Dering khas dari ponsel berdering seketika membuat kedua insan itu saling menoleh satu sama lain. Sang wanita nampak menyipitkan mata, mendesak si pria agar cepat mengangkat panggilannya. Lain dengan si pria yang berulang kali menggelengkan kepalanya. Ia tahu persis siapa yang meneleponnya. Sasuke Uchiha, ia hapal dari nada dering khusus di handphonenya itu.

Menyerah. Sara membuang napasnya kasar sambil menyenderkan tubuhnya ke jok mobil. Sedikit banyak ia merasa kesal pada Naruto. Semenjak kejadian kemarin itu, lelaki ini sering kali menarik diri dari orang-orang disekitarnya. Tentu saja atas dasar itu, Sara selalu menyalahkan dirinya sendiri yang sudah membuat Naruto seperti itu.

Menopangkan kepalanya pada tangan yang bertumpu di kaca mobil. Sara mengamati jalanan kota Tokyo dengan pandangan sayu. Bisa dibilang ia sedih mengingat ini terakhir kalinya ia melihat kota tempat ia dibesarkan ini.

"Naruto..." Panggilnya pelan. Yang disahut langsung menoleh dari kursi pengemudi, lelaki itu bergumam untuk memberitahu gadis itu ia telah mendapati perhatian penuh darinya.

"Apa tak apa seperti ini, aku rasa. Aku membebanimu terlalu banyak." Lirihnya perih. Perlahan, pandangannya berpindah menelusuri dada hingga mencapai iris sapphire milik Naruto.

Menepikan mobilnya. Naruto menatap Sara dengan tatapan intens. Tatapannya itu menyiratkan keteguhan dan keyakinan. Membuat Sara terpana karenanya. Menarik tangan ramping Sara dengan penuh perasaan. Naruto mencium punggung tangan Sara. Jelas itu membuat pipi Sara semakin memerah.

"Kau tidak membebaniku. Malah kau membuat hati ini teduh karenamu. Sekarang aku bisa mengerti apa itu jatuh cinta. Dan kaulah satu-satunya orang yang dapat melakukan hal itu kepadaku. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu." Jelas Naruto seraya membentuk cengiran lebar.

Sara membuang mukanya kelain arah. Ia malu. Tentu saja! kata-kata dan perlakuan Naruto itu membuat jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak biasa. Ia menerka pasti pipinya pun sudah semerah tomat. Sungguh Naruto baru saja membawa Sara seperti melayang keudara. Menyadari itu, Naruto tertawa pelan sambil kembali melajukan mobil SUV Range rover hitamnya.

"Aku benar-benar mencintaimu Sara-chan." Ungkap Naruto sendu.

Mendengar itu. Sara menunduk dalam-dalam. Menatap tangannya yang terkepal erat diatas kedua lututnya. Sedikit agak menyesal ia pernah meragukan keyakinan Naruto terhadap dirinya hanya karena Sara mendatangkan banyak masalah baginya. Semua itu akhirnya membuahkan perasaan dilema dimana ia tak ingin membuat Naruto terluka lebih jauh, namun disisi lain ia juga menginginkan Naruto tetap seperti ini. Ia merasa dilindungi dan teramankan dari kerasnya dunia di masa lalu.

'

'

'

Red Sparkle

Pair: NaruSara

Disclaimer: Masashi Kishimoto

'

'

'

(Flashback)

Sara Shimura. Kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Kecelakaan yang melibatkan sebuah mobil keluarga dengan sebuah truk itu terjadi akibat supir truk yang mengantuk dan menabrak mobil yang mereka tumpangi dari arah berlawanan. Beruntung nyawa putri tunggal mereka terselamatkan setelah di dekap sang ibu. Saat itu Sara, si putri tunggal tidak memiliki kerabat lain selain pamannya. Dan di saat itu pula lah, pamannya yang dikenal sebagai penjudi itu mulai memanfaatkan situasinya. Ia mengambil alih seluruh harta keluarga. Sedang Sara ia biarkan menderita dibawah kejayaannya. Sara kecil yang belum mengerti apa yang pamannya perbuat, membiarkan semua itu terjadi.

