Warnings: Ada beberapa kata tidak baku, alur mungkin terlalu cepat dan typo berserakan. Perhomoan antara Jean dan Eren. AU. OOC.

Disclaimer: Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

This fanciftion © Backyard Panda

Selamat membaca!


Jean Naksir Tetangga

Jean mengalami shock ringan setelah kejadian di pagi menjelang siang tadi. Kini dia duduk di stasiun kereta sambil merenungi apa yang baru saja terjadi. Dia masih galau, Jean tidak percaya kalau dia punya saingan (sebenarnya yang dibingungkan Jean adalah fakta bahwa saingannya juga laki-laki, dia cukup kaget mengetahui ada homo lain yang dekat dengan Eren), walaupun itu masuk akal mengingat wajah Eren yang manis.

Jean yakin seyakin-yakinnya, walau dia terjatuh pasti dia bisa bangkit lagi, saat dia tenggelam dia bisa berenang pas kepepet walau cuma bisa gaya anjing, jika dia tersesat dia bisa pulang pakai GPS. Namun, dia tanpa Eren tetaplah butiran debu.

Sungguh Jean merasa kalah saing dengan si kuntet tadi walaupun dia (merasa) lebih ganteng. Di saat seperti ini, dia tahu pasti siapa yang bisa membantunya. Yang pasti bukan peta atau ransel, tiada yang bisa menyamai kehebatan skill idolanya. Nama Marco ada dalam list teratas orang yang ingin ditemuinya saat ini.

Setelah memantapkan hati, Jean pergi ke supermarket terdekat untuk membeli krim anti noda hitam buat sogokan agar Marco bisa diajak kompromi.

.

.

Suara ketukan pintu terdengar dari dalam rumah Marco. Si tuan rumah yang sedang leyeh-leyeh dengan malas membukakan pintu untuk si tamu tak diundang.

"Marco, kita harus bicara." Jean meniru adegan saat seorang ayah ingin mengintrogasi anak gadisnya yang telah berbuat melenceng.

"Papa, aku tidak hamil. Sungguh." Dengan segenap kekurang kerjaannya, Marco menanggapi tingkah orang kurang waras itu.

Jean nyelonong masuk tanpa dipersilakan. Berhubung dia dan Marco bersahabat, hal itu dimaafkan saja. Mereka duduk berhadapan di sofa ruang tamu.

"Jadi, ada apa?" Tanya Marco.

"Ini soal Eren," jawab Jean.

Marco pasang muka 'males banget', dia sudah lelah dengan segala yang berhubungan dengan gebetan sahabatnya itu. Selama sembilan bulan dia mengandung—maaf—selama sembilan bulan dia membantu Jean melakukan ini-itu demi mengetahui informasi-informasi umum sampai terlarang tentang Eren, sampai sekarang dia sama sekali belum mendengar kabar kedekatan mereka.

Jean mengangkat bungkusan berisi krim anti noda hitam. Marco berbinar melihat sogokan Jean. "Ceritakan padaku."

"Jadi … kemarin aku dan Eren sudah berkenalan secara langsung."

Marco mendelik tak percaya. "Ciyuz?"

Jean membuka kamus bahasa alien sebentar, kemudian menanggapi, "ciyuz beud."

Si pemuda bintik kelihatan senang alaynya ditanggapi, dia mulai antusias mendengar cerita temannya.

"Tadi aku ke kafe di depan sekolahnya. Tapi…." Jean menggantung kalimatnya supaya terdengar dramatis. Jemarinya saling bertaut di depan bibir, matanya melihat lawan bicara dengan serius. Marco diam saja menunggu Jean melanjutkan.

Satu detik.

Dua detik.

Sepuluh detik.

Marco masih menunggu. Jean tanpa dosa beranjak dari sofa ke dapur untuk mengambil minum. Entah Jean yang memang kurang ajar atau Marco yang kelewat bego, keduanya kembali duduk berhadapan dengan posisi semula saat Jean menggantung kalimatnya.

"ADA DEDEMIT YANG SEENAKNYA PELUK-PELUK EREN DI DEPAN GERBANG SEKOLAHNYA! DEMI TUHAN, MARCO, KITA BAKAL CARI TAHU SIAPA ANAK KUNTET ITU! AARGH!"

Kuda ngamuk season dua.

