Changmin menatap datar pria di depannya. Pergerakan tangannya terhenti di udara dengan kuas di genggamannya. Ia mengerjap dan menemukan wajah Yunho masih tersenyum.

"Ayo kita kencan!"

Ini adalah pertemuan ke tujuh Changmin dengan Yunho. Ia tidak begitu dekat kecuali Yunho sering menemuinya di sekolah setiap hari minggu.

Changmin menarik nafas panjang lalu meletakkan kuas di atas meja, "jika kita kencan sekarang juga, apa kau tidak akan menggangguku lagi?"

Senyum Yunho memudar mendengar jawaban dari Changmin. Sejujurnya itu bukan jawaban yang ia ingin dengar. Apa yang salah dari dirinya hingga Changmin begitu sulit untuk didekati. Apa karena ia sering menunggu Changmin melukis setiap kali ia ke Shinki? Hingga Changmin merasa kehadirannya mengganggu dia.

"Ayo kita berangkat!"

Changmin bangkit dari duduknya. Tanpa membereskan peralatan melukisnya, ia berjalan menuju arah pintu.

Di belakangnya, Yunho mengikuti dirinya dengan tidak rela. Namun senyumnya kembali ketika Yunho menyadari satu hal. Yunho tidaklah pernah mengiyakan kalimat Changmin tadi. Yunho tidak mengatakan jika ia tidak akan mengganngu Changmin lagi. Jadi tidak ada alasan baginya untuk tidak menemui Changmin lagi.

.

.

.

DBSK Fanfiction

Present

November with Love © Ran Hime

DBSK © Themselves

Mimi Homin Vers © Chonzakajaejae

Drama, Hurt/Comfort

Homin Slight Yoomin, YunJae

M Rated

Yaoi, OOC, Typo, etc.

.

.

.

Chapter 3

.

.

Changmin menatap ruang seni. Disitulah awal kedekatannya dengan Yunho mulai terjalin. Tempat dimana Yunho selalu setia menunggunya. Walau ia menyadari semua telah lama berakhir. Changmin berjalan kembali menyusuri sekolah Shinki. Tidak ada yang berubah dari tempat ini sedikitpun, walau waktu telah lama berlalu. Bahkan perasaannya terhadap Yunho pun tidak berubah sedikit pun.

Satu persatu bayangan tentang masalalunya bersama Yunho bermunculan. Ketika pria itu datang di hari sekolah dan membuat seisi sekolahan heboh dengan tingkahnya. Bagaimana pria itu bahkan tanpa malu mengatakan bahwa Yunho menyukainya. Bagaimana pria itu mengekorinya dan membuat Changmin tidak nyaman. Mengejar Changmin sampai pria itu mendapatkan jawaban atas perasaannya.

Changmin membuka pintu yang menghubungkan taman belakang sekolah Shinki. Sinar matahari langsung menerpa wajahnya bersamaan hilangnya bayangan dari masalalunya.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Junsu menatap layar ponsel di tangannya. Ia memperhatikan photo wajah seseorang yang baru saja Jaejoong kirimkan.

Junsu berpikir sejenak, merasa jika ia pernah melihat orang tersebut sebelumnya. Junsu melepas kacamatanya dan memijat pangka hidungnya. Ia menatap wajah itu lagi lalu menutup mata. Pria itu adalah Shim Changmin. Pria yang membuat sepupunya berhenti bermain-main dengan waktu. Pria yang membuat Yunho berhenti menghabiskan waktu luangnya di klub malam. Pria yang membuat Yunho kecelakaan.

Junsu memalingkan wajahnya. Menatap jendela kantornya. Berbagai pertanyaan mulai bermunculan. Apakah mereka telah bertemu kembali? Apakah Jaejoong sudah mengetahui tentang hubungan Changmin dengan Yunho di masalalu?

Bagaimana bisa Yunho dan Jaejoong meminta bantuan di waktu yang sama bahkan tentang hal yang sama?

Apa yang harus ia katakan kepada mereka berdua. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Jaejoong. Ia tidak mungkin membuat Jaejoong terluka, namun ia juga tidak mungkin berbohong.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Changmin mengeratkan pegangan di pinggang Yunho. Jujur saja ia sangat takut ketika Yunho bersikeras memboncengnya ketika akan pulang. Yunho bilang jika hampir sepuluh tahun pria itu tidak pernah lagi naik sepeda.

"Jangan setegang itu Changmin ah!"

Changmin hanya diam, tidak berniat untuk membalas ucapan Yunho. Ia mengeratkan syalnya yang melonggar lalu kembali memegang pinggang Yunho.

Changmin masih belum bisa percaya pada hal tersebut. Bagaimana dulu ia begitu tidak menyukai Yunho, namun sekarang ia bahkan begitu dekat dengan Yunho.

"Kapan kau ada waktu luang," ujar Yunho membuat lamunan Changmin buyar.

"Ada apa?"

Yunho tersenyum walau ia sadar Changmin tidak mungkin bisa melihatnya," ayo kita kencan lagi!"

Sontak pipi Changmin sedikit memerah. Ia tidak tahu mengapa Yunho suka sekali mengajaknya untuk keluar.

