Rikudo

Disclamer : Bukan mili Yuki


Warning : Typo, Update tidak menentu


Sinopsis : Pada awalnya dia hanya pecahan dari seorang dewa, yang menunggu waktu untuk memudar saat manusia semakin melupakan 'Nama' dan 'Legenda' tentang dirinya.

Namun saat Gadis Iblis itu datang membuat sebuah permohonan. Membuat penantiannya menjadi kacau dengan masalah yang datang setelah permohonan aneh itu.

"Bisakah kau lindungi aku?"


Chapter 2 : Belarra


"Siapa yang akan dapat memahami Anda setelah Saya mati? Siapa lagi yang akan maju ke depa nuntuk berdiridi sisi Anda? Naruto-sama ... ketika Saya berpikir bahwa Anda akan hidup sendirian untuk selanjutnya, Saya tidak bisa berhenti meneteskan air mata ... "


Bel berbunyi dan suara bahagia murid datang menggema, dengan itu jam istirahat siang telah resmi untuk di buka. Mungkin itu berlebihan, tapi bagi Issei jam istirahat siang adalah surga tersendiri baginya ... dia tersenyum memikirkan setiap warna yang tersembunyi di balik baju para gadis.

Dengan kata lain itu pakaian dalam milik gadis Kendo.

Issei berdiri dengan senyum bersahaja bagi dirinya. Dia siap melangkah untuk percaya diri memikirkan stategi di medan perang nanti. Matsuda dan Motohama pasti telah menunggu dirinya, mereka berdua telah kabur terlebih dahulu meninggalkannya, dia tidak akan melewatkan perang ini ... Demi Tu-Akkrrrr, Demi pakaian dalam para Gadis Kendo.

Sial dia lupa bahwa telah menjadi Iblis.

Issei segera bergegas setelah memasukan semua pensil dan peralatan lainnya ke dalam kotak pensil, tidak ingin kehilangan salah satu dari mereka. Bukan di kelas ini ada yang berpanjang tangan, bukan. Tapi mengingat bagaimana setiap barang yang terlantar terbang dengan sendirinya, tidak ada salahnya untuk jadi berwaspada diri.

Setelah semua persiapan terasa lengkap. Issei mendengar teriakkan para gadis di lorong membuatnya tertarik, dia menoleh dan menemukan Kiba telah berdiri di depan kelasnya. Apa yang orang tampan itu ingin lakukan di sini?

"Issei-kun, Bochou memanggil kita semua ke klub saat istirahat ini."

"Bochou?" Issei bertanya, namun dia dengan cepat mengangguk. Lupakan Gadis Kendo dan pakaian dalam mereka yang berwarna warni. Untuk Bochou tercinta jangankan hanya datang ke ruang club, berenang di lautan api dan mendaki gunung belati akan dia lalui jika Bochou memintannya.

Tentu itu hanya angan-angan Issei.

"Baiklah.." Issei segera bergerak mengikuti Kiba. Mengirim telepati darurat kepada dua orang di luar sana bahwa dia tidak bisak ikut menikmati pakaian dalam gadis Kendo saat ini. Semoga mereka menerima telepatinya.

Issei berjalan pelan melewati lorong menuju Ruang Club dengan perasaan sakit di hati. Sepanjang jalan dia tidak bisa berhenti mengumpat saat para gadis sengaja menabrakkan dirinya dengan Kiba dan meminta maaf dengan nada malu-malu. Hei apa-apaan pemandangan memilukan ini, melihat semua pemandangan ini membuatnya ingin menangis darah. Jika itu dia jangankan meminta maaf, malah tamparan yang akan dia dapat di wajah, meski itu bukan salahnya.

"Ayo Casanova, Bochou telah memanggil!" Issei menarik tangan Kiba kesal, meski mendapat teriakkan tidak suka dari gadis yang tertabrak. Namun dia tidak punya pilihan lain, ini sudah gadis yang ke limabelas yang menabrakkan dirinya sepanjang perjalanan. Jika itu dia, dia mungkin akan senang hati dan tidak peduli sebanyak apapun gadis yang akan menabrakkan diri. Tapi jelas itu bukan dia...dan itu membuatnya ingin menangis.

