Luhan menjadi assistant Steffy untuk mengawasi dan merubah pribadi dari sosok menyebalkan, berandal, dan 'player' bernama Sehun. Apakah Luhan berhasil mengubah sifat lelaki itu?

-LUssistant-

HunHan story. Steffy Oh (OC). Find other cast by yourself.

GS

M rated

Short Fic (10 Chapter)

...

DLDR! Be careful! Typo(s) are detected.

...

"Sudah kubilang aku tidak merayu. Kau ingin tahu merayu yang sesungguhnya?"

Luhan berniat menggeleng, tidak berminat. Sudah cukup berdebat tidak penting dengan Oh Sehun, sekarang waktunya ia meminta Sehun untuk mandi dan segera berangkat kuliah sebelum terlambat.

Tapi...

"Seperti ini!"

"YAK!"

Sehun lebih dulu menarik salah satu lengan Luhan hingga gadis itu berakhir di bawah kungkungan Oh Sehun. Mengutuk dirinya kenapa harus lengah disaat yang tidak tepat.

...

[Hari pertama]

"Oh Sehun," Luhan mengatupkan giginya. Kepalang kesal dengan tingkah laku Sehun yang berani merayunya hingga ia berakhir di bawah kungkungan lelaki itu.

"Ya. Kenapa?", tanyanya sambil terkekeh tidak jelas. Akhirnya Luhan membuktikan sendiri betapa menyebalkannya Oh Sehun dari tingkahnya yang tidak tahu sopan santun itu. Heol, bahkan mereka baru bertemu kemarin.

"Lepaskan aku atau kau akan mendapat 'hadiah' dariku!", tandas Luhan sambil menekankan kata 'hadiah' yang seharusnya bukan hadiah yang membuat Sehun sumingrah seperti sekarang.

"Oh ya? Apa kau akan memberiku ciuman selamat pagi?"

"Aku serius, Oh Sehun."

"Baik. Kalau begitu aku akan memejamkan mata." Lelaki di atas Luhan benar-benar memejamkan mata dan tidak ada yang bisa Luhan lakukan selain memutar bola matanya kesal. Sehun ini, tidak paham bahasa manusia ya? Luhan kan tidak memintanya menutup mata ataupun memberinya morning kiss seperti yang ada pada otak mesum lelaki itu.

"Cepat bangun atau kau akan menyesal, Oh Sehun!" Luhan menaikkan nada suaranya, memukul-mukul dada Sehun dengan kepalan tangan mungilnya. Tentu Luhan tidak bisa membuat Sehun pergi dari atas tubuhnya karena ia belum mengeluarkan tenaga miliknya. Luhan memang sengaja, berfikir untuk mencoba mengendalikan Oh Sehun tanpa melakukan 'kekerasan'.

"Ck! Sudah tanggung, Nona Xi. Beri aku satu lumatan dan aku akan pergi kuliah setelah itu."

-mungkin Luhan memang harus melakukan tindakan kekerasan.

"Aku sudah memperingatkanmu, Tuan Muda Oh."

Sehun membuka matanya dan menyeringai. Ia ingin tahu apa yang akan gadis itu lakukan selain memukul dadanya tanpa tenaga. Tidak tahu jika Luhan telah bersiap, tungkai kakinya sudah gatal untuk bergerak melakukan sesuatu pada tubuh lelaki di atasnya. Mungkin satu tendangan tidak apa-apa? Toh Luhan memiliki hak penuh dari Steffy dan Tuan Oh untuk itu.

Satu...

Dua...

Dan -tiga!

"Rasakan Oh Sehun!"

Duagh!

"ARGHHHH! APA YANG KAU LAKUKAN PADA KEBANGGAANKU, KEPARAT!"

Mati-matian Luhan menahan tawa melihat ekspresi kesakitan di wajah tampan itu. Ia berhasil mendorong Sehun menjauh dari tubuhnya dan langsung berdiri. Memasang raut kemenangan saat Sehun masih mengumpat dengan wajah memerah menahan sakit.

"Cepat mandi! Kau mau terlambat?", ujar Luhan ringan, lalu melangkah keluar tanpa harus peduli kondisi 'kebanggaan' Sehun yang mendapat 'salam perkenalan' darinya.

"Dasar gadis jadi-jadian!"

Luhan masih mampu mendengar umpatan dari dalam kamar yang pintunya sudah ia tutup itu. Namun ia tidak sedikitpun merasa tersinggung, ia malah terkekeh dalam perjalanannya menuruni tangga.

Baru hari pertama saja Luhan sudah mendapat satu julukan, entahlah untuk hari-hari kedepan selama sebulan ini. Luhan hanya perlu mempersiapkan telinganya dengan berbagai cacian atau bahkan mempersiapkan seluruh bagian tubuhnya untuk sesuatu yang tak terduga.

...

Lima belas menit dibutuhkan Sehun untuk mandi dan mempersiapkan diri. Ia turun dari lantai atas dengan wajah tertekuk dan mengeluarkan aura kegelapan, terutama pada sosok gadis yang saat ini menikmati roti panggang selai cokelatnya di meja makan.

"Oh, kau sudah selesai?" Luhan menemukan Sehun sudah berdiri disampingnya lalu melirik jam tangannya. "Masih ada waktu sebelum jam kuliahmu dimulai. Kau bisa sarapan dulu."

Sehun mendecih malas. Seenaknya saja gadis ini menyuruhnya sarapan. Memangnya gadis itu tidak sadar kalau tamu disini adalah dirinya?

"Jangan terus menekuk wajahmu! Ketampananmu bisa berkurang nanti.", ucap Luhan asal. Ia kembali melapisi roti panggangnya yang tinggal separuh dengan selai cokelat. Tidak ingin lagi merasa sungkan karena Steffy sudah memperingatkannya untuk menganggap Luhan tinggal di rumah keluarganya sendiri. Dan sejatinya Luhan sendiri yang tidak ingin terlalu sungkan karena akan menghambat tugasnya nanti.

Sehun menyeringai. Cepat-cepat ia duduk disebelah Luhan, melupakan fakta jika dirinya masih tidak terima dengan kelakuan Luhan yang menendang aset pribadinya tadi. Entah kenapa ia suka mendengar ucapan asal yang menyiratkan pujian itu.

"Kau sudah mengakui bahwa aku tampan?", tanya Sehun sambil mendekatkan wajahnya pada wajah gadis disampingnya. Jiwa playernya kembali beraksi, tidak menyia-nyiakan kesempatan berdekatan dengan sosok gadis berparas cantik yang sayangnya berkepribadian lelaki itu.

Luhan memutar bola matanya malas. Sepertinya ia harus terbiasa dengan kelakuan Sehun yang suka merayu, alih-alih dengan umpatan dan ketidaksukaan dari lelaki -yang memang- tampan itu. "Aniya. Biasanya bocah mau makan kalau dibujuk seperti itu."

