Summary : "Bagaimanapun dia tetap saudaraku dan aku yakin dia tidak meminta dilahirkan dalam keadaan yang seperti itu,"

Saudara adalah seseorang tempatmu berbagi. Saudara tidak hanya orang yang memiliki hubungan darah dengan kita. Tapi apakah berbeda antara saudara sedarah dan tidak sedarah? apakah semua saudara akan bersifat mulia bagaikan dewa penyelamat?

Sebuah fanfiksi dari LadyElvish

.

.

.

.

Disclaimer : All character belong to Masashi Kishimoto

Judul : Silent (Please, Save me)

Chapter : 3

.

.

.

.

Sebenarnya ini bukanlah masalah usiamu, namun dimana letak keberanianmu. Percuma saja jika kau adalah seorang remaja laki-laki yang sudah berusia 20 tahun namun kau masih belum mampu melawan kesemena-menaan ibumu. Namun inilah kenyataan yang terjadi, Sasuke menyaksikan Sai di tampar oleh Mikoto dan dia hanya bias diam membatu tanpa bias berbuat lebih, kenapa? Karena keberanian itu belum muncul, dan disini Mikoto lah yang berkuasa, dia bias melakukan apapun terhadap Sai jika Sasuke berani melakukan perlawanan walau hanya sejengkal saja.

"Dasar anak haram! Kau pasti yang membujuk Sasuke untuk pulang dan merayakan hali kelahiranmu ini kan?" Mikoto membentak Sai dengan suara yang sangat memekakkan telinga "Kau sama saja seperti pelacur itu! Sudah cukup Fugaku yang diambil oleh ibumu, jangan sampai Sasuke juga kau ambil dariku! Anakku hanya Sasuke dan Itachi! KAU BUKAN ANAKKU! Ingat itu!" mikoto lalu menjambbak rambut Sai dengan kuat, Sai hanya meringis dan mulai meneteskan air mata. "Jika Sasuke berani melawanku hanya karena ingin membelamu, maka lihat saja apa yang akan aku lakukan terhadap dirimu yang tidak berguna ini, dasar bisu!"

"Kaasan! Ini sudah keterlaluan!" Sasuke memprotes tindakan Mikoto. Sasuke tahu ini tidak akan berarti apa-apa, tapi setidaknya dia telah melakukan pembelaan untuk Sai.

"Sasuke, dia ini bukan saudaramu. Dia anak haram dari Tousan-mu dengan wanita penggoda itu, dia ini sebenarnya pantas mati. Aku menyesal tidak membunuhnya dari dulu jika aku tahu anak bungsuku akan membelanya dan menyanginya sepenuh hati," Mikoto melepaskan jambakan pada rambut Sai sambil mendorong kepala Sai kebelakang, membuat Sai sedikit terhuyung dan nyaris jatuh.

"Kaasan, Sai itu manusia dia punya perasaan. Walau dia bukan saudara seibu denganku, tapi dia juga anak Tousan. Itu berarti dia tetap saudaraku, dia adikku,"

"Susahnya berbicara dengan orang yang pikirannya sudah terkontaminasi," Mikoto mencibir "kau lihat, anakku sekarang sudah pandai melawanku, itu semua karena siapa? ITU SEMUA KARENA KAU, BOCAH BISU!" Dia membentak Sai lagi.

"Karena Sasuke sudah berani pulang ke Konoha untuk merayakan ulang tahunmu, maka sebagai hadiah dariku kau akan aku sekap di gudang dan tidak akan aku izinkan siapapun memberimu makan sampai Sasuke memutuskan kembali lagi ke Ame," Mikoto menyeringai penuh kemenangan "Genma! Bawa dia kegudang dan kuncinya berikan kepadaku," wanita itu lalu berlalu dari hadapan Sasuke yang berdiri mematung di halaman belakang rumah mereka ini. Detik berikutnya Genma dan beberapa bodyguard keluarga Uchiha menyeret Sai untuk masuk kedalam gudang di belakang kediaman Uchiha yang gelap dan berdebu.

"Kaasan! Ini sudah keterlaluan! Aku hanya akan kembali ke Ame minggu depan," Sasuke mencoba protes dengan keputusan yang di ambil oleh Mikoto.

