TBC!

Yup, tbc lagi. Review please ;A; kira-kira si Kai mau ngapain yak? Aww kesan badboynya Kris sama Slengekannya Chanyeol dapet banget wkwkwk.

Author: Shfllyy3424

Title: { CHaptered} Trust me! I'm Sorry part 3

Genre: GenderSwitch, Romantic, Drama, SchoolLife, OOC(Out Of Character, beda banget sama aslinya!)

Rating: Teen, PG-13

Cast:

Do Kyungsoo (Exo K D.O or Dio)

Kim Jongin (Exo K Kai)

Other cast:

EXO K's Other Member

SM's Member

Cari sendiri

Ps: KAISOOO LOPELOPE walau saya harus pusing, kenapa KaiSoo -_- kenapa harus bangKai wkwk.

Desclaimer: All cast belong to their self and god. PLOT IS MINE ATHIYA064! Kesamaan tempat dan nama hanya sebuah rekayasa ataupun kebetulan!

Contact me on:

fb: athiya almas

wp: .com

Cerita ini hanya untuk yang menyukainya. Kalo gak suka jangan dibaca ya, DON'T BE A PLAGIATOR! TIDAK TERIMA BASH… this is just my imagination. RCL please^^

Happy reading

Kyungsoo menatap fokus pada benda berbentuk persegi di pangkuannya, tangannya sibuk menari di atas keyboard sedari tadi. Namun di fikirannya terbayang-bayang apa yang baru saja ia baca di majalah dinding sekolah tadi. Ternyata apa yang dikatakan Lay dulu bukan isapan jempol belaka, pertandingan basket itu menghantui fikirannya.

Di majalah dinding tersebut tidak tertulis dengan jelas kalau Kris si ketua basket sekolah akan melawan Kai, namun dari note kecil yang ada di pojok pengunguman yang bertuliskan 'Saksikan pertandingan hiburan di akhir turnamen' membuatnya cemas. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia harus cemas dan siapa yang harus ia cemaskan? Apa benar ia mencemaskan anak kelas satu yang mengambil masa depannya itu?

Bruk!

Kyungsoo menatap ke arah kiri, seseorang berambut hitam kelam dan kulit gelap langsung ia kenali sebagai Kai bertekuk lutut di hadapannya. Mungkin ia terlalu fokus sehingga tidak mendengar dan melihat langkah kaki Kai. Kyungsoo bukan tipe gadis dingin dan pendendam sehingga ia merasa tidak tega untuk mendiamkan dan marah sepanjang waktu pada Kai, namun ia juga harus memperbaiki kondisinya bukan? Memori buruk itu bagaikan bayangan yang selalu datang setiap kali ia dekat dengan Kai atau mengingat lelaki itu, dan juga kalau ia bersikap lembut mungkin saja ada orang yang berfikir ia adalah gadis yang mudah menyerahkan harga dirinya pada siapapun juga.

"Mwohaeyo?" tanya Kyungsoo pelan, lelah juga ia harus berteriak dan berlari setiap ada Kai. Ia dulu pernah menjadi orang yang cukup dekat dengan Kai saat lelaki itu sering bertamu ke rumahnya. "Annio, jangan kabur lagi.. aku mohon Kyungie." Pinta Kai, lelaki itu menggenggam tangan Kyungsoo setelah sebelumnya menyingkirkan laptop berwarna putih milik Kyungsoo dan meletakkan laptop itu di samping gadis itu.

"Bagaimana aku bisa kabur kalau kau menggenggam tanganku seperti ini?" tanya Kyungsoo, Kai hanya tersenyum pilu. "Mianhaeyo, jeongmal. Aku menyesal atas semua yang aku lakukan saat itu, aku.. akal sehatku benar-benar hilang karena minuman alkohol sialan itu." Kai menundukkan kepalanya dalam, Kyungsoo menggigit bibirnya melihat Kai yang seperti itu. Ia mengenal Kai, ia mengenal kalau lelaki itu memiliki perangai yang sedikit dingin seperti Sehun, ia mengenal kalau Kai akan menjadi lelaki kocak jika bercanda, ia mengenal Kai yang seperti itu. Bukan Kai yang begini, bukan Kai yang terlihat sangat lemah seperti ini..

"Kai, jangan begini," ucap Kyungsoo tanpa sadar, Kai mendongak kentara sekali lelaki itu menahan air matanya. Mata Kai memerah dan berkaca-kaca, "Jangan begini, jangan seperti ini, bukankah aku sudah memintamu untuk melupakan hal itu?" dengan ragu Kyungsoo mengusap rambut Kai, menyingkirkan poni yang hampir menutupi mata lelaki itu. "Kau yang jangan seperti ini Kyungie, aku tahu betapa terlukanya kau. Laporkan saja aku ke polisi, aku pantas untuk semua itu. Aku memilih mendekam di penjara daripada harus melihatmu yang bersedih karenaku, daripada harus melihatmu yang ketakutan karenaku, daripada harus melihatmu yang lari dari hadapanku.."

