Matt pulang ke apartementnya dalam keadaan senang. Entah kenapa, perasaannya menjadi lebih baik ketika bertemu dengan Mello tadi. Ada perasaan aneh yang timbul, seperti ada ribuan kupu-kupu terbang di dalam perutnya begitu ia bertemu dan berbicara dengan Mello. Jangan-jangan Matt jatuh cinta? Oh apa kalian bercanda? Sungguh tidak lucu. Maksudku, hei, mereka baru dua kali bertemu dan Matt sudah ada "rasa" terhadap Mello. Itu jelas tidak mungkin.
Matt menghambur ke sofa yang letaknya di depan TV, kemudian menghidupkan TV. Matt melihat sebuah channel yang sedang menayangkan sebuah film bergendre action.
Tiba-tiba film yang sedang ditonton oleh Matt terpotong oleh sekilas info –berita-. Matt berniat menukar channelnya, tetapi diurungkan niat tersebut begitu mendengar perkataan Sang Reporter,
"Telah terjadi pembunuhan sadis yang terjadi di sebuah rumah pejabat negara yang terletak di Abey Road NW 48." Kata reporter tersebut.
"Diperkirakan dari kondisi mayat, kejadian terjadi sekitar pukul 22.15. Hingga kini, pelaku pembunuhan sadis ini belum diketahui. Tidak adanya saksi mata mempersulit penyelidikan pihak berwenang dan..."
Death Note © Ryuu punya detnot, tapi detot Ryuu dicolong ama TO kuadrat *nangis gelindingan. *Di cium Tsugumi Ohba and Takeshi obata pake pisau
Asesino © ini punya Kisaragi D Ryuu Lawliet dan selamanya hanya punya dia *Ryuu me-lebay
Romance-maybe-/humor-maybe-/drama/action/and many other
Piairing : Matt X FemMello
FemMello X Matt
Warn : Miss typo,AU, GORE, abal-abalness, GaJeness, NGEness, author sinting, etc
A/n: Gomen telat banget update. Ryuu lagi buram ide
Hehehehehehehe ^~^
Yoshhh! Tanpa banyak ngoceh, Ryuu ucapkan
Happy Reading minna~~
\(^O^)/
Matt terdiam mendengar penuturan reporter barusan. Otaknya cerdasnya langsung memutar kejadian beberapa menit yang lalu. Kemudian dilihatnya jam tangannya menunjukkan pukul 23.45. Aneh rasanya melihat seorang perempuan berkeliaran selarut itu. Dan Matt juga mengingat sesuatu yang sedikit ganjil. Ya, barcak merah kehitam-hitaman yang terlihat dari ujung rambut Mello.
'Warnanya seperti darah yanng telah mengering. Jangan-jangan... Tidak. Itu tidak mungkin. Kejadiannya 'kan jam 22.15 tadi, jarak dari Abbey Road ke supermarket itu membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam, itupun jika ditempuh menggunakan mobil dengan kecepatan 100 km/jam. Hanya perempuan yang berprofesi sebagai pembalap yang berani mengendarai mobil dengan kecepatan segitu.' Batin Matt menyangkal.
'Daripada berpikiran yang aneh-aneh, lebih baik aku tidur.' Ucap Matt dalam hati kemudian bergegas menuju kamarnya.
Sekelebat kemungkinan-kemungkinan berseliweran di otak jenius Matt, dan berbagai macam penyangkalan juga bermunculan. Kepalanya pusing saat itu, namun ia tetap memaksakan matanya untuk terpejam. Butuh waktu yang lama sebelum Matt bisa benar-benar tertidur.
.
.
Matahari bersinar redup kali ini. Tipikal cuaca di London, sangat jarang sekali cuaca bisa sangat cerah. Pagi ini Matt bangun dengan tampang kucelnya. Tidur terlalu malam –atau pagi?- itu membuatnya sakit kepala. Dengan sisa-sisa tenaga yang berhasil ia kumpulkan, Matt mencoba beranjak dari tempat tidur. Matt akan lebih memilih beristirahat dan melanjutkan tidur jika saja hari ini bukan hari terakhir sekolah. Ya, musim dingin telah tiba, jadi hal wajar kan kalau sekolah diliburkan, bukan?
Dengan langkah sempoyongan, Matt menuju kamar mandi dan segera membersihkan dirinya. Ia berharap dinginnya air akan membantunya menyegarkan diri.