"Baiklah kalau begitu, kau akan bertemu dengannya lagi minggu depan, setelah dia membusuk di dalam gudang itu," kata Mikoto sebelum dia masuk ke dalam rumah mewah itu

"Oh, Shit!" umpat Sasuke kesal

Sasuke berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia sedang memikirkan bagaimana cara mengeluarkan Sai dari dalam gudang itu. Sudah lebih dari 12 jam Sai disekap. Sai sudah melewatkan makan siang da makan malamnya. Kunci gudang itu ada di Mikoto, dan tidak mudah mengambilnya kecuali dengan satu cara, dia harus pura-pura ingin kembali ke Ame. Dengan begitu Sai akan di keluarkan dari gudang. Sasuke yakin ini akan berhasil.

Sasuke berjalan cepat menuju ke ruang keluarga, tempat dimana Mikoto sering mengabiskan waktunya dengan membaca majalah dan mendesign gaun-gaun yang akan di jual di butik miliknya. Dan benar sekali, sekarang ibunya sedang duduk dia belakang meja kerjanya dengan segulung kertas sketsa dan sebatang pensil tersemat di jarinya.

"Kaasan, malam ini aku akan kembali ke Ame," Sasuke membuka percaakapan tanpa basa-basi terlebih dahulu, dia ingin Sai cepat keluar dari dalam gudang.

Mikoto mengangkat wajahnya dari atas kertas dan memandang Sasuke dengan tatapan penuh arti. Selama beberapa detik, hanya terdengar alunan music classic yang sering Mikoto nyalakan saat dia sedang bekerja. Mikoto lalu berdiri dan berjalan mendekati Sasuke. Dia berhenti tepat di depan Sasuke dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Sasuke kau tahu apa akibatnya jika kau berbohong, bukan?" kata Mikoto dingin "jika kau berbohong, maka kau akan melihat penyiksaan yang lebih kejam akan kulakukan untuk menyengsarakan si bisu itu,"

Sasuke tahu pasti Mikoto dengan mudah menebak rencananya, dia merasa sedikit menyesal dengan keputusan yang telah diambilnya. Sasuke menunduk pelan, berpikir, cara apakah yang akan diambilnya untuk membebaskan Sai kemudian membawanya keluar dari rumah ini. Dia tidak boleh kehabisan akal, dia harus membawa Sai pergi dari sini jika dia tidak ingin melihat anak itu mati di tangan Mikoto.

"Aku benar-benar akan pulang ke Ame malam ini juga, asal Kaasan ,membebaskan Sai. Aku ingin dia ikut mengantarku sampai ke stasiun,"

"Apa katamu? Anak itu mengantarmu sampai stasiun?" Mikoto nampak tidak menerima persyaratan yang Sasuke ajukan "Kaasan tidak bisa menerima persyaratan itu, dia hanya cukup keluar dari dalam gudang itu tidak perlu mengantarmu sampai ke stasiun,"

"Kaasan, aku mohon, kali ini saja dengarkan aku," Sasuke memohon dengan wajah mengiba, dia tahu Ibunya tidak bisa menolak permohonannya.

"Kaasan akan mengabulkan permintaanmu asalkan kau tidak berbohong,"

"Tentu saja," jawab Sasuke ambigu

"Sasuke, seharusnya kau mengerti perasaan ku setiap kali aku melihat anak itu, rasa sakit itu datang lagi, dia memang mirip denganmu tapi aku dapat melihat dia memiliki mata ibunya, mata wanita yang sudah membuat Otousanmu nyaris meninggalkanku," Mikoto memandang Sasuke dengan mata berkaca-kaca.

Sasuke juga merasakan kepiluan yang dirasakan ibunya. Dia mendekat kearah Mikoto dan memeluknya dengan erat "Kaasan, aku tahu betapa sakitnya hatimu saat itu, tapi kau tidak boleh melampiaskannya kepada Sai, bagaimanapun juga dia tentu tidak mau dilahirkan dari seorang wanita yang merebut suami orang lain, namun inilah takdir dan kita tidak bisa menolaknya,"

"Kaasan tidak bisa, Sasuke.. tidak untuk saat ini.. anak itu selalu mengingatkanku dengan wanita itu, tidak bisa…"

"Kau boleh membencinya, tapi jangan siksa dia, kaasan. Anak itu juga merindukan kasih sayang seorang ibu."

"Kau memang anakku Sasuke. Anak kandungku, kau berhati malaikat. Tapi untuk kali ini, aku belum bisa mengabulkan permintaanmu itu," Mikoto melepaskan pelukan Sasuke "Namun, aku akan biarkan dia mengantarmu sampai stasiun," dan wanita itu kembali duduk di belakang meja kerjanya tanpa memandang Sasuke.

