"Kerja bagus, Jay," kata Mal dengan sarkastik sambil kami berlari secepat mungkin keluar dari museum. "Sekarang kita harus bersekolah besok!"

"Hei, mana kutahu kalau mereka akan menaruh alarm kencang?" tanyaku. Iyalah, mana ada alarm semacam itu di Pulau?

"Kau seorang pencuri, masa yang seperti ini saja kau mengacau?" kata Carlos ikut-ikutan Mal.

"Tunggu, biar kucari alasannya. Oh, ya, mungkin karena tidak ada alarm yang dipasang di Pulau!" jawabku dengan sarkastik.

"Sudah, sudah, teman-teman. Kita bisa menyusun strategi yang lain. Bukan salah Jay juga," kata Evie.

Aku berlari paling depan, dan Evie ada di paling belakang karena dia memang yang paling lambat. Diam-diam, walau masih kesal soal alarm, aku jadi tersenyum kecil mendengar komentarnya.

.

.

Disclaimer: Descendants adalah milik Disney, author tidak mengambil keuntungan.

Warning: alur canon, sebisa mungkin tidak OOC, ending mungkin tidak akan sesuai harapan pembaca tapi tetap akan happy ending, Jay x Evie, slight minor pairings.

.

The Thief's Love Story
Chapter 3

by Fei Mei

.

.

Pagi harinya, Ibu Peri mengajari kami tentang perbuatan baik. Hanya ada kami berempat murid yang duduk di kelas ini. Kurasa ini, sih, bukannya 'kelas baru', melainkan 'kelas khusus' untuk kami. Bahkan saat masuk kelas ini tadi, aku bisa melihat tulisan di papan bertuliskan: 'Selamat datang di kelas Perbaikan Sikap! Mulut ada untuk tersenyum, bukan untuk menggigit. Berbagi adalah wujud peduli.' Itu adalah tiga kalimat yang tidak akan pernah kutemukan di buku teks mana pun di Dragon Hall.

Aku bosan bukan main di kelas ini. Waktu di Dragon Hall, aku memang bukan juara kelas, nilaiku banyak pas-pasan di beberapa mata pelajaran, setidaknya aku masih agak mengerti beberapa pelajaran seperti bagaimana menyusun strategi jahat, melakukan plot pencurian, dan semacamnya. Huh, kuyakin di Auradon tidak ada pelajaran seperti itu.

Ibu Peri menanyakan sejumlah pertanyaan yang diberi pilihan jawaban. Aku tidak paham sama sekali, kenapa jawabannya yang mana. Awalnya ia menanyakan masing-masing satu pertanyaan pada kami. Yang bisa menjawab benar hanya Mal. Lalu saat pertanyaan rebutan, aku mencoba jawab, dan salah. Huh.

"Jika seseorang mengopermu bayi yang sedang menangis," kata Ibu Peri, membaca soal yang selanjutnya," apakah kau mengutuknya, mengurungnya di menara, memberikan botol, atau menarik keluar jantungnya?"

Kali ini aku tidak mengangkat tangan, tapi Ibu Peri dengan riang memanggil nama Evie. Aku menoleh, melihat gadis itu yang menurunkan tangannya sambil tersenyum. Oke, tunggu, aku tahu dia suka baca dan dia memang gadis pintar. Tapi kuyakin yang seperti ini tidak akan ada di buku mana pun.

"Eh, apa pilihan yang kedua?" tanya Evie. Oh, Eve ...

"Oh, oke ... yang lainnya?" tanya Ibu Peri. "Mal?"

Mal, yang duduk di samping Evie, langsung menatap ke depan. "Memberikan botol."

Ibu Peri tersenyum senang. "Benar, lagi!" Aku menghela. Kok, dia bisa, sih?

"Kau sedang semangat, ya!" seru Carlos di sampingku pada Mal.

"Pilih saja satu yang terdengar tidak menyenangkan," kata Mal, saat Ibu Peri sedang menuliskan soal berikutnya di papan.

Aku langsung ber-oh ria. Tidak hanya aku. Carlos dan Evie pun juga menggumamkan 'oh' panjang sambil mengangguk.

"Itu sangat masuk akal," ujar Evie.

Langsung aku mengangguk setuju. Maksudku, aku baru sadar, semua jawaban yang benar adalah sesuatu yang menurutku membosankan. Baiklah, aku akan jawab pertanyaan yang berikutnya!

