Blood berdiri berdampingan dengan sorrow, mereka berdua menatap kota Tokyo dari sebuah gedung pencakar langit dengan sebuah sniper ditangan masing-masing.
"Kota yang indah."
Mereka berdua kemudian tertawa—menertawakan kelamnya masa lalu mereka masing-masing di kota yang indah itu.
So Close, Yet So Far Away oleh Naoya Yuuki
VOCALOID © YAMAHA, CRYPTON, ETC.
Miku/Luka
[Under the blue]
Sinar matahari mengintip dari celah-celah kecil dinding gedung Polivcelth—hari telah kembali terulang. Megurine Luka meringkuk dari tempat tidurnya, dia memejamkan matanya sesaat dan berpikir, apa yang harus dilakukannya dengan kota ini? Beberapa waktu ini sang polisi wanita itu benar-benar sedang mengalami masa sulit, dia tidak tahu harus melakukan apa. Anggota kepolisian yang lain sementara ini tidak memanggilnya dulu untuk menangani kasus, mereka tahu bahwa wanita itu butuh istirahat—itu semua terlihat dari kualitas kerjanya yang semakin menurun.
Rrrr… rrr…
Luka memiringkan tubuhnya mengambil telepon genggamnya yang berada tak jauh darinya.
Pip—
Dia mengangkat telepon itu.
"Hallo?" jawabnya.
Tidak ada jawaban melainkan helaan napas yang didengarnya.
"Baiklah akan aku matikan," ucapnya kesal.
"Tu-tunggu!"
"Ha? Apa maumu?"
"Ini aku Hatsune Miku."
Luka terdiam, Hatsune Miku? Siapa itu? Seingatnya Luka tidak pernah memiliki teman bernama Hatsune Miku. Tunggu dulu, apakah Hatsune Miku adalah orang yang ditabraknya beberapa hari yang lalu di hotel barrel? Tentu saja! Mereka sempat berkenalan, tapi darimana dia bisa tahu nomor Megurine Luka?
"Kenapa kau bisa tahu nomor teleponku?" tanya Luka sedikit penasaran, dia mulai berpikir bahwa orang ini berbahaya—sangat berbahaya.
Bukannya jawaban tetapi Luka malah mendengar suara tawa dari balik sana.
"Jangan bermain-main denganku!" teriak Luka sedikit kesal.
"Maafkan aku Megurine Luka. Aku sangat tertarik denganmu. Bagaimana kalau kita bertemu di café dan berbincang-bincang satu dan lain hal—singkatnya kita berkencan?" tawar si penelpon.
"Aku tidak menerima tawaran orang asing," tolak Luka.
"Begitu? Aku rasa aku bisa membuat Emilia menerima 'hukuman' karena dirimu."
Emilia? Luka segera bangkit dari tempat tidurnya begitu mendengar nama Emilia disebutkan dan membuka paksa sebuah pintu tua menuju sebuah ruangan kecil di tempat itu. Sial. Umpat Luka dalam hati, dia sama sekali tidak tahu bahwa sejak pembunuhan itu Emilia belum juga pulang, apa yang dipikirkan gadis kecil itu? Oh. Sekarang bukan waktunya untuk panik, mungkin saja Emilia sudah pulang menuju rumahnya, ya mungkin saja.
Luka menarik napasnya berusaha menenangkan dirinya. "Aku tidak percaya! Emilia pasti sudah pulang ke rumahnya. Lagian kenapa kau bisa tahu tentang Emilia?"
Ya, pasti.
"Kau tidak percaya ya? Mau dengar suaranya?"
Semuanya terdiam sesaat, Luka hanya menelan ludahnya. Tidak ada suara apapun sampai kemudian Luka dapat mendengar suara seseorang yang dikenalnya. Emilia! Dia ada di sana.
"Luka!"
"!" Luka membulatkan matanya. "Apa yang kau lakukan pada Emilia?!"
"Aku tidak melakukan apapun. Kalau kau mau Emilia pulang dengan tanpa luka, ayo kita makan bersama."
Luka terdiam sebentar lalu dia terlihat pasrah dan mengiyakan ajakan orang asing yang meneleponnya. "Baiklah, tapi bawa Emilia bersamamu."
"Aku tidak bisa, ini kencan kita. Setelah kita berkencan aku akan melepaskan Emilia dan akan aku pastikan dia pulang ke ruangan kecilmu dengan selamat."
Luka hanya menggeram mendengar gadis itu berbicara seenaknya.
"Rabbit Café, jam 8 malam ini."
"Ya."
Luka mematikan sambungan telepon, wanita itu menggeram kecil, dia kalah berargumen dengan seseorang yang tak dikenalnya. Tidak ada cara lain selain mengiyakan ajakannya, jika tidak gadis bernama Emilia itu akan dalam masalah besar.