"Terima kasih, kaasan," Sasuke nyaris melonjak girang di depan ibunya "Kalau begitu aku akan berkemas dan segera kembali ke Ame," dia mendekat kearah ibunya dan memberikan kecupan singkat di pipi wanita paruh baya tersebut.

"Hati-hati, jaga kesehatanmu,"

"Tidak usah terlalu mencemaskanku," kemudian Sasuke segera naik menuju kamarnya yang terletak di lantai dua rumah ini.

-oOo-

Sai memang di bebaskan tepat 15 menit sebelum keberangkatan Sasuke. Keadaannya miris sekali, dia terlihat sangat kelaparan, pandangannya sayu, dan sedikit lagi mungkin dia benar-benar akan tumbang. Sasuke memapahnya keluar dan segera membawanya ke ruang makan keluarga, bibi Michiko sudah menyiapkan hidangan diatas meja makan. Sasuke segera menarikkan satu kursi untuk Sai dan Sasuke duduk di sampingnya. Tanpa banyak bicara Sasuke langsung mengambilkan nasi dan beberapa sayuran untuk Sai kemudian mulai menyuapinya.

Sai mulanya menolak nasi yang Sasuke arahkan kemulutnya, dia sudah kehilangan nafsu makannya dan hanya ingin tidur. Sasuke tahu akan hal itu namun dia tetap memaksa Sai untuk makan nasi walau hanya beberapa suap saja.

"Ayolah Sai, makan ini," Sasuke membujuk Sai "Aku janji akan membawamu pergi dari sini. Sekarang cepat habiskan nasinya dan ikut aku ke stasiun," Sasuke berbisik di telinga Sai untuk meyakinkannya.

Sai melihat Sasuke dengan tatapan yang sulit diartikan dia kemudian menerima suapan nasi dari Sasuke tanpa mengajukan sebuah pertanyaan. Sasuke senang sekali melihat Sai yang sekarang sudah memakan nasi yang disuapkan olehnya. Sekarang sudah lima sendok, sepertinya Sai tidak ingin memakannya lagi.

"Baiklah cukup, sekarang ayo bangkit dan tidak usah banyak bertanya. Ikuti saja aku dan semua akan beres. Mengerti?" Sasuke membantu Sai berdiri dan mereka berjalan keluar dari rumah bersama-sama.

Diluar rumah ada beberapa bodyguard yang menunggu untuk ikut serta mengawal Sai agar tidak kabur bersama Sasuke. Rombongan bodyguard itu di pipmpin oleh Genma Shiranui, orang kepercayaan Mikoto dan sangat setia kepada Nyonya Uchiha tersebut. Sasuke hanya menampakkan wajah tenang tanpa menunjukkan sesuatu yang mecurigakan di hadapan Genma dan anak buahnya, dia akan berusaha sebisa mungkin mengelabui para bodyguard itu dan membawa Sai pergi.

"Silahkan, tuan," Genma membukakan pintu mobil untuk Sasuke dan Sai, mereka berdua segera masuk dan mobil mewah jenis mercy tersebut melaju dengan kecepatan sedang menuju Konoha Underground stasiun.

Sasuke memang belum memikirkan secara matang kemana dia akan membawa Sai pergi. Apakah ke Sunagakure, atau Kirigakure atau malah ke Otogakure. Tapi Sasuke tidak mungkin membawa Sai menuju Otogakure karena disana ada Itachi yang sudah pasti akan sangat membahayakan keberadaan mereka. Mungkin saja Sasuke akan menjatuhkan pilihannya ke Sunagakure, disana ada Gaara, mereka bisa bermalam di rumah sahabat masa kecilnya tersebut selama beberapa hari.

"Sai, kau kenapa?" Tanya Sasuke khawatir. Sejak tadi Sai hanya diam dan menyandarkan kepalanya di bahu Sasuke sambil memejamkan matanya.

Sai hanya menggeleng lemah, dia kemudian menggerakkan tangannya untuk memberi tahu Sasuke bahwa dia baik-baik saja. Bahasa isyarat tentu saja, dan para bodyguard mereka tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

"Apa yang sakit?" Sasuke menyentuh dahi Sai dengan tangan kanannya

"Aku merasa sedikit pusing. Mungkin karena aku terlambat makan," kata Sai

"Kau bawa minyak hangat?" Tanya Sasuke "Sini biar aku usapkan di tengkukmu supaya hangat,"

"Aku tidak membawa obat apapun," Sai kembali memejamkan matanya

"Kalau begitu tidurlah saja di bahuku, nanti aku belikan di minimarket dekat stasiun," Sasuke membiarkan Sai lebih lama menyandar di bahunya. Selama perjalanan Sasuke menyadari betapa menyedihkannya keadaan Sai, dan dia tidak dapat membayangkan bagaimana ibunya memperlakukan Sai selama dia tidak ada di Konoha. Sepertinya membawa Sai pergi merupakan keputusan yang tepat.

