Disclaimer: Tite Kubo yang punya Bleach. Aku hanya mengobrak-abrik Bleach hingga jadilah sepert ini (?)
Rated: T
Genre: aku berusaha se-romance yang aku bisa.
Warning: Judul diganti, setelah dipikirkan baik-baik, 'You' diganti menjadi 'I have Followed You' , maaf mengenai perubahan judulnya. Semi-canon. Semakin di baca, semakin gaje. Menyebabkan mual yang cukup parah. OOC. Typo. Deskripsi yang tidak jelas soal bangunan murni hasil otak nista aku, berhubung espada di sini manusia, jadilah seperti itu. So, maklumi ya readers. dan segala kekurangan yang lain.
Happy Reading
Don't Like. Don't Read. Do Review.
^_^v
I have Followed You
Chapter 3
Ulquiorra melangkah bersama Orihime. Ulquiorra akan mengantarkan Orihime ke kamar para espada dan arrancar yang terluka akibat pertempuran di Karakura. Mereka menuju menara keempat, menara dimana Ulquiorra biasa beristirahat di kamarnya. Tapi, mereka tidak menuju ke kamar itu.
Orihime mengamati lorong yang dilewatinya. Lorong di Las Noches sangat tinggi. Setiap menara di Las Noches terhubung melalui lorong-lorong layaknya labirin. Seluruh lorong tersebut tidak memiliki jendela, hanya ada ventilasi udara diketinggian lima meter dari lantai. Jendela hanya akan ditemukan di dalam menara.
Ulquiorra dan Orihime menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu, sesaat seorang arrancar membungkuk memberi hormat pada Ulquiorra. Lalu, arrancar tersebut membuka pintu. Di balik pintu itulah berdiri menara keempat. Setiap Ujung lorong yang menghubungkan menara memang memiliki pintu masing-masing.
Orihime menatap sebuah aula, seluruh lantai dasar menara memang berupa aula yang berbentuk lingkaran mengikuti bentuk menara. Lantai aula terbalut keramik putih yang menyilaukan mata. Aula di menara keempat cukup besar, di tengah aula ada sebuah meja putih yang besar. Meja tersebut di kelilingi beberapa kursi berwarna putih. 'mungkin lebih dari 15 kursi' batin Orihime. Selain itu juga ada beberapa sofa putih (lagi) yang terlihat empuk mengelilingi meja dan kursi tersebut.
Dan ada sebuah tangga melingkar yang menuju ke atas. Seluruh menara tersebut berwarna putih, kecuali bagian menara yang terbuat dari besi. Seperti pagar penyangga pada tangga, pagar penyangga tersebut berwarna emas. Seluruh bangunan di Las Noches seperti itu, perpaduan warna putih dan emas, termasuk kamar Orihime.
Pada dua kursi yang berdekatan duduklah seorang espada yang berwajah tua dan espada yang sedang tertidur. Espada yang berwajah tua tampak berpikir keras, hingga tidak menyadari kedatangan Ulquiorra dan Orihime, sedangkan espada yang satu lagi tidur dengan pulasnya.
Ulquiorra memimpin di depan mendekati dua espada tersebut, Orihime mengikuti dari belakang. "Barragan… bagaimana permainan catur Anda?" Tanya Ulquiorra datar.
"Ahh…aku mencoba menang. Tapi… sepertinya tidak bisa Ulquiorra. Aku tidak bisa maju."
"Ya, aku bisa melihatnya. Starrk sampai tertidur." Ulquiorra menatap kakek tua itu datar.
Barragan memangdang Ulquiorara, "Bukankah dia selalu seperti itu. Kau kesini bukan untuk bermain denganku, bukan? Jadi untuk apa kau menemuiku, Quatro?"
"Aku membawanya." Ulquiorra menunjuk Orihime yang berdiri di belakangnya. "Bukankah Ggio Vega terluka? Dia akan menyembuhkan Ggio."
Espada kedua itu menatap Orihime dengan lekat. Detik berikutnya dia tersenyum. "Baiklah kalau begitu. Aku juga tidak mau terus-terusan mendengar teriak kesakitan darinya, mengganggu ketenanganku saja." Baaragan Luisenbarn bangkit dari tempat duduknya. "Ikuti aku." Lanjutnya.
