Lacrimosa

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

Summary: Mereka bilang, jika kau bisa melihat sosok gadis di bawah pohon Sakura yang tumbuh di pelataran kuil Senju… Maka kau akan mati/ itu hanyalah rumor konyol, apa kau percaya? kemana perginya Uchiha Sasuke dengan semua logikanya? / gadis itu, mengapa ia menangis?

.

.

.

Happy reading all

.

.

.

Catatan: Tulisan yang dicetak miring (italic) berarti flashback.

.

.

30 Januari 1152

.

Tepat pukul dua belas malam. Lolongan Serigala terdengar keras dari atas gunung, tumpukan salju putih di dahan-dahan pohon bergetar dan berjatuhan di atas tanah ketika lolongan itu menggema, kemudian berahir dengan mencairnya benda putih itu memasuki tanah, membekukan tanah itu.

Bulan sabit kini berwarna kemerahan, tak seperti biasanya. Tapi udara malam ini masih sedingin malam sebelumnya.

Sosok bayangan hitam di atas pohon Pinus kering, musim gugur tiga bulan lalu merontokkan dedaunan, sejauh mata memandang, tak ada satupun benda berwarna kehijauan, yang terlihat dominan hanyalah salju putih yang mengakibatkan suhu udara turun drastis.

Sosok itu berdiri di salah satu dahan pohon tinggi. Wajahnya tertutup topeng dari besi tipis berbentuk wajah kucing hitam tanpa telinga. Iris semerah darahnya menyala mengawasi sekeliling, tiga tomoe hitam terdapat pada iris itu, begitu awas dan dapat menghanyutkan siapapun yang melihatnya. Iris itu terlihat menyala dalam kegelapan, seperti mata Serigala yang tengah mengawasi mangsa mereka.

Dalam sekejap sosok itu menghilang, kemudian muncul lagi beberapa saat kemudian. Tak lagi di atas dahan pohon, melainkan langsung menginjak tanah. Auranya begitu dingin, lebih dingin dari salju yang bahkan bisa membekukan tulang. Rambut hitam gelap yang terlihat berantakan, pakaian yang sama-sama hitam menambah kesan misteriusnya. Di tangannya terdapat katana tajam dengan darah segar yang bercucuran, mengubah warna salju dibawahnya, salju yang dulunya putih kini ternoda oleh darah itu.

Merah, dan juga beraroma anyir menjijikkan.

Di detik berikutnya sosok itu kembali hilang, seperti udara hangat yang berhembus pada pertengahan agustus. Dalam sekejap, sekelebat bayangan hitam disusul dengan suara derapan kaki Kuda, kereta dorong dan juga seruan keras seseorang. Suasana yang tadinya hening kini berubah menjadi gaduh, beberapa hewan malam seperti Burung hantu dan Kelelawar terbang menjauh dari sana, menghindari kemungkinan buruk yang akan terjadi.

"Kemana iblis itu pergi! " Seorang pria tua mengacungkan obornya tinggi-tinggi, di tangan kanannya terdapat sebuah celurit tanpa gagang.

Pria paruh baya turun dari kuda, pakaiannya tergolong mewah juga berkelas khas kalangan atas. rambut hitamnya berantakan dengan bola mata berwarna senada yang memicing sempurna, "Sialan! Iblis itu harus mati! " pria itu berteriak dan menendang ranting kering di bawah kakinya dengan keras, matanya memerah menahan amarah.

"SIALAN! "

Salah satu dari rombongan itu berusaha menenangkannya, namun justru kini pemuda itu menjadi sasaran kemarahannya. Laki-laki itu mencengkram dengan erat kerah zirah sang pemuda hingga membuatnya nyaris kehabisan nafas.

"Anda harus tenang, Asuma-sama," suara pemuda itu tercekat, berusaha mencari udara yang kian menipis. Mata Asuma semakin tajam, cengkraman tangannyapun semakin kencang hingga korban di tangannya mulai terbatuk akibat cengkramannya yang terlalu kuat.

"Tenang katamu! DIA MEMBUNUH ANAKKU! BAJINGAN! " Asuma langsung membanting tubuh dalam cengkramannya ke tanah, menyebabkan sang korban mengerang kesakitan di atas tanah dingin.

