Gomennasai! first, i'd like to apologize to all my readers... uhhh.. the last chapter i published really a mess, didin't it? so sooorryyy.. *bow*

so, here the new chapter, i hope that this chapter won't be a mess chapter agaain. And I want to inform to you all, maybe the next chapter won't be updated regularly. Sorry agaain.. *bow bow bow*

Thank you for all readers for visiting my -uhh, disgusting story-! Appreciate it soo much!

Warning : OOC, typo, etc

Disclaim : I own nothing!


Chapter 3 – Adoption

"Happy birthday, Kaito?!" ucap kedua pasangan suami istri itu bersamaan. Mereka membawakan sebuah kue yang besar dengan lilin berjumlah tujuh. Di atas kue itu ada patung pesulap kecil yang wajahnya mirip anak yang sedang berulang tahun dengan sepasang merpati di sampingnya.

"ucapkan keinginanmu, kemudian tiup lilinnya," anak kecil itu segera menutup matanya kemudian meniup lilin ulang tahunnya. Seketika ribuan confetti berwarna-warni beterbangan dengan beberapa kembang api kecil meletus di atas kepalanya.

"waaa, arigatou otou-san, okaa-san," ayah ibunya tersenyum lembut melihat wajah ceria putra semata wayangnya.

"Kaito, waktunya berangkat sekolah, untuk kadonya…," ayahnya diam sejenak tampak berpikir kemudian tersenyum tenang," akan ada kado special untukmu sepulang sekolah."

"un, aku akan saangaaat menantikannyaaa.." seru Kaito, sambal bergegas keluar rumah. " aku berangkat dulu, tou-san, kaa-san."

"hati-hati di jalan Kaito," ibunya tersenyum sambal melambaikan tangannya.

Kaito segera berlari keluar. Di depan gerbang rumahnya seorang anak perempuan berambut coklat gelap sebahu yang agak acak-acakan tersenyum menunggu temannya. "selamat ulang tahun Kaito," ucapnya sambal menyerahkan sebungkus coklat yang sudah diberi pita berwarna keunguan.

"terima kasih, Aoko, tumben sekali kau baik padaku, biasanya kan selalu teriak-teriak," seringai Kaito.

"uuh.. kapan aku marah dan teriak kepadamu? Dasar Bakaito!" anak perempuan itu kemudian cemberut sambal menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

"aku hanya bercanda, Aoko," tiba-tiba keluar mawar kuning di depan Aoko, "aku benar-benar berterima kasih," senyum Kaito dengan tulus. Seketika pipi Aoko bersemu merah,"ah..i..iyaa.. sa-sama-sama" Aoko tidak bisa berkata kata, dengan ragu-ragu dia menerima mawar itu.

"ayo, segera berangkat, sebelum kita terlambat," ajak Kaito yang sudah berlari di depannya.

"ah, tunggu Kaito…" Aoko segera berlari mengejarnya.


Sesaat setelah melepas kepergian anaknya ke sekolah, wanita tadi segera duduk di ruang makan dimana suaminya sedang minum kopi di depannya.

"Anata.." wanita itu menatap suaminya yang dengan tenang meminum kopi dari cangkirnya. Dia memperhatikan semua gerak-gerik laki-laki yang sangat dicintainya itu. Sudah bertahun-tahun dia mengenal laki-laki didepannya. Dia sangat paham setiap gerak-gerik, raut wajah, nada bicara bahkan sedetil apapun dia akan segera tahu apa yang sedang ada dipikiran suaminya itu. Dan baru pertama kali, dia melihat suaminya begitu putus di mata orang lain, suami di depannya itu tak lebih seperti seorang ayah yang sedang tenang menikmati kopinya tanpa beban pikiran. Namun dia paham, dia sangat paham. Suaminya sedang memikirkan sesuatu, seperti ada beban berat di pundaknya. Beban yang tidak akan hilang walaupun dia mencoba membantunya.

Suaminya dengan tenang meletakkan cangkir kopinya di kemudian menatap istrinya dengan penuh arti. Disilangkan kedua jari-jari tangannya di depan bibirnya menopang dagunya. " aku tidak tau apa yang harus kulakukan," matanya memandangi cangkir di depannya, namun pandangannya tidak di sana, seperti memandang jauh, mendalam,"aku tidak bisa berbuat apa-apa di depannya," "aku bahkan tidak berani melihat matanya," kedua alisnya berkerut, mengingat kejadian yang dia alami beberapa jam yang lalu.

