BTS Kim Seokjin (Jin) | BTS Jung Hoseok (Hoseok) | BTS Min Yoongi (Yoongi)
BTS Jeon Jungkook (Jungkook) | BTS Kim Namjoon (Namjoon)
NCT Kim Doyoung!GS (Doyoung) | NCT Youngho Seo (Kim Johnny)
BTS Park Jimin (Jimin) - cameo
© all chara(s) belong to their agency
T = True Love
Because T aims for True Love
Target 2: J
"Tinggal apa aja, sih, Jin? Kalau nggak salah.. Huruf J, T, sama Y. Itu, kan, ya?", tanya Yoongi.
Aku, Yoongi, dan Jungkook sedang lunch di Sushi Boon. Kami bertiga penggemar berat makanan Jepang, khususnya sushi. Makanya, setidaknya seminggu sekali kami pasti nyempetin untuk makan sushi bareng-bareng kayak gini.
"Nggak. Tinggal J sama T doang.", jawabku ringan sambil mengunyah dragon roll-ku.
"Lah, Y-nya gimana?"
"Lagi aku pacarin sekarang."
"WUAH?!", seru Yoongi dan Jungkook kompak. "Siapa?!"
"Yuta.", kataku sambil terkekeh.
"Yuta itu rapper NCT yang baru tiga jam yang lalu kamu interview, kan, Jinnie?", tanya Jungkook.
"Tiga jam bisa mengubah dunia, baby Kookie~"
"What happened?!", tanya Yoongi heboh sampai dia tersedak salmon maki.
"Jadi… tadi kita.. made out. Dan setelahnya dia bilang: 'Gila, I love you, Jin..!', selesai. "
"Oh.. Jadi kalau udah bilang 'I love you' berarti pacaran, ya?", tanya Jungkook polos.
"Nggak tahu juga, sih. Tapi kita ada something, lah.. Aku nggak peduli kalau dia nggak serius. Yang penting huruf Y dari list udah bisa dicoret.", kataku sambil tersenyum jahil. "Plus, he's a good kisser. Hehehe.."
"Wow. Wah. Hidup si Yuta itu akan berantakan mulai sekarang..", kata Yoongi sambil geleng-geleng.
Aku mengedikkan bahuku. "Aku berani taruhan demi koleksi Mario Bros kesayanganku, dia udah berkali-kali ngeberantakin hidup cewek, atau cowok, I don't know. Sekali-sekali, lah, dia ngerasain hidupnya yang diberantakin.", kataku. "Btw, nanti malem ada undangan open table di The A. Aku ajak aja kali, ya, si Y itu."
"Yuta! Sebut namanya dong, Jin. Kamu tuh kebiasaan banget suka manggilin pacar dengan huruf depan namanya doang..", tegur Jungkook.
Aku mengibaskan tanganku, tidak peduli. "Ah, bodo amat. Nggak apa-apa, dong, di belakang mereka aku panggil huruf depannya doang. Aku udah cukup baik hati buang-buang energi manggil mereka sayang, baby, chagi, darling setiap kali ada di sekitar mereka. So tiring!"
Bersamaan dengan pidato pembelaan diriku, sushi-ku habis. Aku merogoh tas Duffle-ku yang satu bulan lalu dibelikan Zhoumi di Ralph Lauren. Aku mencari benda putih kesayanganku. Rokok.
"Kalian bawa lighter? Ah, bego. Pasti nggak, kan?", tanyaku.
Layaknya kembar identik, Yoongi dan Jungkook kompakan menggeleng. Partner kriminalku memang cuma Hoseok dalam urusan merokok, minum, dan sebagainya. Dua makhluk tampan di hadapanku ini terlalu penuh prinsip, jadinya nggak fun.
Aku melambaikan tanganku pada waitress dan memberi kode 'lighter'. Setelah rokokku menyala, aku mengisap dan mengembuskan asapnya ke wajah Yoongi, sengaja. "Mau ikut ke The A, nggak?"
"Ngapain?", tanya Yoongi sambil batuk-batuk nggak penting.
"Minum, lah.."
"Nggak, ah. Ntar dimarahin mama.", itu jelas Jungkook yang ngomong.
"Mm.. Lihat ntar, ya. Kalo kerjaan ngedit udah kelar, aku eksis, deh.", kata Yoongi.
Setelahnya, ponselku berbunyi. Ada telepon masuk. "Halo?"