"Kita?" Marco menanggapi amukan kuda dengan pertanyaan sarkatis sambil pasang muka tidak tertarik. "Cari aja sendiri."

Mata Jean berkaca-kaca mau nangis, padahal dia sudah ngasih sogokan, tapi ternyata Marco tidak mau membantunya lagi. Haruskah sogokan Jean ditolak untuk yang ketiga kalinya?

"Marco Bodt sahabatku yang ganteng dan kece, masa iya setelah perjuangan sekian lama dan akhirnya aku bisa ngobrol langsung sama gebetan semua jadi sia-sia?"

"Siapa suruh kelamaan pedekate? Ujung-ujungnya itu anak diambil orang juga, kan?"

"Aku nungguin timing yang bagus!"

"Pengecut, sih, pengecut aja."

Kretekk.

Sepertinya ada sesuatu yang retak.

"Marco, ayolaaah. Aku bahkan udah ngapalin lirik L*ila Canggung biar bisa duet sama dia!" Entahlah, Jean. Itu terdengar sangat tidak penting sebenarnya.

Pemuda bersurai gelap itu menghela napas malas. Ini sudah entah yang keberapa kalinya Jean merengek minta dibantu stalking. "Baiklah, baiklah. Aku mengerti."

Jean berbinar bahagia.

"Tapi aku butuh sogokan lebih dari ini," sambung Marco sambil mencampakkan bungkusan krim anti noda hitamnya ke muka Jean.

"Saya mengerti, Ndoro." Jean nungging dengan posisi pantat berhadapan dengan Marco.

Yang ditunggingi setengah mati menahan hasrat untuk menendang pantat burik itu, takut dibalas sama yang punya. Kata orang, ditendang kuda itu sakit banget.

Setelah itu mereka merencanakan taktik untuk melaksanakan aksi stalking untuk esok hari.

.

.

"Teropong?"

"Cek."

"Kaca pembesar?"

"Cek."

"Kacamata hitam?"

"Cek."

"Kegantengan?"

"1000% cek."

"Oke. Semua sudah lengkap. Tinggal menunggu target keluar dari ruangan"

Orang kurang waras memang pantasnya berkawan dengan orang yang kurang waras juga. Mereka selalu melakukan berbagai hal bersama-sama sejak TK. Saat Jean kelaparan, Marco datang memberi makan. Saat Marco ingin pulang, Jean datang memberi tumpangan. Jean dan Marco memang bagaikan kuda dan penunggangnya.

Sekarang mereka sedang berada di apartemen tempat Jean tinggal. Tepatnya di depan tangga lantai tiga dekat kamarnya Eren. Mereka sudah tahu jadwal target saat hari Minggu: lari pagi kemudian beristirahat di taman dekat sekolah Jean. Berhubung Eren biasa keluar dari kamarnya sekitar jam setengah tujuh, Marco menginap di tempat Jean supaya mereka bisa beraksi tepat waktu.

Tas ransel berisikan perlengkapan stalking dipakai Jean di punggungnya dengan bangga, dia berasa sedang cosplay jadi idolanya. Mereka sudah siap.

Waktu menunjukkan pukul tujuh kurang tiga menit, target belum juga keluar dari persembunyiannya. Jean merasa déjà vu, tampaknya dia masih trauma soal kejadian pagi kemarin. Tangannya sudah berkeringat, dia mulai khawatir dirinya punya penyakit jantung.

"Kau yakin informasi kita masih akurat?"Tanya Marco.

"Minggu lalu dia masih keluar jam setengah tujuh, kok." Jean mengangguk, tapi dia ragu.

"Jangan-jangan…."

"JANGAN-JANGAN APA?!"

Klek. Suara pintu terbuka. Marco dengan sigap membekap mulut Jean, berharap yang baru keluar dari kamarnya tidak mendengar teriakan Jean barusan.

"Sst, dia keluar," bisiknya. Jean mengangguk.

Dengan harap-harap cemas yang setara dengan cemasnya penantian pengumuman SNMPTN, mereka berdua mencoba bersikap biasa saat Eren lewat nanti. Tapi….

Klek.

Setelah suara pintu ditutup sama sekali tak ada kejadian apa pun.

Jean mengintip dari balik dinding. Di depan kamar Eren memang sudah tak ada siapa-siapa. Hanya ada dua buah plastik hitam yang dia kenali sebagai sampah di sana.

