Chapter 2
Sweet Lies
Boyxboy
Main pair: kaisoo
Rated:M
Typos
"katakanlah aku seorang penjahat, ya! Asal aku bisa memilikimu!"
.
.
.
.
.
"chan, please! Please! dengarkan aku! " baekhyun berusaha menghentikan chanyeol yang tengah berusaha turun dari ranjang, melepas selang infus ditangannya.
"dengarkan apalagi baek? Aku harus mencari kyungsoo!" chanyeol berucap tegas menatap baekhyun.
"aku tahu! Aku mengerti– tapi keadaan kamu saat ini belum baik chan, please, , , percayalah padaku, – sehun, luhan, jongdae dan minseok sedang mencarinya, anak buah kamu juga –kamu jangan hawatir, mereka akan segera menemukannya! " baekhyun terus membujuk pemuda berlesung pipit itu.
Keadaan chanyeol memang belum membaik sejak insiden buruk yang dialaminya beberapa hari yang lalu, bahkan ia sempat tidak sadarkan diri selama beberapa hari.
'klek! '
Pintu ruangan terbuka tepat saat baekhyun membantu chanyeol untuk kembali berbaring. Empat namja masuk, mendekati chanyeol dan baekhyun.
"bagaimana keadaanmu? " tanya sehun.
"apa kyungsoo sudah ketemu? " balas chanyeol.
Jongdae menghela nafas, selangkah maju lebih mendekat pada chanyeol.
"belum– tapi kamu jangan hawatir, kita tidak berhenti sampai dia ketemu" jongdae memberi jawaban pada chanyeol.
"sudah pasti! Jangan berhenti atau aku bisa membunuh kalian! "
"tapi– ada hal buruk yang harus kamu tau lagi chan! " jongdae berucap lagi.
"apa? Katakan! "
Baekhyun menatap keempat pemuda yang berdiri selain dirinya dengan hawatir. Luhan sedikit bergerak gusar begitu juga minseok dan jongdae yang beradu pandang, kemudian keduanya menatap sehun. Seolah memyerahkan semua tanggung jawab pada pria berbahu lebar itu.
"cepat katakan! " chanyeol tak sabar.
"Kita gagal di misi ini–"
"what? " chanyeol menatap sehun tajam
"em, , , mungkin misinya memang berhasil, tapi kita ketahuan– dan terpaksa, tuan yunho dan ny. Yoona tertangkap polisi, tapi kamu jangan hawatir, orangtua kamu dan anak buah yang lain berhasil melarikan diri. Saat ini orang tua kamu sudah pergi ke luar negeri!"
"shit! " chanyeol mengumpat marah, ia memejamkan matanya sejenak. Keadaan seketika menjadi hening, ketika si ketua diantara enam namja itu sudah marah.
"cepat temukan kyungsoo?!, aku sudah bilang, mereka pasti mengincar kyungsoo!" chanyeol berucap lagi, kali ini ia membuka matanya menatap kearah langit-langit kamar.
"tapi menurutku, mereka belum tau tentang kyungsoo, menurut informanku, mereka bahkan belum tau wajah kyungsoo!" luhan menyampaikan informasinya.
"lalu kemana kyungsoo? "
"aku rasa ada pihak ketiga yang tidak kita ketahui, " minseok menambahkan.
Chanyeol diam sejenak.
"apapun itu, cepat cari kyungsoo! Aku juga akan mencarinya! " ucap chanyeol sambil berusaha bangun. Lalu baekhyun dengan sigap membantunya.
"dan jangan halangi aku! " kali ini pemuda yang telah sepenuhnya duduk berkata sambil menatap tajam baekhyun. Lalu berganti pada empat pemuda lain disebelahnya.
Semua hanya diam, tak satupun berani membantah ucapan pria bermarga park itu.
"bagaimanapun, kyungsoo tidak tau apa-apa, ia tidak terlibat dalam hal ini, dan apapun yang terjadi, dia tidak berhak menanggung konsekuensi dari semua hal ini, "
.
