tap, tap, tap, tap
Sepatu Alice menggema di lorong Hogwarts yang sepi. Dia menyadari bahwa sekolah ini masih sama hingga pada masanya beratus-ratus tahun yang akan datang. Alice menyusuri lorong panjang yang akan membawanya ke kantor kepala sekolah, namun langkah kakinya berhenti begitu menyadari ada seseorang yang memperhatikannya. Alice tetap diam hingga orang itu bertanya.
"Siapa kau?" desisnya terdengar penuh nada curiga.
Alice berbalik dan menemukan bahwa yang bertanya adalah seorang murid laki-laki, dengan rambut leher klimis dan tubuh yang kurus. Tangannya memeluk beberapa buku tebal dan tubuhnya bersandar pada dinding. "Kau tidak takut terkena detensi jam malam?" tanya Alice dengan nada seramah yang dia bisa.
Dahi pemuda itu mengkerut saat gadis di hadapannya malah balik bertanya, "Aku bertanya siapa dirimu, miss. Kau tidak bisa masuk ke sini tanpa izin."
"Well, sebenarnya—" Alice memperhatikan wajah pemuda itu, sesuatu kembali mengusik pikirannya, "Aku adalah murid baru di sini. Aku harus melaporkan kedatanganku pada kepala sekolah, meskipun sepertinya sudah sangat terlambat. Maaf, maukah kau mengantarku? Aku takut tersesat." gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum tidak enak.
Alice berakting, lagi.
Pemuda itu masih tampak curiga, tapi beberapa detik kemudian menghela nafas, "Baiklah—" dia maju beberapa langkah dan mendahului gadis yang baru ditemuinya, "ikuti aku."
Baru beberapa langkah mereka berjalan, seakan menyadari sesuatu pemuda itu berhenti dan berbalik, menatap manik gadis yang lebih pendek darinya, "Kalau kau memang murid baru, bisakah kau menunjukkan semacam bukti padaku?" matanya bergerak ke atas dan ke bawah memperhatikan penampilan Alice yang cukup aneh, "Misalnya—semacam surat?"
"Aku tidak punya." gadis itu menggeleng.
"Lalu bagaimana aku bisa mempercayaimu?"
"Aku tidak memintamu mempercayaiku." jawabnya menggeleng cepat."Tapi besok kau pasti akan percaya." lanjutnya lagi, mengulum senyum.
Pemuda itu hanya mengerutkan dahi. Alice mendesah malas.
"Terserah, kalau kau memang tidak mau percaya." Alice memasang wajah cemberut, "Biar aku sendiri yang mencari kantor kepala sekolah." suara sepatunya kembali menggema, berjalan mendahului murid laki-laki yang baru ditemuinya.
"Tunggu." suara pemuda itu menghentikannya, "Siapa—namamu?" tanyanya terlihat ragu-ragu.
Alice berbalik dan tersenyum ramah, "Alicia Magnabad." manik merahnya menatap lurus pada kelabu di hadapan, "Namamu?"
Pemuda itu menjawab dengan datar, "Severus Snape."
"Holy Sh—!"Alice melotot dan seketika membekap mulutnya dengan tangan. Hampir saja dia mengumpat saking kagetnya, "Be—benarkah?" Pantas saja ada hal yang mengusik pikirannya saat melihat pemuda ini tadi. Alice sulit mengatur nafas—ok, dia mulai terlihat seperti gadis ababil yang bertemu idolanya sekarang. Sekuat tenaga dia harus menahan keinginannya untuk memeluk pemuda di hadapannya sekarang juga. Tenanglah Alice—kau ini sudah menjadi wanita paruh baya!
Kelabu yang menatapnya memicing dan bertanya curiga, "Ya. Memangnya kenapa?"
Alice menarik nafas dalam, menggeleng, lalu menghembuskan nafas itu perlahan. Severus keheranan dibuatnya. Gadis itu menepuk-nepukkan tangan ke dadanya, "Tidak ada apa-apa, Mr. S-Snape." jawabnya setelah pergolakan batin memutuskan apakah dia harus memanggil nama Severus dengan panggilan Snape atau nama depannya. Yah, yang manapun, dalam hatinya tetap saja menjerit kegirangan. Alice hanya tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan Severus secepat ini, apalagi setelah dia menjahili kelompok musuh bebuyutan Severus: Marauders.
Beberapa saat kelabu itu masih menatap curiga, " akan tetap mengantarkanmu, miss."
Alice mengangguk pelan, masih menahan keinginannya untuk mengekspresikan kebahagiaan layaknya remaja labil. Ditatapnya punggung Severus yang berjalan di depannya. Langkah kakinya berjalan nyaris tanpa suara, tidak seperti dirinya yang berjalan meninggalkan gema. Lorong-lorong yang mereka lewati terasa pendek meskipun keduanya terdiam. Tahu kenapa? Tentu saja Alice sedang mengatur fangirl meternya. Mesti jaga image di depan idola.
Kaki Severus terhenti. Alice terkesiap, hampir saja dia menabrak idolanya dari belakang. Cepat-cepat dia mundur selangkah dan sadar kalau mereka sudah sampai. Patung gargoyle penanda jalan masuk ke kantor kepala sekolah itu tetap sama seperti jamannya di masa depan.
Severus berbalik menghadap Alice, "Ini jalan masuknya, miss." dia mengucapkan kata kuncinya, lalu muncul tangga melingkar yang menuju ke atas.
Alice mengangguk pelan, "Terima kasih sudah mengantarkanku, . Aku—ingin bertemu denganmu lagi." gadis itu tersenyum ramah. Tapi mau bagaimanapun dia sadar kok, usianya sudah terlalu tua bagi Severus muda. Yah, meski Severus lahir duluan, tapi tetap saja Alice sudah menjalani empat puluh tahun usianya.
Severus mengerenyit heran sambil tersenyum yang dipaksakan, "Sama-sama." jawabnya datar.
Alice menyadari senyum terpaksa Severus, namun dia tidak memperdulikannya. Severus masih berdiri di sana saat Alice sudah menapaki beberapa anak tangga, hingga gadis itu berbalik cepat dan tersenyum lebar ke arahnya.
"Secepatnya—kita akan bertemu lagi, ."
Severus tampak terkejut namun langsung mengangguk cepat. Jujur saja dia bingung dengan sikap gadis yang mengaku calon murid baru sekolahnya. Apalagi dengan penampilannya yang cukup aneh bagi seorang gadis sepantaran dirinya.
Alice memberikan gestur tangan melambai dan kembali menapaki anak tangga. Severus menghela nafas—berbalik dan berjalan kembali menuju asrama. Dia butuh istirahat—siang hari dia disibukkan oleh pelajaran dan sejak sekolah usai mengerjakan tugas-tugasnya di perpustakaan. Belum lagi jika mengingat teror si kacamata sialan terhadapnya—yang tiba-tiba saja mendekatinya. Kontan saja Severus menolak, tidak cukupkah dia dan teman-teman tololnya itu mengerjainya selama ini?
Lalu mengenai gadis aneh yang baru di temuinya itu—entah kenapa Severus merasa harus menghindar jauh-jauh darinya.
Alice mengetuk pintu dengan pelan dan hati-hati. Beberapa saat kemudian pintu itu terbuka dan memperlihatkan ruangan yang cukup besar dengan langit-langit yang tinggi, dindingnya penuh dengan rak buku tebal berjejer, dan ditengah-tengah ruangan ada meja besar tempat kepala sekolah duduk mengerjakan segala urusannya. Ada tangga lagi yang menuju lantai atas, tidak terlalu tinggi karena masih bisa terlihat oleh mata, dan di tangga itu berdiri seorang pria tua dengan jenggot panjang, memperhatikan tamu yang datang saat malam sudah terlampau larut.
"Selamat malam, Kepala Sekolah. Maafkan aku karena mengganggumu larut malam begini—" kalimat Alice berhenti saat pria itu mengangkat tangannya, meminta Alice berhenti bicara. Pria tua itu turun mendekati tamunya. Dengan tersenyum ramah, dia menuntun Alice untuk duduk di hadapan meja kerjanya. Kepala sekolah duduk di kursinya, menghadap Alice yang diam.
