Chapter 3 is updateeeeeeeee

Review review review yah….

-Kitty eyes-

Disclaimer:

Bleach © Tite Kubo

"Bagus, jangan sampai kau mengkhianati kepercayaan kami," katanya.

"Pasti…" kata Hitsugaya. Tak lama kemudian, sambungan terputus.

"Aku akan secepatnya menghancurkan perusahaan kalian ini…" gumamnya pelan.

WHY DID I FALL IN LOVE WITH YOU

Chapter 3

Did I love him?

Hinamori memasuki ruangannya, merebahkan badannya ke kasur yang empuk sambil membayangkan hal yang baru saja dia alamai. Bahkan dia tidak menyadari hal itu. Seolah-olah hal itu terjadi dengan sendirinya.

"Toushiro-kun… menciumku…" katanya sambil memegang bibirnya. Dirasakannya bibirnya yang bergetar hebat. Dia meraih bantal dan menutup wajahnya dengan bantal itu.

"Kyaaaaaaaa…. Dia merebut ciuman pertamaku…" katanya.

Piiiip

Dia melihat hand phone miliknya bergetar di atas meja. Kuchiki Rukia. Dia langsung menjawab panggilan itu.

"Kuchiki-chan," katanya.

"Momo-chan, aku sudah di depan rumahmu, kamu jadi ikut pergi kan?" tanya Rukia dari sana.

"Ahh… baik. Aku segera kesana." Katanya. Dia menuruni tangga rumahnya kemudian membukakan pintu rumahnya. Sudah ada Rukia dan yang lain disitu.

"Ah, Nemu-chan, Rangiku-san," katanya Hinamori.

"Tebak siapa yang kami bawa kemari…" kata Rukia. Hinamori melongo kemudian melihat sosok seorang laki-laki yang tegap berjalan kea rah Momo.

"I..Isai-kun…" kata Hinamori Blushing. Dia Hisagi Shuuhei. Orang yang diam-diam dia sukai. Namun, dia mengira kalau Hisagi hanya menganggap dia sebagai adiknya.

"Momo-chan," kata Hisagi sambil mengusap kepalanya.

"Isai…kun… selamat datang. Ayo semuanya masuk ke rumahku," kata Hinamori blushing sambil mempersilahkan mereka masuk. Hitsugaya yang baru keluar dari kamarnya langsung menuju ruang tengah. Kaget. Dia langsung meraih tangan HInamori.

"Hey, apa kau sedang mengadakan pesta?" tanya Hitsugaya. Hinamori langsung melepas tangannya.

"Jangan kasar terhadap wanita, Toushiro. Tidak. Mereka kemari hanya berkunjung. Memangnya tak boleh?" tanya Hinamori tajam. Hitsugaya menaikkan satu alisnya kemudian tersenyum angkuh.

"Baiklah, aku harap ada wanita yang bisa menarik perhatianku," katanya sambil menuju ke ruang tengah. Hinamori langsung pergi menuju dapur.

"Huuuh, seenaknya saja dia berkata seperti itu," kata Hinamori.

"Minna, maaf menunggu lama. Minumannya sudah jadi," kata Momo. Sesaat dia tersentak melihatnya merangkul temannya. Rukia Kuchiki. Hinamori hanya menunduk sambil menyuguhkan minuman kearah temannya.

"Momo-chan, kau tak bilang kamu punya teman yang keren," kata Rukia sambi mengangkat gelas minumannya.

"Ahahaha, aku tak sempat mengenalkannya kepada kalian," kata Hinamori memaksakan senyumannya.

"Ya, karena dia terlalu sibuk," kata Hitsugaya sambil mengelus pipi Rukia. Bisa terlihat jelas kalau Hitsugaya mencoba membuatnya cemburu. Kini Rukia sudah seperti kepiting rebus.

"Ah, Toushiro. Kau terlalu nakal ya," kata Rukia sambil tertawa kecil. Tangannya memukul dada kekar Hitsugaya.