Darisanalah sedikit demi sedikit, Sara mulai menderita. Dibawah asuhan pamannya, Sara terbelenggu akan kekuasaan pria itu. Umur Sara yang masih belia, sama sekali tidak berkutik melawan pamannya. Harta keluarga Sara pun kian menipis bersamaan dengan banyaknya bahan taruhan pamannya diatas meja judi. Demi kesenangannya, pamannya bahkan mengubah istana milik keluarga Sara bak sebuah tempat penampungan tunasusila.

Merupakan hal yang lumrah terjadi jika setiap kali Sara keluar dari kamarnya di malam hari. Maka tampaklah sekumpulan wanita yang tengah meliuk-liukan badannya diatas meja judi di ruang tamunya. Lebih menjijikan lagi ketika Sara mendengar siulan paman dan teman-temannya, perilaku ini merupakan bentuk kepuasan mereka terhadap performa wanita-wanita jalang itu. Bahkan ketika beranjak ke dapur dan membuka lemari freezer, tidak lagi terlihat bahan-bahan makanan atau sekotak susu untuk ia minum. Yang terpampang hanyalah berbotol-botol minumam alkohol. Disaat seperti ini, ia berharap pelayan-pelayannya tidak benar-benar meninggalkan rumah ini. Ia rindu masakan mereka. Ya semua baik-baik saja sampai pamannya memecat mereka semua. Kesal. Sara membanting pintu kulkas dengan kencang. Ia menggerutu sebal sambil memegangi perutnya.

Tak kuasa menahan lapar. Sara berniat keluar rumah dengan bermodalkan beberapa lembar uang di saku celana pendeknya. Tidak terlalu banyak sih, tapi cukup untuk menganjal perutnya yang sudah luar biasa ramping. Ia sedikit bimbang ketika harus melewati ruang tamu. Ada perasaan takut disana. Selama bertahun-tahun lamanya, ia tidak pernah melintasi tempat itu jika paman dan teman-temannya sedang berkumpul. Bukan kah itu sama saja seperti menggali lubang sendiri? Maka dari itu, ia lebih memilih mengunci diri di kamarnya. Tapi untuk sekarang apa boleh buat? Perutnya sudah mendesak untuk diisi.

Tapi sungguh ia harus memikirkan semua resikonya! Apalagi diumurnya yang menginjak genap 12 tahun, Sara kecil mulai terlihat cantik dengan rambut merah sebahunya dan tubuh elok wanitanya yang mulai terbentuk.

Mengeleng kuat-kuat. Sara memantapkan niatnya, Ia berjalan dengan langkah memburu. Kepalanya yang menunduk dengan rambut yang hampir menutupi sebagian wajah ayunya tak lekas membuatnya terhindar dari seringai lapar pria-pria berperawakan menyeramkan itu. Pada akhirnya langkah Sara terpaksa terhenti saat seseorang mencegatnya dari belakang. Mengekang tubuh mungilnya dan mengangkatnya

Sara yang terlonjak kaget menjerit sambil meronta meminta dilepaskan. Kakinya melayang-layang diudara, berupaya melepaskan diri dari pria itu. Tapi toh, usahanya itu sia-sia saja karena pria itu semakin erat mengekangnya. Kini sekumpulan pria mulai mengerubunginya.

"Mau kemana kau, heh?" Tanya salah seorang diantara mereka. Jari telunjuk dan tengahnya yang tirus ia gunakan untuk membelai pipi Sara. Reflek, Sara menyentakkan kepalanya kelain arah.