"Ada restoran baru di dekat taman."

Changmin mengangguk pelan di punggung Yunho, membuat Yunho tersenyum sambil mengayuh sepeda milik Changmin dengan bersemangat.

.

.

Yunho terbangun dari tidurnya. Lagi-lagi mimpi bersama Changmin. Ia merasa hanya sekali bertemu dengan Changmin, namun beberapa kali ia memimpikan pria itu. Bahkan seringkali sekelebat bayangan tentang Changmin melintas di pikirannya.

Siapa sebenarnya Changmin? Apakah dia salah satu teman dari masalalunya? Jika iya, tapi kenapa Changmin seolah tidak mengenal dirinya ketika mereka bertemu dua minggu yang lalu.

Yunho menguap. Matanya tidak sengaja menatap seseorang yang tengah melamun di balik meja kerja yang ada di apartemennya. Yunho menyibak selimutnya lalu turun dari ranjang.

Yunho berjalan ke arah sosok tersebut sambil tersenyum.

"Jaejoong ah!" serunya ketika berada di belakang Jaejoong. Membuat Jaejoong terkejut dan cepat-cepat menyembunyikan ponsel usang milik Changmin di dalam laci.

Jaejoong menoleh ke belakang lalu tersenyum menatap Yunho.

"Kenapa kau belum tidur?"

Jaejoong kembali memalingkan wajahnya dan menunduk. Akhir-akhir ini ia kesulitan tidur. Semenjak ia menemukan ponsel dan selembar photo di meja kerja Changmin. Ia hanya ingin tahu hubungan tunangannya dengan karyawannya itu, namun ia terlalu takut hanya untuk sekedar bertanya.

Yunho berjalan ke depan Jaejoong dan berjongkok di depan tunangannya itu. Dengan lembut ia menggenggam kedua tangan Jaejoong.

"Kau terlihat lelah!" seru Yunho sambil menatap wajah Jaejoong. Jujur saja, akhir-akhir ini Jaejoong terlihat kurang segar dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Jaejoong seperti menyimpan banyak pikiran.

Jaejoong hanya tersenyum, "aku baik-baik saja, ayo kembali tidur."

Yunho bangkit dan berjalan mengikuti langkah Jaejoong menuju ranjang.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Jaejoong menatap amplop di depannya. Masih tidak mengerti dengan keinginan Changmin yang ingin mengundurkan diri dari perusahaannya. Sungguh disayangkan jika ia benar-benar kehilangan karyawan seperti Changmin. Pria itu sangat berbakat. Pria itu bahkan banyak membantu kemajuan perusahannya.

"Saya benar-benar minta maaf presdir Kim!" seru Changmin sembari bangkit dari duduknya, " ia membungkuk lalu meninggalkan ruangan Jaejoong.

Jaejoong hanya diam melihat kepergian Changmin. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima keputusan Changmin untuk mengundurkan diri. Ia tidak bisa memaksa Changmin untuk tetap berada di perusahaannya, sementara kondisi Changmin yang tidak baik akhir-akhir ini.

Jaejoong meraih amplop di depannya. Ia membukanya dan mengeluarkan isi dari amplop itu. Matanya memicing melihat dua kertas yang baru ia keluarkan tersebut. Satu surat pengunduran diri dan yang satu nampak tulisan tangan Changmin yang tertera. Jaejoong membaca satu persatu kalimat yang ditulis oleh Changmin. Perlahan airmatanya menetes. Ia meremas surat tersebut dan buru-buru bangkit dari duduknya. Dengan setengah berlari, ia menuju pintu ruangannya dan membukanya dengan kasar. Berniat untuk mengejar kepergian Changmin.

"Jaejoong Hyung!"

.

.

Jaejoong memperhatikan Junsu yang tengah menyesap kopinya. Kedatangan Junsu ke kantornya membuat Jaejoong mengurungkan niatnya untuk mengejar Changmin. Secepat itukah Junsu mendapatkan informasi tentang masalalu Changmin?

"Aku tidak tahu harus memulainya dari mana," ujar Junsu sembari meletakkan Cangkir kopinya di atas meja.

"Junsu yah!"

"Itu sudah terlalu lama." Junsu memalingkan muka, menatap jendela dan menerawang masalalu dari sepupunya, "mereka memang pernah mempunyai hubungan lebih dari sahabat."

Jaejoong mencengkeram celana di pahanya. Menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang. Jadi semua itu benar? Tunangannya pernah menjalin hubungan dengan Changmin. Dan semua berakhir karena adanya dirinya.

Jaejoong merasakan matanya memanas. Ia sudah berusaha untuk tidak menangis, namun air matanya mengalir begitu saja. Untuk saat ini, bolehkah ia egois? Ia ingin mempertahankan Yunho di sisinya.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

"Kita akan bertemu jam tujuh di menara jam. Tunggu aku

Changmin-ah."

Itu adalah kalimat yang dikirim oleh Yunho lima tahun yang lalu. Sama seperti hari itu, malam ini pun semua tidaklah mungkin terjadi. Yunho tidak mungkin datang dan menepati janjinya. Sama seperti malam itu, Changmin hanya diam sambil menatap jam besar di menara jam. Seperti malam itu, ia hanya berdiri menunggu sesuatu yang tidak pasti.

