Wogh! Setelah Yuri Hibernasi, akhirnya chapter 3 nongol juga... XD
Maaf kalau updatenya lama... =_= Abis, tugas itu pada numpuk... Gurunya... *speechless* Oke lupakan masalah guru dan mari kembali ke cerita~ Maaf Yuri lagi nggak bisa ngegaring soalnya otaknnya lagi buntu gara-gara tugas... (balik lagi ke tugas akhirnya) =_=
Di chapter ini belum ada bunuh-bunuhannya sayangnya... Yurinya lagi galau, jadinya ceritanya romance semua deh... =_= Hyahaha... XD
Desclaimer : Kyo Shirodaira & Eita Mizuno. Eyes punyaku! Kanon juga punyaku! XD *dikeroyok fans Eyes-Kanon*
Warning : OC, OCC, abal, dan sahabat-sahabatnya
Suka nggak suka harus baca~ XD
The Truth
Keadaan di ruang itu begitu sunyi. Alat pengamanpun dipasang dengan sedemikian rupa agar keselamatan Eyes terjamin. Di ruangan bercat putih itu, Seorang Hanon Hilbert tengah duduk di samping Eyes yang terbaring lemah di ranjang.
"Eyes..." kata Hanon memanggil nama Eyes. Tidak ada jawaban.
"Dokter bilang kau tengah kritis." kata Hanon
"Dan itu semua salahku karena aku tak bisa menghentikan Aniki." lanjutnya
"Aku... Benar-benar minta maaf... Aku tak bisa membantu apa-apa... Sehingga kau jadi begini. Maafkan aku. Aku memang tidak berguna." Air mata mulai membasahi pipinya. Badannnya sedikit berguncang karena menangis.
Hening. Di ruangan yang sedikit luas itu hanya terdengar suara tangisan Hanon. Hanon menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Ia merasa sangat bersalah pada Eyes.
"Aku selalu bertanya-tanya, kenapa Kak Kanon bersikeras melakukan semua ini. Awalnya, semua baik-baik saja. Tapi sekarang, semua jadi begini. Karena aku yang tak bisa mengehentikan Kakak." Hanon masih terus terisak.
"Gomen ne... Padahal, sebelum kau pergi dari rumah, kau berpesan kalau aku jangan cengeng dan jangan terus menangis. Selama ini aku terus memegang teguh pesanmu. Tapi... Kalau melihatmu seperti ini... Aku... Aku..." tangis Hanon kembali pecah
Terlihat Eyes mengerutkan keningnya dan seolah mengatakan sesuatu. Tangannya pun sedikit demi sedikit bergerak. Hanon tersentak kaget. Cepat-cepat dia menghapus air matanya, menenangkan dirinya dan mengambil tasnya. Ia berjalan menuju wastafel untuk mencuci mukanya.
Bagaimanapun, dia tak boleh melihatku, kata Hanon dalam hati
Ia lalu pergi keluar memberitahu perkembangan Eyes kepada Suster lalu pulang ke arah mansion tempat ia tinggal dengan kakaknya. Sepanjang perjalanan pulang, Hanon terlihat tak bersemangat. Matanya terlihat sayu dan tak seperti biasanya. Hanon hanya bisa menghela nafas panjang.
"Kau sudah pulang rupanya. Selamat datang." sambut Kanon ketika Hanon masuk ke mansion mereka
"Ya, Aku pulang." kata Hanon sambil tersenyum
"Dari mana saja? Jangan buat Kakak khawatir lagi dong." kata Kanon
"Baru jam 4, Kakak. Aku habis mengerjakan tugas." kata Hanon sambil berjalan menuju ruang tengah, lalu menaruh tasnya.
"Rajinnya Adikku yang manis ini! Aku senang!" kata Kanon mangacak-acak rambut adiknya
"Kakak~ Hentikan! Rambutku jadi berantakan!" kata Hanon
"Dasar perempuan, nggak bisa berantakan sedikit." kata Kanon sambil tersenyum
"Nggak kok! Enak aja!" kata Hanon pura-pura marah
"Adikku yang manis, jangan marah sama Anikimu ini dong~" kata Kanon, kedua tangannya memeluk leher adiknya itu
"Aniki... Lepasin..." pinta Hanon
"Loh? Kenapa?" kata Kanon
"Ma-malu kan..." kata Hanon
"Kenapa harus malu? Aku ini'kan Anikimu." kata Kanon sambil terus memeluk adik kesayangannya itu.