Mereka bertiga melangkah bersama menuju tangga. Tangga itu terpasang melingkar semakin ke atas mengikuti bangunan menara. Cukup lama mereka menaiki tangga tersebut. Mereka tiba di lantai ke tiga saat Tia Harribel, Tres espada, meninggalkan kamarnya menuju ke bawah. Orihime dapat merasakan ketidaksukaan dari tatapan wanita berambut pirang tersebut.
"Kamarku masih satu lantai lagi." Barragan menatap Orihime yang terhenti. Orihime menyadarinya, lalu mengangguk. Mereka meneruskan langkah menuju lantai keempat. Sejenak Barragan menjelaskan mengenai menara keempat pada Orihime.
"Lantai ketiga tadi merupakan tempat Harribel, dia espada ketiga. Kamarku ada di lantai keempat dan Starrk, pria yang tidur tadi, kamarnya terletak di lantai kelima. Sedangkan pemuda di belakangmu itu, kamarnya di lantai keenam," Barragan menjelaskan sambil menunjuk-nunjuk kesegala arah. Orihime mengangguk mengerti. 'Kamar Ulquiorra di menara ini ternyata.' Batin Orihime.
Sesampainya di kamar Barragan, Orihime menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan seorang pemuda tampan bernama Ggio Vega. Lukanya cukup parah setelah melawan – yang akhirnya diketahui Orihime – Soi Fon, sehingga menguras banyak waktu dan tenaga Orihime. Setelah selesai mengobati Ggio, Orihime merasa lelah. Ulquiorra menyadarinya.
"Bagaimana keadaanmu, Onna? Apa ingin berhenti? Kau terlihat lelah, Onna." Ulquiorra bertanya datar.
"Aku tidak apa-apa. Aku masih bisa menyembuhkan yang lain, Ulquiorra." Orihime membantah.
"Baiklah kalau itu keinginanmu, Onna." Ulquiorra mengerti. "Sebaiknya bergegas ke menara ketiga, Grimmjow terluka lagi. Dia hampir mati melawan Ichigo Kurosaki," Ulquiorra menegaskan. Orihime terlihat cemas mendengar nama Ichigo disebut Ulquiorra.
Mereka berdua kembali melintasi lorong, namun lorong yang berbeda kali ini. Pemandangan yang tampak persis sama. Setelah melewati pintu lorong, aula menara juga persis sama. Hanya saja, tidak ada espada yang bermain catur di sana.
Ulquiorra mendekati tangga ditemani Orihime. Setelah beberapa lama, mereka tiba di depan sebuah pintu berlabel 'Kamar Sexta! Ingin hidup? Menjauhlah bodoh!' Orihime sweatdrop.
"Sexta? Aku membawa Orihime Inoue untuk mengobatimu!" Ulquiorra berteriak cukup keras. Grimmjow muncul dari balik pintunya. Matanya menyipit menatap Ulquiorra yang tanpa ekspresi.
"Pet-sama… kau boleh masuk." Ucap Grimmjow lembut. "Kau? Penggemar kalong… tetap di situ." Grimmjow menatap garang Ulquiorra, lalu berbisik di telinga Ulquiorra. "Aku ingin menikmati waktu berdua saja dengan Pet-sama. Aku tidak butuh pengganggu." Grimmjow menyeringai.
"Aku tidak akan membiarkannya menyembuhkanmu berdua saja, kucing biru. Aku ikut bersamanya atau tidak akan ada yang mengobatimu. Aku bisa mengatakan pada Aizen-sama, penyebab kau tidak diobati adalah mengancam jiwa Orihime Inoue. Kau mengerti, Sexta Espada?" Ungkap Ulquiorra, masih saja datar.
"Cih! Kau itu, merepotkan sekali." Grimmjow membuka pintunya lebih lebar. Ulquiorra masuk bersama Orihime.
Orihime mengeluarkan kekuatannya kembali. Dia menyembuhkan luka Grimmjow. Grimmjow menatap Orihime dengan tatapan kagum. 'Tatapan macam apa itu? Kucing biru yang memalukan.' Batin Ulquiorra. Kemudian, Orihime menghentikan aksinya. Dia tampak terengah-engah.
"Kau baik-baik saja? apa mau berhenti?" Tanya Ulquiorra datar. Orihime menggeleng pelan dan tersenyum, lalu kembali mengobati Grimmjow.