Tiba-tiba aku mendengar suara pekikkan pelan. Menyerngit, aku melihat seorang gadis, kupikir dia pasti lebih pendek dari Mal dan Evie, berjalan lewat tengah kelas, menghampiri Ibu Peri di depan papan tulis. Gadis itu berambut pendek dengan pita biru besar di kepalanya. Bajunya pun biru juga, sama dengan pitanya.

"Halo, Nak," sapa Ibu Peri sambil tersenyum. Eh, itu anaknya?

"Hai," cicit gadis yang pakai baju biru itu. "Kau perlu menandatangani beberapa hal untuk koronasi."

Ibu Peri mengambil kertas yang dipegang gadis itu dan menandatanganinya. "Kalian ingat putriku, Jane?" tanyanya. Aku menyerngit. Memangnya ia pernah mengatakan sesuatu tentang ia punya seorang putri?

"Ma!" pekik 'Jane'. Aku masih terus menyerngit, kali ini bersama dengan Carlos.

"Tidak apa-apa," kata Ibu Peri, lalu menghadapkan putrinya pada kami. "Jane, ini mereka semua."

"Hai," cicitnya lagi. "Tidak apa, jangan pedulikan aku, seperti yang sudah kalian lakukan." Lalu ia berjalan, dan memekik kecil lagi saat melewati barisanku untuk keluar dari ruangan kelas.

Suara Ibu Peri terdengar lagi. "Mari kita lanjutkan. Kau menemukan sebotol racun, apakah kau menaruhnya di anggur raja, melukiskannya pada sebuah apel, atau menyerahkannya pada lembaga yang berwenang?"

Dengan cepat aku memutar otak, mengingat tips dari Mal: pilih satu yang terdengar tidak menyenangkan. Kalau aku punya botol racun, aku jelas akan pakai untuk kuberi pada orang kaya biar hartanya untukku. Tapi karena ini di Auradon, berarti jawabannya adalah opsi terakhir!

Buru-buru kuangkat tanganku. Kulihat Evie dan Carlos pun ikut mengangkat tangan dengan semangat, sedangkan Mal tampak tidak peduli. Aku ingin terpilih untuk menjawab soal yang ini, karena kutahu jawabanku akan benar. Kalau Evie yang jawab, tidak masalah. Kalau Carlos yang jawab—tidak terimakasih. Jadi aku menggunakan satu tanganku untuk menurunkan tangannya.

Carlos tidak mau menyerah, ia terus mengangkat tangannya, sambil kami berebut untuk siapa yang akan tetap mengangkat tangan. Aku langsung mengembangkan senyum kemenangan saat Ibu Peri menyebut namaku untuk menjawab soalnya.

"Menyerahkannya pada lembaga yang berwenang," jawabku sambil terus tersenyum.

"Aku ingin menjawabnya tadi!" raung Carlos.

"Tapi aku menjawabnya duluan tadi!" kataku. Lalu kutarik kepala pemuda itu dan menahannya dengan lenganku sampai ia memekik. "Siapa yang mengatakannya duluan? Siapa?" tantangku. Tapi ia tidak mau menjawab, sampai akhirnya kami bergulat di atas meja.

"Anak-anak! Anak-anak!" seru Ibu Peri, akhirnya aku melepaskan Carlos dan mematung. "Aku akan menyarankan kalian untuk menggunakan tenaga itu di lapangan tourney."

"Oh, tidak, tidak usah, apa pun itu, kami lewat," ujar Carlos cepat.

Tapi ternyata Ibu Peri berhasil membuat Pelatih Jenkins, atau siapa pun dia namanya, menarik kami ke lapangan usai sekolah suatu hari. Mau tak mau aku dan Carlos ikut ganti baju dengan seragam olahraga bersama dengan sejumlah anak laki-laki termasuk Ben. Di lapangan, ada beberapa anak perempuan juga yang mengenakan seragam dengan warna biru-kuning dengan pom-pom di tangan mereka.

Pelatih Jenkins meniup kencang peluitnya. "Jay, Ben, penyerang! Chad, kau pertahanan!" serunya.

Aku tidak tahu apa artinya, tidak ada lapangan seperti ini atau apa pun yang ada di sini ada di Pulau. Mungkin Ben tahu kalau aku tidak paham, jadi ia hanya menyuruhku untuk berdiri di suatu posisi, sedangkan dia bergabung dengan yang mengenakan baju kuning. Kulihat bajuku, warna biru. Berarti maksudnya aku tim biru?