Mengeluarkan pedang dari sarungnya, bergerak untuk menebas siapapun. Kemarahan benar-benar menguasai tubuhnya, pikirannya dan juga emosinya. Dia benar-benar kehilangan akal sehatnya. Tangannya teracung memegang pedang yang mengkilap, saat ini seorang Asuma Sarutobi benar-benar kacau.

"Asuma-sama!"

Seorang berpakaian serba gelap langsung angkat bicara, berusaha untuk menghentikan tindakan sang raja yang pasti akan berakhir buruk. Pria itu memacu kudanya ke depan kemudian bergerak turun dari atas pelana, dilihatnya pemuda tadi yang kini sudah berdiri dibantu rekan yang lainnya.

"Kita akan menemukannya," Suara orang itu terdengar berbahaya.

Asuma membuang kasar udara dalam paru-parunya, ia bernapas dengan tempo berat, "Pastikan kita membawa pulang kepalanya, jenderal. Hidup atau mati, aku yang akan menebas kepalanya, " kepalan tangannya mengerat, menampakkan otot-otot keras pertanda kemarahannya yang sudah di ambang batas.

Asuma langsung memasukkan kembali pedangnya. dia menatap pria di depannya dengan pandangan tajam, menuntut agar menuruti ucapanya. Ucapan Asuma Sarutobi adalah suatu kewajiban, tak ada yang boleh menentangnya.

Tidak ada, jikapun ada yang mencoba untuk melawan, maka dipastikan orang tersebut sudah terlalu bosan untuk tetap hidup.

"Anda bisa mempercayaiku, Asuma-sama. Akan kupastikan Sang Kage mati dengan kondisi lebih buruk dari yang anda inginkan." Seseorang yang disebut sebagai jendral membungkukkan tubuhnya lebih rendah, membuat surai oranye miliknya jatuh menutupi sebagian wajahnya.

Asuma memandang satu persatu bawahannya, kemarahan masih tercetak dengan jelas pada iris hitamnya yang membara. "Aku mengandalkanmu, Yahiko. Ini perintah langsung dariku." Dan sang jendral hanya tersenyum misterius, mata coklatnya berkilat, yang tentu saja tak terlihat oleh siapapun.

Dia adalah Asuma Sarutobi. Seorang kaisar dari klan Sarutobi, sorang kaisar yang dikenal sombong dan juga angkuh. Dia kuat, ahli dalam ilmu beladiri. Kekayaan keluarga Klan yang tak akan pernah habis, wilayah kekuasaan yang luas dengan pertambangan berlian sebagai komuditas utama, memerangi desa desa kecil disekitar untuk memperluas jajahan. Sebuah kerajaan besar yang dikenal makmur namun ternyata di dalamnya terdapat pemerintah yang kacau balau. Pemerintah yang busuk dan hanya mementingkan ego pribadi, mengabaikan penderitaan rakyat dan segala tangisan pilu mereka.

Budaya korupsi sudah mendarah daging, pemerintah yang korup bukan lagi hal yang baru. Kerajaan dengan segala tipu daya muslihat mereka.

"Asuma-sama! Asuma-sama! "

Semua kepala di sana menoleh, memandang laki-laki muda yang baru tiba dengan sebuah lentera di tangannya. Tubuh laki-laki itu bergetar, dia terlihat kalut, tubuhnya dibanjiri keringat dingin. Nafasnya terengah-engah akibat berlari. Pria itu memandang Asuma dengan takut, "Kurenai-sama- "

Asuma memegang dengan erat sarung pedangnya, pikirannya langsung kaku dan dirinya tidak berharap apa yang ia pikirkan adalah sebuah kenyataan. "Ada apa dengan istriku?" suaranya berat, sama seperti nafasnya yang kian terasa sulit.

"Ku-Kurenai-sama tewas di kamarnya, pelayan menemukannya dalam kondisi mengenaskan, jantungnya bahkan tak ditemukan, ka-kami menduga sang Pelaku mengambilnya dan sekarang prajurit lain sedang mencari sang pelaku," ucap pria itu sedikit bergetar, sudah jelas dia ketakutan. Yang sedang dia hadapi sekarang adalah sang raja. Jika dirinya salah bicara, maka sudah dipastikan nyawanya akan menghilang saat itu juga.

