Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warning : Typo, OOC, Ide pasaran de el el
*GaaIno*
===Don't like don't read===
.
.
.
.
.
Semilir angin menerbangkan rambut panjang indahnya, hari ini Ino sengaja tidak mengikat rambutnya membiarkan tergerai begitu saja. Dress hitam selutut berlengan panjang yang ia kenakan terlihat sederhana tetapi sangat cantik ketika seorang Yamanaka menggunakannya.
Wajah Ino terlihat sendu menatap makam di depannya.
"Maafkan aku tidak bisa menemanimu di masa-masa sulit"
"Maaf kan aku" Kata-kata itu lah yang terus terucap dari bibir mungil Ino.
Sudah hampir 2 jam Ino berada di makam Hinata. Cairan bening membasahi pipinya, bahunya bergetar terisak akan kepergian sang sahabat.
"Kau tau Hinata? Bagi ku seseorang yang sudah meninggal itu berarti ia sudah menyelesaikan puzzle kehidupannya" Suara gadis bermata aquamarine itu terdengar bergetar.
"Banyak hal yang ingin aku katakan. Impian ku untuk menjadi seorang model terwujud, dan sekarang aku tinggal di jepang. ada satu kabar gembira lagi aku akan menikah besok" Ino menghapus jejak air mata di pipinya, menghela nafas sejenak sebelum kembali berucap.
"Kau dengar Hinata? Aku akan menikah.. Yah menikah Hina-chan, kau jangan khawatir aku pasti akan bahagia" Pertahanan Ino runtuh ia terduduk lemas dan menangis sejadi-jadinya.
"Aku.. Aku " Bahkan gadis itu sudah tak mampu untuk melanjutkan ucapannya.
"Jangan menangis lagi! Hinata tidak akan suka jika kau seperti ini" Ino mendongak menatap pria berambut panjang membawa sebuket bunga di tangannya, Neji kakak sepupu Hinata menatap iba Ino yang terlihat begitu rapuh.
" Neji-nii" Lirih Ino.
Yang di panggil tak mengucap kan apa-apa, di simpannya bunga yang ia bawa di atas makam.
Kedua matanya ia pejamkan mulutnya terlihat bergerak mengucapkan doa untuk sang adik.
"Kapan kau kembali?" Tanya Neji setelah selesai dengan ritual doanya.
"5 hari yang lalu, maaf aku tidak tahu apa-apa tentang Hinata" Ino menundukkan wajahnya tak berani menatap pria yang pernah menjadi cinta pertamanya.
Seandainya ia tak bertemu Neji dalam ke adaan seperti ini mungkin ia akan sangat senang saat ini.
"Bagaimana kabar Hanabi serta paman Hiashi?" Tanya Ino.
"Jangan menyalahkan dirimu seperti itu, tidak baik untuk mu. Kabar Hanabi dan paman baik-baik saja" Neji menepuk bahu Ino menyemangati.
" Kau tidak menanyakan kabar ku?" Tanya Neji.
"Kau sangat terlihat baik saat ini, sesuatu menyenangkan pasti terjadi pada mu bukan?" Ino tersenyum melihat wajah Neji yang merona.
"Kau benar, tak ada yang bisa ku sembunyikan dari mu dan juga Hinata" Neji mendongak menatap langit yang mulai sore.
"Sebentar lagi aku akan menjadi ayah" Pria itu tersenyum mengingat saat sang istri- Sara memberinya kabar bahagia.
"Selamat, aku turut bahagia mendengarnya. Maaf aku tidak bisa datang waktu pernikahanmu.
Kim Sara benar-benar beruntung mendapatkan suami seperti mu"
Ucap Ino, ia tersenyum tulus. Neji memang pantas bersanding dengan model keturunan Jepang-Korea itu. Keduanya terlihat melengkapi satu sama lain, Ino selalu melihat berita ke duanya dalam majalah.
"Sudah sore. Ayo pulang! aku akan mengantarmu" Ajak Neji, ia berjalan mendahului Ino.
Ino terdiam menatap punggung Neji, cinta pertamanya sudah menikah bahkan akan menjadi ayah betapa bahagianya Neji.
Hyuuga Neji sepupu Hinata yang menjadi cinta pertama bagi Ino.
