Noel is back...
Maap updatenya kelamaan..... Maklumlah, UN membayangi.... Maap Azuka-senpai! Noel khilap! Untuk semuanya makasih atas reviewnya! Noel nggak nyangka bakal ada yang suka cerita ini... Menurut Noel aneh , sih.
Disclaimer : Semuanya milikku! (digampar) kecuali Naruto dkk, hehehehehehehehehe
"Lepasin gue!".
Sasori menatap kesal ke arah 'tunangannya' yang terikat di sudut kamar. Sakura Haruno benar-benar gadis yang paling sulit untuk dihadapi. 'Bahkan dengan tangan terikat ia bisa menghancurkan jendela kamar hanya dengan suaranya', Sasori mengernyitkan kedua dahinya, 'dan yang terburuk adalah, gadis ini malah terlihat sangat seksi saat melakukannya'. Ia tersenyum sekarang.
"Apa lo liat-liat?!". Sakura merasa muak dengan lelaki berambut merah di depannya. Memang Sasori itu memiiki wajah yang... ehm.... sangat di atas standar. Tapi mendapati dirinya diikat dan di'observasi' dari atas sampai bawah itu... sikap yang... memalukan? Bodoh? Arrogan?
Oh, iya....
Mesum.
"Aku hanya melihat, apa melihat sekarang melawan hukum?". Jawabnya tenang, "Nggak! Tapi menculik dan mengikat seorang gadis itu melawan hukum!". Kalau saja tangan dan kakinya tidak diikat mungkin saja Sakura bisa menonjok Sasori. "Kau tidak bisa bicara ya kalau tidak berteriak?". Sasori meneguk tehnya lalu menatap Sakura lagi dengan sikap tenang. 'Andai aja tanga gue nggak diikat'. Batinnya.
"Eh, lo jelek! Lo maunya apa, sih!?". Sasori mengernyitkan dahinya untuk kedua kalinya hari ini, belum pernah ada orang di dunia ini yang bilang kalau ia jelek.
Sasori berdiri dan berjalan dengan lambat ke arah Sakura. Sekarang jaraknya dengan Sakura hanya tiga langkah. "Ma, mau apa lo?!". Sakura merasa keadaanya terancam. Sasori melangkah sekali lagi membuat keringat dingin mulai mengucur dari dahi Sakura. "Kau sebenarnya cantik, menarik, cerdas, kuat". Sasori melangkahkan kakinya membuat jarak di antara Sakura dan dirinya menyempit.
"Sayangnya..". Sekarang Sasori berada sangat dekat dengan Sakura, Sasori bahkan membungkukkan tubuhnya. Sakura menatap tajam Sasori.
"Kau terlalu kurus...". Lanjutnya lagi. Sakura dapat merasakan nafas Sasori di wajahnya, tanpa diminta, pipinya mulai memerah. 'Ya tuhan! Dia ini ganteng banget.... ah! Apa yang gue pikirin sih! Demi tuhan! Cowok ini penjahat!'. Batinnya diam-diam.
"Untuk melahirkan anak". Sasori sekarang menjauhkan wajahnya dari wajah Sakura. Tersenyum dengan penuh ke aroganan.
Sakura terdiam. Lalu mulai mencerna kata-kata Sasori tadi, "anak? Anak siapa?". Tanyanya mulai merasa bingung. Sasori menaikkan sebelah alisnya. "Anak siapa?". Ulang Sasori. Sakura mengangguk-angguk.
"Ya, anak kita lah". Jawabnya enteng.
Dan siang itu, kazekage Suna yang sedang menikmati makan siangnya bersumpah ia mendengar teriakan seorang wanita yang sangat familiar.
-
-
Ino Yamanaka mulai gerah dengan pemuda tampan dihadapannya. Tentu ia suka dengan pemuda tampan. Tapi tidak seorang maniak yang sepertinya adalah seorang M* dan seorang bajingan yang tidak dapat bicara tanpa mengeluarkan satu saja kata 'sisipan' dalam kalimatnya.
"Apa yang lo lihat jalang!".