Kudengar Pelatih menyuruh Carlos keluar dari Kill Zone. Aku tidak tahu, apa pula itu Kill Zone? Kuyakin tidak ada pembunuhan di Auradon, kan? Dan, oh, Carlos pakai warna kuning, jadi aku harus melawannya? Tidak akan sulit, pasti.

Setelah semua pada posisi, Pelatih membunyikan peluit, dan kulihat pemain berseragam biru dan yang kuning mulai bergerak, dengan Chad , yang Pelatih panggil untuk jadi pertahanan, memiliki bola di stiknya. Oh, berarti permainannya sudah dimulai, kan? Di Pulau paling hanya ada sepakbola, dan permainannya itu menendang bola sampai masuk gawang. Ada dua gawang di sini, berarti mungkin permainannya sama: memasukkan bola ke gawang lawan, bedanya adalah di sini menggunakan stik, bukan pakai kaki.

Jadi aku berlari secepat mungkin menuju Chad, menghantam tubuhnya sampai aku mendengar suara 'BUK' keras. Aku tidak tahu suara apa itu, tapi yang jelas kulihat bolanya lepas dari stik Chad, kuambil saja dan langsung berdiri.

Sekarang aku tahu kenapa area yang diberi warna merah tadi disebut Kill Zone: karena saat ada pemain yang melewati tempat itu, bola-bola akan ditembakkan. Huh, ini tidak sulit. Dengan sangat mudah aku bisa menghindar dari semua bola yang ditembakkan padaku.

Lewat dari Kill Zone, aku dan seorang berseragam kuning saling hantam dan kami terjatuh, bola di stikku lepas. Buru-buru aku bangun lagi, mendorong seorang berbaju biru yang hendak mengambil bola yang bebas. Yah, jangan salahkan aku, ini ajaran ayahku: kalau ingin menang, yang lain harus kalah.

"Jay! Jay, ini aku—Carlos! Jangan, Jay!" pekik ... eh, itu Carlos? Ya, itu dia, dengan perisai di depannya. Ia berseru begitu saat aku sudah melewati semua pemain tim kuning, tinggal Carlos dan seorang penjaga gawang.

Kudorong tubuh Carlos seperti aku mendorong pemain yang lain, ia terjatuh dengan masih memegang perisai di atas tubuhnya. Kulompati perisai itu sambil melempar bola ke gawang. GOL! Wooo! Aku langsung melepaskan helm dan menari senang, sampai tiba-tiba aku mendengar suara peluit.

"KAU! Cepat ke sini!" panggil Pelatih sambil menunjuk padaku. Bingung, aku menurut. Anak-anak yang mengenakan baju biru dan kuning pun perlahan datang juga. "Kau sebut apa itu tadi?" kata Pelatih dengan nada membentak. Uh, disebut dengan KEMENANGANKU, mungkin? "Aku menyebutnya bakat alam," kata Pelatih yang mengembangkan senyumnya. "Temui aku nanti, aku akan menunjukkan sesuatu yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Itu disebut buku peraturan." Lalu ia menepuk punggungku dengan antusias, mau tak mau aku tersenyum riang juga. "Selamat bergabung dengan tim, Nak!" Kemudian ia menoleh pada Carlos. "Kau pernah berpikir untuk bergabung dengan Band?" Aku tertawa mendengarnya, walau tahu rambut Carlos itu keturunan dari ibunya, Cruella.

"Aku akan membantunya, Pelatih," kata Ben.

"Baiklah," kata Pelatih. "Ayo kita mulai lagi!" Peluitnya dibunyikan lagi.

Aku menyeringai. Mungkin di Auradon tidak seburuk yang kukira—ini menyenangkan! Aku berbalik badan untuk kembali ke posisi awalku, tapi aku langsung bertemu muka dengan Chad yang menatapku dengan angkuh. Aku tidak suka caranya yang menatapku begitu. Ben mungkin akan jadi raja sebentar lagi, atau begitulah yang dikatakan Audrey, tapi Ben tidak pernah menatap seakan orang lain lebih rendah darinya. Chad, yang aku tidak tahu jabatannya apa, berani memandangku begitu.