Setelah dirasa penampilannya cukup rapi, Matt mengambil kunci mobil camero kesayangannya dan bergegas menuju parkiran. Dilihatnya jam tangan Hublot merahnya, tersisa waktu 10 menit lagi sebelum gerbang sekolah ditutup. Setelah mengumpat pelan, Matt berlari ke arah mobilnya dan tancap gas menuju sekolah.
Jarak dari apartemennya menuju sekolah kira-kira memakan waktu 20 sampai 25 menit jika kecepatan yang dipakai standar –bagi Matt 80 Km/Jam itu termasuk standar-. Tapi kali ini, Matt tidak bisa membawa mobil dengan santai, bisa-bisa ia terlambat. Dan Matt benci terlambat.
Dipacunya mobil merah kesayanganya itu hingga tambus 100 Km/Jam. Rangkaian kata-kata "Manis" ditujukan kepadanya karena beberapa kali menyalip mobil atau motor yang berada di depannya.
Setelah perjuangan melelahkan dalam menaklukan jalanan, Matt akhirnya tiba di sekolah tepat pada waktunya. Setelah memarkirkan mobilnya, Matt berlari menuju kelas. Seperti biasa, para fansgirlsnya berteriak memekakan telinga dan seperti biasa pula Matt menghiraukan teriakan itu.
Begitu memasuki kelas, Matt langsung menghambur ke tempat duduknya. Nicholas yang saat itu sedang membaca buku –ntah apa itu judulnya- langsung menutup bukunya dan berkata, "Bagaimana apartementmu? Aman?" Tanya Nicholas tanpa basa basi.
"Kita salah besar jika mencurigai Mello, kau tahu? Tidak ada yang hilang satu apapun dari apartementku. Semakin bersih, malah. Bahkan dia memasakkanku lasagna, sup jamur dan salad." Terang Matt yang entah kenapa terdengar begitu... semangat?
"Baguslah kalau begitu." Kata Nicholas sambil manggut-manggut. Kemudian terdengar bunyi bel sekolah. "Tumben kau terlambat, Matt. Biasanya kau datang lima menit sebelum bel berbunyi." Kata Nicholas setengah heran.
"Tadi malam aku tidak bisa tidur."
"Kenapa?"
"..."
Percakapan mereka terputus karena guru yang mengajar telah masuk ke kelas. Matt tidak menjawab pertanyaan Nicholas tadi. Ia hanya diam. Tidak mengatakan apa-apa hingga jam pelajaran terakhir.
"Because of now is winter, I want to inform you that we will free for..." Kata seorang guru perempuan.
"Hei, kau dengar itu? kita libur. Kurasa aku akan menghabiskan sebagian waktuku di Paris. Aku ingin berkunjung ke rumah tanteku." Kata Nic bersemangat.
"Kedengarannya bagus. Kurasa aku juga akan menghabiskan waktuku di Jepang. Kudengar dari Mom, Grandma sedang sakit dan dia ingin aku mengunjunginya." Terang Matt
"And of course, i will give you some homework. You can look it into your e-mail and send back to me." Terang Sang Guru. Terdengar desahan kecewa dari beberapa murid. "And... See you soon." Lanjut Sang Guru yang kemudian pergi untuk selama-lama... eh salah ding meninggalkan kelas.
Suasana kelas seketika menjadi riuh. Beberapa murid langsung keluar kelas dengan gembira, tetapi ada juga yang memilih untuk tinggal dikelas dan berbincang dengan teman-teman mereka. Matt masuk ke dalam golongan murid-murid yang langsung pulang minus dengan gembira. Entah kenapa, Matt merasa keputusan untuk mengikuti orang tuanya ke Jepang adalah keputusan yang salah atau lebih tepatnya kurang menyenangkan seperti biasanya. Ia bingung, padahal biasanya, Matt akan dengan senang hati mengunjungi nenek tercintanya di Negara Matahari Terbit itu, tetapi sekarang? Entahlah.
"Hei Matty, kenapa kau muram seperti itu?" Kata Nicholas yang sedar tadi mengikuti Matt. "Hari ini kau aneh, kau tahu? Tidak seperti Matt yang biasanya."
"Entahlah Nic, kurasa aku hanya membutuhkan waktu untuk sendiri."
"Kau tau, kau bisa cerita apa saja denganku. Aku akan dengan sangat senang hati mendengarkannya." Kata Nicholas sambil menepuk bahu Matt pelan dan tersenyum manis.
Matt membalas senyum Nicholas dengan tak kalah manisnya, sampai-sampai ada beberapa siswi yang mengalami anemia akut karena mengalami nosebleed akut. "Thank's Brat."