.
.
.
.
Hongkong 17.29 pm.
Kai masih menggandeng tangan kyungsoo, membawanya memasuki sebuah apartemen cukup mewah. Sebenarnya sejak pagi tadi keduanya telah sampai dihongkong. Tapi kai meminta kyungsoo untuk beristirahat di rest area, sementara dirinya mengurus sesuatu yang lain.
Barulah sore tadi kai ahirnya mengajak kyungsoo ke tempat yang akan jadi rumah baru mereka.
" ini rumah siapa, chan!?" kyungsoo bertanya sembari menyapukan pandangannya keseluruh penjuru apartemen.
Kai membantu kyungsoo melepas jaketnya setelah meletakkan tas yang dibawanya diatas meja.
"ini rumah kita– kita akan tinggal disini, "
"apa sebelumnya kita juga tinggal disini? " kyungsoo menoleh, menatap kai.
Pemuda tan itu tersenyum, meletakkan jaket kyungsoo diatas kursi.
"tidak, hanya saja mulai hari ini kita tinggal disini, "
"kenapa?, lalu– bagaimana dengan keluargaku!?, atau teman-temanku? , sebenarnya aku seperti apa sebelum hilang ingatan? "
Kai menghela nafas, meraih tangan kyungsoo lalu mendudukkannya di sofa bersama dirinya. Ia menatap lekat kyungsoo, begitu juga dengan pemuda mungil itu.
"selama ini kamu adalah anak panti asuhan, aku tidak tau banyak tentang latar belakang keluarga kamu, karna kamu sendiri tidak pernah menyinggungnya. Kamu punya impian untuk tinggal di hongkong, karena kamu ingin pergi ke disneyland setiap hari, itulah alasannya, kenapa aku membawamu kesini– kamu juga tidak memiliki banyak teman, " kai berusaha mengatakan sebaik mungkin rangkaian kalimat kebohongannya.
"lalu– apa yang terjadi sampai aku hilang ingatan? "
"kamu dipukul seseorang, entah siapa? – aku rasa selama ini ada yang membencimu, jadi kufikir, lebih baik kita pergi dari seoul!"
Meski kai berkata seolah yakin, tapi kyungsoo seolah memberikan keraguan dari semua penjelasan kai.
"kamu pasti lelah, lebih baik kamu istirahat! " kai coba mengalihkan pembicaraan, lalu bergegas berjalan menuju sebuah kamar. Membuka pintu dan menyalakan lampunya.
"ini kamar kamu!"
Kyungsoo hanya mengangguk pelan, ia terlaly lelah hari ini. kemudian si lelaki mungil mulai berjalan memasuki kamar itu.
" maafkan aku, , , kyungsoo, , , " batin kai
.
.
.
.
.
"Chan!" baekhyun memasuki kamar chanyeol dan menemukan pemuda itu berdiri di dekat balkon. Memang sore tadi, chanyeol nemutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Ia menatap langit malam, sembari memasukkan kedua tangannya disaku celana. Kepalanya mulai bergerak sedikit, menoleh baekhyun yang berjalan mendekatinya.
"sehun dan luhan mengajak makan diluar! " ucap baekhyun lembut.
"kamu belum makan kan?, bagaimana kalau kita pergi ke restoran favorit kamu, " lanjut baekhyun menawarkan sambil menyentuh bahu lelaki itu.
Chanyeol mulai bergerak, ia membalikkan badannya, dengan halus menyingkirkan tangan baekhyun. Sebuah perlakuan yang menyakitkan bagi seorang byun baekhyun tanpa chanyeol tahu.
"pergilah!, aku tidak lapar! " ucap chanyeol mulai melangkah menuju ranjang besarnya.
Baekhyun tentu tak dapat membantah, apalagi memaksa pemuda yang berstatus sebagai kekasihnya itu. Ia tahu betul setiap kata yang keluar dari pemuda dengan tinggi diatas 180 itu seolah mutlak dan jika ada yang membantahnya, maka pemuda itu akan marah.
