Isi kabin yang seperti gudang itu kembali terang saat mereka membuka pintu. Si Gemuk masih membawa dua bilah pisau belatinya sedangkan si Ramping masih terlihat bernafsu menggerayangi tubuh Sanji kembali.
"Kemarin kurang menarik. Aku belum puas. Kau masih terlihat menahan kesakitan demi gadis itu, aku belum sepenuhnya terangsang. Aku butuh lebih banyak teriakan yang memilukan, ekspresi ketakutan yang lebih dalam, dan kata-kata mohon ampun. Hahahaha....."
Mereka benar-benar psyhco, pikir Nami. Ia kini bisa melihat kemeja Sanji yg sudah robek, celana yg kedodoran karena mungkin ikat pinggangnya dibuang dan risletingnya rusak, lebam di mana-mana, cipratan darah, dan air basah apa itu? Ya Tuhan, apa lagi yang akan mereka lakukan? Mereka bahkan sudah mematahkan kedua kaki Sanji tahu itu senjata mematikannya sesuai dengan julukannya yaitu si Kaki Hitam. Nami pun tak berdaya saat si Ramping itu kembali menyeret Sanji.
"SANJI-KUN!!"
"Ayo teriaklah, takutlah," kata si Ramping kasar.
Aku tak akan mati, Nami-san. Selama kau di sisiku.
"Jangan memandangku dengan tatapan seperti itu!" Ia lalu memukul lagi.
Jika jantungku berhenti berdetak sekarang, aku tak bisa menjamin para bajingan ini melepaskanmu.
"Adik, pinjam pisaunya."
Aku akan bertahan sampai Luffy datang.
"JANGAN!!!" jerit Nami.
"Tangannya belum kau patahkan, Kak!" Si Gemuk ikut tertawa hebat di samping Nami, merasakan adrenalin kekejaman yang sama.
"Bodoh! Aku ingin memotongnya," jawab si Kakak.
"Kumohon, jangan tanganku," ucap Sanji.
"Hoo, akhirnya kau bisa memohon juga," kata Si Ramping. "Adik," katanya memberikan aba-aba.
Si Gemuk yang berdiri di samping Nami langsung mengarahkan belatinya ke tangan Nami.
"Apa yg akan kau lakukan padaku?" tanya Nami ketakutan.
Si Ramping menoleh pada Nami sambil tetap menindih Sanji, "Setiap ia menolak menerima satu siksaan saja dari kami, maka kau yg akan mendapatkannya."
"Hei, apa aku perlu mengulangi kalimatku sampai tiga kali," seru Sanji.
"Memangnya kau bisa apa dalam kondisi seperti ini?" ejek si Ramping. Ia terkejut Sanji masih bisa bertahan. Manusia macam apa dia? "Kalau kau tak mau ia terluka, berikan tanganmu."
Sanji mengernyit. Nami lebih penting. "Oke, silakan."
"Cukup, Sanji-kun," ujar Nami. "Itu tanganmu yang sangat berharga. Aku tak akan membiarkan mereka merebutnya darimu. Biar tanganku saja sebagai gantinya."
Sanji mengerang dari bawah cengkeraman si Ramping tapi ia masih berbicara lembut pada Nami. "Jangan, Nami-san."
"Kau tak perlu memikul semua luka ini sendirian, Sanji-kun. Sakitmu adalah sakitku juga."
Air mata Nami semakin tak terbendung. Ia tak percaya mengatakan hal ini. Biasanya, ia akan bersikap sok manis karena paling sayang dengan nyawanya sendiri seperti saat ia mau saja ikut Enel menaiki Maxim. Kalau yang di hadapannya adalah Luffy, Zoro, Ussop, atau yg lain; pasti ia tak akan segan-segan lagi berkata "Mau kalian rebus atau kalian sate silakan saja asal jangan aku." Seingatnya, ia hanya pernah berkorban dua kali. Itu saat melawan Miss Double Finger di mana ia sangat berempati kepada Vivi sehingga ia terluka parah di kaki dan saat ia berani melawan salah satu anggota CP9 yg kekuatannya mengerikan untuk menolong Robin. Itu berarti Nami sudah menganggap Vivi dan Robin menjadi sosok yang lebih bagi dirinya, sama seperti ia memandang Desa Kokoyashi dan seluruh isinya menjadi bagian terpenting dari hidupnya sehingga ia rela diperbudak Arlong. Vivi dan Robin mungkin terasa begitu beharga karena mereka bertiga adalah sesama wanita dan ia bisa ikut merasakan betapa beratnya penderitaan yang mereka hadapi, sedangkan penduduk Desa Kokoyashi adalah keluarganya; tapi jika Nami sampai bisa menganggap seorang laki-laki di luar keluarganya sebagai sosok yang lebih sehingga ia pun rela berbagi deritanya, itu tak lain karena alasan yang baru disadarinya kini.
