_KEEP_ON_SMILING_

author : Dandy

disclaimer : Tuhan, diri mereka, n ortu

mereka

main cast : Yunjae n other

genre : Angst(mb), family(mb), romance(mb)

n other

warning : Gay, Yaoi, BL, Sho-ai, typo(?), dkk. Gak suka

jangan baca. N yang bersedia RCL qu terima,

n gak tau bisa lanjut ato gak nich ff ^^V

kufufufufufu~~~~

[A/N : murni dari otakqu, gak kopas dari

mana"]

summery : terus tersenyum menerima apa

yang orang katakan tentangku.

_Chapter 3_

Sore menjelang, acara penanaman pohon pun sudah selesai dan saatnya makan malam. Tapi Yunho masih tetap mencari namja cantik itu, dia belum menemukannya. Namja cantik itu seakan hilang diterbangkan angin.

"Kemana ya?" kepala Yunho masih celingukan mencari keberadaan Jaejoong "Apa mungkin dia sudah ada di villa ya? Lebih baik aku kembali saja." ujarnya. Dia pun kembali ke villa dan menuju ruang makan bersama yang lain.

"YUN!" teriak Yoochun bersama Changmin dan Junsu di meja makan.

"Chun, kalian disini?" tanya Yunho untuk berbasa basi.

"Tentu kami disini hyung, sekarang makan malam." kata Changmin untuk mewakili teman-temannya.

"Hehehe," tawa Yunho. "Su, kau habis menangis ya?" tanya Yunho duduk di dekat Junsu.

"A..aniya.." kata Junsu canggung.

"Tadi Junsu terpeleset di toilet, jadi dia menangis." sahut Yoochun cepat.

"Kau masih tetap cengeng." ucap Yunho mengacak rambut Junsu.

"Hyung!" teriak Junsu.

"Oh ya. Apa kalian melihat Jaejoong?" tanya Yunho dan raut wajah YooSuMin berubah mendengar perkataan Yunho.

"Yun, kau masih ingat dengan perkataanku waktu itukan." ucap Yoochun datar.

"Ne, aku masih ingat. Tapi aku tidak akan percaya begitu saja. Sebelum dia sendiri yang mengatakannya padaku." kata Yunho tak kalah datar dari Yoochun.

"Hyung, kenapa kau keras kepala!" Changmin membentak kakaknya.

"Haahh~ kalian bisa bertanya pada Junsu apa yang membuat aku ingin sekali bersamanya." Yunho menghela nafas. "Aku akan pergi mencarinya." lalu pergi dari tiga namja itu.

Sepeningalan Yunho. Yoochun dan Changmin menatap penuh selidik ke arah Junsu.

"Aku tidak mau membahasnya." ujar Junsu lalu pergi meninggalkan YooMin.

Jam sekarang menunjukkan pukul 8 malam, memang mungkin tidak terlalu malam. Tapi perasaan Yunho tidak enak sekarang saat memikirkan Jaejoong, sejak namja cantik itu keluar kamar. Yunho tidak bertemu dengannya.

Sekarang Yunho ada di depan Villa, dia berjalan menuju taman di dekat Villa, mencari sosok namja cantik yang mungkin sudah mencuri hatinya.

Meong~

Yunho mendengar suara Jiji, kucing peliharaannya Jaejoong. Dia bisa melihat kucing itu berlari kearahnya.

"Jiji~ya? Kenapa kau sendirian? Dimana Jaejoong?" tanya Yunho bertubi pada kucing peliharaannya Jaejoong itu.

Tapi bukannya menjawab, Jiji berlari menjauhi Yunho. Berniat memberi isyarat pada Yunho untuk mengikutinya.

"Jiji~ya, tunggu!" Yunho pun mengejar Jiji, perasaannya tidak enak.

Cukup lama Yunho mengikuti Jiji, dia berhenti di sebuah rumah kecil atau bisa disebut gubuk. Dia melangkah masuk ke dalam gubuk yang sudah tua dan lapuk itu.

"Jiji~ya, kau dimana?" tanya Yunho, disana gelap, hanya cahaya bulan yang menerangi.

