Chapter 3


Sebenarnya Kyungsoo ragu apakah Kai merasa nyaman dengan keberadaannya yang kini lebih sering menghabiskan waktu di gositelnya dibandingkan kamarnya sendiri. Kai memang selalu diam, dia hanya akan bicara jika Kyungsoo yang bertanya. Jika percakapan yang dimulai Kyungsoo jauh lebih serius, maka pria itu juga akan tetap menanggapainya, selama apapun itu—meskipun masih dengan balasan seadanya.

Terkadang Kyungsoo merasa keberadaannya malah membuat Kai tidak bisa beristirahat. Sering kali Kai hanya menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam. Sesekali dia berdehem dan menanggapi semua ucapan yang di lontarkannya. Tetapi tak jarang pria itu hanya diam sebelum akhirnya sebuah dengkuran halus terdengar menandakan bahwa Kai sudah tertidur. Pada saat itulah Kyungsoo akan diam-diam menyelinap keluar meninggalkan gositel Kai meskipun pada kenyataannya ia masih ingin berlama-lama disana. Tetapi apa yang harus ia lakukan selagi Kai tidur? Mematung dan berdiam diri, atau bahkan ikut tidur disana? Itu tidak mungkin ia lakukan—dengan alasan bahwa ia tidak ingin mengganggu pria itu.

Malam ini ia akan kembali bekerja. Setelah kemarin malam, Kyungsoo memberanikan dirinya untuk kembali ketempat bekerjanya. Ia sudah tahu bahwa Manager Yoon pasti sedang menunggunya. Tidak seperti biasanya, Kyungsoo memilih untuk memperlambat waktu kedatangannya malam ini seolah keterlamabatannnya dapat membuat Manager Yoon bosan menunggu dan memilih untuk pulang—meskipun mustahil untuk terjadi.

Ketika Kyungsoo baru saja keluar dari rumahnya. Ia kembali berpapasan dengan Kai. Seperti biasa pria itu akan memakai jaket lusuhnya dengan hodie yang menutup hampir seluruh kepala hingga sebagian wajahnya. Kyungsoo memanggil namanya membuat Kai akhirnya berhenti dan menoleh kepadanya.

"Kemana?" tanya Kyungsoo.

Bukannya menjawab pertanyaan Kyungsoo, sebaliknya Kai melontarkan pertanyaan yang lain kepadanya. "Kau berangkat ke minimarket malam ini?"

Kyungsoo mengangguk dengan ragu. "Yah, aku memang harus bekerja," jawab Kyungsoo lemah. "Kita bisa berangkat bersama, jika kau memang mau?"

Kai sama sekali tidak menjawabnya. Ia hanya memberi sebuah anggukkan. Menjawab ajakan Kyungsoo sehingga membuat pria itu berjalan mendekati Kai dan mulai melangkah di depannya. Kai hanya mengikutinya dari belakang. Dan seperi kebiasannnya, Kai akan memilih diam tanpa membuka suaranya satu kalipun. Tidak ingin terus berdiam dalam sebuah kecanggungan. Kyungsoo memilih untuk menjadi oragn pertama untuk membuka sebuah percakapan.

"Ngomong-ngomong, dimana kau bertarung?"

Butuh waktu cukup lama untuk Kyungsoo menunggu hingga akhirnya Kai menjawab pertanyaannya. "Bengkel lama."

Kyungsoo mengernyit mendengar tempat itu, sebuah bengkel? Bengkel lama? Bengkel yang sudah ditinggalkan? Kyungsoo penasaran dengan jawaban Kai yang tidak memiliki kejelasan apapun. Tidak ada sebuah tempat yang bernama 'bengkel lama' selain memang bengkel itu sudah lama berdiri.

"Dan dimana itu?"

"Kenapa kau ingin tahu?" tanya Kai tanpa menatap Kyungsoo. Ia masih berjalan lurus di belakang Kyungsoo hingga akhirnya ia berhenti ketika Kyungsoo berbalik dan menghentikan langkahnya.

"Aku hanya ingin melihat bagaimana kau bertarung," ucap Kyungsoo dengan santai, "kurasa aku juga harus menilai bagaimana caramu bertarung di sana."

Kai menggeleng, "aku tidak akan memberitahumu dimana itu berada."

"Hey kenapa?!"

"Aku hanya tidak ingin membuatmu melihatku bertarung. Itu saja," jawabnya dan dengan santai kembali berjalan melewati Kyungsoo begitu saja

Tidak terima dengan penolakan Kai, Kyungsoo mengejar ketertinggalannya hingga pada akhirnya ia berjalan beriringan dengan Kai. "Kenapa aku tidak boleh melihatmu bertarung? Apa itu sangat menyakitkan? Menakutkan? Atau menyeramkan? Kurasa itu tidak masalah menjadi tontonan untukku."

"Karena kau menganggapnya itu tontonan maka aku tidak ingin kau melihatku bertarung."

Kyungsoo mengernyit. Ia menatap Kai lekat yang masih memaku tatapannya lurus ke depan. Kyungsoo masih bicara untuk meminta kejelasan penolakan Kai untuk bisa melihat pertarungannya tetapi Kai masih tetap diam, ia sama sekali tidak merespon setiap apa yang Kyungsoo ucapkan. Hingga pada akhirnya Kyungsoo mulai lelah dan memilih untuk kembali diam. Sama seperti yang dilakukan Kai selama perjalanan.

Selama keterdiaman itu pula Kyungsoo mulai kembali memikirkan apa yang telah Kai ucapkan kepadanya begitupun dengan apa yang telah ia ucapkan. Saat itulah Kyungsoo sadar dengan perkataannya yang mungkin menyinggung perasaan Kai. Kyungsoo sempat ingin membuka percakapan kembali tetapi rasa canggung menghinggap di antara mereka. Kyungsoo tiba-tiba saja merasa ragu dan pada akhirnya ia memilih kembali diam hingga mereka sampai di tempat kerja Kyungsoo.