Orang-orang mulai melangkah mundur, Asuma menatap pemuda itu dengan tatapan berbahaya, "Dan siapa pelakunya?" Giginya sailing bergemeletuk.

Tangan prajurit itu benar-benar berkeringat, pegangan pada lentera'pun goyah. "Dia... Sang kage-

Dan kepala orang itu sukses terpisah dari tubuhnya. Asuma yang kini merasa kalut bertambah marah ketika mendapat kabat mengejutkan itu.

Orang-orang di sana memandang ngeri mayat manusia yang baru saja kehilangan nyawa. Masing masing dari mereka meneguk ludah dengan susah payah, bagaiman kepala yang dengan mudahnya menggelinding bergerak menjauh dari tubuh kaku mayat itu, terlihat sangat mengerikan. Juga darah segar yang menggenang di sana.

"BRENGSEK!"

.

.

.

Orang-orang mulai kehilangan kesadaran. Alkohol benar-benar telah mengendalikan mereka, cairan bening berbau menyengat yang akan membuat siapapum yang meminumnya kehilangan akal sehat mereka. Gila, manusia rendahan, tak ada gunanya para peminum itu hidup. Hanya akan memasukkan mereka ke dalam daftar manusia tak berguna selanjutnya.

Kejam bukan? Jika seperti itu bukankah dirinya sama saja, sama saja dengan mereka. Oh, dia memang bukanlah mahluk yang suci, bukanlah mahluk yang memiliki hati bersih layaknya lembaran tissue tanpa noda bertekstur lembut namun disisi yang bersamaan juga sangat rapuh. Dirinya tidak seperti itu. Tangannya kotor, berlumurkan dosa yang bahkan sudah tak ada tempat lagi untuk di bendung.

Lagipula siapa yang memperdulikan hal itu?

Tidak ada, kan?

Dia pembunuh, berapa banyak nyawa manusia yang melayang oleh tebasan katananya, berapa banyak mahluk bernyawa yang ia putus dengan cara paksa, berapa banyak cairan bening air mata yang jatuh oleh dirinya. Namun dia menyukainya, ia menyukai suara jeritan keputus-asaan manusia-manusia bodoh itu. Bagaimana mereka memohon kepadanya untuk mengampuni mereka, menunda kematian yang bahkan sudah ada di depan mata.

Mereka pantas untuk mati. Ya, bukankah dirinya memang diciptakan untuk membunuh? Mengurangi populasi Manusia yang kian memadat dan hanya akan melakukan kerusakan pada bumi yang kian bertambah tua ini.

Siapa yang tidak mengenal dirinya? Sosoknya bahkan sudah sering menjadi buah bibir masyarakat.

Apakah seorang pembunuh bayaran? Tentu saja bukan. Uang bukanlah segalanya, dia tidak membutuhkan koin-koin emas yang dianggap berharga. Untuk apa benda seperti itu? jangan bercanda, dia benar-benar tidak membutuhkannya.

Dia membunuh karena semua itu adalah sebuah keharusan, dia menyukainya. Menyukai sensasi saat ujung katana miliknya menggores kulit manusia, darah yang merembes, kulit yang terkoyak dan juga suara retakan tulang yang entah kenapa justru terdengar sangat menyenangkan di telinga, seperti alunan simfoni dengan tangga nada yang teratur. Hidup itu indah, bukan?

Mereka menyebutnya sebagai seorang iblis, seorang iblis yang dikenal kejam dan juga tanpa ampun. Dan memang itulah kebenarannya, dirinya bukanlah manusia. Namun dia juga bukanlah mahluk Immortal seperti vampir atau sejenisnya. dia hanya mahluk tak sempurna yang penuh dengan dosa dan kemudian akan membusuk dalam neraka.

Kami-sama akan menghukumnya, itu pasti. Walaupun dirinya sendiri tidak mempercayai adanya sang Kami. Dia hidup untuk dirinya sendiri, untuk kesenangannya sendiri. Tidak lebih dari itu.

