Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : Semi Canon, OOC, Absurd, typo, etc.
A/n : Timeline beberapa bulan pasca invansi Pein dan untuk usia Chara disesuaikan (Author yang menentukan, bukan berpatok pada animanga)
Ino jenuh dengan kedua orang yang berada di depannya, dirinya merasa seperti orang yang tidak diharapkan kehadirannya. Selama perjalanan ke pantai, Naruto hanya mengajak ngobrol Hyuuga Hinata dan terkadang mencandai gadis manis tersebut. Ino tidak cemburu, dia hanya kesal, dirinya adalah istri sah Naruto, tetapi kenapa Naruto lebih peduli terhadap Hinata! Kalau memang Naruto begitu peduli terhadap Hinata, kenapa dia tidak menikahinya saja dan malah menikahi Ino? Kepala Ino jadi pusing sendiri memikirkan masalah pernikahannya, lagipula ini juga salahnya yang mau saja menerima orang seperti Naruto menjadi suaminya.
"Ino-chan, kenapa wajahmu menyeramkan seperti itu?" Ino tambah bête mendengar pertanyaan Naruto yang tiba-tiba memandang ke arahnya.
Ino memalingkan wajahnya dan berjalan mendahului Naruto. Entah memang bodoh atau sengaja, Naruto tidak memedulikan tingkah istrinya yang jelas-jelas marah kepadanya dan malah kembali berbincang dengan Hinata. Hinata menyadari Ino sedang marah, dirinya menjadi tidak enak, tetapi kali ini saja dia ingin bersikap egois. Salahkah dirinya, kalau ingin menikmati kebersamaannya dengan orang yang telah lama dia sayangi?
"Ah aku capek, aku mau pulang saja. Kalian berdua saja yang ke pantai." Keputusan ini memang berat bagi Ino, hanya saja ini adalah keputusan terbaik. Ino tidak mau egois, dia tidak mencintai Naruto sementara Hinata begitu mencintainya, jadi dia ingin memberikan sedikit kebahagian kepada sahabatnya. Ino menyadari hal itu, melihat kegelisahan dan kebahagian yang tersirat dari gerak tubuh Hinata. Ino tidak menyalahkan Hinata atas sikapnya itu, Hinata tidak salah, dirinyalah yang salah telah menghianati sahabatnya.
Rasanya Ino ingin tertawa jika mengingat masa lalu, dirinya selalu menertawai sikap konyol Hinata dan berusaha meyakinkan gadis itu, kalau kelak Naruto pasti menyambut perasaannya. Rookie Sembilan memang menjadi sangat akrab setelah kepergian Sasuke, karena tidak ingin ada lagi orang yang kesepian dan salah jalan seperti Sasuke. Keakraban itu juga mengakibatkan hubungannya dengan Heiress Hyuuga menjadi dekat, meski Hinata masih canggung terhadapnya. Memang hal itu berhasil, Hinata mempunyai kepercayaan diri untuk menyatakan perasaannya terhadap Naruto, terbukti dengan pernyataannya ketika invansi Pein.
Ino merasa konyol mengingat itu, dia yang meyakinkan Hinata, tetapi dia juga yang menghianati. Bukankah dirinya begitu jahat? Jadi, dia tidak ingin menjadi penghalang sahabatnya. Kalau perlu ia akan merelakan Naruto menikahi Hinata dan menceraikannya, tetapi Ino masih ragu dengan pemikirannya yang satu ini. Apakah dirinya yakin?
Ino kaget menyadari sebuah tangan berukuran besar memegang dahinya, "Tidak panas." Saat objek dihadapannya hendak mendekatkan wajahnya dengannya, Ino langsung mendorongnya. Wajahnya memerah sempurna ketika menyadari orang itu adalah Naruto. "Kau kenapa melamun, apa kau sakit?"
Ino menggelengkan wajahnya, "Urusai, bukan urusanmu! Aku pulang saja." Ino tidak mengerti kenapa dia menjadi salah tingkah dan emosian seperti ini. Ino memilih melangkah cepat ke arah rumahnya tetapi Naruto menahannya.