Cih terkutuklah kalian orang-orang tampan.

Setelah perjalanan panjang yang penuh dengan hawa nafsu dan air mata.

Issei sampai, di depan sebuah pintu tua dengan ukiran indah yang menghiasi setiap sudut pintu. Ini adalah pintu ruangan Club tercinta miliknya. Dia membuka dan menemukan semua anggota club yang hadir saat ini. Tidak hanya itu, semua anggota Osis juga turut hadir saat ini. Bahkan Asia yang tidak datang ke kelas pagi ini juga berada di sini.

Ada kegiatan apa hari ini?

"Issei-kun." Itu suara Bochou tercinta. Issei melihat Bochou baik-baik saja. Dia terlihat bahagia, sepertinya berita tentang batalnya rencana pernikahan itu adalah benar.

Menurut Akeno-Senpai, seseorang telah menolong Bochou setelah dia melarikan diri. Namun Issei tidak peduli, selama itu bukan saingan cintanya untuk mendapatkan hati sang Bochou dia akan selalu berterimakasih untuk sang penolong. Semoga Tu- Akrhh...

Lupakan itu.

"Bochou..." Issei berlari bahagia, melihat senyum cantik di wajah sang Bochou ... membuat sebuah senyum menjijikkan muncul di wajah.

"Hentai."

Dan Issei telah terbang sebelum mendapatkan niatnya.

Setelah bangkit kembali.

Setelah mendapat penjelasan, setelah Rias kabur dari pertunangan itu. Semua anggota Osis (yang telah hadir terlebih dahulu) dan Club Supranatural mengerti bahwa sang Pewaris Gremory telah membuat kontrak dengan seorang Dewa yang tidak di kenal. Grayfia yang kebetulan hadir saat ini menjelaskan bahwa untuk berjaga-jaga, sang Dewa yang bahkan sepertinya tidak memiliki ingatan lengkap tentang dirinya di tempatkan di Dunia Manusia untuk membuatnya bisa sedikit beradaptasi tentang Dunia yang sekarang.

Issei mengangkat tangannya. "Apa Dewa ini akan bersekolah atau menjadi Guru di sini?"

Namun Grayfia hanya menggeleng. "Tidak keduanya, Dewa ini tidak memiliki pengetahuan apapun tentang Dunia ini. Sebenarnya lebih aman menempatkan dia di bawah pengawasan Lucifer-Sama sendiri atau di bahwah pengawasan Pihak Surga atau Pihak Mitologi Shinto. Tapi melihat bagaimana hubungan yang dia miliki dengan Rias-Sama, para Maou dan setiap petinggi para Fraksi yang mendapat kabar ini, memutuskan untuk membiarkan dia berada di sekitar Rias-Sama, dan memantau dari jauh apa yang akan dia lakukan."

"Dia akan berada di sekolah ini." Sona bertanya dengan tidak mengerti. "Jika dia bukan sebagai Murid atau Guru, bagaimana menjadikannya sebagai pegawai rendah di sekolah ini. Akan lebih mencurigakan jika seseorang yang asing memasuki sekolah ini secara tiba-tiba."

"Itu mungkin bisa di terima, pesan dari Lucifer-Sama adalah biarkan dia melakukan hal apapun sesuka hatinya selama itu tidak membahayakan Fraksi manapun. Biarkan dia belajar tentang Dunia ini, atau akan lebih baik jika kalian para Iblis muda mau membantunya."

Setelah mengatakan itu, Grayfia dengan jelas melihat kegugupan di mata para Iblis muda. Itu adalah reaksi yang wajar.

"Khusus untuk Anda, Rias-sama ... Lucifer-Sama ingin mengingatkan untuk berhati-hati."