"Kai listen, you don't know anything. I'm okay." Kai menggeleng. "A-atau aku akan melaporkan diriku sendiri ke polisi?" Kyungsoo menghembuskan nafas berat. "Lalu setelah kau masuk penjara? Apa aku akan baik-baik saja? Kau masih di bawah umur, lagipula aku pasti akan merasakan penyesalan yang begitu dalam karena mengirimmu ke penjara. Dan orang akan tahu kalau aku tidak lagi suci, itu bisa merusak pandangan orang kepada kita. Kita bisa menyelesaikannya dengan baik-baik, bahkan aku merasa bersalah karena selalu memintamu untuk pergi sejauh-jauhnya dariku. Sebenarnya aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja bayangan buruk itu menghantuiku Kai. Aku takut.."

Kai menggenggam tangan Kyungsoo semakin erat, ia menempelkan wajahnya ke tangan mungil gadis itu. "Tidak akan seperti itu lagi, jangan takut padaku. Aku lebih memilih kau membenciku daripada kau harus takut padaku, kumohon jangan takut padaku. A-aku.. saranghae, jeongmal saranghaeyo." Kai mengecup punggung tangan Kyungsoo yang halus dan lembut, tak sanggup menahan lagi, air mata Kai mengalir dan membasahi tangan Kyungsoo. "Mianhae." Isak Kai, Kyungsoo turun dari bangku taman itu dan mensejajarkan dirinya dengan Kai meski lelaki itu lebih tinggi darinya.

"Sst, uljima." Kyungsoo menepuk-nepuk pelan pundak Kai, lelaki itu mendongak menatapnya. Ibu jari Kyungsoo yang lembut perlahan mengusap kantung mata Kai yang basah, "Tidak baik menangis bagi laki-laki, meski ada kalanya menangis juga sangat diperlukan." Hibur Kyungsoo, hati Kai terasa lega. Setidaknya.. ia masih dimaafkan oleh Kyungsoo, setidaknya masih ada harapan untuknya, setidaknya perlahan-lahan Kyungsoo bisa menjadi seperti dulu.

Kai menahan nafasnya saat merasa jaraknya dengan Kyungsoo terlampau dekat, Ia tidak ingin menyakiti Kyungsoo seperti dulu lagi, meski tidak ia ingkari ia tidak dapat menolak wajah cantik sekaligus imut milik Kyungsoo. "Nah, seperti ini! Ini Kkamjongie yang kukenal hihihi, Kim Jongin yang terlihat keren dan kuat dari depan, namun lembut dan konyol di dalam benar kan Kai? Eh.." setelah berkata dengan nada riang Kyungsoo terkejut ketika ia mendongak hidungnya bersentuhan langsung dengan hidung Kai. Beberapa detik Kyungsoo menatap lurus mata hitam Kai, entah mengapa ia merasa bumi berhenti berotasi, seluruh komponen alam berhenti beraktifitas, seperti ada seorang time controller di dekat mereka. Dan yang lebih aneh lagi, seperti ada sepasang sayap burung yang menggelepar di dadanya.. anni, tepatnya jantungnya.

"Sst, tenanglah Kyungie. Jangan takut, aku tidak akan melakukan apapun lagi. Bukankah aku sudah berjanji? Hanya biarkan seperti ini, aku suka menatap wajahmu dari dekat." Kai tersenyum simpul, Kyungsoo merasa mungkin ia terkana gejala demam atau semacamnya. Karena ketika terpaan nafas Kai menyapu wajahnya ia rasa sekujur badannya memanas dengan tidak wajar. Chu~

Dengan berani Kyungsoo mengecup bibir Kai sekilas, entah apa yang merasukinya. Hanya saja bibir tebal Kai yang berjarak satu setengah senti di hadapannya membuat ia benar-benar ingin mencium lelaki itu. Kai tersentak, ia terpaku dan tidak bereaksi apa-apa sampai Kyungsoo melepaskan ciumannya. "Kau suka, tapi aku tidak. Kau tahu.. kau membuatku seperti terkena serangan jantung, rasanya jantungku seperti mengikuti lomba marching band tingkat nasional!" gerutu Kyungsoo setelah ia menjauhkan tubuhnya, namun Kai masih belum bereaksi. Lelaki itu masih diam tanpa suara, 'Well sepertinya seorang time controller benar-benar ada dan menghentikan dunia Kai.' Batin Kyungsoo.