"Kalau kau sakit, lebih baik kita ke dokter…." Ino menepis pegangan tangan Naruto, Naruto sedikit terkejut, tetapi detik berikutnya dia hanya memamerkan senyuman lima jarinya dan tangan yang menggaruk kepalanya —meski tidak gatal. "Yasudah kalau tidak mau, Hinata ayo kita ke pantai." Naruto langsung menghampiri Hinata dan menarik tangan Hinata tanpa permisi.
Hinata berusaha melepaskan pergelangan tangannya, dia tidak sanggup bertahan di keadaan seperti ini. Hinata kecewa bahkan dirinya serasa mati, ketika mengetahui Naruto menikah dengan Ino. Di lain sisi dirinya begitu bahagia saat ini, ketika Naruto begitu perhatian terhadapnya, namun dia tahu keadaan telah berubah. Naruto yang perhatian terhadapnya adalah suami orang lain dan dia begitu jahat, memanfaatkan perhatian Naruto dan membuat istrinya tidak nyaman. "Naruto-kun, a… aku ba… baik saja. Emmm etto, a… aku harus membantu tou-san, a… aku pamit…."
Naruto menggenggam tangan Hinata begitu erat, Naruto juga bingung kenapa dia melakukan ini, semuanya terjadi di luar kendali otaknya. "Kau harus refreshing Hinata, lihat saja wajahmu yang begitu pucat…." Naruto merangkum wajah Hinata, Hinata merasa mati rasa, wajahnya pun memerah dengan sempurna.
Ino melihat semua yang terjadi, di sisi hatinya terasa sakit, dia tidak sanggup melihat semuanya. Ino berlari ke arah yang berlawanan dengan pantai, kotak bekal yang digenggamnya pun terjatuh, tetapi Ino tidak memedulikannya dan terus berlari. Hinata terkejut dengan suara kotak bekal yang terjatuh, dia berusaha melepaskan rangkuman tangan Naruto di wajahnya. Rasa bersalah menghantuinya, Hinata berusaha mengejar Ino meski kakinya begitu lemah untuk berjalan karena keterkejutan-keterkejutan yang dialami.
Lagi dan lagi Naruto menahan tangan Hinata, "Biarkan saja." Hinata terkejut dengan perkataan Naruto, dia berusaha memastikan pendengarannya. Naruto tersenyum menyadari kebingungan Hinata, dia menggandeng tangan Hinata menuju pantai. "Pantai kan sudah dekat, masa mau dilewatkan, hehehehe."
"Tapi…." Hinata ragu untuk melanjutkan perkataannya. Biarlah, biarlah dia menjadi orang jahat. Hinata hanya ingin merasakan kebahagiaan dengan orang yang dicinta. "Maafkan aku Kami-sama, maafkan aku Ino-san…." Pikirnya.
.
.
.
Ino terus berlari tanpa tahu tujuannya, yang ia tahu hatinya begitu sakit bahkan ingin menangis, tetapi ia tidak tahu karena apa. Naruto, Hinata? Apakah dirinya cemburu? Ino menggelengkan kepalanya, saat pikirannya sampai pada konklusi itu. Ino menyakini bahwa rasa sakit yang menderanya adalah rasa bersalah karena telah menghianati Hinata.
Ino tidak menyadari di depannya ada orang yang tengah berjalan, pandangan mata yang kabur karena airmata membuat semuanya menjadi tidak jelas. Tabrakan pun tidak dapat dihindarkan, Ino mengaduh kala bokongnya berciuman dengan tanah. Ino tahu hal ini terjadi karena kesalahannya, dia pun bangkit dan menghampiri orang yang baru saja ditabraknya.
"Shikamaru?" Ino terkejut ketika mengetahui, orang yang baru saja ditabraknya adalah sahabat sekaligus teman setimnya.
