[2] Bagian 2
Luhan merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamarnya menerawang pada kejadian beberapa waktu yang lalu.
Flashback
Setelah selesai makan malam Sehun mengantarkan Luhan ke apartemen sesuai janjinya. Sebenarnya tadi Luhan memang benar-benar tidak ingin menemani presdirnya sekaligus mantan kekasihnya itu makan malam tapi karena ia kalah berdebat mau tidak mau Luhan harus menemani Sehun.
"Terima kasih atas makan malamnya presdir." Luhan memberikan senyum hangatnya pada Sehun, senyum yang dulu bisa Sehun lihat setiap hari tapi sekarang tidak.
"Ya sama-sama anggap saja itu sebagai penebus rasa bersalah ku karena sudah membuat mu lembur."
"Kalau begitu saya masuk dulu presdir. Selamat malam." Luhan melepaskan sabuk pengamannya dan hendak turun dari mobil Sehun tapi secepat kilat Sehun memegangi pergelangan tangan Luhan.
Luhan berbalik menatap heran sang presdir "Ada apa presdir?"
"Tidak bisakah kau memberikan ku satu kali kesempatan lagi. Aku ingin kita kembali bersama seperti dulu lagi. Aku mohon Lu." Sehun menatap dengan wajah berharap pada Luhan.
Luhan melepaskan genggaman tangan Sehun perlahan. "Maaf Sehunna aku tidak bisa. Kita sudah punya jalan masing-masing dan memang Tuhan tidak mengizinkan kita untuk bersama."
"Kalau begitu izinkan aku melakukan ini untuk yang terakhir kalinya Lu" Sehun mendekatkan wajahnya kearah Luhan. Luhan bergerak mundur tapi Sehun semakin mendekatkan wajahnya hingga tinggal beberapa senti lagi "Maafkan aku Lu." Setelah mengatakan maaf Sehun langsung menyambar bibir mungil Luhan. Luhan hanya diam tidak membalas ciuman Sehun, Sehun yang merasakan Luhan tidak membalas ciumannya semakin intens memperdalam permainan bibirnya diatas bibir Luhan, Sehun menggigit bibir bawah Luhan agar lidahnya memiliki akses kedalam mulut Luhan dan akhirnya Luhan ikut terlena kedalam ciuman Sehun. Sehun yang mendapat respon tersenyum ditengah ciuman panas mereka. Sehun semakin gencar memberikan lumatan-lumatan pada bibir Luhan sementara Luhan masih menikmati permainan Sehun yang mendominasi hingga ciuman-ciuman mereka sudah di penuhi hawa nafsu. Luhan tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih jauh jadi dia melepaskan pagutan mereka "Tidak seharusnya kita melakukan ini. Pulanglah ada seseorang yang menunggumu di rumah." Luhan masih terengah-engah karena ciuman panas mereka.
Sehun sedikit kecewa dengan perkataan Luhan "Baiklah aku akan pulang sekarang. Sebaiknya kau cepat masuk di luar dingin." Sehun memegang bibir Luhan yang membengkak karena dirinya kemudian memberikan kecupan singkat di bibir Luhan.
"Baiklah kau juga hati-hati di jalan ini sudah larut. Selamat malam Sehunna" Setelah mengucapkan selamat malam Luhan turun dari mobil Sehun dan berjalan masuk ke gedung apartemen. Setelah memastikan Luhan sudah masuk ke dalam apartemennya Sehun melajukan mobilnya untuk pulang kerumahnya sendiri.
Flashback off
~ooOOoo~
Sehun menginjakkan kaki dirumahnya dengan keadaan sangat lelah. Setelah sampai rumah ia berniat untuk membersihkan diri lalu pergi tidur. Tetapi ketika ia membuka pintu rumah sang istri sudah berdiri di depan pintu dengan wajah menahan amarah.
"Dari mana saja kau?" Tanya Irene.
"Aku habis lembur di kantor. Ada banyak dokumen yang harus aku kerjakan."Sehun masih sibuk membuka sepatunya tanpa menghiraukan Irene yang sudah emosi.
"Lembur tidak harus pulang jam segini Oh Sehun. Apa kau pergi bersama dia."Kali ini Irene berbicara dengan nada tinggi.
"Bukan urusan mu jika aku ingin pergi dengan siapapun." Sehun berjalan melewati Irene, Sehun berusaha menghindar agar amarahnya tak terpancing oleh Irene. Ia tidak ingin bertengkar malam ini karena takut membangunkan sang anak semata wayangnya dan juga adik kesayangannya.
"Cih...benar dugaan ku kau pasti pergi dengan pria murahan itu kan. Kau pergi dengan jalang itu lagi kan." Irene berdecih dan berbicara dengan wajah angkuhnya.
Sehun tidak terima dengan perkataan Irene jika itu mengenai Luhan, apalagi Irene menjelek-jelek kan Luhan di depan dirinya. Sehun berbalik dan melangkah mendekati Irene lalu melayangkan sebuah tamparan di pipi Irene.
"Sebelumnya aku tidak pernah berbuat kasar kepada perempuan tapi pengecualian untuk dirimu. Cih...Sebenarnya siapa disini yang jalang, kau atau Luhan. Aku pikir itu kau, karena tidak ada seseorang yang merebut kekasih orang lain apalagi menjebaknya untuk meniduri dirinya kecuali jalang seperti mu. Sekali lagi kau menjelek kan Luhan atau berkata yang tidak-tidak aku pastikan kau sudah berada jauh di neraka. Camkan itu." Sehun mengancam Irene kemudian pergi meninggalkan nya sendiri.