Meong~ meong~

Yunho yang mendengar suara Jiji disudut gubuk pun mengambil handphonenya untuk menerangi ada apa disudut gubuk itu.

Matanya membelalak melihat apa yang ada didepannya.

"Jaejoong~ah!" teriak Yunho mendekati tubuh Jaejoong yang diikat tambang dan mulutnya di tutup lakban. Wajahnya terlihat sangat pucat dan tubuhnya basah kuyup.

"Jae~ah, kau mendengarku? Hay, buka matamu." ucap Yunho setelah melepas semua ikatan dan lakban, dia menepuk-nepuk pipi Jaejoong pelan. Berniat membangunkan namja cantik itu.

Perlahan mata besar indah itu terbuka, menatap wajah Yunho remang-remang.

"Syukurlah kau sadar. Kenapa kau bisa ada disini? Dan siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Yunho, tapi tidak direspon oleh Jaejoong.

"Uhuk..uhuk..." Jaejoong terbatuk, perlahan darah mengalir disudut bibirnya. Yunho melihat itu melebarkan matanya.

"Jae..," kata Yunho lirih, dia gemetar melihat itu. Pikirannya seakan ragu untuk menolong Jaejoong atau meninggalkannya karena mungkin benar kalau Jaejoong memiliki penyakit itu.

'A..aniya..Yunho, dia menbutuhkanmu sekarang, kalau kau meninggalkanya sendiri disini, dia bisa mati. Lihat wajah pucatnya.' batin Yunho.

"Jae, bertahanlah. Aku akan menolongmu." ujar Yunho melepas jaketnya lalu memakaikannya ke Jaejoong. Setelah itu ia menggendong Jaejoong dipunggunnya. "Jiji~ya, ayo kembali ke Villa." ucap Yunho. Mereka pun berlari ke Villa untuk mencari pertolongan.

'Jaejoong~ah, siapa yang telah melakukan ini semua padamu?' batin Yunho.

Yunho berlari keruangan khusus guru, nafasnya sudah ngos-ngosan. 'Jae, kumohon. Bertahanlah.' batin Yunho, dia merasakan detak Jantung Jaejoong dipunggungnya melemah dan nafas dilehernya hampir tidak ada.

"Songsaengnim!" teriak Yunho membuka pintu ruang khusus secara paksa. Guru-guru yang sedang ada disana menatap Yunho yang sedang mengatur nafasnya.

"Songsaenim... Tolong..." ucap Yunho melemah, dengan wajah yang memelas.

Guru wali kelas Jaejoong dan Yunho mendekati Yunho.

"Apa yang terjadi?" tanya wali kelas Yunho, Park Jungsoo.

"Apa yang terjadi dengan Jaejoong?" kali ini wali kelas Jaejoong yang bertanya, Kim Jongwoon.

"Aku menemukannya disekap dirumah kecil yang tak jauh dari sini." ucap Yunho.

"Lebih baik hubungi rumah sakit, wajah Jaejoong pucat sekali dan..," ucapan Jongwoon atau Yesung itu berhenti melihat darah yang mengalir dari mulut Jaejoong dan membasahi kaos yang Yunho kenakan.

Jaejoong sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat dari Villa. Yunho dan kedua wali kelas yang bertanggung jawab atas keadaan Jaejoong sekarang.

"Aku sudah menghubungi rumah Jaejoong, tapi belum ada yang mengangkat telefonnya." ujar Yesung membuka kamar rawat Jaejoong.

"Yunho, tugasmu disini sudah selesai. Kembalilah ke villa, sekarang biar kami yang menjaga Jaejoong." ucap Jungsoo atau Leeteuk.

Yunho mengeleng, dia memikirkan apa yang dia dengar saat melewati ruangan dokter yang tadi memeriksa keadaan Jaejoong. Yunho memandang sendu Jaejoong yang sekarang menggunakan masker oksigen untuk membantunya bernafas.

"Jae..." ucap Yunho lirih. 'Siapa yang berbuat ini padamu? Jika aku menemukan orang itu, aku tidak akan melepaskannya.' batin Yunho, marah.

|_Flashback_|

"Jaejoong~shi mengalami masa kritis sekarang." ucap dokter yang baru saja memeriksa Jaejoong, kedua wali kelas itu mendengarkan.