"Kai?" tidak ada jawaban, "Kai.." hening, "Kim Jongin?" hanya suara nafas Kai yang masuk dalam indera pendengaran Kyungsoo. "Kkamjongie?" Kai masih terdiam. "YA!" jerit Kyungsoo kesal, namun lagi-lagi jantungnya bekerja dengan tidak normal. Tanpa berkata apa-apa Kai menarik Kyungsoo ke dalam dekapannya, mendekap erat Kyungsoo. "A-aku benar-benar sedang jatuh cinta! Aku benar-benar mencintaimu Kyungie.." bisik Kai, mungkin kalau bisa Kyungsoo sudah akan menjadi cairan tanpa bentuk karena ulah Kai tersebut. 'Apa aku jatuh cinta?' batin Kyungsoo meski ia masih berada di pelukan Kai, ia benar-benar merasa tidak waras dan tidak sehat sekaligus.

.

..

"Hunnie, biarkan saja. Kau lihat betapa menyesalnya Kai kan? Ia tidak mungkin mengulangi perbuatannya lagi, kau mengenal Kai dengan baik. Jangan terus menghakimi Kai seperti itu, tidak baik untuk kelanjutan pertemananmu dengannya." Luhan mengelus lembut pundak Sehun dengan maksud menenangkan.

Tadi saat mereka sedang beristirahat bersama tak sengaja Sehun mendapati Kai berjalan berjingkat ke arah taman, segera ia mengajak Luhan untuk mengikuti lelaki itu. Dan benar Kai mendekati noonanya, namun yang ia lihat berbeda jauh dengan perkiraannya. Ia tidak menyangka akan secepat itu noonanya memaafkan Kai, padahal kalau ia berada di posisi kakak perempuannya itu ia pasti sudah melaporkan Kai ke kantor polisi terdekat.

"Aku memang mengenal Kai, tapi aku menyayangi noonaku." Jelas Sehun, "Sudahlah Hunnie, mereka sudah besar pasti bisa mengurusi masalah mereka sendiri." Hibur Luhan, mereka mengintip dua orang itu. "Eh.." Luhan terkejut saat Kyungsoo mencium Kai, Sehun lebih terkejut lagi. Namun ia berusaha mengatasi emosinya, mungkin kekasihnya benar. Mereka bisa mengurus masalah mereka sendiri..

"Chagi, ayo kita pergi dari sini." Ajak Sehun, lelaki itupun berbalik sambil menggenggam tangan Luhan, namun saat ia berbalik ia merasa kalau Luhan tidak mengikutinya. "Chagi?" panggil Sehun. "Hunnie, sudah semenjak sebelum liburan ini hubungan kita merenggang." Kata Luhan lirih, Sehun menautkan alisnya. "Mianhae, bukannya aku tidak mengerti. T-tapi bisakah aku minta sehari saja kita habiskan berdua? Sebelum aku masuk universitas.."

Hening, setelah perkataan Luhan tidak ada balasan dari mereka berdua. Kemudian Luhan melepaskan gandengan tangan Sehun. "Maaf untuk bicara yang macam-macam, lupakan saja ne? Ayo kita kembali ke kelasmu." Luhan berjalan mendahului Sehun, meski hatinya sedikit terluka karena Sehun tidak membalas perkataannya. Ia berjalan dengan langkah kecil meninggalkan kekasihnya itu.

Grep!

Langkah Luhan terhenti, gadis yang terlampau cantik dengan rambut berwarna cokelat emas itu kaget saat merasakan lengan Sehun yang kokoh memeluk tubuhnya dari belakang. "Aku, tidak peka ya?" bisik Sehun sambil membenamkan kepalanya di leher Luhan yang lebih pendek darinya itu. "Huh?" balas Luhan bingung. "Aku menyia-nyiakan waktu-waktu terakhir kebersamaan kita di SMA ini dengan mengurusi si Kkamjong sialan itu? Maafkan aku ya.."

"Aku tidak pernah marah kok." Balas Luhan, ia tersenyum setidaknya Sehun masih memikirkannya. "Aku akan menjadi orang yang kuat jika aku berada di dekat noona, namun bersamamu aku merasa menjadi lelaki yang lemah. Dan kau adalah sumber energiku, aku tidak dapat hidup bersamamu. Mungkin siapapun yang mengenal masa laluku akan jijik bila berhadapan denganku, namun kau tidak. Kau mencintaiku karena aku Oh Sehun, karena Oh Sehun yang dulunya adalah orang jelata, yang kehilangan orangtua semenjak kecil, yang jadi peminta-minta dan dipekerjakan secara paksa di panti asuhan. Bukan Oh Sehun yang diangkat oleh keluarga noona, kau membuatku merasa berarti seperti bagaimana keluargaku memperlakukanku. Bisakah kau terus bertahan mencintai Oh Sehun yang seperti ini?" Sehun berkata dengan sangat lirih.

