Ia tidak mengharapkan apapun di hari itu kecuali sedikit waktu untuk melepas semua beban pikirannya. Tapi, di saat ia hampir berhasil membunuh ingatannya, ia datang dan menenggelamkannya kembali dalam sesaknya masa lalu.


Suasana di markas Port Mafia malam itu lebih meriah dibanding hari-hari biasanya. Seluruh anggota dan petinggi organisasi berkumpul di ruang serbaguna yang telah –entah bagaimana– disulap menjadi tempat pesta. Mereka berkumpul, mereka tertawa, mereka mabuk, mereka bersenang-senang dan menjadi gila di perayaan ulang tahun salah satu dari lima eksekutif, lima pimpinan tertingi para mafia. Hari itu, 29 April, adalah ulang tahun Nakahara Chuuya yang kedua puluh. Sejujurnya, menurut Chuuya, perayaan seperti ini agak berlebihan, bahkan hampir semua orang di ruangan itu tampaknya sudah melupakan inti dari perayaan itu dan hanya menikmati musik dan minuman yang tersaji.

Chuuya tidak mengharapkan apapun di hari itu kecuali kejutan kecil dari rekan-rekannya atau sekadar ucapan ulang tahun, tidak lebih. Mungkin hadiah kecil dari Koyou juga akan dengan senang hati ia terima–bahkan itu sudah lebih dari cukup. Sayangnya, saat ia menyuarakan protes dan rasa keberatannya, Mori hanya menjawab dengan cengiran, "Apa ada yang salah? Ulang tahun Elise-chan juga selalu kurayakan seperti ini." (Kemudian Chuuya berbalik dan pergi menjauh. Sungguh, apa maksud dari kalimat itu? Memangnya dia masih anak kecil?) Bahkan, Kouyou kali itu tidak memihak padanya. "Chuuya-ku sayang, umurmu sekarang sudah berkepala dua. Kau sudah beranjak dewasa. Hal seperti ini patut dirayakan, bukan begitu?" ujar Kouyou lembut, membuat Chuuya tidak mampu –atau lebih tepatnya, tidak berani– untuk membantahnya.

Tidak ada yang salah, memang. Kalau boleh jujur, ia juga merasa senang dengan semua itu. Sangat senang, malah, hingga ia rela tidak meneguk terlalu banyak anggur melewati batasanya hanya agar ia dapat menikmati perayaan itu hingga akhir. Segalanya terasa begitu baru baginya malam itu. Tentu, ini bukan pertama kalinya ia meminum minuman keras, tapi entah mengapa rasa manis yang ia kecap di lidahnya terasa begitu berbeda. Malam itu bukan pertama kalinya ia mabuk, namun sensasi panas yang menjalar di tubuhnya terasa tidak seperti biasanya. Ini bukan pula pesta –atau perayaan, atau apalah itu– meriah yang pertama kali ia datangi, tapi entah mengapa ia merasa seolah semua yang terjadi malam itu adalah sesuatu yang teramat baru; terasa lebih nyata, seolah itu adalah pertama kalinya ia merasa gembira–

–pertama kalinya setelah sekian lama–berapa lama, satu tahun? Dua tahun? Ah, ya, rasanya dua tahun lalu adalah terakhir kalinya ia merasakan rasa gembira, rasa senang, rasa ringan yang sama seperti ini.

"Sudah dua tahun…" sejak pengkhianatanmu, sejak kepergianmu dari mafia.

Chuuya menyandarkan punggung dan sikunya di meja bar, dengan bosan memerhatikan kumpulan manusia yang tenggelam dalam suka yang semu. Gulir matanya bergerak pelan, menilik satu per satu wajah yang dapat ia tangkap, dalam hati sedikit berharap ia bisa menemukan sesuatu yang … entahlah, hilang? Dua tahun sejak kau menghilang, dua tahun kau membuatku menderita. Waktu yang cukup lama untuk membuatnya harus terbiasa dengan, katakanlah, rutinitas baru; ia harus membiasakan diri mengerjakan segalanya sendirian, menyelesaikan sendiri tugas dan misi yang seharusnya dikerjakan bersama rekan, menyusun sendiri strategi yang jelas-jelas bukan spesialisasinya, mengambil alih peran yang ditinggalkan oleh si brengsek itu. Ia harus mati-matian menjaga kehadirannya, membiasakan diri dengan hari-hari yang seketika menjadi lebih berat baginya. Ia harus bersusah payah menahan diri untuk tidak melumpuhkan dirinya sendiri dengan setumpuk botol alkohol di tiap malam, di saat ia menjadi begitu lemah dan dilahap oleh kesendirian dengan mudah, berkali-kali berusaha membunuh eksistensi "Dazai Osamu" di kepalanya.

Dua tahun adalah waktu yang lama. Seharusnya cukup lama untuk membuatnya melupakan si busuk itu.

[Tapi tampaknya, lagi-lagi, ia gagal.]

