PAST
By : balbaekyeolfan
Main Cast : byun baekhyun / park chanyeol
Pairing : chanbaek / baekyeol dan other
Genre : drama, school life, au, romance, hurt/cumfort (banyak amat ya -_-)
Warning : typos,cerita kaga nyambung dan abturd (maklumin ajeh ya *wink)
Bunyi nyanyian burung gereja menerpa gendang telinganya, perlahan kedua iris coklat terang miliknya terbuka, senyum mengembang di sela aktifitas kecilnya mengucek bola bening itu untuk bekerja dengan semestinya saat cahaya sang surya menyelinap masuk melalui tirai kaca jendela yang sedikit terbuka.
baekhyun mengangkat badannya untuk duduk lalu menyeret tubuh mungilnya turun dari tempat tidur ukuran single bad, membiarkan selimut bermotif strowberi dengan warna biru yang mendominasi tergeletak begitu saja di lantai marmer yang dingin, setelah meraih handuk baekhyun berjalan gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
ia melirik kalender kecil yang terletak di atas nakas samping tempat tidur lalu beralih pada jam weker yang tepat berada di samping kalender mungil itu, sabtu 14 oktober pukul 07.18. seketika mata sipitnya membulat heboh. "aiish, aku bisa terlambat" gerutunya kesal lalu berlari menuju kamar mandi yang terletak di samping pintu masuk apartemen kecil miliknya.
….
Baekhyun bekerja sebagai pelayan di restoran milik warga china-korea untuk membiayai hidupnya, pihak sekolah memang memberikan beasiswa full untuk sekolahnya namun untuk urusan tempat tinggal dan kehidupan sehari-hari baekhyun harus menanggungnya sendiri. Tinggal di ibu kota negara besar tanpa keluarga seorangpun cukup memberi alasan untuk menyeret baekhyun mencari nafkah sendiri.
seseorang bermarga wu memberikan kesempatan kerja pada namja manis itu, saat ia berjalan-jalan di hari pertama ia tiba di Negara kelahirannya ini, pria mungil itu masuk ke restoran yang tampak menarik dengan interior yang di dominasi warna terang dan kaca-kaca transparan raksasa di bagian depan dan samping kanan restoran yang memilih gaya eropa sebagai backgrounnya.
sambil sesekali meneguk capocino pesanannya, dengan malu-malu ia menanyakan tetang lowongan pekerjaan di restoran tesebut, beruntung yang di tanyanya adalah pemilik resto itu sendiri.
dengan alasan tampilan baekhyun yang menggemaskan, kris wu -pemilik resto di tengah-tengah kota seoul itu- menerima baekhyun untuk bekerja di restoran sederhana namun elegan miliknya, yang memang membutuhkan beberapa pelayan.
Tak butuh dua kali kris bertanya pada baekhyun tentang syarat dan jam kerjanya, baekhyun menganggukkan kepalanya pasti lalu bertanya kapan ia akan mulai bekerja, dan hari ini adalah hari ke lima iya bekerja, menyesuaikan dengan jadwal sekolah. pada hari senin sampai jumat dia bekerja mulai pada pukul 5 sore dan berakhir pada pukul 10 malam, hari sabtu iya mulai bekerja pada pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore. Dan gaji yang di terimanya tiap minggu cukup untuk menyewa apartemen kecil yang masih bertahan di pinggiran kota seoul, bersaing dengan apartemen mewah di mana-mana. sekola hnya memang ukup unik, pada hari sabtu dan hari minggu sekolah berlebel swasta itu libur atau tidak ada kelas, hanya berbagai kegiatan klub saja yang di lakukan siswa yang masuk dalam klub tertentu.
Jarak apartmen kecil baekhyun dan sekolahnya cukup dekat hanya membutuhkan waktu 20 menit lebih dengan mengendarai bus, memang terihat miris saat anak-anak lain di antar dengan mobil mewah atau siswa yang memang membawa mobil mewah mereka ke sekolah sementara dirinya harus mengendarai busway.
namun label beasiswa memudahkannya untuk di maklumi atau di cibir oleh siswa-siswi sekolah elit itu.