"Oh Sehunku sayang, aku akan selalu berusaha untuk mencintaimu dengan keadaanmu. Menerimamu apa adanya meski tidak semudah membalik telapak tangan, melindungi Oh Sehunku yang sebenarnya. Menjadi tempat bagi Oh Sehun untuk bernaung, bermanja, menjadi tempat terbaik bagi Oh Sehun untuk beristirahat dan tempat terbaik bagi Oh Sehun untuk menunjukkan sisi lemahnya. Bagaimana? Ini sebuah kesepakatan bukan?" Sehun makin mengeratkan pelukannya. "Maaf kalau aku tidak bisa sehangat lelaki lain, tidak bisa benar-benar mengerti akan perasaanmu. Tapi aku berjanji aku tidak akan menyakitimu dengan sengaja Lulu-ku.. sekalipun orang menganggap aku bajingan, tapi aku akan berusaha untuk tidak menjadi seperti Jongin yang merusak kakakku. Aku akan selalu menghormatimu, dan menjagamu."

"Aku percaya.." Sehun mengecup puncak kepala Luhan dengan lembut. Sebuah cinta tanpa syarat..

. . .

"Si Kkamjong itu, sudah cemburu padaku kok." Jelas lelaki tampan yang pembawaannya sangat berwibawa. "Hmm." Sahut gadis keturunan China di hadapan lelaki itu dengan malas. "Aish Yi Xing baby, aku salah apa lagi?" Yi Xing menaikkan sebelah alisnya. "Berhenti menyebutku seperti itu, menjijikan kau tahu?"

"Kenapa kita harus seperti Tom & Jerry terus sih?" Yi Xing mengangkat bahunya cuek. "Yi Xing? XingXing? Yaa Zhang Yi Xing!" lelaki itu makin gemas, "Tidak menjawab panggilangku, aku akan menciummu!" serunya. "YAK! JOONMYEON!" jerit Yi Xing saat Junmyeon –atau biasa dipanggil Suho- itu sudah memajukan bibirnya, kemudian Suho tertawa. Gadisnya itu memang lucu jika mengamuk.

"Kau kenapa? Cemburu?" Yi Xing memutar bola matanya imajinatif, "Dalam mimpimu saja!" balasnya kasar. "Hey, kau ini gadis. Bersikaplah sedikit lebih kalem.." Suho menasehati. "Kau mau aku jadi seperti apa? Kau selalu menceramahi kebiasaanku, sebenarnya kau itu cinta aku atau cinta kepribadianku sih? Memang kenapa kalau Zhang Yi Xing kekasihmu ini suka naik darah? Atau lebih suka gitar? Atau lebih suka tarian hiphop daripada balet? Atau tukang tidur sembarangan? Atau Zhang Yi Xing si bodoh? Atau si pelupa? Ya kalau kau berharap aku bisa seperti Kyungsoo sih mustahil, sudah dari sananya aku seperti ini." Ya, Yi Xing memang lebih tomboy dari gadis kebanyakan. Bahkan ia lebih suka dipanggil Lay yang terdengar sangat laki-laki.

"Aku mencintaimu apa adanya." Balas Suho lembut. "Gombal, dengar ya.. lebih dari tiga miliar lelaki di muka bumi ini bisa mengatakan hal yang sama sepertimu. Apa adanya apa adanya, sekalian saja kau bilang adanya apa." Entah sejak kapan lidah Yi Xing menjadi kasar seperti itu, padahal sifat aslinya lembut sekali.

"Dengar ya Zhang Yi Xing ku tercinta, aku minta kau untuk sedikit berubah adalah di depan orang-orang. Bukan demi kepopularitasanku, melainkan aku tidak ingin gadisku diolok-olok. Mereka boleh saja mengolokku, tapi ketika mereka mengolok orang yang aku cintai rasanya sakit yang kurasakan begitu mendalam. Tapi kalau kau ada di depanku, kau boleh jadi apapun yang kau mau. Kau mengerti?" Suho berkata dengan sangat lembut, Yi Xing kaget. Tidak menyangka kekasihnya berfikiran sejauh itu. "Suho?"

"Kenapa? Aku bicara apa adanya Yi Xing. Kau boleh menjadi sosok yang kau inginkan di depanku, lagipula dapat seseorang dengan paket komplit sepertimu itu jarang-jarang lho." Suho tertawa. "Ya, mana ada lelaki seberuntung aku? Pacarku bisa lembut dan tomboy sekaligus, bisa masak tapi juga bisa bermain bola, bisa bermain piano tapi juga bisa bermain gitar, bisa perhatian dan cinta kerapian tapi juga sangat pelupa, bisa serius tapi juga bisa tertidur di mana saja. Paket komplit kan? Oh satu lagi, bisa selalu bertengkar denganku tapi juga satu-satunya orang yang mencintaiku dengan cara yang paling istimewa. Aku benar kan?"

"A-Ajsh Kim Joonmyeon perayu ulung!" semprot Yi Xing. "Makanya, jangan tunjukkan kelebihanmu itu di depan umum. Hanya boleh padaku saja ya, dan kau benar-benar bisa menjadi sosok apapun di hadapanku. Termasuk menjadi sosok sexy.." bisik Suho. "KIM JOONMYEON!"

