"Pesta dansa?" Tangan Rio berhenti bekerja. Namun detik selanjutnya ia kembali membersihkan meja sembari menyimak obrolan dua gadis yang menjadi pelanggannya.

"Ya! Seperti biasa, festival ditutup dengan folk dance." Gadis berambut cokelat kemerahan menyeruput jus anggurnya sebelum melanjutkan, "Event yang menarik kan? Semua siswa antusias sekali, lho. Apalagi yang punya pacar."

"Tentu saja! Berarti ini kesempatan kita menjadi teman dansa Asano-senpai dong! Aaa, kira-kira Asano-senpai memilih siapa ya…" Gadis satunya mulai berkhayal, sementara Rio nyaris tersedak ludahnya sendiri. Asano itu berdansa? Wow, Rio bahkan tidak bisa membayangkannya.

"Jangan mimpi. Sainganmu terlalu banyak." Sahut temannya dengan nada sarkastik. "Kau seperti tidak tahu saja, seluruh angkatan mengincarnya." satu alis Rio lagi-lagi terangkat, cukup heran dengan kepopuleran si lelaki judes itu. Agak lama Rio memasang telinga hingga tak menyadari kehadiran Sugino dengan tampang murka di sebelahnya.

"Oi, Nakamura! Jangan diam saja!" tegur Sugino jengkel. Nggak lihat apa, pengunjung kedai mereka membeludak? Apalagi sejak Yuuji – cowok yang naksir Nagisa – mempromosikan kedai ramen kelas 3-E di media massa. Rio nyengir. Ia pun menyelesaikan pekerjaannya secepat kilat.

Disclaimer

Ansatsu Kyoushitsu Yuusei Matsui

Warn : Seperti biasa lah

"Asano-kun, apa kita perlu menambah kapasitas kursi dan meja? Sepertinya terlalu banyak peminat untuk pertunjukan selanjutnya." Asano menghentikan pembicaraannya dengan anggota OSIS lainnya.

"Kurasa tidak perlu. Cukup umumkan bahwa tiket untuk event berikutnya telah habis. Tapi jangan lupa untuk promosikan dua event berikutnya." titah Asano dengan cepat. Gadis yang diberikan mandat mengangguk kecil dan bergegas pergi ke posnya.

Asano tersenyum puas melihat kesuksesan kafe event yang didirikan kelasnya. Setelah kiranya cukup untuk mengawasi stand kelasnya, ia memutuskan untuk berkeliling sekolah untuk melihat-lihat. Menurut pantauannya, keseluruhan acara festival budaya Kunugigaoka tahun ini juga berjalan lancar. Diam-diam ia memuji dirinya sendiri. Si ketua OSIS Kunigigaoka itu berniat kembali ke kelasnya sebelum ia berpapasan dengan dua orang pengunjung.

"Ramennya enak sekali… Tapi mengantrenya penuh perjuangan."

"Populer sekali ya, kedai ramen itu."

Asano mengerutkan dahinya. Kedai ramen? Rasanya ia tidak pernah melewati stand ramen sejak tadi. Tunggu, satu-satunya kelas yang belum ia datangi kan…

Kaki Asano cepat-cepat melangkah ke arah pagar pembatas areal sekolah dengan bukit. Matanya membelalak melihat antrean yang sangat panjang dari depan pagar sampai gedung kelas 3-E. Bahkan, jika ia tak salah lihat, ada kamera TV swasta di sana. Asano terdiam. Ia membalikkan tubuh dan kembali ke kelasnya.


Baru beberapa jam kelas 3-E membuka kedainya, mereka mengalami kesulitan karena bahan makanan yang habis. Setelah mendengar saran dari Koro-sensei yang menyatakan tentang pentingnya keseimbangan alam, kelas pembunuh itu mau tak mau harus menelan kekecewaannya dan menutup kedai ramen itu.

Rio mengkemas barang-barangnya sebelum pulang. Sungguh, tubuhnya lelah sekali. Rasanya ingin berendam di air panas, makan malam dan tidur saja. Meski begitu, ia sangat menikmati kegiatannya bersama teman-teman kelas 3-E. Setelah menyampirkan tasnya di bahu, ia berlari keluar gedung.