…
Pikul 07. 37 baekhyun keluar dari apartemen dengan kaos merah lengan sebahu dan sweater biru, tak lupa celana jeans levisnya. cukup lama ia mandi tadi, menghilangkan bau amis dari telur yang kemarin memenuhi hampir seluruh kepala namja imut itu, walau telah beberapa kali membersihkan diri kemarin namun bau itu masih sajah menempel di badannya hingga sebotol sampo bayi miliknya habis pagi ini. jangan Tanya kenapa pria yang telah berusia 18 tahun itu mau memakai shampo bayi, karena jawaban yang akan ia berikan terdengar kekanakan sekali "karena shampo bayi banyak memakai aroma buah terutama buah stowbery dan harganya juga jauh lebih murah di bandingkan dengan shampo orang dewasa" ya, walaupun orang akan mengangguk maklum dengan alasan itu melihat kondisi fisiknya yang memang terlihat seperti anak kecil dan yang paling penting shampo bayi milikya berhasil membuat bau amis itu hilang.
Setelah menaiki bus selama 25 menit baekhyun tiba di tempat kerjanya, menyapa beberapa pegawai yang sudah siap dengan seragam mereka, ia berjalan menuju ruang ganti pegawai dan mengganti pakain dengan seragam miliknya. Baekhyun tampak manis dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu yang melekat di leher jenjangnya, melayani para pelanggan yang memang selalu ramai berkunjung di resto mereka.
Setelah siang menjelang mereka menyempatkan untuk beristrahat di sela-sela ktifitas melayani pengunjung yang mulai lenggang. "bagaimana hari pertamamu di sekolah kemarin" Tanya pria berpipi tembem di balik meja barista sambil menyerahkan secangkir mochacino yang di minta baekhyun.
"yah.. menyenangkan. Dengan penyambutan khas murid baru apa lagi murid itu murid beasiswa" jawab baekhyun tersenyum kecut lalu menyesapi mochacino miiknya. "aigoo.. apa yang mereka lakukan padamu ha.?" Tanya xiumin penasaran lalu mengambil tempat duduk di depan baekhyuh.
"aku nyaris menjadi kue kemarin, tepung terigu dan telur membalut seluruh tubuhku dan berakhir di tempat pemanggangan" keluh baekhyun sambil meengerucutkan bibirnya imut dan di sambut dengan tawah renyah xiumin.
"ya..! kenapa hyung menertawaiku..?" dengus baekhyun keasal, "kau pasti tambah imut dengan balutan terigu seperti itu" goda pria berpipi bak bapao itu, namun hanya dibalas dengan death-cute-glare oleh baekhyun.
"hyung, aku juga ingin masuk ke sekolah itu, rasanya senang bertemu dengan orang-orang kaya setiap harinya" tao mendekat dan duduk di samping baekhyun. "setelah satu hari kau disana kau pasti akan pulang dengan menenteng semua barangmu dan kembai ke china tao-ah" jawab baekhyun mendramatisir meyakinkan tao untuk tidak mengikuti jejaknya. "apa orang kaya sekejam itu" Tanya tao bingung "ya..setidaknya sebagian dari mereka begitu" jelas baekhyun dan hanya di sambut dengan anggukan mengerti dari pria dengan lingkaran mata hitam seperti panda.
"kalian berhentilah bercanda aku menggaji kalian bukan untuk menggosip" suara berat itu membuat tiga pria yang tadinya berkumpul membubarkan diri dan kembai ke pos mereka masing-masing, suara khas milik pria jangkung dengan rambut pirang, tampan, berkarisma. kata-kata yang menggambarkan sosok seorang kris wu. jika di perhatikan, orang-orang pasti akan berpikir ia adalah seorang model namun tak di sangka pria blasteran china-korea-kanada itu adalah pemilik restoran yang menurut pendapat kebanyakan pegawainya sesorang yang mempunyai ketampanan seperti kris sangatlah tidak cocok namun kebijaksanaan, kerja keras dan kesabarannya mampu membungkam presepsi mereka.
…
Setelah berpamitan dan membungkuk sopan pada pegawai yang masih bekerja baekhyun segera melenggangkan kakinya keluar dari tempatnya mencari nafkah. Melirik jam biru yang melekat di pergelangan tangan kananya yang menunjukan angka 5,14 "masih cukup waktu untuk berjalan-jalan sebentar" ia bergumam pelan dengan kaki yang terus melangkah.