"Ahaha, sudah mengaku saja. Kau cemburu dengan Kyungsoo kan?" tanya Suho, Lay mengangguk pelan. "Tuh kan, aku yang bisa menilai kau dengan baik. Dengar ya sayang, siapa yang mengusulkan ini pada awalnya?" tanya Suho, Lay diam sejenak. "Si baozi itu, siapa lagi?" jawab Lay polos. "Tapi yang memberitahukanku akan ini itu kau sayang. Karena itu perintah darimu aku menurutinya. Dengar ya, mau Kyungsoo yang sangat dekat denganku atau seribu duplikat Kyungsoo sekalipun. Yang terbaik yang pernah dimiliki Suho itu hanya Zhang Yi Xing seorang.." Suho mencubit hidung mancung Lay gemas.

"Janji ya?" tanya Lay, Suho mengangguk sambil menunjukkan telapak tangan kanannya setinggi dada. "Nan, Kim Junmyeonnie. Akan berjanji untuk selalu menyayangi Zhang Yi Xing-ku tercinta, tanpa mengenal lelah dan berjanji tidak akan mengkhianatinya." Ucap Suho, terdengar seperti sumpah –atau memang?-. akhirnya Lay bisa tersenyum, ia tersenyum melihat kekonyolan Suho tapi juga bahagia melihat kesungguhan Suho. "Aku percaya, gumawo Joonmyeonnie." Jawab Lay. "Eh, tapi kau harus begitu juga padaku sayang! Nanti kau yang selingkuh kan aku juga yang repot." Seru Suho.

"Aku kan tidak mungkin seperti itu." Elak Lay. "Wah ternyata kau benar-benar jatuh pada pesona Kim Joonmyeon haha." Lay mengerucutkan bibir mendengar pernyataan Suho yang kelewat pede. "Satu hal lagi, panggil aku sayang!"

Satu detik..

Dua detik..

Tiga –det..

"ANNIO! SHIREO!" Suho langsung menutup telinganya, ia sedikit malu juga mendengar teriakan Lay karena mereka sedang duduk di kantin meski memilih tempat pojok yang sepi. Setelah berteriak, Lay menoleh karena malu dan menunjukkan ekspresi maaf. "Sst, Yi Xing! Lakukan saja, atau aku akan berteriak 'Tidak ada yang boleh mendekati Zhang Yi Xing karena Zhang Yi Xing milik Suho seorang!' ketengah lapangan sekolah? Bagaimana?" ancam Suho. "Kau gila."

"Memang, karenamu.." jawab Suho enteng. "A-aish, baiklah!" Lay menyerah. "Katakan, 'Kim Joonmyeon sayang, aku mencintaimu.' Cepat!" Lay benar-benar ingin muntah mendengar nada Suho yang dibuat-buat. Salah apa dia mencintai orang seperti Suho ini?

"Kim Joonmyeon sa.. sa.. ah aku tidak bisa." Lay benar-benar malu untuk melakukannya. "Mau aku berteriak sekarang?" pancing Suho, "Huh, Kim Joonmyeon.. Kim-Junmyeon-sayang-aku-mencintaimu!" tukas Lay dengan secepat kereta tanpa menghela nafas. "Hey, katakan lebih pelan. Aku tidak dengar, ulangi!" Lay benar-benar ingin mencabik Suho saat itu.

"Baiklah, Kim Joonmyeon SAYANG aku mencintaimu!" akhirnya Lay mengeraskan suara dan menekankan kata 'sayang' dan membuat Suho tersenyum puas. "Aku juga mencintaimu baby." Balas Suho dengan gaya sok imut membuat Lay geli sendiri. "Ehem, yang masih istirahat tapi sudah sayang-sayangan? Kantinnya milik umum ya.." sindir seseorang yang baru saja bergabung ke sebelah Suho. "Jongdae?" Chen bersiul pelan. "Katanya nggak bakal suka sama gadis kebanyakan tingkah, lemot, teledor dan tukang tidur semacam Zhang Yi Xing?" Chen mengerjai Suho, ingin rasanya Suho mencekik adik kelasnya itu karena membocorkan masa lalunya –sebelum ia mencintai Lay, ia memang suka sekali mengolok Lay- dan merusak momen bahagianya dengan Lay.

"Mwo? Kim Joonmyeon sialan! Kau bilang begitu?" jerit Lay. "Kau sendiri, dulu katanya dulu membenci mantan ketua OSIS yang wibawanya kelewat akut, percaya diri kelewat akut, pendek, culun. Eh barusan sayang-sayangan, benar tidak?" Xiumin datang sambil duduk di sebelah Lay. "Eh.." Lay terkejut, memang dulu ia suka mengolok Suho seperti itu.

