-Jongin berjalan -sedikit berlari- mengejar bus yang sedang berhenti dihalte diseberang jalan. Jongin mencoba melambai sekiranya bisa membuat si supir bus menunggunya barang sebentar. Jongin tidak bisa menyeberang karena lampu masih menyala merah membentuk angka dua puluh. Kalau tertinggal bus itu Jongin harus menunggu lima belas menit ke bus selanjutnya. Jongin sedang terburu sekarang. Lampu merahnya menunjuk angka lima. Jongin dengan tidak sabaran menyeberang sedikit berlari. Tadi sesaat dilihatnya jalanan sepi. Tapi tepat dia hampir mencapai jalan seberang sebuah suara nyaring dan deritan menyapa telinganya. Jongin menoleh menatap benda besar itu menerjang kearahnya. Tubuhnya kemudian melayang ringan lalu membentur jalanan yang keras.-

Mingyu terhenti di dua anak tangga tersisa. Jantungnya jadi berdegup tidak nyaman. Apa yang barusan dilihatnya sangat mengerikan.

"Hyung!" Kemudian Mingyu berlari panik menghampiri kakaknya yang berada di dapur.

"Jangan berteriak, Gyu. Masih pagi. Sebahagia itu yang akan masuk sekolah lagi?" Jongin tidak menoleh masih asik menuang susu segar ke dua gelas kaca besar.

"Mobilmu dibawa Kyungsoo-hyung? Kau kerja naik apa? Cepat minta jemput Kyungie-hyung.. Atau panggil taksi.." Mingyu bicara. Berusaha tidak panik. Tapi terlihat sangat aneh.

"Tadi malam Kyungsoo disini sampai jam 11. Jadi kusuruh pulang bawa mobil. Dia juga ada rapat di Daegu pagi ini jadi ya aku ke kantor naik bus." Jongin meneguk susu digelasnya setelah meletakkan gelas susu satunya di hadapan Mingyu.

"Hari ini jangan naik bus ya? Naik taksi saja.. Ku mohon.." Mingyu memegang lengan Jongin. Memasang wajah memohon terbaik yang dia punya.

Jongin meletakkan gelas susu yang sudah kosong. Lalu menatap adik satu-satunya. "Apa yang kau lihat?" ucap Jongin.

Mingyu diam. Dia tau dia mulai bertingkah aneh. Dia menjadi terlalu paranoid. Hal-hal sepele bisa menakutkan dan membuat Mingyu panik.

"Kau.. kau tertabrak mobil" Mingyu menunduk dalam. Selama ini Mingyu selalu menceritakan tentang kilasan penglihatan anehnya. Tapi tidak semua terbukti benar. Penglihatannya hanya berupa garis besar. Bukan kejadian persis. Mingyu juga kadang tidak mengerti. Apa dulunya dia adalah orang yang suka membesar-besarkan masalah. Atau efek dia suka nonton film horor. Tidak masuk akal.

Jongin tersenyum lalu mengusap rambut kecoklatan milik Mingyu. Adiknya sudah berpakaian rapih dengan seragam sekolah.

"Aku tidak akan apa-apa, Gyu. Tenang saja. Dan aku akan berhati-hati" Jongin tersenyum memberikan semangat pada Mingyu. Mingyu mengangguk ragu. Dia cuma bisa berdoa dalam hati supaya kakaknya benar-benar akan baik-baik saja.

"Kalau begitu aku berangkat dulu ya.." Mingyu berdiri, menghabiskan segelas susu segarnya lalu menuju pintu. Jongin masih tinggal didapur membereskan sisa sarapannya. Hanya gelas.

"Hyung! Cepat kemari!" Mingyu berteriak dari depan pintu rumahnya. Jongin yang mendengarnya jadi kaget dan dengan panik berlari menghampiri Mingyu.

"Ada apa, Gyu? Kau terluka?"

Mingyu menggeleng. "Tidak. Tapi aku tidak bisa mengikat tali sepatu. Hehe.." Mingyu terduduk didepan pintu dengan tangan merentangkan dua helai tali sepatu. Belum terikat.

"Astaga, Gyu. Kau hampir membuat aku jantungan. Lagian.. Kenapa bagian sepele seperti ini yang hilang dari ingatanmu?" Jongin mengerutu tapi dia berjongkok untuk menautkan tali sepatu milik Mingyu. Membuat simpul erat di sepasang sepatu hitam itu.

"Terima kasih, hyung. Nanti waktu pulang aku akan belajar menalikannya." Dan Mingyu pun pergi.

.

.

.