Aku mendengus pelan, berjalan ke arahnya, dan menabrakkan bahuku dengan keras pada bahunya dan berjalan melewatinya. Sudah lewat beberapa detik, aku melirik ke belakang, mendapati Chad meringis sambil memegangi bahunya. Huh, biar tahu rasa.

Kalau Chad ini seorang pangeran, maka permainan ini akan menjadi ajang yang menyenangkan untukku biar bisa membuatnya dan pangeran lain babak belur. Dan dari semua pangeran yang ada di sekolah ini, jika Chad adalah salah satunya, kuharap Evie tidak tertarik pada pangeran yang lemah dan pecundang seperti yang satu itu.

.

.

"Aku benar-benar bisa mengharapkan pemuda tangguh sepertimu," kata Pelatih Jenkins. "Tim ini penuh dengan para pangeran, jika kau tahu maksudku."

Aku menyengir. Tentu saja aku tahu. Pangeran. Pffft, pasti lemah gemulai, lemah, dan kurang lebih seperti Chad. "Tentu aku tahu. Mereka itu seperti, 'Kau duluan, sobat. Oh, maaf, apa aku menabrakmu?'" Yep, mereka terlalu sopan, mana bisa main di permainan yang butuh penyerang kuat? Aku tidak tahu Pelatih Jenkins itu kerabatnya kerajaan mana, tapi sepertinya ia setuju-setuju saja akan perkataanku, malah tertawa. "Di tempat asalku, itu 'Bersiaplah mati, pecundang!'" seruku sambil melempar buku peraturan tourney ke bangku di depanku lalu berdiri. "Seperti yang ayahku katakan, satu-satunya cara agar menang adalah membuat yang lain kalah! Kau hancurkan—"

"—Jay," potong Pelatih sambil meraih bahuku. "Jay! Jay, Jay, Jay, Jay. Biar aku jelaskan tentang arti kata 'tim'." Lalu membuatku duduk lagi. "Itu seperti sebuah keluarga."

Langsung aku menyerngit. Keluarga? Seperti aku dan ayahku? Meh. "Kau tidak akan mau ada di rumahku saat jam makan malam," dengusku.

Pelatih mengangguk. "Oke, oke. Kau tahu bagaimana satu tubuh punya banyak bagian yang berbeda? Kaki, tangan, telinga, Tapi mereka semua membutuhkan satu sama lain. Nah, itulah artinya sebuah tim, pemain yang berbeda-beda yang bekerja sama untuk menang. Bisa dipahami?"

Huh. Masuk akal, sih ... dan aku paham maksud Pelatih. Tapi ... itu sangat jauh berbeda dari apa yang diajarakan ayah. Yang ayah ajarkan justru kebalikannya. Oh, ya, aku di Auradon sekarang, Pelatih Jenkins adalah penduduk Auradon jauh sebelum aku datang, tentu saja pengertian kata 'tim'nya berbeda dengan ayahku.

"Boleh aku jadi kepalan tangan?" tanyaku sambil memamerkan kepalan tanganku.

Pelatih tertawa. Lalu ia mengambil sesuatu dari pundaknya, semacam kain, dan ia lebarkan kain itu yang ternyata adalah kaos seragam tourney. Ada nomor delapan di bagian belakangnya beserta namaku.

Aku tersenyum dan menerimanya, langsung mengenakannya. Sungguh aku merasa senang saat ini. Rasa senang yang kurasakan sekarang berbeda dengan saat aku mendapatkan banyak barang berharga sebagai hasil curianku, atau rasa senang saat perbuatan onarku berhasil, atau saat melihat ayah senang melihat hasil curianku. Berbeda, sangat.

.

.

Masuk ke kamar Mal dan Evie, Carlos langsung bersiul padaku yang masih mengenakan seragam yang diberikan Pelatih. Pemuda itu sedang menatap layar laptop, dan ... eh, itu anjing, ya, yang duduk di sampingnya? Kemudian kulihat Evie sedang menulis sesuatu di kertas di mejanya. Kuhampiri putri Evil Queen itu, penasaran akan apa yang ia tulis, soalnya ada tiga lembar kertas di meja dan ia menulis di dua lembar.

Dalam hati aku menggeram keras melihat ada nama 'Chad' di pojok kanan atas salah satu kertas jawaban, dan di kertas jawaban yang satu lagi baru bernama 'Evie'. Astaga, jadi ini maksudnya Evie mengerjakan pekerjaan Chad? Huh, berarti aku harus membuatnya masuk rumah sakit saat bermain tourney nanti!