Alice tahu nama pria tua ini. Dia juga ada di jaman yang awalnya Alice rencanakan untuk didatangi, jaman dimana Harry Potter berada. Tentu saja dia akan langsung mengenalinya—janggut panjang, jubah norak dengan topi panjang senada. Ha—penampilan yang flashy untuk seorang penyihir legendaris.
"Maaf, Sir Dumbledore. Aku—" lagi-lagi Alice menghentikan kalimatnya karena gestur tangan yang diberikan pria tua itu memintanya berhenti.
Ada hening canggung yang menggantung selama beberapa detik.
"Maukah kau menceritakan masalahmu, nona manis?" suara yang lembut menyapu telinga Alice. Darahnya berdesir begitu merasakan aura ketegasan dan kelembutan di dalam suaranya, entah kenapa suara itu begitu menenangkan. Jadi inilah sosok laki-laki yang dijuluki penyihir paling hebat dan bijaksana di masanya. Dan Alice—sebagai penyihir hebat berpengalaman, bisa tahu kekuatan besar yang tertutupi oleh tubuh renta pria dihadapannya.
Alice menelan ludah—dia tidak akan sanggup berbohong pada pria tua ini.
Mata teduh yang menatap manik merahnya dalam membuatnya tidak tahu harus memulai darimana.
"Bagaimana kalau segelas teh hangat?"
Senyum yang lembut itu membuat Alice tidak bisa berkata apapun. Dumbledore meletakkan sebuah cangkir di depannya dan menjentikkan jemari, dengan ajaib cangkir itu terisi cairan teh kecoklatan yang hangat. Alice mencium wangi aroma teh yang tersaji di depannya, perlahan, pikirannya mulai kembali tenang. Dia melirik Dumbledore yang menatapnya dalam, tapi ada cahaya lembut disana.
"Aku—berasal dari masa depan." dia memulai kalimat, mengaku sedikit ragu-ragu, "Aku terlempar ke dimensi waktu yang salah, dan—tidak punya tempat tinggal." wanita dengan surai gelombang hitam itu menggeleng lemah sambil menunduk.
Dumbledore tersenyum mengerti maksudnya, "Kau bisa menjadi murid di sini, hingga kau menemukan cara untuk kembali."
Alice mendongak menatap mata teduh di hadapannya, "Terima kasih.." ujarnya lembut, "Tapi, aku sudah lulus dari sekolah ini." dia tersenyum geli.
Kakek tua itu ikut tersenyum, "Benarkah? Siapa namamu dan berapa usiamu, nona?"
Tawa kecil terdengar, "Alicia Potter-Weasley, 40 tahun." jawabnya, dia bisa melihat Dumbledore mengerutkan alisnya tidak mengerti dan terlihat sedikit terkejut, "Aku berhenti menua ketika remaja karena sebuah kecelakaan, Sir." lanjutnya lagi, memberikan penjelasan. Dia tersenyum saat akhirnya Dumbledore mengangguk-angguk mengerti.
"Kurasa aku salah memanggilmu dengan sebutan nona." dia tertawa pelan, "Apa kau sudah menjadi nyonya?" tanyanya, lalu tawanya terhenti saat melihat ekspresi sedih gadis dihadapannya, "Maaf, jika aku menyinggungmu."
"Tidak, Sir. Aku memang sudah menjadi nyonya." senyumnya sedikit terpaksa, "Tapi, suamiku sudah meninggal." tambahnya, menahan emosi sedih yang menguasainya. Kelebat pecahan masa lalu mendadak terputar kembali di memorinya seperti roll film. Tangannya mengepal kuat mencengkram kain bajunya, dia benci mengingat beberapa kejadian paling mengerikan dan menyedihkan dalam hidupnya kembali menghantuinya.
Dumbledore terlihat bersimpati, "Percayalah, dia selalu bersamamu, tidak sedikitpun terpisah darimu."
Alice kembali dalam kesadaran saat kalimat menenangkan itu terdengar, "Ya, Sir. Aku selalu percaya dia di sini." dia tersenyum lemah dan menyentuh dadanya, "Di sini, bersama orang-orang yang paling kucintai dalam hidupku." lanjutnya lembut.
Pria itu mengukir senyum lembutnya kembali, "Aku senang mendapat tamu sepertimu, apalagi akan segera menjadi salah satu muridku." dia bangkit berdiri dan berjalan ke arah tamunya, "Kita akan membicarakan hal lain besok."
Alicia mengangguk dan berdiri dari kursinya, "Untuk membicarakan identitas baruku? Aku tahu ada seorang murid yang bernama Potter di sini." dia tersenyum geli, "Kalau mau tahu, dia juga kakek moyangku." ujarnya sambil terkekeh pelan. Dumbledore hanya tersenyum mendengarnya.
"Ini sudah larut malam. Istirahatlah di kamar khusus tamu. Besok kau harus berbelanja kebutuhan dan mengikuti tes masuk, lusa baru kau akan resmi menjadi murid baru." Dumbledore berdiri di sebelah Alice, tangan besarnya mengusap surai halus gadis itu lembut. Alice dibuat tersentuh. Sentuhan kecil pria itu mengingatkannya pada orangtuanya. Dumbledore bisa melihat Alice seperti menahan tangis.
Sekuat tenaga Alice menahan air matanya agar tidak tumpah. Sudah berapa puluh tahun kah semenjak kejadian itu? Hari dimana dia kehilangan orangtuanya? Itu sudah lama sekali—tetapi dia tidak pernah lupa. Dia tidak pernah lupa tangan sang mendiang ayah dengan kebiasaannya mengusap kepala Alice dengan lembut, dia selalu merindukan sentuhan itu. Dan Alice bisa merasakan belaian kasih sayang itu lagi sekarang—di jaman yang berbeda, dalam tangan orang yang berbeda.
Dumbledore tersenyum, mengusap punggung Alice lalu mengantarnya ke kamar tamu. Keduanya tidak bicara, kata-kata seperti tidak lagi dibutuhkan, terganti dengan sentuhan Dumbledore yang masih membelai kepala Alice selama berjalan.
Gadis itu tersenyum, berterima kasih padanya. Lalu tidak kuasa menahan air mata saat tiba-tiba saja Dumbledore memeluknya singkat dan mengucapkan lembut, "Sweet dreams, Alicia."
dan ajaibnya, mimpi Alice memang benar-benar indah.
Great Hall, Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry
Terdengar riuh rendah kasak-kusuk bisikan dan celotehan para murid yang berkumpul di aula besar untuk sarapan pagi. Kemarin ada pengumuman bagi seluruh murid untuk berkumpul bersama pagi ini tanpa terkecuali. Mereka juga harus duduk di meja asrama masing-masing.
Satu hari yang diselimuti rasa khawatir dan kekesalan terlewati. Marauders duduk berpasangan, James di samping Peter dan Remus di sebelah Sirius. Sedikit ketegangan tampak terasa diantara mereka, terlebih interaksi James-Sirius yang saling melempar pelototan sinis. Alasannya sederhana, Sirius masih marah karena James tidak mempercayainya perihal Alice, membuat rahasia mereka dan Remus, , walaupun mereka sebenarnya nggak tahu kenapa Alice bisa tahu soal itu, sih.
Remus sudah lelah dengan kelakuan dua sahabatnya dan memilih tidak perduli. Kali ini dia tidak akan membiarkan kedua sahabat terkonyolnya itu mengganggu dirinya—masih ada esai Herbologi dan rapat prefek yang menanti. Bukannya dia tidak khawatir tentang Alice yang mengetahui dirinya adalah manusia serigala, hanya saja dia terlalu sibuk untuk memperhatikan hal itu. Alice berbisik padanya dan berjanji untuk tidak menyebarkan rahasianya pada malam itu, namun entah kenapa, ada satu titik dalam hati Remus yang mempercayainya.