Masih teringat jelas dalam benak Ino sesosok Neji pria dingin, pendiam dan kaku tetapi ia memiliki sisi kelembutan yang tak akan pernah orang duga selalu melindungi Hinata dan Ino dengan caranya sendiri.
Ino yang memang tak pernah pulang ke mansion Namikaze jika libur sekolah, lebih memilih menginap di rumah Hinata dan banyak menghabiskan waktu dengan keluarga Hyuuga termasuk Neji.
Mungkin saat itu lah cinta mulai tumbuh di hatinya, meski ia tak pernah mengatakannya pada Neji itu tak membuat Ino berkecil hati baginya mencintai dengan diam-diam saja lebih dari cukup.
Mungkin Neji memang cinta pertama bagi Ino tetapi bukan berarti hati gadis Yamanaka itu masih terpaku pada pria bermaga Hyuuga di sampingnya.
Neji hanya akan menjadi kenangan yang pernah singgah di hatinya. Yang Ino tahu hatinya masih terpaku pada sosok yang selalu menjanjikan kehangatan padanya, tetapi pria itu kini telah menghilang entah kemana.
Cerita cinta Yamanaka Ino memang rumit termasuk kehidupannya.
.
.
Jangan menangis hanya karena kamu terluka hari ini.
Jangan menyerah hanya karena dunia tak berpihak pada mu hari ini.
Jangan menyesal karena kamu melakukan kesalahan hari ini.
Karena di balik semua yang terjadi hari ini akan ada kebahagiaan di hari esok..
.
.
Menikah adalah memadukan cinta kasih manusia dalam sebuah upacara yang sacral untuk menyatukan
kehidupan dan pernikahan adalah momen paling ditunggu-tunggu setiap pasangan yang sudah tak sabar ingin mengikat janji sehidup semati mereka.
Menikah tidak hanya menyatukan sepasang pria dan wanita menjadi suami-istri tetapi juga menyatukan dua keluarga berbeda untuk menjadi saudara.
Yamanaka Ino dan Sabaku Gaara akan melangsungkan pernikahannya tepat hari ini. Mereka berbeda dengan pasangan awam pada umumnya.
Tak ada cinta yang mengikat mereka, hanya ada kebencian yang tersirat di kedua bola mata insan itu. Gaara dan Ino hanya korban dari kepentingan keluarga mereka.
Tak ada tangisan yang keluar dari mata aquamarine milik Ino.
Bibirnya terlalu kelu untuk menjerit menghentikan pernikahannya.
Hatinya terlalu lelah menerima semua kenyataan pahit selama ini, hingga ia tak mampu memberontak.
Kakinya tak mampu berlari meninggalkan masalah yang melilit kehidupan.
Sama halnya dengan Gaara ia juga merasakan kehidupan pahit seperti Ino. tak ada yang tau bagaimana perasaanya saat ini. Ia hanya selalu bersembunyi di balik wajah dingin, angkuh serta arogannya.
Saat ini mereka hanya berusaha untuk tetap menjalankan peran masing-masing dalam cerita kehidupan mereka.
Upacara pernikahan di adakan di gereja dekat hotel tempat pesta pernikahan mereka akan berlangsung. Upacara sakral itu begitu tertutup hanya di hadiri oleh kedua belah pihak keluarga besar Sabaku dan Namikaze.
Ino menatap dirinya dalam cermin ia sungguh tak percaya akan menikah hari ini, tekadnya sudah bulat untuk menemukan potongan puzzle yang hilang dalam keluarga Namikaze.
"Kau sudah siap Ino-chan?"Tanya Naruto yang mana hari ini akan menjadi pendamping pengantin untuk Ino.
"Kau cantik sekali Ino" Ucap Naruto tulus, ia mengulurkan tangannya pada Ino.
"Aku tau itu" Ino tersenyum mengedipkan sebelah matanya. Kemudian tangannya menerima uluran tangan Naruto. Mereka berdua siap berjalan menuju altar.
"Kau gugup?"
"Sedikit" Naruto langsung mempererat genggamannya setelah mendengar jawaban Ino.
Ia berusaha menyalurkan semangat serta ketenangan.
"Terimakasih atas segalanya" Ungkap Ino. Keduanya tersenyum bersama.
Pintu terbuka mereka berdua menjadi pusat perhatian atau lebih tepatnya Ino.