"Aku...Aku mencintaimu." lanjut Nami.
Sanji belum pernah mengalami hal ini. Ia tahu Nami sesekali mengatakan ia sayang padanya hanya untuk membuatnya memenuhi segala keinginannya atau seperti saat ia melerai perkelahiannya yang tak perlu dengan Zoro saat mereka adu bola dengan Bajak Laut Foxy. Ia tahu bahwa Nami kadang menggodanya seperti saat mengenakan baju seksi Arabasta dan dengan sengaja menyemprotkan parfum di depannya untuk membuatnya meleleh kegirangan atau seperti saat dengan sengaja membuka handuknya di kolam mandi Vivi saat ia ingin mengintipnya. Ia tahu bahwa hubungan mereka selamanya akan seperti itu. Ia masih mencoba menepis bahwa itu pertama kalinya ia mendengar ungkapan tulus Nami. Jika sudah begitu, ia tak bisa menghalanginya. Mungkin Sanji yakin bahwa dirinya tak akan mati sampai Luffy menjemput mereka, tapi dengan luka seperti ini Sanji tahu bahwa ia selalu siap saat ajal menjemput. Tapi, bagaimana dengan orang yang ditinggalkan? Jika itu terjadi, Nami akan semakin terluka. Terluka yang lebih dalam daripada hanya kehilangan satu tangan. Bukahkah ia sudah bersumpah untuk menjaga kebahagiaan Nami? Apa ia mau membuat Nami kehilangan seseorang yang dicintainya lagi setelah Bellmere? Sial, pikir Sanji. Ia tak tahu ia senang atau tidak dengan perkataan Nami. Melihat Nami disakiti sama saja dengan menambah sakitnya. Ia akan lebih lega jika Nami tak memikirkannya sejauh itu dalam kondisi krusial saat ini. Sanji merasa mendadak dirinya kembali egois. Tidakkah ia memikirkan betapa sakit hati Nami melihat luka fisiknya? Ya, mereka merasakan sakit yang sama. Harus dipikul bersama. Sanji merasa harus melapangkan dirinya untuk memberi kesempatan pada Nami menunjukkan cintanya. Ia tak bisa menekannya untuk tetap tersembunyi di dasar hati Nami, membuatnya terus menahan sakit. Kali ini, ia harus percaya pada tekad juang Nami. Toh, setelah ini Chopper dapat mengobatinya. Sudah berapa petualangan yang mereka lalui? Saat melawan Baroque Works dan CP 9, Nami belajar untuk menjadi lebih kuat. Ia pantas dihargai. Ia tak mau terus-terusan dianggap cewek lemah.
"Aku selalu dan selamanya mencintaimu, Nami-san," balas Sanji.
Nami tersenyum mendengarnya dan ia tidak menangis deras lagi. Sanji sadar bahwa perempuan tetap membutuhkan ungkapan lisan untuk menambahkan keyakinan pada dirinya. Tak cukup hanya terus melindunginya dari belakang meskipun sebagai pihak yang mencintai, ia akan selamanya tulus melakukannya. Namun, itu bukan berarti Sanji selamanya tak akan mampu mencairkan hati Nami yang keras. Selama ini Sanji tak pernah serius mengungkapkannya karena menggunakan Love Hurricane dan tentunya Nami selalu menganggapnya sebagai gurauan.
Melihat pemandangan itu, kedua kakak-beradik itu malah semakin tertawa. Bagi mereka, ini seperti permainan mengasyikkan saat melihat korban sudah semakin jatuh dalam kepasrahan.
Sanji pun berteriak saat beati menukik tajam ke arah Nami.
Tiba-tiba kapal berguncang seperti ditabrak sesuatu. Semua yang berdiri kehilangan pijakannya, termasuk si Gemuk. Lalu, disusul suara keributan dari dek atas dan satu teriakan amukan yg sangat khas. "DI MANA KALIAN TAWAN NAKAMA-KU??!!"
LUFFY !!!