Dan sungai HAN lah yang menjadi tempatnya untuk menghabiskan senja, semenjak di hari pertama ia tiba di korea, baekhyun ingin segera berkunjung ke tempat yang bersejarah baginya ini, namun kesibukkan mengurusi beasiswa tidak memberikan waktu untuknya. Dan disinilah pria mungil itu sekarang, duduk sendiri di tepi sungai han sambil sesekali meyeruput bublletea stroberi kesukaannya. Pikirannya jauh menerawang pada kejadian-kejadian manis beberapa tahun silam saat ia berjalan bergandengan dengan sosok yang selalu menempel di sampingnya atau dengan kedua orang tuanya yang selalu mengajak baekhyun menghabiskan hari libur mereka untuk piknik atau sekedar berjalan-jalan di sini.
terkadang keluarga park juga bergabung dengan mereka dan membuat kedua keluarga yang bertetangga itu mengobrol hingga lupa waktu, ayah mereka akan membahas masalah perkembangan bisnis yang terjadi di perusahaan mereka masing-masing, sedangkan para ibu akan membahas tentang tren model terbaru sementara baekhyun dan chanyeol akan bermain bersama di sekitar taman itu.
Cukup lama ia tenggelam dalam ingatan masa lalunya hingga bublletea yang tadinya masih penuh menjadi kosong menyadarkan pria bersurai coklat keunguan itu, ia kembali melirik jam tangannya lalu memutuskan untuk pulang ke apartemen kecilnya mengerjakan tugas yang cukup banyak untuk di serahkan pada hari senin nanti.
Ia menarik tubuh mungilnya untuk berdiri tegap lalu memukul bokongnya pelan menjatuhkan kotoran yang mugkin menempel di sana lalu memutar tubuhnya namun sedetik kemudian ia mematung.
mata sipitnyai melebar, iris coklat bening itu bertemu dengan mata tajam chanyeol, mereka berdiri di satu garis lurus dengan pandangan yang saling mengunci, baekhyun memasang wajah senduhnya sedangkan chayeol masih dengan ekspresih datar, cukup lama mereka terpaku dengan posisi seperti itu hingga chanyeol memutuskan untuk melangkah menuju baekhyun lalu melewatinya seperti kejadian di koridor penyimpanan loker kemarin namun kali ini baekhyun memutuskan untuk tak menegur chanyeol ia hanya menundukkan wajahnya dalam.
Chanyeol side
Pria jangkung itu melangkahkan kakinya menapaki tanah berumput yang khas di tempat ini, entah angin dari mana pria tampan itu memutuskan untuk berjalan-jalan di tepi sungai han sore ini, biasanya ia akan menghabiskan weekendnya dengan wanita penghibur di bar-bar yang sering di kunjunginya bersama kai lalu berakhir di kamar hotel untuk menyalurkan hasrat sexnya.
Namun hari ini tampaknya ia memilih sisi positif akan hidup kelamnya, semenjak ibunya meninggal ia menjadi pria yang dingin terlebih lagi namja manis yang menjadi penyemangat dan pengisi hatinya pergi meninggalkannya dengan kekacauan yang di buat pria mungil itu chanyeol semakin uring-uringan hingga alcohol dan dunia malam menjadi pelampiasannya, ayah chanyeol yang merupakan pebisnis terkenal di negri ginseng ini memudahkan ia mendapatkan apapun yang di inginkannya namun satu yang masih menyisahkan tempat kosong disana tepat di hatinya, kekayaan dan pesona chanyeol tak mampu memberikan dukungan berarti untuk mengisi kekosongan itu atau memang tempat yang paling penting itu tak pernah kosong, walau samar tapi gambar sosok mungil dengan senyuman manisnya masih tercetak di sana. Bahkan yoona-noona yang selalu di goda chanyeol tak lebih dari hiburan semata, paras cantik dengan tubuh menawan menjadikan wanita yang berada satu tingkat di atasnya itu menjadi wanita yang di perebutkan banyak pria, chanyeol hanya ingin membuktikan bahwa dirinya adalah sosok yang mampu mendapatkan apapun.