Tapi, seperti dua sahabatnya yang lain, Remus tidak terima jika Peter diejek dengan kalimat yang begitu menusuk. Mereka sudah memberitahu kejadian malam itu pada Peter dan sontak saja pemuda tambun itu hampir menangis. Diejek seperti itu—siapa yang tidak terima? Terlebih jika mengejek orang yang baru dikenalnya. Gadis itu benar-benar sok tahu. Diliriknya Peter yang masih berwajah lesu. Remus menghela nafas—setengah iba pada Peter, setengah pusing karena James dan Sirius mulai adu mulut lagi.
Keriuhan itu mendadak hilang saat pintu besar itu terbuka, kepala sekolah mereka berjalan menuju meja para professor yang telah duduk. Dibalik punggungnya ada seorang gadis tidak dikenal mengekor di belakang. Para murid-murid berbisik-bisik mengenai siapa dia—sudah jelas murid baru karena gadis itu mengenakan seragam sekolah. Beberapa gerombolan pemuda riuh melihat parasnya—wajahnya sangat manis, meski tubuhnya pendek, tapi justru itu menambah kemanisannya. Sebagian anak iseng bermain tebak-tebakan dia akan berada di tahun berapa. Sementara gadis misterius yang bersangkutan? Tidak acuh, dia malah memperhatikan atap yang berlukiskan langit biru.
Ada rasa rindu dan nostalgia yang menyeruak masuk dalam memorinya. Alice memperhatikan langit-langit, lukisan biru-putih itu masih tetap sama. Bendera-bendera berkibar dengan huruf 'H' tergantung berjejer di dinding yang kokoh. Jendela-jendela besar dengan pemandangan danau itu juga tidak berubah. Alice menghirup bau ruangan itu dalam satu tarikan nafas—tercium wangi parfum yang samar, mungkin dari murid-murid yang dilewatinya, bercampur dengan wangi seragam barunya yang baru dibeli kemarin, saat berbelanja keperluan sekolah ditemani salah satu seorang staff.
Alice mengedarkan pandangan, menyapu seluruh ruangan. Di meja panjang paling kiri, agak ke depan, ada Severus Snape duduk memperhatikannya. Jelas pemuda itu tidak terkejut perihal kedatangannya karena mereka sudah bertemu sebelumnya. Lalu matanya menjamah sisi kanan, dan menyeringai lebar begitu melihat ekspresi empat pemuda Gryffindor yang melotot tajam padanya.
Begitu Alice berjalan tepat di belakang punggung James dan Peter yang menoleh kepadanya, dia memberikan senyuman termanisnya. Bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Di sudut matanya, dia sempat melihat Sirius yang hampir saja berdiri untuk mengacungkan tongkat padanya. Alice menyeringai.
Kata-kata sambutan kepala sekolah dan pengenalan singkat. Alice dikenalkan sebagai Alicia Magnabad, seorang penyihir yang berasal dari Timur Tengah. Lalu tibalah saat pemilihan asrama. Topi tua itu berada di tangan Profesor McGonagall, siap diletakkan di kepalanya. Alice duduk di kursi tua, sedetik memperhatikan wajah-wajah asing yang memperhatikannya.
Wanita itu menarik nafas dalam-dalam.
"Hoo…kita kedatangan tamu dari masa depan. Sepertinya kau ingin dua kali lulus dari Hogwarts?" bisik topi tua itu, cukup pelan hingga hanya mereka berdua saja yang bisa mendengarnya.
"Jangan ikut campur urusanku." desisnya. Tentu saja sorting hat adalah legilimens, topi itu bisa tahu bagian masa lalunya. Sebenarnya Alice ingin memasang perisai occlumens pada pikirannya, tapi buat apa? Memangnya ada yang berpikir menggunakan legilimens pada topi tua butut ini untuk mencari tahu siapa dia sesungguhnya?
"Ho-ho-ho, sungguh gadis yang bersemangat." kali ini topi itu tertawa, tidak lagi berbisik pelan. Seluruh ruangan bisa mendengar suaranya, "Hmm…ini sulit. Kau bisa bagus berada di Gryff—"
"Aku tidak mau." potong gadis itu cepat. Murid-murid dan para Professor yang mendengar kalimat itu terkejut dibuatnya. Apa katanya tadi? Tidak mau? Dia tidak mau berada di dalam asrama Gryffindor?
.
.
"Gadis itu gila!" bisik Sirius setengah memaki, setengah berbisik. Luar biasa, ketiga sahabat karibnya mengangguk setuju.
"Tapi bagus juga, Padfoot. Pikirkan, aku tidak akan tahan berada dalam satu asrama dengannya." balas James, masih menatap tajam pada pusat perhatian di depan.
Sirius tampak berpikir, "Ya—aku bertaruh dia akan memilih asrama ular. Dia cocok berada di dalamnya."
Dalam hati, Remus sedikit lega karena dua orang itu ternyata masih bisa satu pendapat.
.
.
"Gryffindor adalah tempat bagus untukmu." yakin topi itu sekali lagi, "Kau sangat cocok berada dalam rengkuhan singa, nona."
"Aku tidak mau." jawab Alice singkat. Dia sudah memantapkan hatinya untuk ini. Suara bisik-bisik kembali terdengar dalam ruangan.
"Baiklah, kau bisa memilih. Kusarankan Ravenclaw karena kau juga memiliki kecerdasan—"
"Tidak." Alice menggeleng, membuat topi itu juga bergerak, "Aku pilih Slytherin."
dan keriuhan itu terjadi lagi.
.
.
"Apa kubilang!" Sirius mendecak sebal.
"Padfoot, kita punya penyambutan untuknya, no?" James menyeringai licik. Sirius yang melihatnya ikut menyeringai. Peter mengangguk-angguk semangat. Dan Remus menghela nafas—berpikir, kemana perginya aura menusuk dan pelototan sinis diantara mereka tadi?
.
.
Hingga Minerva menyuruh para murid untuk diam.
Topi tua itu kembali berbisik, "Apa kau serius, lady? Asrama itu sangat berlawanan dengan hatimu—"
"Aku tidak perduli." jawab Alice juga berbisik pelan. "Aku ingin masuk Slytherin. Kau tidak berhak mencampuri urusanku, dasar topi tua."
The sorting hat terlihat ragu-ragu, "Jangan menyesal, lady. Kuakui memang beberapa sifatmu cocok dengan Slytherin, tapi hatimu tidak. Sejujurnya aku terkejut ada orang sepertimu." bisiknya kembali.
Alice tersenyum tipis, "Tenang saja. Di masa depan, aku masuk asrama singa." bisiknya pelan.
Sang topi tertawa, cukup keras hingga terdengar semua orang, "Baiklah, baiklah—kau akan menjadi ular paling keras kepala yang pernah ada." ada jeda untuk topi itu menarik nafas, "SLYTHERIN!"teriaknya lantang. Tepukan meriah datang dari meja ular, Alice berlari kecil menghampiri asrama barunya. Tersenyum ramah sambil mengenalkan diri pada ular-ular di sana. Satu detik bertemu mata dengan Marauders yang menatapnya tajam. Dan tanpa yang lain melihat—Alice menyunggingkan seringaian puas.
Sebuah tepukan dari kepala sekolah menandakan dimulainya jamuan sarapan pagi.
Alice menoleh dan kini manik darahnya bertemu dengan kelabu yang gelap. Dia menghampiri pemuda itu sambil tersenyum ramah, "Senang bertemu denganmu lagi, ."
"Kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan mister. Tidak perlu terlalu formal, Magnabad." jawab Severus datar. Beberapa ular yang berada di sekitarnya memperhatikan.
"Ah—panggil saja aku dengan nama depanku, Snape." gadis itu tersenyum manis, "Aku tidak suka saat orang memanggilku dengan nama keluargaku. Terdengar—tidak akrab." dia menatap beberapa murid yang berada di sekeliling Severus, "Kalian juga bisa memanggilku Alicia." lanjutnya masih mempertahankan senyum.