Chuuya meminta izin untuk undur diri pada rekan-rekannya yang tengah berkumpul membahas sesuatu yang tampaknya bukan hal yang berat (entah apa, Chuuya sama sekali tidak mengikuti alur pembicaraan, bahkan dari awal sepertinya ia juga bukan bagian dari diskusi itu), kemudian berjalan melintasi ruangan menuju pintu keluar. ia mengambil beberapa langkah menjauh dari pusat keramaian ke sunyinya malam, berpikir berjalan-jalan sebentar mencari udara segar dapat sedikit menenangkannya. Sayangnya, tidak. Belum lama berjalan, ia memutuskan untuk berhenti di beranda salah satu dari deretan toko kecil yang sudah tutup. Tempat yang cukup sepi; selain deru beberapa mobil yang melintas dan melaju di perempatan kecil yang tidak jauh dari tempatnya, tidak ada pejalan kaki yang lewat.

Chuuya menyandarkan tubuhnya ke dinding toko yang dingin, bersembunyi dalam bayangan. Ia merogoh saku celananya, mengambil sebungkus rokok dan sebuah pemantik api, kemudian menyalakan sebatang rokok. Ia mengisapnya perlahan, kemudian mengembuskan asap putih dari mulutnya ke udara. Tar dan nikotin seketika memerangkap pengecapan lidahnya, sementara partikel padat dari asap yang ia isap menggelitik pangkal tenggorokannya. Ia tidak begitu menyukai rokok ataupun tembakau –rasanya sangat asing, jauh berbeda dengan alkohol– tapi ia suka memerhatikan lapisan tipis asap yang melambai lemah sebelum akhirnya memudar dan menghilang di udara. Ia biasanya hanya akan merokok saat anggur dan alkohol terkeras tidak dapat menghiburnya lagi.

[Lantas, mengapa ia merokok kali itu?]

Hari itu hari ulang tahunnya. Malam itu, semua merayakannya. Hari itu, seharusnya ia merasa senang–

–ya, ia memang merasa senang, di saat yang sama pula ia merasa begitu kosong. Perasaan kosong yang selalu datang dan mengganggunya setiap kali kegembiraan dan kesenangan mencoba menghampirinya. Perasaan mencekik yang selalu mengingatkannya akan penyesalan yang terus menghantuinya sejak dua tahun yang lalu. Perasaan yang tercipta dari kesendirian, putus asa, kerinduan, dan keinginan yang mendalam akan sesuatu–

–akan bantuan seorang rekan, akan senyum yang sudah lama hilang … akan seorang Dazai Osamu.

Cih, dasar menyedihkan, Chuuya mencibir dalam hati, mengejek dirinya sendiri.

Dasar brengsek, setan pengkhianat yang tidak tahu diri, dilanjutkan dengan pelimpahan kesalahan pada orang yang ia benci.

Ah, cukup. Chuuya harus membuang jauh-jauh semua pemikiran menjijikan yang berputar pada bekas rekannya itu. Lagipula, ia berulang tahun hari itu. Jarang-jarang ada perayaan seperti ini. Seharusnya ia bersenang-senang dan tertawa bersama anggota Port Mafia lainnya, melepaskan semua beban dan tugas sebagai mafia. Bukannya justru menambah beban dengan memikirkan serangga busuk dari masa lalu itu.

Ia kini sudah memiliki kehidupan baru yang jauh lebih baik.

[Meski begitu, ia sendiri tidak dapat mengelak dari kenyataan bahwa,

Ia masih merindukannya.]

Ia tidak mengharapkan apapun untuk ulang tahunnya. Ia tidak mengharapkan hadiah apalagi perayaan. Bahkan, ucapan dari Kouyou sudah cukup–

Ketika iris birunya bergulir perlahan mengikuti lambaian asap rokok, sosok yang amat ia kenal tertangkap di matanya. Berdiri di trotoar jalan, berseberangan dengan Chuuya, adalah sesosok pemuda tinggi dengan rambut cokelat dan iris mata cokelat kemerahan yang amat berkabut, menyembunyikan berbagai kegelapan dari masa-masa kelam yang ia simpan rapat. Perban yang menutupi sebagian wajahnya telah hilang. Pandangannya yang ditujukan pada Chuuya terasa begitu dingin dan menusuk, seolah ia dapat menyelidik dan menelanjanginya hanya lewat kedua mata gelap itu. Senyum yang sama sekali tidak asing bagi Chuuya terlukis di bibirnya, mengejek dengan kekehan yang melantun pelan.

–ia tidak mengharapkan apapun, dan kehadiran Dazai di hadapannya saat itu sudah berlebihan, sangat lebih dari cukup. Tapi kalau sudah begini, lancangkah jika Chuuya berharap lebih? Mungkin sebuah kecupan –tidak peduli sedingin apa itu akan terasa– dari seseorang yang amat ia rindukan bisa mengisi kekosongan yang ia rasakan.