Kiba terlihat bingun dengan peringatan itu. "Mengapa?"

Grayfia melihat pemuda itu dan menesah pelan. "Setelah menyaksikan sedikit, kami menarik kesimpulan bahwa Dewa itu pasti sangatlah kuat. Dia yang bahkan telah kehilangan 'Nama' dan 'Legenda'nya masih mempunyai sisa kekuatan yang bahkan sanggup mempermaikan Raiser-Sama. Dan itu tentu berbahaya saat kita jelas tidak tau Dia Dewa dari Mitologi mana dan Dewa berjenis apa."

"Lalu apa hunungannya, aku masih tidak mengerti." Issei bertanya dengan penuh kebingungan. "Bukankah dia cukup baik, jika dia memiliki niat menyelamatkan Bochou dari ayam panggangang itu?"

Semua pandangan mulai mengarah pada Pion kecil ini.

"Issei ... jelas kau tidak mengerti permasalahan yang ada di sini." Sona melirik Issei sejenak sebelum membetulkan letak kaca matanya. "Kita tidak tau dia Dewa dari jenis yang mana. Dan asal kamu tahu, di dalam sistim para Dewa. 'Nama' dan 'Legenda' adalah harta paling berharga yang dimiliki oleh para Dewa ... dua hal tersebut adalah segalanya bagi mereka. Eksistensi mereka, keberadaan mereka, bukti bahwa mereka ada di Dunia ini. Dan kehilangan hal tersebut adalah berarti kehilangan segalanya bagi mereka."

"Tapi dalam kasus kali ini, Dewa yang ini mampu bertahan dalam waktu yang lama, bahkan setelah kehilangan hartanya. Tidak masalah jika dia adalah Dewa yang tercipta dari niat baik Manusia, namun bagaimana jika dia tercipta dari niat jahat Manusia?"

Issei menelan ludahnya gugup, dan menatap Sona dengan ragu. "Errr... itu bisa jadi bencana bukan?"

"Tidak." Sona menepis jawaban itu, dia melipat kedua tangannya dan memandang Issei "Tapi sesuatu yang lebih buruk dari pada bencana bisa terjadi."

Dan tidak ada yang menjawab atas ucapan itu.

Setelah itu sinar merah terang muncul di lantai kayu ruangan club. Dengan Lambang keluarga Gremory yang terlukis, seseorang keluar dari dalam sana menatap mereka semua. Seperti mata yang menatap kosong Dunia ini, tatapan yang memberi tahu bahwa dia tidak ingin ambil peduli apapun tentang Dunia. Tatapan Kosong yang terlihat lugu. Mereka mencoba merasakan lebih dalam, namun tersadar saat pemuda di hadapan mereka seakan tercipta dari sebuah sesuatu yang tidak memiliki batasan ... mencoba lebih dalam mereka tau, mereka merasakan sesuatu yang akan segera menghilang.

Mereka tau bahwa mungkin apapun yang berada di depan mereka, mungkin akan binasa pada akhirnya seiring berjalannya waktu.

Grayfia melangkah mendekati Naruto dan memberi sebuah penghormatan kecil, wanita itu terlihat kaku. "Silahkan duduk."


Dunia ini begitu rapuh.

Naruto membuka mata setelah merasakan energi asing telah pergi menjahui dirinya, ia tidak berucap banyak ... namun para Iblis telah melakukan teleportasi untuk memindahkannya ke dunia di mana tempat manusia berada. Mendapati diri telah berada dalam sebuah bangunan tua dengan interior yang terlihat bagus. Lebih jauh setelah kedatangannya, Naruto merasakan beberapa kelompok Iblis menatapnya dengan berbagai ekspresi ... namun Ia memilih untuk tidak terlalu ambil peduli tentang hal itu.

"Silahkan duduk." Seorang Iblis wanita dengan sikap yang kaku mempersilahkannya untuk duduk. Naruto hanya mengangguk dan mengikuti perkataannya. Kalau Ia tidak salah ingat, dia adalah istri dari Sirzechs Lucifer.