"Kau kira kau bisa mengancamku Oh Sehun. Kita lihat saja nanti." Irene menatap nyalang ke arah tubuh Sehun yang telah menghilang.
~ooOOoo~
Luhan tengah sibuk memasak sarapan di dapur sambil bersenandung lagu cinta sampai sebuah suara menghentikan aktivitasnya.
"Pagi Hyung." Sapa Chanyeol.
"Pagi juga sayang." Luhan membalas sapaan sang adik.
"Kau sepertinya sedang senang hari ini. Apa kau sedang jatuh cinta?" Goda Chanyeol.
"Itu konyol Aku sudah terlalu tua untuk percintaan." Jawab Luhan santai.
"Kalau begitu berhubung hyunh sedang senang hari ini. Aku ingin memberikan sesuatu untuk mu."Chanyeol menyodorkan amplop putih pada Luhan.
"Apa ini?" Tanya Luhan bingung.
"Kau bisa membuka nya ketika aku keluar dari pintu hyung. Sekarang aku harus pergi hyung."
"Kau tidak sarapan dahulu?"Luhan menawarkan.
"Tidak hyung, aku ada jadwal kebersihan kelas pagi ini. Jadi aku buru-buru. Aku akan sarapan di kantin saja nanti. Aku pergi dulu hyung." Chanyeol melangkah pergi dari dapur dan berjalan ke pintu apartemen.
Setelah Chanyeol pergi dari dapur, Luhan membuka amplop yang diberikan oleh Chanyeol tadi kemudian membacanya dan seketika itu pula air muka Luhan berubah merah.
"Park Chanyeol!!!" Teriakan Luhan menggema di seluruh apartemen. Sementara Chanyeol yang masih berada di balik pintu apartemen hanya tertawa mendengar teriakan hyungnya setelah membaca surat panggilan dari sekolah untuk kesekian kalinya.
Disisi lain di kediaman Oh, Sehun dan Irene sedang sarapan bersama anak mereka yang berada di kursi bayinya. suasana sarapan mereka terbilang dingin karena tak ada satu suara yang keluar sampai sebuah suara memecahkan keheningan mereka.
"Pagi semua." Suara cempreng Baekhyun menggema di seluruh rumah.
"Pagi Baekhyunna." Irene membalas sapaan selamat pagi Baekhyun dengan senyum sementara Sehun hanya diam sambil memakan sarapannya.
"Hyung aku ingin memberikan mu ini." Baekhyun menyodorkan amplop putih pada Sehun.
"Apa lagi yang kau lakukan kali ini?" Tanya Sehun tanpa basa basi karena ia tahu apa yang ada di dalam amplop putih tersebut.
"Tidak ada hanya pertengkaran kecil. Aku harap kau bisa datang hyung. Kalau begitu aku pergi dulu."
"Kau tidak sarapan dahulu baekhyunna?" Tawar Irene dengan senyum manis.
"Tidak terima kasih. Aku akan makan di kantin nanti. Lagi pula aku tak ingin sarapan dengan ru-bah." Jawab Baekhyun santai sambil menekankan kata rubah pada kalimatnya sementara Irene hanya tersenyum pahit mendengar sindiran dari adik iparnya itu.
"Kalau begitu aku pergi dulu hyung sampai jumpa nanti. Paman pergi dulu Haowen, nanti paman akan bermain dengan mu ne." Baekhyun mencium lembut pipi gembul Haowen kemudian mengusak rambutnya penuh sayang sementara sang bayi kecil hanya bisa tertawa. Setelah itu Baekhyun melangkah pergi dari kediaman Oh.
Irene hanya bisa menahan amarahnya, bagaimana tidak hanya Haowen saja yang memdapatkan cinta dari suami dan adik iparnya sementara ia hanya bisa mendapatkan perlakuan buruk dari mereka berdua.
~ooOOoo~
Setelah menghadiri beberapa acara hari ini, exo pergi ke gedung SM untuk menemui presdir mereka membicarakan beberapa hal. Saat berjalan di koridor, para member exo berpapasan dengan senior mereka, Taeyeon. "Selamat sore sunbae." Para member meberi sapaan dan membungkuk dalam pada Taeyeon.
"Selamat sore, kalian tak perlu seformal itu padaku panggil aja aku noona. Oh ya, aku ucapkan Selamat atas debut kalian. Aku melihat penampilan debut showcase kalian. Itu sangat mengagumkan terutama Kai, aku sangat suka penampilan dance mu yang energik." Puji Taeyeon sambil menaruh tangannya di pundak Jongin sambil mengelus-elus kecil pundak Jongin.
"Terima kasih Noona. Aku akan bekerja lebih keras lagi." Jawab Jongin semangat dengan senyum di bibirnya.
"Kalau begitu berusaha lah. Kalian semua hwaiting." Taeyeon tersenyum menyemangati Semua member exo tapi tatapannya hanya mengarah ke Jongin.
Kyungsoo melihat Taeyeon dengan tatapan tajamnya. Ia tahu arti senyum dan tatapan yang diberikan Taeyeon kepada Jongin dan Kyungsoo benar-benar tak suka melihatnya.
TBC