"Kayanya dia memang nggak jogging hari ini…." Ucap Jean lesu. Marco memberikan puk-puk untuk Jean. Mereka mengubah rencana hari itu sesegera mungkin.

.

.

"Cepat ketuk pintunya!"

"Sabar, kek! Orang lagi siap-siap juga!"

"Dih, kelamaan!"

Klek.

"Ada apa, sih, ribut-ribut? Eh?" Eren membuka pintu kamarnya dan mendapati dua orang sedang berdebat di sana.

"E-Eren … hai. Ehehe," kata Jean sambil menunjukkan senyum andalan.

"Hai, Jean. Ada perlu apa?" Tanya Eren sebelum dia kelepasan tertawa melihat cengiran kuda barusan.

Jean melihat Marco, isyarat meminta bantuan. Marco melototi Jean, isyarat tidak mau memberikan bantuan. Eren menatap mereka, sedang berpikir apakah mereka sedang membutuhkan bantuannya.

"A-aku hanya ingin berkunjung. Apa kau sedang senggang?" Jean kembali harap-harap cemas, kali ini setara dengan penantian keluarnya IPK, padahal dia lulus SMA saja belum.

Eren mengangguk sambil tersenyum. Jean hampir bergelinding bahagia dibuatnya.

"Oh, iya. Ini teman dekatku, Marco. Apa dia juga boleh masuk?"

Marco tersenyum pada Eren, Eren membalas senyumannya. "Tentu saja boleh. Temannya Jean temanku juga."

Eren mempersilakan mereka masuk ke dalam. Setelah meletakkan alas kaki di atas rak sepatu, mereka duduk di atas karpet coklat yang berseberangan dengan letak televisi dengan meja bundar di tengah-tengahnya. Eren permisi ke dapur sebentar.

Marco dan Jean mulai jelalatan. Mereka mencari-cari sesuatu yang kira-kira berhubungan dengan si kuntet. Sejauh ini tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan—belum, mungkin. Kamar Eren terlihat sangat rapi dan bersih, tak sedikitpun debu terlihat menempel di perabotannya. 'Tipe istri idaman,' pikir Jean.

Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu di atas sofa kecil yang tak jauh dari sana. Pinset. Dan … beberapa helai bulu pendek namun tebal dan mencurigakan. Jean menerka, sebelum Eren membuka pintu tadi, dia sedang mencabuti bulu kakinya, atau mungkin bulu keteknya, atau mungkin bulu—

"Kalian suka jus jeruk?" Eren datang membuyarkan lamunan Jean tentang bulu. Dia membawa nampan berisi tiga gelas jus jeruk.

Marco tersenyum, "suka kok. Apa lagi Jean. Dia biasa menghabiskan empat liter jus jeruk dalam sehari."

Jean melotot tak percaya atas pengkhianatan temannya. Jean tak suka jeruk. Jean trauma sama jeruk karena saat dia masih normal dulu, cewek yang ditaksirnya lebih memilih cowok botak yang memberi sekeranjang kentang dari pada dia yang membawa seplastik jeruk penuh cinta. Mungkin ini juga yang menyebabkan dia jadi homo ngenes.

Eren menampakkan ekspresi terkejut. "Wah, benarkah? Aku juga sangat suka jeruk. Kita sama!" Ucapnya senang.

Jean menciut, Marco menyeringai keji. Namun, Jean tahu cinta butuh pengorbanan. Sekalipun itu harus membuat dirinya mengenang trauma masa lalu.

Jean Kirschtein, 17 tahun, rela mati demi mendapatkan cinta sang uke.

"T-tentu saja benar! Ahaha, kau tahu saja minuman kesukaanku. Ha … hahaha…."

Eren tersenyum sangat manis. Ooh, hati Jean terobati…

"Aku punya banyak persediaan. Kau akan kuberi jus jeruk kemasan satu setengah liter! Sebentar, ya!"

… setidaknya untuk sesaat.

Marco ngakak kayang melihat Jean hampir mati di tempat. Pemuda bintik sahabatnya itu tahu persis apa yang Jean tidak sukai. Jean melotot dengan tatapan 'setelah sekian lama kita menikah, inikah balasanmu?!'.

Dan lagi-lagi Eren kembali dengan membawa jus jeruk, kali ini dengan ukuran yang lebih besar. Dia meletakkannya persis di depan Jean dan membuat kuda itu hampir berjengit ngeri.