Wanita itu adalah salah satu dari empat Ratu Kaum Iblis saat ini

Sebuah teh telah datang, asap yang mengepul ... keluar dan naik menarik perhatiannya. Naruto menghilang dalam dunianya sendiri, tidak terlalu memperhatikan hal yang lain, bahkan dengan dua Iblis muda yang duduk di depannya. Naruto berfikir, bagaimana dunia yang sekarang bisa menciptakan secangkir teh dengan asap yang berbau harum bunga seperti ini, bukan hanya bunga ia bisa merasakan bau dari rasa manis yang lain.

Tuhan dalam Al-Kitab atau Dewa apapun yang berkuasa di Zaman ini pasti telah memikirkan hal yang hebat seperti ini dalam waktu yang lama.

Ya, Naruto mungkin harus pergi sejenak untuk menemui banyak hal menarik lainnya.

"Ummm ... Naruto," Rias mulai berbicara berusaha menarik perhatian Naruto dari asap teh tersebut. Tapi dia mendesah cepat saat Naruto masih tidak memperhatikannya dan terus memandangi asap teh itu seraya mengendus-endusnya. "Jika, kamu mau aku bisa menunjukkan hal menarik lainnya selain asap teh itu."

"Benarkah?" Naruto menatap Rias, ia menunjukkan sedikit minat mendengar perkataan itu.

"Tentu, namun untuk itu kamu harus mendengarkan apa yang akan kami katakan terlebih dahulu." Rias mencoba tersenyum, bagaimanapun dia tetap tidak bisa menarik perhatian Dewa itu dari asap teh di depannya.

Meski Naruto tidak memperhatikan Rias, ia sadar betul dan mendengarkan dengan baik setiap perkataan yang akan di ucapkan oleh Iblis yang membuat permohonan dengannya. Jadi Naruto memilih untuk diam dan menatap asap teh yang masih mengapung di atas cangkir teh itu dengan tertarik.

"Pertama kami ingin mengucapkan terimakasih atas bantuan Anda." untuk permulaan Sona mengucapkan terimakasih dan berdiri dari tempat duduknya, tidak hanya dia ... semua iblis yang ada kecuali istri dari Sirzechs dan Rias mulai membungkukkan badannya berterimakasih.

Namun keanehan terjadi, Naruto menatap adengan itu dengan tidak mengerti. Ekspresi bingung yang terlihat jelas di wajanya ... Naruto berkedip untuk beberapa alasan. "Untuk apa kalian melakukan itu.."

"Eh? Apa maksud Anda?" Sona menautkan alisnya dengan tidak mengerti, dia tau bahwa Naruto adalah seorang Dewa dari era yang tidak diketahui. Namun dia telah belajar ... semakin tinggi kedudukan seorang Dewa, dan semakin Kuno Zaman di mana mereka berjaya ... maka semakin besar mereka akan menuntut hormat dari eksistensi yang lain. Bahkan jika mereka tidak melakukan apa-apa.

"A-Apa maksud Anda?" Sona mengulang sekali lagi dan menjadi sedikit gugup, apa dia melakukan kesalahan? Kalau iya berarti dia harus segera memperbaikinya sebelum Dewa ini mengamuk. Kakaknya secara khusus telah memerintahkannya untuk menjahui Naruto jika mereka bertemu, bahkan mengabaikan Mahluk itu ... tidak peduli meski Naruto telah menyelamatkan Rias dari Raiser. Dia harus menjahui Naruto.

Sona tidak pernah melihat kakaknya menunjukkan sebuah permintaan yang serius bahkan sampai mengunakan Namanya sebagai Maou saat ini untuk memerintahkannya. Dewa yang tidak jelas berasal dari Zaman apa, dan tidak jelas memiliki kedudukan sebagai apa memang sangat berbahaya. Namun rasa penasaran yang melekat pada dirinya tetap membuatnya mengabaikan segala perintah dan tetap manemui mahluk yang bernama Naruto ini.