"Hey, maafkan aku," ucap Kyungsoo ketika mereka sampai.

Kai mendongak dari balik hoodie-nya menatap Kyungsoo.

"Apa ucapanku telah menyinggungmu, maksudku.. aku tidak bermaksud melihat pertarunganmu sebagai tontonan saja."

Kai menggeleng, "Itu bukan masalah bagiku, sudah kukatakan aku tidak ingin kau melihatku bertarung."

Kyungsoo kembali sempat ingin bertanya tetapi ia mengurungkan niatnya karena itu akan berakhir sama saja. Sekeras apapun Kyungsoo meminta kejelasan pria itu, Kai akan tetap menolaknya. Jadi Kyungsoo lebih memilih untuk bungkam dan segera memasuki minimarket. Melihat minimarket yang hanya berjarak beberapa meter di hadapannya kini membuat yungsoo merasa takut. Tiba-tiba ia mengingat kembai tentang kejadian kemarin yang mengharuskan ia meninggalkan minimarket dalam kedaan kosong juga manager Yoon.

"Kau harus segera bekerja," ucap Kai membuat Kyungsoo mendesah.

"Ya, kau benar. Kau akan pergi sekarang?"

Kai mengangguk membuat Kyungsoo ikut menganggukkan kepalanya mengerti. "Baiklah, bertarunglah dengan baik untuk hari ini. Mungkin tidak sekarang, tetapi suatu hari nanti aku akan tetap melihatmu bertarung."

Ketika Kyungsoo tersenyum dengan kaku, Kai masih berdiri di tempatnya dengan tatapan yang terpaku lekat kepada Kyungsoo. Seolah tidak ada hal lain yang dapat ia lakukan saat ini hanya untuk sekedar melihat Kyungsoo yang masih bersikeras untuk melihat bagaimana ia bertarung.

"Jangan pernah berpikir untuk bisa melihatku bertarung Kyungsoo," ucap Kai dengan tenang namun penuh dengan penekanan membuat Kyungsoo membalas tatapannya yang lekat. "Aku ingin mengatakan satu hal, aku tidak memaksamu untuk menerima atau menjawabnya. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menyukaimu."

Kyungsoo membeku seketika mendengar ucapan Kai yang tidak terduga. Ia menatap lekat Kai yang masih tenang seperti biasanya sampai pria itu kembali membuka suaranya.

"Aku sangat mengerikan, jika kau memang ingin tahu bagaimana caraku untuk bertarung. Jadi tetaplah disini, berpura-puralah tidak tahu apa-apa sehingga aku tetap bisa berdiri pada batasanku."

Kyungsoo masih bungkam, detik berlalu menjadi sebuah keheningan yang canggung di antara mereka. Ada rasa penasaran menguar dari dalam hati Kyungsoo. Rasa suka, perasaan yang belum bisa Kyungsoo pahami secara jelas tentang apa arti dari menyukai yang Kai katakan. Berusaha untuk mengalihkan rasa kecanggungan yang semakin menekan jantung Kyungsoo, ia memilih menunduk dan kembali melangkah. Begitupun dengan langkah Jongin yang kembali mengikutinya dari belakang.

Tidak ada lagi suara, entah itu dari Kyungsoo maupun Kai. Kyungsoo tidak tahu apa yang Kai pikirkan kali ini tetapi baginya, seluruh kepalanya rasanya ingin meledak akan rasa penasaran. Kyungsoo hampir saja membuka suaranya untuk bertanya akan tetapj ia terlalu malu untuk menanyakan. Bagaimanapun ini adalah kali pertama ia mendengar seseorang menyukainya. Kyungsoo tidak peduli arti dari rasa suka itu tetapi mendengar seseorang mengatakan hal itu kepadanya bukankah itu berarti dia tidak merasa terganggu dengan Kyungsoo—tentang kesialan yang sering sekali digunjingkan orang-orang terhadapnya. Kyungsoo senang, hanya itu.

"Sebaiknya aku segera pergi, lagipula kau sudah sampai."

"Ngg..." Kyungsoo bahkan tidak dapat bereaksi apa-apa ketika Jongin sebenarnya telah cukup jauh di tempat berdirinya saat ini. Bahkan Kyungsoo tidak memiliki kesempatan sedikitpun untuk mengucapkan selamat malam ketika langkah pria itu sudah mulai berlalu meninggalkannya.

Melihat kepergiannya lantas Kyungsoo kembali penasaran kemana sebenarnya Kai akan pergi. Sekeras apapun Kai menolak keberadaan Kyungsoo untuk melihatnya bertarung, Kyungsoo tetap saja ingin tahu. Mungkin suatu hari nanti.

Kyungsoo berbalik setelah sosok Kai tak dapat lagi dilihatnya. Kini tatapannya tertuju pada sebuah etalase pintu kaca besar di hadapannya. Kyungsoo seketika mendesah untuk menenangkan dirinya sendiri. Sudah cukup memikirkan tentang hal aneh tadi, sekarang ia harus menghadapi apa yang akan segera terjadi kepadanya.

Kyungsoo telah benar-benar menyiapkan mentalnya kali ini. Bahkan ketika ia memasuki pintu masuk minimarket, Kyungsoo berusaha untuk tidak terkesiap mendapati Manager Yoon sudah berdiri seolah benar-benar tengah menyambut kedatangannya.

"Terlambat lima belas menit Do Kyungsoo. Tidak seperti biasanya."

Kyungsoo segera membungkuk dengan gugup, "maafkan aku."