"Tidak. Aku mengatakan yang sejujurnya. Kau itu wanita yang manis, dan aku yakin kalau kau gadis yang cocok buatku," kata Hitsugaya. Momo sudah tak tahan dengan perlakuan Hitsugaya.

"Kau tak apa-apa, Momo?" tanya Hisagi yang langsung duduk di sampingnya. Hinamori kaget langsung tertawa gugup.

"Tidak..apa-apa, Isai-kun…" katanya terbata-bata.

"Kau kelihatannya kurang sehat," kata Hisagi sambil menempelkan tangannya di kening Momo.

"Tidak, aku baik-baik saja," kata Hinamori. Dilain pihak, Hitsugaya berjalan ke arah Hinamori meninggalkan Rukia. Sementara Rukia langsung bingung dengan sikap Toushiro.

"Ya, mungkin dia kurang sehat." Kata Hitsugaya sambil duduk di tengah-tengah antara Hisagi dan Momo.

"Mungkin kau butuh sesuatu?" tanya Hitsugaya dengan senyuman yang begitu oh! So sexy. Namun Hinamori tak bergeming sedikitpun. Matanya mengarah ke Hisagi yang jengkel dengan tingkah Toushiro.

"Ya, bagaimana kalau kau duduk dengan Rukia atau dengan Nemu?" tanya Hinamori yang pindah tempat di samping Hisagi. Hitsugaya hanya menaikkan satu alisnya kemudian kembali ke tempat duduknya disamping Rukia.

"Maaf membuatmu menunggu lama, Rukia…" kata Toushiro. Rukia hanya tersipu malu melihat kelakuan Toushiro.

"Tidak apa-apa," kata Rukia.

"Ne, Hinamori. Apakah kau ada waktu besok?" tanya Hisagi.

"Ummm…aku rasa aku tidak punya aktivitas apa-apa besok. Kenapa?" tanya Hinamori.

"Mau jalan denganku?" tanya Hisagi. Wajah Momo kini berubah menjadi tomat matang. Kemudian dengan perlahan tapi pasti dia mengangguk. Hisagi hanya tersenyum ditempat kemudian mencium pipi Hinamori.

"Kyaaaaa apakah ini benar-benar nyata?" katanya membatin.

"Baiklah, aku tunggu besok. Sekarang aku mau pulang dulu. Ada pekerjaan lain yang harus aku kerjakan," kata Hisagi.

"Ne, Toushiro. Aku pulang dulu." Kata Rukia mengikuti Hisagi dan Nemu juga Rangiku.

"Bagus, semuanya sudah pulang. Sekarang kita bisa berdua lagi," kata Hitsugaya merangkul tangan Hinamori. Namun dengan cepat tangannya menepis rangkulan itu dan berdiri beberapa meter di hadapan Toushiro.

"Apa-apaan sikapmu tadi, hah? Berdua dengan Kuchiki-san?" tanya Hinamori kesal sambil melipat tangannya. Hitsugaya langsung menaikkan satu alis matanya.

"Kenapa kamu jadi tak terima? Kau cemburu?" tanya Hitsugaya yang langsung mengenai jack pot nya. Hinamori hanya memalingkan pandangannya dengan wajah blushingnya.

"Kuchiki-san tak mungkin menyukaimu, karena cepat atau lambat dia akan menyadari kalau kau itu hanya akan memainkan hatinya," kata Hinamori pergi. Namun tangan Hitsugaya telah lebih dulu menggapai pergelangan tangannya.

"Kamu tenang saja…" kata Hitsugaya kemudian menarik pergelangan tangan itu hingga pemiliknya memeluk Hitsugaya.

"Aku tidak akan tergoda dengan wanita itu. Karena hanya kau yang dapat menggoda jiwaku," kata Hitsugaya sambil mengelus leher Hinamori.

"Menjauh dariku!" kata Hinamori sambil berlari menuju kamarnya.

"Belum bisa juga ya…" gumam Hitsugaya.