"baiklah, kalau begitu aku akan meminta jongdae dan minseok untuk membawa makanan untuk kamu! "
Chanyeol hanya mengangguk.
"istirahatlah! Aku pergi dulu!" pamit baekhyun sembari melangkah menuju pintu keluar.
"baek! "
Panggil chanyeol membuat baekhyun menoleh seketika.
"terimakasih! "
Lelaki yang lebih kecil hanya tersenyum dan mengangguk sebelum ahirnya keluar dari kamar itu.
.
.
.
"bagaimana!?" tanya luhan begitu baekhyun keluar dari kamar chanyeol.
Baekhyun hanya menggeleng. Luhan mengelus punggung lelaki yang lebih muda darinya, mencoba menenangkannya.
"ya sudah tidak apa, kamu mengerti kan jika kyungsoo sangat berarti buat chanyeol,"
"ne, arraseo"
.
.
.
Chanyeol memandangi ponselnya, lebih tepatnya gambar lelaki mungil kekasihnya yang terpasang sebagai walpaper smartphonenya.
"soo, dimana kamu? "
,
Flashback on
Kyungsoo turun dari panggung setelah pertunjukannya. Ia sedikit berlari ketika melihat chanyeol, kekasihnya, membuka lebar pelukannya untuk menyambut dirinya.
Tentu kyungsoo segera berhambur dalam dekapan kekasihnya. Keduanya tertawa, chanyeol begitu bangga pada kekasihnya yang baru saja mempersembahkan sebuah penampilan menakjubkan.
"you did really great babe, , , !"
"really? Gomawo chan–"
Keduanya lalu kembali duduk bersama yang lainnya.
"wow, , , kyung! You really amazing! " jongdae menunjukkan 2 jempol pada kyungsoo
"really daebak! " tambah minseok, kemudian luhan dan sehun ikut serta memberikan acungan dua jempol. Baekhyun datang membawa dua botol vodka serta segelas jus orange.
"kyungja– chukae! " ucapnya memberikan segelas jus orange pada kyungsoo.
"gomawo baekkie, , , "
Kemudian pemuda penggila eyeliner itu berhambur menghampiri chanyeol, "let's party tonight!", kemudian menyatukan bibirnya dengan milik pemuda yang lebih tinggi.
"hey, , , bisakah kalian melakukannya nanti, ada kyungsoo disini! " minseok menginterupsi, hingga keduanya mengahiri ciuman sekilas mereka.
Kyungsoo hanya diam, melihat kejadian itu sambil menikmati jus jeruknya dari sedotan. Chanyeol mengusap bibirnya sekilas, mendekati kyungsoo lalu merangkulnya.
"gwenchana? "
Kyungsoo hanya mengangguk imut.
"waaah, , , bagaimana caranya menjadi chanyeol, sudah kaya punya dua pacar sekaligus! " sehun berkata dan hanya dijawab senyuman remeh dari seorang park chanyeol.
"kamu ingin kaya? Atau punya pacar lagi oh sehun! " luhan berkata penuh penekanan sambil menuang vodka, sementara yang lain hanya terkikik.
"te–tentu aku hanya ingin kaya saja,!" sehun gugup seketika merasakan aura luhan kekasihnya yang begitu menakutkan.
Jongdae tidak dapat menahan gelak tawanya, begitu juga baekhyun, sementara chanyeol, minseok dan kyungsoo hanya tersenyum.
"kalau kamu ingin mendua, cari pacar seperti kyungsoo bukan sepertiku! "
"hey, , , jangan bandingkan kyungsoo dengan dirimu, dia spesial! " kali ini pemuda park berbicara.
"chan–!" kyungsoo tiba-tiba menyahut, membuat semuanya fokus padanya.
"what's wrong babe, , , !"
"bisakah kamu menciumku? " kyungsoo bertanya dengan polosnya.
Semua yang ada disitu diam seketika.