"Keh, ternyata kau jadi pikun pascamenikah ya? Apa Hokage mendokusai itu yang menularkannya kepadamu?" Ino terkikik mendengar nada bicara Shikamaru yang tidak pernah berubah, "Hokage mendokusai", julukan yang aneh.
"Kau sendiri masih seperti kakek-kakek tukang mengeluh." Ino memeletkan lidahnya, kesedihan yang melandanya sirna begitu saja. Sayangnya Shikamaru terlalu jenius, dia menyadari Ino sempat menangis sebelumnya. Shikamaru memang terkesan cuek, tetapi dia adalah orang yang sangat peduli, terutama kepada teman setimnya, terlebih pascameninggalnya Asuma Sarutobi.
"Kau masih bisa menangis rupanya." Ino tidak suka dengan sindiran Shikamaru, dia memukuli bahu shikamaru begitu kencang, membuat Shikamaru mengaduh dan terus menyuarakan "mendokusai".
"Jangan ngejek deh kakek, gak lucu tahu." Ino menggembungkan pipinya, hal yang paling jarang dia lakukan bahkan nyaris tidak pernah. Gadis berusia dua puluh tahun ini memandang pemandangan di pasar Konoha dengan saksama. Pasar Konoha memang selalu ramai, walau hari telah siang tetapi suasana masih tetap ramai dan sarat nuansa kekeluargaan.
"Ayo pindah, gak enak menghalangi jalan. Apalagi dengan badanmu…." Perempatan tipis muncul di dahi Ino, dia memelototi Shikamaru dan memukul bahunya.
"Cih, aku ini langsing tau!" Ino kembali mengarahkan pukulannya, namun pukulannya melemah dan airmatanya kembali mengalir.
"Ada apa?" Ino hanya menggeleng, isakan kecil terdengar dari bibirnya, Shikamaru dengan sigap langsung memeluk tubuh Ino. Membenamkan kepala Ino di dadanya dan mengelus-elus punggung Ino. Menyadari kini dirinya dan Ino tengah menjadi santapan publik, dia pun berinisiatif untuk minggir dari keramaian.
.
.
.
"Hinata-chan kenapa bengong saja, ayo dimakan. Hemm makanan buatan Hinata-chan memang paling enak ya." Naruto memakan dengan lahap, bekal buatan Hinata. Hinata hanya diam dan memandang laut, hatinya masih bimbang atas sikap yang diambilnya.
"Ada apa, apa kau sakit?" Hinata merasa hari ini detak jantungnya terus-menerus diuji. Lagi-lagi Naruto berada begitu dekat dengannya, ditambah lagi tangan hangatnya yang memegang dahinya. Déjà vu, hal ini seperti kejadian tadi, bedanya Naruto tengah bertanya kepadanya bukan dengan Ino. Oh Kami….
"Badanmu memang agak hangat, apa kita pulang saja? Biar aku yang mengantarmu." Hinata menggeleng, tidak, dia tidak ingin kebersamaannya dengan Naruto cepat berlalu. Dirinya telah memutuskan untuk menjadi orang yang paling egois hari ini.
"Tidak, aku tidak apa-apa, emmm ha… hanya saja si… siang ini cukup pa… nas ya…." Hinata gugup, takut Naruto menyadari maksud tersembunyi dari kata-katanya. Ia menghela nafas lega, ketika Naruto mengusap kepalanya.
"Makan kakigouri ya, paling enak rasa lemon. Kalau Hinata-chan sukanya rasa apa?"
.
.
.
Shikamaru memandang lembut Ino, setelah Ino menceritakan keluh kesahnya. "Jadi, kau menyukai Naruto?" Ino menggeleng lemah, matanya menerawang melihat pemandangan taman yang sepi.
"Tidak, emmm maksudku tidak tahu." Ino dan Shikamaru memilih untuk diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Cukup lama mereka bertahan pada posisi itu —duduk berdampingan di bawah pohon— hingga terjemput mimpi. Sepintas orang yang melihat mereka berdua pasti berpikir mereka adalah sepasang kekasih, apalagi dengan kedua tangan yang saling terkait. Posisi tidur yang demikian membuat kepala Ino menyender di bahu Shikamaru.