LOVELY STRANGER

Seventeen & EXO Fiction

Kim Mingyu & Jeon Wonwoo

Kim Jongin & Do Kyungsoo

.

.

Kim Noona (Ohnokai92)

.

.

.

Mingyu berjalan tenang di area sekolah. Jam belajar masih tiga puluh menit lagi dimulai. Sepertinya tidak ada yang Mingyu lupakan tentang bagian sekolah. Mingyu sedikit lega.

"Jihoon! Lee Jihoon" Mingyu sedikit berteriak memanggil pria mungil dua puluh langkah didepannya. Pria yang dipanggil menoleh. Lalu Mingyu sedikit berlari menyusul Jihoon.

"Senang melihatmu lagi, Gyu. Kabarmu? Eh.. Tunggu. Kau mengingatku?" Jihoon bertanya saat Mingyu sudah dihadapannya. Mingyu dan Jihoon cukup dekat karena sama-sama ada di klub seni. Ditambah Jihoon itu kekasih Soonyoung, sahabatnya.

"Sayangnya aku mengingatmu.. Pasti Soonyoung yang cerita. Kalau dia tau aku bisa ingat kau tapi lupa padanya, dia bisa ngamuk" Mingyu tertawa kecil membayangkan sahabatnya yang murka. Jihoon ikut tersenyum membayangkan.

"Kau benar.."

"Ji, wajahmu pucat sekali. Kau sakit?" Mingyu memperhatikan wajah temannya itu.

"Aku hanya belum sarapan. Ini aku mau ke kantin dulu membeli makanan. Mau ikut?" Jihoon mencoba tersenyum. Jihoon bukan cuma belum sarapan tapi juga belum makan siang dan makan malam dari kemarin.

"Aku sudah sarapan. Tapi kau yakin? Pucat sekali loh, Ji. Habis sarapan istirahat saja di klinik." Mingyu mencoba menatap wajah pucat Jihoon lagi. "Nanti aku bilang ke Soonyoung untuk menemanimu-"

"Eh.. Jangan katakan apapun pada Soonyoung. Aku tidak mau dia khawatir.." Jihoon memotong perkataan Mingyu dengan cepat.

"Tapi janji harus istirahat di klinik ya?" mata Mingyu menampilkan gurat memohon.

"Iya. Iya. Aku janji. Setelah koma kau jadi berlebihan perhatiannya ya.." Jihoon terkekeh lalu meninggalkan Mingyu terdiam mematung.

Mingyu juga merasa dirinya jadi berlebihan.

.

.

.

Mingyu mendudukkan dirinya dibangku miliknya. Paling belakang. Untungnya bagian ini dia ingat. Tapi dia tidak ingat disebelah kanannya ada bangku kosong lagi.

Beberapa teman sekelas termasuk tiga sahabatnya berkumpul di sekeliling Mingyu hanya untuk menanyakan kabarnya. Tapi Mingyu tidak bicara apa-apa tentang amnesia. Tiga sahabatnya juga diam saja. Lagi pula tidak ada yang curiga kalau Mingyu amnesia. Dia masih ingat nama semua teman sekelasnya.

Bel masuk pelajaran pertama berbunyi. Semua yang berkerumun kembali duduk rapih di bangku masing-masing. Lalu semenit kemudian guru Han pengajar bahasa inggris yang juga wali kelasnya masuk.

"Wah.. Selamat datang kembali Kim Mingyu. Murid kesayanganku sudah kembali" canda guru Han. Dibalas sorakan riuh dari seluruh kelas. Guru Han adalah guru paling asik yang pernah mereka punya. Suka bercanda tapi tegas secara bersamaan. Setiap murid akan hormat padanya.

Tokk tok tokk

Seluruh perhatian tertuju pada pintu kelas yang terbuka.

"Masuklah.." Perempuan cantik yang berdiri didepan kelas itu berujar pelan pada seorang pemuda di depan pintu.

"M-maaf saya terlambat seonsaengnim.." Mingyu malah menatap sekeliling. Setahu Mingyu teman sekelasnya sudah lengkap. Siapa lagi yang terlambat?

Lalu diliriknya bangku kosong disampingnya..

"Ada alasan, Wonwoo-ssi?" guru Han mencoba tenang. Sedikit tersenyum. Tidak mau membuat siswa itu ketakutan.

"Saya membantu sebuah kecelakaan di depan halte bus menuju sekolah." Siswa berbadan kurus itu masih menunduk. Dia sangat takut.

"Ya sudah duduklah.."

Wonwoo sedikit kaget. Di sekolahnya yang dulu kalau terlambat paling tidak mendapatkan satu hukuman berlari keliling lapangan apapun alasannya. Wonwoo jadi percaya kata-kata teman sekelas bahwa guru Han itu guru yang sangat baik.