"Kumohon lepaskan aku." Pintanya memelas. Sara mulai terisak. Namun mereka rupanya tak berbelas kasih dan enggan mengabulkan permintaan Sara. Mereka malah membawa gadis itu duduk berpangku di salah seorang pria sambil menonton adegan nista dari para penari itu. Sementara pamannya? Ah ia hanya duduk diam di kursinya.

"Kau tidak pernah bilang kau tinggal bersama gadis cantik ini." Celoteh seorang pria pada paman Sara.

"Dia keponakanku."

"Oh iya? Aku tidak pernah melihatnya. Bagaimana jika dia dijadikan taruhan untuk malam ini? Aku tertarik padanya. Masih kecil saja sudah cantik begini, apalagi nanti sudah besar. Jangan khawatir, Aku bisa merawatnya hingga ia nanti tumbuh dewasa. Ia akan menjadi istri terbaik yang tahu bagaimana cara memuaskan suaminya." Usul pria tua berjenggot diikuti sorak sorai penghuni lainnya di ruangan ini.

"..." Ya pamannya memilih untuk bungkam sambil menatap gelas berisi minuman berwarna kuning keemasannya dengan datar. Sejak tadi, ia pun enggan menatap sosok Sara yang kini berada di pangkuan pria asing. Ia sama sekali tidak bergeming melindungi Sara. Lantas itu membuat Sara kecewa. Hatinya tertohok mendapati pamannya berlagak seolah ia tidak mau tahu.

Sibuk menggodanya. Pria-pria itu mengamati tubuh mungil Sara dengan tatapan lapar, mereka mengamati dari atas kebawah, lalu keatas lagi. Begitu seterusnya. Sampai salah seorang wanita jalang itu turun dari meja dan menghampiri Sara.

"Hai gadis manis." Sapa wanita itu dengan nada yang terkesan dibuat-buat. Ia mensejajarkan tubuhnya dengan gadis mungil itu. Menatap permata kelabunya lembut.

Membuang mukanya, Sara menolak membalas sapaan itu. Ia tidak sudi melihat dan membalasnya sebab ia takut nasib wanita itu akan menjadi cerminannya di masa depan. Apalagi pria-pria itu tengah berjuang bernegosiasi dengan pamannya itu untuk memikirkan 'hak asuh keponakannya' ini. Ah hak asuh itu hanya alibi. Bukankah itu artinya, dirinya pun selangkah menuju dunia gelap yang digandrungi para wanita itu? Ya, cepat atau lambat ia sama saja seperti mereka. Apalagi sudah bisa dipastikan bahwa pamannya akan menuruti permintaan teman-temannya itu.

Sadar ia takkan mendapat balasan, wanita itu menghela napas. "Hufh, sebenarnya aku hanya ingin bertanya dimana letak kamar mandinya, anak kecil." Ucapnya kecewa.

Sara tetap tidak bergeming. Mulutnya membisu seribu bahasa. Namun ia tidak bisa berlama-lama dengan kondisi begitu. Karena selanjutnya. Si wanita menarik dagunya, membawa tatapan garang Sara menatap kearahnya. Sontak si wanita itu terkikik geli.

"Hihi kau manis sekali. Bisa kau beri tahu aku dimana letak kamar mandinya, gadis kecil?" Tanya si wanita dengan nada menuntut.

Membuang nafas kasar, Sara akhirnya menyerah. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke tempat yang dituju. Lengannya yang memanjang itu sedikit bergetar. Mungkin karena rasa takutnya. Ia ingin cepat-cepat menyudahi semua ini dan berlari ke kamarnya untuk menangis. Ia pun merutuki keputusannya yang telah membawanya kemari.

Selepas dari hal itu. Ternyata, jawaban Sara tidak memuaskan wanita itu. Si wanita menarik lengan Sara dengan paksa hingga ia turun dari pangkuan pria berperawakan tinggi besar itu. Tentu saja perbuatannya itu mengundang protes si pria dan ringisan kesakitan Sara.

