I`m Tired
Cast: - sehun
Luhan
Jongin
Cast lain tebak sendiri(?)
Length: chaptered
-Happy reading-
Luhan menghela nafas berat ketika memasuki kamar sehun. Dia melihat sehun yang masih tertidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke leher.
Luhan sudah menghidupkan pemanas ruangan kemarin. Dan dia juga sudah meminta agar para maid selalu memperhatikan suhu kamar sehun.
Luhan masuk perlahan dan menutup pintu kamar itu dengan sangat pelan. Dia berjalan pelan mendekati ranjang sehun. Cukup lama dia hanya berdiri dalam diam sambil menatap sehun yang berbaring memunggunginya.
"sehun…"
Kamar itu begitu hening dan sepi. Sehingga suara luhan yang sebenarnya sangat lirih dapat terdengar dengan jelas. Luhan memilih untuk duduk di pinggir tempat tidur. Dia masih terus menatap punggung sehun.
Tidak ada sedikitpun gerakan dari sehun. Hal itu membuat luhan menutup matanya. Dia tahu sehun dengan cukup baik. Walaupun dia pergi meninggalkan sehun untuk beberapa waktu, tapi setidaknya dia pernah begitu mengenal sehun yang dulu. Dia tahu, walaupun sehun terlihat dingin dari luar, tapi sebenarnya sehun hanyalah seorang anak laki-laki yang polos dan sangat kesepian. Anak laki-laki yang sangat membutuhkan perhatian dari keluarganya.
Dia kembali mengingat bagaimana saat itu sehun selalu menangis sendirian di kamarnya. Dan bagaimana sehun yang saat itu masih sangat muda, berusaha tersenyum di depan orang lain. sehun terlihat sangat menyedihkan saat itu, hingga dia harus terus menemani sehun bahkan dia harus menunggu hingga sehun tertidur, jika dia ingin mengerjakan pekerjaan sekolahnya atau hal lainnya.
Sebenarnya sehun tidak keberatan jika menemaninya mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Sehun hanya akan diam dan tidak menganggunya. Tapi terkadang, sehun juga mengatakan ingin mengerjakan tugas luhan juga. Hingga di hari-hari musim panas, dimana dia mendapatkan liburan, dia akan dengan senang hati mengajari sehun.
Yang dia tahu, sehun adalah anak yang pintar. Tidak perlu baginya mengulang penjelasannya pada sehun, karena sehun akan cepat mengerti dan mampu mengerjakan soal-soal ringan yang dia berikan sebagai latihan.
Luhan hanya terus tersenyum mengingat hal-hal kecil dari bagian masa lalunya bersama sehun. Hal-hal yang terkadang hanyalah hal biasa bagi orang lain. tapi baginya itu adalahmasa kecil yang menyenangkan untuk diingat. Lalu sehun? Dia tidak tahu.
Yang luhan tau, sehun masih menyimpan hadiah-hadiah kecil yang dia berikan kepada sehun. Buku dongeng yang dia berikan ketika sehun mulai dapat membaca masih tersimpan rapi di rak buku kamar sehun, gantungan kunci bola yang dia beli saat pulang dari sekolah dan sehun masih menyimpannya di salah satu loker meja di kamarnya. Luhan tidak sengaja menemukannya kemarin saat dia hendak mencari obat yang berusaha sehun sembunyikan.
Sehun tidak suka minum obat, dan luhan tau itu. Dulu, ketika mereka masih sangat muda dan sehun terkena flu, luhan harus berjanji untuk memberikan sehun hadiah atau mengajak anak itu jalan-jalan hanya agar sehun mau meminum obatnya. Hingga saat inipun, luhan harus mencari banyak cara agar sehun mau meminum obatnya.
"kau masih sama sehun. sulit sekali membuat dirimu agar mau meminum obat. Apa kau juga melakukan hal yang sama pada dokter pribadimu sebelum aku kembali? Apa dia berhasil membujukmu dengan baik atau apakah dia memaksamu dan memarahimu?"
Luhan menepuk pelan bahu sehun yang masih diam. Dia lalu berdiri dan keluar dari kamar sehun. luhan masih berdiri di balik pintu kamar sehun yang baru saja dia tutup. Dia memejamkan matanya sambil menghela nafas.