"Nakamura-san!" Lelaki bersurai babyblue berlari menyusul Rio. Rio spontan menghentikan langkahnya.

"Oh, Nagisa. Ada apa?"

"Kita pulang sama-sama saja. Yang lain masih tepar di kelas."

"Lah? Kayano-chan atau Karma di mana?"

"Kayano sudah pulang sejak tadi karena katanya ada urusan. Kalau Karma seperti biasa, menghilang. Aku sudah berjanji pada ibuku untuk pulang cepat." Jelas Nagisa panjang lebar. Rio hanya meng-oooh panjang tanda mengerti. Mereka pun melangkah menuruni tangga panjang yang menghubungkan gedung kelas 3-E dengan areal gedung utama. Diam-diam Rio melirik pria mungil di sebelahnya. Tak bisa dipungkiri, ia memang menaruh hati pada Nagisa. Oleh karena itu, ia tidak tahan untuk tidak bertanya. Rio mengumpulkan nyali, meluruskan niat dan membersihkan hati.

"Nee, Nagisa. Kau sudah mendengar tentang folk dance di hari terakhir?"

"Folk dance? " Nagisa terdiam sejenak. "Aaah… aku mendengarnya dari beberapa pengunjung. Banyak sekali kouhai yang mengincar Isogai." Tawanya pelan. Rio hanya menganggukkan kepalanya maklum. Memang sasuga sekali si ikemen berpucuk itu.

"Nakamura-san ingin berdansa dengan siapa?" Rio terperanjat mendengar pertanyaan blak-blakan dari si biru itu. Walau samar, pipinya memerah. Ia cepat-cepat mengendalikan detak jantungnya yang tiba-tiba berdebar tak karuan.

"Eh… Nagisa sendiri bagaimana? Sudah janjian dengan Kayano-chan?" goda Rio. Kali ini giliran Nagisa yang memerah. Ia menggelengkan kepalanya cepat.

"Mustahil! Kami kan' hanya berteman!"

"Please, Nagisa. Untuk ikut folk dance kan tidak harus berpacaran." Rio memutar bola matanya. Nagisa hanya meringis malu. Mereka terus berjalan sambil terus mengobrol.

Entah kenapa, langit musim gugur sore itu terlihat semakin indah di mata Rio.

Asano membaringkan tubuhnya di sofa, melepaskan penat setelah seharian bekerja di stand kelasnya. Ia baru saja menerima berita tentang kelas 3-E yang terpaksa menutup kedainya karena kehabisan bahan. Setengah hatinya merasa senang, dan setengahnya lagi kecewa karena tak bisa bertanding sampai akhir. Ah, ia tidak bisa bersantai sekarang. Masih ada kegiatan festival untuk besok. Tangannya meraba meja kaca mencari-cari kertas rundown acara. Manik violetnya membulat begitu membaca salah satu rangkaian acara penutupan.

"Astaga, aku lupa memastikan perlengkapan untuk acara api unggun ini." Tangannya segera merogoh saku mencari benda berbentuk persegi panjang. Ibu jari lincah memencet nomor. Agak lama ia berbincang dengan panitia perlengkapan. Pembicaraan diakhiri, bersamaan dengan helaan nafas lega. Ia membenarkan posisi tidurnya. Mata ditutup dengan lengan kiri. Ngomong-ngomong, rasanya tumben sekali ia menikmati sofa panjang di ruang OSIS itu. Biasanya, si gadis pirang itu menguasainya begitu jam pulang sekolah berbunyi. Namun, sejak persiapan festival budaya ia tidak pernah bertemu Rio. Agaknya, ia merasa… ada yang janggal.

Asano bangkit dari tidurnya. Lelaki apricot itu memutuskan untuk melanjutkan istirahatnya di rumah. Ia segera membereskan berkas-berkas di meja dan meraih tas sekolahnya. Kakinya melangkah cepat meninggalkan gedung. Begitu tiba di gerbang depan, Asano menangkap sosok pirang yang akhir-akhir ini muncul di pikirannya. Asano tersenyum. Tangannya terangkat, hendak memanggil Rio.