Semua orang menyebutnya sebagai Sang Kage, Sang Bayangan. Dirinya dianggap sebagai bayangan dari refleksi seorang shinigami. Terlalu konyol untuk diterima logika, dirinya hanyalah pemuda yang sedang mencari jati diri namun sudah terperosok terlalu jauh dalam sebuah rencana besar. Balas dendam. Semua ini baru dimulai, Keluarganya terbunuh dan si brengsek Asuma adalah pembunuhnya. Sekarang dia akan mendapat balasan yang setimbal, itu pasti.

Botol sake kedua, gelas kecil itu kosong. Pemuda tampan dengan pakaian berjubah hitam. Dia tidak mabuk, Sang Kage tidak mabuk. walaupun dirinya telah menghabiskan berbotol-botol cairan neraka itu, tenggorokannya terasa panas, dia butuh air putih untuk menyegarkan kembali.

Tangannya terangkat, seorang wanita dewasa dengan belahan dada rendah berjalan mendekat. Wanita itu menenteng sebuah nampan kayu kosong, jangan lupakan make up tebal yang bahkan mungkin ketebalannya bisa diukur dengan menggunakan penggaris plastik. Wanita itu menatap Sang Kage dengan pandangan nakal, iris rubinya berkilat menggoda, namun Sang Kage sama sekali tidak menunjukkan respon berarti.

Ini semua bukanlah hal baru, lagipula wanita mana yang bisa menolak pesona pria itu? Jawabanya adalah tidak ada. Sama sekali tidak ada.

"Ingin tambah minumanmu, tuan? "

Sang Kage hanya menatap dengan pandangan datar, "Air putih, " jawabnya singkat.

Mengangkat alisnya bingung kemudian tertawa kecil, wanita itu berjalan mendekat, "Apa saya tidak salah dengar? Mungkin kita bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan," tangannya merambat ke dada Sang Kage, Jemari lentiknya bergerak dengan gerakan erotis, "Hanya kita berdua." Ucapnya dengan nada sensual.

Menjijikkan, enyahlah.

Pria itu berdecih, pandangannya bertambah tajam. dia memandang wanita tak tahu diri didepannya dengan pandangan mencemooh. "Aku pikir kau punya telinga, Onna." Ucapnya dengan nada sarkastis, juga pandangan merendahkan. Bibir tipisnya tersungging meremehkan.

Wajah wanita itu merah padam, ia merasa malu sekaligus marah, tak ada yang pernah menolaknya dan laki-laki yang sialan sangat tampan ini berhasil membuatnya mati kutu. Perempuan-perempuan lain di tempat itu terkikik mengejek dan justru membuatnya merasa lebih terhina.

"Akan saya ambilkan," wanita itu berbalik dengan geraman tertahan.

Tak lama kemudian, wanita yang lain datang dengan membawa gelas kecil di atas nampan yang sama. Wanita yang berbeda namun penampilannya sama saja, juga sama memandang Sang Kage dengan pandangan penuh ketertarikan yang terlihat sangat kentara, hanya saja tak menunjukannya secara terang-terangan. Lagipula Sang Kage tak akan tergoda.

Dia berada di dalam tempat yang buruk, sebuah kedai minuman yang cukup terkenal. Suara musik tradisional mulai mengalun, alunan Koto yang dipetik oleh tangan lihai gadis muda di sudut ruangan. Para penari yang menggoyangkan tubuh mereka dengan gerakan indah, pria-pria bajingan mulai menggoda gadis muda itu dan ditanggapi dengan cekikikan geli oleh mereka. Di sini penuh dengan orang-orang yang mabuk, wanita-wanita penghibur, tempat bagi para pendosa. Tempat yang cocok untuk dirinya.

Air putih terasa seperti surga. Sang Kage meletakkan gelas di atas meja kayu di depannya setelah sebelumnya meneguknya hingga tandas, tanpa sisa. Mulutnya masih berbau menyengat. Sang Kage merasa lebih tenang, dia mengalihkan pandangan ke luar jendela kayu kedai yang sedikit menampilkam celah. Salju tak lagi turun, sebentar lagi musim semi akan tiba. Musim semi adalah musim yang paling ia sukai, dia sendiri tidak mengetahui alasanya, hanya saja dia menyukai bagaimana pohon Sakura berbunga menampilkan keindahannya yang semu. Pohon yang hanya akan berbunga pada saat musim semi tiba, hanya sekali dalam setahun.