Setelah perkataan itu, tidak hanya Sona tapi semua Iblis yang ada di dalam ruangan itu juga menjadi tengang. Bahkan Grayfia mulai merilis energinya untuk menghindari hal yang tak diinginkan.

Naruto bisa merasakan bahwa suasana menjadi tengang setelah Ia mempertanyakan perbuatan para Iblis itu kepadanya. Naruto menatap tidak mengerti mengapa mereka tiba-tiba menjadi kaku, namun segera Ia tidak menunjukkan ekspresi apa-apa setelahnya seakan tidak peduli dengan semua yang ada di sekitarnya.

"Aku hanya bertanya, untuk apa kalian melakukan itu?"

Sona menelan ludahnya gugup dan berdiri perlahan menatap Naruto yang tidak menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya. "Apa yang kami lakukan salah?"

Itu sebuah penghormatan, bahkan Dewa kelas rendah sering meminta perhormatan tinggi dari bangsa Iblis meski mereka tidak pantas mendapatkan itu. Lalu kenapa Naruto mulai mempermasalahkan tindakkan ini.

"Aku tidak menyalahkan kalian ..." Naruto membukan mulutnya, suara terdengar datar seperti tidak ambil peduli. Namun para Iblis yang mendengar menjadi rileks setelahnya. Tapi perkataan selanjutnya... "Aku hanya bingung harus membalas sikap kalian itu seperti apa.."

"Apa maksud Anda, Naruto-san?" itu bukan suara Sona, di belakang barisan seorang pemuda tampan mengeluarkan suaranya. Kiba, bertanya dengan ketidak mengertiannya ... mempertanyakan maksud dari ucapan Dewa itu yang tidak dia pahami.

"Aku..." Naruto membuka suara, namun untuk sejenak ia menjadi terdiam menyebabkan para Iblis mulai penasaran dengan apa yang ingin ia ucapkan. Seperti mengatakan sesuatu yang penting, Ia merasa tenggelam sendri ... seperti mengingat sesuatu namun terasa kabur. Entah kenapa Naruto merasakan ada sesuatu yang pergi dari sisinya. "... seingat ku, aku tidak pernah mendapatkan penghormatan itu ... kalian adalah yang pertama melakukannya. Jadi aku tidak tau bagaimana harus membalas sikap kalian itu."

Setelah mengatakan itu, Naruto menjadi diam. Asap teh tidak lagi menarik minatnya, setelah mengatakan itu ... entah mengapa serasa ada yang hilang dari sisinya. Itu sesuatu yang berbeda, sesuatu yang sangat berbeda dari sekedar 'Nama' dan 'Legenda' tentang dirinya. Itu... itu...

"Anda harus percaya, bahwa Saya adalah teman baik Anda ..."

Naruto seperti mendengar sebuah suara menenangkan di sisinya, Ia menoleh seperti melepas rindu. Namun Ia kecewa saat tidak mendapati siapapun di sisinya. Naruto tidak tau mengapa tapi ia merasa sangat kecewa ... seperti ada sesuatu yang hilang ... tapi Ia tidak tau apa. Sebenarnya siapa yang hilang? ... dimana dia? Dan kemana dia?

Naruto tidak tau, setelah kesadarannya terpanggil permohonan Rias rasa kehilangan yang tidak pernah Ia rasakan mulai muncul di hati. Rasa bersalah untuk setiap harapan yang dia kabulkan mulai muncul kepermukaan.

Naruto hanya tidak mengerti.

"Naruto, ada apa?"


Rias POV

"Naruto, ada apa?"

Terlambat. Tanpa sadar aku mengucapkannya, melihat dia yang menoleh kesamping secara tiba-tiba aku tidak terlalu ambil peduli. Tetapi raut wajahnya yang saat itu ... itu adalah raut kesedihan yang dalam, seperti dia telah kehilangan sesuatu ... namun dia tidak tahu telah kehilangan apa.