"Bisa kau antar aku? Aku takut pergi sendirian." Ucapnya manja. Setelah mengambil nafas ia pun melanjutkan, "dan untuk kau. Aku bisa mengajarkannya sedikit teknik bercinta selama kami dalam perjalanan. Dia benar-benar akan membuatmu puas, sayang." Kini pandangan wanita itu menyipit untuk memberi kesan erotis pada pria dihadapannya.

Meneguk ludahnya dengan susah payah. Pria itu mengangguk mengiyakan. Tentu saja godaan itu membuatnya mengizinkan wanita itu membawa Sara. Karena perkataannya, ia dapat membayangkan betapa binalnya Sara setelah wanita itu membawanya. Ah dia tidak sabar lagi mencicipi tubuh mungil Sara.

"Baiklah-baiklah, lakukan sesukamu! Dan kosongkan mejanya! Kita akan memainkan permainannya. Taruhannya?! Tentu saja gadis itu!" Ujarpria itu yang disambut meriah kawanannya. Lain dengan Sara, bahunya reflek menegang mendengar pernyataan itu.

Sementara itu, si wanita tersenyum sekilas kearah mereka. Lalu menarik lengan Sara untuk berlalu dari tempat yang penerangannya amat minim itu. Selama ia melangkah, pandangannya tidak pernah lepas dari sosok gadis dalam cengkramannya ini. Sudah cukup lama sebenarnya ia memperhatikan gadis ini. Ya, sebelum ia berlari melintasi ruangan yang tak semestinya ia lalui. Jauh-jauh hari sebelum hari ini, ia telah menangkap sosoknya yang tengah mengintip kegiatan mereka dari ambang pintu kamarnya, tak jauh dari ruang tamu berada. Beruntung waktu itu, pria-pria itu tidak menyadari kehadiran Sara dikarenakan pandangan mereka selalu terpusat padanya yang menari diatas meja.

Selepas dari hal itu, jangan berpikir wanita itu membawa Sara hanya karena ia meminta diantarkan. Ia punya rencana lain, rencana gila yang terbesit secara spontan beberapa saat lalu. Jujur saja, ia betah berada di rumah ini bukan karena uang yang digiurkan pamannya. Tapi karena Ia menyimpan rasa penasaran pada gadis kecil ini. Dan saat kawanan pria itu mengetahui sosoknya, ia merasa sedikit cemburu. Sosoknya sudah tidak lagi dinikmati olehnya seorang.

Menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Wanita itu memutar tubuhnya, menghadap si gadis seraya sedikit membungkuk untuk kembali mesejajarkan tinggi mereka. Ia berkata, "Jadi, apa yang benar-benar kau inginkan? Oh iya sebelum itu, perkenalkan, namaku Mei. Namamu?" Wanita yang diketahui namanya Mei itu mengulurkan tangannya sembari tersenyum.

Menolehkan kepalanya, Sara tercenggang melihat senyum yang dilontarkan wanita ini. Senyum yang jauh berbeda pada saat ia diruang tamu. Senyumnya tulus dan penuh kehangatan, senyum yang mirip dengan senyum ibunya. Dengan senyum itu, ia bahkan tidak bisa menilai wanita ini sebagai orang jahat. Pikirannya mulai berpikir wanita ini sepertinya punya niat baik terhadap dirinya. Ragu-ragu, ia menyambut uluran tangan Mei.

"A-a namaku, Sara! Shimura Sara!" Jawab Sara kikuk. Lantas itu membuat gelak tawa Mei kembali meluncur.

"Haha, baiklah Sara-chan. Bisa kau melakukan sesuatu untuk ku?"

Menautkan alis sambil memiringkan kepalanya, Sara balik bertanya. "Me-melakukan apa, Mei-san?"

Menaruh telapak tangannya di kedua bahu Sara. Mei berujar pelan, seperti berbisik. "Pergi dan temui aku di perempatan jalan. Jangan lupa, panggil taxi sebelum aku datang."