Manager Yoon menaikan satu alisnya membuat Kyungsoo semakin gugup setengah mati. Ia ingin mencari sebuah alasan agar manager Yoon mau memaklumi keterlambatannya akan tetapi Kyungsoo sadar, managernya tidak akan pernah peduli. Maka dari itu Kyungsoo hanya bisa berdiri dengan tubuh yang tegang dan kepalanya yang menunduk bersalah.

"Apa yang terjadi kemarin malam?" Tepat sekali, ini adalah saatnya Kyungsoo benar-benar mencari alasan yang pasti. "Kemana kau kemarin malam?"

"Kemarin..," Kyungsoo menautkan jari-jemarinya untuk menguatkan dirinya sendiri. "Kemarin ada pihak kepolisian yang memintaku untuk datang ke kantor polisi. Ada sebuah kasus dan aku adalah saksinya."

"Kepolisian benar-benar memintamu datang?"

"Mereka datang menjemputku disini."

"Dan kau pergi begitu saja?" Kyungsoo lantas menggigit bibirnya medengar penuturan Manager Yoon yang semakin tegas. "Dan kau meninggalkan minimarket ini begitu saja dalam keadaan kosong?"

"Itu.. aku tidak bermaksud, aku terpaksa.. maksudku, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Mereka memaksaku untuk mengikuti mereka."

"Tapi tidak seharusnya kau meninggalkan minimarket ini dalam keadaan kosong. Kau seharusnya bertanggung jawab."

"Saya tahu, maafkan aku."

Manager Yoon mendesah ketika Kyungsoo terus membungkuk meminta maaf di hadapanya. Ia berkacak pinggang sebelum akhirnya kembali berbicara dengan nada yang masih tedengar tegas.

"Sebaiknya kau pulang saja Kyungsoo, hari ini sudah ada yang menggantikkanmu."

"A—apa?"

"Pergilah Kyungsoo, aku akan memanggilmu kembali minggu depan."

Kyungsoo tergagap, ia hendak membuka suaranya tetapi tatapan tajam Manager Yoon yang benar-benar mengeaskan bahwa ia telah diberhentikan untuk sementaa waktu membuat Kyungsoo kembali menutup mulutnya. Kyungsoo tidak bisa melakukan apa-apa. Bakan ketika ia baru mendapati seorang pemuda menatapnya dari belakang kasir. Pemuda itu tersenyum getir seolah memahami perasaan Kyungsoo kali ini. Seperti semua tenaganya terserap habis dalam keputusasaan, Kyungsoo hanya bisa menunduk tanpa memberi balasan papaun kepada pemuda itu. Kyungsoo hanya bisa merutuki nasibnya. Meskipun itu bukan kesalahannya tetapi Kyungsoo harus terimbas akibatnya.

Pada akhirnya Kyungsoo berjalan dengan gontai menuju pintu dan hanya bisa berdiri dengan kebingungan ketika ia telah benar-benar berada di luar. Sekarang kemana ia pergi? Ia tidak mungkin pukang kembali ke rumah. Ia belum siap jika bibinya kembali menayakan keberadaannya yang tidak bekerja, terlebih mengetahui tentang pemberhentian sementaranya. Nasibnya memang benar-benar sangat buruk hari ini.


"Kyungsoo.. Kyungsoo."

Pria itu terusik ketika ia menyadari ada sesuatu yang tengah menyentuh bahunya, mengguncangnya dengan teramat pelan. Meskipun begitu, ia tetap terbangun dari tidurnya lantas membuka matanya untuk menatap sepasang mata teduh yang tengah memerhatikannya. Kai, sejak kapan dia ada disini?

"Kenapa kau tidur disini?"

Kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Dibandingkan untuk merespon pertanyaan Kai, ia malah mendudukkan tubuhnya dan menatap sekeliling ruangan dengan tatapan bingung. Ini adalah gositel Kai, Kyungsoo sadar itu dan ketika ia kembali menatap Kai dengan wajah penasarannnya. Kyungsoo tersenyum canggung.

"Ah.. aku lupa membawa kunciku tadi malam. Tadinya aku ingin masuk melalui belakang tapi aku takut mengganggu bibiku jadinya aku datang ke gositelmu." Kungsoo masih bisa melihat dengan jelas raut penasaran pria itu, takut-takut ia kembali bicara dengan pelan. "Sebenarnya aku menemukan kuncimu di atas pintu, jadi ya.. aku masuk saja. Kau tidak keberatan 'kan?"

Kyungsoo menunggu respon dari Jongin, memang alasannya tidak cukup masuk akal tetapi Kyungsoo hanya ingin Jongin tidak mengetahui tentang pemberhentian sementaranya. Semalam Kyungsoo sendiri bingung memilih untuk pulang atau memperlambat waktu pulangnya untuk menghindari pertanyaan bibinya yang mungkin akan menyadari kenapa Kyungsoo bisa pulang sedangkan jam malam adalah waktunya ia untuk bekerja. Kyungsoo sempat memilih opsi kedua akan tetapi ia juga tidak mungkin melewati waktu malamnya di luar dengan cuaca dingin seperti ini. Pada akhirnya ia memilih pulang dan mengingat bahwa ada satu tempat yang bisa menjadi tempat perlindungannya untuk sementara waktu. Siapa yang menyangka bahwa Kai juga tidak membawa kunci goistelnya. Jadilah malam itu ia memilih untuk beristirahat.

"Apa kau sedang memiliki masalah?" tanya Kai yang membuat Kyungsoo seketika tersentak. Ketika Kyungsoo memasangkan wajah terkejutnya, Kai bergumam perlahan. "Itu tergambar jelas di wajahmu."

"Aku tidak memiliki masalah apapun," cicit Kyungsoo. Ia menundukkan wajahnya merasa takut jika Kai bisa mengetahui lebih banyak tentang dirinya, meskipun itu mustahil.

