"Serius, kita dapet kasus?"
Rion masang tablo, melihat seorang siswa berkunjung ke ruangan penuh ornamen mistis milik klub okult. Masih tidak percaya ada yang datang ke sini selain anggota tetap ditambah satu makhluk halus.
"Um, permisi..?" Tanya sang klien, cemas melihat mulut Rion yang mulai berbusa.
"Homina! Homina! Mana si Miki?! Miki, dunia mau kiamat!" Rion ngelantur, dan membenturkan kepala sendiri ke meja.
"Rion-saaann!" Klien mencoba menghentikan aksi Rion.
"Jadi..apa keluhan anda..umm...Hatsune Mikuo-san?" Lui mengambil alih.
Sang klien kembali duduk rapi setelah Rion tidak berbuat aneh-aneh lagi.
"Jadi begini...aku punya pacar, namanya Kagamine Lenka. Setiap kali kami jalan, selalu saja ada hal-hal aneh yang terjadi...awalnya kami mengabaikannya. Tetapi makin lama makin sering saja. Kudengar kalian memiliki indera keenam, jadi kupikir dapat memastikan apakah benar kami sedang diganggu hantu atau tidak." Jelas Mikuo panjang lebar.
"Ho, hantunya cemburu kali..ahahaha..!" Rion ngomong sama tengkorak imitasi.
"Sebelah sini, Rion-san." Peringat Lui. "Lagipula belum tentu ini benar-benar hantu." Lanjutnya sembari melihat ke arah Mikuo.
"Kumohon, tolong kami. Kalian adalah pengusir hantu, bukan?"
"Bisakah kami mengikuti kalian ketika sedang kencan?" Tanya Lui, sedikit ragu sebenarnya. Mikuo mengangguk. Sepertinya tidak buruk, demi masa depan mereka juga.
Ehem ehem.
"Jadi...Lenka ini seperti apa orangnya?" Lui bersiap mencatat.
"Dia gadis yang cantik. Kami bertemu di taman setiap malam minggu." Jelas Mikuo, dan Lui mendengarkannya seksama.
"Hanya malam minggu?"
Mikuo mengangguk, "Ya, karena katanya ia hanya diperbolehkan oleh kedua orang tuanya keluar malam di hari itu." Mikuo tertawa pelan. Lui menyipit curiga dan melirik pada Rion. Rion membalasnya dan mengangguk.
"Baik, kami akan membantumu, Hatsune Mikuo."
.
.
"Hah? Usus? Kita dapet usus?"
Miki yang ditemui di kelasnya mendapat keplakan gratis dari Lui yang mendatanginya untuk menyampaikan kasus perdana mereka. Diduga kelaparan, maka ia mendengar kata usus.
"Kasus, cewek budek!"
Beberapa siswi berbisik tentang perlakuan kasar Lui terhadap seorang gadis. Lui sudah biasa, jadi ia takkan menghiraukannya. Iya, harga dirinya sebagai lelaki rendah memang, semenjak bergabung di klub okult yang katanya mistis tapi isinya orang somplak semua.
"Baiklah, kita akan menerimanya, tuan shota!"
"Aku tidak shota!"
.
.
Investigasi dimulai saat sore hari sebelum waktu perjanjian mereka tiba. Rion, Miki dan Lui bersiap dengan jubah kebesaran mereka, biar gak dicurigai katanya.
Bukannya malah makin mencurigakan, ya?
Rion membawa alat detektor logam, katanya sekalian mencari uang koin yang tertimbun tanah. Miki cuma bawa yoshua buat ngusir nyamuk kalau malem nanti, sedang Lui tidak terlihat membawa perangkat apa pun. Adapun hantu Yuu yang hanya melayang-layang.
Seorang gadis datang, dengan rambut honeyblonde pula mengenakan dress biru selutut. Pita merah yang tersemat di helainya menambahkan kesan cantik terhadapnya. Ia duduk di salah satu bangku taman. Iris safirnya mampu membuat semua anggota klub okult menganga di balik semak-semak, tempat persembunyian mereka.
'Jadi...ini yang disebut Dewi?!'
Mikuo datang tak lama setelahnya. Gadis yang menurut pengakuan klien mereka bernama Kagamine Lenka itu, lalu melambai dengan riang pada Mikuo disertai senyuman lebar.
"Mikuo-kun!"
Beberapa orang di dekat sana hanya berbisik.
"Apa dia sudah gila? Berbicara sendiri?"
Tentu saja yang dijadikan subjek kasak-kusuk tidak tahu.
"Awalnya kupikir ia murid sekolah kita tapi..." Miki mengeluarkan sesuatu dari dalam saku pakaiannya. Sebuah remasan kertas ia buka dan lebarkan, membuat Rion dan Lui mengangguk maklum.