Hinamori dikamarnya, hanya memeluk boneka kelinci ukuran besar yang merupakan hadiah ulang tahunnya yang ke 5 dari Ichigo. Dia hanya bergumam tak jelas, mengingat apa yang tadi dikatakan oleh Toushiro.

"Hanya aku? Untuk orang setampan dia…" gumamnya dalam hati. Kemudian matanya terbelalak. Tampan? Sejak kapan aku mengakui ketampanannya? Baiklah. Aku mengakui kalau dia itu tampan, namun belum cukup untuk membuktikan kalau kelakuannya setampan wajahnya.

"Ichi-nii… kapan pulang ya? aku merindukannya…" gumamnya lagi sambil memeluk foto kakak laki-laki satu-satunya. Hingga waktu terus bergulir membuatnya tertidur pulas.

"Hey, kau lupa mengunci pintu…." Panggil Hitsugaya sambil masuk ke kamar Hinamori. Namun matanya langsung berubah menjadi sayu. Seolah-olah kedamaian merasuk kedalam urat nadinya.

"Oyasumi…" katanya sambil memperbaiki posisi selimutnya yang berantakan. Dia letakkan kembali foto Ichigo yang terletak di samping bantal Hinamori ke atas meja. Setelah dia rasa cukup pas, dia keluar dari kamar itu.

Next day….

"Ohayou, Hinamori…" sapa Hitsugaya yang duduk di sofa dengan cappuccino late miliknya yang masih panas. Hinamori hanya mengangguk tanpa melihat wajah Hitsugaya. Kelihatannya dia sangat sibuk.

"Kenapa?" tanya Hitsugaya sambil mendekati Hinamori.

"Tidak. Aku harus cepat-cepat sebelum terlambat," kata Hinamori.

"Naik motorku saja, aku juga mau langsung pergi kerja. Mumpung lagi satu arah." Kata Hitsugaya sambil berlalu dari Hinamori. Disisi lain, Hinamori hanya melongo melihat perubahan drastis dari Hitsugaya yang semalam itu seperti orang pervert sekarang mendadak dingin.

"Kau baik-baik saja kan, Hitsugaya-kun?" tanya Hinamori sambil melihat ke mata emerald yang memancarkan kekosongan.

"Iya, aku tidak apa-apa." Katanya sambil menutupi wajahnya dengan Helm berdesain naga biru. Hinamori masih belum bergeming dari posisinya hingga akhirnya Hitsugaya membuyarkan lamunannya.

"Kenapa diam disitu? Kau mau benar-benar telat ya?" tanya Hitsugaya. Hinamori yang tersadar dari lamunannya langsung naik di belakang Hitsugaya.

"Jangan kencang-kencang bawanya ya…" kata Hinamori memeluk ujung jaket Toushiro. Didepannya, Toushiro hanya mengangguk.

"Ada apa dengannnya? Kenapa dia jadi dingin begini ya? apakah ada yang salah? Daritadi aku tidak melihat tingkah lakunya yang konyol." Gumam Hinamori sambil memperhatikan Hitsugaya dari belakang.

"Sudah sampai," kata Histugaya membuyarkan lamunan Hinamori tentang perubahan Hitsugaya.

"Eh, sudah sampai ya…" katanya lalu turun dari motor Hitsugaya. Di depan pagar, sudah ada Rukia, Nemu dan Rangiku yang menunggu kedatangannya. Hitsugaya melihat Rukia yang melambaikan tangannya ke arahnya. Dan betapa terkejutnya HInamori saat melihat ekspresi Hitsugaya yang datar itu. Tak lama kemudian, dia meninggalkan sekolah itu.

"Ne, ne, Hinamori-san… HItsugaya-kun sejak kapan tinggal satu rumah denganmu?" tanya Rukia antusias.

"Sejak kemarin. Dan aku ingin memperingatkanmu, Rukia-chan. Dia bukanlah orang yang sepertinya kau lihat baik. Dia itu mesum. Dia selalu menggodaku setiap kali aku senggang dirumah," jelas Hinamori.