"Aku tidak punya alasan untuk mengakrabkan diri denganmu." sinis, Severus menatapnya lurus.
Seorang gadis berambut coklat di sebelah Severus mendesis, "Jangan sinis begitu padanya, Snape."
Severus melirik padanya, "Aku sinis pada semua orang, Betsyeba. Rasanya tidak adil pada semuanya jika aku memperlakukan gadis ini dengan akrab. Dan permisi, entah kenapa aku jadi tidak lapar." Severus berbalik dan bangkit berdiri. Alice mundur satu langkah, mempersilahkan Severus untuk pergi. Beberapa ular yang tadi memperhatikan mereka juga menatap punggung Severus yang menjauh bersamanya. Alice mengerenyitkan dahi pada Betsyeba.
Betsyeba memutar bola matanya malas, "Apa dia lupa kalau dia hanya bersikap manis pada Evans?" dan ular di sekitarnya kompak mengangguk.
Alice menaikkan sebelah alisnya dan duduk di tempat yang tadi ditinggalkan Severus, "Siapa itu Evans?" tanyanya penasaran.
Malverick yang berada di sebrangnya menjawab, "Dia prefek Gryffindor. Gadis yang populer dan murid unggulan." pemuda itu mencari-cari surai merah diantara gadis-gadis asrama singa, lalu menuntun pandangan Alice dengan menunjuk ke barisan dekat pintu, "Lihat gadis dengan rambut merah panjang? Gadis itu adalah Lily Evans. Semua orang tahu dia adalah satu-satunya orang yang Snape anggap teman."
Dahi Alice mengkerut saat mendengar nama Lily Evans. Tidak seperti pertemuannya dengan James Potter, kali ini dia ingat. Lily Evans adalah nenek moyangnya, yang kelak akan menikahi James dan berganti nama menjadi Lily Potter. Ibu dari Harry Potter. Oh, Alice tersenyum tipis, jadi gadis itu yang menjadi pemicu pertengkaran Snape dan James?
"Dia sangat menyebalkan." Betsyeba menambahi.
Avery yang berada di samping Malverick tersenyum sinis, "Karena kau sering kalah debat dengannya sebagai sesama prefek."
Betsyeba mendengus sebal, "Kau lupa pernah kalah darinya saat pelajaran ramuan?"
Dan perang bisa ular dimulai. Alice menghela nafas sambil cepat-cepat menghabiskan sepotong sandwichnya. Dia tidak mau terkena bisa-bisa yang bermuncratan. Tidak sadarkah mereka kalau ada singa dalam penyamaran yang sedang makan disini? Alice menelan kunyahan terakhirnya dan menghentikan perang mulut itu sedetik, "Aku sudah selesai. Permisi." dan dia melangkahkan kakinya cepat ke pintu keluar, tidak memperdulikan beberapa tatapan mata yang tertuju padanya. Mungkin membunuh waktu sambil membaca kembali beberapa buku referensinya di Viaduct Courtyard adalah pilihan yang baik.
Tanpa disadarinya, dia diikuti oleh empat pemuda konyol dari asrama singa yang kita-tahu-siapa.
Setengah jam berlalu saat Alice mulai bosan membaca buku Potter's History—buku silsilah keluarga Potter dan sejarahnya. Lumayan, dia mungkin saja butuh beberapa informasi penting mengenai kakek moyangnya yang saat ini berada satu angkatan dengannya, meskipun tidak banyak hal yang dibahas mengenai James Potter di buku itu, sih. Dia menutup bukunya. Alice menghela nafas jenuh dan memperhatikan sekeliling, murid-murid mulai memenuhi courtyard. Manik merahnya dengan bosan menatap setiap orang yang lalu lalang melewatinya.
Alice menghela nafas untuk yang kedua kali. Tapi kali ini, terdengar suara mengejek dari arah belakang, "Kau terlihat bosan, miss. Ingin bermain dengan kami?"
Tidak perlu menoleh untuk melihat milik siapa nada mengejek yang khas itu. Alice bangkit berdiri dan memutar badannya perlahan, empat pemuda singa berada di hadapannya, salah satu yang berambut keriting melipat tangan, seolah menantang. Alice berkacak pinggang dan tersenyum mengejek, "Heh—biar kutebak. Kurasa ini saatnya pembalasan?"
Sirius menyeringai, "Rite." lalu mendelik pada sahabatnya, "Apa yang akan kita lakukan padanya, Prongs?"
James menatap tajam pada gadis ular yang telah menipunya mentah-mentah dua hari lalu, "Seperti biasa, Padfoot. Seolah kita sedang mengerjai anak-anak lain—atau mungkin, sedikit lebih kasar. Mengingat ucapannya pada Peter."
Pemuda Black di sebelahnya tersenyum senang, "Ok. Setuju." abu-abunya kembali menatap manik merah yang berkilat di depannya menantang.
Remus yang berada di belakang keduanya agak khawatir, "Aku juga marah dia mengejek Peter seperti itu, tapi—dia tetap saja seorang gadis, Sirius, James. Mungkin—ada cara lain mengurai masalah ini?" bujuknya. Dia tidak mau terlibat masalah. Soal Alice yang tiba-tiba saja muncul dan mendadak tahu kalau dia adalah manusia serigala saja sudah cukup membuatnya pusing. Lebih baik jika mengajak gadis itu bicara baik-baik bukan?
"Jangan terlalu baik padanya, Moony. Dia selicin ular—kau masih ingat kejadian malam itu. Wanita memang penipu ulung." ujar Sirius gusar. Dia mendengus kesal saat Alice menaikkan alisnya mengejek, makin membuatnya nafsu melemparkan kutukan pada gadis sialan itu.
"Tapi Sirius—" dan kata-kata Remus dipotong cepat oleh Alice.
"Kau tidak ingin berkata sesuatu padaku, Pettigrew?" menyeringai mengejek, Alice dapat melihat kilat ketakutan dalam mata Peter, "Bukankah kau yang seharusnya marah padaku? Kenapa malah teman-temanmu yang menghadapiku?" dan seringaian itu semakin lebar saat melihat tiga pasang mata membulat menatapnya, yang berkacamata mengepalkan tangannya kuat-kuat, "Apa kau tidak malu selalu berlindung dibalik punggung teman-temanmu, Pettigrew?" celanya sarkastik.
Habis sudah kesabaran James, tanpa peringatan dia maju dan mencengkram kerah jubah yang dikenakan Alice. Tubuh yang lebih mungil darinya itu terangkat ke atas. Para siswa yang berada di sekitar memperhatikan mereka. Sirius mengacungkan tongkatnya dan bersiap melancarkan mantra. Remus yang berada di belakang memilih diam. Dan Peter—sang korban, hatinya mencelos setelah terkena hantaman mental. Tertohok karena diam-diam dalam hati mengakui kalimat Alice—dialah yang paling tidak berguna diantara mereka.
"Kau bahkan belum mengenalnya dengan baik, Magnabad." geram James, tidak perduli tatapan dari murid-murid disekitar mereka.
Alice memutar bola matanya malas. Blah! Ingin rasanya Alice berteriak di depan muka kakeknya ini kalau James akan mati dikhianati olehnya.
James yang melihat wajah tidak takut gadis dalam cengkramannya ini semakin geram, "Kau boleh mencelaku, tapi jangan mencela sahabatku. Ini peringatan untukmu." dengan kasar James menghempaskan tubuh dalam genggamannya itu keras. Beruntung Alice bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh dengan bokong menempel ke tanah. James memberikan tatapan yang menyiratkan ancaman pada murid-murid disekitarnya yang berbisik-bisik tentang aksinya barusan. James menurunkan lengan Sirius yang teracung, membuat si surai keriting itu menurutinya dengan terpaksa. Sirius memberikan death glare pada Alice yang diam saja lalu berbalik dan berniat pergi bersama yang lain.
Tentu saja, sebelum ejekan Alice kembali membuat langkah mereka terhenti.