Perempuan berambut pirang itu sungguh cantik dengan gaun bermodel leher tinggi serta motif illusi yang mempercantik lehernya. Gaunnya yang menjuntai kebawah bermodel tulle menambah kesan megah.
Tak lupa aksesoris mempercantik penampilannya. rambut pirangnya yang ia gerai di hiasi mahkota berwarna perak serta anting yang menjuntai mempertegas parasnya yang sungguh cantik.
Hari ini Ino benar-benar layaknya seorang putri di negeri dongeng. kedua aquamarinenya menatap Gaara yang mengenakan tuxedo putih yang senada dengan warna gaunnya. pria itu jauh terlihat lebih tampan dari sebelumnya.
Naruto menyerahkan Ino pada Gaara. Pria bertatto kanji itu menerimanya dengan senang hati. Keduanya saling menatap dalam diam hingga akhirnya mereka mengucapkan janji suci pernikahan di depan sang pendeta.
.
.
Ino menghela nafas sejenak. Aquamarinenya menatap ke sekeliling kamar hotel yang ia tempati. Setelah upacara pernikahan selesai ia dan suaminya langsung ke hotel tempat resepsi berlangsung.
Rizt-Carlton yang merupakan hotel termewah di jepang menjadi tempat pesta pernikahan Sabaku dan Namikaze akan di adakan.
"Di mana dia?" Tanya Ino pada dirinya sendiri. Matanya terus mencari keberadaan sang suami yang pergi begitu saja tanpa memberitahukan apa-apa. Ino masih setia duduk di pinggir jendela menghadap pemandangan yang begitu menakjubkan keindahan gunung Fuji serta bukit Roppongi.
Pikirannya sudah masa bodoh dengan Gaara yang menghilang entah kemana. Lama memandangi ke indahan luar, tanpa ia sadari kamar hotel terbuka.
"Apa yang kau lakukan Gaara?" Tanya wanita di samping Gaara.
"Bagaimana jika wartawan melihat kita" Gaara tetap saja tak mau melepaskan genggamannya pada wanita di sampingnya, pandangannya mengedar mencari sosok Ino.
Ino yang mendengar suara keributan segera bangun dari duduknya melangkah kearah sumber suara.
Matanya membulat penuh ketika melihat sosok yang di carinya tengah menggenggam wanita berambut pink yang tak lain kekasih Gaara.
Ino mencoba untuk tetap tenang. Wajahnya mencoba tidak peduli dan tak tertarik dengan ke beradaan wanita berambut pink di tengah mereka.
"Acara akan di mulai satu jam lagi, sebaiknya kau siap-siap" Ucap Ino mengingatkan.
"Dia kekasih ku, namanya Sakura" Ucap Gaara mantap ia menunggu reaksi istrinya tetapi sayang Ino sudah tak terkejut lagi.
"Halo, aku Yamanaka Ino istri sahnya Gaara. Senang bertemu dengan mu" Ucap Ino memperkenalkan dirinya, membungkukan sedikit badannya dan tersenyum tulus pada Sakura.
Gaara mendecih melihat reaksi Ino tidak sesuai harapannya.
"Aku Sakura, maafkan aku seharusnya aku tidak di sini" Sakura tetap berusaha melepaskan tangan Gaara.
"Tetaplah di sini! Banyak wartawan di luar terlalu berbahaya jika hubungan kalian terendus oleh mereka" Sakura terpaku mendengar ucapan Ino, ia pikir Ino akan marah padanya dan mengusirnya tetapi ia salah, bahkan suara Ino tak menunjukkan keberatan terhadap keberadaan Sakura.
"Tapi.. Acaranya akan di mulai sebentar lagi" Sakura tetap tak enak hati jika ia harus berada di tengah-tengah mereka. Ia menatap Gaara lekat-lekat meminta jawaban.
Tetapi pria Sabaku itu tetap diam tak merespon apa pun. Pandangannya tak teralihkan dari gerak-gerik Ino yang duduk di sofa yang malah asyik dengan smartphonenya.
"Aku tidak peduli dengan acaranya" Gaara menarik Sakura untuk duduk di sofa tepat di hadapan Ino.
"Tetap seperti ini" Gaara menyandarkan dirinya pada Sakura. Ino menghela nafas sejenak melihat kelakuan suaminya.