[Hi. Mau nanya, besok jam berapa mulai training-nya?], sapa suara serak dari ujung telepon sana. Tanpa perlu bertanya aku tahu orang ini siapa. Si nyolot seksi. My Y.
"Oh, jam 10.", jawabku singkat.
[Oke deh kalau gitu, thanks, ya..]
"Udah, gitu doang?", pancingku.
[Huh?]
"Nggak ada maksud lain, nih, nelepon aku? Kangen atau apaaa gitu?", godaku.
[Hm.. memangnya kenapa?]
"Ya.. soalnya tadi pagi Hoseok udah ngasih kamu jadwal training selama seminggu ini. Terus aku lihat kamu tempel jadwal itu di dasbor mobil kamu. Dan sekarang, dengan suara kendaraan yang jadi backsound telepon ini, jelas banget kalau kamu lagi di mobil. Jadi, aku simpulkan kamu nelepon aku karena kangen."
Aku bisa mendengar suara kekehannya yang lucu itu dari seberang sana.
[Iya, bener..]
Aku melemparkan senyuman jahil pada Yoongi dan Jungkook. "Bagus, dong, jadi bukan aku doang yang kangen.. Ntar malem The A, yuk?"
[Boleh, sama siapa aja?]
"Acara anak divisi lain di kantor, sih. Tapi kalau kamu mau berdua doang, boleh kok.", kataku sambil melakukan gestur ingin muntah pada dua kawanku yang sedari tadi memperhatikanku dengan jengah. Mereka juga ikut-ikutan sok mual setelah mendengar ucapanku tadi.
"Oke. Aku jemput?"
"Nggak usah. Ketemu di sana aja, aku langsung dari kantor soalnya. Ntar pulangnya aja kita bareng, oke? See ya then, bye~!"
Aku menutup telepon dengan senyum kemenangan pada Yoongi dan Jungkook. "Beres."
Yoongi mendecak tidak percaya. "Si Yuta itu benar-benar nggak tahu siapa yang dia hadapin.."
"Yeah, dia nggak tahu..", kata Jungkook sambil geleng-geleng lucu.
Aku terkekeh.
Namaku Kim Seokjin.
Di usiaku yang ke-25 ini, aku sudah mencicil apartemen mewah dan hidup sendiri.
Hobiku merokok dan minum.
Mantanku sudah 23 orang sesuai dengan list alfabet.
Aku sangat berbahaya.
"Kebiasaan kamu itu sangat berbahaya, tahu, Jin?", Kim Doyoung bicara dari balik koran edisi hari ini.
"Eomma.. Please, deh. Aku baruuu aja bangun.."
Aku memainkan rokok pertamaku hari ini—obyek omelan eomma tadi—dengan jemari tangan kananku, sementara tangan yang satu lagi meraih mug berisi kopi hitam panas yang masih mengepul.
"Jangan harap eomma berhenti komentar soal gaya hidupmu.", kata eomma seraya melipat koran dan menaruhnya di meja. "Rokok, kopi, alkohol, begadang…"
"Eomma juga minum kopi tiap pagi.", balasku.
"Tapi nggak pakai rokok, alkohol, dan begadang. Eomma pusing lihat kamu merokok terus, Jin. Kapan, sih, mau berhentinya? Selain membahayakan diri sendiri, merokok juga membahayakan orang lain, tahu!"
"Eomma.. jarak kita kan jauhan. Aku di teras, eomma di meja makan. Dalam jarak lima meter ini aku yakin udara sudah terfilter dari racun-racun yang disebabkan rokokku ini."
Sekarang eomma melepas kacamata bulan sabitnya dan menaruhnya di sebelah koran. "Bukan eomma, Jin. Eomma mikirin kamu. Nggak sayang, apa, sama badan sendiri? Orang-orang banyak yang ngarep punya badan sehat kayak kamu. Jarang sakit, postur oke, kulit bagus, ganteng pakai banget.. Well, semua turunan eomma, sih."
Mulai deh, narsis.
"Kamu itu udah dikasih semuanya sama Tuhan. Bukannya dijaga, malah dirusak-rusakin. Itu, kan, sama aja nggak bertanggung jawab sama apa yang udah Tuhan titipkan sama kamu.."
Aku diam saja. Kalau sudah bawa-bawa Tuhan, aku bisa jawab apa?
Andai eomma tahu susahnya berhenti merokok..
Andai eomma tahu malam-malam saat aku diteror deadline, entah akan seperti apa jadinya tanpa ditemani benda putih panjang, lucu, dan harum itu.