Hening. Tak ada satu pun suara yang keluar dari mulut mereka berdua. Cahaya mentari senja masuk dari jendela yang lebar itu dan menyinari sosok kakak-adik itu. Kanon masih terus memeluk adiknya itu sambil memejamkan mata dan meneggalamkan mukanya ke rambut adiknya yang terurai panjang. Hanon bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang yang ia dapatkan dari kakaknya itu. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.
"A-ano, a-aku mau memasak dulu. Tolong lepaskan aku. Aniki pasti lapar." kata Hanon
"Kenapa omonganmu jadi kaku gitu?" kata Kanon
"Nggak, ayo dong kak, aku mau masak nih~" bujuk Hanon
"Oke~ Oke~" kata Kanon melepaskan kedua tangannya yang melingkari lehar adiknya
"Kakak mau makan apa?" tanya Hanon sambil menuju ke Dapur
"Hemm... Apa ya? Aku mau spagetti aja! Soalnya kalau makanan yang lain, aku takut Hanon kecapean." kata Kanon sambil tersenyum
"Nggak kok, Aniki! Apapun yang Aniki mau, aku buatin deh!" kata Hanon
"Hahaha... Dasar kamu ini... Aniki lagi pengen spagetti aja." kata Kanon
"Ya udah, Aniki istirahat aja." kata Hanon sambil menarik kakaknya menuju meka makan
"Hanon..." pangill kakaknya
"Dari tadi aku nyium bau obat dari kamu. Terus, lebih kaya' bau rumah sakit." Kanon mengatakan hal yang tidak terduga olah Hanon
Bodoh, aku lupa menghapus bau rumah sakit ini, apa yang kulakukan sih? Kata Hanon dalam hati
"Hanon abis dari mana?" kata Kanon
"Waktu ngerjain tugas, temanku nggak sengaja keiris. Terus waktu mau diobatin, alkoholnya tumpah kena bajuku. Makanya aku pulang sore, soalnya nunggu bajuku kering." kata Hanon beralasan
"Oooh. Aku kira ada hal lain. Jangan sering bepergian sendiri. Apalagi ini negara yang asing buat kamu. Hati-hati. Kalau kamu mau pergi, ajak Aniki aja." kata Kanon
"Ya kak." kata Hanon sambil tersenyum
Lalu ia pergi menuju dapur dan memasak untuk makan malam. Sesekali kakak-beradik itu terlibat pembicaraan singkat. Tapi Kanon membiarkan adiknya fokus memasak. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada adiknya itu. Kanon terus memandangi Hanon. Selama ini mereka hanya tinggal berdua saja.
"Nah, udah jadi. Ayo Kak, dimakan!" kata Hanon meletakkan piring di hadapan Kanon. Asap mengepul dari makanan yang dibuatkan oleh Hanon. Biar sederhana, spagetti itu tampak sangat lezat dan aromanya pun tak kalah enak.
"Adikku ini memang pintar memasak! Baiklah, aku makan!" kata Kanon lalu makan dengan lahapnya, Hanon melihat Kakaknya yang terkadang sulit ditebak itu.
Setelah mereka makan, Hanon meminta Kanon megajarinya pelajaran bahasa Jepang. Tentu saja Hanon cukup lemah dalam pelajaran ini, karena selama ini Ia terus tinggal di London. Memang, dulu ia sering menggunakan bahasa Jepang dalam percakapan sehari-hari keluarganya. Tapi kalau disuruh menulis huruf kanji, katakana maupun hiragana, dia cukup kewalahan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam...
"Hanon." panggil Kanon
"Ya Kak?" kata Hanon menengok ke arah kakaknya
"Udah malem, ayo tidur." kata Kanon
"Aaaah, baru jam segini kak~ Sebentar lagi ya, aku belum lancar. Lagian besok kan hari Minggu." kata Hanon
"Ayo tidur, nanti kamu kecapean." Kanon mengelus lembut rambut adiknya
"Aniki sendiri selama ini kurang tidur. Aku kadang ngeliat Aniki belum tidur padahal udah tengah malem." kata Hanon dengan nada sedih
"Itu Aniki cuma bangun bentar terus tidur lagi, bukannya belum tidur, Hanon. Udah, ayo tidur. Aniki nggak mau kalau kamu sakit." kata Kanon kembali mengelus rambut adiknya
"Ya kak." kata Hanon lalu merapikan bukunya
Ia lalu masuk ke dalam kamarnya, Kanon pun masuk ke dalam Kamar Hanon. Ruangan itu tertata dengan rapi. Selain tempat tidur, lemari baju, televisi dan meja belajar, di kamar Hanon terdapat sebuah piano yang dibelikan orang tua meraka waktu ulang tahun Hanon yang ke 10. Serta Biola yang tertata rapi dan beberapa alat musik lainnya. Sebagaimana perempuan, disana terdapat meja rias berukuran sedang. Di meja itu ada vas berisi bunga Iris yang cantik. Kanon memperhatikan bunga itu.