Melihat situasi, Sanji dengan sigap menendang si Ramping. Kaki yang patah serta tenaganya yang terkuras karena siksaan tak cukup menyingkirkan si Ramping lebih jauh. Melihat kakaknya ditendang, si Gemuk sudah siap lagi menyerang Nami. Sanji berdiri sekuat tenaga dengan kedua kakinya yg sudah patah untuk mendekati Nami. Ia terpaksa meninju si Gemuk dengan sangat keras hingga terpelanting ke samping.
"Tanganmu?" kata Nami melihat darah mengalir dalam kepalan Sanji.
"Memangnya tanganku hanya untuk memasak? Ini bukan pertama kalinya tanganku terluka kan? Kalau tak bisa kupakai untuk melindungimu aku lebih rela dipotong saja."
"Dasar bodoh!" semprot Nami. "Aku sudah susah payah ingin melindungi tanganmu tapi kamu malah menyia-nyiakannya. Huh, untung belum sampai kejadian."
"Ah, Nami-swan. Aku senang dimarahi olehmu," pandangan matanya berubah menjadi hati.
Nami lega, sepertinya semua kembali normal.
Sanji mengambil belati yang terjatuh. Ia berbalik membelakangi Nami untuk berhadapan dengan kakak-beradik busuk tadi yang berdiri kembali. "Kakiku mungkin tidak kuat untuk menendang karena patah tapi setidaknya masih bisa menumpuku. Akan kuperlihatkan keahlianku yang lain, Nami-san. Jangan kau kira yang bisa menggunakan senjata tajam hanya si Marimo dan Brook."
"Kau gila. Seharusnya kau bahkan sudah tak bisa berdiri." kata si Ramping.
"Kau kira Namsan adalah kelemahanku? Dia kekuatanku tahu! Kakiku akan sembuh dalam sekejap selama ia berada di sampingku. Jangan kalian kira dengan telah mematahkan kedua kakiku, aku sudah tak bisa bertempur," kata Sanji sambil memutar-mutar pisaunya. "Dan selama aku belum menumbangkan kalian terlebih dahulu untuk memastikannya aman dari segala pelecehan seksual busuk kalian, aku tak akan mati."
"Percaya diri sekali!!!" ujar si Ramping.
"Sudah kukatakan aku akan menjadi iblis," seru Sanji.
"Hei, kami kan belum melukainya," protes si Gemuk.
"Kalian sudah membuatnya menangis dan kelaparan," lanjut Sanji.
Kakak-beradik itu menyerangnya, Sanji terdiam di tempat menunggu jarak serangan yang pas sebelum kemudian ia berputar pelan dengan genggaman pisau di tangan.
"Houchou Sabaki..." kata Sanji tenang. "Epulchage!!!"
Sanji mengiris seluruh pakaian dan kulit mereka dengan gerakan seperti mencincang bawang, lalu mereka jatuh tersungkur. Tak lupa ia memasang pose keren bersamaan dengan kejatuhan lawannya. Sanji mendekati tubuh si Kakak yang pingsan dan merogohi tubuhnya untuk mencari kunci borgol Nami. Ia pun melepaskan Nami.
Lalu, sebuah dobrakan besar tersemburat di depan mereka. Sosok Luffy perlahan terlihat dari debu dan puing-puing kayu yang berterbangan. "Oi, Nami, Sanji! Di mana kalian?!"
"Kami di sini, Luffy," jawab Nami sambil melambaikan tangannya. Luffy pun menangkap gerakan Nami dan mendekat.
Tapi Luffy malah memeluk Sanji. Kontan Sanji kesakitan. "Dua hari tanpamu aku kelaparan. Aku terpaksa makan daging mentah dari kulkas," kata Luffy
"Hanya makan saja yang kau pikirkan!!!" semprot Sanji dan Nami bersamaan menjitak Luffy jatuh.
"Shishishi, syukurlah kalian baik-baik saja," kata Luffy duduk dan tersenyum lebar. Lalu ia memperhatikan Sanji. "Lukamu parah sekali, Sanji. Ayo, kupapah ke atas. Kita harus segera menemui Chopper."
"Tak perlu, Luffy. Kalau kau sudah mengosongkan penjagaan di depan, aku bisa jalan sendiri," kata Sanji menolak dengan halus perhatian kaptennya.
"Oh, ya sudah. Memang yg di bawah ini sudah kuhajar semua kok. Kalau begitu aku duluan, aku belum menghajar kapten kapal ini karena lebih khawatir dengan kalian. Beraninya ia menyakiti para nakama-ku." Luffy pun meloncat ke atas menjebol atap.