"aku tau sehun, kau belum tidur. Dan kau mendengar semua kata-kataku."
Luhan berkata pelan, dan terdengar hampir seperti berbisik. Dia tersenyum tipis dan mulai menjauh dari kamar sehun.
Dan di dalam kamar sehun, sehun masih diam dalam posisi yang sama. Dia membuka matanya saat mendengar lakang kaki luhan yang berjalan menjauhi ranjangnya. Dia menatap kosong jendela yang ada di depannya, yang meperlihatkan cuaca yang begitu cerah dan menyenangkan. Tentu saja, ini adalah pertengahan musim semi dan cuaca di luar sana pasti hangat dan sangat menyenangkan untuk bersantai di bawah matahari.
"hyung…"
Sehun berbisik di dalam kamarnya yang sepi.
.
.
.
Waktu terus berlalu dan tidak ada yang berubah. Sehun masih terus rajin berangkat ke sekolahnya dan belajar seperti biasa. Dia bukanlah anak laki-laki paling popular di sekolahnya, bukan juga anak yang memiliki banyak prestasi dalam bidang akademik. Sehun juga bukan ketua dari klub olahraga manapun. Namun dengan wajahnya yang tampan, dia membuat beberapa gadis dengan mudahnya menyukainya.
Sehun bukan sosok periang di kelasnya, yang mampu membuat suasana kelas menjadi ramai dan penuh tawa. Bukan seseorang yang menjadi murid kesayangan guru, namun juga bukan anak laki-laki yang suka berbuat kacau dan menentang aturan. Sehun hanyalah anak biasa dan normal seperti anak-anak lain yang seusia dengannya.
Tapi ada satu hal yang membuatnya berbeda. Beberapa bulan yang lalu, luhan datang kesekolahnya dan membicarakan sesuatu dengan kepala sekolah sehun. sehun bahkan tidak tahu jika luhan akan datang kesekolahnya. Salah satu teman sekelasnya, memberitahu bahwa ada seorang pria tadi datang dan bertanya dimana ruangan kepala sekolah.
"boleh aku bertanya dimana ruangan kepala sekolah?"
"tentu. Aku bisa mengantarmu. Karena ruangannya cukup jauh dari sini."
"terimakasih."
"ehm, boleh aku tahu kau siapa?"
"aku luhan. Kakak oh sehun."
"kau kakak oh sehun? dia adalah teman sekelasku."
"benarkah? Kalau begitu tolong jaga sehun."
Yang sehun ketahui setelah itu adalah dia di bebaskan dari pelajaran olahraga. Sehun tidak diijinkan untuk mengikuti jam olahraga, dan sebagai gantinya, guru olahraganya hanya memberikan kuis dalam selembar kertas untuk tugas penggantinya agar sehun tetap dapat mendapatkan nilai di pelajaran itu.
Di jam istirahat, terkadang ada gadis yang bergantian memberikannya roti, susu, ataupun jus kemasan. Sehun sudah sering menolak hadiah-hadiah itu, namun tetap saja gadis-gadis itu memaksanya untuk menerima pemberuan mereka.
Sehun sering menghabiskan jam makan siangnya di dalam kelas. Menghabiskan bekal makanan yang sudah disiapkan oleh para maid di rumahnya. Dan itu semua adalah hasil pemikiran dari luhan. Luhan melarangnya untuk makan makanan dari luar rumahnya dan makanan siap saji. Dan jika sehun menolak, luhan akan dengan senang hati memberikannya nasihat panjang yang entah sampai kapan akan berakhir.
.
.
.
"kau harus memikirkannya lagi sehun."
Sehun menatap luhan malas. Dia sudah bosan dengan kata-kata itu. Kata-kata yang sering orang-orang disekitarnya katakana padanya. Berapa kalipun sehun menolak mereka tetap saja akan mengulanginya. Membujuknya untuk hal yang tidak ingin dia lakukan sama sekali.
"ini demi kebaikanmu."
Sehun menatap wajah luhan yang menatapnya dengan begitu sendu. Dia menghembuskan nafas dan meninggalkan luhan yang masih duduk di sofanya. Luhan mendengus dan berdiri. Mengikuti sehun yang berjalan ke dapur.