Untuk apa Hanon memasang bunga itu? Kata Kanon dalam hati
"Aniki? Ada apa? Kenapa muka kakak jadi aneh begitu?" tanya Hanon
"Ah? Ngggak kok. Kamu tidur sana. Ayo naik!" kata Kanon
"Iya iya" kata Hanon naik ke tempat tidurnya
"Besok kita akan jalan-jalan. Aku janji." kata Kanon menghampiri ranjang adiknya
"Janji ya?" kata Hanon merebahkan dirinya
"Iya, sekarang ayo tidur." kata Kanon sambil tersenyum lalu menyelimuti dan mencium kening adiknya
"Oyasumi." kata Kanon
"Oyasumi kak." kata Hanon
Lalu Kanon pergi menuju pintu kamar Hanon dan mematikan lampu kamar adiknya itu. Setelah itu keluar dan ia menutup pintu.
(~^.^)~ Yuri Oohara ~(^.^~)
"Ohayou Aniki!" kata Hanon membuka tirai kamar kakaknya itu
"Ah, Ohayou Hanon." kata Kanon lalu tersenyum.
"Ayo mandi~~" kata Hanon mendorong kakaknya menuju kamar mandi
"Mau mandi bareng?" tanya Kanon bercanda
"A-apa? Aniki ini apa-apaan sih? Aniki ngelindur ya?" kata Hanon dengan muka merah padam
"Ahahaha. Aku cuma bercanda Hanon. Ahahaha. Aku bukan inses kok. Ahahaha." kata Kanon tetawa terpingkal-pingkal
"AAAAAH! ANIKIIIII!" kata Hanon kesal
"Iya iya, maaf. Aku mandi dulu. Sana. Hush~ Hush~" kata kanon
"Dasar Aniki!" keluh Hanon lalu pergi ke kamarnya
Setelah ia siap, Kanon keluar kamarnya. Ia pergi menuju ruang tengah. Sesampainya di sana, ia melihat adiknya yang sudah berpakaian rapi. Baju terusan tanpa lengan selutut yang senada dengan warna rambutnya serta cardigan berwarna putih yang membalut tubuhnya sangat cocok dengan dirinya.
"Ah, Kakak sudah selesai?" kata Hanon bangkit dari duduknya
"Ya." Kanon tersenyum melihat adiknya
"Nah, ayo pergi!" kata Hanon sambil menggandeng lengan kakaknya
"Iya." kata Kanon
Mereka berjalan-jalan keliling kota. Melihat-lihat aksesoris, baju, mencoba beberapa permainan di game center dan pergi mencicipi beberapa makanan di restoran terkenal. Saat ini, mereka tengah berada di taman kota.
"Hanon mau es krim?" tanya Kanon
"Anikii~ Aku bukan anak kecil lagi." protes Hanon
"Tapi mau kan? Ngaku~" bujuk Kanon sambil pasang tampang imut
"Ya udah deh, terserah Aniki. Kalau Aniki maksa, aku mau." kata Hanon pasrah
"Yei! Aniki beli dulu ya, Hanon! Tunggu sebentar." kata Kanon lalu pergi dengan semangat
"Hhh~ Dasar Aniki." kata Hanon
Kira-kira... Bagaimana ya kabar Eyes? Padahal, dia lagi kritis, tapi aku malah pergi jalan-jalan, ah, aku makin merasa berdosa. Kata Hanon dalam hati. Lalu ia kembali teringat masa kecilnya ketika ia selalu bersama dengan Eyes dan Kakaknya.
