Disclaimer: Atlus
~Story of Evil~
By: MaedaHikari
Summary: Just Read.
Song: Midori no Musume, By: Hatsune Miku
Warning first, this song is a fanmade.
Aku no Monogatari
Bonus Chap
Midori no Musume
Daughter of Green
"Aa… Gomenasai."
Mukashi Mukashi aru tokoro ni (Long long time ago in some place)
Bouryaku uzumaku kuni no naka (In a country plots swirl)
Heion no Kachi wo shiru wa (Who knew the value of peace was)
Sunda ryokuhatsu no machi musume (A town girl of hair in clear green)
Aku lahir di sebuah desa, namun saat aku berumur setidaknya 16 tahun, aku pergi dari desa, dan menetap di sebuah kota di Green Kingdom. Aku meninggalkan desaku bukan karena desaku hancur, atau desaku miskin. Tidak. Justru disana banyak orang yang menyayangiku dan peduli padaku. Semua kebutuhanku dipenuhi. Namun aku berpikir. Dengan begitu, bagaimana aku bisa mandiri? Maka itu aku pergi meninggalkan desa.
Aku sangat menyukai kedamaian. Kedamaian itu indah. Green Kingdom adalah tempat yang tentram, tidak seperti Yellow Kingdom. Namun memang, tempat itu tidak 'kaya' seperti Yellow Kingdom. Aku tak peduli soal itu. Yang kuinginkan hanyalah kedamaian.
Nozomare umareta kono inochi (This live that was hoped for and given life)
Heiwa no tane ti uu jujase ( For peace, I tell myself)
Owari no tame ni enjiteru ( For the end of this evil and me I acts)
Boukoku no tame no sujigaki wo ( The plot for people of the perished country)
"Aigis." Wanita yang memperkerjakan aku di rumahnya memanggilku, Amagi Yukiko namanya.
"Ada apa?" Aku mendatanginya sambil sedikit membungkuk.
"Apa kau tahu soal Pangeran dari Blue Kingdom yang akan datang kemari?" Tanya Amagi-san. Aku menggeleng.
"Tidak, aku belum pernah dengar." Jawabku.
"Kalau begitu, kudengar putri dari Yellow Kingdom mengirimkan Proposal pertunangan kepada pangeran itu. Namun jika Sang pangeran menerima proposal itu, kekuasaan putri dari Yellow Kingdom tidak hanya akan sampai ke Blue Kingdom, tapi juga kemari." Jelas Amagi-san. Jujur, aku tak tahu apa maksud dari Amagi-san.
"Eh?" Hanya itu yang dapat kukeluarkan dari mulutku.
"Aku ingin minta tolong padamu, Aigis. Jika pangeran itu datang, maukah kau menarik perhatiannya dan membuatnya jatuh hati padamu?"
"Eh?" Seruku tak percaya. "T-tapi, kenapa…"
"Kau adalah gadis paling menarik di kota ini. Aku yakin pangeran itu akan jatuh hati padamu. Tolonglah, ini demi warga kota ini." Katanya lagi. Aku tak ingin menghancurkan kedamaian kota ini, tapi bukankah dengan begitu malah akan menuangkan minyak pada api? Apa Putri Yellow Kingdom tidak akan iri dan malah menyulut peperangan di kota ini? Itu pikirku.
"…" Aku berpikir sementara sebelum menyetujuinya. "Baiklah… Akan kulakukan sebisaku." Ujarku.
"Terima Kasih, Aigis…" Ujar Amagi-san.
Ao no Ouji ga oshinobi de (If the prince of blue incognito)
Kono machi e to kuru naraba ( Come to this town)
Guuzenyosooi chiadzuite ( Playing 'by accident' approach him and)
Kokoro ni mo nai egao (A smile though never from the heart)
Aku sedang berjalan di taman milik Amagi-san saat istirahat. Disana, aku melihat pemandangan yang tidak biasa. Ada seseorang disana. Aku memperhatikan pakaiannya, mewah sekali… Seperti pakaian seorang pangeran.
"Pangeran?" Pikirku. Aku mencoba mengingat ciri-ciri sang pangeran yang Amagi-san katakan padaku. Rambutnya berwarna abu-abu gelap, sama seperti warna matanya. Saat kuperhatikan, aku tersadar. Dialah pangeran itu.
Sekaranglah waktu yang tepat, begitu pikirku. Aku berjalan mendekatinya perlahan. Aku melihatnya sedang menyentuh bunga-bunga mawar yang ada di taman itu. Saat aku sudah sangat dekat, aku berpura-pura tersandung dan terjatuh di depannya. Dia menyadari keberadaanku, dan mendekatiku.