"Baby, kau bilang aku seperti itu? Kau bilang aku culun?" tanya Suho tajam. "Kau sendiri bilang aku kebanyakan tingkah, lemot, teledor dan tukang tidur. Kau mau MATI HAH?" teriak Lay ganti, dan mendadak kantin menjadi ribut karena pertengkaran kecil mereka. "Well, mereka mulai lagi." Ucap Xiumin, Chen tertawa mendengarnya. "Sudah tua sih, makanya suka marah-marah." Chen terbahak menatap kakak kelasnya yang setingkat dengan Xiumin, Xiumin menatap Chen tajam. "Jadi secara tidak langsung kau juga bilang aku juga tua?" dalam hati Chen merutuki perkataannya.

"MATI SAJA KAU KIM JONGDAE!" Xiumin hampir terdengar seperti sedang screaming, karena ia berteriak sambil menggeram sekaligus. Ya, bukankah cinta memang ada kalanya manis tapi.. ada kalanya juga asam, asin, pahit menyatu jadi satu? Haha..

. . .

Pertandingan basket pun tiba, tim sekolah mereka yang diketuai Kris sudah mencetak angka dengan cepat. Hingga detik terakhir angka mereka memimpin jauh, dan pemenang dari pertandingan itu tentu saja sekolah mereka. "Sudah akan dimulai.." bisik Lay yang duduk diapit oleh Kyungsoo dan Suho. "Jiejie, jauhkan aku dari Tao please?" pinta Kyungsoo. Lay melirik ke sekeliling, "Tenang sayang, kau duduk paling pojok. Sementara kau dibatasi oleh aku-Suho-Chen-Xiumin-Baekhyun-Sehun-Luhan baru Tao. Jadi kecil kemungkinan ia akan memperhatikanmu kok." Kyungsoo mengangguk, ia tidak ingin melukai hati Tao.

Baekhyun dan Tao menonton sendirian karena kekasih mereka adalah salah satu anggota tim basket sekolah, dan satu hal lagi yang membuat Kyungsoo khawatir. Sedari tadi ia tidak melihat Kai, 'Ke mana dia?' batin Kyungsoo.

To: Kai

Kau jadi melawan Kris? Kau ada di mana?

Entahlah apa hubungan mereka saat ini, semenjak kejadian di taman itu tidak banyak yang berkembang di antara mereka. Namun Kyungsoo merasa, setidaknya ia boleh kan khawatir pada Kai? Tidak ada balasan dari lelaki itu.

Tiba-tiba Kris naik ke podium, membuat beberapa gadis memekik kegirangan. Siapa yang tidak akan jatuh pada pesona Wu Yi Fan ketika lelaki itu hanya mengenakan seragam basket tanpa lengan dengan keringat yang masih membasahi dahinya? Kris benar-benar idola sekolah!

"Ehm test, well sesuai pemberitahuan yang telah aku kirim ke mading sekolah. Hari ini ada pertandingan basket istimewa bukan? Sebenarnya bukan pertandingan, lebih tepatnya permainan. Karena aku akan satu lawan satu dengan seseorang, ada sebuah kesepakatan di antara kami. Dan, ya saksikan saja.. kalian pasti akan tertarik mengingat betapa terkenalnya lawanku di sekolah ini, walau ia masih kelas satu. Kita sambut Kim Jongin!" teriak Kai, penonton berbisik. Sepertinya mereka kaget karena Kris melawan Jongin.

Sekali lagi Kim Jongin adalah salah satu anak yang masuk dalam catatan siswa terpopuler, dan juga mengingat pertandingan terdahulu yang pernah Kris dan Kai lakukan maka penonton yakin pertandingan kali ini juga akan berlangsung dengan sengit. "Krys, tunggu bukankah Kai tidak terlalu lancar bermain basket?" bisik Sulli yang duduk di sebelah kiri Kyungsoo. "Benar juga, ia pasti kalah melawan duizhang itu." Jawba Krystal, rasa khawatir makin menyelimuti Kyungsoo.

Chanyeol turun ke lapangan, ia bertindak sebagai wasit. "One, two, three! Prit!" Chanyeol melempar bola ke atas yang langsung direbut oleh Kai dan Kris. Dari awal Kris selalu memimpin pertandingan, dengan postur tubuh yang tinggi ia bisa dengan lebih mudah menguasai bola. Kai tertinggal jauh dalam angka, rasanya Kyungsoo sudah ingin berteriak karena gemas.

Menit demi menit berlalu, Kris mencetak 24 angka sementara Kai baru mencetak 14 angka, semua orang mendukung Kris karena Kai tidak terlalu menguasai permainan. Kris menatap Kai dengan pandangan angkuh dan juga meremehkan, Kai terdiam menatap Kris yang mendribble bola. Lelaki berkulit tan tersebut menatap tato scorpion di lengan milik Kris yang terlihat jelas karena lelaki tinggi itu mengenakan baju tanpa lengan. Kai sedikit ngeri melihat tato tersebut..