"Hayo, kenapa senyum-senyum sendiri?" kata Kanon
"Aniki ngagetin aja." kata Hanon
"Ngelamunin apa hayo? Nih, es krimnya udah aku beliin." kata Kanon sambil menyerahkan es krim di tangannya
"Makasih. Aniki memang paling baik." kata Hanon mengambil bagiannya lalu memakannya
"Hahaha. Ini'kan udah kewajibanku." kata Kanon
"Aniki, aku boleh nanya sesuatu nggak?" kata Hanon ketika es krimnya sudah habis
"Nanya apa? Boleh kok." kata Kanon
"Kenapa Aniki bertindak sejauh ini. Padahal'kan Eyes itu sahabat Aniki. Bahkan Aniki pernah bilang'kan kalau-" kata-kata Hanon tidak selesai karena Kanon menarik kepala Hanon dan menyandarkannya pada pundaknya
"Soal itu, jangan diungkit-ungkit lagi, Hanon... Lain kali, Aniki nggak mau denger apapun lagi mengenai hal itu dari kamu. Aniki mohon." kata Kanon lembut. Tapi, Hanon merasa aura yang menakutkan dari kakaknya itu.
"Baiklah." kata Hanon singkat. Seketika atmosfir yang menakutkan itu berubah menjadi kasih sayang yang meluap-luap. Hanon lalu memejamkan matanya.
"Oh iya Hanon." panggil Kanon
Tak ada Jawaban.
"Hanon?" Kanon mulai bingung karena adiknya tidak menjawab. Tak lama kemudian dia tersadar bahwa adiknya tengah terlelap. Ia hanya bisa menghela napas.
"Dasar kau ini. Kau pasti capek. Selama ini terus mengurusiku dan selalu menemaniku yang tak karuan ini. Terima kasih selama ini kau terus bersabar." kata Kanon sambil mengelus adiknya dengan lembut
A/N : Kanon ngaku dia nggak karuan! XD *Author di DOR Kanon*
"Hei, hei, lihat mereka berdua."
"Hihihi, mereka lucu ya. Kawaii~"
"Iya iya, mereka pasangan yang serasi." Komentar beberapa gadis yang lewat tak sengaja terdengar oleh Kanon.
Apa benar kami terlihat seperti sepasang kekasih? Kata Kanon dalam hati sambil memandangi adiknya yang masih tertidur di pundaknya. Lalu ia hanya mendongak ke atas. Melihat langit dengan tatapan hampa. Kebimbangan merasuk dalam hatinya. Apakah aku bisa terus bertahan seperti ini? Pikirnya
"Aniki? Sejak kapan aku ketiduran?" tanya Hanon
"Belum lama kok, karena kamu udah bangun, sekarang temenin yuk." kata Kanon
"Kemana?"
"Beli boneka kucing~" kata Kanon sambil menarik tangan adiknya. Hanon hanya bisa pasrah.
Ketika sedang berjalan, mereka sempat bertemu Kousuke dan Ryoko. Hanon melihat Kakaknya menatap mereka berdua dengan tajam tapi tatapan mata itu berubah seketika.
"Hei~ Ryoko~ Kousuke~ Lagi kencan ya?" kata Kanon
"Ka-Kau?" kata Kousuke dan Ryoko kaget
"A-Ano, konnichiwa, Ryoko-san, Asazuki-san." kata Hanon dari belakang Kanon
"Kanon, kau'kan? Yang menusuk Eyes." kata Kousuke tanpa mempedulikan Hanon
"Lalu? Ada masalah? Sekarang aku adalah seorang Hunter. Kau juga sebelumnya sudah tahu'kan?" kata Kanon, sepertinya pembicaraan mulai serius.
"Untuk apa kau membelot ke pihak para Hunter? Bukankah selama ini mereka adalah golongan yang orang-orangnya sering kau bunuh?"
"Itu sudah tak penting lagi. Blade Children adalah anak-anak terkutuk. Mereka harus dimusnahkan." kata Kanon dengan aura yang menekan lawan bicaranya.
"Ke-Kenapa kau mengkhianati kami? Dan kau malah membelot dari skenario Sang Dewa. Itu tak ada gunanya!" kata Kaousuke
"Dewa itu tidak ada. Apa salahnya kita menjalani kehidupan dengan kemauan kita sendiri?" kata Kanon mengeraskan suaranya
"Kalau membelot dari skenario, kau hanya akan mengorbankan dirimu sendiri! Kita tak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti skenario Sang Dewa." kata Kousuke
"Dan kita hanya bisa berharap." Terdengar suara Hanon dari belakang Kanon
"Ya, betul apa yang dikatakannya." kata Ryoko
"Hanon! Sudah aku bilang, kau jangan ikut campur." kata Kanon
"Y-ya" kata Hanon patuh
Tuhan, kenapa jadi begini? Kenapa manusia begitu cepat berubah pikiran tanpa memperdulikan akibatnya? Kata Hanon dalam hati
"Jika saatnya tiba, aku pun akan menghabisi kalian semua." kata Kanon
"Terserah apa katamu! Yang pasti, semua ini sudah direncanakan oleh Sang Dewa dan kau hanya dipermainkan olehnya!" kata Kousuke
"Pikirkan juga adikmu! Kau pikir inilah yang terbaik untuknya?" kata Ryoko
"CUKUP! AKU TAHU YANG TERBAIK UNTUKKU DAN HANON!" kata Kanon "Hanon, ayo kita pergi dari tempat ini!" lanjutnya sambil menarik tangan adiknya
Hanon hanya menurut tapi ia menatap Kousuke dan Ryoko dengan tatapan yang sulit dimengerti oleh orang. Tapi Kousuke dan Ryoko mengangguk seolah mengerti.