"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya sang pangeran. Dia mengulurkan tangannya padaku.
"A-ah… Iya.. Terima kasih." Jawabku sambil tersenyum, lalu meraih uluran tangannya.
"Ara, hajimemashite?" ("Oh, nice to meet you?")
Dia memperhatikanku, tahap pertama selesai. Aku berhasil mendekatinya. Sekarang tahap kedua, aku harus menarik perhatiannya.
"Ah… Maaf, tapi anda siapa ya? Kenapa anda ada di kebun mawar milik Amagi-san?" Tanyaku.
"Oh, maaf. Aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Seta Souji. Pangeran dari Blue Kingdom." Ujarnya. Dugaanku tepat, memang dia orangnya.
"Oh, maafkan ketidaksopananku Seta-sama." Aku membungkuk sopan.
"Tidak apa, lagipula kau tidak sengaja kan?" Dia tersenyum. "Ah ya.. Siapa namamu?" Tanya Seta-sama.
"Aigis, yang mulia." Aku membungkukkan badan.
"Aigis ya… Nama yang indah." Ujarnya.
"Terima kasih, senang bertemu dengan anda, Yang mulia. Namun saya harus pergi. Jam istirahat saya sudah selesai, dan saya harus kembali bekerja." Ujarku, lalu berbalik, hendak meninggalkannya.
"Jam berapa kau istirahat biasanya, Aigis?" Dia memegang pergelangan tanganku. Refleks aku menarik tanganku, kaget.
"M-maaf!" Aku menunduk. "J-jam 3 sore sampai jam 4 sore." Ujarku.
"Kalau begitu, sampai bertemu lagi besok, Aigis." Dia tersenyum. Aku membungkuk hormat, lalu pergi meninggalkannya. Kurasa aku telah berhasil menyelesaikan tahap kedua. Tinggal tahap terakhir. Membuatnya melamarku.
Aku no hana karen ni saku (Evil Flower, Blooms dainty)
Tsukurareta irodori de ( With made up colorations)
Mawari no aware na yabou e no ( For pitiful ambitions around)
Aa ishizue tonari kuchite yuku ( Oh, decaying off becoming a corner stone)
Aku tak suka ini. Aku sebenarnya tak ingin berpura-pura seperti ini! Aku bukannya membenci Seta-sama, tapi aku tidak tertarik padanya. Namun demi warga desa, aku tak punya pilihan lain. Aku harus melakukannya. Ini bukan 'aku' yang sebenarnya, namun apa daya. Aku tak bisa membantah. Aku ingin melindungi kedamaian desa, walau caraku salah. Aku tahu itu.
Salah satu konsekuensi melakukan hal ini adalah, aku akan dijauhi orang-orang desa yang iri padaku. Beruntunglah diriku, aku masih memiliki seorang teman.
Machinaka deatta meshitsukai (A servant met in the town)
Jichou wo fukumu sono egao ( A smile face that has self ridicules)
Setsuna ni ikiru mono doushi ( As both being ones living momentary)
Shizuka ni kokoro ga hikareau ( Two's hearts are quietly attracted to each other)
"Aigis!" Aku sedang berjalan-jalan di kebun bunga mawar saat aku mendengar ada yang memanggilku. Aku menoleh.
"Eh? Yukari? Ada apa?" Itu sahabatku, Takeba Yukari. Dia mendatangiku dengan nafas terengah-engah.
"Amagi-san bilang, jam istirahatmu ditambah sampai jam 5 atau jam 6 sore." Ujarnya.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Seta-sama menunggumu di dalam, dia ingin mengajakmu keliling kota. Karena itu jam istirahatmu ditambah." Jelas Yukari.
"Seta-sama? Oh, baiklah…" Jawabku sambil berjalan memasuki gedung.
"Aku sudah menunggumu, Aigis." Ujar Seta-sama.
"Maaf sudah membuatmu menunggu, Yang mulia…" Aku membungkuk memberi hormat.
"Tak apa. Kalau kau sudah siap, ayo kita pergi." Dia mengulurkan tangannya padaku. Aku meraih uluran tangannya.
Jarang sekali aku pergi berkeliling kota. Biasanya aku menetap di dalam rumah Amagi-san. Jadi aku tak bisa menahan diri saat melihat barang-barang yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku berlari kesana kemari seperti anak kecil, tak menyadari Seta-sama memperhatikan tingkahku sambil tersenyum.
"Hey, Aigis! Kemarilah, aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu." Aku mendengar Seta-Sama memanggilku.
