jari lembutnya berada di bawah jam tangan Kyuhyun, menemukan bekas lukanya.
Kyuhyun menarik tangannya, tapi Sungmin tidak melepaskannya begitu saja.
Bekas goresan silet di pergelangan tangannya masih cukup jelas untuk dirasakan. Ia merinding saat Sungmin membelainya dengan ibu jarinya. Saat semua sejarah menyakitkan tentang percobaan bunuh dirinya mulai mengabur, Sungmin menjawab.
"Mulai denganku." Suara itu hanya untuk Kyuhyun. "Aku pemberontakanmu."
.
oo-0-oo
.
Sungmin sempat melirik jamnya sebentar malam itu. Nyaris tengah malam dan ia masih duduk serius dengan laporan kesehatan Kyuhyun di tangannya. Kakinya bersila di sofa ruang tamu saat ia membaca kertas yang sama untuk entah keberapa kalinya.
Semua lampu apartemennya menyala—Ya, dapur termasuk. Percakapan drama percintaan yang ia benci pun terdengar dengan jelas dari televisinya. Benci memang, tapi televisi itu harus tetap menyala. Lampu-lampunya akan mengusir kegelapan yang tidak bisa ia hadapi sendirian, sedang televisinya akan membantu mengenyahkan kesunyian yang menyeramkan.
"Cho Kyuhyun," gumamnya.
26 tahun. Anak laki-laki satu-satunya dari Cho Yeunghwan, Presiden SJ Ltd. Bertunangan dengan Jung Jessica dari SMEnt. Inc.
Pasiennya ini, secara klinis, belum lama mengalami depresi. Tapi, karakter dan kepribadiannya sudah gelap dan serius sejak awal—sepanjang hidupnya. Dia anggota keluarga kesayangan, itu fakta yang jelas karena ia anak Presiden Cho, tipikal pemuda yang selalu dijadikan panutan dan diberi ekspektasi tinggi-tinggi oleh kanan-kirinya.
Peristiwa-peristiwa yang memancing depresinya—termasuk di dalamnya—adalah saat keluarganya mengetahui orientasi seksual Kyuhyun yang sebenarnya. Pemuda itu sebenarnya juga baru menyadarinya saat ia masih menjadi murid menengah atas. Pesan singkat dari temen sekelas yang menaruh hati padanya juga ditemukan oleh ibunya pada masa itu. Keluarganya gempar, dia dipukuli, diusir oleh ayahnya selama seminggu penuh—pun seminggu itu karena ia yang memohon tanpa henti agar dimaafkan dan kembali diakui sebagai anggota Keluarga Cho yang terhormat.
Kejadian yang membuatnya tidak stabil itu diperparah dengan sikap paranoid keluarganya terhadap media. Mereka menyusun pertunangan Kyuhyun dengan anak perempuan presiden perusahaan ternama lainnya untuk menutupi kenyataan yang memalukan ini. Dan sejak pertunangan itu, Kyuhyun diharapkan untuk menahan seluruh perasaan dan emosinya yang sebenarnya.
Peristiwa kritis dari depresinya terjadi saat tunangannya menangkap basah dirinya yang mabuk berciuman dengan salah seorang karyawan SJ Ltd. Kyuhyun meminta maaf dengan sangat tulus untuk masalah itu, tapi keluarga dan tunangannya tidak mempermudah jalannya kali ini. Keluarganya percaya pada kesalahan seorang dokter yang mendiagnosis keadaaan kejiwaannya, sehingga Kyuhyun dipaksa ke rumah sakit jiwa, menghabiskan hari-hari menyeramkan bersama orang tidak waras disana. Tapi, itu bukan akhir. Keluarganya kembali berpaling dan mengabaikannya. Mereka tetap mengatakan mereka kecewa dan jijik bahkan setelah Kyuhyun membuang semua perasaan dan harga dirinya hanya untuk berlutut dan memohon belas kasihan mereka. Kyuhyun melakukan semua cara yang ia bisa, termasuk kembali ke rumah sakit dengan keadaan jiwanya yang jelas sehat dan tidak terganggu. Ia kemudian kembali setelah dikurung beberapa hari disana dengan keadaan depresi parah. Ironis.
Meskipun keluarganya menerimanya kembali dengan syarat ia akan setia pada tunangannya, tunangannya sendiri justru tidak kelihatan senang sedikitpun saat melihatnya. Dan perang dingin diantara mereka terjadi sampai sekarang.
Cho Kyuhyun adalah kasus yang serius.