"MENYEBALKAN!" kata Kanon sambil meninju tembok kamar mansionnya. Hanon hanya duduk di sofa dan menundukkan kepalanya.
"AAAAKH! KENAPA MEREKA BERKATA SEPERTI ITU SIH?" kata Kanon lagi, dia terlihat benar-benar kesal dan Hanon kelihatan benar-benar ketakutan.
A/N : Poor Hanon~ XD
"Aniki. . ." panggil Hanon
"DIAM KAU! JANGAN IKUT CAMPUR!" bentak Kanon
Hanon terlihat kaget dan berusaha menahan tangisnya tapi akhirnya air matanya pun jatuh juga. Mungkin ia ketakutan dengan sikap kakaknya, tapi kemungkinan juga ia sedih karena dibentak oleh kakak yang disanyanginya itu.
"Ah, Hanon. . ." akhirnya Kanon sadar dari kemarahannya lalu menghampiri Hanon yang tengah menangis
"Kau pasti ketakutan ya? Maafkan aku." kata Kanon sambil mengelus kepala adiknya dengan lembut
"A-Aniki. . . Ini bukan salahmu. Hanya, aku saja yang cengeng." kata Hanon
"Tapi Aniki benar-benar minta maaf karena tadi membentakmu. Aku benar-benar tidak sengaja." kata Kanon
"Ya, aku tahu." kata Hanon
.
.
.
Keesokkan Harinya, Hanon kembali mengunjungi Eyes yang kabarnya masih kritis. Hanon tengah mencuci buah-buahan yang diberikan oleh orang-orang yang mengunjungi Eyes. Ia melantunkan sebuah lagu yang dulu sering dinyanyikannya bersama Eyes dan Kakaknya untuk mengusir sepi dan jenuh. Tanpa sepengetahuan Hanon, Eyes telah sadar dari kritisnya.
"Ha-Hanon? Ka-Kau kah itu?" tanya Eyes terbata-bata
"E-Eh? E-Eyes? Kau su-sudah sadar?" kata Hanon kaget sekaligus gugup
Gawat! Bagaimana ini? Dia'kan tak boleh melihatku! Batin Hanon panik
"A-Aku akan melapor pada suster!" kata Hanon mengambil tasnya
"Jangan! Karena, kau pasti akan kabur."kata Eyes
"Ba-Baiklah, aku tak akan kemana-mana."kata Hanon
"Kau tetap tak berubah. Padahal, kau bisa saja kabur dari sini. Toh, aku juga tak bisa mengejarmu."kata Eyes
". . . . ."
"Sudah lama kita tak saling bicara."
"Ya."
"Kanon. Dia gagal membunuhku. Dasar bodoh."kata Eyes
"Begitulah."
"Kenapa kau jadi pendiam begitu?"
"Ha-Habis, sudah lama aku tak bicara pada Eyes. Dan sebenarnya Aniki tak memperbolehkanku bertemu denganmu."kata Hanon terus terang
"Kau masih saja menuruti kata-katanya."
"Ha-Habis, hanya Anikilah satu—satunya keluargaku"
"Masih ada aku. Biarpun sudah lama kita tak bicara, kau tetap boleh memanggilku Onii-chan seperti dulu."
"Y-Ya, Eyes, ma-maksudku Onii-chan."
"kau pasti masih merasa kaku."
"Onii-chan, a-aku bingung, kenapa Aniki bertindak sejauh ini. Dia begitu cepat berubah. Aniki... Dia sudah seperti orang yang tidak aku kenal." kata Hanon
"Kenapa?"
"Aniki... Entahlah, aku tak mengerti jalan pikirannya. Dia melarangku berhubungan dengan Onii-chan, Ayumu-kun, Hiyono-chan, dan yang lainnya."