Ketika Kyungsoo menyadari bahwa Kai masih belum melepaska tatapan itu darinya. Kyungsooo segera beranjak dan berdiri di hadapan pria itu yang masih duduk memerhatikannya.

"Sebaiknya aku pergi sekarang, aku lupa kalau hari ini aku memiliki kelas pagi. Selamat beristirahat."

Dengan terburu-buru Kyungsoo melangkah untuk segera keluar dari dalam gositel Kai. Sayangnya ia terlalu ceroboh untuk tidak menyadari bahwa pintu gositel itu cukup rendah dari tinggi tubuhnya. Alhasil keningnya terpelantuk bagian atas pintu itu, membuatnya seketika limbung an jatuh teduduk dalam kesakitan.

"Kau yakin kau tidak apa-apa?" ucap Kai kembali dan anehnya Kyungsoo merasa malu dibandingkan kesal dengan ucapan itu yang terdengar mengejek.

"Kenapa kau berpikir aku memiliki masalah?" tanya Kyungsoo malu-malu seraya melirik Kai yang masih tenang dengan sikapnya.

"Kau bisa memakai matamu sehingga kepalamu tidak tepelantuk seperti itu."

"Apa kau saat ini tengah mengataiku ceroboh?" balas Kyungsoo dan jawaban yang diberikan Kai hanyalah sebuah gelengan. Kyungsoo penasaran, bagaimana cara Kai bisa bicara setenang itu padahal apa yang diucapkannya begitu berbanding terbalik dengan ekpresinya. Terdengar mengejek dan menuduh. Kyungsoo mendesah perlahan mencoba mengatur emosinya kali ini. Terkadang bicara dengan cara sepeti ini tidak akan menyelesaikan apapun. "Baikah, mungkin aku hanya lapar."

"Aku tidak mempunyai apa-apa untuk memberimu sarapan."

Kyungsoo mengangkat tangannya dengan acuh. "Tidak usah dipikirkan, aku bisa makan dengan caraku sendiri." Melihat bahwa Kai nampak tidak akan memberi tanggapan apapun, Kyungsoo kembali bangkit lantas beranjak untuk pergi meninggalkan goisitel ini.

"Baiklah aku pergi, selamat beristirahat." Kini Kyungsoo berhasil melewati pintu itu tanpa terpelantuk, bahkan ia berhasil menyembunyikan masalahnya dari kecurigaan pria itu. Meninggalkan Kai dengan tatapan lekatnya untuk waktu yang cukup lama. Ia mendesahkan napas lega.


Ada beberapa hal yang tidak bisa dijabarkan, termasuk itu adalah perasaan. Mungkin Kyungsoo masih menganggap apa yang dikatakan Kai kepadanya tadi malam konyol. Akan tetapi berbeda dengan respon jantungnya yang tiba-tiba berdebar asing.

Sampai sekarang pikirannya terus berkecamuk tentang perasaan yang tengah ia rasakan. Inikah rasanya disukai? Inikah rasanya dipedulikan seseorang? Seumur hidupnya ia tidak pernah merasakan hal-hal semacam itu. Termasuk dari keluarganya sendiri. Tidak setelah ibunya pergi meninggalkan keluarga mereka dan juga tidak setelah ayah meninggal dengan setumpuk hutang yang dimilikinya.

Kyungsoo sendiri beranggapan bahwa ia hidup dalam belas kasihan. Kalaupun bibinya tidak sanggup untuk mengurusnya, Kyungsoo mungkin mati. Jauh lebih baik jika ia hanya bisa bertahan sebagai seorang tunawisma di jalanan. Satu-satunya gambaran hidupnya adalah menyedihkan.

Mungkin penderitaannya tidak akan pernah menghilang dari bayang hidupnya. Kini ia terlantar dengan sejuta pikiran mengembara. Mencari tahu apa yang haus ia lakukan untuk keluar dari mmasalah yang dihadapinya saat ini.

pemberhentian bekerjanya untuk sementara membuat Kyungsoo gelisah. Kemarin malam saja ia harus menumpang tidur di gositel Kai. Apa ia harus melakukan hal yang sama? Kyungsoo baru saja mengambil keputusan 'iya' namun dengan cepat ia mengurungkan niat itu. Kai bisa tahu masalah yang tengah dihadapinya dan ia tidak mau dikasihani akan hal itu. Tetapi jika ia kembali ke rumah dan tidak melakukan apa-apa ketika bibinya bertanya kenapa ia tidak pergi untuk bekerja, bukankah itu jauh lebih buruk.

Alhasil disinilah Kyungsoo sekarang. Berdiri termangu di depan jalan menuju rumahnya. Hanya beberapa meter hingga ia sampai di rumah akan tetapi keraguannya jauh lebih besar dibandingkan jarak yang harus ditempuhnya kali ini.

Kyungsoo lagi-lagi mendesah. Sudah lewat jam tujuh malam. Kurang lebih ia telah berdiri disini selama lebih dari dua jam dan ia masih tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Setiap kali ia terkadang berjingkat untuk bersembunyi ketika seseorang melintas di jalan itu. Ia takut bahwa itu adalah bibinya, dan beruntungnya bibinya tidak tahu bahwa sebenarnya ia telah pulang—atau mungkin tidak menyadari sama sekali bahwa Kyungsoo ada disini. Mungkin yang diketahuinya bahwa Kyungsoo telah langsung berkemas untuk bekeja setelah pulang dari kuliahnya.

Suara langkah kaki kembali mengusik keterdimannya. Dengan cepat Kyungsoo bersembunyi di balik sisi jalan yang lain dan sengaja merapatkan tubuhnya pada dinding yang ada disana. Diam-diam Kyungsoo mengintip di tempatnya, mencari tahu apakah kemungkinan itu adalah bibinya. Namun apa yang dilihatnya sedikit membuat ia bisa bernapas lega. Itu hanya Kai. Akan tetapi sampai pria itu melewatinya begitu saja, Kyungsoo sama sekali tidak keluar dari persembunyiannya. Ia memilih diam hingga pria itu benar-benar tidak menyadari keberadaannya.