Belum sempat ia mencerna kalimat itu. Sara sudah lebih dulu diangkut oleh wanita itu dengan melingkari perutnya. Sadar akan situasinya, Sara cepat-cepat menutup mulutnya dengan kedua tangan agar jerit terkejutnya tidak lolos. Ia tidak ingin mengundang kawanan laki-laki itu datang kemari. Ia juga percaya, wanita ini sama sekali tidak ada maksud jahat padanya.

Membuka daun jendela yang terdapat di ruangan living room, Mei dengan sigap melempar tubuh Sara keluar rumah. Sara sedikit meringis kesakitan saat tubuhnya tersungkur di tanah. Baju dan celana pendeknya juga ternodai butir-butir tanah. Tapi cepat-cepat ia bangkit dan membalikan tubuhnya. Menatap Mei yang masih berada di tempatnya semula.

"Kau tidak ikut?" Tanya Sara setengah tidak percaya. Ia maju satu langkah kedepan mendekati jendela tersebut.

Menaruh telunjuknya di depan bibir, Mei berkata. "Ssstt! Pelankan suaramu. Aku harus mengambil tasku dulu. Cepat pergi, pastikan kau telah menyewa taxi sebelum aku sampai disana."

Sara masih tidak bergerak dari tempatnya. Ia masih tidak rela meninggalkan Mei seorang diri disana. Bisa-bisa saat Mei kembali kesana. Ia dihabisi para lelaki itu karena datang tanpa ada Sara disisinya.

"Apa yang kau lakukan?! Cepat pergi! Nanti kita ketahuan!"

"Ta-tapi..." air mata mulai merembas dari ekor mata mata Sara. Ia tidak sampai hati membiarkan Mei babak belur demi keselamatannya.

"Aku janji, aku akan menyusulmu kesana kok. Tenanglah Sara-chan." Mei kembali mengukir sebuah senyum. Lantas itu membuat Sara dapat berpikir jernih kembali. Ia menyeka air mata yang mengalir di pipinya sembari balik tersenyum pada wanita itu.

Namun sayang, sebelum ia benar-benar beranjak meninggalkan tempatnya. Terdengar suara lain dari dalam rumah. Suara melengking nan berat yang membuat Mei menolehkan kepalanya dengan kaget. Sara sudah bisa menebak darimana asal suara itu dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Meluruskan kembali pandangannya, Mei tetap bersikeras menyelamatkan Sara tanpa kenal rasa takut. Terbukti ketika ia mengayunkan tangannya, mengisyaratkan Sara agar ia cepat pergi dari tempatnya.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Sara memacu langkahnya dibawah pekatnya sang malam. Kaki-kaki kecilnya yang tak beralaskan sendal berlari sekuat tenaga, menginjak banyak batu kerikil. Pandangannya pun kabur oleh air matanya, menghalanginya untuk terus berlari. Namun ia tetap tidak peduli. Ia tidak mau perjuangan Mei yang berusaha menyelamatkannya berujung sia-sia.

"Kami-sama, bantulah. Mei-san." Batinnya berharap.

'

'

"Ukh..." lenguhan kecil yang dikumandangkan wanita berusia 28 tahun itu sontak membawa kesadaran bagi si pemilik suara. Mei mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menghilangkan pandangan kabur. Ia juga mulai mendengar cicitan-cicitan burung diluar sana. Tapi Mei kembali memejamkan matanya kuat-kuat ketika di rasa, sebuah benda basah dan dingin menyentuh dahinya berulang kali di bagian berbeda. Seusai benda itu menghilang, barulah ia dapat kembali membuka mata. Dan yang pertama ia lihat adalah helai-helai merah yang pendek.

"Mei-san, Akhirnya kau sadar!" Pekik seorang gadis belia yang langsung merengkuh erat tubuh sintalnya.