"Nakamura-san, kau pernah mencoba crepe di kedai ujung perempatan sana? Enak banget lho."

"Beneran? Kita ke sana yuk, Nagisa!"

Asano menurunkan tangan. Diurungkan sudah niatnya untuk pulang bersama Rio.


Hari ketiga festival budaya SMP Kunugigaoka. Asano Gakushuu sibuk bolak-balik ke stand kelas, menemui panitia perlengkapan untuk memastikan acara penutupan hari ini berjalan dengan lancar. Sebenarnya semua sudah beres sejak kemarin. Namun, entah kenapa si ketua OSIS sengaja menyibukkan dirinya. Untuk mengalihkan pikirannya yang kacau mungkin?

Pagi ini secara kebetulan ia bertemu dengan Rio di stasiun. Awalnya mereka memang berangkat berdua. Namun, takdir sedang mempermainkan Asano. Mereka berpapasan dengan Nagisa di jalan sehingga tanpa sadar Rio mengabaikan Asano. Sumpah, Asano berasa jadi obat nyamuk di antara mereka. Akhirnya dengan mood berantakan, Asano memisahkan diri dari kedua murid kelas 3-E itu.

Pintu ruang OSIS digebrak. Gakushuu mengatur nafasnya sebelum bertanya, "Laporan untuk anggaran festival sudah selesai?"

Sakakibara yang sedang leyeh-leyeh di sofa sambil memangku sebuah laptop hanya melongo. Sepertinya kepala Asano-kun sedikit terbentur, begitu pikirnya. Sakakibara menelan ludah, takut salah menjawab.

"Asano-kun, bukannya aku sudah memberikannya kemarin?"

Asano bungkam. Pintu ruang OSIS kembali ditutup rapat. Sakakibara geleng-geleng kepala heran.

"Apa dia sedang datang bulan, ya?" Pintu ruang OSIS kembali digebrak. Kali ini membuat Sakakibara jatuh terpelanting ke belakang saking kagetnya. Asano berjalan cepat ke arah si pemilik rambut mohawk. Seringaian lebarnya membuat Sakakibara ingin pipis di tempat. Yah, sepertinya Sakakibara menjadi sasaran empuk untuk melampiaskan emosinya. Belum lagi, Asano punya dendam pribadi terhadap Ren karena permainan Truth or Dare tempo hari.

"Maaf, Ren. Aku sedang senewen." Berikutnya terdengar jeritan ambigu dari arah ruang OSIS.


Beberapa saat lagi sang surya akan tenggelam. Artinya tinggal beberapa menit lagi acara penutupan festival budaya Kunugigaoka akan dimulai. Seorang gadis bersurai hijau duduk diam di mejanya. Sesekali ia melirik Nagisa yang masih asyik mengobrol dengan Maehara. Kayano entah mengapa menjadi sangat pendiam hari ini. Jika diperhatikan, sejak tadi ia ingin berbicara pada Nagisa, namun terus diurungkannya.

Tangannya terkepal, ia beranjak dari kursinya. Namun, lagi-lagi keraguan muncul di hatinya. Kayano menghela nafas dan kembali duduk.

"Hei, Kayano… sepertinya ada yang meresahkan hatimu." Suara baritone sekaligus suara cekikikan jahil tiba-tiba terdengar. Sontak wajah Kayano memerah. Ia berbalik, menemukan dua iblis – Karma dan Rio sedang menyeringai penuh arti.

"Eh? Memangnya terlihat seperti itu? Tidak kok… hahaha." Kayano tertawa canggung. Ukh, rasanya gadis pecinta pudding itu ingin menguburkan mukanya ke dalam pasir.

"Oh, ya, Karma-kun. Kudengar setelah ini ada pesta dansa ya. Kau sudah mengajak seseorang?"

"Tentu saja Nakamura… Kesempatan sekali seumur hidup kan. Apalagi ini tahun terakhir kita di SMP - " Karma tersenyum lebar ala Koro-sensei. " – Sayangnya ada yang menyia-nyiakan momen ini lho."

"Hee… Siapa?"