Sekelompok orang di sampingnya, sekitar terdiri dari empat orang. Mereka mabuk seperti orang gila, tertawa terbahak-bahak kemudian meracau membicarakan hal-hal tidak penting, bahkan tanpa malu mengatakan aib mereka sendiri. Sang Kage mengetuk ujung jari telunjuknya dengan meja, menciptajan bunti 'tuk' kecil ketika dia melakukannya. Matanya memandang sekeliling dengan bosan, tak ada yang pantas dilihat di tempat ini.

beberapa wanita penghibur memandangnya dengan pandangam lapar, mereka semua tak bisa menjaga mata mereka dari wajah rupawan Sang Kage. Tak dapat dipungkiri, lelaki itu memang memiliki rupa yang jauh diatas rata-rata, seperti pahatan sempurna dari penampakan dewa-dewa yang bisa meluluhkan hati wanita dalam sekali pandang.

Sang Kage mendengus ketika mata hitamnya dengan tak sengaja melihat pasangan yang bercumbu di pojok ruangan. Saling mengulum mesra dengan suara-suara menjijikkan. Orang-orang di sekitar mulai bersorak heboh, menyoraki kedua pasangan yang kini terlihat sangat bersemangat melanjutkan aktifitas mereka yang tengah menelanjangi satu sama lain.

"Tcih" decihnya kasar.

"Setidaknya carilah kamar kosong, mengganggu saja," suara laki-laki paruh baya dari kumpulan orang di sampingnya angkat bicara. Rekan rekannya yang lain mulai tertawa kencang, namun suara tawa mereka teredam oleh kebisingan tempat ini.

Sejujurnya Sang Kage sama sekali tidak perduli. Semua itu bukan urusannya, namun untuk sekarang dia sedang dalam keadaan yang tidak baik. Pikirannya yang mendadak kacau dan membuatnya mendatangi tempat ini untuk mencari ketenangan lewat beberapa botol sake. Tapi bukan kertenangan yang dia dapatkan, pada akhirnya dia memelih memandang keluar jendela kedai ini, memandang pejalan kaki yang sesekali melintas.

"Apa yang kau harapkan, bukankah kau sama saja Ehh, Kiba."

"Setidaknya caraku lebih berkelas, kan. "

Lagi-lagi mereka tertawa, kembali meminum botol sake lebih rakus.

"Hey, kudengar anak Asuma-sama tewas dibunuh, Mengerikan… Istrinya bahkan ikut mati malam itu."

"Aku tidak peduli, Mereka pantas mendapatkamnya."

"Tapi tetap saja sangat disayangkan, Kurenai-sama terlalu cantik untuk mati muda."

"Memangnya kau mau apa bodoh. Lihatlah kondisi mayatnya. Tubuh perempuan tak punya hati itu bahkan terbelah menjadi beberapa bagian. Apa kau tidak melihat kepalanya yang tergantung di atas tiang di tengah alun-alun? sagat mengerikan."

Mereka menampikn raut jijik, salah satu diantaranya bahkan hampi memuntahkan isi perutnya. Membayangkan kembali kejadian satu bulan lalu dimana terjadi pembunuhan yang menewaskan anggota keluarga kerajaan, bayangan tentang tubuh sang mantan permainsuri yang mengenaskan membuat perut nyaris berputar jijik.

"Tapi waktu itu kau malah tertawa, ehh."

"Semua orang pasti akan merasa senang. Perempuan kejam itu menjadikan istriku yang sedang hamil tua sebagai tumbal hanya untuk menjaga kecantikannya, apa kau pikir aku tidak merasa bahagia? Dunia ini adil bung."

"Dia itu seperti nenek sihir," Salah satu dari mereka mendengus, "Bukankah dia memang nenek sihir?" Semuanya mengangguk setuju.

Sekelompok pemabuk itu kembali tertawa keras. Mengabaikan kemungkinan terburuk jika saja ada salah satu orang-orang kerajaan di tempat itu yang mendengar ucapan mereka, karena jika itu terjadi, maka mereka akan berakhir di atas tiang gantungan keesokan harinya.

Sang kage memilih keluar dari kedai, dia meletakkan beberapa lembar uang di atas meja kemudian melangkah pergi. Bahunya tak sengaja menyengol bahu pengunjung lain yang hendak masuk.