"Maksudmu... aku bocah?"

Luhan mengangguk imut menyebabkan rambut kunciran kudanya bergerak sesuai gerakan kepalanya, menghiraukan sepasang mata tajam yang menatapnya dan aura kegelapan kembali menyergap sekitarnya.

Bocah katanya? Tentu saja Sehun tidak terima! Seumur hidup tidak ada yang mengatakan Sehun bocah kecuali saat Sehun masih kecil dulu. Itupun karena dulu dia benar-benar seorang bocah.

Lagipula, mana ada bocah yang berhasil meniduri berbagai jenis wanita?

"What the- amph!"

"Tidak baik mengumpat pagi-pagi." Luhan tersenyum puas dengan selembar roti panggang yang ia sumpalkan di mulut Sehun. Setidaknya lelaki itu tidak bisa mengumpat dengan roti panggang memenuhi mulutnya.

"Aku akan keluar dulu. Nikmati sarapanmu!", ucap Luhan memasang senyum terbaiknya sebelum pergi bersama tas mungil bergambar bambi kesayangannya. Meninggalkan Sehun dengan kunyahan roti panggang dan sejuta umpatan di kepala.

Luhan keluar dari rumah dan langsung disambut oleh seorang pria empat puluh tahunan yang Luhan ketahui sebagai tukang kebun keluarga Oh.

"Selamat pagi, Nona."

"Selamat pagi juga, Paman Song.", balas Luhan ramah. Sifat ramahnya membuat pekerja di rumah besar itu tidak lagi canggung kepada gadis itu, termasuk Paman Song. Kemarin saja Luhan diam-diam mengajak berkenalan dengan para pelayan dan meminta mereka untuk saling bekerja sama selama ia ada disini.

Paman Song memberikan sebuah kunci kepada Luhan yang diterima dengan kernyitan di dahi Luhan. "Nona Muda meminta saya memberikan ini kepada Anda, Nona. Saya sudah memanasi mesin mobilnya juga."

"P-paman, apa aku harus membawa mobil?", tanya Luhan, memandang kunci mobil dan paman Song bergantian dengan bingung. "Aku bisa naik bis, kok."

"Apa Nona Luhan tidak bisa menggunakan mobil atau tidak memiliki lisensi?"

Luhan menggeleng beberapa kali. Ia memang tidak memiliki masalah mengendarai mobil dan ia juga sudah memiliki lisensi. Tapi Luhan terkejut dengan fasilitas yang diberikan Steffy kepadanya yang ternyata termasuk mobil juga. Ini terlalu berlebihan menurutnya.

"Aniya. Aku sudah memiliki lisensi tapi... bukankah ini berlebihan? A-aku hanya tamu disini."

"Maaf Nona. Saya tidak bisa melanggar perintah Nona Muda."

Luhan menghela nafas panjang sebelum ekor matanya menangkap tubuh Sehun yang baru saja keluar dari rumah dengan mengigit roti panggang. Sepertinya lelaki itu sudah selesai dengan sarapannya, atau mungkin tengah bersarapan sekarang.

"Ada apa?"

Pertanyaan yang bukan ditujukan kepada Luhan melainkan paman Song. Paman Song menghampiri Sehun dan melakukan hal yang sama pada Luhan tadi, memberikan kunci mobil.

"Tidak ada, Tuan Muda.", ucap Paman Song seraya membungkuk sopan pada putra majikannya itu.

Tanpa berkata apapun lagi, Sehun lekas masuk ke dalam mobil sport miliknya, menghiraukan sosok gadis yang masih berdiri di halaman rumah dan mengawasinya. Si gadis -Luhan- berdecak. Ia tidak memiliki pilihan lain selain membawa mobil dan mengikuti Sehun dari belakang.

"Kami berangkat dulu, paman.", ucap Luhan sebelum mengikuti Sehun yang mengendarai mobilnya dalam kecepatan tinggi.

...

Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir universitas, nyatanya Sehun tidak langsung menuju kelasnya. Terbukti dari mata rusa Luhan yang melihat lelaki itu justru menghampiri dua orang lelaki dan satu gadis yang duduk di bawah pohon rindang. Luhan mengekori Sehun dalam jarak dua meter, mengamati lelaki berwajah dingin itu di bangku kosong lainnya.

"Whoaa! Hunnie kita sudah datang! Tumben sekali bisa bangun pagi!", seru salah seorang lelaki berkulit tan menyambut kedatangan Sehun dan wajah kusutnya.

"Tentu saja! Kau lupa tadi malam Sehun tidak pergi ke club? Pasti dia tidur lebih awal dari biasanya. Hahaha!", tambah lelaki lainnya membuat lelaki pertama tertawa dan gadis yang dari awal diam ikut tersenyum.

"Tutup mulutmu, Berengsek.", sahut Sehun ketus. Ia menyambar cola milik Jongin -si lelaki pertama- tanpa repot-repot meminta ijin pemiliknya.

"Wow!" Jongin mengangkat sebelah alisnya ke arah Chanyeol, si lelaki kedua yang bertelinga peri. Chanyeol hanya mengendikkan bahu tidak mengerti. Tidak mengerti kenapa teman satu gang-nya itu mendadak ketus. Tidak seperti biasanya. Kalaupun Sehun memang bersifat dingin, namun itu biasanya tidak terlihat ketika ia bersama teman-temannya.

"Ada apa? Kau gagal meniduri Solar Noona?", tanya Jongin yang memang otaknya dipenuhi oleh sesuatu ber-rated sembilan belas plus. Jangan tanya Sehun mendapat keahlian mengangkangi wanita darimana kecuali dari ajaran sesat manusia satu itu. Sedangkan Chanyeol tidak separah Jongin, ia hanya mau berkelakuan bejat pada kekasihnya saja, Byun Baekhyun si mahasiswi cantik Jurusan Seni.

"Atau gagal mendapat nomor ponsel si seksi Bora?" Chanyeol menambahi.

"Aku sedang tidak ingin membicarakan hal itu.", tukas Sehun jengkel.

"Kau sedang sakit, Sehun-ah?", tanya satu-satunya gadis dengan nada khawatir. Perhatian yang diberikan gadis bernama Seolhyun itu tidak mengherankan bagi ketiganya, sebab gadis itu memang sangat perhatian kepada ketiga teman lelakinya.

"Aniya.", jawab Sehun pendek.

"Lalu? Ayahmu melakukan sesuatu lagi?" Kali ini Chanyeol yang bertanya lagi.

"Aniya.", jawab Sehun dengan nada yang sama. Yeah, karena yang melakukan sesuatu bukanlah sang Ayah melainkan sang kakak yang bagi Sehun jauh lebih menyebalkan daripada Ayahnya yang terkesan cuek dan hanya berbicara saat Sehun berulah diatas batas kewajarannya.