"Boleh saya tau, kenapa keadaan Jaejoong bisa seperti?" tanya Leeteuk.

"Jaejoong shi mengidap penyakit Hemofilia, dan seharusnya dia tidak boleh kedinginan dan terluka, saya melihat luka di punggunnya dan wajahnya. Itu akan memperburuk keadaannya." jelas dokter itu.

Yesung dan Leeteuk mengerjapkan matanya mendengar apa yang barusan mereka dengar.

"Oh ya dokter, Jaejoong tidak mengidap HIV kan?" tanya Yesung, Leetuk memandang binggung Yesung.

"Kami tidak menemukan gejala kalau Jaejoong shi mengidap HIV."

Yesung menghembuskan nafas lega dan Leeteuk memandang aneh Yesung.

Tanpa mereka sadari, seorang Jung Yunho tengah mendengar apa yang tiga orang didalam ruang dokter itu bicara.

"Jaejoong tidak mengidap HIV, semua kabar itu bohong. Tapi kenapa Jaejoong tidak menyangkalnya? Kenapa dia diam saja?" tanya Yunho lirih entah pada siapa.

_End Flashback_

"Apa orang rumah Jaejoong sudah mengangkat telefon darimu?" tanya Leeteuk yang melihat Yesung menghela nafas.

"Belum." jawab Yesung singkat.

Lamunan Yunho barusan buyar karena mendengar apa yang dua orang di dekatnya katakan.

"Songsaemin, boleh saya tau? Jaejoong tinggal dengan siapa?" tanya Yunho.

"Kami belum pernah berkunjung kerumahnya, kami tidak tau." jawab Yesung.

"Boleh saya tau alamat rumahnya?" tanya Yunho lagi.

"Aku tidak membawa buku biodata siswa sekarang, kalau kau mau. Kau datanglah keruanganku saat kita kembali ke sekolah."

Yunho mengangguk mendengarkan penjelasan Yesung.

"Yunho, kau benar ingin disini?" tanya wali kelasnya.

Yunho mengangguk lagi.

"Kalau begitu, kami titip Jaejoong. Karena hanya satu orang yang boleh menemani Jaejoong, kami kembali ke villa dulu, besok pagi kami akan datang kesini lagi." jelas Leeteuk.

"Iya, hati-hati di jalan songsaenim." kata Yunho membungkuk.

Wali kelas Yunho dan Jaejoong pun keluar dari ruang rawat Jaejoong, sekarang hanya ada Yunho dan Jaejoong saja.

"Jae, cepat bangun dan katakan... Siapa yang telah melakukan semua ini padamu..," ujar Yunho memegan tangan Jaejoong erat.

"Ummaaa~" teriak seorang namja kecil yang berlari kearah seorang yeojya cantik.

"Wow! Bersemangat sekali," senyum yeojya cantik itu mengendong namja kecil.

"Lihat umma, Joongie memetik bunga untuk umma di taman bunga yang tadi Joongie kunjungi bersama teman-teman dan songsaenim." kata namja kecil bernama Joongie aka Jaejoong memberikan beberapa tangkai bunga keibunya, lalu mencium pipi ibunya.

"Gomawo, Joongie baik sekali." yeojya cantik itu membalas mencium pipi cubby Jaejoong.

"Hahahaha..," tawa imut Jaejoong.

"Lalu mana bunga untuk appa?" tanya seorang namja tampan yang berjalan ke arah Jaejoong.

"Hahahaha... Appa tidak dapat, appa tidak mencium Joongie..," ucap Jaejoong kecil imut.

Cup~

"Sudah, mana..," tagih namja tampan itu menagih Jaejoong kecil.

"Hahahaha...ini..," tawa Jaejoong kecil memberikan setangkai bunga ke ayahnya.

"Kenapa cuma satu? Umma diberi banyak, kenapa appa cuma di kasih 1?" canda namja tampan itu cemberut.

Cup~

Jaejoong kecil mencium bibir ayahnya. "Hehe... Itu untuk mengantikan bunganya." senyum Jaejoong, manis.