Makanan-makanan mahal di restoran juga akan terasa tidak lengkap kalau tidak ada rokok sebagai dessert.
Eomma masih melanjutkan khutbahnya tentang keburukan rokok—yang sudah kuhafal di luar kepala ketika.. GEDUBRAK!
"Tuh, kan.. makanya punya poni tuh jangan kepanjangan, Joonie. Jadi nabrak, deh..", kata eomma yang atensinya sudah teralihkan. Thanks to my lil bro and his silly thing.
"Eomma. Ini tuh mode, keren, gaya, swag, asik, cool, kekinian, okay? Hip-hop style, mom..!", erang Namjoon frustasi.
Adikku yang masih kuliah dan tergabung dalam sebuah band rapper underground kota Busan itu akhirnya bangun juga dan tidak sadar telah menjadi penyelamatku pagi ini.
Eomma-ku, Kim Doyoung, adalah seorang dokter mata yang bersama suaminya alias appa-ku, Kim Johnny, dokter spesialis penyakit dalam, membuahkan dua orang anak yang tidak ada mirip-miripnya dengan mereka. Satu pun tidak ada yang menjadi dokter atau berpola hidup sehat.
Namjoon anak band, aku orang TV.
Aku tukang merokok, Namjoon tukang begadang main game.
Namjoon hobi makan junk food, aku hobi minum alkohol.
Kadang aku kasihan pada eomma dan appa, anak-anaknya sama sekali tidak merepresentasikan ke-dokter-an mereka berdua.
"Duh.. Cerah amat, ya..?", seru Namjoon sambil menggaruk-garuk rambut gondrongnya, mengangkat bagian bawah celana piyamanya, dan duduk di sampingku lalu menyeruput kopi. Kopiku.
"Iya, indah, ya.. Kopi orang, tuh…"
Sepertinya Namjoon tidak mengerti sindiranku, soalnya dia kelihatan tidak peduli. Atau memang dia tidak peduli kali, ya, ngambil jatah kopi hyung-nya. Toh, aku jarang pulang ke sini juga. Jadi sebenarnya aku tidak punya jatah kopi di sini karena aku punya coffee bar sendiri di apartemenku. Alcohol bar? Tentu saja ada juga.
"Ngapain kamu di sini? Katanya udah punya apartemen?"
"Hampir. Belum resmi. Tiga kali cicilan lagi."
"Btw tadi eomma ceramah lagi, ya?"
Aku menggumam "Hmm" sambil mengangguk.
"Kali ini aku setuju sama eomma. Memang kebiasaan merokok kamu udah mulai parah, Jin. Kapan mau berhenti?"
Aku mendelik malas. "Kalau kamu berhenti nge-rap, aku baru berhenti."
Aku mendapat reaksi yang sangat kuharapkan dari Namjoon. Dia menutup lagi kedua matanya, menyerah.
31 Desember 2013
"Selamat tahun baru!"
"Sakit jiwa, ya, kamu? Tahun baru gini malah mutusin cowok! Kasihan, tuh, anak orang mewek…", Hoseok menendang kakiku dari belakang, mengusik kerianganku.
Aku, Hoseok, Yoongi, dan Jungkook pesta di apartemen Yoongi. Akhirnya kami berempat bisa bebas tugas..! Sesuatu yang ajaib, terutama buatku dan Hoseok yang semenjak empat tahun yang lalu masuk KBS TV selalu kebagian jaga di malam tahun baru. Makanya malam tahun baru sekarang patut dirayakan.
Lima bulan yang lalu pertemuan pertamaku dan Yuta. Thanks to him, sekarang list Y-ku bisa kucoret. Dan terima kasih juga untuk Jimin, kalau tidak salah nama marganya Park… entahlah. Tidak penting. Setelah dua bulan bersama, aku memutuskan Yuta, dan betapa beruntungnya aku karena menemukan huruf J-ku seminggu setelahnya. Kasihan juga, sih, Jimin. Dia tipikal cowok baik-baik.
"Lagian kamu ngarepin apa, Hoseok? Aku pacaran terus sama si J? Please, bahkan waktu putusnya udah aku undur satu bulan karena aku nggak tega sama cowok itu. Mukanya imut banget astaga, kayak anak SD. Jangan-jangan dia betulan anak SD, lagi. Soalnya cuma dia mantan aku yang nangis gara-gara aku putusin."