Chuuya menjatuhkan rokoknya yang masih setengah utuh dan mematikannya di bawah sepatunya ketika Dazai berjalan pelan menyeberangi jalan yang lengang. Menghampiri Chuuya. Ia baru menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Chuuya, masih dengan seringai yang sama, memandang rendah ke arahnya. Chuuya membalasnya dengan tatapan tajam, seperti biasanya. Mereka saling berpandangan untuk beberapa menit, masing-masing memikirkan apa yang terbaik untuk dilakukan. Baik Chuuya maupun Dazai, keduanya bungkam, terlalu ragu untuk menjadi yang pertama menyapa. Seringai Dazai perlahan turun, berubah menjadi senyum pahit. Ia mengangkat salah satu tangannya (masih saja membungkus dirinya dengan perban, Chuuya berkomentar dalam hati melihat perban yang melilit hampir seluruh lengannya), terulur ke arah Chuuya, namun berhenti di tengah-tengah.

"Chuuya!" Alih-alih, Dazai mengayunkan tangannya ke samping dan menyapanya riang.

Chuuya bisa saja memukul Dazai di wajahnya saat itu juga, atau membalasnya dengan bentakan sarat dengan sumpah serapah, atau mungkin melakukan keduanya sekaligus; tapi, kali itu ia hanya diam. Bertemu kembali dengan Dazai setelah pengkhianatannya terasa begitu mengejutkan bagi Chuuya, begitu melegakan, tapi juga terasa begitu pahit. Begitu pahit hingga lidahnya mati rasa untuk berbicara.

Dazai membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia mengalihkan pandangannya dari Chuuya dan kembali memilih untuk bungkam. Tangannya lagi-lagi terulur ke arah Chuuya, kali ini dengan menggenggam secarik kecil kertas dari saku mantelnya. Chuuya mengambilnya, lalu tanpa menyempatkan diri untuk membacanya, ia bertanya, "Apa?" Suara yang keluar dari mulutnya terdengar tidak konsisten; seakan tidak bisa menentukan harus terdengar keras dan kasar atau berat dan dalam. Hal ini membuat Dazai tertawa kecil dan kembali mengulurkan tangannya–kali ini tanpa ragu-ragu. Ia melepas topi yang dikenakan si mafia, mengelus pelan surai jingganya, kemudian buru-buru ia tarik kembali tangannya sebelum Chuuya dapat mematahkannya.

"Sudah lama, ya," ujar Dazai. Senyuman di wajahnya kali itu benar-benar terlihat seperti senyum sungguhan. Sayangnya, Chuuya hanya menjadi makin kesal.

"Apa maumu, pengkhianat?" –dan kata terakhir dari kalimat itu terasa aneh untuk diucapkan. Ia sedikit menjauh dari pemuda di hadapannya, memasang posisi siaga jika sewaktu-waktu Dazai melayangkan serangan. Bisa jadi, 'kan? Dazai sekarang sudah bukan lagi bagian dari Port Mafia, Chuuya mengingatkan dirinya sendiri.

Dazai bergeming, menggunakan waktu satu detik untuk menyingkirkan rasa sakit di dadanya yang muncul akibat julukan baru dari Chuuya. Kemudian, ia kembali tersenyum sembari menepuk-nepuk pelan bahu Chuuya. "Aku mau Chuuya–" ia merapikan dan merapatkan jas yang tersampir di bahu Chuuya, "–mengabulkan permintaanku yang kutulis di kertas ini."

Alis Chuuya berkerut dalam mendengar pernyataan Dazai. Ia tidak menyangka, "Kau sudah merencanakan ini?"

"Kalau kubilang aku ingin bertemu Chuuya, apa kau akan percaya?" Dazai balik bertanya. "Nah, sudah, ya," dan Dazai melenggang pergi. Chuuya hanya terpaku di tempatnya, menatap punggung Dazai yang makin menjauh, tanpa ada niat untuk mengejarnya. ia melihat kertas di genggamannya, membaca pesan yang tertulis di sana.

"Oh, ya, Chuuya." Chuuya mengangkat pandangannya dari kertas dan melihat Dazai, belum terlalu jauh darinya, memutar badannya dan menghadap Chuuya. Senyum masih saja melekat di wajahnya, tapi entah kenapa Chuuya merasakan hangat –bukan hangat karena alkohol, kali ini terasa lebih lembut– ketika ia menatap Dazai. Sebuah kalimat terucap,

"Selamat ulang tahun,"

dan Dazai berhasil menenggelamkannya kembali dalam sesaknya masa lalu.


a/n: ... dan –uhuk– saya mati.

Maybe I made Chuuya too out of his character, but desperate and heartbroken Chuuya is my fav, so ...

And, again, much thanks for you who read this story. You make me happy, really. Erm ... see ya on the next chapter, perhaps.

-H.I-