"Empat pemuda singa melawan satu gadis ular. Luar biasa pemberani!" teriaknya mengejek sinis. Alicia tertawa terbahak sambil memegangi perutnya. Sudut matanya melirik James dan Sirius yang seolah siap memangsanya. Satu tangannya bersiap saat melihat sang pemuda Black meraih sesuatu dalam jubahnya.
Tawa itu masih terdengar saat Sirius yang sudah tidak tahan lagi mengacungkan tongkat dan melemparkan mantra, "Impedi—"
Sayang, terpotong oleh Alice yang dengan cepat mengayunkan tongkat ke arahnya. Kilat putih menyambar lengannya dan membuat tongkat sihir di tangan Sirius terpental. Pemuda keriting itu juga mengaduh sakit saat terkena kilatan putih yang dilancarkan Alice padanya. James yang kembali tersulut emosinya ikut mengacungkan tongkat pada gadis dihadapannya.
"Kau—! Expelliarmus!" kilat putih menerjang lengan Alice, namun gadis itu menangkisnya dengan mengayunkan tongkatnya cepat. Samar-samar terlihat perisai tipis melindunginya. James terperangah sedetik, Alice baru saja menggunakan Protego. Bagaimana bisa gadis ini melakukan sihir tanpa pengucapan mantra? Hal itu sangat sulit dilakukan.
Alice tersenyum licik, memanfaatkan satu detik James tanpa pertahanan, "Giliranku, Impedi—"
"Expelliarmus!"
dan tanpa Alicia duga, tongkat sihir yang diacungkannya ke arah James terpental entah kemana. Ekspresinya berubah kaget saat melihat bahwa ternyata yang melakukannya adalah Pettigrew, si bocah gembul yang menjadi korban sarkastiknya. Wajah kaget itu berubah menjadi seringaian saat melihat tangan Peter yang bergetar, mengacungkan tongkat ke arahnya. Alice mengangkat tangan kanannya dan menggerak-gerakkannya sedikit tinggi di udara, "Lumayan." alisnya terangkat naik, "Kurasa inilah alasan kenapa kau bisa masuk Gryffindor, eh, Pettigrew?"
James yang juga terkejut dengan aksi Peter mulai sadar dari kekagetannya, menatap tajam gadis yang beberapa saat lalu menjadi lawannya, "Jangan bersikap seolah kau sangat mengenal kami!" bentaknya marah.
Sirius, yang juga marah bercampur bingung—setengah bingung kenapa sakit di tangannya tidak juga hilang, setengahnya lagi bingung mengkhawatirkan apa lagi yang Alice ketahui tentang mereka—, memutuskan bertanya, "Siapa kau sebenarnya? Sepertinya—kau tahu banyak tentang kami." kelabunya menatap curiga.
"Hmm—" Alice melipat kedua tangannya di depan dada dan menyunggingkan senyum manis, "cukup banyak yang aku ketahui. Mengenai sejauh apa, kalian sudah tahu pada malam itu, kan?" Alice mengedipkan sebelah matanya genit. Marauders kompak memasang ekspresi jijik, bonus Sirius yang tiba-tiba mual.
"Darimana kau tahu itu semua?" tanya James dengan nada marah bercampur curiga.
Alicia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum nakal, "Ra-ha-si-a~" jawabnya mendayu. Sedikit terkekeh kecil saat melihat wajah-wajah di hadapannya mengerenyit. Sungguh, Alice merasa senang saat ini. Bisa mendapat mainan berupa empat pemuda konyol yang bisa menghiburnya adalah hal yang jarang. Dulu Alice 'bermain' dengan beberapa profesor menyebalkan dan mahkluk-mahkluk hitam—tentu saja dia senang bisa dapat teman sepermainan yang 'sederajat' dengannya. (Yeah, dengan melupakan fakta kalau dia wanita paruh baya, tentu.)
Remus berjalan mendekati James, "Sudahlah. Orang seperti kalian tidak akan bisa bicara baik-baik dengannya. Masalahnya hanya akan bertambah pelik." pemuda itu menghela nafas, memutar tubuhnya sedikit ke arah Alice yang menatapnya datar, "Setelah jam sekolah usai, bisakah kita bicara berdua saja, Magnabad?" tanya Remus, tidak bisa menyembunyikan nada memohon dalam suaranya. Demi terurainya masalah ini, Merlin, seorang Remus harus memendam lamat-lamat rasa kesalnya, setengah pada dua sahabat nekatnya dan sisanya pada gadis ular di hadapannya ini. Gadis yang menjadi pemicu masalah.
Alice mengangguk pelan, "Tidak masalah, Lupin." dan tersenyum tipis. Remus tidak tahu apakah senyum itu tulus atau tidak kali ini.
"Baik. Aku akan tunggu di sini." dengan canggung, Remus terpaksa tersenyum balik dan mengangguk. Menyikut pelan James yang masih menatap gadis itu gusar dan menarik tubuh pemuda kacamata itu untuk mengikutinya. Sirius memberikan death glare terakhirnya pada Alice yang hanya tersenyum manis menanggapinya. Peter sempat melirik untuk melihat tangan gadis itu melambai menyatakan perpisahan dengan senyum yang dia tidak bisa artikan.
Alice menatap empat punggung yang berjalan menjauh hingga tidak terlihat karena termakan oleh kerumunan murid-murid yang mulai bubar.
Matanya berganti menyusuri lantai batu. Agak khawatir benda paling berharganya patah terinjak sepatu orang. Beberapa saat kemudian sebuah helaan nafas berat terdengar.
"Sial, dimana tongkatku?"
Pelajaran sejarah sihir selalu membosankan. Para murid yang keluar dari kelas sejarah sihir profesor Binns menghela nafas lega, kecuali Alicia. Ya, Alice memang menyukai sejarah. Gadis itu merutuk saat keluar dari kelas dan cukup menyesal tadi pagi sedikit membuat keributan dengan Marauders. Cukup lama dia mencari tongkat sihirnya dan hampir saja berteriak emosi saat menemukan tongkatnya itu agak rusak. Karena pencariannya itu, dia juga terlambat, meski dia juga sempat tersesat, sih. Walaupun bergelar dewan tertinggi auror dan dijuluki penyihir terhebat abad 24, sepertinya hal itu tidak menolongnya untuk cepat beradaptasi dengan jaman barunya ini, kan?
Kelas selanjutnya adalah Transfigurasi. Alice mencari-cari wajah familiar yang kira-kira akan satu kelas dengannya. Tentu saja dia tidak mau terlambat lagi kali ini. Dan tersenyum senang begitu melihat Severus berjalan cepat beberapa langkah di depan. Alice menghampirinya dengan berlari kecil hingga berdiri sejajar dan tersenyum kekanakan begitu Severus berhenti dan menoleh ke arahnya.
"Apa maumu, Magnabad?" desis Severus tanpa basa-basi. Pemuda itu sedikit menurunkan pandangan sinisnya pada Alice yang memang bertubuh lebih mungil.
Alice menggaruk kepalanya, nyengir, "Aku tidak tahu dimana kelas Transfigurasi. Kupikir kita bisa pergi bersama?" jawabnya sambil membujuk.
Tatapan sinis Severus makin menjadi saat cengiran gadis menyebalkan dihadapannya ini mengingatkannya pada pemuda tolol berkacamata yang belakangan ini mendekatinya, "Tidak." jawab Severus singkat. Lalu berbalik dan kembali berjalan cepat. Tidak memperdulikan Alice yang merengut di belakang.
Alicia berjalan di belakang Severus, sedikit tertinggal karena langkah kakinya pendek-pendek, "Kalau begitu, aku mengikutimu saja!"
Severus tidak membalas. Terus berjalan dan tidak menoleh sedikit pun ke belakang. Sambil berpura-pura tidak mendengar rengutan Alice yang memintanya berjalan pelan-pelan.