"sayang, aku tahu kau sudah melakukan semuanya yang kamu bisa," hibur istrinya, nadanya lembut, namun tegas, " sekarang semuanya yang sudah terjadi, dan kita tidak akan mendapatkan apa-apa hanya dengan menyesalinya. Sekarang, kau harus menjalani apa yang ada di depan. Dan kau harus tetap ingat. Dia sangat membutuhkanmu. Dia membutuhkan kita." Sejenak sang istri menutup matanya sambil menghela napas. Hari ini hari yang berat. Baginya dan bagi suaminya. Kehilangan sahabat yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri sangat mempengaruhi mereka. Terlebih harus menyaksikan betapa terpukulnya anak yang ditinggalkannya. Wanita itu membuka matanya lagi, ditatapnya suami di depannya yang masih tenggelam dalam pikirannya.

"aku mau melakukannya," nadanya cukup keras dan tegas. Tanpa ada keraguan sedikitpun, mendengar kata-kata istrinya, laki-laki itu menatap lekat-lekat mata istrinya. Tak Nampak sedikitpun keraguan di mata istrinya, dia sudah mengenal istrinya bertahun-tahun. Dia paham segala watak dan kepribadian istrinya. Dia adalah seorang ibu yang tegas, displin, dan sangat penyayang dan perhatian.

"terima kasih.. terima kasih sayang," senyumnya mengembang, pandangannya melembut menatap istrinya.


"Tadaima~~~" Kaito segera melepas sepatunya dan langsung menuju kamarnya untuk meletakkan tasnya.

"Ah..okaeri Kai-chaan~~" ibunya menyambutnya dari balik pintu dapur.

"Kaa-san, dimana otou-san?" tanyanya setelah kembali dari kamar dan menuju ke dapur untuk minum.

"Hmm, sepertinya dia ada urusan sebentar di Beika. Tapi ayahmu bilang akan pulang sebelum makan malam." Jawab ibunya. Kuroba Chikage meletakkan piring di meja makan."Kaito tolong bantu ibu menata makan malam."

"baik, Kaa-san"

Chikage dan Kaito sedang menata piring saat terdengar suara pintu terbuka dari ruang tamu.

"Sepertinya ayahmu sudah pulang" ibunya memandang yang mengerti maksud ibunya segera menuju ruang tamu untuk menyambut ayahnya.

"Okaeri, Tousaan~~~" seru Kaito

"Tadaima, Kaito," ujar ayahmu dengan senyum kecil. Dia meletakkan tasnya di meja ruang tamu.

"sepertinya Tou-san lelah, mau kupijit pundaknya?" Tanya Kaito yang memperhatikan ayahnya yang Nampak lelah.

"Hahaha, terima kasih Kaito, tapi kutolak dulu penawaranmu kali ini," jawab Toichi sambil berjongkok menyamakan tingginya dengan Kaito, "lagipula ada kejutan untukmu."

Mendengar kata 'kejutan' mata ungu anak laki-laki ini berbinar. Dia tidak sabar untuk mengetahui apa kejutan yang dibawa oleh ayahnya.

"Kamu ingat dengan permintaanmu tahun lalu kan?"

Permintaan? Mata Kaito berputar tampak berpikir mengingat apakah permintaan yang pernah dia ucapkan ke ayahnya. Yang mana ya? Seingatku aku punya banyak permintaan. Buku belajar sulap. Buku cerita tentang Lupin si pencuri. Barang-barang untuk sulap, dan masih banyak yang dia inginkan.

"hmmm… yang mana Tou-san?" menyerah dengan pikirannya satu alis matanya terangkat penuh Tanya menatap ayahnya.

Ayahnya tersenyum melihat tingkah anaknya yang penasaran dan sepertinya tidak bisa menebak apa yang akan dibawanya. Yah namanya juga kejutan bukan? Pastilah tidak terduga.

Saat itulah, ayahnya berdiri dan berjalan lagi menuju pintu rumah. Saat pintu depan dibuka, Kaito terkejut, matanya melebar, mulutnya terbuka, 'Hah?'