"B-baiklah!" Aku tersenyum dan berlari menghampirinya. Tanpa sadar aku menyenggol seseorang, dan topinya terjatuh. "M-maaf!" Aku segera menghampirinya dan mengambil topinya, lalu memakaikannya lagi ke kepalanya. Dia mengangkat wajahnya, dan menatap wajahku. Kami saling menatap untuk beberapa saat. Rambutnya berwarna biru dan matanya berwarna abu-abu gelap.
Hajimete hohoemu kokoro kara (The first time I ever smiled from my heart)
Subete sujigaki ni nai kotoba (All words out of the plot)
Tagai no tachiba shitta toki (When both came to know their position)
Zetsubou suru no wa nanu byou ato? (How many seconds later will they be in despair?)
Tanpa sadar aku menyentuh dadaku. Ada perasaan aneh yang kurasakan.
"Cepatlah Aigis!" Suara Seta-sama menyadarkan kami.
"A-ah ya!" Jawabku. "Maaf ya." Aku tersenyum tulus pada pemuda di depanku. Lalu berjalan menjauh.
"Tidak apa." Jawabnya sambil menyembunyikan wajahnya di balik rambutnya
"Kenapa lama sekali?" Tanya Seta-sama.
"Maaf Yang mulia. Tadi aku tidak sengaja menabrak pemuda itu." Jawabku sambil membungkuk.
"Ya sudahlah, tidak apa. Ayo Aigis. Kita kembali. Jam istirahatmu sudah hampir selesai kan?" Tanya Seta-sama.
"Ah… Sebenarnya aku masih diberi waktu sampai jam 6." Jawabku lagi.
"Tak apa. Kita berjalan di kebun Amagi-san saja." Ajaknya.
"Baiklah kalau begitu." Aku tersenyum. Walau aku memaksakan senyumanku itu.
"Aigis…" Seta-sama memanggilku saat kami sedang berjalan di kebun mawar milik Amagi-san.
"Ada apa, Seta-sama?" Aku berbalik sambil tersenyum. Namun tiba-tiba dia memelukku. "S-seta-sama?" Panggilku kaget.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Aigis…" Ujarnya. Aku tak menjawab, namun mengangguk. "Aku mencintaimu Aigis…" Ucapnya. Dia lalu melepaskan pelukannya, dan berlutut di depanku sambil meraih tanganku. "Maukah kau menikah denganku, Aigis?"
Ouji no kokoro wo te ni irete (Having the prince's heart in her hand and now)
Yotei chouwa no chabangeki (A farce plot of fixed harmony)
Oujo ni korosare subete no (Be killed by the princess and everything in the)
SHINARIO wa shuuen e (Scenarios is now to the climax)
Jujur, aku kaget. Tak kusangka tahap terakhir akan berhasil secepat ini. Aku menginginkannya agar lebih lama. Aku tak ingin saat ini datang. Sudah terlambat untuk mundur sekarang.
"Ya… Aku mau." Jawabku.
Yang lebih tak kusangka lagi, Seta-sama-yang sekarang bertunangan denganku- langsung merencanakan acara pernikahan dalam waktu dekat. Ingin rasanya aku memutar kembali waktu agar aku bisa menolaknya. Namun tak ada lagi yang bisa kulakukan.
Aku sempat mendengar rumor dari orang-orang kalau aku menjadi incaran putri dari Yellow Kingdom. Dan kurasa Seta-sama tak tahu itu.
"Hayaku… Owarasete." ("Hurry…Please end this.")
Baguslah kalau begitu. Aku ingin semua ini cepat berakhir. Aku tak ingin menikah dengan seseorang yang tidak kuinginkan.
Aku no hana karen ni saku (Evil Flower, Blooms Dainty)
Kanashige na irodori de (In sad coloration)
Kimerareta hana no shuukaku wa (The fixed harvest of flowers is)
Aa mousugu soko made sematteru (Oh, overhanging just right there)
Gadis bodoh. Itulah aku. Namun aku bertindak bodoh begini karena aku ingin kedamaian. Dan seperti yang sudah kuduga, kelakuanku sama sekali tidak menimbulkan kedamaian, melainkan peperangan. Ya, Putri Yellow Kingdom memburuku, dan dia tidak kenal ampun.
Dia bisa saja membunuh semua warga hanya untuk menemukanku. Aku salah, namun tak seorangpun bisa mengulang kembali waktu.