Belum terlambat, namun ruangan kelas sudah cukup terisi. Pandangan Severus menyapu seluruh ruangan untuk mencari tempat kosong bagi dirinya sendiri, tapi matanya bertumbuk pada mata hazel yang tersenyum sambil melambaikan tangan padanya. Severus mendecih pelan dan berjalan ke arah satu tempat kosong di belakang. Baru saja dia duduk, Alice muncul di balik pintu. Gadis itu mengedarkan pandangan, tersenyum saat sadar kalau kelas ini adalah kelas gabungan Slytherin dan Gryffindor. Sebuah senyuman ramah terhias saat matanya bertemu dengan mata hijau Remus. Lalu dengan cepat berganti menjadi juluran lidah begitu melihat Sirius yang duduk bersama surai madu itu.
Alice tersenyum lebar saat melihat reaksi Sirius yang terlihat gusar. Sepertinya dia cukup menikmati bersikap kekanakan seperti ini. Puas dengan reaksi Sirius, Alice berjalan ke salah satu meja kosong. Meja itu hanya berjarak satu setengah meter di sebelah meja Remus dan Sirius, dan berada tepat di depan meja James dan Peter. Alice menoleh, menatap James dan Peter bergantian, "Senang bertemu lagi!" ucapnya ramah.
James memandang gadis di depannya gusar, "Kau bersikap seolah tidak pernah ada hal buruk yang terjadi diantara kita, Magnabad."
"Oh, itu kan beberapa jam yang lalu. Waktu itu sudah lewat." balasnya terkekeh kecil. "Karena pertengkaran itu, tongkatku jadi rusak." lanjutnya lagi dengan wajah sedih yang dibuat-buat, sambil melirik Peter.
James memutar mata melihatnya, dia mengerti arti lirikan gadis itu pada sahabatnya, "Merlin, kau bisa jadi artis terkenal dengan aktingmu itu." dia melipat kedua tangannya di depan dada, menantang, "Apa kau mau menyalahkan Peter atas tongkatmu?"
Alice kembali melirik Peter, lalu menggeleng pelan, "Tidak, meskipun aku sedikit menyesal, sih." dia menghela nafas, "Aku tidak menyalahkannya karena bagiku, itu pertengkaran yang menyenangkan. Belum pernah ada yang mementalkan tongkatku seperti itu." Alice terkekeh kecil saat mengingat aksi James tadi.
James dan Peter mengernyit heran, "Jadi kau tidak menganggapnya serius?" tanya James dengan sedikit geram.
Alice memasang wajah bingung, "Apanya yang serius?"
Pemuda berkacamata itu mendengus kesal, "Kau mengetahui rahasia kami dan mengejeknya." jawabnya sambil menunjuk pemuda tambun di sebelahnya, "Itu adalah hal serius bagi kami, Magnabad." hazelnya menatap tajam.
"Apa kau khawatir?" tanyanya melipat kedua tangannya di atas meja James, "Malam itu, aku sudah berjanji pada Lupin. Apa dia tidak memberitahukannya pada kalian?" lanjutnya melirik Remus yang juga memperhatikan interaksi mereka. Hanya saja dia tidak mendengar, karena mereka berbicara dengan suara pelan.
"Tidak." jawab James singkat.
Alice mendesah malas, "Kalau aku sudah berjanji, aku tidak akan pernah mengingkarinya." senyuman menghias wajahnya, "Maukah kau percaya pada ular ini, Potter?"
"Tidak ada ular yang dapat dipercaya."
Alice tertawa pelan, "Kau bisa tanyakan soal janjiku pada Lupin, dan oh—" Alice menoleh sedikit menatap Peter, "Kutarik kata 'pengecut' dari kalimatku malam itu."
James mulai kesal lagi, "Hanya itu saja? Kau tidak meminta maaf padanya?"
Alicia tersenyum sedih, kali ini tulus, "Mungkin kau tidak akan bicara seperti itu jika saja kau tahu apa yang akan terjadi, Potter." dia menggeleng lemah.
James mengerenyit bingung, "Apa maksud—"
"Good Morning, Class!" suara wibawa Profesor McGonagall menandakan kelas transfigurasi dimulai. Menginterupsi James yang tidak sempat bertanya. Alice memberikan senyuman terakhirnya pada kedua pemuda di belakangnya dan berbalik ke depan.
Minerva memperhatikan murid-muridnya, dan berjalan ke arah seekor burung murai yang bertengger di tongkat besi yang cukup tinggi, "Aku ingin kalian merubah burung ini menjadi sebuah cawan. Semakin bagus cawannya, maka nilai kalian juga semakin bagus. Sekarang aku akan mencontohkannya." Minerva hanya perlu sedikit mengayunkan tongkat sihirnya, "Vera verto." dan burung murai itu berubah menjadi cawan emas yang cantik.
Minerva berdeham saat ruang kelas mulai riuh, "Aku tahu kalian sudah mempelajari ini di tahun kedua. Tapi yang membuat pelajaran kali ini berbeda, aku ingin kalian merubah—" dia kembali mengayunkan tongkat sihirnya, kali ini ke seluruh ruangan,"—mahkluk ini."
Muncul sebuah toples kecil berisi seekor(?) pixie di atas meja masing-masing murid. Mahkluk nakal dan berukuran kecil itu tidak bisa diam dan membuat toples itu bergoyang-goyang. Alice sigap memegangi toplesnya agar tidak terjatuh, lalu terdengar suara benda jatuh di belakangnya. Gadis itu menoleh dan tersenyum geli pada Peter yang mengejar toplesnya yang berguling-guling ke belakang.
Profesor Transfigurasi itu berdeham saat melihat Peter yang akhirnya mendapat toplesnya. Beberapa anak Slytherin menertawakannya dan terdiam begitu Sirius memelototi mereka. Peter dengan langkah berat sambil tertunduk malu berjalan kembali ke bangkunya. Sedikit terhibur saat James menepuk bahunya pelan.
"Nah, ada yang tahu dimana titik kesulitannya?" tanya Minerva melanjutkan pelajaran. Lalu sedikit mengerutkan dahi begitu tidak ada tangan yang teracung. Wanita itu kemudian menatap Alice dan tersenyum. "Miss Magnabad?"
Alice menarik nafas, "Pixie adalah mahkluk ajaib, Profesor. Dibutuhkan konsentrasi dan kemampuan yang lebih tinggi untuk bisa merubahnya menjadi bentuk lain. Ditambah lagi, pixie memiliki kemampuan untuk menolak sihir yang dipaksakan padanya."
Profesor wanita itu tersenyum puas, "Benar. Lima poin untuk Slytherin." ucapnya, membuat murid barunya tersenyum senang. "Baiklah, kalian bisa melakukannya sekarang."
"Profesor?" panggil Alice dengan wajah ragu-ragu.
"Ya, Miss Magnabad?"
Alicia masih memegangi toplesnya yang bergoyang cukup keras, "Maafkan aku, tapi tongkatku rusak. Aku takut mantraku tidak berhasil." jelasnya.
Profesor McGonagall mengangkat alisnya, "Boleh kulihat tongkatmu?" dia menjulurkan tangannya, meminta tongkat Alice.
Alice mengangguk singkat, satu tangannya memegang toples dan satunya lagi meraih tongkat di saku bajunya, lalu meletakkan tongkat putih kesayangannya itu dengan hati-hati di tangan Minerva. Dahinya mengkerut saat melihat sebuah goresan kecil di sana, "Ini hanya sebuah goresan kecil. Aku ragu hal sekecil itu menyebabkan masalah pada tongkatmu." dia meletakkan kembali tongkat muridnya di atas meja.
Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat, "Tongkatku istimewa, profesor."
"Lalu?"
"Sedikit saja cacat maka akan membuat sihirnya menjadi lebih lemah, bahkan buruk. " jawabnya berusaha meyakinkan.
McGonagall menghela nafasnya tidak percaya, "Jangan mengada-ngada, Miss Magnabad. Lakukan saja tugasmu." lalu dia berjalan ke mejanya dan duduk memperhatikan murid-muridnya yang terlihat kesulitan merubah pixie mereka menjadi sebuah cawan.