"Pantas saja."
Tertulis jelas dengan huruf kapital sebagai titel,
'Hatsune Mikuo, seorang siswa SMA yang ditemukan bunuh diri di kediamannya.'
"Kau menyadarinya juga, Miki-san?" Tanya Rion. Miki mengangguk.
Hantu Yuu bersuara, "Oi, mereka pergi tuh." Katanya sembari menunjuk Mikuo dan Lenka yang berjalan pergi.
"Bagaimana kita mengatakannya?" Tanya Lui. Klub okult kini keluar dari tempat persembunyian dengan rambut afro dan membuntuti klien mereka.
Miki tersentak ketika menyadari leher Mikuo mulai menghitam.
"Jadi begitu."
"Kenapa kita harus memakai afro, hah?!" Seru Lui.
"Jangan protes kau, kecubung." Komentar Rion.
"Siapa yang kecubung?!" Lui tidak terima.
"Aku duluan!" Miki berubah ke mode lari dan mendahului para anggotanya.
"Aku capek." Keluh hantu Yuu yang melayang.
"Kau itu hantu! Lagipula, ke mana jiwa prajuritmu?!" Bentak Lui. Hantu Yuu hanya mendecih.
"Kau mendecihkanku?! Iya kan?! Iya kan?!"
"Semuanya! Lihat ke depan!" Rion menghentikan langkahnya diikuti Lui dan hantu Yuu yang melayang.
Sebuah taman bermain.
Mereka juga tidak tahu di mana Miki sekarang, akan sulit mencarinya di antara keramaian.
.
.
.
"Mau kembang gula, Mikuo-kun?"
Mikuo menggeleng.
Lenka memanyunkan bibirnya. Kesal karena Mikuo tidak mau apapun yang hendak dibelikannya. Namun rasa itu sirna ketika melihat sebuah objek lain.
"Ah, ada ferris wheel! Naik, yuk, Mikuo-kun!" Ajak Lenka. Mikuo hanya mengangguk dan mengikuti Lenka yang nampak bahagia.
Penjual kembang gula menatap Lenka dengan aneh,
"Gadis itu berbicara dengan siapa?"
.
.
Antrian ferris wheel sedang sepi tampaknya. Lenka dengan cepat membayar tiket untuk dua orang. Sang penjaga terheran-heran sendiri, tapi ia akhirnya mencoba memaklumi bila gadis itu sedang memberinya uang lebih atau apa. Anggap saja sebagai rejeki.
Namun sebelum Lenka dan Mikuo memasuki wahana, seorang gadis berhelai cherry dan berantena muncul,
"Maaf, bisa meminta waktumu sebentar, nona?"
Lenka tidak kenal perempuan itu, maka ia memandang Mikuo. Mikuo balas menatapnya, tapi tidak mengatakan apapun. Lenka akhirnya mengikuti gadis berantena itu bersama Mikuo.
Mereka akhirnya tiba di area pinggiran yang sepi tanpa kehadiran pengunjung. Tanpa basa-basi, Miki langsung mengatakannya,
"Aku Furukawa Miki, siswi SMA Yamaha, ketua Klub Okult di sekolahku. Langsung saja, Kagamine-san, klien kami itu, -Hatsune Mikuo bukan manusia lagi."
Hening selama beberapa detik. Mikuo mencoba melihat seperti apa reaksi Lenka begitu mengetahui kebenaran ini. Ia meminta bantuan pada klub okult yang sempat ia dengar.
"Lalu kenapa?" Lenka mengangkat wajahnya dan justru tersenyum. "Aku sudah tahu dari awal."
Miki tersentak, pun Mikuo tampak terkejut.
"Jadi, Lenka, selama ini kau.."
"Aku tidak ingin berpisah denganmu lagi, Mikuo." Lirih Lenka.
Lenka mengingat semuanya.
Awalnya ia memperkenalkan Mikuo pada keluarganya, tentu saja agar hubungannya direstui dan tidak mempersulit kelak. Tapi, ternyata jalan yang ada di depan mereka makin sukar dan berduri. Perbedaan status sosial di antara keduanya adalah penyebab utama. Lenka berasal dari keluarga konglomerat serta masih berkedudukan sebagai saudara jauh keluarga Kaisar. Berbeda dengan Mikuo yang untuk bersekolah saja harus mendapat beasiswa dan hidup sebatang kara.
Tentu saja kedua orang tua Lenka menolaknya. Mereka bahkan mengakali dengan perjodohan untuk Lenka agar tidak berjumpa lagi dengan Mikuo.