"Lalu apa?" Ketiga manusia lainnya saling berpandangan dan sama-sama mengendikkan bahu.

"Kau akan tahu sebentar lagi."

Sehun menyurukkan kepalanya di atas meja kayu, dan tingkahnya membuat seseorang di tempat lain tersenyum puas. Meski bukan hanya Sehun yang turut dalam pengawasan Luhan, tetapi juga tiga manusia lainnya yang Luhan pastikan sebagai teman dekat Oh Sehun. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dan suasana cukup sepi membuat Luhan mampu mendengar obrolan mereka tanpa terkecuali. Kepalanya menggeleng berulang kali, tidak mampu berkata saat kata 'meniduri' masuk ke telinganya. Luhan maklum jika para lelaki bertemu akan membicarakan hal serupa, tapi disana ada perempuan juga. Apa perempuan itu tidak risih?

Sibuk dengan pikirannya, Luhan tersentak saat mereka kembali berbicara.

"Bagaimana kalau hari ini membolos saja? Aku punya beberapa video baru yang menyenangkan. Seolhyun-ah, bisakah kami menitip absen padamu?", usul Jongin dan langsung disetujui oleh Chanyeol. Seolhyun setuju-setuju saja meskipun sedikit mendengus. Mau bagaimana lagi jika teman-temannya adalah para lelaki berandal tak memiliki tanggung jawab.

"Maaf, sebelumnya. Tapi Oh Sehun harus kuliah sebentar lagi." -itu Luhan. Mendekat penuh percaya diri dan senyuman manis bak gula kapas.

Hening. Tiga pasang mata membeku di tempat dan satu pasang mata lagi menatap tajam obyek yang sama seperti teman-temannya. Sehun tidak bisa menjawab apapun saat ketiga temannya menatap dirinya dengan tanda tanya besar di atas kepala masing-masing.

"Siapa dia?", tanya Jongin penasaran. Matanya menatap Luhan dari atas ke bawah tanpa berkedip. Kembali lagi ke atas lalu menyadari wajah cantik gadis itu, membuatnya menyeringai iblis dan melupakan kenyataan jika dirinya tidak tahu siapa gadis asing itu. Well, radar playboy-nya memang langsung berfungsi jika berhadapan dengan gadis cantik.

"Namaku Luhan. Mulai hari ini aku diminta untuk menjadi asisten Steffy eonni untuk mengawasi seluruh pergerakan Sehun-ssi. Termasuk melarang Sehun-ssi mengingkari kewajibannya memghadiri kuliah.", jelas Luhan, masih dengan senyum manis terpatri di bibirnya.

"Ck! Tidak penting sekali. Ayo pergi, tidak usah mendengarkan gadis ini.", ucap Chanyeol menyeret lengan kedua temannya. Tidak penting sekali Steffy Noona memperkerjakan gadis mungil itu. Toh gadis itu tidak akan berani melawan tiga lelaki sekaligus. Begitu yang dipikirkan Chanyeol dan mungkin juga dipikiran ketiga orang lainnya.

"Eits!" Luhan menarik kerah Chanyeol sebelum mereka benar-benar pergi. "Kau boleh pergi tapi Sehun-ssi tidak."

"Memangnya kau siapa sampai melarang Sehun, hah?" Chanyeol mulai tersulut emosi sementara Jongin bertindak lebih cepat dengan menarik Chanyeol menjauh. Bagaimanapun Luhan adalah seorng gadis yang tidak pantas mendapat perlakuan kasar. Apalagi si gadis cantik, tambah Jongin dalam hati.

"Aku sudah mengatakan siapa diriku dari awal. Aku ditugaskan oleh Steffy eonni dan Paman Oh mengawasi Sehun-ssi agar tidak membolos kuliah. Kalau kau masih bersikeras mengajak Sehun-ssi membolos, aku tidak mau bertanggung jawab.", balas Luhan seringan kapas seraya menatap satu persatu obyek yang menatap tajam kepadanya.

"Bertanggung jawab kalau jabatan di perusahaan semakin jauh dari jangkauan Sehun-ssi.", bisiknya setelah mendekat satu langkah pada Sehun dan membisikkan sesuatu yang mampu membentuk kepalan erat di tangan Sehun dikedua sisi tubuhnya. Membuktikan jika lelaki itu sangat sensitif dengan kata 'jabatan perusahaan' yang mengingatkannya pada ancaman sang ayah kemarin.

"Kenapa Sehun-ssi? Sudah jam sembilan, kau harus cepat masuk kelasmu." Pandangan Luhan tak lepas dari Sehun dan si lelaki mengacak rambutnya kesal. Merasa sangat kesal dengan kehadiran Luhan yang mengganggu kebebasannya. Berbeda dengan Luhan yang menahan senyum, sangat menikmati perannya hari ini tapi entah untuk hari esok karena pasti Oh Sehun akan mempersiapkan seribu rencana untuk menendang Luhan menjauh dari sekitarnya.

Sehun memejamkan mata erat sebentar dan menghela nafas berat. Ia tidak mungkin membolos kali ini seperti sebelumnya ketika ia bosan berkuliah. "Aku tahu."

"Yak! Sehun-ah!", keluh Jongin dan Chanyeol bersamaan. Keduanya tidak menyangka jika Sehun akan semudah itu patuh pada si gadis meskipun hanya dengan sebuah ancaman tidak berarti. Tanpa mereka tahu jika ancaman Luhan sangat berarti bagi Sehun yang terlanjur memiliki obsesi menjadi penerus Ayahnya dalam memimpin perusahaan.

"Aku dan Seolhyun akan ke kelas. Kalian membolos saja tanpaku. Kkaja." Sehun berjalan lebih dulu membuat Luhan bersorak dalam hati.

"Belajar yang rajin, Sehun-ssi." Luhan kembali berbisik saat Sehun melintas membuat lelaki itu membuang muka. Cih, tidak tahu saja kalau Sehun berencana tidur di kelas daripada mendengar dosen berkepala botak itu berbicara. "Dan jangan coba-coba tertidur di dalam kelas!"

Sehun kembali berjalan dengan langkah lebar-lebar. Mengumpat dalam hati mengapa Luhan tahu rencana dalam kepalanya itu.

"Ini semua gara-gara kau!", desis Chanyeol membuat Jongin kembali menarik tubuhnya menjauh.

"Sudahlah, Yeol. Seharusnya kita bangga melihat Sehun mau belajar lagi. Ayo, kalian juga harus masuk."

Seolhyun menarik kedua teman lelakinya tanpa repot-repot berpamitan pada Luhan. Gadis cantik bertubuh proporsional itu memang tidak terlalu suka dengan cara Luhan mengancam Sehun meski semuanya demi kebaikan Sehun nantinya.