.
.
.
"Hem jadi Hyuuga ini akan menjadi istrimu selanjutnya ya?"
Naruto dan Hinata terkejut mendengar perkataan Sai, mereka yang semula saling berkejar-kejaran, terhenti. Lebih tepatnya Hinata yang menghentikannya, kekhawatiran terpancar jelas di wajahnya. Hinata takut Sai salah sangka dan mengira yang macam-macam, tentu dirinya tidak ingin kalau perkataan tidak disaring Sai membuatnya dalam masalah, lebih-lebih kalau sampai terdengar ayahnya dan para tetua.
"Etto Sa… Sai-sama, ini ti… tidak seperti i… itu…." Hinata tidak kuasa melanjutkan perkataannya, rasa bersalah menghinggapinya. Sejak awal dirinya memang salah, meski demikian, dia tetap bahagia. Bahagia bisa melewati siang yang begitu indah ini, berdua saja dengan Naruto.
"Aku tidak menyangka nona terhormat sepertimu ternyata jalang juga ya…." Airmata Hinata mengalir, dia tak kuasa menahan tangisnya, apalagi Sai mengatainya dengan begitu kejam. Sungguh, detik ini juga, Hinata ingin menghilang dari dunia namun dia tak sanggup. Naruto tidak menyangka Sai mengatai Hinata dengan begitu kejam, Naruto berusaha menenangkan Hinata dengan memeluknya.
"Sai, jangan sembarangan kalau bicara." Tuding Naruto, Sai hanya tersenyum melihat kilatan amarah dari mata Naruto.
"Aku salah ya? Aku hanya sedang membaca buku, di buku ini dikatakan kalo seorang wanita berduaan dengan orang yang sudah beristri dinamakan jalang. Jadi buku ini salah?" Hinata masih terisak, meski dari sebuah buku namun yang dikatakan Sai benar. Tidak sepatutnya dirinya bersama dengan suami orang lain, sampai dipeluk seperti ini pula.
"Na… Naruto-kun, le… lepaskan," Naruto menolehkan kepalanya ke arah Hinata, memastikan dia tidak salah dengar. Maklum saja suara Hinata begitu lirih, terlebih tidak jelas karena menangis. "Le… lepaskan, a… aku mau pu… lang." Hinata meneruskan perkataannya dengan susah payah, sambil menahan tangisnya yang nyaris pecah. Hinata menghela napas lega, ketika Naruto melepaskan pelukannya.
"Kau ingin pulang? Biar kuantar, Naruto-sama susul saja istrimu, dia tengah bersama Shikamaru-san." Mendengar perkataan Sai, kedua insan itu menoleh ke arahnya. Mereka nyaris saja melupakan keberadaan Sai.
Hinata sebenarnya tidak ingin diantar pulang Sai, dia lebih baik pulang sendiri daripada diantar pria bermulut pedas ini, atau lebih tepatnya karena dirinya tidak begitu mengenal pria ini. Namun karena sebab dan lain hal, Hinata pun memutuskan untuk menerima ajakan Sai, dia tidak ingin rasa bersalah terus menghantuinya. "Hai, Na… Naruto-kun, aku…."
"Apa kau bilang, Ino bersama Shikamaru, sedang apa mereka?" Hinata terkejut melihat tatapan Naruto, dia tidak menyangka Naruto bisa seserius ini. Hinata tidak yakin Naruto juga akan bersikap seperti itu, jika dirinya adalah orang yang dimaksud Sai dan bukan Ino. Detik itu juga Hinata kembali patah hati!
Naruto langsung pergi begitu saja tanpa menunggu penjelasan dari Sai, Naruto juga tidak tahu kenapa dia bersikap seperti ini. Dirinya merasa tidak nyaman, ketika mendengar Ino tengah bersama Shikamaru….