"ada yang bisa saya bantu, tuan?" seorang maid menghampiri sehun. dia tersenyum melihat luhan yang berdiri di belakang sehun sambil mengerutkan keningnya kesal.
"aku ingin mengambil minum." Sehun melewati maidnya yang tertawa pelan melihat sehun dan luhan. Sehun mengambil gelasnya dan membuka kulkas. Tapi sebelum kulkas itu terbuka lebar, luhan dengan cepat berdiri diantara sehun dan kulkas.
Luhan menarik tangan sehun agar melepaskan pegangannya pada kulkas. Luhan lalu mundur hingga pintu kulkas itu tertutup dan bersandar di depan kulkas sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"sudah aku bilang terlalu sering minum air dingin. Itu tidak baik."
Sehun menatap datar luhan. Dia berbalik dan berjalan lagi. Menghabiskan air dalam gelasnya yang dia ambil dari dispenser.
"aku mendengar kau bahkan menolak untuk melakukan biopsy yang ditawarkan dokter xiumin."
Sehun melirik luhan dan meletakkan gelasnya.
"aku tidak suka namanya." Sehun memasukkan tangannya ke kantung jinsnya dan berjalan melewati luhan.
"alasanmu sangat tidak masuk akal." Luhan memutar bola matanya dan terus mengikuti sehun. hingga sehun membuka pintu kamarnya.
"hyung mau tau alasanku yang sebenarnya?" sehun berkata tanpa berbalik. Dia masih menahan pintu kamarnya yang sudah setengah terbuka dan memunggungi luhan.
Luhan terdiam menunggu sehun melanjutkan penjelasannya. Perlahan sehun masuk dan berbalik. Dia menatap luhan.
"aku tidak memiliki alasan untuk tetap hidup."
Luhan membulatkan matanya dan menahan nafasnya. Dia tidak menyangka sehun akan berkata seperti itu. Luhan tidak menyadari sehun yang mulai menutup pintu kamarnya. Luhan segera tersadar saat terdengar suara pintu yang tertutup tepat di depannya. Luhan mengetuk pintu itu.
"kau tidak memikirkan kami yang selama ini menyayangimu? Setidaknya kau harus menjaga semua asset yang orang tuamu berikan padamu dan hyungmu."
"kalau begitu cari saja dia."
Luhan terdiam cukup lama sambil menghela nafas panjang.
"aku memang mencarinya. Setidaknya, bertahanlah sampai hyungmu pulang…"
.
.
.
TBC
A/N
Mianhae kalo hyun sering telat update. Dan seperti biasa kalo hyun update pasti pendek dan nanggung. Sekali lagi mianhae ya :) yang penasaran sehun sakit apa, chapter depan hyun jelasin. Dan mungkin chap depan alurnya hyun bikin cepet karena ada satu cast lagi yang mau hyun masukin ^^ satu lagi, ff ini akan tamat di chap 5 ne ^^
Balasan review:
sehunnoona : penyakitnya? Hyun kasih clue deh, ini penyakit turunan. Chap depan akan dijelaskan ne ^^
nin nina : mukanya emang mirip sih jadi pas buat jadi hyungnya. Tapi kali ini biarin luhan Cuma jadi sepupunya sehun ^^
chuapExo31 : mianhae udah bikin bingung :( semoga lama-lama jadi ga bingung ya ^^
oktaviani latifa: iya, rencananya emang mau dibuat tetap brothership ^^
SlytherSoul d'Malfoy : mianhae, hyun emang gabisa kalo bikin terlalu panjang :(
Nonabaozi : iya chingu tenang aja. Berusaha buat bikin jadi brothership aja ^^
Sekaicup: yah sayangnya kai cuma sebatas temen sekolahnya sehun pas sma disini. Kai emang dewasa tapi wajah mereka ga ada mirip(?):(
Keepbeef Chiken Chubu: hyungnya? Chap depan udah mulai kebuka kok ^^ untung aja udah angst padahal hyun pikir feel angst masih belum kerasa hihi
irnaaa90: ini udah lanjut mian lama ne *bow* romance gaada chingu yang ada cuma hunhan moment adanya(?) ^^
shinta lang: tunggu chap depan ne^^
Review again please? ^^