Luhan menghembuskan nafas saat mereka sudah hilang dari pandangan. Ia lalu berjalan kembali memasuki mobil dan menyambar ponselnya yang sedari tadi terlempar di dashboard. Ia mendadak teringat Steffy dan ingin tahu tempat butik pribadi milik wanita muda itu. Karena itu Luhan mengirimkan pesan teks kepada Steffy sebelum kembali melajukan mobilnya keluar dari halaman universitas Sehun yang tergolong luas.

'Eonni, aku sudah membawa Sehun-ssi sampai di kelasnya. Dan sekarang aku ingin bertemu eonni. Eonni tidak sibuk, kan?'

...

"Luhan-ah!"

Senyum Luhan terkembang saat mata rusanya tertuju pada Steffy yang baru kelyuar dari ruangannya. Setelah mendapat pesan balasan berisi alamat butik Steffy, Luhan langsung menuju alamat itu dan kini ia sudah terduduk di kursi di dekat busana rancangan Steffy ditampilkan.

"Hai, Eonni."

"Kau tidak tersesat, kan?"

Luhan tertawa mendengar candaan Steffy dan ia menggeleng. "Aniya. Aku menggunakan GPS dengan baik."

"Syukurlah. Oh ya, bagaimana dengan bocah nakal itu?"

Sedetik saja Luhan sudah paham siapa yang dimaksud Steffy. Siapa lagi kalau bukan Oh Sehun, lelaki yang memang nakal dalam artian tidak mengenal arti tanggung jawab dan hanya mengerti apa itu bersenang-senang serta menghabiskan uang ayahnya.

"Sehun-ssi sudah masuk kelasnya. Tapi aku tidak tahu apa dia akan mendengarkan penjelasan dosennya atau tidak.", sahut Luhan sembari terkekeh mengingat kusamnya raut wajah Sehun tadi.

"Bagus kalau begitu. Setidaknya bocah bodoh itu mau masuk kelas. Kau tahu Luhan-ah, Ayahku sampai pusing mengetahui betapa seringnya bocah itu membolos kuliah tanpa sebab. Dosen Sehun bahkan menemui Ayahku beberapa kali untuk memberitahu absensi Sehun yang nyaris kosong. Teguran-pun percuma, karena hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanannya. Ck!", sungut Steffy kesal.

Luhan kembali tertawa entah untuk keberapa kalinya terhitung pagi ini. Pribadi yang murah senyum dan tawa di diri Luhan membuat Steffy semakin yakin jika Luhan telah dipersiapkan oleh Tuhan untuk menjadi teman curhatnya.

"Bersabarlah, Eonni." Luhan mengelus singkat pundak Steffy, mencegah Steffy untuk kembali emosi kesekian kalinya karena sang adik.

"Serius, Lu. Aku sampai bingung dulu Ibuku mengidam apa hingga melahirkan putra berandalan sepertinya."

"Tapi Eonni, kurasa itu bukan salah Sehun-ssi sepenuhnya, tapi juga karena pergaulan disekitarnya.", ucap Luhan sembari tersenyum menerima iced coffee yang diberikan oleh bawahan Steffy baru saja. "Terima kasih."

"Aku tahu. Karena itu aku tidak suka Sehun berteman dengan Kai dan Chanyeol." Steffy menyesap iced coffee-nya sedikit dan meletakkannya diatas meja.

"Kai? Chanyeol?", tanya Luhan tidak mengerti kenapa nama-nama itu terasa asing ditelinganya.

"Kai, atau Jongin si playboy hitam dan Chanyeol si tiang listrik." Steffy berdehem saat Luhan nampak tertarik dengan ceritanya. "Mereka adalah teman seperjuangan Sehun sejak SMA termasuk dalam urusan membolos, pergi ke club, dan bermain wanita. Mereka bertiga seperti kertas yang direkat lem hingga sulit terpisah. Satu terkena masalah, maka yang lain juga. Satu gila, maka yang lain juga sama gilanya."

Oke, kalimat terakhir adalah kalimat asal Steffy. Intinya ia ingin menggambarkan betapa erat pertemanan Sehun dengan dua temannya itu dalam hal apapun, baik ataupun buruk. Dan akhirnya Luhan mengangguk tanda mengerti.

Juga mengerti bagaimana sosok yang dimaksud Steffy karena Luhan masih mengingatnya. Ia ingat tadi lelaki yang membentak dirinya memiliki tubuh menjulang, berarti si Chanyeol. Lalu lelaki lainnya adalah Jongin. Luhan kembali mengangguk dan mengingat nama teman Oh Sehun ketika akan bertemu mereka kembali. Setidaknya Luhan ingin meminta maaf karena mereka tidak jadi membolos gara-gara Luhan.

"Apalagi yang Eonni tahu? Mungkin nanti akan berguna untukku."

Steffy memperbaiki letak duduknya. Ia berfikir sebentar sebelum kembali mengucapkan sesuatu yang didengar dengan seksama oleh Luhan.

"Baiklah, aku akan memberitahumu. Sebenarnya aku pernah menyewa seseorang untuk mengawasi Sehun beberapa bulan yang lalu, sama sepertimu, tapi hanya mengawasi dari jauh. Tapi kemudian orang itu ketahuan oleh Sehun dan membuatnya mengundurkan diri kepadaku dengan sekujur tubuh penuh lebam. Jadi sedikit banyak aku tahu dimana Sehun menghabiskan waktunya diluar rumah termasuk apa yang biasanya ia lakukan."

...

Luhan menghentikan laju mobilnya tepat dimana tadi pagi ia memarkirkan mobil. Ia keluar dari mobil, mengamati sekitarnya yang mulai sepi oleh mahasiswa termasuk tempat di bawah pohon yang tadi pagi Luhan duduki. Pasti Sehun sudah pulang karena jam kuliahnya sudah berakhir dua puluh menit yang lalu yaitu pukul dua belas tepat. Namun Luhan tidak yakin jika Sehun akan pulang ke rumah.

Sehun bukan anak rumahan. Apalagi yang diharapkan dari seorang berandal macam Oh Sehun selain menghabiskan waktu di luar? Berada di rumah hanya akan membuat tubuhnya gatal-gatal.

Itulah yang mampu Luhan tangkap dari cerita Steffy tadi.

Luhan memghembuskan nafas dan berniat kembali menuju mobilnya sebelum seseorang menginterupsinya.

"Luhan-ssi."

Luhan menoleh ke sumber suara dan menemukan sosok gadis yang dilihatnya beberapa jam yang lalu. Gadis yang ikut bercengkrama dengan Sehun dan teman-temannya.

"Ya? Kau, temannya Sehun-ssi?"

"Ya. Aku Seolhyun." Luhan membalas uluran tangan Seolhyun sebagai tanda perkenalan sembari tersenyum ramah.