Hari itu Changmin berpikir jila Yunho hanya mempermainkan dirinya. Ia berpikir jika janji yang Yunho katakan hanyalah bualan. Sampai pada akhirnya ia tahu jika sore itu, Yunho mengalami kecelakaan.

Changmin tetap diam walau perlahan hujan mulai turun. Tidak ada yang ia harapkam lagi selain waktu bisa memberikan ia kesempatan untuk melihat masalalu. Melihat kembali bagaimana sempurna hidupnya dulu setelah Yunho datang.

Rasanya ada yang sakit di dadanya. Bahkan sesak mulai terasa ketika tetes demi tetes air matanya jatuh bersama hujan.

"Tidak bisakah kau tidak menyakiti dirimu sendiri?"

Changmin menutup mata mendengar suara itu. Selalu saja, pria di belakangnya dapat menemukan dimana ia berada.

"Tanpa aku menyakiti diriku pun, aku sudah sakit."

Pria itu mengepalkan tangannya. Dua hari ia membuntuti Changmin, namun Changmin tidak juga kembali ke rumah sakit.

"Jika kau memang masih mencintai dia, seharusnya kau berusaha mengembalikan ingatannya." Ada nada getir di setiap ucapan dari Yoochun. Ia memang tidak akan rela jika Changmin kembali bersama Yunho. Namun ia lebih tidak rela melihat Changmin seperti ini.

Changmin terdiam. Merasakan hujan semakin deras menimpa tubuhnya.

"Lalu apa yang akan aku dapatkan setelah itu?" Changmin meremas dadanya, mencoba menahan agar suaranya tidak bergetar, "ia sudah cukup bahagia dan aku tidak bisa egois."

"Changmin ah!"

"Seberapa lama aku bertahan pada akhirnya aku akan mencapai batas."

"Shim Changmin!"

Yoochun menarik tangan kanan Changmin hingga pemuda itu berbalik dan menatap wajah sembab Yoochun. Mereka sama-sama terluka ketika apa yang mereka harapkan seolah tertahan oleh waktu.

"Tidak bisakah kau bertahan!" seberapa Yoochun berusaha agar suaranya terdengar biasa, namun suara isak itu berbicara lain, "bukankah masih ada aku."

"Aku tidak bisa membuatmu semakin terluka. Itu sudah terlalu lama."

Yoochun melepaskan tangan Changmin. Membiarkan Changmin berjalan menerobos hujan. Yoochun memang harusnya menerima kenyataan dari awal ketika ia tahu posisi Yunho tidaklah bisa ia gantikan. Yoochun mengerti akan hal itu, namun menyangkal kenyataan itu.

Ckiittt

Braaakkk

Yoochun mengangkat kepalanya. Wajahnya terlihat cukup syok ketika melihat tubuh Changmin tertabrak hingga terpental beberapa meter dari posisi mobil tersebut. Ia ingin berteriak namun lidahnya masih keluh.

Yoochun menahan nafas sebelum akhirnya ia berlari ke arah Changmin tergeletak.

"Changmin ah!"

Yoochun nampak panik melihat kondisi tubuh Changmin. Nampak luka gores di pipi kiri Changmin. Dan baju yang ia kenakan pun sobek di beberapa bagian karena tergores aspal.

"Changmin ah!"

Changmin membuka matanya perlahan lalu berusaha untuk berbicara. Walau tidak ada suara yang keluar. Hingga akhirnya ia menyerah dan menutup mata kembali.

.

.

.

To be Continue ...

.

.

Terima kasih karena bisa menerima ff ini dengan baik. Maaf jika tidak ada/bahkan hampir tidak ada adegan romantis HoMin. Saya hanya berusaha menulis seperti di FanVic nya. Walau banyak perbedaannya.

Saya berterima kasih karena telah berkenan membaca ff ini dan memberikan review.

.

Balasan Review:

k. shima: Jawabannya ada di chapter berikutnya.

akiramia44: iya ini ff yang saya maksud beberapa waktu yang lalu.

Guest077: ini sudah lanjut :) saya pikir tidak ada yang ingat dengan ff ini.

red: yang saya tahu di Korea, setelah menikah marga istri tidak mengikuti marga suaminya. Yang ikut cuma anaknya. Jadi ibunya Yunho tetep memakai marga aslinya.

Maaf kalo salah. Soalnya saya cuma baca artikel ^^

abang: iya. Jaejoong juga amnesia. Changmin bisa sembuh, tapi kesempatannya untuk sembuh tipis ^^

me8288: Terima kasih. Semoga Chap ini tidak mengecewakan. ^^

Guest: ini sudah update

mochi: jawabannya ada di chap ini ^^

sayakanoicinoe: ini sudah dilanjut.

yolyol: yang kemarin dihapus, jadi saya mempubishnya ulang. Terima kasih atas ^^

.

Thank's to:

k. shima, akiramia44, Guest077, red, abang, me8288, Guest, mochi, sayakanoicinoe, yolyol.