Alice mendengus pelan mendengar jawaban Minerva. Sedikit khawatir sihirnya tidak sesuai dengan yang dia harapkan. Tangannya masih memegang toples itu kencang dan memperhatikan sekeliling, Sirius hampir berhasil, dan disebelahnya, Remus sudah mengubahnya menjadi cawan perunggu. Alice menengok ke belakang, Peter terlihat kesulitan dan itu membuatnya kembali tersenyum dengan tingkahnya. James sudah duduk manis dengan cawan perak yang cantik di hadapannya. Melihat lebih ke belakang lagi, Severus Snape juga tampaknya tidak kesulitan.
Gadis itu kembali berkutat dengan toplesnya. Pixie kecilnya tidak bisa diam sambil menendang-nendang dinding dalam toples itu kuat-kuat, berusaha keluar. Dia memperhatikan pixie kecilnya itu dan tiba-tiba mengingat kembali keisengan masa sekolahnya. Dulu dia pernah membebaskan puluhan pixie di dalam sangkar yang akan digunakan untuk ujian. Pixie-pixie itu membuat keributan yang heboh di Hogwarts. Para profesor mencurigainya tapi tidak bisa menemukan buktinya. Tentu saja dia tidak bisa melakukannya tanpa Yilmaz, sang partner-in-crime.
Sadar kalau dia dipelototi Minerva, Alice langsung meraih tongkat sihirnya dan mengacungkannya ke toples itu. Sebelum dia melakukan sihirnya, dia mengedarkan pandangannya sekali lagi, hanya beberapa murid yang bisa melakukannya. Alice menarik nafas dan mengayunkan tongkatnya dalam gerakan melingkar.
Vera verto.
Toples itu hilang dan pixie kecil di dalamnya perlahan berubah menjadi sebuah cawan emas dengan ukiran bunga yang cantik. Alicia tersenyum senang, setidaknya dia bisa melakukannya dengan baik. Meski niat awalnya dia ingin mengubah pixie itu menjadi cawan kristal es, tapi sebuah cawan emas juga tidak terlalu buruk. Dia kembali mengayunkan tongkat di atas cawannya dan membuatnya terisi air. Tangannya mengangkat gelas itu dan menunjukkannya pada profesornya.
"Luar biasa!" seru Minerva menghampiri meja Alice. Murid-murid yang lain ikut tertarik, "Ini cawan yang cantik sekali. Kurasa tidak mungkin dilakukan dengan tongkat yang rusak." lanjutnya tersenyum. "Kuhadiahi sepuluh poin untuk Slytherin." tambahnya lagi, kini dibarengi dengan seruan murid asrama ular yang bertepuk tangan.
"Terima kasih, profesor. Sebenarnya aku tidak berniat membuatnya menjadi cawan emas, tapi kondisi tongkatku yang sedikit cacat tidak bisa melakukannya." Alice tersenyum kecewa.
Dahi Minerva mengkerut bingung, "Melakukan apa?"
Senyum kecewa itu berubah menjadi senyuman lebar, menampilkan deretan gigi-gigi mungilnya, "Merubah pixie itu menjadi cawan dari kristal es. Aku sering melakukannya dulu." jawabnya dengan nada kekananakan.
McGonagall mengangkat alisnya setengah percaya setengah tidak, "Sayang sekali, tapi aku ingin melihatnya kalau bisa."
"Tentu, jika tongkatku sudah pulih." balas Alice masih dengan senyum lebarnya. Dia tahu profesornya ini belum sepenuhnya mempercayainya. Alice menatap punggung Minerva yang kembali berjalan ke mejanya, lalu mendelik ke meja Remus, tersenyum tulus saat pemuda itu tampak sedikit terkejut saat mereka bertemu mata. Bonus pemuda Black di sampingnya sedang menatapnya gusar.
.
Pelajaran transfigurasi selesai dan bel penanda istirahat siang berbunyi. Sebenarnya Alice ingin pergi ke aula besar bersama Severus yang terlihat langsung keluar ruangan, tapi dia harus mencatat beberapa catatan pelajaran demi mengejar ketinggalannya dengan salah seorang murid ular yang dikenalnya. Alicia yang sedang berjalan ke aula besar dihentikan oleh tepukan seseorang di bahunya.
"Sepertinya kita akan menjadi saingan berat, Magnabad?" tanya James yang tidak menantikan jawaban gadis itu. Dia malah berlari duluan mendahuluinya, entah mengejar atau dikejar siapa. Tadi James bersama Sirius dan Peter juga terlihat sedang mencatat sesuatu, yang gadis itu asumsikan sedang mencontek esainya Remus.
Baru selangkah dia berjalan, pemuda dengan surai keriting dan wajah menyebalkan—tapi ganteng—mencegatnya, "Cawan dari kristal es, eh?" sinisnya dengan senyum mengejek.
Alicia mendengus, "Ya. Aku bahkan bisa mengutukmu jadi berkutu seperti anjing, tahu?"
Ada kilau terkejut di mata kelabu Sirius, "Kau—" geramnya, jari telunjuknya menunjuk di depan wajah Alice, "—telah berjanji merahasiakan hal itu."
"Hmph—" gadis itu melipat tangannya di depan dada, lalu melirik pada Remus yang sedang berjalan ke arahnya bersama Peter, "sepertinya Lupin sudah memberitahu kalian, ya."
"Sebaiknya kau jangan macam-macam pada Remus nanti." balas Sirius mengancam.
"Tentu saja tidak." dia menggeleng, "Aku jelas tahu perbedaan sifat mencari gara-garamu dan Potter dengan Lupin."
"Ha. Sepertinya kau lupa kalau kau juga pencari gara-gara, Magnabad." lanjut Sirius sinis.
"Hentikan. Aku pusing jika kalian bertengkar. Sudah cukup pertengkaranmu dengan James kemarin, Sirius. Jangan memancing pertengkaran dengan orang lain lagi." tiba-tiba Remus sudah berada di belakang mereka bersama Peter. Surai madu itu menghela nafas menyaksikan pertengkaran dua orang di hadapannya.
"Apa kau bertengkar dengan Potter soal malam itu, Black?" tanya Alice mengulum senyum, menggoda iseng pemuda dihadapannya. "Kalian bertengkar karena aku, ya? Aku jadi merasa tersanjung."
Sirius mendecih, lalu menoleh pada Remus, "Kuharap kau bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya, Remus. Aku tidak tahan lagi dengannya."
Remus mendesah pelan, "Setelah itu? Aku yakin kau atau James mencari masalah baru dengannya."
Sirius berkacak pinggang, "Hei, sebenarnya kau ada di pihak mana, sih? Kau mau berteman dengan ular?" tanyanya gusar.
"Kurasa berteman dengan ular lebih baik dari berteman dengan anjing yang merepotkan." jawab Remus tidak kalah kesal. Dia melirik Peter yang jelas terlihat khawatir, lalu mendelik pada Alice yang juga—eh, menatap mereka khawatir?
Dengusan keras terdengar, "Baik, kalau itu maumu!" serunya marah sambil berbalik dan berjalan dengan langkah cepat. Hanya hening yang mengisi saat mereka menatap punggung Sirius yang semakin menjauh hingga dia menghilang di belokan.
Alice menoleh pada Remus, "Aku tidak bermaksud—maafkan aku, Lupin. Aku benar-benar minta maaf." ujarnya dengan wajah bersalah. Remus menoleh pada Peter yang terlihat sedikit terkejut sama seperti dirinya. Apa benar gadis ular di hadapannya ini sedang bersungguh-sungguh?
Remus menggeleng canggung, "Tidak, Magnabad. Dia memang kekanakan, tidak punya hal lain untuk dikerjakan selain mencari gara-gara."
Alicia ikut menggeleng lemah sebagai balasan, "Kalimatmu tadi bisa saja menghancurkan persahabatan diantara kalian, Lupin. Aku tidak mau menjadi alasan rusaknya persahabatan kalian."
Remus mengernyit bingung, ada apa dengan gadis yang dia ketahui sangat piawai akting ini? Lalu kenapa juga seorang Slytherin seperti dirinya perduli dengan persahabatan kelompok Gryffindor? Dia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran gadis itu sekarang. "Jangan khawatir, besok juga kami akan berbaikan."