"Ahyoung, Chorong, Eru, Sammy, Zhoumi…?", bantah Hoseok yang pernah dicurhati oleh mantan-mantanku sambil menangis bombay.
"Ralat, yang nangis di depanku. Si J itu juga satu-satunya mantan aku yang patut diragukan ketertarikan seksualnya. Masa selama tiga bulan pacaran, aku sama dia cuma make out lima kali… Nggak seru banget."
"Tapi kan mutusinnya nggak perlu di malam tahun baru juga, Jin..", kata Jungkook lirih.
"Bodo! Lagian dia sok-sok perhatian ngelarang-larang aku dateng ke sini. Kemaleman lah, bahaya lah. Aku kan mau tahun baruan bareng kalian semua…", rajukku.
"Cih, alesan. Palingan juga kamu sengaja cari masalah sama dia dengan tiba-tiba pengen ke sini, biar kamu berantem dan jadi ada alasan buat mutusin dia. Padahal sebenarnya kamu juga males dateng ke sini, kan?", celetuk Yoongi si mulut pedas.
"Nggak, aku nggak males…"
"Lah, kemarin bilang males, soalnya Jungkook bersumpah nggak akan ada alkohol di menu yang kita siapin.", kata Hoseok, supporter abadi Jungkook.
Aku mencibir, "Salah banget ngasih tanggung jawab konsumsi ke anak ini..!". Aku menoyor kepala Jungkook yang sedang menonton film 'Love Actually' entah untuk yang keberapa juta kalinya. "Nonton itu mulu, ntar nangis lagi!"
"Ih, Jiiin! Biarin! Aku kan romantis!", Jungkook menjawab dengan sewot tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV. "Aduuuh, cintaaaa…"
Biasanya sekitar setengah jam setelah Jungkook selesai menonton sinetron receh, uhuk, film romantisnya, dia akan berandai-andai tentang cinta. Yang tentu saja akan diiringi oleh seringaian menghinaku, pelototan Yoongi kepadaku karena menjadi orang yang sangat tidak sensitif, dan tatapan memuja Hoseok.
Sekarang pun begitu, aku menoyor kepala Jungkook untuk mengganggunya. "Udaaah, mau ditonton berapa kali juga nggak akan berubah tuh cerita. Tetep aja mereka nggak bisa bareng. Itu cowok bego banget, sih. Kalau memang dia mau sama si Keira Knightley kan seharusnya dia usaha dari awal, bukannya malah jadi cameraman di pernikahan Keira sama cowok lain! Aneh!"
Jungkook mendesah sebelum menjawab gerutuanku, "Jinnie.. Dia kayak gitu karena tahu cewek itu bakal bahagia sama cowok yang dinikahinnya.. Itu semua dilakukan demi c-i-n-t-a."
Ew. Menjijikkan.
"Demi cinta gimana? Tuh laki kalau bukan penakut berarti kurang berusaha. Udah. Kkeut. Titik."
"Kamu ini gimana, sih, Jin..? Dia begitu karena nggak mau egois dengan merusak pernikahan cewek itu.."
Ya, tentu saja. Tidak mau egois. "Jadi dia milih ngasih tau Keira yang sudah menikah kalau dia sebenarnya cinta sama Keira dari dulu? Smart."
Tanpa kuduga, Jungkook mematikan DVD player dan menatapku dengan excited. Mencurigakan.
"Jinnie sayaaang.. Sekarang, kita nonton dua film romantis, terus kita taruhan. Aku yakin sehabis dua film itu kamu nggak akan se'horor' ini.", kata Jungkook ceria.
Aku terkekeh melihat kesungguhannya. "Try me..! Tapi aku nggak janji bakal tetep bangun sampai film abis, ya."
"Kamu bakal tetap bangun, Jinnie sayang~"
"Awas kalau filmnya jelek. Aku buang semua kosmetik kamu.", ancamku.
"Plot-nya di Vienna, Jin.. Your-wannabe-there-city.", jawaban Jungkook lumayan menyumpal mulutku.
"Well.. Mungkin aku bakal tetep bangun, kalau kata-katanya bagus. Lumayan, buat update gombalan."
Jungkook tidak menimpali lagi ucapanku. Dia mengambil sebuah DVD berjudul 'Before Sunrise' lalu memasukkannya ke player.
"Hey, I hate this kind of movie..!", omelku sewaktu credit title muncul di layar.
"Kenapa?"
"Akhirnya menggantung, Hoseok..!"