Kebanyakan pasien Sungmin akan gemetar, berkeringat dingin, atau menunjukkan reaksi lain untuk mengekspresikan rasa takut saat mereka berjalan ke kliniknya. Itu yang seharusnya. Itu yang akan memudahkannya. Dia akan dengan mudah menetapkan gejala-gejala mereka dan mereka akan mematuhi instruksinya agar mereka bisa melepaskan diri dari situasi mereka saat itu.
Bagaimanapun juga, Kyuhyun menawarkan cerita yang seratus persen berbeda. Dia tenang dan dingin dari luar, menolak untuk meminta bantuan atau dibantu. Berlagak seakan tidak ada yang salah dengan hidupnya di saat sebenarnya ada sesuatu yang tersembunyi di sudut paling dalam yang ia tutupi dengan lapisan tak terhitung yang dinamakan kepura-puraan.
Dia tidak mudah ditebak, itu yang membuatnya menjadi lebih berbahaya dan tidak stabil. Akan menjadi pekerjaan sulit bagi Dokter Lee untuk menghancurkan lapisan-lapisan itu dan menyelamatkannya.
"Apakah kau sadar apa yang sedang kau tawarkan padaku, Dok?"
Kalau Kyuhyun menjadi dirinya sendiri, dia mungkin akan membawa keluarganya pada kehancuran, kehidupan yang ia bangun dengan keras juga pasti akan musnah, tapi Sungmin tidak peduli. Ia tidak peduli pada keadaan di sekitar Kyuhyun. Prioritas utamanya adalah menyelamatkan Kyuhyun, seorang manusia, dan tidak ada yang lain.
Sungmin memijat pipinya sendiri yang sudah kaku karena terlalu serius dengan Kyuhyunnya. Saat helaan napasnya yang berat keluar ketika ia kembali membaca kronologi percobaan bunuh diri Kyuhyun, ponselnya berdering, mengagetkannya.
"Halo?"
[Hai, sayang.] Ini Kanginnya.
"Oh, hai~" sapa Sungmin dengan riang, menjauhkan dokumen yang daritadi menyita seluruh perhatiannya.
[Apa yang sayangku masih kerjakan malam-malam?] Kangin bertanya dengan suara yang membuat Sungmin nyaman. [PR-mu belum selesai?]
"Belum." Sungmin tertawa. "Aku sedang merevisinya, Pak Polisi."
[Biar kutebak. Kau pasti menyalakan semua lampu lagi, 'kan?]
"Seratus untukmu! Tapi, lampuku rusak," adunya dengan wajah memelas. Seandainya Kangin bisa melihat wajah Sungmin, Sungmin yakin kekasihnya tidak akan berhenti menciumnya. "Aku harus menyalakan semuanya sepanjang malam.
[Aku akan membawakan lampu yang baru nanti. Tetap sadar, ya, manis.]
Sungmin tertawa lagi, melirik sekilas pada lampunya yang rusak. Dulu juga Kangin yang datang dan membelikan sekaligus memasangkan lampu itu untuknya.
[Min, aku minta maaf karna tidak menghubungimu kemarin. Semua yang terjadi benar-benar sangat kacau kemarin.]
Kangin dan kepribadiannya yang seperti dua sisi koin lagi.
"Tidak apa-apa," jawabnya. "Aku akan memaafkanmu kalau kau mengatakan dimana kau sebenarnya saat itu."
[Apa maksudmu?] Kali ini Kangin yang tertawa. [Aku di stasiun, 'kan?]
"Aku psikiater, Tuan Kim. Jangan berbohong padaku." Meskipun ia marah, ia yakin ia akan tetap memberi senyum paling manisnya saat berhadapan dengan Kangin yang kebingungan. "Kau tidak di stasiun. Sooman-gwajangnim juga tidak ada disana. Iya kan?"
Ada jeda yang tidak terlalu lama diantara mereka sebelum Kangin menyerah. [Astaga, Min. Kau tahu?]
"Oh, jadi kau benar-benar berbohong padaku." Bukan pertanyaan.
[Well, karena kau sudah tahu, ya, aku berbohong.] Jawaban Kangin sarat dengan penyesalan. [Sayang, kau tahu apa yang kulakukan. Semuanya berhubungan dengan rahasia. Bukan berarti aku tidak percaya padamu, hanya saja sudah tugasku untuk tidak menceritakan kasusnya. Maksudku, kau profesional, kau pasti tahu yang kumaksud dengan peraturan mengenai kerahasiaan. Benar, kan?]