Aru bankare ga yatte kitte (One evening he came)
Namida wo korae tsukuri egao (With made up smile holding tears)
Kidzuanu furishite hohoenda (Pretending not noticed give a smile back)
Saigo wa waratte shintai na (I hope I could die smiling at the last moment)
Sekarang aku tinggal di sebuah mansion besar yang dibeli oleh Seta-sama untukku. Aku tinggal sendiri di sana, aku sudah menyuruh Yukari untuk pergi meninggalkanku, karena aku tak ingin hal buruk terjadi padanya. Aku melihat keluar jendela, dan mendapat seseorang berambut biru berdiri di depan pintu masuk.
"Siapa itu, malam-malam begini?" Gumamku. Aku mendengar suara pintu diketuk. Aku segera pergi menuruni tangga dan membuka pintu. Aku melihat sang pemuda berambut biru itu tersenyum sedih menatapku. Dia lalu menarik tanganku.
"Ayo, kau harus pergi dari sini…" Ujarnya.
"Kenapa? Apa kau suruhan dari Yellow Kingdom? Apa kau disuruh untuk memburuku?" Tanyaku. Dia masih tersenyum sedih, lalu mengangguk.
"Aku memang disuruh untuk membunuhmu, namun hal itu adalah sesuatu yang paling tidak ingin kulakukan…" Ujarnya. Aku membalas senyumannya.
Mayonaka ido e to tsuredasare (In the midnight, taken to a well)
Nani mo iwanai kare mitsune (Watching him not saying a word)
Mijikai koi ga dekita koto (Given this chance to love you though it was short)
Kare ni kokoro kara kansha kita (I thanked him from the heart)
Kali ini aku menarik tangannya, menuntunnya ke sebuah sumur di belakang rumah. Kami tenggelam dalam keheningan yang mencekik. Sampai akhirnya aku angkat bicara.
"Aku belum tahu namamu." Aku tersenyum.
"Namaku Minato." Jawabnya.
"Aku Aigis." Ujarku. "Kalau begitu Minato-san… Maukah kau mendengarkan permintaanku?" Tanyaku.
"Apa itu?" Jawabnya.
"Aku ingin kau membunuhku, kumohon. Aku tak ingin berpura-pura lagi. Aku tak mencintai Seta-sama, Minato-san. Aku…" Aku terhenti.
"Kau tidak mencintai Seta-sama? Lalu kenapa kau bertunangan dengannya?" Tanya Minato-san heran.
"Karena Amagi-san tidak ingin Seta-sama menikah dengan Putri dari negaramu." Jawabku. "Aku tak punya pilihan lain. Aku tahu aku salah. Perbuatanku sama saja dengan menuangkan minyak pada api. Aku telah membuat putri dari negaramu marah. Kumohon, Minato-san. Jangan hancurkan kota ini. Tujuan kalian hanya aku. Bunuhlah aku, tapi jangan hancurkan kota ini." Pintaku.
"Maaf Aigis… Tapi… Aku sudah tak bisa memerintah prajurit lagi. Mereka bergerak atas perintah Naoto, bukan aku. Dan aku tak mau membunuhmu! Tidak akan! Karena…" Dia terhenti.
"Aku tahu, Minato-san… Tapi aku tak ingin hidup dalam kepalsuan lebih lama lagi. Kumohon dengan sangat, bunuhlah aku…" Ujarku lagi.
Tsui ni NAIFU wo nigirishimete (Finally clasping a knife)
Furuete sukumu kare no te wo (That hand of his trembles and petrifies)
Kasaneruyou ni tsutsumikonde (I wrap up by hands as if laying hands over to his and)
Watashi e to tsukitateta (Thrust the knife to me)
"Maafkan aku…"
Dia akhirnya mengeluarkan pisau dari saku bajunya. Namun tangannya gemetar, dan dia tidak bergerak. Dia menghunuskan pisau itu ke arahku, namun dia terhenti. Aku tersenyum kepadanya. Lalu aku berjalan mendekatinya.
Aku meletakkan kedua tanganku di atas tangannya, memegang pergelangan tangannya. Lalu aku menarik tangannya, dan menusukkan pisau itu ke jantungku sendiri. Aku dapat melihat ekspresinya, terlihat bulir-bulir air mata keluar dari matanya. Aku tersenyum.
"…Arigatou" ("…Thank you")
"Terima kasih…" Ujarku sebelum menutup mataku.
Aku no hana karen ni chiru (Evil Flower scatters dainty)
Itooshi irodori de (In dear colorations)
Kanojo no seito hikikae ni (In return of her life)
Aa hidane wa ookiku otosareta (Oh, Seeds of fires are dropped massively)
Seperti yang kuperkirakan, kematianku telah menyulut peperangan diantara Blue Kingdom dan Yellow Kingdom. Bukan hanya itu. Seta-sama juga melibatkan seorang ksatria wanita berambut merah. Dia memohon pada wanita itu untuk membantunya. Dan lagi, wanita itu ternyata juga dendam terhadap Putri dari Yellow Kingdom, walau dari daerah itulah dia berasal. Wanita itu lalu memprovokasi warga Yellow Kingdom yang juga secara diam-diam membenci putri mereka.