Naruto hanya diam setelah aku bertanya, dia tidak membalas apapun. Dia hanya diam seperti bisa setelah semua, menatap semua orang dengan ekspresi kosong seperti bagaimana kami pertama kali bertemu. Dia hanya menyembunyikan apa yang dipikirkannya dengan terlalu baik. Tidak seperti Sona yang dingin, kekosongan yang ada pada wajahnya seperti ...

"Naruto, mari ikut." aku berdiri memecah keheningan sekali lagi, menuju dirinya yang diam dan mengenggam tangan kurus yang dingin itu. Masih tangan yang sama, masih tangan yang sama dimana aku mengenggamnya untuk meminta sebuah harapan darinya.

Dia tidak melawan, dia hanya mengikuti tarikan itu dengan wajah lugu yang tidak mengerti. Dia mungkin tidak mengerti dengan tindakkan ini, dia mungkin tidak mengerti dengan keadaan di sekitarnya. Bahkan ... dia mungkin tidak mengerti dengan dirinya sendiri, Naruto ... seharusnya Dewa yang akan binasa. Kehilangan 'Nama' dan 'Legendan'nya, menyebabkan dia kehilangan semua ... bahkan juga menyebabkan dia kehilangan ingatan.

"Bochou, kami juga ikut." Itu suara Issei, dia bergegas menuju ke arah kami. Pion lucu ku itu, aku senang dia juga ikut, tidak hanya dia semua juga ikut dan berjalan ke arah kami. "Kami, akan juga menemani Naruto-san untuk berkeliling memperkenalkan sekolah kita ini."

"Tentu saja." aku menyahut.

"Maaf kami akan pergi setelah ini." itu Sona dan para anggota Osis lainnya. "Masalah hari ini cukup sampai di sini, besok akan kita lanjut kan Rias."

Sona mulai berdiri dan menatap kami sejenak. Tidak. Dia jelasnya lebih menatap Naruto dalam, Sona tidak berbicara lebih, namun sekali lagi dia membungkukkan badannya dan berbalik meninggalkan kami beserta anggotanya.

Aku tau penghormatan itu bukan untuk kami, tetapi untuk Naruto. Sayangnya Naruto hanya diam tidak menanggapi sikap Sona tersebut, aku yakin dia hanya bingung bagaimana cara membalasnya.


Normal POV.

"Kau tau ini adalah rungan klub Kendo, mereka tidak terkenal karena segala prestasinya, mereka lebih terkenal dengan kebrutalan gadisnya. Jika kau mau aku bisa menunjukkan surga Dunia pada-"

Naruto memandang diam saat pemuda dengan rambut coklat tersebut telah terbang sebelum menyelesaikan kalimatnya. Naruto mengingat kalau tidak salah dia memiliki nama sebagai Issei, pemilik darah Naga surgawi saat ini. Dia memperkenalkan dirinya dengan penuh percaya diri dan Naruto serius mendengarkan, Manusia-Tidak Naga yang memilih menjadi Iblis. Naga yang membuang kebebasannya dan keagungannya ... Naga yang menyedihkan meski dia adalah kelas Surgawi, Naruto ingin mengatakan semua itu kepada Issei. Namun saat melihat betapa bahagianya dia menjadi Iblis, saat melihat betapa ramahnya dia ... meski dia adalah Iblis.

Dunia telah berubah, Iblis mencoba menjadi baik ... itu yang Sirzechs katakan.

Membuat semua kata-katanya kembali tertanam ke bawah, Naruto tidak mencoba mengatakan apa yang dipikirkannya. Bercerita lebih lanjut ia tahu Issei menjadi Iblis untuk menyelamatkan hidupnya, dia yang ditipu dan hampir mati ... Rias datang menyelamatkan hidupnya. Namun Naruto memandang Issei dan semua anggota kelompok Rias dalam-dalam.

Mengetahui semua cerita memiliki alur yang sama.

Mungkin Rias menipu mereka ... mengingat dia Iblis.