Sanji menarik napas lega. "Ayo, kita pergi." Sanji bermaksud menggandeng Nami. Tapi tiba-tiba ia terjatuh. Nami dengan sigap meraih lengan dan bahunya.
"Dasar, masih saja mau sok gentle. Kau lupa kalau kakimu patah? Sebenarnya sungguh ajaib kau masih bisa berdiri." Nami pun melingkarkan lengan Sanji di bahunya, menopangnya, dan hendak memapahnya.
'Hei, wanita tidak pantas memapah pria," seru Sanji.
"Turuti kata-kataku sekarang!!" bentak Nami membuat Sanji menciut diam. "Kali ini biarkan aku yang menolongmu. Jangan membantah."
Sanji pun menuruti Nami. "Meski marah, kau tetap cantik koq."
"Gombal," kata Nami memalingkan muka.
Dasar, pikir Nami. Tapi entah kenapa ia lebih suka Sanji yg tetap bertingkah konyol seperti ini. Mungkin sesekali ia pantas mendapat hadiah untuk kerja kerasnya kali ini. Muka Nami pun memerah saat ia memandang Sanji kembali. Mereka berjalan perlahan karena Sanji agak menyeret kakinya. Saat Nami bisa merasakan sinar matahari setelah keluar menuju dek teratas, ia bisa melihat bahwa Luffy dan kawan-kawan sudah memenangkan pertempuran. Luffy memanjat tiang layar dan menurunkan bendera bajak laut musuh. Zoro melepas bandana di kepalanya dan mengikatnya kembali di lengan kiri tanda ia telah usai membereskan lawan. Ussop, Robin, Franky, dan Brook melambaikan tangan pada Nami sambil tersenyum lega melihatnya selamat. Sementara itu, Chopper menghampirinya.
"Mana Sanji? Kata Luffy ia terluka parah," tanya Chopper melihat Nami hanya muncul sendirian.
"Mungkin saja ia sudah tewas di bawah," jawab Nami.
Mendengar hal itu, Chopper bergegas turun dari pintu di mana Nami tadi muncul.
"Gawat, teman-teman," seru Chopper dari bawah. "Sanji terkena serangan jantung."
Mendengar ucapan Chopper, semua mengikuti Chopper karena cemas. Hanya Robin yang masih tinggal.
"Kau kejam sekali," kata Robin mendekati Nami. "Apa yang terjadi?"
"Aku cuma menciumnya sebagai tanda terima kasih kok. Tiba-tiba saja ia pingsan."
"Apa? Kamu menciumnya?"
Nami membekap mulut Robin. "Jangan keras-keras, Nanti, aku ceritakan di kamar."
"Fufufu..," tawa Robin. "Aku penasaran."
Di dek bawah, semua mengamati Sanji yang terkapar dengan mata berbentuk hati yang amat besar, hidung yang mengucurkan darah karena mimisan hebat, serta mulut yang tersungging senyum yg lebar penuh kepuasan. "Dasar koki bodoh! Rugi aku ikut turun melihat keadaannya," komentar Zoro.
The End
Maaf, klo aga OC. Mungkin karena Sanji itu fave chara, jadi kebawa buat dilebihin hehehe...
Beberapa flashback ada yg ambil dari manga ada yg dari anime, aq lupa. Yg Sanji berucap dia akan melindungi Nami setelah diceritakan Nojiko (ampe Ussop bengong ga ngerti dan tanya apa maksudnya) dan sempet nyanyain Nami soal boleh tidak ia merayu Vivi itu dari anime. Yg tak menggubris Vivi dan nodongin pistol ke Nico Robin itu beneran terjadi di manga. Pokoknya, aq nemu beberapa best moment yg dikumpulin penggemar SanNa di internet yg kuracik dalam cerita ini. Jadi, menjadi kebiasaanku -seperti di fanfic ku ttg ZOroBIN kemarin- untuk menuangkannya sekaligus dgn maksud memberi alasan mengapa koq Nami itu pantasnya sama Sanji, bukan dengan Luffy atau Zoro. Semoga kalian menangkapnya (sori, buat yg penggemar LuNa).
Soal yg nggunain tangan, ini juga kepengaruh ma doujinshi bersangkutan dan fanfic milik Lunaryu yg berjudul "The Meaning of Family" di mana Sanji sempet nggunain tangan. Kurasa, pasti ada alasan tersendiri jika Sanji sampai mengorbankan tangannya untuk memukul.
Aku ga pinter bikin humor jadinya cuma bisa kuselipin di ending aza. Sori, klo garing...