"Dasar Momo-chan, mana mungkin dia dengan tampang dingin begitu berkelakuan mesum?" kilah Rangiku sambil mengibaskan tangannya.

"Kau cemburu ya…" kata Nemu. Hinamori menunduk kesal.

"Aku tidak punya perasaan apa-apa kepadanya. Jadi, aku hanya ingin melindungi Rukia agar tidak termakan rayuan Toushiro." Kata Hinamori tegas.

"Aku… menyukai Toushiro… Hinamori. Tolong dekatkan aku dengan dia," kata Rukia sambil memilin ujung roknya sambil memasang wajah blushing.

DEG DEG DEG

Kenapa…. Dadaku terasa sesak….

"Kau menyukainya?" tanya Rangiku kaget saat mendengar pernyataan cinta yang mendadak itu. Yang ditanya hanya mengangguk sambil merona.

"Iya, saat dia mengelus lembut pipiku kemarin, saat dia tersenyum… ahhh…. Aku merasa kalau dia adalah orang yang aku cari selama ini," kata Rukia sambil tersenyum senang.

"Jadi, Hinamori… apa kau bersedia membantu Rukia-chan?" tanya Nemu. Hinamori terdiam. Dia cemburu? Kenapa harus cemburu? Bukankah dia membenci Hitsugaya? Bukankah kalau Hitsugaya mendapatkan pacar dia tidak bakalan di ganggu lagi? bukankah itu hal yang bagus buat dia? Tapi kenapa kali ini dia tidak rela?

"Hinamori-chan…." Panggil Nemu lagi.

"I…iya, aku bersedia… tentu saja aku akan menolong Rukia," kata Hinamori memaksakan senyumnya.

Hitsugaya-kun…. Apakah kau juga merasakan hal yang sama seperti Rukia…

"Honto ka? Arigato Momo-chan…" kata Rukia sambil memeluk Momo. Tanpa dia ketahui kalau secara tak sengaja ada hati yang terluka.

Istirahat….

Seperti biasanya, Hinamori berkumpul dengan temannya di atap sekolah dengan bekal masing-masing. Namun mereka yang ada disana tau kalau ada sesuatu yang menyerang hati gadis kecil yang sedang mengaduk-aduk makanannya tanpa memasukkannya ke dalam mulutnya.

"Kenapa, Momo-chan?" tanya Rangiku melihat tingkah Hinamori berubah. Namun orang yang bertanya itu hanya dia jawab dengan bahasa isyarat dengan cara menggeleng.

"Aku hanya kangen Ichi-nii…" katanya. Baiklah, walaupun sebagian yang dia katakan itu benar, namun 70% dia memikirkan kata-kata Rukia tadi.

"Apakah aku mencintai Hitsugaya-kun?" gumamnya. Tak lama kemudian dia merasakan kalau hand phonenya bergetar. Dia meraihnya kemudian melihat layarnya.

"Halo Hitsugaya-kun…" katanya membuka pembicaraan. Sejenak semua orang disitu diam sambil mendekatkan telinga masing-masing ke hp Momo.

"Si tampan…." Kata Rangiku.

"Hey cutie, mau makan siang denganku?" tanya Hitsugaya dari sebrang sana.

"HAH?" kata mereka yang mendengar serentak. Terutama Rukia. Hinamori hanya terdiam sambil melongo melihat kata-kata Hitsugaya barusan. Namun di hati kecilnya merasa senang kalau Hitsugaya ternyata masih memikirkannya.

"Maaf, Hitsugaya-kun… aku sedang makan siang dengan temanku. Jadi tidak bisa ikut denganmu" kata Momo.

"Ah, aku mengajak Rukia kok… aku tidak tau nomor telfonnya jadi aku menelfonmu untuk mengajaknya makan siang bersama," kata Hitsugaya.

"Aku mau aku mau…" kata Rukia semangat. Hinamori, dalam hati hanya memendam kesal yang amat dalam ke Hitsugaya.