30 menit berlalu dan mereka sudah tiba di stasiun. Sasuke segera menuju ke minimarket yang berada di depan stasiun untuk membelikan minyak hangat untuk Sai. Beberapa Bodyguard tetap berjaga dengan kewaspadaan tingkat tinggi dan mengawasi setiap gerak-gerik yang Sasuke lakukan. Ini membuat Sasuke sedikit was-was memikirkan cara bagaimana mereka akan kabur dari pengawasan Genma cs. Tapi dia memiliki sebuah ide yang akan mengecoh Genma tanpa menimbulkan kecurigaan, dan dia membutuhkan bantuan dari teman-temannya.

Sasuke menelpon Lee dan Kiba untuk menemuinya di stasiun Konoha Underground. Dia akan meminta bantuan dari dua teman semasa SMP nya itu.

"Halo… Lee, apa kau ada dirumah sekarang?"

"Iya, ada apa Sasuke?" Tanya sudara dari sebrang telpon

"Aku butuh bantuanmu, tolong datang ke stasiun Konoha Underground, sekarang. Ini penting!"

"Bantuan? Bantuan apa? Aku tidak mengerti maksudmu," Lee kedengarannya mulai kebingungan

"Nanti aku jelaskan, sekarang cepat kesini,"

"Ne.. aku akan segera datang,"

Sasuke segera memutuskan sambungan telepon dengan Lee dan segera beralih menghubungi Inuzuka Kiba, yang kakak perempuannya adalah pacar Itachi.

"Halo.. Kiba?"

"Aha, tumben sekali kau menelponku Sas, ada apa?"

"Aku butuh bantuanmu sekarang," kata Sasuke to the point

"Bantuan? Bantuan seperti apa yang kau minta calon saudara ipar?" Tanya Kiba bercanda

"Ini penting! Kau harus segera datang ke stasiun Konoha Underground sekarang, aku tunggu, ini keadaaan yang benar-benar mendesak?" jawab Sasuke tidak sabar

"Oke, aku akan segera kesana sekarang." Dan Kiba pun menutup teleponnya.

Sasuke lega, setidaknya bala bantuan yang akan menolongnya sebentar lagi tiba. Dia masih berada di teras minimarket ini sekarang, dan dengan langkah terburu-buru dia menuju ke stasiun yang persis berada di seberang jalan ini. Dari pengeras suara di umumkan bahwa kereta dengan jurusan Konoha-Amegakure, akan berangkat 30 menit lagi, itu berarti Kiba dan Lee harus sudah tiba sebelum waktu itu.

"Sai, ini minyak hangatnya. Gosokkan di tengkukmu," kata Sasuke sambil membuka tudung jaket yang di kenakan oleh Sai. Saat ini Sai memakai jaket tebal yang tudungnya ditutupkan, cuaca Konoha saat ini memang sangat dingin dengan suhu –5 drajat celcius. Jangan lupa, mereka masih di kelilingi oleh bodyguard keluarganya yang setia berdiri di belakang Sai, takut kalau Sai akan melarikan diri tanpa mereka sadari.

Sai mengangguk kemudian melepaskan tudung jaketnya dan mulai menggosokkan minyak hangat tersebut di area tengkuknya.

Drrrtt….. drrrtt… Handpone Sasuke bergetar, menandakan ada pamggilan masuk. Termyata Kiba yang menghubunginya. Sebelum Sasuke menjawab panggilan itu dia memberikan masker kepada Sai "Pakai ini, masker ini akan melindungimu dari udara dingin,"

Sai menerimanya dan langsung memakainya. Sasuke menjauh dari para bodyguardnya dan menjawab panggilan dari Kiba tersebut.

"Halo.. kau dimana Sas?" Tanya Kiba tanpa basa-basi

"Aku akan menjemputmu, katakana dimana posisi mu?" jawab Sasuke sambil terus mengawasi sekitarnya kalau-kalau dia melihat sosok temannya itu.

"Aku masih ada di loby depan stasiun, aku tunggu."

