Triangle Friendship

Disclaimer:

Yasushi Akimoto, Satelight

.

.


.

.

*DUAR DUAR DUAR!*

"H..hati-hati semuanya..!"sahut Takamina panik.

*DUAR!*

*JLEB*

"Ahk..!"

"NAGISA!"teriak Chieri.

Chieri pun menangis karena Nagisa tertembak, dan tepat di bagian dadanya, tapi..

"..."

"Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?"tanya Nagisa polos.

"..."

"Chieri?"tanya Nagisa.

"..."

"Kenapa kau bengong..?"

"..."

Semuanya menatap Nagisa dengan mata tidak percaya, kaget, dan takut.

"N..Nagisa.. K..kau masih.. h..hi..dup...?"tanya Makoto dengan terbata-bata. Dia sepertinya ketakutan dan gugup.

"Tentu. Kalau aku sudah mati kenapa aku masih bisa bicara dengan kalian?"balas Nagisa tenang seperti tak bersalah.

"L..lihat.."Sonata pun menunjuk ke arah dada Nagisa. Nagisa pun meliriknya, dan alhasil..

"..."

Dia jadi ikut merinding..

.

.

1..2..

.

.

"AAAAA!"

"KYAAAAAAAAA!"

Teriakan Nagisa berhasil membuat yang lainnya ikutan teriak(?). Mereka menjadi saling panik satu sama lain(?).

"A..ada apa ini..?! Kenapa menjadi bolong seperti ini..?!"tukas Nagisa dengan nada penuh heran dan panik.

"T..tadi kau ditembak oleh sesuatu..!"sahut Yuuka.

"Ditembak?! Tapi kenapa aku tidak mati?!"Nagisa menjadi semakin panik.

"AKU TIDAK MAU KAU MATI! Aku bersyukur kau tidak mati setelah ditembak, tetapi, aneh, kenapa bekas tembakannya menjadi bolong?"ucap Chieri.

TING..

"Hah?"

Seketika, 'luka' Nagisa pun menjadi sembuh, tertutup, dan hilang (bad Indo, yeah :v)

"Mungkin karena.. jepit rambut ini..?"gumam Nagisa.

".. Mungkin.. Dan jujurlah, darimana kau dapat jepit rambut ajaib ini?"tanya Chieri.

"Aku jujur! Aku mendapatkannya dari kotak itu! Ah, ini suratnya, jika kalian tidak percaya! Bacalah!"ucap Nagisa berusaha meyakinkan mereka semua.

"Berikan padaku."Takamina langsung mengambil surat itu dari tangan Nagisa. Lalu ia membacanya.

.

.

"Pantas saja, kotak itu bukan sembarang kotak. Tapi, apa yang dimaksud oleh bahaya yang akan datang, yah?"Takamina keheranan.

"Um, aku tidak tahu.."jawab Nagisa.

"Kita harus berhati-hati.."ujar Yuuka.

.

.

.

Hidden Place..

.

.

"Tuan.."

"Ada apa? Apa kalian berhasil?"

"..T..tidak..Tuanku.."

"APA?! GADIS SEPOLOS ITU KAU TIDAK BISA MEMBUNUHNYA?! APA YANG SALAH DENGAN OTAK KALIAN?!"

*PAK!*

"Agh..! Ma..maafkan kami Tuan! Kami sudah menembaki gadis itu, tetapi dia masih saja tetap hidup..!"

"Grrh! Kalian harus secepatnya membunuh gadis bejat itu! Kalian harus mencari solusi sendiri untuk membunuhnya! Mengerti?!"

"Uh, baiklah, Tuanku.."

.

.

.

AKB Dorm..

.

.

"... Sungguh mengherankan.."gumam Nagisa dalam hati sambil menyentuh jepit rambut yang sedang dipakainya itu.

"Nagisa, kenapa kau belum tidur?"tanya Chieri.

"Um, kau tidur saja lebih dulu.. Aku akan menyusul.."jawab Nagisa.

"Nagisa, aku ingin tanya.. Belakangan ini kau sering melamun dan tidak menghiraukan apa yang terjadi di sekitarmu. Kau juga sering pergi keluar. Apa ada masalah denganmu?"balas Chieri.

"..."

"Aku.."

"Katakan padaku.. Bukankah kau pernah bilang jika kau ingin agar aku menjadi lebih terbuka padamu? Bagaimana aku bisa terbuka padamu jika kau saja tidak mau mengatakan apa yang terjadi padamu?"

"Hentikan Chieri.. Aku sedang tidak mau diganggu."ujar Nagisa.

"Aku tidak akan berhenti sebelum kau mengatakannya padaku!"Chieri menjadi berontak.

"Kenapa?! Apa yang salah dengan kepalamu?! Kenapa kau bersikap seperti ingin mengetahui sesuatu dariku?!"