"kamu selalu mencium baekhyun, tapi tidak pernah melakukannya padaku, bukankah aku juga pacarmu? – luhan dan sehun, minseok dan jongdae, mereka melakukan hal yang sama, kenapa aku dan kamu tidak?"
Pertanyaan kyungsoo benar-benar menohok chanyeol. Memang selama ini chanyeol memperlakukan kedua kekasihnya dengan cara yang berbeda. Bagi chanyeol, kyungsoo adalah permata yang begitu berharga. Ia hanya ingin menjaganyq sebaik mungkin. Untuk menyentuhnya saja pria itu ribuan kali berfikir, apalagi untuk merusaknya.
Pria park itu kemudian menggenggam erat tangan namja mungil itu.
"aku akan melakukannya, tapi– tidak sekarang!"
"wae, , , ?"
"karena kamu belum siap– mungkin kamu tidak akan mengerti untuk saat ini, hanya– percaya saja padaku, arraseo!"
Seperti kyungsoo biasanya, pemuda itu begitu penurut pada kekasihnya. Ia tersenyum dan mengangguk pada seorang park chanyeol.
"dan juga– jangan percaya pada mereka! " lanjut chanyeol menunjuk semua temannya dan disambut cebikan dari kelimanya, sementara kyungsoo hanya tersenyum.
.
.
.
Flashback off.
.
.
.
"karena kamu terlalu berharga soo, , , maaf aku terlalu buruk untukmu, , , "
.
.
.
Hongkong.
"hey, kamu sudah bangun? " tanya kai sambil sibuk mencuci piring setelah melihat kyungsoo duduk di meja makan tepat dibelakangnya.
"kamu menyiapkan semua ini? "
"hm! Makanlah, hanya sandwich, aku belum sempat belanja kemarin! " jelas kai singkat.
"gwenchanayo– ah! aku jadi merasa buruk, bukankah sebagai kekasih, aku yang harus menyiapkan semua ini, " kyungsoo sedikit menyesal.
"kamu kan masih sakit~ tidak apa-apa " kai tersenyum menoleh kyungsoo.
Pemuda mungil itu kemudian mulai menyantap sandwich yang ada dihadapannya. Sementara kai mengambil susu dari dalam kulkas, menuangkannya kedalam gelas, kemudian meletakkannya dihadapan kyungsoo.
"chan! "
"hm!" kai menjawab, kali ini sambil mengupas mencuci buah-buahan di wastafel.
"sudah berapa lama kita pacaran? "
Seketika kai menghentikan kegiatannya. Menatap pemuda mungil yang mulutnya penuh dengan sandwich.
"kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? " kai mencoba tenang, meski hatinya sebenarnya sangat gelisah.
Kyungsoo menelan sandwichnya, kemudian menyelesaikannya dengan meneguk segelas susu.
"aku berfikir semalam– mungkin karena aku hilang ingatan, aku merasa kita berdua jadi sedikit canggung, entahlah, padahal satu-satunya yang tertinggal dikepalaku adalah kamu kekasihku, tapi– aku justru merasa ada jarak diantara kita" kyungsoo diam sejenak, menjeda kalimatnya.
"karena itu– hal yang paling ingin ku tahu saat ini adalah tentang kita, hubungan kita, kamu dan aku!"
Ada perasaan mendebarkan dalam dada kai saat kata ' kita' yang menggambarkan dirinya dan kyungsoo terucap dari bibir pria yang paling di pujanya. Tetapi, ketika tabir kenyataan terungkap, semuanya kembali menyakitkan. Ini sebuah kebohongan yang manis.
"sejak awal kita masuk kuliah! " kai menjawab.
"ah– aku seorang mahasiswa, semester berapa aku? "
"kita hampir lulus,"
"ahh, , , – seperti apa aku sebagai kekasihmu? Maksudku– apa aku menyebalkan, pemarah, manja, atau, , , "
"you're perfect soo, , , !" jongin memotong ucapan kyungsoo. Kemudian pemuda itu berjalan mendekati kyungsoo, meraih tangan pemuda mungil itu.