Setelah melihat Kai telah cukup jauh pergi. Kyungsoo lantas bertanya-tanya, kemana Kai akan pergi? Hingga ia ingat bahwa biasanya pria itu akan pergi bertarung.

Menyingkirkan segala perigatan yang pernah Kai ucapkan kepadanya kemarin. Akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk mengikuti pria itu diam-diam. Apa salahnya untuk mengetahui tempat ia bekerja—atau tepatnya mungkin bertarung. Sekali saja Kyungsoo ingin tahu bagaimana kehidupan pria itu.


Seperti yang dikatakan Kai kepadanya. Sudah jelas gedung yang baru saja didatangi Kai adalah sebuah bengkel. Ya benar, lebih tepatnya sebuah bagasi kosong yang kotor dengan beberapa perkakas usang disetiap sudutnya. Kyungsoo tidak tahu apakah bengkel—lama—ini memang bangunan lama yang telah ditinggalkan. Tetapi melihat bagaimana cat dinding yang telah melapuk dan lantai beton yang sama sekali tidak nampak dibersihkan membuat Kyungsoo yakin bahwa bengkel ini sudah tak beroperasi lagi.

Lagipula letak gedung ini pun cukup jauh dari bangunan-bangunan lainnya. Terlalu terpojok dan sangat jauh dari keramaian. Bengkel akan lebih strategis jika letaknya berada dekat di jalan besar jadi wajar saja jika Kyungsoo berpikiran bahwa bengkel ini kemungkinan besar bangkrut.

Akan tetapi untuk apa ia memikirkannya. Toh itu juga bukanlah urusannya, saat ini tengah mengikuti Kai untuk mencari tahu tentang kehidupannya—bukan bengkel ini.

Ketika Kai telah benar-benar memasuki bengkel itu, Kyungsoo keluar dari tempat persembunyiannya di balik sebuah tiang lampu yang mati. Diam-diam ia mengendap masuk mengikuti jalan yang dilalui Kai beberapa saat yang lalu. Tempat itu begitu temaram, Kyungsoo bahkan harus menyisir dinding disana, meminimalisir dirinya untuk tidak tersandung.

Semakin ia memasuki gedung itu, semakin gelap juga ruangan yang didapatinya. Akan tetapi suara yang berbanding terbalik dengan suasana ini membuat Kyungsoo semakin penasaran dengan tempat yang baru pertama kali dikunjunginya ini. Suara berisik dan teriakan saling bersahutan, Kyungsoo mencari asal suara itu. Mengikuti instingnya ia berjalan menuju sebuah tangga yang membawanya turun pada ruangan lain—lebih luas dan pastinya lebih ramai.

Kyungsoo bisa melihat bagimana puluhan atau mungkin ratusan orang berhimpit memenuhi ruangan itu. Kerumunan itu menatap pada satu objek yang terletak di tengah-tengah ruangan. Seperti sebuang panggung—atau mungkin arena? Entahlah, Kyungsoo tidak dapat menafsirkannya. Yang bisa ia lihat hanyalah sebuah arena yang disekilingnya ditutupi oleh jaring-jaring kawat dimana para petarung tengah saling adu kekuatan disana.

Teriakan berubah kencang ketika salah satu lawan berhasil dilumpuhkan oleh sekali tendangan telak di perutnya dan Kyungsoo hanya bisa meringis menyaksikan itu. Seperti raungan kemenangan, sosok pria kekar diatas sana berteriak diikuti oleh beberapa penonton yang bersorak sorai disana. Hanya Kyungsoo yang tidak mengerti dengan apa yang tengah ditontonnya saat ini. Ia hanya mencari sosok Kai yang kini telah benar-benar hilang di tengah keramaian.

Layaknya orang yang baru pertama kali mengunjungi tempat baru, Kyungsoo hanya bisa berjalan selangkah demi selangkah untuk mencari keberadaan Kai. Terkadang ia harus berdesakkan dengan orang-orang lainnya yang bertubuh jauh lebih besar. Karena terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri jadi sebagian dari mereka memilih mengabaikan Kyungsoo yang berpenampilan berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Bisa dikatakan penampilan Kyungsoo lah yang terapih dengan kemeja dan tas punggung yang masih dikenakannya.

Ketika ia hampir mencapai tempat yang lebih kosong. Tubuhnya menabrak punggung yang tiba-tiba berjalan mundur ke arahnya. Kyungsoo tersentak dan hanya bisa mengangkat satu tangannya ketika pria yang menabraknya tadi berbalik juga ikut mengangkat kedua tangannya.

"Oh, orang baru ya?"

Kyungsoo hanya mengerjap. Ia masih mematung menatap tidak mengerti pria yang kini menunjuk ke arahnya. Kyungsoo bahkan baru menyadari betapa menjulangnya pria ini jika dibandingkan dengan tubuhnya.

"Jadi sebagai orang pertama kau pilih siapa? Lima puluh ribu untuk taruhan ini," ia menengadahkan tangannnya meminta.

"Aku tidak memiliki uang," jawab Kyungsoo lirih.

Pria itu mengernyitkan keningnya. "Tidak, jadi kau sedang apa disini?"

"Seperti yang kau katakan, aku orang baru. Aku datang untuk mencari seseorang." Dengan ragu Kyungsoo menatap kembali pria itu. Ia takut apakah pria ini akan mengusirnya jika ia tidak memiliki uang untuk taruhan atau malah menghajarnya. Semua pemikiran itu lantas membuat Kyungsoo berniat menunduk untuk meminta maaf tetapi sebelum ia dapat melakukannya, pria itu telah lebih dulu berdecak acuh.