Wonwoo duduk dibangkunya. Melirik sekilas kearah sebelahnya. Sempat kaget. Biasanya bangku itu kosong. Sejak Wonwoo masuk ke kelas ini bangku itu sudah kosong. Tapi dia tidak tuli. Bangku itu biasa ditempati siswa yang paling pintar dikelas kata temannya.

Wonwoo mencuri kesempatan untuk melirik lelaki yang setaunya dipuja-puja seluruh kelas. Mungkin juga satu sekolahan. Tampan batinnya.

Dan tanpa diketahui lelaki di sebelahnya itu juga mencuri pandang pada Wonwoo, si anak baru.

.

.

.

Bel istirahat berbunyi tepat pukul sepuluh lebih lima belas menit. Semua anak menghambur keluar. Mingyu masih terduduk dibangkunya. Soonyoung, Seokmin dan Hansol mengajaknya ke kantin bersama tapi Mingyu bilang akan menyusul kemudian.

"Aku Kim Mingyu." Mingyu mengulurkan tangannya pada satu-satunya orang lain di kelas itu.

"A-aku Wonwoo. Jeon Wonwoo. Baru pindah dari Busan. Tiga minggu yang lalu." Wonwoo tersenyum canggung. Seharusnya dia yang memperkenalkan diri karena posisinyalah yang anak baru disini.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku seperti tidak asing denganmu Wonwoo." Wonwoo menatap Mingyu kaget.

"Aku tidak yakin. Karena aku benar-benar baru pindah kesini sebulan yang lalu. Tapi aku juga berpikir seperti mengenalmu." Wonwoo mengerutkan alisnya. Ternyata dari tadi perasaannya tidak salah. Memang wajah Mingyu terlihat familiar.

"Mungkin kita berpapasan di suatu tempat" Mingyu mencoba memberikan perkiraannya. Wonwoo hanya mengangguk.

"Mungkin takdir.." entah setan apa yang merasuki Wonwoo hingga merentangkan senyum selebar itu. Dia tidak ingat kapan terakhir dia tersenyum selebar itu. Padahal Mingyu juga sedang tidak membuat lelucon. Aneh.

Di depan Mingyu, Wonwoo seperti bertemu teman lama. Teman yang sangat akrab. Makin aneh.

-Jihoon berjalan pelan memegangi perutnya yang begitu nyeri sejak tadi pagi. Wajahnya pucat pasi. Langkahnya mulai tidak teratur dan lemah. Satu. Dua. Tiga. Dan Jihoon jatuh tepat di depan ruang kesehatan. Bahkan belum sampai ke bagian dalamnya.-

"Eh.. Wonwoo.. Kita kekan-"

"Aww.." Wonwoo meringis kesakitan saat tangan Mingyu mendarat dibahunya. Tadinya Mingyu mau mengakrabkan diri dengan menepuk bahu Wonwoo. Tapi Wonwoo malah kesakitan.

"Kau baik-baik saja?" Mingyu panik.

"Sepertinya bahuku terkilir saat membantu kecelakaan tadi. Memar." Wonwoo dan Mingyu sama-sama menatap kearah bagian bahu kanan Wonwoo yang juga terdapat noda kotor. Bukti bahunya memang mengalamin benturan terhadap sesuatu. Mungkin ini juga yang membuat Guru Han tidak menghukumnya karena terlambat.

"Pergilah ke klinik kesehatan untuk diberi pereda sakit. Ayo." Mingyu menarik tangan bagian lain milik Wonwoo. Wonwoo menurut.

Baru dua langkah mereka keluar kelas. "Maaf, bisa ke klinik sendiri tidak? Aku ingat ada urusan mendadak. Nanti aku akan menyusulmu ke klinik. Kau harus ada disana." Mingyu lalu berlari kearah berlawanan. Tujuannya adalah kantin.

Mingyu sedikit berlari. Dia berusaha mengingat bayangan yang ia lihat tadi. Bayangan dia melihat Jihoon yang jatuh. Dia jadi panik.

"Soonyoung!" Mingyu terengah-engah menggapai meja dimana Soonyoung, Seokmin, Hansol dan Seungkwan berkumpul.

"Kau baru sehat. Jangan berlari." Itu Seokmin saat melihat Mingyu berkeringat kecil di pelipis.

"Soon.. Kau sudah bertemu Jihoon?" Mingyu bicara langsung ke pokoknya.

"Hm.. Belum. Dia sibuk sekali dan bilang tidak mau diganggu. Kau tau kan dia seperti apa?" Kalau diganggu akan murka. Semua orang tau sifat Jihoon.