"jangan memikirkan tentang masalalu, pikirkan saja semua tentang sekarang, oke!"
"apa tidak apa-apa, jika ingatanku tidak kembali? "
"it's okay, , , percayalah padaku, aku akan selalu melindungimu–"
.
.
.
Flasback on.
Kai pov
Aku masih ingat hari dimana kita bertemu lagi setelah malam itu. Pagi itu aku sedang berjalan menuruni tangga menuju stasiun. Sebenarnya aku tak tau, kemana tujuanku, aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar, menikmati angin layaknya orang normal lainnya. Mungkin hari itu tuhan mendengar doa dalam hatiku. Mataku menangkap sosok yang begitu ingin kutemui lagi. Ia mengenakan sweater maroon, dengan jeans hitam, membawa sebuah ransel dipunggungnya. Kaki mungilnya berbalut sneakers bertali, berlari kecil, terburu-buru memasuki stasiun. Seperti magnet, ku percepat langkahku tak ingin ketinggalan dirinya.
Hari itu takdir sepertinya berpihak padaku. Lelaki bermata owl itu terlihat kebingungan saat akan memasuki pintu menuju peron stasiun. Dan aku bisa menebak ia tidak membawa kartu kereta.
'KLIK'
Ia menoleh saat aku menggunakan kartuku untukknya. Mempersilahkan dia untuk masuk. Ia menolehku cepat, raut wajahnya sedikit bingung, namun bersyukur. Ia tersenyum padaku, mengucapkan terimakasih lalu bergegas masuk kedalam.
Aku mungkin sudah gila, karena ini adalah pertama kalinya aku menunjukkan sosok asliku pada orang asing. Biarlah, asal itu dirinya aku tidak peduli.
Belum selesai –takdir masih berpihak padaku. Aku dapat melihatnya didalam gerbong kereta. Ia berada diujung sana. Berdiri. Aku menatapnya, terus tanpa henti. Itu seperti sebuah adiksi, yang sangat sulit kulepaskan. Ia begitu mempesona. Semua yang ada pada dirinya sungguh mempesona.
Hingga satu titik, dimana ia bertemu pandang denganku. Seperti sunshine, senyuman manis itu terukir kembali dibibirnya. Kali ini, aku merasa ini mimpi. Ia melangkah– diantara kerumunan orang, terus mendekat kearahku.
Detak jantungku menggila, seolah orang disebelahku dapat mendengarnya.
Deg!
Ia kini berdiri tepat dihadapanku.
"gomawo? " suara lembutnya menggapai pendengaranku.
Aku mengangguk sambil tersenyum kecil.
"do kyungsoo! " ia mengulurkan tangan kecilnya, menatapku.
Entah ada aliran apa, tetapi seketika aku menjabat tangannya. Lembut. Tekstur telapak yang begitu kontras denganku, begitu juga warnanya. Aku tidak ingin melepaskan tangan ini. Aku ingin menyentuhnya setiap hari, setiap saat menggenggamnya, mengaitkan jemarinya dengan jemariku.
Larut dalam fikiranku sendiri, aku tak menyadari bahwa kami cukup lama bersalaman dan aku juga terus menatapnya.
"nama kamu siapa? " ahirnya ia bertanya
"jongin! "
Ahh, rupanya aku benar-benar tidak waras hari ini, bahkan aku memberitahukan nama asliku pada lelaki ini.
Kemudian ia menarik tangannya, memaksaku melepaskan jabatan itu pula.
"hmm, , , aku akan mentraktirmu lain waktu sebagai ucapan terimakasih jongin-ssi, otte? "
"terserah! " jawabku datar, berbalik dengan hatiku, yang seolah melompat girang. Ini benar-benar sebuah kesempatan.
"boleh aku minta no telponmu? "
Aku diam. Kali ini jelas aku tak bisa.
"ah~ pasti kamu merasa aku aneh ya, padahal kita barusaja berkenalan, tapi aku sudah minta no telpon– aku hanya ingin mentraktirmu saja kok! " ia memberi penjelasan.