Kau membuatku marah Hitsugaya-kuuuuuuuuuuuuuuun!

Hinamori kini tengah berjalan menuju gerbang sekolah dengan Rangiku, dan Rukia sampai saat itu juga Hitsugaya telah menunggu di depan sekolahnya dengan motornya.

"Hitsugaya-kun… pasti sedang menungguku…" kata Rukia sambil memegang ujung jacket Rangiku. Kali ini, Hinamori hanya cuek. Tidak ingin hal seperti tadi terulang untuk kedua kalinya.

Yah… palingan dia mau ngajak Rukia-chan makan atau kencan

Rukia sudah berjalan mendekati Hitsugaya dengan detak jantung yang tak beraturan. Hinamori mencoba cuek dengan cara memandangi ponselnya seolah-olah dia sedang sms-san dengan seseorang. Nemu sedang pergi dengan Ishida.

"Hinamori-chan…" panggil seseorang dari dalam sekolah.

"I…isai…kun…" sejenak raut wajahnya yang masam berubah menjadi senang. Kemudian dia berlari kecil menuju Hisagi.

"Kau sudah siap? Bagaimana kalau kita pergi sekarang?" tanya Hisagi. Hinamori hanya mengangguk malu.

"Mau kemana mereka?" tanya Hitsugaya kepada Rukia yang ada di depannya.

"Mereka? Palingan kencan… kau tau kan kalau Hisagi dan Hinamori itu sedang PDKT, jadi biarkan saja mereka menikmati hari-hari mereka… ngomong-ngomong, apakah kau kemari untuk mengantarku pulang?" tanya Rukia. Hitsugaya hanya mengabaikan kata-kata Rukia.

"Maaf… sayang sekali Hinamori… kau harus menggantikan Ichigo sebentar saat meeting dengan Hueco Mundo advertising, karena kau adalah adik pemilik perusahaan Seireitei, jadi kau yang harus memimpin rapat," kata Hitsugaya menarik tangan Hinamori menuju motornya.

"Hi…hitsugaya-kun… aku masih kelas 3 SMU tau," kata Hinamori.

"Ya, ya, ya, nanti akan aku ajarkan bagaimana caranya," katanya sambil menyuruh Hinamori menaiki motornya. Setelah memasang helm, dia langsung menghidupkan mesinnya.

"Maaf Rukia… lain kali saja ya," katanya lalu pergi dengan Hinamori.

"I…iya," katanya setelah Hitsugaya pergi.

"Kau tau… terkadang aku berfikir kalau mereka berdua itu pacaran," kata Hisagi. Rukia hanya terdiam.

"Tidak mungkin… mana ada orang pacaran seperti itu," kata Rukia sambil memaksakan tawanya.

"Entahalah, tapi apapun itu… aku tidak akan menyerah mendapatkan Momo…" kata Hisagi kemudian pergi meninggalkan Rangiku dengan Rukia.

"Aku tak mengerti dengan mereka…" kata Rangiku.

"Tapi tetap saja… sepertinya aku sudah terlanjur menyukainya," kata Rukia tersenyum.

"Tunggu sebentar… sejak kapan Hinamori memimpin perusahaan? Dia kan masih kelas 3 SMU?" tanya Rangiku yang menyadari sesuatu.

"Sejak tadi," kata Hitsugaya. Kini mereka berdua ada disebuah café yang dekat dengan Karakura Plaza.

"Mou… kau membohongiku," kata Hinamori sambil menggembungkan pipinya. Minuman yang ada di depannya hanya dia mainkan dengan sedotan.

"Hey, minuman itu untuk diminum bukan diaduk-aduk seperti angin puyuh," kata Hitsugaya sambil menyeruput cappuccino latenya.

"Kau menggagalkan kencan pertamaku," kata Hinamori dengan wajah melas.

"Itulah tujuanku. Kau itu punyaku. Tak ada yang bisa mengambilmu dari aku," kata Hitsugaya

"Hey… kau tak bisa seenaknya berkata seperti itu! Aku bukan mainanmu dan kau tidak mungkin bisa memilikiku," katanya sambil melipat tangannya.