"Ayo. Ikut aku cari Jihoon." Mingyu dengan brutal menarik lengan Soonyoung yang baru saja akan meneguk jus jeruknya.

Mingyu tidak mendengarkan teriakan Soonyoung atau teman lainnya yang bertanya ada apa.

Mingyu menggeret Soonyoung ke kelas Jihoon. Jihoon dan mereka memang berbeda ruangan tapi masih seangkatan. Nihil. Tidak ada seorang pun di dalam kelas Jihoon. Jadi Mingyu menarik Soonyoung lagi kearah ruang musik. Satu-satunya ruang dimana Jihoon suka mengurung diri.

"Ada apa sebenarnya, Gyu? Kenapa panik begitu?" Soonyoung masih bertanya disela larinya.

Ruang musik cuma ada Jisoo. Dan kata Jisoo, Jihoon ijin ke klinik kesehatan. Mingyu menepuk dahinya. Benar. Yang ia lihat tadi Jihoon di depan ruang kesehatan. Tapi ruang kesehatan di jam istirahat akan kosong.

Jika bayangan Mingyu benar berarti tidak ada yang menolong Jihoon.

Mingyu menarik Soonyoung lagi. Kali ini sudah pasti menuju ruang kesehatan. Ruang kesehatan ada disudut sekolah. Jadi jarang ada yang berlalu lalang.

Mingyu dan Soonyoung sampai tepat didepan pintu ruang kesehatan yang tertutup. Tidak ada Jihoon. Tidak ada siapapun. Apa bayangan Mingyu salah lagi?

Prangg

Mingyu dan Soonyoung bertatapan. Ada sesuatu yang jatuh tepat dari dalam ruang kesehatan.

"Jihoon.." Mingyu menerjang masuk terlebih dahulu ke ruang kesehatan. Soonyoung yang masih berusaha mengerti kejadian yang sebenarnya hanya mengikuti dari belakang.

Lalu matanya melotot mendapati Jihoon terbaring pucat di kasur di tepi ruangan.

"Ya tuhan Jihoon" lalu menghambur kearah Jihoon.

Lain Soonyoung, lain pula Mingyu. Matanya malah menatap sosok lain di depan kabinet ruangan itu. Sosok itu juga sama terkejutnya mendapati dua orang pria tiba-tiba masuk keruangan serba putih itu. Dia juga masih dalam efek kaget karna menjatuhkan sebuah gelas kaca ke lantai.

"Si mungil itu jatuh pingsan saat aku baru sampai di depan pintu klinik. Aku menggendongnya kesini. Mau mengambil air untuk membangunkannya tapi tanganku sakit sekali.." pria itu menjelaskan.

Mingyu menatapnya. Lalu berjalan mantap kearahnya. Dengan sekali rengkuhan di bagian lengan kirinya Mingyu memeluk pria itu. Sangat erat.

Yang dipeluk hanya melotot tidak percaya.

"Terima kasih sudah menemukan Jihoon, Wonwoo.." Mingyu menenggelamkan wajahnya di sela bahu Wonwoo.

"Aku akan memanggil petugas klinik.. Jaga Jihoon-ku" Soonyoung berlari keluar ruangan. Mencari siapa saja yang bisa membantu menyelamatkan peri kecilnya. Jihoon.

Mingyu melepaskan pelukannya pada Wonwoo lalu menuntun Wonwoo menuju kasur putih disisi lainnya. Menyuruh pria itu duduk. Lalu mengambilkan segelas air pada Wonwoo.

"Aku tidak tau cara mengobati. Jadi kita tunggu petugas klinik saja.." Mingyu sedikit canggung mengingat kelakuannya tadi. Dia bertingkah berlebihan lagi.

Wonwoo hanya mengangguk pelan lalu meminum gelas airnya. Sambil memperhatikan Mingyu yang sedang membersihkan pecahan kaca hasil kerjanya.

Semoga tidak ada siapapun yang melihat pipi Wonwoo yang merona. Wonwoo malu sekali.

.

.

.

To be continued

.

.

.

.

Apa ini?

Untuk teks yang bercetak tebal dan miring itu bayangan yang dilihat Mingyu.

Soal kenapa bayangan sama kejadian asli nya ga sesuai itu dijawab sesuai cerita ya.

Gimana Meanie moment nya?

Terima kasih buat yang udah review, fav n foll. Itu suntikan semangat banget buat ngetik.

Saya janji kalo banyak yg respon bakal update cepat.

Silahkan review dan sarannya.

Salam,

Kim Noona

Thur, 18th August 2016