Mereka terprovokasi dengan mudah, dan merencanakan penyerangan ke istana putri mereka.
Mukashi mukashi aru tokoro ni (Long long ago in some place)
Fuhaishikitta oukoku de ( In a kingdom rotten to the extreme)
Boukoku no kawamei e no (A revolution of the perished country)
Ikenie to natta machi musume (A town girl that became sacrifies of that)
Aku terlahir bukan sebagai orang biasa, namun sebagai korban. Korban yang bukan mendamaikan, malah menyulut api peperangan. Warga Green Kingdom yang tersisa ikut menyerang Yellow Kingdom, begitu juga dengan prajurit milik Seta-sama.
Mereka semua pergi berbondong-bondong. Tentu saja prajurit Yellow Kingdom tidak siap.
Kiiro to Ao ga arasotte (Yellow and Blue fought and)
Ane ga tami wo michibiku deshou (The elder sister will lead the people)
Umareta toki kara sono tame no (From the time I was born, just for that)
Sujigaki dake wo ikite ita (Plot have I lived)
Peperangan antara Yellow Kingdom dan Blue Kingdom sudah tak dapat dihindari lagi. Penyerangan besar-besaran itu dipimpin oleh ksatria wanita berambut merah itu.
Kurasa ini memang sudah takdirku, bermain sebagai peran korban.
Tsui ni saigo no shimekukuri (finally the finish off)
Kare ni koroshite hoshikatta (I wanted HIM to kill me)
Sujigaki wo kaizan shita no wa (The plot altered was)
Watashi no wagamama ne ( My selfish necessary)
Semua yang terjadi adalah salahku, aku egois. Namun aku memang sudah tak ingin lagi berpura-pura. Aku tak ingin menyesalinya nanti. Faktanya memang, Aku tak menyukai Seta-sama. Aku malah mencintai pemuda yang membunuhku, yang sekarang akan di eksekusi. Kalau saja saat itu aku menolak tawaran dari Amagi-san, mungkin Minato-san dan aku bisa hidup lebih lama.
Semua itu terjadi hanya karena aku egois.
"Aa… Gomenasai" ("Ah... I'm sorry")
Maafkan aku, semuanya. Maafkan diriku yang bodoh dan egois ini.
Aku no hana karen ni chiru (Evil Flower, Scatters dainty)
Azayakana irodori de (In vivid coloration)
Ato no hitobito wa shiranai (The people of latter day does not know)
Aa ikenie to natta machi musume (Ah, a town girl who had became the sacrifice)
Sejak Yellow Kingdom jatuh dan hancur, ingatan tentangku dan Yellow Kingdom ikut terkubur di bawah puing-puing istana. Tak ada orang yang tahu apa yang menjadi sebab peperangan itu. Kalaupun ada, mungkin hanya Seta-sama, dan sahabatku, Yukari. Serta sang putri yang masih hidup. Aku tak mendendam padanya, karena semua memang salahku.
Tapi, menurutku, begini lebih baik. Lebih baik tak banyak orang yang tahu tentang hal ini.
Fyuhh.. Panjaangg xD –plak-
Kenapa panjang? Karena saya tiba-tiba ngelantur. Sebenernya kurang pas ya, Judulnya Midori no Musume ato Daughter of Green, tapi karakternya Aigis. Soalnya kalo Fuuka, ntar saya bingung… Kenapa bingung? Tanyakan pada adek saia (loh?)
Sebenernya, saya mencoba supaya ngebanyakin deskripsinya, soalnya di chap sebelumnya masih kurangg TT^TT Jadinya panjang, dan hasil saya ngelantur. xD –plakplak-
Dan Minna-san, mungkin selama beberapa bulan saya akan kurang aktif FFn, karena sekarang saya udah naek kelas 3 SMP *Amin* dan saya diajak mengikuti lomba membuat novel sama Kaa-san. Novelnya minimal 150 halaman kuarto pula… Padahal fic ini Cuma 9,5 halaman kuarto.
Ups, saya mulai ngelantur lagi. –bletak-
Tapi tenang, saya akan terus mencoba untuk mengapdet fic saia yang terbengkalai… TT^TT
Woke, Next Chap :
~REGURETTO MESSEJI~
Regret Message
Review plis?