"Aku Luhan. Xi Luhan."

"Kau bukan orang Korea ya?", tanya Seolhyun tanpa basa basi.

"Hm. Aku dari China, Beijing lebih tepatnya. Nama margaku memang terdengar asing, sih." Seolhyun mengangguk paham. "Oh ya, apa Sehun-ssi sudah pulang?"

"Kurasa iya. Aku tadi harus ke ruang perpustakaan dulu jadi aku meninggalkan mereka. Apa kau sedang mencarinya?", jawab Seolhyun.

Tuhkan! Dugaannya tidak salah! Sehun pasti tidak betah berlama-lama di kampusnya. "Ya. Seharusnya Sehun-ssi mencari bahan tugas akhirnya. Oh ya, apa kau juga sedang mengerjakan tugas akhirmu?"

"Ya. Aku seangkatan dengan Sehun dan kini adalah semester terakhir kami. Jadi aku harus mengerjakan tugas terakhirku secepat mungkin."

"Lalu, bagaimana jika Sehun-ssi tidak dapat menyelesaikan tugas akhirnya di semester ini?"

"Entahlah, aku juga tidak tahu pasti. Yang jelas kemungkinan terburuknya adalah di Drop Out dari Universitas."

"D-drop out?!" Mata rusa Luhan membola. Ia memang tidak tahu menahu soal perkuliahan, tapi setidaknya ia sering mendengar istilah Drop out yang berarti seorang mahasiswa keluar dari Universitas tanpa mendapat gelar di belakang namanya. Lalu bagaimana jadinya jika Sehun tidak bisa menyelesaikan tugas akhirnya hingga berakhir ia di DO?

"Aish! Bagaimana ini?" Tanpa sadar Luhan kebingungan sendiri.

"Tapi itu hanya kemungkinan terburuk. Lagipula aku juga tidak mau teman dekatku di DO dari sini."

Ya, Luhan tentu tahu. Ditambah lagi Tuan Oh tidak akan membiarkan putranya mengalami hal demikian. Bagaimana masa depan perusahaan nanti, jika pewarisnya saja tidak mampu menyelesaikan kuliahnya dengan baik?

Tapi tetap saja, Sehun tidak boleh bermalas-malasan hanya karena hal itu.

"Aku harus pergi." Seolhyun kembali berbicara membuat Luhan tersentak.

"Ah, oke. Terima kasuh atas infonya, Seolhyun-ssi", balas Luhan tersenyum.

"Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya satu hal padamu." Luhan memiringkan kepalanya menunggu Seolhyun bertanya. "Aku sepertinya pernah melihatmu di suatu tempat. Apa sebelum ini kau sudah ada di Korea?"

Luhan berfikir sejenak sebelum menjawab, "Kurasa kau salah orang. Aku baru datang kemarin, dan aku tidak pergi kemanapun sebelum tadi pagi."

"Benarkah? Atau mungkin, aku melihatmu... beberapa tahun yang lalu?"

Dan Luhan sukses terdiam di tempatnya.

...

"Benarkah? Atau mungkin, aku melihatmu... beberapa tahun yang lalu?"

"Kau tahu, aku dibekali ingatan yang sangat kuat. Jadi aku bisa mengingat sebuah insiden beberapa tahun lalu dimana kau ikut terlibat di dalamnya."

"Kau pernah tinggal di Korea sebelumnya. Aku benar, kan?"

Luhan menggelengkan kepalanya kuat-kuat saat ingatan itu menghampirinya. Obrolan singkat dengan Seolhyun, sosok gadis yang baru di temuinya tadi pagi, yang entah kenapa bisa menjurus ke obrolan pribadi dan melibatkan masa lalu.

Ya, Luhan memang pernah tinggal di Korea beberapa tahun, dan tentu ia ingat bahwa dulu ia pernah terlibat suatu insiden dengan seseorang hingga keluarganya sepakat membawa Luhan pergi ke kampung halaman Mama-nya setelah itu. Tapi yang menjadi pertanyaan, bagaimana Seolhyun bisa mengetahui hal itu? Apa yang membuat Seolhyun bisa tahu dan teringat dengan Luhan yang sudah berubah dewasa?

Luhan kembali menggelengkan kepalanya. Tidak! Ia datang kembali ke Korea bukan untuk mengingat hal itu. Sudah cukup ia mengubur semuanya bersama dengan sumur penuh air matanya. Ia sudah berjanji terlebih pada dirinya sendiri untuk tidak kembali terseret ke masa lalu.

Ya, sekarang tugasnya disini adalah untuk menolong Steffy, bukan untuk mengenang masa lalunya kembali. Ia menghela nafas lalu membuat sambungan dengan seorang lelaki yang dicarinya sedari tadi. Beruntung Sehun mengangkatnya dalam beberapa deringan.

"Sehun-ssi kau dimana?"

'Aku sudah pulang.'

"Ke rumah?"

'Hmm.'

"Awas saja kalau kau bohong aku akan-"

'Akan apa? Akan kau laporkan pada Noona? Silah-'

"AKU AKAN MENENDANG BOKONGMU, SERIUS!"

'Kau berani menendangku? Memangnya kau siapa, hah?'

"Aku Luhan dan buktinya aku berani menendang 'itu'-mu tadi pagi."

Klik!

"Ya! Oh Sehun-ssi!"

Percuma. Karena Sehun lebih dulu menutup sambungan tanpa repot-repot mengucap salam. Tinggalah Luhan dengan bibir menggerutu kesal dengan sikap Sehun yang seenaknya.

"Awas saja, Oh Sehun-ssi. Aku benar-benar akan menendang bokongmu!", gumam Luhan menyeringai sebelum memencet bel dari sebuah pintu.

Ting tong!

...

Berbagai jenis sampah bertebaran di atas sebuah meja kaca. Dimulai dari bungkus rokok, bungkus keripik kentang beserta remahannya, bekas kaleng bir yang tak terhitung jumlahnya, dan entah apa lagi. Belum lagi dengan satu tubuh manusia yang terdampar di atas sofa lengkap dengan aroma rokok dan bir di setiap nafasnya, dan dua manusia lain yang saling bertukar pandang mengamati lelaki yang terbaring malas sambil menempelkan ponsel ditelinganya. Entah bertelepon dengan siapa.

"Apa yang harus kita lakukan?"

"Biarkan saja dia seperti itu. Sehun sangat stress dengan tingkah kakaknya.", ucap Jongin, mengumpati kakak sahabatnya -Steffy- karena telah membuat mood Sehun hancur seharian. Kalau saja Steffy tidak berulah dengan menyewa seseorang untuk membuntuti Sehun -dan parahnya melarang Sehun berbuat semaunya-, mungkin Sehun masih bisa tertawa gila seperti biasanya dan membolos demi satu percintaan dengan seorang wanita yang sudah diincarnya.