Mungkin Rias memanfaatkan situasi.

Atau ... mungkin Memang seperti itu kebenaran yang ada.

Naruto menggeleng, ia tidak mengerti.

Dan yang menendangnya adalah seorang gadis dengan tubuh kecil, kalau tidak salah dia bernama Koneko mantan dari Yokai Nekomata. Kucing ekor dua. Kucing... seperti ia pernah mengingat mereka.

Pandangan mereka bertemu, Naruto diam dengan pandangan kosong menatap Koneko yang melihatnya juga tak kalah datar. Saling terdiam, namun Koneko dengan cepat mengalihkan pandangannya dan mulai menempatkan diri di sisi gadis pirang yang menatap Issei dengan pandangan khawatir-Asia.

"Apa dia tidak apa-apa." Naruto bertanya, namun hanya sebuah suara tawa aneh yang terdengar dari gadis di sebelahnya.

"Fufufufu... Issei-kun adalah lelaki yang kuat, tendangan seperti itu tidak akan bisa membunuhnya." Akeno tersenyum dengan mata tertutup, dia sedikit mencoba untuk mengoda Dewa yang bertanya dengan nada yang kosong itu. Tapi setelah semua, dia menyadari bahkan Naruto tidak melihat ke arah dirinya. Pemuda itu melihat ke arah yang lain dengan tatapan tertarik.

Senyum makin lebar di bibirnya.. 'Menarik.'

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Issei untuk bangkin dan berlari menuju ke arah mereka. Seperti tidak ada apapun padanya dia tersenyum lebar, Issei berlari dan mulai merangkul Naruto akrab menceritakan tentang ini dan itu ... hal apapun yang sedang populer di kalangan remaja. Naruto tidak mengerti, namun ia mendengar dengan serius, mungkin dengan mendengar Issei-san ia mendapat hal yang menarik selain asap teh.

"Kau tau Naruto-san, hal yang paling populer saat ini adalah tiga uku- Akkrrr..." Naruto berkedip, saat Issei kembali terbang menabrak dinding sebelum ucapannya selesai.

"Hentai.."

Naruto menatap, menyaksikan Issei telah tertanam di dinding dan tidak ada kata untuk bangkit.

"Apa dia baik-baik saja?"

"Fufufufu..."

Naruto menaikkan alisnya mendengar itu, menatap Issei yang masih diam tidak bergerak lalu menatap Rias yang mengeleng kepala, menatap Issei lagi. Dan menatap Kiba yang tersenyum dengan mata tertutup. Melihat ini ia hanya menjadi bingung sendiri.


Naruto tidak menyadari bahwa waktu telah banyak berlalu, ia mungkin telah lama membeku hanya untuk menunggu mati... membiarkan dunia berputar tanpa pernah mengetahui bahwa ia pernah ada di Dunia ini.

Dunia berputar, zaman telah berubah sangat jauh tanpa ia bisa hentikan. Dan Manusia telah melupakan 'Nama' dan 'Legenda' tentang dirinya, tidak ada satupun yang tersisa atas eksistesi dirinya... tidak ada satupun. Bahkan hanya sekedar nama tidak ada satupun yang mereka ketahui.

Naruto mendesah ringan, sore datang... ia memandang langit orange yang masih seindah dulu. Sebuah benda- tidak seperti burung namun bisa terbang di angkasa luas menarik minatnya. Namun saat mengetahui betapa butanya ia tentang Dunia yang sekarang Naruto tidak bisa berhenti mengeluh ringan.

Menatap anak-anak di depannya yang bermain bola. Mereka melihat bahwa Naruto yang bersandar di pohon rindang menateap mereka seperti tidak peduli.

Namun sejujurnya ia hanya memandang bingung setiap aktifitas yang di lakukan oleh anak-anak itu.

Sebuah bunyi retak terdegar halus dari kejahuan... ia melihat itu Issei telah kembali terbang dan mendarat di tanah dengan menyedihkan.