"Itu karena dia sangat menyayangimu."
"Tapi, aku juga sudah bisa menjaga diriku."
"Tapi Kanon ingin dirinyalah yang selalu menjagamu. Sayangnya bukan sebagai Kakak."
"Apa maksudmu, Onii-chan?"
"Ada beberapa hal yang harus kuberitahu padamu. Tapi, kau harus menguatkan dirimu dahulu."
Hanon menghela nafas panjang dan berusaha menguatkan dirinya lalu berkata, "Baiklah Onii-chan, aku siap."
"Dengarkan ini baik-baik dan jangan panik... Sebenarnya-"
Di waktu yang bersamaan...
.
.
.
"Kanon-kun~" sapa seseorang
"Ah, kau rupanya." kata Kanone ketika melihat siapa yang memanggilnya
"Kau ada waktu? Ada yang ingin ku bicarakan denganmu~"
"Baiklah, Hiyono. Di mana?"
"Klub surat kabar sudah cukup." kata Hiyono
Lalu, Kanon dan Hiyono menyusuri lorong dan masuk ke dalam ruangan klub surat kabar.
"Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya." kata Hiyono sambil menutup pintu
"Memangnya apa saja yang kau tahu tentang diriku?" kata Kanon yang telah duduk sejak tadi
"Kalau data umum milikmu sih sudah aku pegang. Kanon Hilbert, 17 Tahun. Tanggal lahir 25 September. Sebelum ini tinggal di Inggris. Seorang Blade Children yang kini telah menjadi Hunter. Hanon Hilbert adalah adik perempuanmu . Nama ibumu adalah Evangeline Hilbert dan ayahmu A-"
"CUKUP! APA MAKSUDMU DENGAN SEMUA INI?"
"Bukan apa-apa. Hanya ingin memberitahukan kebenaran pada semua."
"JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN PRIBADIKU!"
"Baiklah, aku tidak akan mencampuri urusanmu. Sekarang, aku akan menggamblangkan apa yang kuketahui tentang adikmu. Hanon Hilbert, 15 Tahun, Lebih muda 2 tahun darimu. Tanggal lahir 24 Desember. Dia bukan seorang Blade Children tapi dia memiliki hubungan dengan Kiyotaka. Dia adalah anak dari pasangan Hunters yang dibunuh oleh orang tuamu dulu. Lalu, keluarga Hilbert mengangkatnya sebagai anak. Kau waktu itu masih berumur 3 tahun. Seiring dengan waktu, perasaan cinta tumbuh dalam hatimu. Dulu, dia sangat akrab dengan Eyes sehingga kau berusaha menjauhkannya dari Eyes. Wajar saja kau cemburu karena dia bukan adik kandungmu. Kau menyayanginya sebagai laki-laki."
"APA-APAAN KAU INI? Bisa-bisanya mencampuri urusan orang lain!" Kanon mulai emosi
"Lalu? Kenapa kau tak memberitahu kenyataannya pada Hanon?" tanya Hiyono
"Ini semua demi kabaikannya. Aku tak ingin dia menghadapi kenyataan yang menyedihkan seperti itu." jawab Kanon
"Demi kebaikannya ataukah semata-semata demi keegoisanmu?" kata Hiyono dengan tajam
"Ukh!" Ia sudah kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan itu
.
.
.
"Onii-chan! Kau bohong'kan?"
"Untuk apa aku berbohong?"
"Itu tidak mungkin! Tidak mungkin! Aniki... Dia..."
"Hanon, tenangkan dirimu."
"Bagaimana aku bisa tenang Onii-chan? Selama ini Aniki..."
"Hanon!" Eyes sedikit menaikkan suaranya
"Ah, gomen nasai Onii-chan, aku terlalu panik."
"Lalu, setelah kau mengetahui hal ini, apa yang akan kau lakukan?" tanya Eyes
"Aku..." Hanon tak bisa menjawab pertanyaan Eyes. Ia hanya bisa menunduk dan diam.
Jadi, selama ini Aniki terus menyembunyikan hal ini dariku. Tapi kenapa? Batin Hanon
(masih) TBC
Omake~
Sepertinya pejalanan kita masih panjang ya~
Maaf kalau updatenya lama, Yuri abis hibernasi soalnya~ XD *dicelupin ke palung mariana*
Nah, udah cukup jelas kan jalan ceritanya? (semoga) =_=
Mohon kesabarannya ya~ Yuri mau bertapa soalnya buat nyari ide... XD
Dan mohon keripik baladonya~ :3