Ino sekarang bukan gerah lagi, tapi benar-benar panas. Ini yang ke-13 kalinya ia memanggilnya 'jalang'. Jujur saja, tidak ada wanita yang suka disebut seperti itu. 'Kalo aja Sakura ada disini dia pasti udah nendang bagian 'vital' si rambut klimis ini'. Pikir Ino. 'Dan kalau saja Hina ada disini,d dia pasti udah nangis... atau parahnya lagi... pingsan'.
"Aaaakh! Jangan sentuh itu jalang!". Pekiknya ketika tangan Ino, secara tidak sengaja, menyentuh salah satu patung aneh di samping tempat tidur. 'Mungkin lebih baik kalau ada Temari disini untuk menerbangkannya atau Tenten ada disini untuk... membunuhnya?'. Ino menatap lelaki di depannya dengan sebal.
"Gue punya nama asal lo tau!". Ino berkata (oke, setengah berteriak) dengan pedas. Lelaki itu menatap Ino sebentar dengan tatapan yang seolah berkata kenapa-sih-emangnya-gue-mah-juga-tau. Ino memutar kedua bola matanya dan mendecak. "Berhenti manggil gue jalang!".
Hidan menatap Ino sebentar, keterkejutan tertulis di raut wajahnya. Lalu ia menatap ke arah lain. "Maap....". Ia berkata kecil. Ino menatap si rambut klimis bingung, mudah banget minta maapnya? Dia kira cowok ini bakal tambah nyolot.
"Gue... gue Hidan". Lelaki itu mengulurkan tangannya ke arah Ino tapi wajahnya masih ngeliat arah lain. Awalnya sih Ino kagak connect, tapi dalam hitungan detik ia mulai mengerti apa yang terjadi. Si Hidan ini sedang malu.
Dan tanpa sadar Ino tersenyum. Lalu menyambut tangan si rambut klimis. "Ino". Katanya dengan sedikit lembut.
Setelah berjabat tangan Hidan langsung melepaskan tangan mereka, ia mencoba menyembunyikan wajahnya tapi Ino dapat semburat warna merah muncul di pipinya. 'mungkin dia tidak sejahat yang gue kira'. Ino tertawa kecil sehingga membuat tangannya lagi-lagi, tanpa sengaja, menyentuh patung tadi. Hidan langsung berbalik dan menatap Ino dengan ngeri.
"Kubilang jangan sentuh itu!".
Ino mengernyitkan dahinya, "Kenapa sih lo? Cuma nyenggol juga! Seolah-olah gue ini temen pshyco berambut pirang elo yang suka ngeledakin barang aja!". Hidan terjatuh dari pinggir tempat tidur. "Kenapa? Gue cuma becanda kok". Ino berkata cuek. Hidan hanya terdiam....
'Andai aja lo tau....'.
-
-
"ACCHO!".
Deidara menggosok hidungnya yang setenagah mancung. Aneh, kenapa dia tiba-tiba bersin? Dei kembali menatap gadis di hadapannya yang sedang bercerita.
Ya, bercerita.
Gadis ini bahkan tidak terlihat takut sedikitpun. Begitu bangun Tenten langsung berteriak, bukan karena takut, tapi karena terkejut. Hal yang pertama kali dia teriakan adalah : "Ya, ampun! Ino!? Kok, badan lo jadi datar?!". Udah gitu cewek berambut cokelat ini langsung menabrakan tubuhnya dan meraba-raba tubuh Deidara (Hayo! Jangan mesum, ya!).
"Nah, ini Lee dan ini Neji". Katanya sambil menunjuk sebuah foto di hadapin Deidara. Deidara melihat manusia yang ada di dalam foto. Ada 4 orang yang ada di dalam foto, Tenten, seorang gadis berambut cokelat dan mata putih, dua orang yang sangat familiar... dan aneh. "Ini siapa un?". Tanyanya menunjuk cewek berambut panjang.
"Oh, itu Neji". Jawabnya ceria. "Hm... Namanya kayak nama cowok, ya un". Gumamnya sambil menatap si Neji ini. "Loh, memang dia cowok". Tenten menatap Deidara bingung. "Oh.. cowok...". Deidara tersenyum.