Tapi, sekarang, Sehun lebih mirip seperti orang gila sungguhan.

"SHIT! DASAR GADIS GILA!"

Sehun melempar smartphone keluaran terbarunya ke atas lantai, menimbulkan suara cukup keras dan berhasil meretakkan ujung ponselnya. Kelakuannya membuat dua sahabatnya terlonjak kaget dan bergidik ngeri.

Sehun yang bertemperamen buruk memang sudah dihafalkan oleh otak mereka. Tapi tetap saja, dalam mood seperti itu Sehun tidak akan mudah dihadapi.

"Siapa yang berani-beraninya membuat Sehun seperti itu?" Bersembunyi di balik dinding, Jongin berbisik di telinga lebar Chanyeol. Sedangkan Chanyeol hanya mengangkat bahu. Sudah lama ia tidak melihat Sehun 'gila' seperti itu ditambah dengan pengaruh alkohol.

Ting tong!

Bel pintu utama berbunyi, menimbulkan pertanyaan bagi Chanyeol dan Jongin.

"Kau memesan pizza?"

Jongin menggeleng. "Aku tidak. Apa mungkin Sehun?"

"Entahlah."

"Lebih baik kau buka saja."

Chanyeol mengangguk dan berjalan melewati Sehun yang terengah-engah di tempatnya.

Klik!

Pintu terbuka dan,

"Kau!"

Luhan muncul dengan senyuman manisnya.

"Apa yang kau lakukan disini, hah?!", bentak Chanyeol tanpa perduli jika ia membentak seorang perempuan. Jika Baekhyun -kekasih Chanyeol- tahu, bisa dipastikan telinganya akan semakin lebar untuk sebuah jeweran dari jemari lentik kekasihnya. Sikapnya sungguh tidak mencerminkan lelaki baik-baik.

"Menjemput Oh Sehun-ssi. Dia ada disini, kan?", jawab Luhan santai. Tidak terprovokasi oleh bentakan Chanyeol yang menurutnya tidak lebih menakutkan dari bosnya ketika ia bekerja part-time semasa sekolah dulu.

"Menjemput, katamu? Kau tidak tahu kalau keberadaanmu membuat Sehun-"

"Darimana kau tahu tempat ini, gadis gila?" Ini Sehun, bertanya dengan nada rendah dan nafas bercampur alkohol. Tidak lupa menampilkan aura menyeramkan dari dalam dirinya. Ah, seharusnya Sehun tidak perlu bertanya karena ia tahu jawabannya, siapa lagi kalau bukan kakaknya?

"Ish! Kau habis minum, ya?" Luhan mengibaskan tangan di daerah hidungnya. "Hanya orang bodoh yang minum alkohol di cuaca panas seperti ini."

Sial! Tanpa sadar tangan Sehun mengepal di dua sisi tubuhnya. Mengetahui Sehun akan meledak, Chanyeol dan Jongin sigap memegang bahu Sehun sebelum lelaki itu hilang akal untuk 'menebas' gadis di hadapannya.

"Tenanglah, Hun."

"Masuklah, biar aku yang mengurusi gadis menyebalkan ini." Chanyeol, yang merupakan yang berumur paling tua -sedikit- dari dua temannya, berusaha menengahi.

"Ah, tidak-tidak. Kau tidak perlu mengurusiku karena aku hanya sebentar disini.", sahut Luhan dihadiahi tiga pasang mata tajam ke arahnya.

"Maka dari itu, cepat pergi!" Chanyeol maju selangkah, "Sebelum kami melakukan hal buruk kepadamu."

"Tsk! Aku mengerti. Jadi biarkan aku membawa Sehun-ssi pergi untuk-"

"Membawa?!" Chanyeol menginterupsi, darahnya mulai mendidih nyaris melampaui emosi Sehun sendiri. "Kau fikir Sehun barangmu?!"

"Bukan itu maksudku." Luhan memutar bola matanya, jengah dengan para lelaki yang selalu mendahulukan emosi daripada berbicara baik-baik sehingga Luhan bisa menjelaskan maksud kedatangannya. "Aku ingin menjemput Sehun-ssi, dia harus ke perpustakaan universitas untuk mencari bahan tugas akhirnya. Berterimakasihlah kepada Seolhyun-ssi karena dia telah menjadi malaikat untuk mencari judul tugas akhir untukmu termasuk bahan-bahan yang harus kau cari."

Luhan tersenyum cerah seraya mengangkat tinggi-tinggi file bersampul map biru. Sementara Chanyeol, Sehun, dan Jongin ( yang setia memegang bahu Sehun) hanya memandang file itu tanpa minat sedikitpun.

"Jadi kau datang kesini hanya untuk sesuatu yang tidak penting itu?" Jongin mengernyit. Tersirat rasa 'malas-membahas-urusan-itu' di wajah eksotisnya.

"Tidak penting katamu? Hey! Tanpa 'sesuatu' ini kalian tidak akan bisa lulus. Kalian mau menjadi mahasiswa tertua di kampus, hah?", omel Luhan. Lebih mirip seperti seorang Ahjumma yang memarahi putra-putra bandelnya, padahal umurnya lebih muda beberapa tahun dari ketiga lelaki itu. Ternyata benar, kecerewetan perempuan tidak tergantung dari berapa umurnya.

"Itu bukan urusanmu! Sudahlah, sana pergi! Dasar pengganggu!" Chanyeol memberi isyarat pada kedua sahabatnya untuk kembali masuk dan mengabaikan gadis mungil yang menurut mereka punya keberanian besar itu. Bukan hal yang patut dibanggakan dengan kenyataan bahwa gadis itu sangat pemberani, karena itu lebih merepotkan dibandingkan gadis-gadis lain yang berteriak memuja ketiganya. Setidaknya gadis-gadis lain akan bertekuk lutut dengan sedikit rayuan, tidak seperti Luhan yang tidak mempan dengan bentakan -apalagi rayuan-.

Brak!

"Yak! Aku belum selesai! Sehun-ssi!"

"Enyah kau dari sini!"

"Aku belum menendang bokongmu! OH SEHUN-SSI!" Luhan mencoba mendorong pintu yang akan ditutup oleh Chanyeol. Tubuhnya yang mungil tidak membuat pintu itu tertutup begitu saja. Ia memiliki tenaga yang cukup besar hingga Chanyeol keheranan dengan tenaga gadis itu yang mendorong pintu hingga dirinya sedikit kesusahan. Tapi memang tidak mudah menandingi kekuatan seorang lelaki, hingga-

Klek!