"Ukh sesak..." Ringisnya kemudian. Ia mendorong tubuh mungil gadis itu pelan. Disaat yang bersamaan dahinya terasa nyeri sekali hingga ia reflek memegangi dahinya sambil mendesis kesakitan.

"Ehehe maaf." Ucap si gadis sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Berusaha memfokuskan penglihatannya, Mei membeliakan matanya setelah sadar siapa gadis dihadapannya ini. Ia bahkan menganga sebagai wujud ekspresi tidak percayanya. "Sa... Sara-chan? Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa ada di apartemenku?" Tanyanya bertubi-tubi sambil terus memegangi dahinya yang sakit. Ia bangkit dari posisinya untuk duduk dan bersandar di bahu ranjang.

"Ih Mei-san jangan bilang kau amnesia! Semalam kau kan menyelamatkanku dari rumah itu. Kau juga berhasil selamat dari kejaran pria-pria itu dengan kondisi babak belur. Sesampainya di taxi. Kau malah pingsan." Jelas Sara dengan bibir yang ia kerucutkan. Menambah kesan imut dan menggemaskan bagi Mei. Tapi sedetik kemudian ekspresi gadis lugu itu berubah seketika menjadi muram dan penuh kecemasan. "Tapi kau tidak apa-apa kan, Mei-san? Aku sangat khawatir." Lirihnya kemudian.

Mengangguk pelan. Mei menyentuh pipi halus Sara dengan penuh kehati-hatian. "Terima kasih sudah merawat lukaku, Sara-chan."

"Tidak!" Sanggah Sara cepat, "seharusnya aku yang berterima kasih karena kau telah menyelamatkanku!" Sengit Sara tidak terima. Sontak Mei melepaskan tawanya.

"Kau benar-benar lucu, Sara-chan." Ucapnya sambil mengusap-usap puncak kepala gadis itu. "By the way, bagaimana kau tahu aku tinggal disini?"

"Aku mengambil kartu identitasmu saat kau pingsan. Dan tadaaa kita sampai disini dengan selamat. Apartemenmu sungguh bagus Mei-san!" Ungkap Sara sambil mengedarkan pandangannya ke seantaro ruangan yang minimalis ini. Dimana hanya terdapat sebuah ranjang yang tidak terlalu besar, sebuah lemari, dan kursi meja yang berisikan deretan buku diatasnya. "Kuharap aku bisa tinggal disini untuk selamanya." Gumamnya pelan. Nyaris tidak terdengar. Namun ternyata, Mei cukup jeli untuk mendengarnya.

"Tentu saja kau bisa! Tinggal lah disini sampai kapanpun kau mau, Sara-chan!"

Mendengar jawaban itu, Sara langsung berhambur memeluk tubuh Mei erat. Berulang kali ia mengucapkan kata terima kasih. Ia nampak senang sekali. Begitu pula dengan Mei, ia memang tidak banyak menanggapinya dengan suara. Tapi ia tidak membiarkan pelukan Sara menjadi sepihak, tangannya bergerak membalas pelukan Sara. Yang tidak Sara sadari adalah, seringaian Mei yang tidak biasa. Ya, wanita itu menyeringai seram.

"Tinggalah disini sampai kapanpun kau mau."

"Tinggalah disini selamanya, Sara-chan." Sinisnya dalam batin.

To Be Continued

'

'

'

Hei minna-san, gimana chapter ini? Masih pendek juga yaa? Wahahaha… maaf kayanya chapter ini masih gaje juga. Maafkan saya ini. Tapi ngomong-ngomong, soal chapter ini saya hanya menampilkan flashback dengan maksud saya tidak lupa dasar ceritanya hehe.. Disini saya mencantumkan marga Shimura di nama Saraa karena memang beralasan –yang sebelumnya Sara dikenal tanpa marga. Oke jadi gimana menurut anda? Jangan lelah untuk mereview ya, terima kasih banyak buat yang udah ngereview fic abal ini. Saya terharu *nangis darah*

Big hug buat kalian semua ({})

Review

V