"Tunggu.... Cowok? Gadis manis ini cowok?". Deidara mebelalakan matanya, Tenten tertawa kecil. "Elo sendiri cowok yang manis". Deidara memajukan bibirnya, "gue nggak manis un! Gue macho!". Tenten tertawa terpingkal-pingkal mendengar hal ini. "Masa' ?". Tenten menggoda Deidara yang bibirnya tambah maju. "Gue macho, un!". Tenten menaikkan sebelah alisnya, "buktinya?". Tanya Tenten, niatannya cuma becanda. "Suara gue udah berubah un!". Tenten langsung tertawa sekali lagi. "Ke-kenapa? A-ada yang lucu?". Tenten menggelengkan kepalanya, "nggak, cuma lo lucu aja". Deidara tambah memajukan bibirnya. "Gue nggak lucu un!".
"Iya, deh, iya.. Dei-chan nggak manis atau pun lucu". Deidara melipat kedua tangannya, "hu-uh! Jangan panggil gue Dei-chan! Itukan nama cewek!". Tenten tertawa kecil lalu mengelus kepala Deidara. "Iya deh, jadi maunya dipanggil apa?". Deidara melirik Tenten dengan wajah merah. "D-dei-kun". Katanya gagap.
"Baiklah, D-dei-kun". Deidara melebarkan matanya, "Tenten!". Tenten tertawa keras sampai-sampai terguling di tempat tidur.
-
-
"Bunny! Kau bangun!". Hinata sangat-amat-somat (?) terkejut ketika seorang makhluk bertopeng oranye menyergapnya tiba-tiba ketika ia baru bangun tidur. "Tobi sangat kesepian waktu Bunny tidur! Biasanya kan Tobi berdua sama Deidara-senpai, tapi sekarang karena acara kawin-kawinan ini kamar Tobi dan senpai di pisah".
Hinata hanya dapat mengedipkan matanya, lalu, setelah menyadari dimana posisinya, wajahnya langsung memerah. "A-a-a-apa". Hinata mencoba mengatakan sesuatu, tapi kata-katanya itu seperti tenggelam kerongkongannya. "Bunny, wajahmu merah sekali! Apa Bunny sakit?". Hinata jadi makin gugup.
"Ma-maaf, bi-bisa kau me-menyingkir da-dari.. da-dari..". Kata Hinata dengan kegagapan stadium 4. "Bunny benci Tobi?". Tanya Tobi dengan puppy eyes terbaiknya, yang membuat Hinata merasa iba. "To-tobi?". Hinata menunjuk Tobi, mencoba berkata 'namamu Tobi?'.
"YA! Ini Tobi". Jawabnya riang. "T-tobi ini yang tadi ma-makan be-bekalku kan?". Tobi dengan semangat berlebih mengangguk lagi. "T-tobi, di-dimana ini?". Hinata mulai merasa terbiasa dengan pelukan Tobi. "Ini di markas Akatsuki!". Hinata mencoba mengingat-ingat kata itu, kayaknya familiar sih. "A-akatsuki?".
"Ya, jadi ceritanya leader-sama nyuruh Tobi buat nyulik cewek-cewek Konoha buat diperistri sama anggota Akatsuki! Biar Akatsuki nggak punah!". Hinata sekali lagi mencoba mencerna kata-kata Tobi. "Ng-nggak punah? B-bagaimana?". Tanya Hinata kebingungan.
"Kata leader-sama sih.. em... ka-kawin? Kawin!". Tobi tersenyum senang (nggak tahu juga, sih, kan pake topeng). "Kawin?". Ulang Hinata tanpa gagap. "Ya, buat anak!". Awalnya, sih, Hinata nggak nangkap, tapi lama-lama wajahnya tambah lama tambah merah.. Hinata menangkap maksudnya.
"Bunny! Kok, tidur lagi!".
-
-
Sementara itu di Konoha....