Gadis itu menggeleng lagi, "Tidak. Aku sangat mengerti sorot matanya tadi, Lupin. Kumohon, minta maaflah padanya. Sampaikan maaf dariku juga, jika itu bisa mengembalikan keadaan kalian seperti awalnya." mohon Alice dengan raut yang jelas bersalah. Remus dan Peter lagi-lagi dibuat tidak percaya—jika dia berakting, Merlin, kenapa bisa sangat sempurna?
Remus hanya bisa mengangguk canggung, sedikit ragu-ragu saat menjawab kalimat Alice, "B-baiklah. Aku akan minta maaf padanya, hari ini." dan dibalas senyuman lega dari Alice.
"Terima kasih, Lupin." dia melirik Peter dan tersenyum singkat padanya, "Kalian bisa memanggilku Alicia, atau Alice, untuk lebih singkatnya."
Kedua pemuda di hadapannya mengangguk singkat, "Kau juga bisa memanggilku Remus, Alice. Bagaimana denganmu, Pete?" tanya sang surai madu menyikut teman tambunnya yang sedari tadi diam. Peter terlihat agak gelagapan saat disikut seperti itu.
"Kau—juga bisa memanggilku Peter." ujarnya setengah ragu, setengah takut. Ya, dia masih punya rasa takut dan mungkin, sedikit rasa dendam pada Alice, mengingat perkataan gadis itu padanya yang sedang terlelap dua malam lalu.
"Okay. Kuharap kita bisa berteman baik. Dan—" gadis itu menatap Peter, "mungkin aku akan bersikap sedikit keras padamu, Peter. Meskipun aku kasar padamu, tapi percayalah, aku melakukannya demi kebaikanmu."
Ada hening canggung yang menggantung.
Alice tahu kedua pemuda itu sedang heran dan bingung menanggapi perubahan sikapnya, jadi dia memutuskan untuk mencairkan suasana, "Ingin pergi bersama ke aula besar?" ajaknya ramah.
Keduanya mengangguk canggung serentak. Remus tersenyum tipis padanya, dan sedikit terkejut saat tangan gadis itu menarik sebelah tangannya lembut.
"Ayo." dia menatap Peter, tersenyum, "Kau juga." dan sebelah tangannya yang bebas meraih tangan Peter. Alicia menuntun mereka dengan berada selangkah di depan, dengan kedua tangannya memegang dua tangan pemuda yang berbeda di belakangnya. Dia tampaknya tidak perduli beberapa tatapan heran yang berasal dari murid-murid yang menyaksikan peristiwa langka itu. Ya bagaimana tidak aneh? Seorang gadis Slytherin sedang berjalan sambil menarik dua pemuda Gryffindor di belakangnya. Atau mungkin mereka menganggap dua pemuda itu telah dipaksa? Entahlah.
Sebelum mereka memasuki aula besar, Alice melepas genggamannya dan tersenyum manis mengucapkan pamit. Dia pergi duluan ke meja anak-anak ular, dan duduk di sebelah Severus Snape yang terlihat membaca buku dengan wajah kesal, entah kesal karena apa. Alice memangku dagunya dan menoleh menatap Severus. Pemuda itu begitu fokus menatap bukunya hingga tidak menyadari keberadaan Alice di sebelahnya.
Dengusan frustasi terdengar dari arah kanan. Alice yang baru saja ingin melahap sandwich kejunya tidak jadi memasukkan makanan itu dan melirik Severus yang menatap dia gusar. Oh, sepertinya dia sudah sadar kalau ada seorang gadis di sampingnya sedang makan. Dia meletakkan sandwich itu di atas piring dan membalas tatapan kelabu itu ramah, menjaga agar nada suaranya tidak terdengar sinis, hanya sebuah pertanyaan polos. "Kenapa kau terlihat kesal, Snape?" tanyanya langsung, bahkan tidak berbasa basi.
Dengusan itu terdengar lagi, "Tidak ada urusannya denganmu, Magnabad." jawabnya sinis, kembali fokus dengan bukunya.
Tapi Alice tahu dari gerakan mata Severus yang tidak berubah, pemuda itu hanya sekedar menatap halamannya, "Ada hal yang sangat mengusik hingga membuatmu tidak bisa membaca?" ooo, pertanyaannya terdengar sarkastik sekarang.
Severus tidak menoleh, bahkan tidak melirik, hanya saja cengkramannya pada kedua sisi buku kecil itu menguat, "Tidak." jawabnya singkat, masih terdengar dingin.
Alisnya naik satu, "Oke." balasnya, "Kalau kau butuh bantuan, kau bisa datang padaku. Kupikir ada beberapa pemuda tolol yang mengganggumu?" tanyanya kembali meraih sandwichnya dan memasukkannya dalam mulut. Dia melirik Sev yang masih tahan dengan wajah kerasnya.
"Kau murid baru, bagaimana kau bisa tahu?" kini kelabu itu menoleh menatapnya.
Butuh beberapa detik untuk menelan makanannya hingga dia bisa menjawab, "Oh, Malverick menceritakannya padaku." jawabnya bohong. "Mereka pengecut, no? Empat lawan satu." gadis itu mengarahkan matanya ke meja anak-anak singa. Ada Marauders sedang duduk dua-dua. James di samping Sirius dan Peter duduk bersama Remus. Sayang, Alice tidak bisa melihat ekspresi Sirius sekarang karena pemuda itu duduk membelakanginya. Padahal dia ingin melihat reaksinya setelah pertengkarannya dengan Remus tadi.
"Apa kau kasihan padaku?" mata Sev memicing padanya, "Aku tidak butuh bantuanmu. Aku tidak membutuhkan bantuan siapapun." desisnya tajam, menakan kata terakhir dalam kalimatnya.
"Kasihan?" Alice memasang ekspresi tertarik, "Ow. Tentu saja tidak." dia menggeleng cepat, "Aku hanya berpikir kalau kau butuh bantuan untuk menghajar mereka, aku akan selalu ada." dia tersenyum lebar memamerkan gigi-gigi putih mungilnya. Dia bersumpah bisa mendengar Severus mendecak hampir tidak terdengar.
"Dengar. Aku tidak suka saat ada orang lain mencampuri urusanku, Magnabad."
"Aku tidak mencampuri urusanmu, well—belum." menekan kata terakhirnya, dia nyengir kuda tidak perduli tatapan tajam Sev, "Aku akan senang jika kau mengundangku ikut menghajar mereka."
"Aku bisa menghadapi mereka sendirian selama ini. Aku tidak butuh." Sev berdiri dari kursi, "Kupikir sudah cukup pembicaraan ini." dia melengos pergi begitu saja, meninggalkan Alice yang menatapnya dari belakang.
Dia jauh lebih dingin dari yang kukira.
Gadis itu hanya mengangkat bahu sebelum memasukkan sandwichnya ke dalam mulut, tapi pandangan matanya melihat sosok James yang buru-buru pergi keluar.
Apa dia mengejar Severus?
Sedetik kemudian Alice mendesah pelan dan menggumam 'tidak mungkin', lalu melanjutkan melahap sandwichnya. Sesekali matanya beradu dengan Remus, membuatnya tersenyum tipis. Pemuda itu juga tersenyum dan mengangguk pelan sebagai balasan. Dan Alice juga sepertinya harus menanyakan kondisi hubungannya dengan Sirius saat mereka bicara nanti.
Alice menatap langit biru di atas kepalanya. Ini masih hari pertama, tapi semuanya terasa begitu menyenangkan. Mungkin dia bisa mengesampingkan tujuannya sebentar dan menikmati hidup sebagai gadis berusia enam belas tahun, di jaman 70-an. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup bukan? Lebih baik dia menikmatinya. Yilmaz pasti akan merecokinya dengan beragam nasehat dan omelan kalau dia berada di sini sekarang.
Alice tersenyum tipis.
Apa gunanya hidup kalau tidak dinikmati?
tbc~ chap depan udah ada Lily xD