Keduanya makin jarang bertemu pada akhirnya. Hingga suatu hari ia menjumpai Mikuo diam-diam di kediamannya. Mikuo pun menyambutnya seperti biasa dan mereka saling bertukar cerita.
Namun ternyata ada seorang pelayan keluarga yang membuntuti Lenka. Ia diperintahkan melenyapkan Mikuo dari kehidupan Lenka. Lenka tidak menyadari itu sebelum sebuah peluru menembus dada kekasihnya.
Lenka hendak berteriak, namun kesadarannya hilang tiba-tiba.
Satu minggu kemudian, Lenka masih beraktivitas seperti biasa walau ingin tahu di mana Mikuo sekarang. Hatinya tidak rela bila Mikuo menghilang darinya seperti ini. Tetapi ia tak bisa berbuat apapun karena kuasa kedua orang tuanya. Lenka lalu menangis saat mengingat Mikuo yang berakhir tragis dan diberitakan bunuh diri, padahal semua itu tidak benar. Tentu saja tidak akan ada yang protes, terlebih Mikuo itu sebatang kara. Mudah saja untuk menutupinya dengan kekuasaan Kagamine.
Apa Mikuo sudah berada di surga?
Ketika Lenka sedang sibuk memikirkan itu, ia melihat seorang pemuda teal yang duduk sendirian di sebuah bangku taman kota. Lenka refleks berlari ke arahnya namun tersandung kerikil dan terjerembab.
Pemuda teal itu tertawa dan menyebut namanya,
"Lenka, kau masih saja ceroboh."
Lenka menangis bahagia.
Kala mengingat semua itu, Lenka tahu dirinya egois dan tidak menerima kepergian Mikuo. Maka ia takkan melepaskan Mikuo lagi apapun yang terjadi.
"Jika kau tidak merelakan kepergian klien kami ke alam sana, ia akan menjadi ayakashi*), nona."
"Mau ayakashi atau apapun, aku tak peduli lagi. Selama aku bersamanya itu sudah cukup." Ujar Lenka. Ia tidak ingin kehilangan kembali setelah semuanya.
Mikuo tidak tahu harus berkata apa.
"Kau tidak lihat lehernya yang menghitam itu, nona?" Tanya Miki sembari menunjuk lehernya sendiri. Lenka menoleh dan mendapati sesuatu berwarna hitam merambat naik perlahan pada leher Mikuo.
"Lenka.." Mikuo menghadapnya.
"Ya, Mikuo? Kau juga tidak ingin berpisah denganku, kan?" Lenka nampak yakin dengan semua ini.
Mikuo menggeleng.
"Aku tidak ingin menyakitimu, jadi...bisakah kau mengabulkan permohonanku sekali ini saja?" Nadanya terdengar lembut, namun menyedihkan di saat bersamaan.
"Kenapa, Mikuo? Aku tidak mau hidup seperti ini, aku ingin bersamamu selamanya!"
Mikuo menggeleng lagi sembari tersenyum tipis, "Jika kau tidak merelakan kepergianku, aku akan berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan. Kau kan takut monster, Lenka." Mikuo tertawa parau sendiri.
Lenka jatuh terduduk, meremat sisi kain yang ia kenakan.
"Tidak bisakah kau membawaku, Mikuo? Aku..aku tidak mau lagi...aku.."
"Lenka, jangan menangis. Wajahmu jadi jelek." Mikuo mengejek.
"Tapi kau menyukai gadis jelek ini, kan?" Lenka mulai terisak. Ia menggenggam pasir di bawahnya dan meneteskan air matanya.
"Kau akan selalu cantik, Lenka."
Lenka hanya diam, menunduk memandang ke bawah. Ia mulai menghapus air matanya dan berusaha memantapkan hatinya agar melepas kepergian Mikuo meski berat.
Mikuo pun tersenyum, di antara semu eksistensinya yang makin pudar.
.
.
.
"Jadi...setelah itu?" tanya seorang berkacamata usai mendengar penuturan dari Miki selaku ketua klub okult.
"Jadi...klien pertama kita adalah hantu."
Kertas ditampar ke wajah ke sekian kalinya.
"Kubilang apa, hah?! Temukan pelanggan sungguhan! Siapa yang akan percaya jika kita melayani klien makhluk metafisika?! Kalian ingin klub ini dibubarkan?!"
Ia bangkit berdiri, meninggalkan ruang klub.
"Harus ku apakan klub ini..." Keluh dan Lui yang bersembunyi di dalam lemari pun keluar setelah tak merasakan hawa keberadaan guru pembimbing klub ini.
"Kagamine-sensei selalu galak, ya."
Mereka bertiga tidak tahu sampai kapan klub ini akan bertahan.
.
.
Next chapter : Boneka Prancis