Di balik pintu, tampak seorang agak tua yang membawa koper di sampingnya. Kemudian orang tua itu membungkuk menyapa tuan rumah di depannya. Kaito tidak kaget melihatnya, dia sudah sering melihat Jii, asisten ayahnya saat melakukan pertunjukan sulap. Yang membuatnya terkejut adalah anak laki-laki yang sepertinya lebih muda darinya dan lebih pendek –tentunya- yang sangat mirip dengannya, ada beberapa yang berbeda dari dirinya tentunya, mata birunya yang tajam seakan mencoba menatap mencari mangsa. Dan rambutnya yang lebih rapi, oke, rambutnya memang agak acak-acakan, tapi bukan salahnya, rambutnya memang tidak bisa disisir.

"perkenalkan Kaito, ini Shinichi. Shinichi, ini Kaito..." Belum selesai ayahnya berbicara Kaito langsung berjalan ke depan Shinichi dan memunculkan bunga mawar merah di depannya, " hai, perkenalkan, Kuroba Kaito, pesulap," sambil mengulurkan bunga mawar kepada Shinichi. Shinichi hanya bisa berkedip melihat bunga mawar di depannya. Tidak tahu yang harus dilakukan atau dikatakan."S-Shi-nichi.., Kudo Shinichi" akhirnya itu saja yang bisa keluar dari mulutnya sambil menerima bunga di depannya dengan ragu. Melihat tingkah putranya Toichi hanya bisa tersenyum menghela nafas, "ehem" Toichi berdeham mencoba meminta perhatian Kaito lagi, " dan, mulai hari ini dia akan jadi adik laki-lakimu." Lanjut Toichi setelah interupsi kecil yang dilakukan Kaito.

Mendengar perkataan ayahnya, Kaito hanya bisa diam, mulutnya menganga, matanya melebar, berkali-kali dia memandang ayahnya dan Shinichi bergantian mencoba mencerna perkataan ayahnya. Oke. Ini benar-benar kejutan yang besar.


Pagi harinya, Kaito masih bermalas-malasan di tempat tidurnya. Kedua matanya masih malas untuk membuka. Toh hari ini hari minggu, artinya tidak harus bangun pagi. Dan lagipula kemarin hari ulang tahunnya, dia masih agak lelah, setelah diberi kejutan kecil di pagi hari dengan beberapa kado alat-alat untuk sulap dari ayah ibunya. Kado kecil dari Aoko, hmm yang menurutnya manis. Dan di malam harinya, ada kejutan lagi…

Kaito langsung terbangun dari tempat tidurnya. Ya, kejutan malam tadi langsung membangunkannya. Dia merasakan benda hangat yang ikut melingkar di tempat tidurnya. Makhluk -atau anak itu- Shinichi, yang menurut ayah ibunya adalah adiknya. Oke, wajahnya mirip, Kaito mengakui itu, apa itu artinya sebenarnya dia punya saudara? Lalu kemana saudara itu selama bertahun-tahun? Dia menghela napas, kadang dia tidak bisa mengerti jalan pikiran orang tuanya yang menurutnya antic. Menurut orang tuanya dia adalah anak dari temannya –yang sekarang sudah meninggal. Karena mereka tidak punya saudara, dan anaknya masih kecil, maka mereka memutuskan untuk mengadopsinya.

Ditatapnya anak laki-laki yang tidur disampingnya. Wajahnya tampak begitu tenang tanpa dosa. Setelah dilihat lagi bulu matanya juga lentik, bibirnya kecil, dan kulitnya yang pucat membuatnya tampak menggemaskan. Eh, apa yang aku pikirkan? Dia mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan. Sepertinya dia sudah tertular virus antic kedua orang tuanya.

Ditatapnya lagi anak laki-laki di sampingnya. Meski wajahnya tampak tenang, Kaito dapat melihat, ada guratan kesedihan di wajahnya. Alis matanya sedikit berkerut, kantung matanya sedikit menghitam dan tampak bengkak, tanda bahwa dia habis menangis semalaman. Orang tuanya baru saja meninggal. Anak mana yang tidak akan sedih mengalami hal itu. Meski waktu makan malam dia menanggapi semua pertanyaan orang tuanya dengan tenang. Hah, Kaito menghela nafas, baru pertama kali ini dia- si pembuat onar di sekolahnya, yang biasanya selalu ceria di pagi hari, harus menghela nafas dalam.

TBC


A/N : okay... See you sooonn! please read n review. Thank you!