Namja mungil itu Menyiksa chanyeol dengan kenagan manis mereka, terlebih lagi saat kehadirannya di saat-saat chanyeol kembali memikirkan dirinya melalui mimpi malam chanyeol, ia hadir dan mengulas senyum yang sama, mengembalikan detak jantung yang bergemuruh keras seperti bertahun-tahun silam, "mimpi itu menyiksaku namun tak sesakit aku melihatmu berdiri di hadapanku kemarin" gumaman datar keluar dari bibir penuhnya, "aku membencimu byun baekhyun, aku membencimu" suara berat itu kembali berucap lirih dengan isi hati yang bertolak belakang dengan ucapannya.
Mata namja jangkung itu manyapu seluruh pemandangan yang di tangkap obsidian bening miliknya di selah langkah kaki yang terus berpacu menelusuri pinggiran sungai han yang menyugukan pemandangan indah dengan air mancur yang terlihat berwarna warni menyembur di sisi jembatan. Lampu-lampu juga mulai terlihat terang menggantikan fungsi mentari yang sudah tenggelam bebera saat lalu di balik samudra.
Deg…
di sana, di tempat yang dulunya sering di tempati mereka berdua, tempat yang memberikan banyak kenangan. namja mungil yang hadir di mimpi-mimpi malam chanyeol duduk dengan bublletea yang di genggam oleh tangan mungilnya. "byun baekhyn.." canyeol bergumam pelan.
tak tahu berapa lama ia termenung memandang namja bersurai coklat keunguan itu hingga baekhyun berdiri dan berblik memandangnya juga, ekspresih sendu tercetak jelas di wajah manis baekhyun namun tak mengurangi pesona indahnya sama sekali, chanyeol memiih melanjutkan perjalanannya dan mengabaikan baekhyun.
Hingga setelah cukup jauh ia melewati sosok mungil itu canyeol mengeluarkan smartphone disaku jeket abu-abu yang tengah di kenakannya dan menekan nomor yang tampaknya sudah fasih di hafalnya, setela menunggu beberapa saat membiarkan nada sambung mengalun, sesorang di sebrang sana mengangkat panggilan chanyeol "jongin-ah temani aku di tempat biasa malam ini" tanpa menunggu respon dari jongin chanyeol memutuskan panggilan mereka dan berjalan menuju mobil mewahnya terpakir, malam ini tampaknya kehidupan brengsek namja jangkung itu akan kembali berjalan setelah beberapa hari di tinggalkannya.
PAST…
Baekhyun mengatur deru nafanya yang terus memburu, setelah melewati pintu gerbang yang tinggal beberapa senti lagi tertutup dengan berlari dari halte yang berjarak 100 m dari gerbang sekolah mewahnya. kedua tangan mungilnya di tumpuhkan pada lutut dengan tubuh yang sedikit membungkuk, setelah beberapa saat bertahan dengan posisi konyol seperti itu ia menegakkan tubuh mungilnya, mungil mungkin bukan istilah yang cocok untuk baekhyun tinggi badannya nyaris 174 cm namun karena perawakan murid laki-laki di sekolah elit itu hampir seluruhnya menjulang dan nyaris menyentuh garis pengukur 2m di tambah dengan wajah baekhyun yang manis bak seorang anak kecil berumur 10 tahun jadi istilah mungil cocok untuk nya, walaupun ia sering melotot protes pada orang-orang yang secara terang-terangan mengatainya mungil.
Setelah mengatur nafas dan meneraturkan detak jantungnya yang bergemuruh akibat kelelahan ia menyapa sesorang yang berdiri dengan garang di samping gerbang sekolah "selamat pagi ajusshi" baekhyun membungkuk hormat pada ajusshi penjaga gerbang dan dibalas dengan senyuman dari pria paruh baya itu walau beberapa saat ia sempat tertegun, mungkin ajusshi itu bingung karena sebelumnya tak ada yang menyapanya sama sekali bahkan sekedar melempar senyum padanya pun tak pernah, hanya umpatan dan kata-kata kasar yang sering di terim pria berbadan besar itu karena menutup gerbang dan membiarkan beberapa siswa berandalan bediri di luar gerbang karena terlambat hingga guru b menggiring mereka ke ruangan bp.