Hinata menatap kepergian Naruto dengan penuh luka, hatinya begitu sakit. Rasanya semua kesenangan yang tercipta hanya fatamorgana belaka. "Sakura-san… dan kini Ino-san… kenapa aku tak pernah menjadi seperti mereka di hatimu… Naruto-kun…." Meski Hinata mengucapkannya begitu pelan namun tetap terdengar oleh Sai.
.
.
.
"Ino-chan, Ino-chan di mana kau?!" Naruto terus berlari mencari istrinya, terkadang dirinya menabrak warga akibat kecerobohannya, untungnya kini dia merupakan seorang Hokage, jadi tidak ada umpatan apapun atas kecerobohannya. Naruto merasa dunianya yang sekarang begitu berbeda, dahulu dirinya selalu menjadi sasaran kemarahan warga, tetapi kini dirinya menjadi orang yang begitu disegani.
Oh ya, Naruto juga tidak lupa dengan statusnya yang tidak single lagi, sesekali ada warga yang menyinggung tentang pernikahannya dan dirinya hanya menjawab dengan cengiran khasnya. Ngomong-ngomong tentang pernikahan, di mana keberadaan Ino sekarang?! Naruto menyesal tidak menanyakannya kepada Sai, akibatnya dia masih harus mencari istrinya, padahal hari tengah menjelang malam. Bayangan-bayangan Ino dan Shikamaru bermesraan mengganggu pikirannya dan itu membuat Naruto semakin kesal. Pria muda yang merupakan Hokage Konoha ini bingung, kenapa dia begitu kesal mendengar Ino berduaan dengan Shikamaru. Apa haknya untuk marah? Ya, dirinya memang suami Yamanaka Ino —ralat— Uzumaki Ino namun bukankah itu hanya status?
Naruto tenggelam dalam pikirannya, sampai-sampai bayangan Shikamaru dan Ino terlihat di dalam pandangannya. "Aku bahkan melihat kau berdua dengannya," racaunya.
"Yo Hokage mendokusai, apa kabar?" Sapa Shikamaru dengan kedua tangan di belakang kepala sementara Ino hanya melengos, dirinya masih kesal jika melihat "suaminya". Naruto menggaruk belakang kepalanya sementara tangan satunya mencubit pipinya, memastikan apa yang dilihatnya bukanlah ilusi.
"Dari mana saja kau, aku mencarimu!" Naruto langsung menarik tangan Ino, Ino meronta, tidak terima atas perlakuan Naruto terhadapnya. Naruto semakin mempererat pegangannya terhadap tangan Ino. "Hei, aku kan bertanya kepadamu, dari mana saja? Asal kau tahu aku daritadi mencarimu!"
"Cih kau pikir aku percaya, memangnya kau peduli padaku?!" Ino menatap Naruto dengan tatapan membunuh andalannya, Naruto tidak bergeming, dia balas menatap Ino —tak kalah tajam.
"Kau istriku, tentu aku peduli!" Ino meronta, berusaha melepaskan tangan Naruto yang memegangnya begitu kuat.
"Kurasa kau tidak menganggapku seorang istri, mana ada…." Ino bungkam, tidak sanggup melanjutkan perkataannya, dirinya berusaha menahan airmata yang nyaris meluncur. Tidak, Ino tidak mau terlihat lemah!
"Memangnya apa buktinya kalo Ino adalah istrimu, Hokage-sama?" Shikamaru memandang sepasang suami istri itu dengan tampang bosan, walau di dalam hatinya dia begitu tertarik dengan masalah mereka berdua. Bagaimana tidak tertarik, berita mengenai mereka yang menikah di waktu lalu saja begitu menggemparkan Konoha. Bukan pernikahannya yang aneh, hanya saja tidak ada yang menyangka kalau Naruto akan menikahi Ino, bukan Hinata ataupun Sakura yang jelas-jelas memiliki riwayat kedekatan dengan Rokudaime Hokage tersebut.