Mata ketiga makhluk itu tertuju ke arahku.
"Oke. Gini. Mereka menghabiskan satu malam di Vienna, saling flirting, bahkan sampai berhubungan seks! Terus, mereka pisah begitu aja, dan cuma janjian untuk ketemu enam bulan sesudahnya di tempat yang sama. Udah? Nggak ada tukeran nomer telepon? E-mail? Alamat rumah?", protesku.
"Tapi kan mereka udah janjian, Jin..", Hoseok mencoba menenangkanku.
"Enam bulan setelahnya. Nggak mungkin banget bisa terpenuhi tuh janji!"
"Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, Jin.", celetuk Yoongi.
"Manusia bisa terbang pakai baling-baling bambu?", tantangku.
"Apa urusan mereka dengan baling-baling bambu?!", seru Hoseok sewot.
Aku menyengir. "Nggak ada. Maksud aku, kemungkinannya kecil banget, guys. Gimana kalau setengah tahun setelahnya Jesse mati, atau Seline-nya jatuh dari lantai 4 terus kakinya patah? Mereka kan seharusnya, seenggaknya, tukeran nomer telepon. Jadi mereka bisa..—"
"Itu karena mereka percaya 'cinta', Kim Seokjin..!", erang Yoongi kesal. "Masa kamu nggak ngerti, sih, Jin..? Di situ seninya, indahnya, tujuan film itu dibuat. Mereka saling percaya satu sama lain. Mereka percaya cinta akan mempertemukan mereka lagi!"
"Aku kira pesawat yang bakal mempertemukan mereka lagi..", jawabku asal. "Kan tinggal di State, tapi janjian di Eropa."
"Busyet. Cape deh aku. Sekali lagi pura-pura bego, aku sumpahin kamu bego beneran, Jin!", seru Yoongi berisik.
"Loh, aku nggak pura-pura bego, Yoongi sayaang.. Aku bilang Jesse dan Seline yang bego."
Dan tidak kusangka-sangka ucapan Jungkook selanjutnya akan menohokku dalam.
"Sejak kapan kamu bisa nyebut nama karakter film dengan benar?", tanya Jungkook jahil.
"Hah?"
"Kamu, Kim Seokjin, biasanya cuma nyebut nama aktor pemainnya, bukan dengan nama karakter yang mereka mainkan.", kata Jungkook menggodaku. "Biasanya kamu bilang 'Itu si Ethan Hawke' atau 'Harusnya Keira Knightley-nya kan..'"
"Ah, cham! Film ini pasti menarik banget buat kamu, ya, Jin?", seru Yoongi sambil tertawa.
"Ng-ngomong apa, sih, kalian? Nggak ngerti aku.."
"Ahaha! Jin sebel karena ending filmnya nggak seperti yang dia duga~ Nggak seperti film romantis kebanyakan, yang ini nggak ketebak, beda, dan dia nggak suka~", Jungkook berdengdang.
"Kalau dia nggak suka, kenapa bisa hapal nama karakternya?", tanya Hoseok. Ternyata dia masih cowok. Kadang nggak paham sama obrolan cowok jadi-jadian.
"Well.. Mungkin dia nggak suka, tapi juga suka. Semacam benci tapi rindu gituuu.", Yoongi membuat pernyataan paling najis pada malam ini.
Huh. Sekarang mereka mendiskusikan tentang aku, seolah-olah aku tidak ada di sana. Aku mendengus dan menarik selimut yang sedari tadi kupegang hingga menutupi wajahku. "Bodo! Aku sebel dengan akhir menggantung, ganggu!"
"Kamu nggak tidur sekarang deh kayaknya, Jinnie..", kata Jungkook seraya menyibak selimutku.
Perlahan aku membuka mataku dan menatap Jungkook sambil menimbang-nimbang. Apa sebaiknya aku menyiram eyeshadow Christian Dior-nya dengan soda atau memberi sedikit tinta di stiletto Prada-nya yang baru.
"Dan,.. bisakah kamu memberikan alasan kenapa aku nggak boleh tidur?"
"Karena kamu sebegitu nggak sukanya sama ending dari 'Before Sunrise', kamu mesti nonton film yang satu lagi!", pekik Jungkook senang.
"No way…"
"Jadi kamu nggak penasaran enam bulan sesudahnya Jesse sama Seline bakal ketemu lagi apa nggak..?"
"Memangnya bakal diceritain di film yang satu lagi?", jawabku. Ternyata aku tertarik.