"Baik, aku segera kesana,"

Sasuke mempercepat langkahnya dan beberapa menit kemudian dia sudah bertemu dengan Kiba, selanjutnya Lee menyusul hadir. Tanpa basa-basi Sasuke segera memberi tahukan apa tujuannya meminta kehadiran dua temannya itu sekaligus memberi tahu rencana yang akan di lakukannya untuk mengecoh para bodyguardnya itu. Kiba dan Lee mendengarkan dengan seksama kemudian keduanya mengangguk mengerti. Suara dari dalam stasiun menginformasikan bahwa kereta akan berangkat 15 menit lagi.

"Sai, ada Lee yang ikut mengantarku," Sasuke telah tiba kembali di tempat Sai menunggu bersama Genma cs disusul oleh Lee di belakangnya.

"Iya, aku ikut mengantar Sasuke," kata Lee sambil tersenyum. Dia tahu Sai akan mengerti maksudnya meski Sai tidak bisa mendengarnya dengan baik.

"Terima kasih," Sai berterima kasih dengan bahasa isyarat. Lee hannya mengangguk.

"Sai, pergilah ke toilet pria, disana ada Kiba yang menunggu, lakukan sesuai dengan apa yang di instruksikan Kiba dan jangan banyak protes," Sasuke memerintahkan Sai

Sai mengangguk mengerti. Dia lalu berbalik menghadap Genma dan mengisyaratkan suatu gerakan bahwa dia ingin buang air kecil ke toilet. Genma mulanya tidak menyetujui akhirnya mengizinkan Sai pergi sendirian setelah Sasuke melarangnya mengikuti Sai.

"Biarkan dia ke toilet sendiri, lagi pula dia tidak mungkin melarikan diri," kata Sasuke dan membuat Genma percaya.

"Baiklah, tuan boleh pergi," detik berikutnya Sai telah berlalu dari hadapan Genma.

Mereka lalu berjalan menuju kereta yang kini sudah standbye menunggu para penumpang untuk naik. 5 menit telah berlalu, Sasuke sudah bersiap naik kedalam kereta sebelum Sai tiba dengan tudung jaket yang menutupi kepalanya dan masker yang menutupi separoh wajahnya.

"Sai, aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik," Sasuke memeluk Sai dengan erat. Sai balas memeluk Sasuke. "Aku akan merindukanmu," Sasuke melepas pelukannya.

"Lee, terima kasih sudah ikut mengantarku," Sasuke memberikan pelukan singkat kepada Lee "Terima kasih juga untuk bantuannya," seringai misterius menghiasi wajah Sasuke.

"Ya, sama-sama, untung jarak rumahku hanya 2 kilometer dari sini," kata Lee sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Baiklah kalau begitu.. selamat tinggal semua. Aku akan merindukan kalian," Sasuke kemudian masuk ke dalam kereta dan pintunya pun tertutup secara otomatis, kereta mulai melaju dengan kecepatan sedang sebelum kemudian menghilang di balik terowongan.

Sasuke nyaris melonjak kegirangan saat melihat Sai yang kini memakai pakaian Kiba bediri di belakangnya. Dia segera memeluk Sai kembali dan mereka melakukan high five bersama sambil tertawa lepas. Kereta yang membawa mereka meninggalkan Konoha terus melaju kencang dibawah guyuran hujan di musim gugur yang dingin ini.

.

.

.

.

"Tuan, mari kita pulang," Genma mengajak Sai palsu yang sebenarnya adalah kiba untuk mengikutinya pulang menuju Uchiha mansion.

Kiba menggelengkan kepalanya seperti gaya Sai. Namun tiba-tiba… "Maaf aku tidak mau, karena sebenarnya aku bukan Sai! Hahaha~" Kiba membuka tudung jaket dan maskernya di depan Genma "Selamat tinggal tuan-tuan," Kiba dan Lee berlari kencang meninggalkan Genma dan anak buahnya yang masih terlihat shock dengan kejadian barusan.

"Celaka! Kita sudah di tipu oleh Tuan Sasuke! Kita harus mengejar mereka dan mendapatkan Tuan Sai kembali!" Genma memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengejar Sasuke di stasiun selanjutnya "Kita harus menangkap mereka jika tidak ingin mengahadapi kemurkaan Nyonya Mikoto," dan mereka pun bergegas meninggalkan Konoha Underground Station untuk menunggu mereka di stasiun Green Leave yang berjarak 3 jam dari stasiun ini.

To be continued

Thanks to reader yang sudah membaca fanfic ini, special thaks to Moncell dan Kasumi Misuto. Karena review dari kalian aku melanjutkan penulisan fanfic ini… jangan bosan memberiku dukungan :*

Sign

Lady Elvish