"Sebentar lagi Naruto akan ke sini, dia akan membantu mu keluar setidaknya wartawan tak akan terlalu mencurigai" Ino berdiri dari duduknya.
"Dia tidak akan kemana-mana. Dan aku tidak akan menghadiri acara bodoh itu" Ucap Gaara dingin, matanya menatap tajam Ino seolah menantang
Ino memijit pelipisnya, tingkah Gaara sungguh membuatnya pusing. Jika keadaanya tetap seperti ini kemungkinan rencana yang telah Ino buat akan gagal.
"Sabaku Gaara! jangan membuat keadaan bertambah rumit" Ucap Ino penuh penekanan pada setiap kata-katanya.
Gaara mendecih hendak protes dengan ucapan Ino, tetapi aksinya terhenti ketika suara bel kamar hotel mereka menggema ke seluruh rungan.
"Itu sepertinya Naruto" Ino berjalan kearah pintu keluar, mengintip sebentar kearah layar intercome.
Naruto sedang berdiri di luar ia sudah tampak rapih memakai stelaan jas hitam untuk menghadiri resepsi pernikahan Ino.
"Masuklah!" Ino membukakan pintu. Naruto mengekori Ino dari belakang. Pria penyuka ramen itu sedikit mengkerut ketika melihat Ino yang masih mengenakan baju pengantinnya.
"Ada apa memanggil ku? Dan kenapa kau belum bersiap-siap. Acaranya akan di mulai satu jam lagi. Apa kau akan tetap memakai pakaian seperti ini? Dan di mana Gaara?" Naruto terus memborondongi Ino dengan pertanyaan. Yang di tanya hanya memutar kedua bola matanya bosan, Naruto benar-benar bisa menjadi cerewet lebih dari ibunya jika berhubungan tentang Ino.
Naruto masih terus bertanya pada Ino tentang ini-itu hingga mulutnya terhenti ketika melihat pemandangan di depannya. Gaara sedang menyadar pada bahu Sakura dengan mata yang terpejam.
Gigi Naruto bergemeletuk tangannya terkepal menahan marah, ingin sekali ia melayangkan bogem mentah pada Gaara-musuh sejatinya. Seharusnya ia tahu hal seperti ini pasti terjadi.
Memangnya hal apa yang ia harapkan dari Gaara? pria berrambut merah maroon itu dapat mencintai Ino dan membahagiakannya. Itu hanya akan menjadi mimpi belaka yang tak akan pernah terwujud.
Naruto menyesal telah merestui perjodohan ini, seharusnya ia berusaha keras untuk menggagalkan pernikahan ini.
Ino menepuk bahu Naruto menyadarkan pria itu yang masih terpaku melihat pemandangan di depannnya.
Naruto memandang Ino meminta penjelasan. Tetapi gadis pemilik kedua aquamarine itu hanya tersenyum. Senyum yang sulit diartikan oleh Naruto.
"Jika Sakura keluar seorang diri dari sini itu akan terlalu berisiko dan akan ada banyak pertanyaan yang muncul dari wartawan. Kau mengerti maksud ku kan?" Ino menjelaskan maksudnya memanggil Naruto.
"Sakura pergilah bersama Naruto. Kau akan aman dari kejaran wartawan jika bersamanya. Aku jamin kau tidak akan kehilangan apa pun" Ino tersenyum meyakinkan Sakura.
'Tetapi Gaara?" Tanya Sakura kebingungan yang melihat kearah Gaara, sepertinya kekasihnya tertidur
.
"Gaara akan baik-baik ! kau tidak ingin semuanya menjadi rumit layaknya benang kusut yang tak ada ujungnyakan?"Ino terus meyakinkan Sakura. Naruto sungguh tidak tahan dengan keadaan seperti ini.
"Ayo Sakura! Biarkan pria panda itu bersama ISTRINYA" Ucap Naruto dengan penuh tekanan pada kata istrinya. Sakura mengaguk patuh, perlahan ia membaringkan Gaara pada kursi.
Setelah Naruto dan Sakura keluar dari kamar mereka. Ino masih setia duduk di hadapan Gaara.
"Aku tahu jika kau hanya pura-pura tertidur tuan Sabaku"
"Bangunlah ada hal yang harus kita bicarakan" Ucap Ino yang sudah tak sabar dengan sikap Gaara.