"Anak appa nakal ya..," ucap namja tampan mengelitik pinggang Jaejoong sudah tidak di gendong ibunya.

...,...

"APPAAAAAAAA!" teriak Jaejoong kecil melihat kejadian yang sangat cepat itu, darah membasahi jalan. Jaejoong kecil terisak tersengal melihat tubuh ayahnya bersimbah darah dan tidak bergerak. Ibunya menangis histeris, lalu tak berapa lama ibunya pingsan.

...,...

"Kenapa kau masih disini! Cepat buatkan makan malam! Mau kupukul lagi kau!" bentak yeojya cantik, ibunya Jaejoong kecil.

Jaejoong tidak berarbicara, dia cepat-cepat berlari ke dapur.

"Tentu sayang, nanti malam kita akan berdua saja. Tapi sebaiknya jangan dirumahku ne, disini ada penganggu." kata yeojya cantik pada seseorang diseberang telefon, Jaejoong bisa mendengar itu, dia menghela nafas panjang.

...,...

"Hay, aku dengar dia anaknya pelacur dipub yang sering dikunjungi hyungmu." kata seorang namja pada temannya.

"Ne, dia juga mengidap HIV... Hiii... Aku jadi takut." kata namja lain.

"Hiii...lebih baik jangan dekat-dekat...ayo pergi..,"

Jaejoong yang menunduk menyusuri koridor sekolahnya, Toho Junior School.

...,...

PLAKK!

"Jangan pernah kau memperlihatkan wajahmu lagi didepanku!" bentak yeojya cantik setelah memukul Jaejoong.

"U...umma..," Jaejoong memandang sendu ibunya.

"AKU MUAK MELIHAT KAU! KAU TELAH MEMBUNUHNYA! KAU MEMBUNUH SUAMIKU! PERGI!" bentakan keras itu membuat tubuh Jaejoong gemetar, ibunya yang dulu lembut sekarang telah menjadi sangat menyeramkan untuk Jaejoong.

"U...mma..," igau Jaejoong ditidurnya. Yunho melihat raut Jaejoong tidak tenang, menepuk pipi Jaejoong pelan.

"Jae, kau dengar aku? Jae, bangun Jae..,"

Perlahan mata besar itu terbuka, melihat kearah Yunho yang terlihat khawatir.

"Sun..bae..," kata Jaejoong lirih, perlahan air bening mengalir dari sudut matanya.

"Hay hay, kenapa menangis?" Yunho mengusap air mata Jaejoong lembut. "Apa ada yang sakit?" tanya Yunho.

Jaejoong tidak menjawab, dia masih saja terus terisak.

"Uljima, aku disini." ujar Yunho memeluk Jaejoong, membiarkan namja cantik itu sedikit tenang.

"A..aku bu..kan pembunuh...hiks..hiks..," isak Jaejoong tersenggal.

"Ne, kau bukan pembunuh... Kau namja kuat..," ujar Yunho mengelus punggung Jaejoong.

"Hiks...hiks...a..ku bukan...pembu..nuh..hiks..," Jaejoong terus saja mengumamkan kalimat itu.

"Stttt...sebaiknya kau istirahat ne..," kata Yunho lembut.

Jaejoong memejamkan matanya, walau masih terisak pelan.

#PAGI DI VILLA.

Changmin yang sudah membereskan barangnya, keluar dari kamarnya bersama Junsu. Dia berjalan melihat-lihat villa, karena jam 9 nanti siswa siswi Shin Ki akan kembali.

"Hmmm...disini nyaman sekali...," ucapnya menghirup nafas dalam, menikmati pagi yang sejuk di villa yang terletak disekitar pegunungan itu. Dia meregangkan ototnya untuk olahraga pagi. Dia memejamkan matanya untuk menikmati udara pagi ini.

Setelah cukup lama dia memejamkan matanya, dia membukanya pelan dan...

"KYAAAAAAAAAAAA!" teriak Changmin keras dan terjatuh terduduk.

Orang yang ada di depan Changmin menatap Changmin polos.