"Iya iya, sekarang belum. Tunggu saja tanggal mainnya," katanya sambil tersenyum membuat Hinamori yang melihatnya hanya merengut blushing.

"Ne, ne… ceritakan aku tentang kehidupanmu Hitsugaya-kun," kata Hinamori innocent.

"Kehidupanku? Untuk apa kau mengetahuinya?" tanya Hitsugaya spontan.

"Aku ingin lebih mengenalmu..." kata Hinamori menunduk sambil blushing. Di depannya, Hitsugaya bimbang. Memilih antara mengatakan yang sejujurnya atau bersandiwara.

"Aku… hidup hanya sebatang kara, Tou-san meninggal ketika aku berumur 5 tahun, Kaa-san pergi meninggalkanku dan pergi dengan laki-laki lain, aku hanya diasuh oleh kedua paman dan bibiku. Mereka berdua baru saja meninggal tiga bulan yang lalu," kata Hitsugaya singkat.

"Kenapa dengan paman dan bibimu Hitsugaya-kun?" tanya Momo penasaran.

"Dibunuh," jawab Hitsugaya singkat. Mata Momo terbelalak.

"Mereka berdua dibunuh oleh seorang komplotan yang mengincarku. Untungnya mereka sekarang sudah dipenjara dan entah kapan bebasnya. Tapi aku tau jika mereka sudah bebas nanti, sebelum waktu itu terjadi…" Hitsugaya berhenti berbicara membuat lawan bicaranya penasaran.

"Sebelum waktu itu terjadi…" kata Hinamori meminta Hitsugaya melanjutkan ucapannya.

"Aku akan membuat mereka berdua terkapar tak bernyawa di depan makam paman dan bibiku," kata Hitsugaya dengan mimic wajah yang serius.

"Ya ampun… kau cukup sadis," kata Momo yang melongo dengan ucapan Hitsugaya.

"Ya… tapi sebelum itu, ada seseorang yang harus aku hancurkan. Dia adalah orang yang menyebabkan kematian Tou-san dan menyebabkan semua ini terjadi. Dan dia… kini sedang dalam posisi pertahanan yang lemah," katanya serius.

"Siapa itu…" kata Momo.

"Entahlah… kau tak perlu tau sejauh itu," kata Hitsugaya kemudian tersenyum angkuh.

"Intinya… hari ini aku telah mengacaukan kencanmu…" kata Hitsugaya di iringi teriakan Momo.

"Bagaimana dia sekarang?"

"Kelihatannya masih bermain-main dengan anak perempuan itu," mendengar jawaban itu, orang yang bertanya itu hanya menggumam pelan. Sementara yang memberikan informasi tadi hanya tersenyum lebar.

"Jadi… kapan kita bisa melanjutkan rencana kita?" tanya orang yang satunya lagi sambil membidik bola billiard bernomor 8.

"Kalau sudah ada aba-aba dari Hitsugaya," kata orang yang duduk di samping orang yang cengirnya lebar.

"Cih… anak itu kelamaan!" ungkap orang yang sedang main billiard tadi.

"Tenanglah… itu masih bisa kita atasi, sekarang santai saja dulu," kata orang yang duduk tadi.

"Baiklah, jika mereka masih terlena dengan permainan bodohnya kita langsung bertindak," kata orang yang main billiard tadi. Orang yang nyengir tadi mengangguk.

*****TO BE CONTINUE*****

Wew…

Akhirnya siap juga ^o^ maaf minna kalau Shicchi agak hiatus di dunia per-fanfic-an –halah- habis sekarang sedang UN UN nyaaa –nangis darah-.

Yah, seperti permintaan readers yang tercinta, chapter kali ini Shicchi panjangin demi memuaskan pelanggan –kicked-.

Ne, ne, ne, review yawww :3

Klik tombol review di bawah iniiiiii