"Sudahlah Shika, tidak usah ditanya, aku kan memang bukan siapa-siapa untuknya. Aku mau tidur, ngantuk sekali, terima kasih ya sudah…." Perkataan Ino terputus dengan sesuatu yang basah. Oh tidak! Ternyata Naruto menciumnya, ciuman pertama bagi Ino dan pertama pascapernikahannya. Ino berusaha menormalkan detak jantungnya, kaki Ino melemas akibat serangan Naruto. Sepasang insan yang telah bersatu dalam mahligai indah bernama pernikahan, terlihat begitu menikmati cumbuan mereka ditambah lagi suasana senja yang mendukung, membuat romantisme terjalin secara kondusif.
Shikamaru tersenyum puas melihatnya, tidak disangka pancingannya berbuah manis. "Berbahagialah Ino, kau pantas mendapatkannya," ujarnya.
"NARUTO!" Sakura terkejut atas apa yang dilakukannya, dirinya tidak menyangka akan senekat ini untuk berteriak. Semuanya terjadi di luar kehendaknya, dengan kata lain terjadi secara spontan. Sakura sendiri bingung kenapa dia bisa berada di sini, padahal rumahnya berada jauh dari area sekitar rumah Naruto.
Naruto terkejut mendengar teriakan Sakura, dirinya langsung melepaskan ciumannya dari Ino. Ino bingung dengan apa yang terjadi, semuanya terjadi begitu cepat tanpa sempat diproses. Yang jelas kini Naruto menghilang dari pandangan matanya untuk menghampiri Sakura yang berlari menjauh. Ino menghela nafas, rasa sakit kembali melanda hatinya. Sama seperti Ino, Shikamaru yang menjadi saksi pun kesulitan memahami semuanya. Si pemilik otak jenius ini memilih menghampiri Ino —yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri.
"Shika, a… aku tidak pernah be… berharap…." Ino menghela napas karena kesulitan berbicara seraya menahan tangis, "Naruto, ah bu… bukan! Maksudku pernikahan ini, ta… tapi kenapa rasanya sakit. A… aku me… merasa…." Shikamaru langsung memeluk tubuh Ino erat, seolah melarangnya untuk mengatakan apapun. Ino membalas pelukan Shikamaru, tangisnya pun lepas.
"Tidak apa, menangislah." Shikamaru membelai surai selembut sutra, berusaha menenangkan sang pemilik surai tersebut. "Kau tidak sendiri, ada aku di sini."
TBC
Huwaaaaa jangan marah sama daku, daku tidak bermaksud apa-apa, semuanya mengalir begitu saja. Jadi maaf ya kalau kesannya Hinata sama Sakura jahat di sini, juga Ino yang kesannya lemah banget dan Naruto yang gak berperasaan. Ini semua hanya karakterisasi untuk pengembangan cerita kok, aku gak pernah maksud apalagi niat untuk bashing chara, kuharap teman-teman mengerti. ^^ Oh ya mungkin ada yang ngerasa Ino di sini jadi agak kalem dan rada pemalu, aku terinspirasi sama trailer Road to Ninja, hahaha. :D Emm satu lagi, kalo ada yang suka sama Ino (Ino-centric) tolong baca ficku yang judulnya, "Gakuen In Love", aku butuh banget kritik di fic itu, arigatou… ^^
Segini aja deh cuap-cuap dariku, takut pada bosan. Eitzzz tapi jangan ke mana-mana dulu, aku mau balas review unlogin dan untuk yang login cek PM ya…. ;)
Guest. Makasih untuk reviewnya. ^^ Maaf ya kalo ficnya pendek, ini udah aku coba panjangin, semoga suka. Mau review lagi? ;)
Briesies. Huwaa makasih sudah bersedia review lagi. Semoga chapter ini gak sesingkat chapter kemarin, mau review lagi? Hehehe.
Minami22. Makasih untuk reviewnya…. ^^ Ini lanjutannya, semoga ceritanya makin seru, selamat membaca ya. Review lagi? Hehehe.
Terima kasih untuk segala apresiasi kalian terhadap fic ini, baik untuk yang mereview, memfavoritkan, memfollow ataupun hanya sebagai silent reader, aku cinta kalian! 3
Mind to Review?