Kulirik Mal yang sedang tengkurap di ranjangnya, dengan buku mantra ibunya terbuka di depannya.

"Apa rencanamu berhasil dengan Jane?" tanyaku pada Mal, karena seingatku ia pernah bilang sesuatu tentang mendekati putri dari Ibu Peri. "Apa kau akan mendapatkan tongkat sihirnya?"

"Kau pikir aku akan memeriksa satu persatu mantra yang ada di buku ini kalau bukan karena sudah tidak terpikir jalannya?" tanya Mal. Uh-oh, mood-nya sedang tidak baik.

"Seseorang sedang bad mood," ujar Carlos. Yep, Carlos, bukan aku. Mungkin kami berdua memang sepikir.

"Mamaku mengadalkan aku," kata Mal. "Aku tidak akan mengecewakannya!"

Lalu aku teringat tentang definisi 'tim' versi Pelatih Jenkins. Maksudku, bukankah aku, Mal, Evie, dan Carlos adalah empat pribadi yang berbeda yang sama-sama ada di Auradon untuk mengambil tongkat sihir Ibu Peri? Berarti kami berempat ini tim, kan?

"Kita bisa melakukan ini!" sahutku. Tiba-tiba mereka bertiga menatapku dengan tatapan bingung. "—Kalau kita bekerja sama."

"Dan kita tidak akan kembali kalau kita belum berhasil," kata Mal.

"Oh, ya, kudengar Ibu Peri akan meresmikan Ben dengan tongkatnya saat koronasi dan kita semua boleh menghadirinya," kata Evie. "Aku tidak punya baju untuk dipakai nanti, tentu saja."

Kemudian pintu diketuk dari luar. "Tunggu," ujar Mal pada sahabatnya, lalu berlari membuka pintu.

Ada Ben begitu pintu kamar terbuka. "Hai, Mal!" sapanya riang. Oke, itu antara ia malas menyapa kami satu-persatu yang ada di kamar ini atau memang ia hanya lihat ada Mal saja. "Aku tidak melihat kalian seharian ini. Aku hanya berpikir kalau kau punya pertanyaan atau apa pun yang kau butuhkan?"

"Sepertinya tidak ada," gumam Mal sambil menoleh pada kami. Aku menggeleng, Carlos dan Evie juga menggeleng.

"Oke, baiklah! Yah, kalau kau membutuhkan sesuatu ... " kata Ben sambil membuat gestur tubuh 'minta saja padaku', lalu mulai melangkah pergi.

"Oh, tunggu!" panggil Mal, dan Ben pun langsung ada di depan kamar lagi. "Um, apa benar kami semua boleh datang ke acara koronasimu?" Ah, Mal ingin memastikan.

Ben tersenyum. "Ya, semua anak di sekolah boleh datang."

"Wow, itu akan menyenangkan," kata Mal. "Apa kami berempat boleh berdiri di barisan depan, di samping Ibu Peri agar kami bisa ... merasakan semua kebaikan?"

Pemuda itu masih tersenyum, tapi lalu ia menunjukkan rasa bersalah. "Kuharap kalian bisa. Tapi yang di paling depan itu hanya aku, orangtuaku, dan pacarku."

Mal mengangguk pelan. "Dan pacarmu."

"Ya, maafkan aku," kata Ben.

"Oke, terimakasih, dah!" ujar Mal cepat. Dan sebelum Ben bisa mengatakan apa-apa lagi, Mal sudah menutup pintunya dan menghadap pada kami dengan seringai lebar. "Kupikir sudah saatnya bagi Benny-boo untukmendapatkan pacar baru. Dan aku membutuhkan ramuan cinta," katanya. Aku menyengir. Carlos yang ada paling dekat dengan buku mantra langsung mengambil buku itu dan melemparnya pada Mal.

.

.

Kehidupan anak-anak di Auradon memang sangat kebalikan dengan kami yang di Pulau Terhilang. Sementara mereka di sini disayang dengan penuh kasih oleh orangtua, kami malah harus mengerjakan sesuatu yang menyenangkan atau untuk orangtua kami dulu dan barulah mereka akan bilang bangga. Ayah bangga saat aku mencuri barang-barang bagus, Maleficent bangga pada Mal saat putrinya itu membuat anak kecil menangis, Evil Queen bangga pada Evie jika putrinya memakai riasan wajah yang sesuai penilaiannya, dan Cruella bangga pada Carlos jika tiap hari anak itu menyisir syal bulunya dengan benar. Semua untuk diri mereka sendiri. Aku tahu.