"Ok Then, see ya Matt." Nicholas mengemudikan lamborghini gallardonya keluar dari areal pemakaman...eh? *Di bejek*
Matt memandangi mobil Nicholas yang perlahan hilang dari pandangannya. Kemudian Matt membawa mobilnya keluar dari sekolah.
.
.
Matt sampai ke apartementnya dan mendapati sepasang... bukan... dua pasang sepatu. Yang satu sepertinya milik seorang perempuan dan yang satunya lagi milik seorang laki-laki.
Matt mengenali dua pasang sepatu itu. Ya, itu adalah sepatu-sepatu milik orangtuanya. 'Mom and Dad in here?' Kata Matt dalam hati. Dengan segera Matt memasuki ruang apartementnya.
"Oh? Hai Matty." Sapa seorang perempuan paruh baya berperawakan lembut yang memiliki rambut berwarna merah, serupa dengan Matt sambil tersenyum menyambut anak sematawayangnya itu.
"Mom? Dad? How come?" Tanya Matt setelah melepaskan jaket yang ia kenakan dan menaruhnya ke gantungan jaket.
"Baru saja. Kau sudah berkemas-kemas? Kita akan berangkat dua jam lagi." Kata Sang Kepala Keluarga.
"Not yet, Dad." Jawab Matt santai.
"Segeralah bersiap-siap. Kita akan ke bandara bersama-sama." Kemudian Sang Ayah pun pergi
Matt berjalan ke arah dapur dan mengambil botol orange juice dan meminumnya langsung dari botol. Sang Ibu yang melihat kebiasaan Matt tersebut langsung berkata, "Dear, gunakanlah gelasmu." Dan hanya dibalas "Repot, Mom. Begini lebih praktis." Oleh Matt disertai oleh cengiran khasnya yang selama ini tidak pernah diperlihatkannya kecuali didepan Nicholas dan orangtuanya tentu saja.
Matt berjalan ke arah kamarnya, diikuti oleh ibunya. "Perlu bantuan, Matty?" Tannya Sang Ibu.
Mendengar pertanyaan ibunya, Matt memutar bola mata dan kemudian mejawab, "Oh Mom, anakmu ini sudah besar. Kurasa berkemas-kemasadalah hal yang gampang." Kemudian ia mengeluarkan kopornya. Bersiap untuk berkemas-kemas.
Disuatu tempat di London
TRING TRING TRIIINGGG... (sfx: bunyi telepon masuk)
"I have new job for you. But you must go to Japan before take that job." Sebuah suara wanita terdengar dari seberang sana.
"Who?" Jawab suara perempuan lain. Mello.
"Kenapa harus terburu-buru, Mihael?" Kata wanita itu sambil mendengus tertawa. "Nikmati saja jalan-jalanmu di sana. Tenang saja, aku yang akan menanggung semua kebutuhanmu selama disana." Lanjutnya.
Mello hanya diam dan mendengarkan penuturan wanita yang menurutnya sinting itu sambil melihat langit London yang kelam dari tepi puncak sebuah gedung dengan ketinggian 150 kaki.
"Nanti akan kukirim e-mail siapa yang harus kau bunuh. Remember, i always notice you." Peringat suara Wanita itu.
Tanpa aba-aba, Mello menutup handphonenya dan mambaringkan badannya. Mello memejamkan mata, bayangan yang selama ini menghantuinya datang kembali. Ya, bayangan saat pertama kalinya ia membunuh seseorang.
Dengan tenang –berbeda dengan berberapa tahun yang lalu, ia selalu histeris dan menjerit saat bayangan itu kembali menghatuinya- Mello membuka mata dan bergumam, "Ha-ah, kejadian itu... Sudah lama sekali." Dan Wajah Mello langsung memburam seketika.
"Engghh... Sudahlah daripada memikirkannya lebih baik aku berkemas-kemas sekarang." Kata Mello sambil merenggangkan otot-ototnya dan bangkit. Mangambil satu langkah ke depan dan...
.
.
"Matt, kau sudah yakin tidak ada yang tertinggal?" Tanya sebuah suara lembut dari sebelah kanannya.
"Kurasa tidak, Mom. Nanti kalau ada yang kurang, aku bisa membelinya di sana." Jawab Matt ringan.
"Baiklah kalau begitu." Kata ibu Matt tersenyum.
Sebuah suara yang terdengar dari intercom mengintrupsi pembicaraan ibu dan anak itu. Suara tersebut memberitahukan kepada para penumpang yang ingin ke Jepang harap bersiap-siap karena pesawat akan segera berangkat.