"Yah, kau tahu sendiri lah… Hm, ngomong-ngomong Nagisa diincar cewek kelas satu lho… Gosipnya sih, ya, kalau berdansa di acara ini, pasangan itu akan jadian." Telinga Kayano langsung panas. Ia beranjak dari bangkunya kemudian menatap dua temannya itu berang.

"Aku bisa kok!" seru Kayano berapi-api. "A, aku… aku pasti bisa mengajak Nagisa berdansa…" ucapnya dengan suara kelewat kecil. Si duo trouble maker itu saling bertatapan. Kemudian Rio memegang kedua bahu Kayano.

"Ulangi setelah aku. Aku pasti bisa." Kayano menelan ludah. Ia menatap iris sapphire Rio yang penuh keyakinan.

"Aku pasti bisa."

"Aku pasti bisa!"

"AKU PASTI BISA!" Teriak Kayano. Rio mengacungkan kedua jempolnya.

"Kuserahkan semuanya padamu, Kayano."

"Tentu saja. kau bisa mempercayaiku." Kayano berbalik lagi dan berjalan. Sinar jingga yang masuk melalui jendela menambah efek dramatis.

Karma hanya bisa bengong melihat drama dadakan yang sungguh tak berkualitas itu. Rio tersenyum puas. Tangannya sibuk mengusap peluh di dahinya (sok) lelah. Ia memperhatikan Kayano yang sedang berbicara dengan Nagisa. Sesuai dugaan Rio, pipi Nagisa mendadak merah padam dan mengangguk cepat. Rio merasakan getaran aneh di dadanya, namun ia tepis dengan cepat akibat keisengan yang mendominasi. Ia berteriak sangat kencang.

"Semoga ini menjadi malam canon-nya hubungan kalian!"


Usai memberikan sambutan yang diakhiri dengan jeritan histeris kaum hawa, Asano mencari tempat ternyamannya untuk mengawasi acara malam itu. Pilihannya jatuh pada ruang OSIS yang terletak di lantai dua gedung utama. Jendelanya menghadap ke lapangan tengah tempat berlangsungnya acara, sehingga ia akan lebih leluasa menonton. Apalagi tempatnya sepi sehingga memudahkannya menghindar dari ajakan cewek-cewek untuk berdansa.

Alunan music waltz mengiringi langkah Asano menuju ruang OSIS. Mendengar suara kresek-kresek aneh dari arah semak-semak, kakinya berhenti. Ia menangkap bayangan dua orang bersurai merah dan kuning. Asano mengerutkan kuning begitu mengenali kedua sosok itu. Apa yang dilakukan pacar dan rivalnya di balik pohon? Gerak-gerik mereka juga mencurigakan, seperti stalker. Merasa janggal, lelaki bersurai jingga itu mencoba mencari objek yang menarik atensi kedua iblis kelas E itu. Di sisi kanan api unggun, tampak Nagisa malu-malu mengulurkan tangan ke arah gadis berambut hijau, mengajaknya berdansa. Kayano menyambut uluran tangan Nagisa dan mereka mulai menari. Mendadak Asano merasa mual melihat dorama roman picisan yang tersaji di depannya. Bukan, Asano bukannya merasa sirik karena hubungannya dengan Rio tidak semanis itu. Bukan, kok. Bukan. Saat menoleh kembali ke pohon tempat Rio dan Karma bersembunyi, tahu-tahu kedua makhluk itu sudah menghilang.

Beberapa pasangan memulai dansanya. Asano mulai merasa menjadi obat nyamuk jika terus berdiam diri di sana. Ia memutuskan untuk hengkang dari tempat itu. Namun, di depan matanya Rio muncul dengan cengiran lebar di wajahnya. Asano junior celingak-celinguk mencari iblis satunya. Nihil. Heran, kenapa Rio menghampirinya dan meninggalkan partner in crime nya? Asano gagal paham.

"Shall we dance?" Rio mengulurkan tangan. Asano mendengus.

"Di mana-mana laki-laki yang mengajak." Tukas Asano. Iris violetnya menatap Rio tajam. "Lagipula aku tak mau menjadi subtitusinya." Senyum Rio menghilang. Mungkin ia cukup syok mendengar kata-kata menusuk dari lelaki di depannya. Keheningan menyelimuti mereka. Tatapan si gadis pirang lurus ke depan, namun kosong seperti makhluk hidup yang mati.