"Nagisa, aku hanya ingin membantumu mencari solusi jika kau ada masalah!"

"Chieri..! Berhenti memaksaku.."Nagisa mencoba untuk menahan amarahnya.

"Aku akan tetap memaksamu sampai kau mengatakannya!"

"DIAM !"

...

.

.

"K..kau.."

"APA LAGI?! KAU INGIN MEMAKSAKU LAGI SAMPAI KEPALAKU PECAH, HAH?!"amarah Nagisa mulai meledak.

"..."Chieri hanya bisa tertunduk diam sambil mengepalkan tangannya. Air mata tampak menetes dari matanya.

"Hh...N..Nagisa... K..Kau tahu...?"

"Apa?!"bentak Nagisa.

"..."

Chieri pun mengangkat mukanya. Pipinya memerah. Nagisa sangat terkejut ketika melihat air mata Chieri mengalir di pipi yang memerah itu.

"Kau sudah berubah..! Kau bukanlah lagi Nagisa yang menyenangkan..! Kau bukan lagi Nagisa yang KUKENAL!"ucap Chieri dengan nada yang marah bercampur sedih. Kemudian, Chieri berlari meninggalkan ruangan itu dan membanting pintu.

*BAM!*

.

.

.

.

.

"..."

"Acchan! Apa yang terjadi malan-malam begini?"Yuuko, Takamina, dan Kanata tiba-tiba saja datang membuka pintu.

"..."

"Hei, kenapa anda diam saja?"tanya Kanata.

"Chieri.."

"Ada apa dengannya?"

"Dia.. pergi.."

"Aku dengar kalian baru saja berantam.."ucap Suzuko secara tiba-tiba.

"Sudahlah, lupakan.. Ayo, semuanya kembali ke kamar masing-masing!"perintah Takamina.

"Hai.."jawab mereka semua.

"... Nagisa.."ucap Takamina.

"Ada apa, Takamina-san?"tanya Nagisa.

"Ikut aku."

"Tapi.."

"Sudahlah.. Kita ke ruang makan.."

"Un, okelah.."

.

.

.

Di ruang makan..

.

.

"Apa yang terjadi sehingga kalian bertengkar?"tanya Takamina.

"D..dia memaksaku.."

"Memaksa untuk apa..?"

"..."

Kemudian Nagisa menceritakan semuanya pada Takamina.

"Aku mengerti. Jadi kau sering keluar belakangan ini untuk bertemu Michi, dan Chieri curiga lalu berusaha menanyakannya padamu, tapi kau tidak ingin memberitahunya, ya kan?"ujar Takamina.

"Iya.."

"Tapi, sebaiknya kau memberitahunya pada Chieri secepatnya, jika tidak, kalian bisa saja bermusuhan, dan menurutku permusuhan antara sesama member di AKB0048 sangatlah buruk. Bisa saja, kita akan pecah dan tidak bersatu lagi. Jadi aku anjurkan anda harus secepatnya meminta maaf pada Chieri.."

"Uh, ya, anda benar.."jawab Nagisa.

"Ngomong-ngomong, kita harus mencari Chieri juga, jika dia masih tetap di luar asrama, mungkin Tsubasa-san akan menghukumnya."

"Baiklah, ayo."

.

.

Diluar asrama...

.

.

"Nagisa sekarang sudah berubah..!"Chieri tidak henti-hentinya mengucapkan kata-kata itu sambil menangis dan memukul-mukul pohon yang tepat berada di depannya.

"..."

"Hhh..?"

Seseorang menepuk bahu Chieri dari belakang. Chieri pun langsung menoleh ke belakang.

"T..Takamina-san..?"

"Chieri, berhentilah menangis dan melukai dirimu sendiri."ucap Takamina dengan pelan dan santai.

"C..Chieri.. A..aku minta maaf.."Nagisa tiba-tiba saja muncul dari belakang.

"N..Nagisa..?!"bentak Chieri seketika melihat Nagisa.

"Ah, jangan marah dulu! Dia ingin mengatakan sesuatu padamu..!"lerai Takamina.

"Hhh.. B..baiklah Chieri. Aku akan katakan apa yang kau inginkan dariku.."

...

.

.

"Jadi begitu, kenapa kau tidak bilang dari tadi? Kalau kau mengatakan itu dari tadi mungkin kita tidak akan bertengkar seperti tadi!"

"Uh, aku minta maaf..! Aku janji aku tidak akan menyembunyikan sesuatu lagi darimu!"kata Nagisa.

"Anda juga, Atsuko-san, anda juga harus memegang janji yang barusan kau ucapkan di hadapan kami berdua!"balas Takamina dengan semangat.

"Ya, um, sepertinya kita harus segera pergi ke dalam asrama.. Ayo."ajak Chieri.

Takamina dan Nagisa mengangguk lalu pergi berjalan bersama-sama.

.

.


To Be the Next Chapter...!