Matt dan orangtuanya bergegas menuju pesawat yang dimaksud. Setelah menemukan tempat duduk, Matt langsung memutar mp3 dari i-pod miliknya yang tersambung dengan headphone merah dan memejamkan mata, 'Perjalanan akan sangat lama. Lebih baik aku beristirahat.' Ujar Matt dalam hati.
.
.
Sementara Itu, di Bandara Internasional London
Seorang perempuan yang memiliki rambut blonde, bermata onyx dan mengenakan pakaian casual berwarna hitam datang menghampiri tempat pemesanan tiket.
"Excuse me, Miss. Can i help you?" Tanya si penjaga tempat tersebut.
"Saya ingin memesan tiket tujuan Jepang untuk hari ini." Kata perempuan itu.
"Sorry Miss, untuk hari ini, penerbangan terakhir menuju Jepang baru saja berangkat." Jelas penjaga tersebut.
"Baiklah kalau begitu, aku pesan untuk besok." Kata perempuan itu.
"Jam berapa, nona?"
"Sepuluh pagi."
"Atas nama?"
"Mihael Kheel."
.
.
Setelah berjam-jam melakukan perjalanan menuju Jepang, Matt dan kedua orangtanya tiba di Jepang dengan selamat. Matt langsung mengedarkan pandangan ke penjuru bandara Narita. Matt menasang wajah datarnya sementara itu ibunya berkata dengan riangnya, "Wahhh... Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Obaa-chan, bukan begitu honey?" Tanya Sang Ibu kepada Sang Ayah yang di balas dengan anggukan dan senyuman dari si Ayah.
"Matt, apakah kau akan tinggal bersama kami atau menyewa apartement lagi?" Tanya ayah Matt.
" Menyewa apartement saja, Dad. Aku ingin menikmati suasana di sini sendirian."
"Baiklah kalau begitu. Kami sudah menduga kamu akan menjawab seperti itu. Dad sudah memesankan sebuah apartement untukmu. Berdekatan dengan apartemen kami." Kata Sang Ayah sambil memberikan secarik kertas yang berisikan alamat apartement –sementara- Matt.
"Mom dan Dad langsung ke tempat Obaa-chan ya, kamu langsung ke sana saja. Nanti kamu menyusul kami di sana." Kata ibunya.
"Baiklah."
Mereka berpisan di bandara. Jangan heran melihat Matt dan orangtuanya tinggal tidak dengan satu atap. Matt mulai menyukai hidup tidak dengan orangtuanya semenjak ayah kandungnya meninggal dunia pada saat ia berada di kelas dua Sekolah Menengah Pertama.
_Flashback_
Waktu itu, hanya Matt dan ayahnya yang berada di rumah sedangkan Sang Ibu sedang pergi ke Milan karena ada beberapa pekerjaan yang mengharuskannya berada di sana. Tiba-tiba ada segerombolan orang datang, mereka mendobrak paksa kediaman Jeevas. Ayah-anak yang sedang menonton TV bersama itu terlonjak kaget begitu mendengar suara dobrakan pintu. Sang Ayah yang bermaksud melindungi anaknya tertebas sebuah katana tepat di arah jantungnya, Matt –yang saat itu berada di depan ayahnya- langsung histeris dan berlari menghindari si penjahat. Untunglah polisi segera datang, tetapi sayangnya pelaku yang telah membunuh ayahnya belum juga tertangkap hingga kini.
Semenjak itu, Matt trauma dan tidak mau lagi tinggal serumah dengan keluarganya. Walapun begitu, Matt masih sering berkunjung kerumah orangtuanya walapun tidak sampai menginap. Ibu Matt hanya bisa tersenyum sedih dan memaklumi kondisi anaknya.
_Flashback End_
Matt memanggil taksi dan menunjukan alamat apartementnya kepada si sopir. Setelah si sopir mengangguk, Matt memasukkan barangnya ke dalam bagasi mobil dibantu oleh si sopir dan memasuki taksi menuju apartement barunya.
.
.
Hari ini Matt hanya menjalani kegiatan yang menurutnya agak membosankan. Ya, maksudnya, hei kau pasti merasa bosan jika kau hanya menjalani kegiatan seperti membereskan barang-barang, menghabiskan waktu dengan berguling-guling tak jelas di kasur dan mengunjungi Sang Nenek. Ok, kegiatan yang terakhir tidaklah mungkin membosankan bagi Matt. Yeah, Matt menyayangi neneknya.