baekhyun menghempaskan bokongnya di tempat duduk yang resmi menjadi miliknya hari jumat lalu sambil sesekali melirik pada namja jangkung yang duduk di sudut kelas dengan wajah menghadap pada dinding kaca bening di sebelah kanannya. Chanyeol tampak tenang dengan posisi kedua tangan di lipatnya di depan dada, baekhyun tersenyum miris 'kau begitu dekat sekarang, tapi begitu jauh untuk ku gapai' ia bergumam pelan lalu membuang nafas berat, mengeluarkan buku tugas dari dalam ranselnya yang membuat pria manis itu harus ngos-ngosan mengatur nafas karena hampir terlambat.
"jika tadi aku terlambat, anak panda bodoh itu akan aku masukan dalam daftar menu baru di restoran kris ge" gerutu bekhyun kesal sambil membuka lembaran buku tugasnya yang sudah selesai di kerjakannya hanya sekedar untuk memeriksanya ulang, deretan angka yang tampak mendominasi kertas putih bergaris itu tersusun rapi di sana walaupun pada bagian-bagian barisan akhir angka tersebut sudah tak berdiri rapi lagi tampak beberapa barisan di tulis secara tergesah-gesah.
Ya, zitao memutuskan untuk menginap di apartemen baekhyun tadi malam karena pria chainis itu mendapat sift malam di restoran tempat nya dan baekhyun bekerja (sedangkn baekhyun tiak mengambil jadwal kerja pada hari minggu). dengan alasan jarak antara restoran dan rumah bibi yang menjadi tempat tinggalnya di negri ginseng ini jauh dan waktu sudah menunjukkan puku 10 malam maka ia lebih memilih menginap di apartemen baekhyun yang hanya berjarak 25 menit jika di tempuh dengan bus yang masih beroperasi hingga tengah malam.
menit menit pertama namja yang 'katanya' menguasai material arts itu tampak baik-baik saja hingga pukul 11.30 malam ia merajuk pada baekhyun yang sedang berkutat dengan tugas sekolahnya untuk menemani tao mandi, alasannya cukup sederhana, apartemen baekhyun kecil dan sedikit kotor jadi serangga atau hantu bisa sajah muncul di kamar mandi baekhyun , dengan mengangkat tubuh malas baekhyun menemani namja yang 'katanya' menguasai material arts itu mandi hingga pukul 12 malam. Itulah alasan bakhyun mengumpatkan nama tao di sela-sala kegiatannya menunggu seonsaengnim yang akan mengajar di kelas mereka.
Nama tao berhenti di lafalkannya begitu melihat salah satu guru killer masuk di ruangan kelas mereka, ia memperbaiki letak duduknya dan menyapa kyungsoo yang baru masuk menyusul choi seonsaengnim, tampaknya pria bermata doe itu mendapat sedikit tugas dari seonsaengnim kalkulus mereka itu. "baiklah anak-anak kumpulkan tugas minggu lalu" suara khas orang tua keluar dari bibir seonsaengnim berambut keputihan itu.
Baekhyun hendak berdiri dan mengambil buku tugasnya sebelum tangan besar dan kokoh milik chanyeol menyambar buku tugas itu dan menghapus nama choi baekhyun di cofeer buku berwarna hitam polos dengan namanya sendiri, baekhyun hanya melongo kaget memperhatikan pria jangkung itu melakukan aksinya, tak ada protes dari bibir tipis baekhyun, ia mengikhlaskan tugas yang di kerjakannya dengan susah payah itu. setelah mengumpulkan tugas 'nya' yang di sambut tatapan kaget dari sonsenyim dan siswa lain di kelas itu chanyeol kembali ke tempat duduknya dan mengucapkan terimakasih tanpa suara kepada baekhyun.
setelah menghitung jumlah buku tugas yang harusnya berjumlah 23 buah sonsenyim menyuruh murid yang tidak mengerjakan tugas untuk maju kedepan kelas. "hanya 22 buku tugas di sini, siapa yang tidak mengerjakan tugas ini..? apa kalian ingin main-main dengan ku..?" Tanya guru kiler itu stakratis, ruangan kelas mendadak hening dengan atmosfir yang mencekam, sudah menjadi rahasia umum bahwa siswa-siswi yang melawan sonsenyim paruh baya itu akan berakhir di mana.? 'toilet'.