"Oh begitu, yasudah. Kuharap kau menemukan orang yang kau cari disini," balasnya singkat sebelum akhirnya pria itu berjalan dengan setumpuk uang yang dalam genggamannya menuju kerumunan lain.

Kyungsoo mendesahkan napas lega. Ia pikir ia akan benar-benar dikeluarkan dari tempat ini karena ia orang baru. Ia menatap sosok pria yang menabraknya tadi dari kejauhan. Pria itu menerima banyak sekali uang di tangannya dan dengan percaya dirinya juga pria itu seolah memberikan penawaran lain yang membuat orang-orang disekitarnya memberi lebih banyak lagi uang. Cukup lama Kyungsoo memerhatikan pria itu, Kyungsoo mulai menyadari satu hal. Apa mungkin uang-uang taruhan yang dikumpulkan itu adalah bayaran untuk para petarungnya. Ya benar, dan kemungkinan besar uang yang didapatkan Kai memang berasal dari sana. Kyungsoo mulai ingat bagaimana Kai pernah memberikannya gulungan berupa uang ribuan won. Ternyata memang seperti inilah kehidupannya.

Ketika ia berpikir haruskah ia bertanya kepada seseorang untuk mencari tahu dimana Kai. Suara gemuruh penonton menghentikan rencananya dan ikut berpaling memerhatikan seorang wanita berpakaian minim menyambut nama petarung menggunakan microfon diikuti pria lainnya yang langsung menaiki arena pertarungan. Nama Kai juga disebutkan dengan pakaian familiar milik pria itu membuat Kyungsoo meyakini bahwa sosok yang sudah berdirid i atas arena itu memanglah Kai.

Kyungsoo melesak berusaha mendekati arena akan tetapi orang-orang yang telah lebih dulu berada disana langsung bergerombol berjalan mengikuti arah yang sama. Tubuh Kyungsoo yang terbilang pendek hanya bisa berdiri di antara kerumunan lainnya, jauh dari arena. Bahkan ia hanya bisa melihat dari celah orang-orang di depannya untuk melihat Kai yang telah melepaskan hoddie usangnya digantikan dengan kaos putih polos disana.

Kyungsoo tidak tau apa yang terjadi selanjutnya karena sekali lagi tubuh pendeknya tidak bisa membantu banyak untuk bisa menyaksikan pertarungan yang telah terjadi di atas sana. Selanjutnya yang bisa ia dengarkan adalah raungan dan sorakan penonton yang berada di sekelilingnya. Hal itu lantas membuat Kyungsoo semakin ingin tahu bagaimana pertarungan itu berlangsung. Lebih tepatnya melihat bagaiamana Kai bertarung. Setidaknya ia ingin tahu bahwa Kai bisa menang saat ini.

Mungkin ia pendek tetapi tubuh kecilnya sedikit membantu dirinya sendiri untuk melesak maju diantara kerumunan orang-orang yang saling berhimpitan. Meskipun itu sangat sulit dilakukan tetapi pada akhirnya ia dapat bernapas lega ketika ia berhasil menemukan ruang yang lebih luas—tepat di depan arena sebelum akhirnyaa ia terkejut mendapati seorang pria terbanting tepat di hadapannya. Untungnya ada jaring kawat disana sehingga tubuh pria itu tidak langsung terlempar dari arena.

Kyungsoo yang masih terkejut hanya bisa tercenung dalam diam menatap pria mengerikan di depannya tengah meringis kesakitan seraya mengucapkan beberapa kalimat umpatan dari bibirnya. Sekali lagi, bahkan sebelum pria itu dapat bangkit dari terjatuhnya, sebuah pukulan keras menghantam kepalanya sebelum akhirnya kembali jatuh dengan suara dentuman keras.

Kyungsoo kembali terhenyak melihat aksi brutal itu, tatapannya tertuju pada pelaku pemukulan di hadapannya hingga manik matanya bertemu langsung dengan mata kebengisan dan kebencian yang langsung menusuk hatinya. Entahlah, mungkin Kyungsoo terlalu terkejut melihat mata itu yang terlihat berbeda dari biasanya. Tanpa sadar langkahnya terhuyung mundur selangkah hingga akhirnya pria itu akhirnya menyadari keberadaannya.

Pemilik mata itu—Kai—kini tidak lagi memberikan tatapan kebengisannya. Sebaliknya tatapan itu dengan cepat berubah dengan tatapan keteduhan seperti apayang Kyungsoo kenali. Apa yang bisa Kyungsoo lihat saat ini adalah hal yang paling tidak terduga baginya. Bagaimana bisa seseorang yang memiliki wajah begitu tenang dengan mata sendunya bisa bertarung hingga sebrutal ini? Namun Kyungsoo menyadari bagaiamanapun Kai adalah seorang petarung, ini adalah dirinya, ini adalah dunianya, dan semua yang ada pada dirinya adalah hal murni yang dimiliki seorang petarung pada umumnya.

Tatapan mereka berdua berlangsung cukup lama, dan mungkin terlalu lama karena hal itu membuat Kai lengah sehingga sebuah pukulan keras menghantamnya hingga terlempar dan jatuh dengan keras. Kyungsoo membulatkan matanya ketika melihat lawannya telah bangkit kembali dan berjalan seolah ia siap menghabisi Kai yang telah mempermalukannya.

Setelah ia mundur dari tempat arena itu, kini ia kembali maju dan merapatkan tubuhnya pada jaring kawat yang memisahkan arena dan luar arena. Ia berusaha untuk mencari tahu bagaimana keadaan Kai saat ini, akan tetapi tidak seperti sebelumnya tatapan Kai masih begitu sendu menatap Kyungsoo. Sekali lagi, Kai hanya bisa pasrah ketika tubuhnya terlempar jauh ke sisi lain arena dan itu tepat menghantam bagian dimana Kyungsoo berada.