Lonnie, yang katanya adalah putri dari Mulan, mengingatkanku—dan mungkin ketiga temanku yang lain—tentang betapa 'malang'nya kami di Pulau Terhilang. Dia enak sekali menceritakan tentang kue yang dibikin ibunya, tanpa tahu bahwa orangtua kami tidak pernah membuatkan sesuatu untuk kami.

Tapi, yah, setidaknya, walau sudah agak kesal mendengarkan ocehannya, Mal mendapatkan satu bahan terakhir untuk ramuan cintanya: tetesan air mata orang yang sedih. Yep, entah orang-orang di Auradon bodoh atau cengeng, mereka mudah sekali menangis, padahal mereka tidak mengalami sesuatu yang buruk. Aneh. Yah, aneh di mereka, untung di kami.

Mal langsung mengusir Lonnie setelah memasukkan tetesan air mata gadis itu, sedangkan Evie mendorong gadis Asia itu keluar dari dapur, sedangkan Carlos menyiapkan tempat untuk menaruh biskuit.

Aku kurang mau mengatakan ini, tapi Mal melakukan kesalahan dengan mengoperku baskom adonannya, sembari ia sendiri mengambil cip coklat dari rak. Yang harus kau tahu tentang pencuri adalah, jangan pernah menitipkan apa pun pada pencuri itu. Aku tahu Mal temanku, tapi aku tidak tahan lagi, tidak tahan akan fakta Evie hanya boleh dengan pangeran. Jadi kuambil sesendok adonan dan kutaruh di suatu tatakan, lalu kuseludupkan di suatu tempat biar aku bisa memanggangnya sendiri.

Kujalankan rencanaku berjam-jam kemudian. Saat biskuit Mal sudah jadi, ia memasukkannya ke dalam kantong dan kami semua keluar dari dapur—tak lupa sebelumnya kami membereskan alat-alat di sini. Bukan, bukan kami suka kebersihan atau sudah jadi anak baik, tapi Mal takut kalau adonan yang masih menempel di alat-alat yang ia pakai itu bisa menjadi bukti jika ada yang menangkapnya. Cerdas, kan?

Mungkin sudah lewat tengah malam, aku diam-diam turun dari ranjang dan melangkah pelan keluar dari kamar, berharap sebisa mungkin jangan sampai Carlos apalagi anjing piaraanya terbangun. Di lorong asrama menuju dapur pun aku mengendap-endap, terus berharap agar tidak ada seorang pun yang perlu kuketemui.

.

.

Kusambut hari yang baru keesokkan pagi dengan perasaan cemas. Bagaimana kalau ada yang melihatku semalam? Bagaimana kalau Carlos terbangun dan tahu apa yang kulakukan? Uh, aku tidak pernah merasa cemas begini. Tidak, aku tidak merasa cemas karena telah mencuri sedikit dari adonan Mal, tapi aku cemas karena ini pertama kalinya aku akan menggunakan ramuan cinta dalam seumur hidupku!

Jadi untuk mengusir rasa cemas, mungkin, aku hanya ikut Mal yang sedang mencari celah agar bisa memberikan biskuit pada Ben. Mal tidak masalah kuekori, apalagi karena memang seharian ini kelas kami berbarengan.

Kelas-kelas kami telah berakhir hari ini, dan Mal masih belum menemukan kesempatan untuk memberikan biskuitnya. Salahkan Audrey gara-gara itu, soalnya putri dari Aurora itu terus-terus menempel pada pacarnya. Tapi karena tidak ingin lengah, jadi kami harus terus mengekori keduanya, bahkan sampai ke loker sekalipun.

Sekelompok gadis, dengan rambut yang sudah diubah Mal dengan mantranya melambai pada putri Maleficent itu dengan senang. Mal melambai balik dan tersenyum. Huh, aneh, senyuman Gadis Ungu ini terlihat tulus, bukan sinis atau dibuat-buat.

Mal membuka pintu lokernya—huh, untung sekali lokernya ada di sini, setidaknya kami tidak terlihat bodoh di sini hanya karena ingin mengikuti Ben.