takut-takut baekhyun berdiri dari kursinya dengan kepala yang tertunduk dalam, ia melangkah menuju meja seonsaengnim. Kyungsoo hanya menatap punggung beakhyun bingung begitu juga murid lainnya tak terkecuali chanyeol yang menyeringai puas telah mengerjai namja mungil itu. Ingat, baekhyun murid beasiswa di sekolah ini dan sudah bisa di pastikan kepintarannya di atas rata-rata tapi dia berani mengabaikan tugas dari seonsaengnim killer se antero sekolah, bukan kah itu hal yang aneh?. "sepertinya tadi aku melihat bekhyun meletakkan tugasnya diatas meja" gumam kyungsoo bingung.
"kau murid beasiswa itu kan..?" Tanya choi seonsaengnim yang di sambut gelak tawa oleh seluruh siswa kecuali kyungsoo yang merasa jengah dengan tingkah siswa di kelasnya ini. "i-iya seonsaengnim" jawab baekhyun gugup. Setelah membuang nafasnya berat choi seonsaengnim menyuruh baekhyun untuk membersihkan toilet selama jam pelajarannya yang berarti akan berlangsung 4 jam, baekhyun meneguk ludahnya kasar lalu mengangguk paham dan memutar tubuhnya keluar kelas menuju toilet untuk menjalani hukuman yang tak di perbuatnya.
….
Chanyeol menelusuri lorong sekolah dengan langkah panjangnya setelah meminta izin pada choi seonsaengnim untuk beristrahat di ruangan kesehatan sekolah, walaupun jelas ia berbohong tapi choi seonsaengnim tetap mengizinkannya, seorang park chanyol meminta izin untuk meninggalkan ruangan kelas adalah hal yang langkah, hanya pada guru yang sudah agak tua itu ia berlaku layaknya murid, mengingat hubungan choi seonsaengnim dan ayahnya adalah teman dekat waktu di sma dulu ia sedikit mengetahui tentang keluarga guru kalkulusnya itu.
Chanyeol berhenti tepat pada ruangan yang ada di ujung koridor lantai 3 gedung sekolah ini, ia menyeringai licik, obsidian beningnya terus memperhatikan baekhyun yang sedang berkutat dengan kain pel, sesekali namja mungil itu menyelupkan kain pel pada ember kecil yang berisi air memeras air di kain pelnya lalu melanjutkan menggosok lantai marmer yang di anggapnya kotor.
"aku terkejut kau cukup lihai mengerjakan pekerjaan orang miskin seperti itu" suara berat chanyeol menghentikan aktifitas baekhyun, pria dengan eyeliner itu memutar tubuh mungilnya menghadap chanyeol yang sedang bersandar pada pintu toilet sambil melipat kedua tanggannya di dada.
Baekhyun hanya diam, ia memperhatikan chanyeol dengan wajah sendunya "kau banyak berubah chanyeol-ah" akhirnya baekhyun menyuarakan apa yang di pikirnya setelah beberapa saat memperhatikan penampilan dan raut wajah chanyeol yang selalu terkesan dingin dan datar.
"ck, tau apa kau tentang ku.?" Chanyeol mendengus lalu berjalan kearah baekhyun. "sudah lama aku ingin menanyakan hal ini padamu, apa keluarga byun bangkrut hingga anak tunggal mereka harus mengurus beasiswa agar bisa bersekolah.?" Tanya chanyeol dengan tatapan meremehkan.
Baekhyun hanya mampu menunduk, ia tak berani meatap kedua obsidian chanyeol, tatapan chanyeol menunjukan kebencian padanya ia benci chanyeol yang seperti itu. "tidak, keluarga byun baik-baik saja" jawab baekhyun sedikit bergetar, ia menggigii bibir bawahnya menahan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya,
"lalu kenapa kau mengurus beasiswa di sekolah ini..? kau bahkan mengganti margamu sendiri" kini suara chanyeol berubah menjadi dingin dan itu berpuluh-puluh kali lipat lebih menakutkan dari pada sebelumnya.