"Aght!" Kyungsoo berteriak, cukup untuk membuatnya merasakan sakit karena hantaman tubuh Kai yang sangat dekat dengan posisi dimana Kai terjatuh sekarang.

Kyungsoo terhuyung mundur dan jatuh terduduk. Ia meringis merasakan nyeri di dadanya dan hal itu tak luput dari perhatian Kai.

Sebelum Kyungsoo dapat menyadari apa yang telah terjadi, hal selanjutnya yang bisa Kyungsoo lihat hanyalah tubuh Kai yang dengan tanpa rasa sakit sedikitpun bangkit hingga akhirnya menghantam pria lainnya dengan pukulan keras, bertubi-tubi, dan terlalu brutal untuk bisa Kyungsoo cermati.

Ia tidak tahu apa yang telah merasuki Kai saat ini, hanya saja dia terlalu berbeda dari apa yang bisa Kyungsoo kenali—sisi lain dari seorang Kai—ia menemukannya.

Akhirnya pertarungan brutal yang terjadi di arena berakhir ketika lawan Kai tumbang tak sadarkan diri disana. Gemuruh penonton dibanjiri dengan sehutan dan teriakan khas kemenangan disana. Akan tetapi bukannya merayakannya, sang pemenang—Kai—hanya berjalan menggapai sweater lusuhnya hingga akhirnya berlari turun meninggalkan arena begitu saja. Bahkan tanpa melihat Kyungsoo yang masih terduduk tercenung disana.

Sadar bahwa ia tidak mungkin selamanya terus diam disini Kyungsoo sgera bangun untuk mengejar Kai yang meninggalkannya. Namun sama seperti sebelumnya, sekali lagi ia harus dihadapkan pada kerumunan orang yang tengah merayakan kemenangan. Kyungsoo mencoba merangsek menuju tempat keberadaan Kai yang dapat ia lihat melalui sudut pandangannya.

"Kai! Kai!" Kyungsoo berteriak sekuat tenaga berusaha agar Kai dapat mendengarkannya tetapi hasilnya nihil. Kai terlihat sama sekali tidak mendengarkannya, Kyungsoo hanya bisa melihat punggung pia itu berjalan dengan cpeat meninggalkan tempat ini melalui pintu lain disana.

"Polisi datang!"

"Apa?" Kyungsoo bertanya kepada sebuah teriakan yang memecah perayaan disini. Teriakan kesenangan digantikan teriakan yang pecah oleh kepanikan.

Berbondong-bondong dari mereka saling berebut untuk keluar dari tempat ini. Hanya Kyungsoo yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Ia hanya mengikuti arus yang ada, mengikuti orang-orang lainnnya untuk meninggalkan tempat ini. Kyungsoo tidak tahu ke tempat mana seharusnya ia pergi sekarang, ia terlalu bingung. Ia hanya bisa berlari kesana kemari hanya untuk mencari jalan keluar untuk dirinya sendiri.

'Buk!'

Ini sudah hampir kesekian kalinya ia menabrak orang-orang yang berlari di sekitarnya. Namun berbeda dari mereka, pria yang baru saja ditabraknya ini malah menunjukkan telunjuknya dengan tatapan yang baru saja Kyungsoo kenali beberapa saat yang lalu. Mungkin sudah terhitung kedua kalinya ia menabrak pria ini—pria pemungut uang taruhan.

"Kau! Orang baru itu?!" ucapnya keras seolah takut bahwa Kyungsoo tidak mendengarnya. "Apa kau bagian dari mereka?" tunjuknya lagi ke arah yang lain dan Kyungsoo hanya bisa mencerna bahwa pria itu tengah bertanya tentang polisi-polisi yang datang ke tempat ini. Seperti yang terdengar olehnya.

Menampik hal itu, dengan cepat Kyungsoo menggeleng membuat pria itu kembali menunjuk ke arahnya.

"Kau benar-benar yakin kau bukan bagian dari mereka?"

Kyungsoo kembali menggeleng "Aku benar-benar orang baru," ucapnya mebantah. Ia hanya ingin meyakinkan bahwa dia tidak berbohong saat ini.

Pria itu mendesah sebelum akhirnya ia mendorong bahu Kyungsoo untuk berjalan ke sisi kosong yang tidak terlalu ramai oleh orang-orang yang tengah berusaha melarikan diri dari tempat ini.

Panik, dengan cepat Kyungsoo membalikkan tubuhnya membuat pria itu berhenti mendorong bahunya. "Kau ingin membawaku kemana?"

"Diamlah! Aku tahu jalan keluar yang aman dari tempat ini."

Selanjutnya Kyungsoo hanya bisa pasrah saja digiring oleh pria asing ini menuju sebuah pintu yang dikatakan jalan keluar yang aman meninggalkan tempat ini. Mungkin ia selamat, mungkin saja tidak. Lalu bagaimana dengan Kai? Entahlah apakah ia harus mengkhawatirkan dirinya sendiri saat ini atau orang lain.a


"Namaku, Kris!" pria tinggi itu bicara ketika mereka berdua telah berada di luar gedung; tempat dimana arena itu berada.

Kyungsoo mendongak mendapati bahwa pria pemungut uang taruhan sekaligus yang telah membantunya keluar dari tempat itu telah mengangkat tangannya untuk berjabat tangan.

Sudah setengah perjalan dan ini adalah untuk pertama kalinya pria itu membuka suaranya kembali.

"Kyungsoo," balasnya mebalas jabatan tagan itu singkat.

"Kyungsoo? Oke, aku akan mengingat itu jika kau datang lagi ke bengkel lama."