"Nee, Asano-kun. Bukannya mereka terlihat serasi sekali?" ucap Rio tiba-tiba. Asano terperanjat. Ia tidak mengenal gadis Inggris itu dengan baik. Ia hanya tahu Rio hanyalah seorang gadis kelas 3-E, musuhnya. Ia tidak banyak menghabiskan waktu bersama Rio. Namun melihat ekspresi Rio, ia tahu.

Gadis itu butuh pertolongannya.

Asano melepas blazer dan melemparnya ke wajah Rio. Yang dilempari mau protes, namun sebelum melakukannya, lelaki itu keburu melingkarkan lengannya di leher Rio – posisi merangkul – dan menyeretnya tanpa perasaan.

"Ikut aku."


Ruang OSIS yang mestinya sepi dan gelap menjadi gaduh akibat Rio yang memberontak gara-gara diculik Asano. Gimana Rio nggak panik coba? Asano menyeretnya paksa masih dengan sehelai blazer menutupi pandangannya. Habis itu dibawa ke tempat sepi pula. Wajar saja Rio jadi takut diapa-apain sama si cowok bersurai jingga itu (Yah, Asano bukan tipe cowok begitu sih).

"Tidaaak! Toloong! Di sini ada chikaaaaan*!" Reflek, Asano langsung melepas Rio. Tampangnya bete.

"Heh, pirang sialan. Jangan teriak aneh-aneh!" bentak Asano sebal. Bahaya kan' kalau imej nya sampai hancur gara-gara disangka chikan.

"Biarin, dasar kelabang jelek!" Rio mencibir. Asano melotot.

"Dapat dari mana julukan itu?!"

"Ayahmu kan' lipan. Kau masih payah, jadi kupanggil kelabang." Asano mengurut dada, takut emosi lalu kalap melempar Rio dengan transceiver yang masih menggantung di sakunya. Ia mengabaikan Rio dan melangkah menuju jendela besar. Rio mengekorinya. Ia ikut berdiri bersisian dengan Asano menonton folk dance.

Agak lama mereka diam-diaman, hanya terdengar suara musik klasik dari halaman tengah. Si gadis pirang mulai melankolis lagi melihat Nagisa dan Kayano berdansa.

"Ternyata banyak sekali pasangan di Kunigigaoka ya. Kupikir ada larangan berpacaran." Rio membuka pembicaraan berusaha menghilangkan denyut di dadanya.

"Ayahku mengerti tentang hak asasi manusia. Dia tidak akan melarang hal sepele seperti itu." Alis Rio naik mendengar jawaban Asano.

"Menurutmu pacaran itu hal yang sepele?" Gakushuu menatap Rio.

"Lalu menurutmu sendiri bagaimana?"

"Tentu tidak." jawab Rio tegas. "Itu kan bagian dari masa muda kita. Siapa yang tak mau melakukan hal menyenangkan bersama kekasih, atau pelukan hangat ketika kau bersedih atau –"

"Meskipun kau tersakiti?" potong Asano. Rio terkesiap. Ia menundukkan kepala, tangannya mencengkeram ujung baju. Dadanya kembali sesak. Sedikit marah, karena merasa Asano bisa melihat jauh ke dalam hatinya.

"Apa maksudmu membawaku ke sini?" tanya Rio pelan, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Si pemuda bersurai jingga memiringkan tubuhnya menghadap Rio.

"Karena ekspresimu seperti ingin menangis."

Air mata Rio tumpah ruah. Ia tertawa di sela-sela tangisannya.

"Astaga, padahal aku tulus membantu Kayano-chan…" punggung tangan mengusap kedua matanya kasar. Namun, tetap saja air matanya turun deras. "Aku teman yang buruk."

Gakushuu sendiri merasa aneh. Biasanya ia merasa sebal terhadap gadis yang usil itu. Namun, melihat tangisan Rio, tangannya bergerak sendiri menepuk-nepuk kepala Rio.