"a-aku.." bekhyun tak mampu berkata apapun lagi, lidahnya keluh untuk mengeluarkan suara ia hanya mengepal gagang pel nya keras hingga buku-buku tangan lentiknya memutih. "atau mereka membuangmu karena mereka tak ingin mempunyai anak yang ternyata seorang pembunuh.?" Suara chanyeol kini meninggi menggema di ruangan yang hanya di tempati mereka berdua karena siswa di sekolah itu masih mengikuti pelajaran dan jangan lupa ini di toilet.
baekhyun hanya mematung di tempatnya. Ia mengangkat kepalanya dengan air mata yang sudah meleleh di pipi putihnya "a-aku bisa menjelaskan kejadian itu chanyeol-ah, itu hany.." Belum selesai bekhyun menjelaskan apa yang menjadi dasar kebencian chanyeol padanya selama ini, tangan besar milik chanyeol sudah mengepal di kerah sergam baekhyun, tenggorokan pria mungil itu tercekat hingga ia tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya, gangang pel yang tadinya dI pegang juga jatuh di lantai.
badannya di dorong paksa di dinding toilet, chanyeol mengimpitnya dengan mata yang menyala karena amarah. "berhenti membual byun baekhyun, aku melihatnya secar langsung. Kau membunuhnya..kau membunuhnya" chanyeol berteriak di depan wajah baekhyun yang terus mengeluarkan air mata.
Tak ada kata yang mampu keluar dari bibir tipis itu ia hanya mampu membatu dan membiarkan air matanya meleleh melewati pipi putih mulusnya, ia ingin berteriak ini buka salahnya ia ingin menjelaskan semuanya namun apa gunanya jika chanyeol tak mau mendengar penjelasan lagi, mata namja jangkung itu bahkan memerah entah menahan amarah atau menahan kepedihannya, sedetik kemuadian chanyeol mendorong tubuh baekhyun, tubuh namja mungil itu terhempas di lantai toilet berbenturan dengan lantai marmer yang dingin akibat aktiifitas mengepelnya tadi.
sakitt…., Hatinya sakit.
tak pernah sekalipun chanyeol memperlakukannya seperti ini, namun tampaknya presepsi itu takkan berlaku lagi mulai hari ini. "hiduplah dalam penyesalanmu byun baekhyun. aku masih menerima keluargamu menolak membantu perushan appaku saat kami nyaris bangkrut dulu, namun aku takkan pernah melupakan kejadian saat kau membunuh ibuku. Aku takkan pernah memafkanmu bahkan di kehidupa selanjutnya. Camkan itu" chanyeol meninggalkan baekhyun yang masih mematung di sana, kata-kata tajam yang mampu menusuk tepat di jantung namja mungil itu, ia tak bergeming mata sipitnya menatap kosong lantai marmer putih mengkilap yang terbentang di depannya dengan air mata yang terus mengalir disana, deru nafasnya ter engah-engah dadanya terlalu sakit bahkan gendang telingannya berdengung sakit saat mendengar rentetan kata-kata panjang yang keluar dri bibir penuh chanyeol.
pria mungil itu menggeleng keras "ti..tidak, aku chanyeol percaya lah, a..aku tak mungkin melakukannya" ucap baekhyun lirih dengan nada bergetar masih berusaha menstabilkan deru nafasnya.
ini tak benar orang yang begitu di cintainya yang selalu hadir dalam mimpi indah dan rencana masa depannya harus membencinya bahkan dengan lantangnya ia akan membenci baekhyun bahkan sampai di kehidupan selanjutnya. Baekhyun hancur, bagai kaca yang di lempar ke lantai marmer, pecah menjadi kepingan-kepingan kecil dan air mata itu menggambarkan kini ia tak berbentuk lagi.
Tbc
Ini apaaa…..? sumpah makin geje dah ni cerita *meluk baekhyun
Tapi di maklumin aja ya, authornya rada kaga waras jadi ffnya juga abal bgt
Maaf juga buat yang nunggu(kalau ada) karna ane update telat
Maklum kerjaan banyak *sok sibuk
Walaupun redernimnya mungkin dikit tapi aku senang kok, setidaknya ada yang baca.
And big thanks buat yang udah repiu *peluk manja
KarlinaAmelia, ViviPExotic46
Tetap repiu ya..
See you in the next chapter…