"Hmm...aku mengerti," respon Sungmin dengang desahan berat. "Dan itu artinya kau tidak bisa mengatakan padaku dimana kau saat itu?"
[Maaf.] Selain menangkap penyesalan dan permintaan maaf yang tulus dari Kangin, Sungmin menangkap kelegaan di suaranya. Entahlah, mungkin Kangin lega karena ia tidak membalas dengan bentakan atau teriakan seperti orang kesurupan.
"Tidak apa-apa." Sungmin akhirnya mengangkat bahunya. "Aku hanya, well, maksudku, aku pikir kau lebih baik mengatakan langsung padaku kalau itu rahasia daripada berbohong padaku, Kanginnie-hyung."
[Kau benar. Aku seharusnya melakukan itu.] kata Kangin. [Kau...tidak marah, 'kan?]
"Marah? Tidak, tidak. Tidak sepert itu." Sungmin tertawa keras. "Aku hanya kelewat merindukanmu. Sangaaaaat merindukanmu."
[Aku juga merindukanmu, Min.] bisik Kangin, membuat pipi Sungmin panas dengan sendirinya. Senyumnya merekah saat itu juga.
"Jadi?" tanya Sungmin. "Makan malam hari minggu ini?"
[Apa psikiaterku yang manis baru saja mengajakku?] Kangin membalas dengan riang. [Aku yang akan urus makan malamnya. Sebagai permintaan maaf.]
"Okay~" Sungmin menyetujui dengan nada yang tidak kalah riang. "Sampai bertemu hari minggu kalau begitu."
[Sampai bertemu hari minggu. Cepat tidur kalau pekerjaanmu sudah selesai, sayang.]
Sungmin menekan ponselnya ke dada setelah mereka bertukar ucapan 'saranghae dan jaljayo'. Ia kadang tidak habis pikir bagaimana Kangin bisa membuatnya bertingkah seperti gadis yang baru pertama kali jatuh cinta.
Oh, betapa ia mencintai Kanginnya.
.
.
.
To Be Continued
Saya kehilangan mood beberapa minggu ini. Mungkin karena Umin menghilang, tapi yeay dia kembali~ Panjang kan chapter ini? Ga marah kan karena apdetnya lama? Hehe
Ah iya kemaren banyak banget typo, jadi malu saya. Makasih banyak yang udah ngingetin. Saya udah benerin yang kemaren sama semoga yang ini paling ga typonya berkurang lah. Saya ga ngerti kenapa ngurangin typo itu susah, mungkin karena saya males hehe
Dan sekali lagi makasih banyak apresiasinya: review, fave, follow :D Oh betapa bahagianya saya kalo bacain review~ Yang udah baca yang aslinya masih mau baca yang ini saya ngerasa ga enak jadinya, tapi tersanjung juga :) Saya tunggu perbaikan dari temen-temen yang mau bantu laporin kalo liat typo sama keanehan yang lain hehe.
.
.
-Chapter 1-
Lee'90 : O..oh makasih review dari chapter 1 hehe
Bluepearl : Makasih banyak :D
KMalways89 : Judul FF ini malah ngingetin aku ke acara jepang jaman dulu yang ditayangin di Indonesia xD
Guest : Ah, ya, makasih banyak mau repot ninggalin review di Masquerade yang indonesia version. Oh? Twitter ya...hm okey :D Aku ada akun di AFF :)
upi : Udah aku lanjutin chapter 3nya hehe
-Chapter 2-
5351: Makasih banyak hehe, semoga enjoy sama translate chapter ini juga :D Hero itu diam-diam saya hahaha. Tapi, kupikir rate M ga cuma buat NC aja, dear hehe. Makasih juga reviewnya :)
DongKi : Apalagi kalo liat chapter ini Kyuhyun lebih miris, dan Sungmin enak-enaknya pacaran sama ayang Kangin mahahaha. Makasih ya hehe aku juga kaum awam jadi pake bahasa seadanya. Semoga masih mau nunggu kelanjutan kelanjutan kelanjutannya lagi :D
Minglove : Hero itu aku ._. Bener bener /nod/ untung dia temenan sama Heechul paling ga masih ada sensasi sedikit di hidupnya. Aku lanjut lagi loh, kamu nangis haru lagi gak? /slapped/
Maximumelf : Hero-kyuhyunnya...emm...kita liat di depannya xD
lebah madu : gak kasian apa sama kyuhyun sampe pengen liat dia jatoh? Hidupnya udah merana loh itu hahaha Tapi Heechul liar itu ga ngagetin kan? xD
endah. kyumin137 : Tenang aja bawang merah yang profesional, Hero itu aku kok, jadi aku yang main sama kyuhyun semalem muahahaha jangan jitak plis. Aku setuju~ authornya keren bikin karakter sungmin sama heechul. Tapi chap ini lebih lama dari kemaren deh kalo ga salah ya kan ya kan? Nado saranghae, lofyu muah muah.