"Jangan sungkan-sungkan," katanya sambil tersenyum. Jean hanya tersenyum paksa sambil mengangguk pelan.

Mereka mengobrol sekedar membahas kegiatan sehari-hari. Sesekali suara tawa terdengar di ruangan itu. Tak sengaja sudut mata Marco menangkap sesuatu di balik rak kayu, dia menoleh ke sana. Ada sebuah rak dengan tiga laci yang ukurannya lebih kecil, itu sebabnya benda itu luput dari pandangan mereka tadi. Marco memperhatikan lebih seksama lagi. Di atasnya ada sesuatu, dua buah bingkai foto.

"Oh, yang itu keluargaku," kata Eren melihat Marco sedang memperhatikan potret keluarganya. Jean ikut melihat apa yang sedang mereka bicarakan. Matanya mendelik seketika. Tak salah lagi, dia melihat laki-laki kuntet semalam di salah satu bingkai fotonya. Eren sedang memeluk tangannya mesra di sana.

"Kalau yang itu siapa? Kelihatannya kalian akrab sekali," tanya Jean. Ada sedikit nada tak senang di sana.

"Oh, itu—"

"Eren, kenapa pintunya tidak kau kunci?"

Seseorang tiba-tiba datang dan menginterupsi pembicaraan mereka.

"Oh, ada tamu," kata orang itu.

Belum selesai keterkejutan Jean dengan foto tadi, kini dia makin dikejutkan dengan sosok yang baru saja datang. Bisa ditebak? Ya, sang dedemit legendaris yang sedang mereka selidiki. Orang yang membuat Jean galau semalaman, orang yang semalam memeluk Eren di depan gerbang sekolahnya.

Jean menggeram a la kuda kejepit. Marco sepertinya mengerti situasi melihat ayan temannya kumat begini. Dia memberi isyarat pada Jean untuk tetap tenang. Jean menurut saja, mengingat ini adalah kesempatan untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Siapa tahu dengan ini mereka bisa melakukan alkimia tanpa lingkaran transmutasi.

"Nii-chan! Kenapa cepat sekali datang?"

Eh? Nii-chan?

~TBC~


A/N:

Yooow, jumpa lagi dengan saya. Sepertinya update-an kali ini lebih lama dari sebelumnya, ya. Maaf kalau saya membuat Anda menunggu.

Kali ini saya mau balas reviewnya di sini, ya.

allsundayjaegerjaquez: Sudah di update, ya. Maaf saya buat kamu nahan ketawa di pagi hari. Semoga yang ini juga begitu ww.

masoAichan: Maaf update kali ini lebih lama dari sebelumnya, ya, Aichan. Kamu seratus persen benar, hanya dia yang bisa dinistakan dengan kata kuntet, hahaha.

iree: Sepertinya memang agak susah menistakan eren, tapi saya akan berusaha ke depannya, yosh!

Fvvn: Reviewmu lagi-lagi membuatku berbunga, Fvvn-san. Saya tertawa nista membayangkan Jean fap-fap pake kaki. Semoga chapter ini juga memuaskan.

AlraNSD: Sudah dilanjutkan, yaa.

Pixie YANK Sora: Hahaha, sepertinya Yank-nee harus pake soundtrack juga kayak Jean ww. Terima kasih atas do'a untuk Jean, Yank-nee. Tapi sepertinya makin hari dia makin sial, hahaha.

.5872682: Menistakan Jean memang punya kebahagiaan tersendiri, ya. Lol. Wah, senangnya review pertama di fandom ini kamu kaih buat saya~ Haha. Sudah dilanjut, yaa.

Mademoiselle Z: Makasih banyak, Z-san!

Raydhen: Kalo diliat orang dikira gila kali, ya, Kak ww. Nggak kok, gak ilang. Paling berkurang aja dikit /gak.

wiikun: Tentu saja Jean akan saya persulit, H4H4H4. Semoga chapter ini juga konyol, ya.

7th commander: Sudah diupdate, ya. Saya senang kamu tertarik.

TARNO TJAKEP: Tarno kampret. Jangan harap malam ini kau bisa tidur, sayang. Flame-mu sangat menggiurkan.

MAKASIH BANYAK YANG UDAH REVIEW, SAYA CINTA KALIAN SEMUA *tjipok*. Semoga chapter tiga ini tidak mengecewakan, ya.

Akhir kata,

Review, please?