"Ha-ah hari yang membosankan." Ujar Matt sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur. Matt mengangkat tangannya dan melihat ke arah pergelangan tangannya, "Rupanya baru jam 20.00." Gumam Matt.
Matt beranjak dari tempat tidurnya, ia mengambil jaket dan kunci mobil cameronya yang baru siang tadi di antar oleh jasa pengiriman kilat yang terletak tak jauh dari pintu keluar.
Mengadalkan peta tempat wisata di Jepang, Matt pergi sekedar untuk membuang waktunya. Dulu Matt jarang sekali jalan-jalan, karena menurutnya, menghabiskan waktu bersama Obaa-Chan jauh lebih menyenangkan. Kalau saja sekarang Mom tidak terlalu sibuk berbincang-bincang dengan Obaa-chan, mungkin Matt akan menghabiskan sepanjang hari bermain dengan Obaa-channya tercinta. Matt merasa terasingkan rupanya.
.
.
Tujuan pertama Matt adalah Tokyo Tower. Yeah, tempat yang selalu di datangi oleh para wisatawan ini menjadi tujuan pertama Matt.
Matt menggarahkan mobilnya menuju arah yang di tunjukkan oleh peta, sempat beberapa kali tersesat tetapi setelah beberapa kali pula bertanya kepada orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya, akhirnya Matt berhasil sampai di depan Tokyo Tower.
Beberapa lirikan genit menyantroni dirinya. Gerah? Tentu saja dan sialnya, Matt lupa membawa headphonenya, alhasi? Matt hanya bisa pura-pura tidak menyadari pandanngan-pandangan itu walaupun di dalam hatinya, Matt sudah kesal tidak karuan.
Sebelum Matt memasuki lift, Matt singgah di toko yang menjual makanan kesukaan Matt, apa lagi kalau bukan fast food or junk food. Matt membeli sebuah burger dan minuman bersoda, setelah dirasa cukup, Matt beranjak menuju lift.
Matt sampai di lantai teratas Tokyo Tower, ia melihat keadaan kota Tokyo dari ketinggian itu. Ia seperti melihat ribuan bintang sama seperti di langit hanya saja yang ini bintang di darat. Matt begitu menyukai pemandangan di bawahnya.
Bosan menatapi daratan, Matt mendongakkan kepalanya ke atas –melihat langit- yang ternyata kontras sekali dengan pemandangan yang berada di bawahnya. Langit malam ini begitu kelam sekelam mata... Mello.
Melihat langit yang begitu kelam mengingatnkannya dengan mata indah berwarna onyx milik mello. Tentu saja, Mata Mello jauh lebih indah daripada langit ini.
Matt membuang jauh-jauh pikiran yang baru saja hinggap dibenaknya. Tidak mau berdiam diri, Matt hendak menuju teropong yang telah disediakan ia hendak melihat jauh lebih jelas lagi keadaan kota di bawahnya, ia berbalik tetapi tiba-tiba ia tertabrak oleh seseorang. Minuman bersoda yang ia pegang pun tumpah ke arah baju orang yang ia tabrak tersebut.
Kaget. Matt langsung mengambil saputangan yang berada di sakunya. "I'm so sorry." Katanya hendak menyampirkan saputangan itu di baju orang yang ia tabrak.
"No problem, Sir." Suara seorang perempuan yang ternyata adalah orang yang di tabrak Matt.
Matt menoleh ke arah perempuan itu, matanya terbelalak begitu menyadari siapa perempuan itu, dengan semangat, Matt langsung memeluk perempuan tersebut dan berkata, "Linda! Long time no see!"
Perempuan yang di panggil Linda itu kaget. Ia seperti pernah mendengar suara itu, tapi ia ragu. " Matt? Isn't you?" Tanya Linda ragu.
Matt menggeratkan pelukannya dan berkata, "Tentu saja aku!" Kata Matt sambil tersenyum. "Apa kabar?" Lanjutnya.
"Waahhh... sudah lama kita tidak bertemu, Matty! Kabarku baik, bagaimana denganmu?" Tanya Linda.
"Tentu saja baik, dan akan selalu begitu!" Matt melepaskan pelukan mautnya karena Linda sudah berontak karena kehabisan napas.