"KAI! FIGHTING!" tiba-tiba dunia Kai berhenti lagi, pengendali waktu sepertinya memang benar-benar ada dalam dunianya. Ia menoleh ke arah penonton, melihat satu-satunya gadis yang bisa ia tangkap dalam pandangan. Entah mengapa ia bisa sefokus itu menatap gadis yang ia cintai, dan gadis itu sedang tersenyum sambil mengepalkan sebelah tangan padanya. Gadis itu menyemangatinya! Kyungsoo yang sangat ia cintai..

Dan entah dapat suntikan kekuatan dari mana, Kai langsung merebut bola itu dan berusaha memasukkan bola sebanyak-banyaknya ke dalam ring. Dengan gerakan cepat ia melewati Kris dan mencetak angka. 'Kuasai emosi..' kata-kata Chanyeol itu seakan membimbingnya, ia melewati pertandingan dengan sangat baik.

Di detik-detik akhir Kris menyerang lagi, Kai menyamai skornya dan membuat ia kewalahan. Ia dan Kai berlari menuju ring, berusaha menghentikan gerakan lelaki tan itu. Dan..

Brukk!

"KAI!" Kyungsoo menjerit meski suaranya tenggelam, beberapa orang menatap baru saja dengan bahunya Kris mendorong Kai dan itu terlihat sangat sengaja! Kai limbung dan langsung terbaring di lapangan, sementara tanpa membantu Kai berdiri Kris langsung mencetak angka.

"Priitt!" Chanyeol meniup peluit lagi, pertandingan berakhir dengan skor 34-30 dengan kemenangan untuk Kris. Chanyeol membantu Kai berdiri, "Gwaenchana? Hey, Jongin? Are you okay?" pertanyaan Chanyeol hanya seperti hembusan angin bagi Kai, ia menoleh nanar pada papan skor.

'Aku gagal.. aku gagal melindunginya..' batin Kai berulang-ulang, ia melihat senyum licik dari bibir Kris. Ia tidak perduli kalaupun saat ini ia pingsan dan berdarah-darah di lapangan ia tidak perduli, asal ia memenangkannya. Ia hampir memenangkan pertandingan ini sebelum si bule tiang listrik itu mendorongnya!

"WU YI FAN! WU YI FAN! WU YI FAN!" teriak penonton, Kris tersenyum ke arah mereka. Dan Kai mendesis, "Mereka tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang curang saat ini!" geram Kai, namun ia lari ke arah podium. "Ehm, maaf. Aku memang kalah saat ini, namun asal kalian tahu ada insiden yang membuatku kalah dan kehabisan waktu. Wu Yi Fan sunbae, jika kau benar-benar jantan kau harus mengakuinya! Aku minta pertandingan ulang!"

Kris terbahak, "Jongin, akui saja kekalahanmu.. oh dear baiklah, lakukan saja pertandingan ulang aku tidak keberatan sama sekali." Kai benar-benar ingin mencakar wajah sombong lelaki Kanada itu. "Tidak di sini, melainkan di arena balapan!"

"Mwo?" bisik beberapa orang kaget. "Bagaimana? Tantangan menarik bukan? Kuberi kau waktu seminggu setelah prom night minggu depan, bukankah kata sunbae tantangan hal yang menarik bagi lelaki? Aku berjanji, setelah balapan itu apapun hasilnya aku akan menurut. Jika aku kalah kau berhak melakukan hakmu sesuai dalam kesepakatan kita.."

"Alright, deal!" jawab Kris enteng. Kai menyeringai, pertama kali semenjak Kris mengajaknya bertanding basket ia bisa menyeringai sejahat itu.

.

..

"Jongin! Kau gila? Kau mau balapan liar? Ayolah kau tahu seberapa liciknya dia kan? Kau mau mati di arena balapan itu? Ya Tuhan kau masih kelas satu! Sayanglah pada nyawamu itu!" Chanyeol heboh sendiri, Kai hanya menatap malas pada lelaki itu. "Sudahlah hyung, kau tahu seberapa jagonya aku dalam balapan kan?"

"Masa bodoh, jago atau tidak Wu Yi Fan sunbae punya 1001 cara untuk mengalahkanmu!" Kai menghela nafas. "Kalau begitu aku punya 1002 cara untuk mengalahkannya juga? Bagaimana?" Chanyeol sudah tak habis pikir dengan sahabatnya itu. "Kalau memang ini satu-satunya cara terakhir untuk memenangkan kesepakatan itu, maka aku akan melakukan apapun. Kalaupun aku harus mencium kaki Kris meski aku sangat tidak menginginkannya akan aku lakukan.." kata Kai bersungguh-sungguh, "Kesepakatan apa sih yang sedari tadi kalian bicarakan?"