"Hinata-sama!". Seorang lelaki tampan dengan rambut cokelat panjang memanggil adik perempuannya yang tidak keluar dari kamarnya sejak kemarin. "Hinata-sama!". Lelaki yang kita semua ketahui sebagai Neji ini membuka kamar adiknya itu dan menemukan sepucuk surat di tempat tidur Hinata. "Loh? Kok, Hinata-sama nggak ada".
Neji membuka surat itu dan membacanya, "kok, tulisannya jelek banget". Katanya curiga. Isinya kayak gini :
Dear siapa aja yang baca,
Hinata pergi buat liburan sama Sakura, Tenten, Ino dan Temari. Jangan khawatirin Hinata, ya. Hinata nggak diculik, kok. Apalagi diculik dengan cowok bertopeng oranye bernama Tobi yang anak baik. Sakura, Tenten, Ino dan Temari juga nggak diculik untuk kawin sama anggota Akatsuki, kok. Cuma liburan! Suer!
-ciao!
Neji mengernyitkan dahinya, "kok, mencurigakan banget sih isi suratnya". Neji menaikkan sebelah alisnya. "Ya, sudahlah". Katanya cuek pergi meninggalkan kamar Hinata (tega amat).
-
-
"Baa-chan! Apa kau melihat Sakura-chan?". Cowok berambut pirang dan kulit cokelat melompat dari luar jendela ke dalam ruangan hokage. Tsunade, hokage kelima melirik makhluk yang telah merusak kedamaian itu dengan datar.
"Liburan". Jawabnya singkat. "Liburan? Kemana? Kapan? Dengan siapa?". Tsunade menatap cowok yang pastinya, Naruto, dengan kesal. "Mana kutahu! Dia hanya meninggalkan surat untukku". Naruto memutuskan untuk menanyakannya ke Ino. "Oke, thanks Baa-chan!".
"Terserahlah, yang penting kau pergi".
-
-
Naruto telah pergi ke rumah Ino, Tenten dan Hinata dan menemukan bahwa mereka semua pergi liburan dengan meninggalkan sepucuk surat, yang menurut Naruto, jelas-jelas mencurigakan. "Kemana, sih, mereka?". Naruto menggerutu sendiri, "eh! Nak, Naurto!". Sapa seorang ibu-ibu setengah baya yang Naruto kenal sebagai tetangga Sakura. "Ya, bu?". Naruto berkata sopan. "Nak Sakura kemana, ya? Kok, nggak pernah keliatan lagi?". Naruto mengernyitkan alisnya. "Loh? Ibu nggak tau kalau Sakura-chan lagi liburan?". Ibu itu menggelengkan kepalanya, "nggak tuh". Naruto tambah menggaruk pipinya, "aneh, selama ini kan kalau mau kemana-mana Sakura-chan selalu nitip kunci sama ibu".
"Makanya ibu nanya ke nak Naruto". Naruto sekarang menggaruk-garuk kepalanya. "Kapan terakhir kali ibu ngeliat Sakura?". Ibu itu berpikir sebentar. "Kemaren, waktu... oh! Waktu orang aneh bertopeng oranye nanyain rumah nak Sakura!".
"Orang aneh bertopeng oranye?".
-
-
Sedangkan saat itu di Suna
"Kankurou! Dimana Temari?". Kazekage Suna itu mulai tidak tenang dengan ketidakhadiran kakak perempuannya. "Panggil aku kakak! Kau memang tidak ada manis-manisnya!". Gaara hanya diam, seperti biasa.
"Temari pergi liburan dengan teman-temannya". Kata Kankuro sambil mengelap boneka-bonekanya. ".........". Kankurou menatap adik berambut merahnya itu. "Iya! Aku akan membuatkan mu cokelat panas! Jangan menatapku seperti itu!". Gaara diam sebentar. "Lebih baik aku mati..."
"Hei! Maksudmu!?".
Maap ya humornya dikit!
Noel agak bingung mau nulis yang mana dulu sih, silahkan request mau pairing mana yang akan muncul di chapter berikutnya lewat review! Request terbanyak akan Noel dahulukan!