"Bicaralah aku akan mendengarkan dengan baik Nyonya Sabaku" Cibir Gaara. Tetapi sayang Ino sama sekali tidak tersinggung dengan ucapannya.
"Aku tahu kau tidak menginginkan pernikahan ini begitu pula juga aku, tetapi pernikahan akan tetap berjalan sesuai dengan keluarga kita inginkan. Aku ingin membuat perjanjian dan hanya akan menjadi rahasia dia antara kita berdua. Jadi aku mohon bisakah kau bertahan menjadi suamiku hanya untuk enam bulan kedepan. Setelah enam bulan kedepan kita akan bercerai"Ino terhenti sejenak utuk melihat reaksi Gaara.
"lebih tepatnya setelah perusahaan mu pulih dan kau telah mengambil seluruh kekayaan keluargaku benarkan?" Gaara menatap tajam Ino. Gadis berambut pirang itu hanya menghela nafas sejenak memikirkan kata-kata yang tepat untuk ia ucapkan.
"Aku berjanji hal itu tidak akan terjadi" Ino mengambil selembar kertas di atas meja jari lentiknya terus menuliskan sesuatu di atas kertas putih yang kini di penuhi dengan tinta hitam..
Setelah selesai ia menyerahkannya pada Gaara.
"Bacalah baik-baik"
Pernikahan ini akan berjalan hanya dalam waktu enam bulan dari sekarang.
Masing-masing pihak tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing termasuk kekasih atau teman dekat sekali pun.
Kedua belah pihak tidak boleh membuat scandal yang bisa mencemarkan nama baik keluarga masing-masing selama pernikahan berlangsung.
Pihak luar atau keluarga hanya boleh mengetahui jika pernikahan kita baik-baik saja
Tidak akan ada hubungan fisik (sex)
"Kenapa harus menunggu sampai enam bulan jika besok saja kita bisa bercerai?" Gaara memandang Ino tatapnanya seakan-akan meremehkan.
"Aku mengerti. Tentu saja menunggu sampai perusahaan mu pulih dan tidak bangkrut. Dan seharusnya perjanjian no lima di hapus. Bukankah aku bisa melakukan apa pun pada mu? karena keluarga ku sudah membeli mu" Gaara terus memancing amarah Ino.
Ino mencoba untuk tidak terpancing emosi, jika ia harus mempertaruhkan semuanya demi menemukan kebenaran ia akan melakukannya. Percuma menarik diri sekarang pun tak akan ada hasil.
"Aku memang akan bertahan sampai perusahaan keluarga ku pulih seperti semula dan kau benar barang yang sudah di beli berhak di gunakan sesuka hati oleh sang pemilik"Ucap Ino dengan tenang, dalam hati sungguh ia ingin menjait mulut kotor Gaara.
Gaara membuang muka di matanya Ino benar-benar gadis matrealistis yang akan melakukan apa saja untuk uang.
Ino berdiri dari duduknya
"Intinya kita akan menjalankan peran suami-istri di depan orang-orang, dan kau masih bisa berhubungan dengan Sakura selama itu tidak tercium oleh public. Aku tidak akan mencampuri urusan mu."
"Satu hal lagi. Aku sungguh tidak berniat mengambil alih perusahaan mu" Lanjut Ino. Gadis itu sungguh mantap untuk menjalankan rencananya. Ia sungguh tidak peduli kebenaran yang akan terungkap menyakitinya Ino hanya. ingin tahu rahasia apa yang neneknya sembunyikan selama ini.
Gaara masih tidak mengerti jalan pikiran Ino, gadis itu sungguh tidak mudah di tebak bahkan ia masih belum tau motif di balik perjanjian yang Ino buat.
Sungguh di luar dari prediksi Gaara, jika ia yang di kendalikan oleh Yamanaka Ino.
Terus bergelut dengan pikirannya tanpa sadar Gaara meremas kertas perjanjian yang di buat Ino.
"Aku yang memegang kendali permainan ini" Gaara membuang remasan kertas itu kedalam tempat sampah.
===TBC===
A/N: Hoi-hoi saya kembali membawa chap 3, maaf jika chap ini sedikit ngelantur dan tidak menarik.
Dan bagi yang menunggu fic-ku yang lain harap sabar karena masih dalam proses.
Dan terimakasih kepada semua readers yang udah ngefav, ngefol, review maupun silent reader