"Lanjutkan." pinta Gakushuu, ganti mengelus surai pirang gadis itu. Rio menuruti permintaan Gakushuu meskipun sedikit bingung dengan perlakuan lembut Gakushuu yang tiba-tiba.

"Aku suka Nagisa."

"Hm."

"Kamu nggak kaget?"

"Sudah tahu dari dulu sih." Wajah Rio merona seperti tertangkap basah mencuri.

"Kamu nggak marah atau kesal?"

"Buat apa." Gakushuu mendengus. "Aku memang tidak punya perasaan apapun padamu." Giliran muka Rio yang tambah tertekuk karena jawaban Gakushuu yang tidak sensitif. Sedangkan Gakushuu malah ingin tertawa melihat wajah cemberut Rio. Entah kenapa gadis itu terlihat jauh lebih manis ketika merajuk seperti itu. Tangannya lanjut mengacak rambut Rio.

"Lagipula meskipun kau suka Shiota, yang menjalin hubungan denganmu kan' aku." Rio terdiam. Sekilas ia melihat semburat merah muda di pipi Gakushuu. Sebenarnya ia ingin tertawa dengan tingkah tsundere Gakushuu, tapi… Lah, kenapa pipinya ikut memanas? Mereka kembali terperangkap dalam keheningan canggung. Lagu sudah berganti, memainkan waltz berikutnya. Telinga Rio mengenali lagu klasik itu. Sleeping Beauty, karangan komposer Rusia, Tchaikovsky.

"Shall we dance?" Gakushuu mengulurkan tangan.

"Kau bilang tak mau jadi penggantinya?"

"Aku bukan subtitusinya, aku pacarmu." Gakushuu tertawa singkat. Okay, sampai sana wajah Rio kembali merona. Meskipun singkat, tawa Gakushuu itu… RARE ITEM BRO!

Rio menyambut uluran tangan Gakushuu, menatap iris violet yang entah kenapa hari ini terasa hangat. "Aku tidak bisa berdansa, lho."

"Aku juga tidak." Gakushuu tersenyum kecil. "Kau bilang kita harus menikmati masa muda kan? Pakai feeling saja." Rio tergelak. Tangan kanannya meraih tangan kiri Asano. Asano balas merengkuh tubuh Rio. Mereka mulai melangkahkan kaki mengikuti alunan musik.

Dalam tariannya, diam-diam Rio merasakan kupu-kupu menari di perutnya. Masih terasa sentuhan lembut Asano di kepalanya. Kata-kata Asano masih berputar di ingatannya bagaikan kaset rusak. Ia juga terkejut, cintanya yang gagal terhadap Nagisa tidak berefek apapun, meskipun ia sempat menangis.

Di sisi lain, Asano merasakan getaran aneh di dadanya. Ia menyesali seluruh sikap OOC-nya hari ini. Namun, berkat itu, ia bisa melihat sisi rapuh Rio Nakamura yang manis. Asano mulai menikmati permainan Truth or Dare ini.

Malam itu, di ruang OSIS yang hanya diterangi dengan sinar rembulan, mereka berdansa penuh kegembiraan dengan irama yang berantakan.

*Chikan : pelaku pelecehan seksual

Ya ampun akhirnya chapter tiga jadi jugaaa yeeeyyy! Maaf, beberapa hari ini sibuk banget, kegiatan OSIS, terus seminar dan… yah banyaklah. Belum lagi, habis nonton Ankyou episode akhir, daku galau sampe kena writer block! Huweeeee… Tapi karena review, fav, dan fol kalian saya jadi semangat buat lanjut!

Udah deh biar gak kepanjangan. Sampai ketemu di chapter berikutnyaaa *bows

Thanks to :

NinNeko-chan, ChocoBanyla, Fycha Hyuura, chindleion, BaekSooya99

TsukiKonaIzu,ariesta25, Sora Nakamura, AmIAlive28, Innar Y-Biem,

Assyifa, Li'l Wave, chipa, nyaneenia, shichigatsudesu, Angchin, Ji Minsoo

Dan seluruh silent reader yang udah mau baca sampe akhir. Kalian super sekali!