Naruto hanya menatap kejadian itu bingung, ia tidak mengerti.

Mengenggam, ia hanya memeluk erat sebuah pot kecil seperti melindungi sesuatu yang berharga. Itu pot kecil dengan ukiran cantik di setiap sisinya, tidak ada bunga di tanah subur kecil itu... tidak ada tanaman apapun di sana... dalam pot kecil pemberian Rias itu, hanya ada sehelai rumput yang tumbuh rapuh seperti bisa mati kapan saja.

Rumput itu, seperti dirinya.

Dia juga bisa menghilang dari Dunia ini kapan saja.

"Naruto," Rias datang, menemukan pemuda itu memeluk pot kecil dengan penuh kasih sayang, lebih jauh lagi matanya menatap sehelai rumput yang bergoyang pelan di tiup angin... tumbuh dengan rapuh di sana.

"Iya..." mendengar Naruto membalas ucapannya, namun tatapan pemuda itu tidak memandang dirinya.

Rias tidak mengubris itu.

"Itu.. rumput itu.." Dia menunjuk pelan, "Jika kamu mau, aku memiliki beberapa bunga cantik yang lebih layak di banding dengan tanaman itu."

Naruto menatap Rias, ia menatap lama sebelum tersenyum kecil.. "Dia.. rumput ini..." ia memandang rumout kecil ini. "Mungkin rapuh dan tidak berguna... mungkin ia tidak indah dan buruk..."

"Tapi, bagiku ini sudah cukup... melihat bagaimana ia tumbuh... menjadi hal yang luar biasa, meski hanya sebuah sampah."

Rias diam, ia melihat Naruto sebelum memilih duduk di samping pemuda itu dan menatap rumput rapuh itu... tanaman itu bergoyang pelan tertiup angin.

Sore itu, bahkan Rias sendiri belum mengerti... bagaimana cara Naruto memandang Dunia ini.

Apa yang dia lihat saat Dunia berputar tanpa menyadari kehadirannya. Apa yang Naruto rasakan saat waktu berjalan dan semua melupakannya. Rias tidak mengerti, bagaimana Naruto bisa bertahan dengan semua itu... dia menatap pemuda itu sekali lagi, di bawah bayang senja... Naruto serasa begitu jauh...tatapan kosong nan jenuh yang diperlihatkannya semakin membuat dia tidak mengerti.

'Naruto.. apa yang kamu rasakan saat mengetahui semua yang kamu kenal telah meninggalkan mu.'

.

.

.

.

Naruto duduk diam di samping Rias, ia tidak merasa sama sekali tidak nyaman dengan kehadiran gadis itu. Matanya masih menatap sehelai rumput rapuh itu.

"... berpikir bahwa Anda akan hidup sendirian untuk selanjutnya, Saya tidak bisa berhenti meneteskan air mata ... "

Ah~ suara itu lagi..


Ukrrr... Yuki akhirnya kembali, semoga pembaca masih mau membaca cerita sederhana ini.

Ada beberapa kesibukkan yang membuat fanfic ini sangat terlambat untuk update, mohon maaf untuk itu.

di sini sebagai pembuka baru, Yuki mencoba membangun hubungan yang pelan dan senatural mungkin antara Naruto dan para Iblis yang berada di sekitarnya.

menyelipkan beberapa humor garing seperti yang Yuki janjikan, dalam chapter kemarin. semoga kalian suka.

btw... karena update yang terlalu lama... mungkin sebagian besar dari kalian akan lupa dengan alur ceritanya, karena chapternya masih sedikit.. bisa di baca dari awal kembali.

atau mungkin kalian telah menemukan cerita yang lebih baik dengan ini, dan membenci cerita ini karena updatenya yang lambanya keterlaluan.. yuki tidak bisa menyalahkan dan hanya akan merima saja.

sekali lagi, semoga kalian semua terhibur dengan cerita sederhana ini.

Fav, dan Reviewnya Yuki tunggu. ^^