Aiueooo : Hero itu aku~ Nah tunangannya Kyuhyun udah keluar tuh namanya hehe
Lee'90 : Ah, bukannya heechul keren dapet peran begini? xD Makasih dukungannya. Hwaiting!
farla 23 : Iya authornya asli keren banget bikin FF begini T.T
nuy : Selamat datang kalo gitu hehe. Satu orang lagi yang jatuh cinta sama karakter Sungmin~ Ah, dia emang keren disini.
sissy : Dan akhirnya kamu baca sampe yang NCnya loh hahahaha chukkae ga muntah baca itu. Hero itu aku jadi Kyuhyun bobok sama aku
Bluepearl : Iya, setting sama bahasa yang dipake disini ga bisa dikorselin(?) banget karena aku ga punya otoritas buat ganti itu hehe. Selamat menikmati chapter 3nya :D
Chikyumin : kkk dan kayaknya Kyuhyun harus bersabar karena Ming udah ada yang punya. Kyuhyun ditelanjangin sama Hero xD
Okoyunjae : dan aku dateng bawa lanjutannya :D
zaAra evilkyu : Hero itu aku lol. Makasih udah review~
Myst-girl : Aku ga milih FF ini buat di sadur sebenernya, tapi ada temen yang amat sangat baik hati sampe mintain ijin ke yang punya dan aku jadi bikin deh hehe. Kenapa nungguin yang baru? Aku ga punya ide apa-apa xD Boleh boleh kok. Manggil adek juga boleh. Aku 19 taun :D Dan...em aku tau FF ini dari temenku, FF aslinya bisa diliat di AFF. Makasih dukungannya. Hwaiting for you too :)
UnyKMHH : dan abis itu Kangin sama Sungmin jadi suami aku(?). Ah iya bener Kyuhyun makin terbuka, sampe bajunya pun kebuka di hotel gara-gara ditelanjangin Hero hahaha
yeminmine : habislah daku. Kemaren bilang semoga lebih cepet jadinya malah lebih lama. Gak lagi-lagi deh beb bilang mau apdet cepet. Wah kalo kyumin ada romatis-romantisnya gawat dong nanti om kangin gimanah. Apa Sungmin aku nikahin aja biar masalah ini selesai? lol sungmin cintanya sama telor ungu bebs, kita harus ngalah. Hahaha masuk apanya nih? Beneran ambigu ah xD
Guest : Kenapa kamu bilang gitu? Tapi makasih banyak ya aku terharu T.T Love you too, guest.
Ria : Maaf ya eon aku ga bilang bikin yang baru. Abis ini ga sebagus aslinya sih aku jadi minder D: Mungkin karena Kyuhyun takut sama Kangin hahaha. Kalo efeknya sama nanti Kyuhyun manggil Sungmin pake sayang gitu dong? xD
ardelia19 : Makasih banyak /blush/ cium juga deh, bonus peluk :D
winecouple : Hero nelanjangin Kyuhyun hahaha
hyunyoung : Makasih udah mau nunggu :D
KMalways89 : Hero itu aku~ Jadi kyuhyun NC sama aku (muntah sendiri bayanginnya) Etapi, heenim keren kan? Kkk Kalo yang disodorin langsung Sungminnya, tamat langsung ceritanya hahaha
Guest : makasih ya dukungannya :) Hero itu Hero (akhirnya nyerah bilang Hero itu aku) Aku juga suka Masquerade :D Hidup masquerade lover!
mimi : you're apa? Tunangannya kyuhyun udah keluar namanya tuh hehe. Hero juga semoga bisa clear perannya disini.
qq : Iya? Makasih banyak ya. Tapi aku minder kalo yang udah baca aslinya baca yang ini. Berasa perbedaannya keliatan banget D: Komen-komen ya kalo bahasanya jadi aneh. Makasih yaaaa hehe :D
juu : Kamu mau review aja aku udah seneng banget kok hehe
kyufit0327 : Semoga suka lanjutannya :D
Guest : Ini aku lanjut. Kelamaan ya? Mian :(