Akhirnya pintu berhasil tertutup, menyisakan panggilan dan gedoran memekakkan telinga dari luar. Siapa lagi pelakunya jika bukan Luhan? Gadis tangguh yang tidak mudah menyerah menggapai keinginannya. Termasuk keinginannya untuk menyeret Oh Sehun ke perpustakaan universitas.

"Gadis itu sangat gila! Benar-benar gila!", komentar Jongin.

"Kurasa kakakmu punya alasan kuat untuk mempekerjakan gadis menyebalkan itu ", ucap Chanyeol, menduduki sofa di dekat Jongin. Ia menyeka keringat di dahinya. Tidak menyangka jika aksi dorong mendorong pintu mampu menghasilkan bulir-bulir keringat terekskresi di dahi -favorit Baekhyun-nya.

"Maksudmu?", tanya Sehun, yang mulai bisa mengendalikan emosinya. Nafasnya kembali normal setelah sebelumnya terengah-engah.

"Aku curiga gadis itu pintar berkelahi." Nada suara Chanyeol berubah misterius, mengundang rasa penasaran pada dua sahabatnya, terlebih Sehun.

"Eyy, tidak mungkin.", elak Jongin. Tidak mungkin gadis imut nan cantik itu pintar berkelahi, batin Jongin berbicara.

"Mungkin saja!" Chanyeol menjentikkan jari, sok beranalisis. Ia menghadap Sehun untuk meyakinkan analisisnya. "Coba kau fikirkan, kenapa kakakmu meminta seorang gadis sepertinya untuk mengekorimu? Kenapa kakakmu tidak menyewa mata-mata pria seperti yang dulu pernah dia lakukan? Ditambah lagi dengan tubuh mungil seperti itu, mana mungkin dia berani melawanmu kalau dirinya tidak memiliki 'bekal'? Kau tahu, kalau aku jadi gadis itu, tanpa punya bakat untuk melawan, aku tidak akan menerima pekerjaan itu meskipun gajinya cukup untuk membeli sebuah mobil."

Sehun terdiam. Mencerna kata per kata yang Chanyeol ucapkan kepadanya. Bagaimana jika Chanyeol benar, jika Luhan memang sudah berlatih bela diri untuk memaksa Sehun mengikuti perintahnya. Tapi, Hey! Jika analisis Chanyeol benar, tidak ada yang perlu ditakutkan, bukan? Sehun tetaplah lelaki, yang dalam segi kekuatan jauh lebih kuat dibandingkan sosok gadis mungil itu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Sehun karena ia akan memikirkan ribuan cara untuk menyingkirkan gadis itu dari hadapannya.

Bagaimanapun caranya.

"Sepintar apapun gadis gila itu berkelahi, aku akan tetap mengenyahkannya!"

...

Bruk!

Luhan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya -sementara-. Ia memutuskan untuk pulang, karena tidak mungkin ia menunggu di luar pintu apartment 'basecamp' para lelaki tadi hingga Sehun keluar dan menyeret lelaki itu. Yang ada kaki Luhan akan berakar disana, karena Sehun tidak akan keluar di tempat ternyamannya.

Alhasil, Luhan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya sebentar. Mencicit maaf dalam hati kepada Steffy karena tidak bisa membujuk Oh Sehun untuk mengerjakan kewajibannya.

Tidak masalah sebenarnya, karena Luhan masih memiliki banyak waktu untuk 'memaksa' Oh Sehun.

Drrt drrt...

Luhan terperanjat begitu ponselnya bergetar. Secepat kilat ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan tersenyum cerah mendapati satu nama yang sudah ia rindukan sejak ia menginjakkan kaki di Korea.

"Mama!"

'Luhan-ah~"

"Lulu sangat merindukanmu~ huft padahal baru satu hari."

'Eyy, Mama lebih merindukan putri Mama yang serampangan ini.' Nyonya Xi terkekeh di seberang telepon -dan seberang pulau juga-. 'Apa yang kau lakukan sekarang?'

Luhan menggulingkan tubuhnya menghadap langit-langit kamarnya. "Hmm, aku baru saja pulang. Ma, kau tahu, ternyata Oh Sehun itu jauh lebih menyebalkan dari yang Steffy eonni katakan dan yang sempat aku pikirkan sebelumnya. Ck! Aku tidak tahu bagaimana bisa ada lelaki berandalan sepertinya!"

'Hey! Jangan menghina adik Steffy Eonni seperti itu!'

"Aku serius, Ma~ dan aku tidak menghina 'adik Steffy Eonni'. Toh, kenyataannya memang seperti itu, kok!"

'Benarkah? Kalau begitu, kau baik-baik saja, kan?'

"Hm. Untunglah aku masih sehat dan bugar untuk menendang pantatnya saat aku bertemu dengannya nanti."

'Syukurlah. Jangan bertindak gegabah, Lu! Kau harus ingat tugasmu hanya untuk memperbaiki sifatnya, bukan menganiayanya.'

Luhan memutar bola matanya malas. Malas dengan nasehat Mamanya yang selalu meminta Luhan untuk tidak menggunakan kekerasan dalam menjalankan tugasnya. Walaupun ia menyadari jika sang Mama hanya tidak ingin Luhan terlibat masalah di negeri orang. "Aku mengerti, Ma."

'Baguslah. Oh ya, Luhan-ah.'

"Kenapa, Ma?" Percaya atau tidak, Luhan merasa suara Mama-nya berubah.

'Jangan lupa menyisakan waktu sebentar untuk mengunjungi Baba-mu. Dia pasti sangat merindukanmu.'

Firasat Luhan benar. Pasti sang Mama akan mengingat mendiang Babanya yang dimakamkan di dekat pusara Kakek Nenek Luhan di Seoul. Kenyataan jika Mama tidak bisa mengunjungi Baba setiap saat membuat hati Luhan berdenyut sakit. Tapi harus bagaimana lagi, jika Baba telah berpesan untuk mengubur jenazahnya di dekat pusara orangtuanya, jauh sebelum beliau terserang penyakit mematikan dan meninggal dunia.

"Aku pasti akan mengunjunginya." Luhan membenci ketika suaranya ikut berubah. Percayalah, sekuat apapun Luhan, ia tidak bisa tegar jika menyangkut orangtuanya.

"Luhan-ah!"

Luhan tersentak. Cepat-cepat mengubah posisi tidurnya menjadi duduk saat mendengar seaeorang memanggil namanya.

"Sepertinya Steffy Eonni sudah pulang."

'Oh benarkah?' Suara Nyonya Xi kembali antusias. Luhan bersyukur, setidaknya ia berhasil mengalihkan pembicaraan.

"Hai, Lu? Kau sudah pulang -oh!"

Steffy berjalan mengendap-endap, mengamati Luhan yang tengah menempelkan ponsel ditelinganya, tanda sedang terhubung dengan seseorang.

"Mama.", ucap Luhan seolah mengetahui raut penasaran Steffy.