Jungkook sok misterius, dia tidak menjawab pertanyaanku dan hanya memasukkan keping DVD berjudul 'Before Sunset' ke dalam player.
"So, akhirnya Jesse menulis sebuah buku dan ke Paris untuk promosi, lima tahun setelah mereka berpisah. Seline yang mengetahui hal itu dateng ke reading bukunya Jesse yang ternyata menceritakan pengalaman Jesse satu malam di Vienna bersama gadis Perancis, which is Seline."
Aku menarik napas sebentar sebelum melanjutkan lagi.
"Setelah itu mereka memutuskan untuk ngobrol-ngobrol sebentar tentang perkembangan masing-masing. Jesse sudah menikah dan Seline tetap single. Ternyata, enam bulan setelah perpisahan mereka, cuma Jesse yang sampai di Vienna. Nenek Seline meninggal hari itu, sehingga Seline nggak mungkin pergi ke Vienna walaupun dia sudah siap."
Aku masih berkoar sambil memelototi ketiga makhluk yang menatapku antusias (Jungkook), malas (Hoseok) dan jahil (Yoongi).
"Dia membiarkan Jesse luntang-lantung beberapa hari, menyangka kalau Seline memang nggak mau ketemu dia lagi. Padahal, Seline bukannya nggak pengen, tapi lagi kena musibah. So, sekali lagi aku merutuki kebodohan mereka ngga bertukar nomor telepon atau email!"
Hoseok mengangkat bahu sementara Jungkook menatapku dengan mata jenaka. Iya, aku suka sama dua film itu, terus kenapa?!
"Akhirnya, terungkap bahwa, ternyata, they actually never did stop missing each other. Satu lagi penderitaan yang terjadi karena kebodohan mereka sendiri. Abis itu, mereka mampir ke rumah Seline dan ngedenger Seline nyanyiin lagu ciptaannya buat Jesse. Laluuu, Jesse ketawa ngeliatin Seline dengan tatapan bodohnya—"
"Tatapan cinta.", koreksi Jungkook.
"Ya, dan itu bodoh!", ujarku sewot. "Terus, Seline bilang 'You are gonna be late for your plane.', dan Jesse balas 'I know.'. The end. Kkeut. Tamat. Finish. Gitu doang?"
"Ne.", Jungkook mengangguk semangat.
"Jadi, nggak ada kejelasan kalau mereka kembali bersama atau ngga sama sekali..?"
Jungkook, Yoongi, dan Hoseok menggeleng serempak.
Aku menepuk dahiku putus asa. "Nggak bisa gitu, dong..! Itu sama aja mereka ngejawab pertanyaan dengan pertanyaan lain!"
"Bagus, ya, filmnya?", goda Hoseok.
Aku mengangkat bahu. "They are made for each other, then they should be together!"
Tiga kurcaci menyebalkan di hadapanku bertepuk tangan heboh.
"Apaan, sih, tepuk tangan segala. Lebay tahu 'gak?", tanyaku sebal. "Memangnya kenapa kalau aku punya teori kayak begitu? Menurut aku, kalau udah nemu orang yang cocok, ya jalanin!"
"It's so not you..", sahut Yoongi.
"People changes, Yoongs..", lirih Jungkook.
"People changes or people are running out of alphabet?", tambah Hoseok culas. Dia bisa membaca pikiranku, sialan.
"Tapi aku serius. Kalau pada akhirnya aku harus berhenti, ya aku berhenti.."
"Dengan seseorang berhuruf awal T, ya?", tanya Yoongi.
"T kan huruf sakral,", jawabku. "T itu true… Bisa berarti true feeling, true sensation, true affection.."
Aku terkejut mendengar kata-kataku sendiri. Memangnya aku sedang mabuk? Nggak mungkin, karena Jungkook sama sekali nggak menyediakan alkohol. Atau jangan-jangan aku sudah gila? Sepertinya, sih, begitu. NG! Cut it out! Tapi, bukannya berhenti, mulut tololku ini malah melanjutkan, "So, it is True Love."
Sekarang mereka bertiga cekikikan menghinaku.
Kualat di malam tahun baru.
Apes banget, sih, aku..
TBC
ORUL2's corner: karakter yoongi agak ooc ya di sini haha. lalu untuk kookie, bayanginnya kookie masa-masa baru debut ya bukan yang sekarang. di sini aku jelaskan kalau yang seme hanya hoseok lol. see you in the next target, babies~