Padahal bagiku, aku sungguh senang dia meminta kontakku, paling tidak ini adalah sebuah jalan. Sayang, aku belum bisa memberikannya. Ini terlalu berbahaya.
"aku naik kereta ini setiap pagi, kita bisa bertemu disini! " jawabku asal tak ingin membuatnya kecewa.
"ah, sungguh! Baiklah kalau begitu, nanti aku ajak kamu ke kafe eskrim dekat stasiun! Rasanya sungguh daeeeeebak! " ia begitu bersemangat.
Aku mengangguk, memberi senyuman padanya.
Itu adalah sebuah janji. Sebuah awal yang membawaku dalam kisah ini, bersamamu, do kyungsoo. My only one.
Kai pov. End
Flasback off.
.
.
.
Kyungsoo sedang menonton televisi, saat kai meghampirinya dengan pakaian yang sudah rapi. Kai memposisikan dirinya duduk disamping kyungsoo, menghadapkan pemuda mungil itu kearahnya.
"soo, dengarkan aku!, jangan pergi kemanapun tanpa aku, jangan keluar atau membukakan pintu! Mengerti? Kamu harus tetap didalam, oke! "
"wae? "
Kai menghela nafas.
"ini daerah baru, ini hongkong, bukan korea, aku tidak ingin kamu kenapa-napa!"
Kyungsoo mengangguk.
"dan juga, jangan minum obat dari rumah sakit itu lagi! "
"kenapa? Bukankah dokter bilang itu bisa membantuku mendapatkan ingatanku"
'karena aku tidak mau ingatanmu kembali soo, '
"itu tidak menjamin apapun soo, aku hanya tidak ingin kamu menelan terlalu banyak bahan kimia soo, "
Kyungsoo diam sejenak, tapi ahirnya mengangguk.
"aku tidak akan lama!"
"hm, hati-hati! "
.
.
.
.
11.46 pm
Kyungsoo terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba merasa haus dan memaksanya untuk untuk pergi kedapur mengambil minum. Apartemen terasa sepi, lelaki itu penasaran apakah kekasihnya sudah kembali atau belum. Kyungsoo berjalan ke kamar kai mencoba mengecek keberadaan pria itu.
Klek!
Gelap. Sepertinya kekasihnya belum pulang. Kyungsoo menyalakan saklar lampu, membuat kamar itu terang. Kyungsoo mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru, mengobservasi kamar itu. Sebuah tas ransel tergeletak diatas ranjang, membuat kyungsoo tanpa sadar menatapnya. Bukan tanpa alasan, tapi kyungsoo merasa mengenal tas itu.
Langkahnya mendekat, mengambil tas itu. Tangannya mulai membuka ritsnya, memeriksa benda didalamnya. Sebuah buku. Tampak seperti buku harian. Ada nama didepannya.
"do-kyungsoo, !" ia mengeja
"apa ini milikku?"
KLIK!
kyungsoo mengesampingkan rasa penasarannya saat mendengar pintu terbuka. Ia segera berlari menuju ruang tamu, menemukan kekasihnya disana. Tetapi, keadaannya tidak baik. Pria itu penuh memar diwajahnya. Matanya sayu hampir terpejam. Tangan kirinya juga berdarah.
"CHAN! " kyungsoo berteriak panik, menangkap pria dihadapannya yang jatuh tak berdaya
"kyungsoo, , , " kai berucap lemah sebelum ahirnya tak sadarkan diri.
.
.
.
TBC
HAI , , HMM, , , disini ntar ceritanya banyak Flashback nya ya, , , jadi jangan bingung, real conflictnya emang masih belum kelihatan–
Untuk next chap, aku bakalan lebih fokus sama si kai yang mulai protektif, , ,
So ARE YOU LIKE THIS STORY?
GIVE ME SMILE IF YOU LIKE, PLEASE, , ,
Thanks– love you, , ,
Don't forget review, , ,
-cloudsclear