Ngomong-ngomong soal Emilia, kenapa Luka bisa bertemu dan dekat dengan gadis kecil itu? Luka sama sekali tidak memiliki kesan atau memori pernah bertemu dengannya. Apakah dia terlalu memikirkan pekerjaannya sampai-sampai dia lupa dengan bagaimana awal dia dan Emilia bertemu? Luka juga tidak pernah bertemu orang tua Emilia.
Luka membalikkan tubuhnya lagi dan menutup matanya perlahan.
—pembunuhan kembali terjadi di Tokyo, seorang pemilik perusahaan pakaian dalam terbesar tertembak sebuah peluru sniper ketika hendak menikmati makan malamnya, disamping korban sebuah tulisan 'selamat makan' tertulis dengan darahnya, polisi yang datang hanya menghela napas berat, mereka tidak tahu siapa yang melakukan ini, pembunuhan acak ini adalah permainan seorang psikopat—
Luka membuka matanya, dia mendengar berita terus berlanjut dari radio kecil di dekatnya. Pembunuhan, dulu keluarganya juga dibunuh oleh sekelompok orang tak dikenal saat dia baru berumur tujuh belas tahun. Dibunuh oleh penjahat bertopeng yang sama yang mengincar nyawanya, untuk itulah dia menjadi seorang polisi dan bersembunyi.
Sebelumnya Luka pernah membunuh—tidak, bukan membunuh—Luka hanya membiarkan tetangganya terbunuh, saat itu dia sangat ketakutan dan tak bisa menggerakkan kakinya untuk meminta pertolongan. Setelah kejadian itu orang tua Luka jadi sering diteror—hingga mereka dibunuh dan terror berhenti.
Luka bangkit dari tempat tidurnya, masih sangat pagi untuk bertemu dengan sang pembuat janji. Luka berjalan menuju lemari pakaiannya, membuka lemari itu dan mengambil sebuah pistol di sana, Luka dapat mendengar suara dari luar ruangannya samar. Kemudian Luka memakai jaketnya dan berjalan keluar dari ruangan kecilnya itu.
ooo
Dua orang gadis berpakaian hitam dengan sniper berdiri di atas sebuah gedung pencakar langit, mereka mengambil posisi agak berjauhan.
"Siap diposisimu?" tanya salah seorang dari mereka.
"Ya," yang lainnya menganggukkan kepalanya, "posisi korban?"
"1500 meter di depanmu."
"Mau menakut-nakuti korban terlebih dahulu?" dia melambaikan tangannya kepada temannya.
"Jangan, nanti kesempatan untuk membunuh menggunakan sniper hilang."
Dia mendesah. "Iya…" ucapnya.
"Korban sudah diposisi, kau siap Sorrow?"
"Selalu…!"
"Oke, dalam hitungan ketiga."
Salah satu dari mereka mulai menghitung mundur.
satu…
dua—
ti—
Sebelum dia menyebutkan tiga, seseorang telah berdiri di sana menatap mereka berdua bergantian. "Apa yang kalian lakukan di atas gedung kehormatan, Polivcelth?"
"Yah, kita ketahuan, Blood."
Mereka berdua berbalik, memperlihatkan topeng yang menutup wajah mereka.
"Kau bukannya polisi sexy itu?" mereka tertawa. "Megurine Luka…"
Orang itu—Megurine Luka tersentak, dia segera mengeluarkan pistolnya dan mengacungkannya kepada mereka berdua secara bergantian. "Kalian tidak bisa lari lagi, menyerahlah ditanganku!"
"Kami berdua loh, berdua."
"Bisa-bisanya ada polisi yang tertidur pulas disaat begini semalam, oh dia terkena efek obat tidur…"
"Kalian memberikanku obat tidur?"
Blood mengarahkan snipernya kepada Megurine Luka sambil mengisyaratkan sesuatu kepada Sorrow. Kemudian sorrow mulai membidik targetnya kembali tanpa memperdulikan Luka.
"Apa yang kalian lakukan?!" Luka mengarahkan pistolnya kepada Sorrow, ketika hendak menarik pelatuk sebuah pisau mengenai tangannya dan Luka menjatuhkan pistolnya.
Luka mencoba menarik pisau yang menancap ditangannya lalu dia mengambil kembali pistolnya dan mengarahkannya kepada Blood yang berusaha mendekati dirinya. Luka tak sempat menarik pelatuknya karena Blood telah membuatnya tak sadarkan diri.
"Lanjutkan Sorrow, ini peluru kedua."
Di bawah langit biru, ritual pembunuhan kembali terjadi. Apakah ini yang aku harapkan—?
under the blue—end