"Ka..kau mengagetkanku." ujar Changmin bangun.

"Mian, aku kira kau sedang tidur." jawab namja di depan Changmin.

"Ti..tidak apa.. Dan mana mungkin aku tidur ditempat seperti ini."

"Hm.. Aku pergi dulu." ucap namja itu.

"Tu..tunggu..," cegah Changmin memegan lengan namja itu.

"Ada apa?" namja itu menoleh.

"Ka..kau... Kyuhyunkan?" tanya Changmin gugup, untuk memastikan.

"Ye." jawab Kyu singkat.

"Kau tau aku?" tanya Changmin, berharap.

"Em? Kau Changmin dari kelas 2-A, benar?" tebak Kyu setelah berfikir sebentar.

"Hehehe.. Kau benar. mau jalan-jalan?" tanya Changmin.

Kyu diam menatap Changmin.

"A..ah! Ji..jika kau tidak mau tidak apa.." ujar Changmin gugup.

"Boleh deh. Ayo."

Changmin memandang Kyu tidak percaya, dia akan jalan dengan Kyun?

"Kau mau?" tanya Changmin memastikan.

"Ne, kalau kau tidak jadi aku akan kembali."

"Ani ani, ayo!" Changmin langsung menarik tangan Kyu tanpa sadar.

Kedua evil itu berjalan-jalan disekitar villa. Kadang-kadang tertawa, tapi tidak tau apa yang ditertawakan.

"Kyu, ayo foto." ajak Changmin.

"Untuk apa?" tanya Kyu binggung.

"Hari inikan kita terakhir di villa ini, dan aku ingin ada kenang-kenangan disini." ujar Changmin. Padahal bukan itu tujuannya berfoto bersama Kyu.

"Baiklah."

Mereka pun berfoto dengan berbagai pose. Kadang Changmin sendiri, kadang Kyu sendiri atau kadang mereka pose berdua. Mereka pun tertawa melihat hasil potretan mereka, seakan mengejek satu sama lain.

"Kau sudah menghubungi Yunho hyung?" tanya Junsu yang ada di kamar Yoochun.

"Sudah, tapi tidak diangkat. Su, kenapa kau memanggil Yunho ada Hyungnya? Tapi memanggilku tidak ada? Aku kan kakak kelasmu." keluh Yoochun cemberut.

"Suka-suka aku mau manggil kau apa, aku lebih suka memanggilmu Jidat.." kata Junsu tanpa dosa.

"AISH!"

"Ayo keluar, senuanya pasti sudah ada didepan."

"Kau tidak mau cari Yunho?" tanya Yoochun.

"Aku sudah memutuskan akan melupakannya dan mencintai orang yang benar-benar mencintaiku." Junsu tersenyum lembut pada Yoochun.

Wajah Yoochun bersemu merah melihat senyuman itu. Junsu berjalan keluar kamar.

"Bolehkah aku menjadi orang yang mencintaimu?" tanya Yoochun berbisik sangat pelan.

Junsu menoleh menghadap Yoochun yang masih menatapnya "Kau mengatakan sesuatu Jidat?" tanya Junsu.

"A..ani... Dan aku bukan JIDAT!" kata Yoochun gugup dan berteriak pada kata 'jidat'.

"Eu kyang kyang.. Kau itu jidat dan seterusnya seperti itu." tawa Junsu.

"Aish!" Yoochun berjalan mendekati Junsu lalu merangkul pundaknya dan mengacak rambut si lumba-lumba.

"Jidat! Jangan merusan rambutku!" ucap Junsu marah.

"Biarin! Weekk :p" Yoochun menjulurkan lidahnya, mengacak rambut Junsu lalu berlari.

"YAH! YAH! Jidaaatttt!" teriak Junsu berlari mengejar Yoochun.

_chapter 3 End_

berturut endingnya YooSu... Kufufufufu XD

MIANNN! *bow* untuk semuanya...

Yang kena tag, tentang cerita gaje, angst yang gak kerasa, cerita semaunya sendiri, romance gak romantis, cerita sakaratul maut(?), bikin ngantuk, muntah2, dkk... Mian ne *bow*

RCL? ^=^V