Kulihat sekilas biskuit yang sudah terkandung ramuan cinta dalamnya. Hatiku melengos, teringat akan biskuitku sendiri, yang belum kuberikan pada Evie. Sesungguhnya aku jadi merasa agak bersalah. Maksudku, aku suka Evie, ya, tapi aku juga ingin membuatnya senang. Kalau memang ia hanya menganggapku temannya, ya tidak masalah. Jika aku memberikan ramuan cinta padanya, lalu suatu saat efeknya hilang, yang ada mungkin aku akan kehilangannya, dan aku tidak mau itu.

"Apa kau merasa agak aneh tentang ini?" tanyaku pelan. "Maksudku, di sini tidak begitu buruk." Kupaksakan tawa pelan. Tapi itu benar, maksudku, aku bahkan sudah tidak sabar mengikuti pertandingan tourney hari ini.

Mal menoleh padaku dengan tatapan tak percaya. "Apa kau gila? Hidup kejahatan! Kau jahat! Kau kejam! Kau adalah berita buruk! Sadarlah!"

Benar-benar putri Maleficent. Dia benar, sih, tidak salah. Aku memang berpikir tidak buruk di sini, tapi aku meragukan jati diriku, seakan Jay si Putra Jafar telah lenyap.

"Terimakasih, Mal, aku membutuhkan itu," kataku, memaksakan tawa lagi.

Tapi ucapan gadis itu yang agak membentak nyatanya tidak begitu berhasil membuatku merasa lebih baik, jadi aku akan coba melakukan sesuatu yang biasanya berhasil saat aku masih di pulau: menggoda para gadis. Kuhampiri pembatas balkon, tepat di depan meja piknik yang menjadi tempat nongkrong anak gadis yang rambutnya sudah wow. Kulempar senyum lebar, dan para gadis beranjak dari tempat duduk mereka, menghampiri pembatas balkon sambil terkikik.

"Halo, namaku Jay," kataku, masih tersenyum lebar. Kalian akan datang menonton pertandingan tourney nanti?" Para gadis masih terkikik girang, mereka mengangguk-angguk. "Jangan lupa perhatikan aksiku nanti, aku bernomor punggung delapan." Dan mereka masih terus terkikik.

Mereka menanyakan sejumlah pertanyaan padaku bersamaan dengan nada centil. Beberapa yang bisa kutangkap di telingaku hanya: 'berapa nomor ponselmu?', 'boleh kusentuh otot lenganmu?', dan beberapa pertanyaan simpel lainnya. Aku tidak menjawab, hanya sesekali mengedipkan sebelah mataku pada beberapa gadis yang kuanggap lebih cantik dari yang lainnya. Huh, tetap saja, Evie masih lebih cantik dari mereka.

Seseorang menepuk bahuku, aku menoleh, melihat siapa yang menepukku, lalu kudapati Carlos dan Evie yang ternyata sudah datang ke sini—salah satu dari merekalah yang menepuk bahuku. Mungkin Carlos, karena ia berdiri dekat denganku. Pemuda itu mengangguk, lalu menunjuk ke arah Mal dengan dagunya. Aku menoleh pada Mal, melihat ternyata Audrey sudah tidak bersama dengan Ben, dan pangeran itu sedang memegang biskuit yang telah tergigit.

"—Mal, apa kau selalu punya cahaya emas kecil-kecil di bola matamu?" tanya Ben sambil tersenyum dan wajahnya terlihat bodoh. Ah, ramuannya sudah bekerja.

Aku menghampiri Ben, dan merangkul bahunya. "Bagaimana perasaanmu, Sobat?" Kulihat wajah Mal, ia tampak sedang berusaha agar tidak tersenyum terlalu lebar karena rencananya mulai berhasil.

"Aku merasa seperti ingin menyanyikan namamu!" kata Ben. "Maaal—" Mal langsung menutup mulut Ben dengan kedua tangannya.

"Ayo bersiap untuk pertandingan," kataku, sambil berusaha menarik Ben menjauh dari Mal. Memang aku turut senang karena ramuan itu bekerja, tapi aku masih butuh anak ini dalam tim biar kami jangan sampai kalah.

Dan kalau ramuan itu benar-benar bekerja pada Ben, berarti itu akan bekerja pada Evie juga. Tapi apa aku bisa membiarkannya memakan biskuit ramuan cinta itu, dengan menaruh relasi pertemanan kami pada ujung tombak?

.

.

TBC

.

.