"Benarkah? Sampaikan salamku kepadanya!" Luhan mengangguk dan berbicara kembali di telepon. Steffy melihatnya dengan wajah cerah meskipun gurat lelah sangat tampak diwajahnya.

"Ku tutup, Ma. Dah~"

Klik!

"Eonni sudah pulang?", tanya Luhan setelah menyimpan ponselnya di atas meja nakas.

"Ya. Aku sengaja pulang lebih awal untuk menemuimu. Bagaimana? Kau berhasil menyeret anak nakal itu?"

Jawabannya adalah gelengan kepala penuh penyesalan di raut wajah Luhan. Tentu ia merasa bersalah, karena telah gagal di hari pertamanya.

"Maaf, Eonni. Seharusnya aku bisa membujuk Sehun-ssi dengan lebih keras. Tapi aku tidak bisa-"

"Bukan 'tidak', tapi 'belum'. Ini kan masih hari pertama. Masih ada dua puluh sembilan hari untuk mengubah Oh 'nakal' Sehun menjadi Oh 'penurut' Sehun. Ara?" Luhan mengangguk. "Lagipula aku sudah menduga dari awal. Sehun tidak mudah ditaklukkan. Dia akan meremehkanmu."

"Aku akan berusaha lebih keras, Eonni!"

Steffy tertawa melihat semangat Luhan yang menggebu-gebu. Dirinya memang tidak salah memilih seseorang untuk mengawasi Sehun sekaligus teman curhatnya. Dan hari ini adalah kali pertama Steffy sangat bersemangat pulang ke rumah, mengesampingkan rasa lelahnya demi bertemu dengan sahabat barunya.

"Arasseo. Mungkin sedikit terlambat, tapi bisakah kau menemaniku makan siang? Aku buru-buru pulang hingga lupa mengisi perutku."

Steffy terkekeh sementara Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sekarang sudah pukul tiga, sebenarnya terlalu sore untuk dikatakan makan siang. Tapi Luhan tidak berkomentar dan mengangguk mengiyakan.

...

[Hari ke empat]

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat bagi Luhan. Tiga hari, ia sudah menjalankan tugasnya selama tiga hari dan tidak ada sesuatu -sangat- buruk yang terjadi. Luhan masih bisa mengekori Sehun dengan baik, memintanya untuk melakukan kewajiban lelaki itu ataupun memaksanya sampai lelaki itu geram dan terpaksa menuruti perintahnya. Ah, jangan lupakan dengan ancaman Luhan mengenai harta waris perusahaan yang menjadi satu-satunya senjata untuk menaklukkan Sehun.

Semua berjalan dengan baik, jika masalah-masalah kecil yang Luhan hadapi tidak terhitung di dalamnya. Misalnya, ban mobilnya yang tiba-tiba bocor di hari kedua, atau seseorang yang menabraknya dan menumpahkan kopi hitam pekat di kemejanya di hari ketiga. Entahlah, Luhan tidak yakin kalau itu hanya kebetulan, namun juga tidak ingin berburuk sangka pada Sehun dan sahabatnya bahwa ini adalah ulah mereka.

Dan sekarang adalah hari ke empat. Entah apa yang akan terjadi paada hari ini, Luhan tidak terlalu memikirkannya. Ia memarkirkan mobilnya lalu keluar menuju gedung yang sudah ia hafal lokasinya. Senyumnya mengembang saat melihat dari kejauhan, Sehun -dan dua kawan sehidup sematinya- berjalan keluar dari ruang kelasnya. Luhan memang tidak salah untuk datang lebih awal, jika tidak, ia pasti sudah kehilangan Sehun.

"Kau akan berkencan dengan Sojin malam ini?", tanya Chanyeol membuat Sehun menyeringai lebar.

"Kau salah, Yeol. Tidak ada namanya berkencan di dalam kamar sambil mendesah-desah.", sahut Jongin membuat ketiganya tertawa membenarkan.

"Ah, benar! Oh shit! Ucapanmu membuatu merindukan Baekbee! Sayang sekali dia sulit dihubungi seminggu ini."

"Oh! Kasihan sekali hidupmu, Park! Bagaimana rasanya tidak 'memasuki' wanita selama itu?"

"Neraka! Jauh lebih neraka dibandingkan saat dia datang bulan, karena sekarang aku tidak bisa sekedar bertemu dengannya. Tugas akhir benar-benar membuatnya melupakanku!" Sok dramatis, Sehun dan Jongin kompak memberikan satu jitakan di kening mengagumkan Chanyeol. Membuat lelaki itu mengumpat tidak terima. "Kenapa menjitakku?!"

"Makanya jangan membicarakan tugas akhir! Itu membuatku mengingat-"

"Hey, Oh Sehun-ssi!", panggil Luhan seraya menghampiri Sehun. Membuat Sehun memotong ucapannya dan cepat mengubah ekspresi wajahnya. Dingin dan suram.

"Mau apa lagi kau kesini?"

"Hey! Tugasku masih belum selesai untuk mengawasimu!"

"Luhan-ssi, tidak bisakah kau enyah dari pandanganku? Aku muak melihat wajahmu setiap hari!" Itu Chanyeol, berkata nyaris berteriak karena ia semakin geram dan geram menghadapi gadis tak kenal menyerah itu. Masa bodoh dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang sudah mulai mengenal Luhan sebagai 'pengawas' Sehun.

"Ck! Aku juga muak melihat wajahnya!" Sehun memberikan tatapan mengintimidasi dan lagi-lagi tidak berpengaruh bagi Luhan. Ia tetap santai dan tidak sakit hati sedikitpun.

"Sudahlah, itu karena kau tidak ingin berhubungan baik denganku. Lagipula aku tidak akan lama berada disekitarmu jika kau mau ku ajak bekerja sama." Luhan melipat tangannya di depan dada. "Waktuku memang masih lebih dari tiga minggu lagi, tapi kalau kau bisa bersikap 'lebih normal' dan lulus secepatnya, maka aku juga akan pergi secepatnya."

"Apa kau akan pergi dari hidupku setelah aku menyelesaikan tugas akhirku?"

"Ya.", jawab Luhan mantap. Mungkin mulai saat ini ia harus merubah rencana. Dari semula memaksa Sehun memperbaiki sifat, yang menurutnya tidak akan berjalan dengan baik karena mengubah sikap seseorang bukanlah hal yang mudah. Setidaknya dengan demikian, Sehun tertantang untuk menyelesaikan tugas akhirnya dan itu adalah kemajuan yang sangat bagus.

"Kau benar-benar akan pergi?"

"Kau bisa memegang janjiku."

"Baiklah, aku setuju."

Dan jawaban Sehun sukses membuat mulut dua sahabatnya menganga lebar.

...

_TBC_

...

A CHANCE processing 75%. Please wait~