Matt dan Linda adalah sahabat sejak kecil, barsama Nicholas tentu saja. Tetapi karena ayah Linda yang dipindah tugaskan ke Jerman membuat tiga sekawanan itu terpisah pada saat mereka baru saja merayakan kelulusan Sekolah Dasar mereka. Matt dan Nicholas yang memang berencana bersekolah di London akhirnya pergi tanpa mengajak Linda –seperti tujuan awal mereka berdua- dan di ikuti oleh ibu dan ayah kandung Matt.
"Kenapa kau disini? Bukannya kau sekarang tinggal di Jerman?" Tanya Matt bingung.
"Aku bosan di Jerman, lebih enak di sini dari pada di sana." Jawabnya sambil tersenyum. "Kau sendiri? Sedang apa kau di sini?" Lanjuntnya.
"Obaa-chan sakit. Aku kesini untuk menjenguknya, sekalian liburan."
Linda hanya menganggukan kepala, kemudian ia bertanya, "Kau tinggal di mana?"
"Cukup jauh dari sini. Kau sendiri?"
"Dua blok dari sini."
"Baiklah kalau begitu, aku antar kau pulang." Kata Matt.
"Eh? Tidak usah, aku tidak mau merepotkanmu." Tolak Linda halus.
"Sejak kapan ada sahabat yang merepotkan sahabatnya?" Tanya Matt dengan nada yang sangat mengesalkan menurut Linda.
Linda menggerutu sesaat sebelum akhirnya tersenyum dan berjalan beriringan dengan Matt. Linda mengingat kejadian-kejadian yang dilaluinya bersama sahabatnya ini. Sangat menyenangkan. "Omong-omong, dimana Nic? Dia tidak ikut kesini?" Tanya Linda.
"tidak. Ia mengunjungi tantenya di Paris."
Mereka sampai di parkiran, Matt membukakan pintu untuk Linda dan kemudian berjalan menuju tempat kemudi. Tidak ada yang memecah kesunyian saat itu. Matt dan Linda hanya diam. Mereka sama-sama canggung untuk sekedar berbincang. Hingga mobil Matt sampai di depan rumah sementara Linda.
"Thank's Matt." Ujar Linda.
"No prob. Berapa lama kau akan tinggal di sini?" Tanya Matt.
"Mungkin sekitar 1-2 minggu lagi."
"Baiklah kalau begitu. See ya, Lin." Kata Matt dan kemudian melajukan mobilnya menjauhi rumah Linda.
Linda memandang ke arah mobil Matt yang perlahan menghilang dari pandangannya denga tatapan yang sulit diartikan. Kemudian Linda tersenyum dan berjalan memasuki rumahnya.
"Akhirnya kita bertemu lagi, Matty."
To Be Continued
A/n: Huaaaaahhhh...
Gomen nee Ryuu telat baget ngupdate ceritanya. m(_ _)m
Ryuu lagi ada masalah di DuTa a.k.a Dunia Nyata dan itu bikin Ryuu BM dan akhirnya blank ide.
Ryuu sempet kehilangan alur cerita ini. Ryuu sampe baca cerita ini berulang-ulang kali supaya feelnya dapet lagi. Dan Alhamdulillah Ryuu udah nemuin ide lagi. XD
Tapi Ryuu masi agak ragu dengan chapter ini, karena sempet 5 kali Ryuu edit. (._.)a
Yoshhh! Gimana? Bagus ga'?
Ryuu harap sih gitu
Dan gimana Typo(s)nya? Masi banyak?
Kasi tau ke Ryuu ya Ryuu kurang'a dimana supaya Ryuu bisa benerin di chapter depan. n.n
Seperi biasa~~ Reviewnya di tunggu
Bagi yang udah baca tapi ga nge-review Ryuu doain masuk surga (*nah loh?) *plaakk XDD
O iya, berhubung udah mau puasa, Ryuu mau minta maaf kalo Ryuu pernah sengaja atau enggak (*yang pasti enggak* bletak) nyakitin hati kalian. Ryuu orang'a rada urakan dan koplak, jadi kadang ada kata-kata yang ga' di sukai sama yang lain.
Yo manusia ga' luput dari salah, sob. Kwkwkwkwkwkwkw... XD
Hampir lupa lagi, Reviewnya Ryuu bales lewat PM bagi yang pake Akun
Yang enggak, here we go~
To Ipud : kwkwkwkwkw... Ryuu lupa ngasi tau kalau ipud ng-review pake akun Ryuu
XD
Thanks udah baca ya, Pud
Udah update nih
Keep Reading~~
And than~~
See you in the next chapter~~
.
.
July, 2012
Sincerely,
.
.
Kisaragi D Ryuu Lawliet