Kyungsoo mengangguk. Ia pikir hanya Kai yang menjuluki tempat itu adalah bengkel lama dibandingkan dengan arena pertarungan.

"Jadi, kau datang kesana hanya untuk Kai. Apa kau salah satu pendukungnya juga?"

"Apa Kai memang memiliki banyak pendukung?"

Pria bernama Kris itu sejenak terdiam seolah ia tengah berpikir. "Entahlah, tapi dia salah satu yang terbaik di pertarungan ini. Hal yang wajar jika banyak penonton yang memberi dukungan kepadanya bahkan dengan uang taruhan yang besar."

Kyungsoo mengangguk. Salah satu yang terbaik, mungkin ada yang benar-benar terbaik di antara para pertarung itu tetapi bagi Kyungsoo itu sudah cukup membuktikan bahwa Kai bukanlah sosok yang dapat diremehkan. Terbukti dari bagaimana cara ia bertarung yang ia saksikan beberapa saat yang lalu.

Ada beberapa hal yang masih belum bisa Kyungsoo pahami saat ini atau mungkin rasa penasaran yang belum benar-benar terjawab tentang Kai. Mungkin Kris bisa membantunya untuk mengetahui sosok Kai lebih jauh.

"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Kyungsoo dengan ragu.

Pria itu menoleh dan mengangkat bahunya. "Tentu, apa yang kau ingin tanyakan?"

"Tentang Kai," sejenak Kris terdiam untuk berpikir sebelum akhirnya ia mengangguk mengijinkan. "Apa dia memang telah bertarung lama?"

"Entahlah, sebenarnya aku terbilang baru dari dunia ini. Yah.. sekitar tiga tahun tapi saat itu Kai telah menjadi salah satu petarung di bengkel lama jadi bisa kupastikan dia sudah lama bertarung disana."

"Kau tahu banyak tentang dia?"

Kris menggeleng, "tidak, aku benar-benar tidak cukup dekat dengannya bahkan mengenalnya. Dia cukup misterius kurasa. Dia hanya akan datang untuk bertarung setelah itu meninggalkan arena pertarungan begitu saja setelah dia memenangkannya. Aku bahkan nyaris tidak mengenal bagaimana suaranya. Dia jarang bicara." Kris mengalungkan lengannya pada bahu Kyungsoo dan menatapnya lekat. "Kau benar-benar penggemarnya ya?"

Kyungsoo baru saja akan membantah pertanyaan itu sebelum akhirnya ia tersentak ketika sseorang menarik tangannya menjauh menyebabkan tubuhnya terlepas dari rangkulan Kris. Kyungsoo mendongak dan terkejut mendapati Kai yang tadi telah pergi meninggalkannya begitu saja telah kembali berada di hadapannya.

"Apa perkataanku tidak cukup jelas untukmu?" tanya Kai tiba-tiba dengan tatapan yang bisa Kyungsoo artikan bahwa dia tengah marah saat ini.

Kyungsoo tidak bisa berkutik selain menelan ludahnya, menahan dirinya sendiri untuk tidak meringis karena cengkraman kuat Kai pada pergelangan tangannya.


To be Continued


Hai.. Apa kabar dunia fanfiction net?

Hehe, kayaknya aku udah lama anget gak mampir disini. Saking lamanya sampe lupa kalo sebenernya aku masih punya satu ff yang baru jalan dua chapter tapi malah pending karena yang nulisnya sendiri sok sibuk di dunia yang pedih ini *lol* jadi jelas ya aku menghilang dari ffn bukan karena kabur abis bikin anak orang nangis lagi karena sempet bikin ff angst di harinya Kaisoo. maafkan yang alzheimer, alzheimer itu :3

Gak yakin juga sih apa ada yang masih nunggu cerita ini. Tapi yaudah kepalang tanggung juga mending dilanjutin aja kan ya. Sesibuk apapun aku saat ini, insyaallah.. cerita aku gak akan sampai discontinued kok. Terima kasih untuk notifikasi e-mail sampai file tugas yang aku cari sehingga aku daat nemuin lagi ff yang baru kutulis setengah jalan ini.

Mungkin aku terlalu lama menghuni dunia Wattpad sekarang sampai aku lupa di ffn kalo masih ada yang in proggres. Bukan berarti aku akan selamanya post fanfic di wp ya, aku masih ada rencana nulis cerita di ffn—masih cari-cari ide sih. Aku bukan penulis fluff dan berhubung salah satu ff fluff di wattpad menjelang ending *spoiler* aku lagi usaha buat fluf lainnya buat di posting di fanfiction net /biar gak sok-sok-an bikin cerita serius, misterius gitu terus. Tapi udah genre favorit sih ya mau gimana lagi Dan satu lagi, aku lagi ngidam bikin ff dengan main pair lain. Apa Chanbaek ya? *clue *stop!

Kembali lagi ke Anonymous, aku harap tidak ada yang ecewa di chapter ini. Typo wajar karena aku gak punya banyak waktu buat nulis sebanyak dulu sekarang tapi aku berusaha buat nulis sebaik-baiknya.

Terima kasih yang sudah fav, follow dan review. Aku menghargai kalian yang menunggu kelanjutan cerita ini. Iluvu~ sampai ketemu lagi lain waktu. selain itu aku juga belum sempat mengucapkan terima kasih yang telah me review kedua ceritaku di event KFF2K17; Alcheuhaimeo & Firefly. thanks a lot..

Salam blossom~

p.s. Fanfic di wattpad tidak akan aku publish di fanfiction net begitupun sebaliknya. Tapi ada kemungkinan satu cerita kan aku buat disini yang berhubungan dengan cerita yang sudah aku mulai posting di wattpad (dan kemungkinan cerita di wattpad itu akan aku publish juga disini) Aku akan coba usahakan. Terima kasih.