"Kau tidak perlu tau hyung."

. . .

Kai duduk di tengah taman, ia menyenderkan bahunya dan menghilangkan lelahnya. Ia sangat merutuki kekalahannya hari ini.. "Ini." Kai menoleh, mendapati seseorang dengan wajah datar di sampingnya. "Se-Sehun?" panggilnya kaget, pasalnya setelah kejadian 'itu' Sehun berkata ia bukan lagi temannya bukan?

"Minumlah, kau belum minum." Dengan senang hati Kai menerima air minum pengganti cairan ion itu, menyegarkan tubuhnya lagi. Sehun duduk di samping Kai, "Kau akan melakukannya?" tanya Sehun, Kai mengangguk yakin. "Hmm, aku mengenalmu sih. Apapun saat kau bertekad, hal paling tidak mungkin akan menjadi mungkin. Benar kan?"

"Kau masih saja teman yang paling mengerti aku." Kai bercanda, tapi wajah Sehun serius. "Atas dasar apa kau melakukannya? Katakan kesepakatan apa yang kalian lakukan? Kalian tidak sedang bertaruh kan?" tanya Sehun penuh selidik.

"Mungkin aku harus bercerita padamu, Kris mengambil rekaman CCTV perpustakaan. Dan maaf, itu adalah rekaman kejadian 'itu' untung saja ia tidak menyebarkannya secara langsung." Kata Kai lemah, ia menatap Sehun. Lelaki itu mengejangkan ototnya, "Lalu?" tanya Sehun.

"Bukankah aku bilang aku sangat menyesal? Aku akan melindungi rekaman itu apapun yang terjadi, sudah cukup aku melukai kakakmu. Aku tidak mungkin membiarkan Kris melakukannya, akan sangat memalukan bagi kakakmu. Aku tidak perduli dengan popularitasku, hanya saja.. ini harga diri bagi kakakmu Hun-ah. Jadi aku akan melakukannya!"

"Benarkah?" tanya Sehun, Kai mengangguk yakin. Ia tidak sedang berbohong saat ini.. "Semoga sukses!" Sehun menepuk bahu Kai, membuat lelaki itu menoleh. "Kalau kau mau, aku bisa membantu mengatur mesin mobilmu agar jalannya lebih cepat. Dan ya, aku dulu pernah mencoba jadi serabutan di bengkel." Sehun mengakui kehidupannya yang kelam itu. "Aku akan selalu membutuhkanmu Hun. So now, we're friends?" tanya Kai. Sehun mengangguk, "Everlasting friends." Jawab Sehun.

. . .

"Kau, ikut pesta dansa itu?" Kyungsoo mengangkat bahu. "Entahlah, tidak ada persiapan." Kai mengacak rambut hitam gadis itu. "Pergi denganku saja, mau?" Kyungsoo menatap Kai kaget. "Aku juga tidak ada teman ke sana."

"Hyorin unnie?" tanya Kyungsoo. "Sudah berapa kali aku bilang aku tidak berpacaran dengannya, mengapa kau selalu menuduhku seperti itu?" tanya Kai. "Kalian terlihat dekat." Jawab Kyungsoo. "Sejujurnya aku lebih dekat denganmu." 'Secara batin, maupun fisik. Siapa lagi yang pernah sedekat itu padaku sebelumnya?' batin Kai berkata. "Baiklah, tapi jangan marah ya kalau aku mempermalukanmu. Walaupun Sehun adikku tidak berarti aku pintar menari sepertinya lho." Tangan Kai merangkul pundak Kyungsoo.

"Nanti kuajari." Janji Kai, "Jongin.." panggil Kyungsoo. "Apa?" Kai makin merapatkan rangkulannya. "Jangan lakukan itu." Pinta Kyungsoo. "Balapan itu, jangan melakukannya. A-aku takut dan khawatir padamu.." Kyungsoo memperjelas.

"Aku baik-baik saja." Kai menyakinkan. "Aku takut, mengapa kau harus berhadapan dengan kekasih Tao itu sih? Mengalahlah Jongin, tidak berarti kalah kok." Kyungsoo benar-benar merasa khawatir. "Masalahnya adalah, aku harus menang. Ini semua untuk kebaikan kita, jangan memikirkannya aku tidak mau kau khawatir." Kai menghadapkan tubuh Kyungsoo untuk menatapnya, memegang bahu gadis itu dengan lembut. Lalu Kai mendekatkan wajahnya ke wajah Kyungsoo, dan mengecup bibir merah gadis itu perlahan. "Aku cinta padamu."

"Na do, aku juga Jongin." Kyungsoo memeluk tubuh Kai hangat.

TBC, sorry update lama lagi UAS ;A; wish me luck ya dan nilainya bagus amin

last words, Review jusseyo ;-; please please pleaasseee gumawo :)