"Kau manis sekali Pet-sama." Ucap Grimmjow tiba-tiba. Orihime menatap Grimmjow lalu bersemu merah. Grimmjow menyeringai pada Ulquiorra. "Apa lagi, kekuatanmu sangat hebat. Kalau aku menjadi kekasihmu, tentu aku tidak perlu takut untuk terluka." Seringai Grimmjow makin lebar menatap Ulquiorra yang memandangnnya dengan tatapan ingin membunuh. "Kau bisa berekspresi sekarang, Quatro?" Ekspresi Ulquiorra kembali datar. Dia membuang muka.
"Terserah kau sajalah, Sexta." Orihime hanya menatap diam keduanya dan tetap fokus menyembuhkan luka Grimmjow. Setelah beberapa lama, Orihime telah memulihkan Grimmjow.
"Terima kasih, Pet-sama. Sering-seringlah kemari, tapi jangan membawa makhluk itu." Grimmjow memberi tahu sambil menunjuk Ulquiorra. Orihime hanya tersenyum simpul. Orihime kembali mengikuti pemuda emerald yang meninggalkan kamar itu.
Untuk ketiga kalinya hari ini Orihime melewati lorong yang panjang. "Kau menyadarinya kan, Onna?" Tanya Ulquiorra.
"Eh?" Orihime tidak mengerti.
"Teman-temanmu. Mereka ada di sini, tepatnya di sarang Tres Cifras." Ulquiorra mengungkapkan. Orihime tertunduk lesu. "Sepertinya mereka sangat ingin menyelamatkanmu. Kau senang, Onna?"
"…" Tidak ada kata yang keluar dari bibir Orihime. Wajahnya berubah murung. Ulquiorra menatap gadis yang kini berjalan di sampingnya itu. 'Ada apa dengan gadis ini?' Batinnya. Orihime hanya menatap kosong udara di hadapannya. Dia memang merasakan reiatsu teman-temannya. Namun, dia berusaha mengingkarinya.
Setelah tiba di depan sebuah pintu yang terbuka lebar. Ulquiorra berhenti dan masuk begitu saja. "Dia akan mengobati lukamu." Ulquiorra memberitahu Yammy yang telentang di atas kasurnya.
Yammy bangkit, erangan keluar dari bibirnya. Dia mengangguk, memperbolehkan Orihime mengobati lukanya. Lagi-lagi Orihime berkonsentrasi mengeluarkan kekuatannya. Dahinya dipenuhi peluh. Wajahnya semakin pucat, berbanding lurus dengan keluarnya reiatsu dari tubuhnya.
Setelah luka bakar di perut Yammy menghilang. Kesadaran Orihimepun menghilang. Sebelum tubuhnya menyentuh lantai, Ulquiorra telah lebih dulu menopang tubuh Orihime. Orihime dapat merasakan dinginnya tangan Ulquiorra sebelum dia benar-benar kehilangan kesadaran.
"Onna?" Ulquiorra mencoba mengguncang tubuh Orihime. Dia menggela napas lalu menggelengkan kepalanya. 'Dasar keras kepala. Beginilah jadinya.' Batin Ulquiorra. Perlahan, Ulquiorra mengangkat tubuh Orihime dan menggendongnya, tangan kanan terselip antara lekukan lutut orihime sedangkan tangan kiri menahan punggung Orihime. Sejenak dia menatap Yammy yang sedang menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Ulquiorra bersonido menuju kamar Orihime.
Sesampainya di kamar Orihime, Ulquiorra menidurkan Orihime di atas kasurnya. Mata emerald menatap wajah pucat milik gadis berambut jingga. "Beristirahatlah, Onna." Ucap Ulquiorra seraya mengelus lembut pipi kiri Orihime dengan buku-buku jarinya. Ulquiorra meninggalkan gadis yang tak sadarkan diri itu. Lalu mengunci pintu kamar tersebut seperti biasa. 'Nanti malam, aku akan melihat lagi keadaanmu, Onna.' Batinnya.
Cerita berlanjut ke chap berikutnya!
Chap nista ini selesai juga.
Bagaimana menurut readers? Makin nistakah?
Ingin chap yang lebih nista lagi? Sampaikan melalui review *digampar readers*
Arigato
Review?