"Hey! Setidaknya minta maaflah padaku, brengsek!"

Sang Kage mengabaikannya, dia terus berjalan meninggalkan tempat itu, mengabaikan segala umpatan kasar pengunjung tadi.

.

.

.

Pasar tradisional, pedagang dan juga pembeli. Sang Kage melangkah dengan santai, kakinya tak segaja menginjak genangan air yang kotor penuh dengan lumpur, dia berdecak kesal melihat sandalnya yang basah namun tetap melanjutkan langkahnya.

Tudung jubahnya sengaja tak dia pakai guna tidak membuat orang lain curiga. Mata hitamnya tak sengaja melihat anak-anak berbeda gender tengah kejar-kejaran, anak laki-laki mengejar anak perempuan, melewati banyak ruko serta tubuh orang dewasa di kawasan pasar, hingga kemudian kedua bocah itu menghilang setelah melewati tubuhnya melanjutkan permainan konyol mereka.

Semua itu mengingatkannya. Masa kecilnya yang tergolong tak menyenangkan, orang tuanya yang tewas terbunuh di depan mata kepalanya sendiri. Keluarganya dianggap sebagai keturunan iblis yang bersemayam pada puncak Shirokuni yama, tragedi seratus tahun lalu dimana iblis itu memporak-porandakkan kerajaan, pembantaian besar-besaran yang memakan banyak korban jiwa. Kerajaan yang terbakar, hangus terlalap oleh api hitam abadi, Jeritan massal serta kematian.

Kenangan yang buruk, namun tentu saja dia tidak mengetahuinya, dirinya bahkan belum lahir saat itu. Mencari tahu tentang peristiwa itu tidak terlalu sulit karena banyak masyarakat yang mengetahuinya dan diceritakan turun-temurun, Namun beberapa cenayang mengatakan jika wajahnya sangat mirip dengan iblis itu, konyol.

Dan keluarganya yang mendapatkan imbasnya. Waktu itu dirinya hanya bocah kecil berusia sepuluh tahun, para samurai mengepung kediaman mereka, bulan purnama di malam hari. Semua orang terlelap di kamar masing-masing tapi tidak dengan keluarganya, sang ibu dengan segera menyelamatkan anaknya, sementara sang kepala keluarga telah tiada dengan tusukan pedang tajam yang menembus jantungnya.

Sang Kage masih mengingatnya. Masih mengingat bagaimana senyuman terahir sang ayah yang menyuruh mereka untuk segera melarikan diri, dia masih mengingat bagaimana benda tajam itu tertancap pada tubuh kaku ayahnya, dia masih mengingat bagaimana ekspresi ibunya yang benar-benar seperti mayat hidup, masih mengingat bagaimana ibunya yang berlari menerjang tubuh penuh darah sang suami, dan dia juga masih bisa mengingat bagaimana benda tajam itu membelah tubuh ibunya. Bagaimana suara jeritan yang terdengar mengerikan itu menusuk indra pendengarannya, di depan mata hitamnya yang sukses terbelalak lebar, air mata bahkan tak berhenti mengalir saat itu.

Semua itu terlalu mengerikan untuk dilihat langsung oleh anak berusia dini.

Tapi, dia tidak mengingat bagaimana para samurai itu terkapar tak berdaya dengan kondisi mengenaskan ketika dirinya terbangun keesokan harinya.

Juga iris hitamnya yang berubah warna. Dia tidak tahu.

"Tuan, apa kau mau membeli bakpau buatan istriku? Kujamin rasanya akan sangat lezat."

Pria tua berjenggot tipis, rambutnya tampak sudah memutih. Dia mengenakan pakaian kumuh yang sudah usang, jahitan kain berbeda motif menutup pakaianya yang sobek.

Pria tua itu membuka keranjang bambu usang di tangannya, memperlihatkan tumpukam bakpau hangat yang masih mengepul, "Kumohon, cucuku sedang sakit keras dan kami membutuhkan biaya untuk membawanya ke tabib di pusat desa,"

"Tapi aku tidak akan memaksamu untuk membelinya."

Sang Kage hanya diam, kakek itu langsung mendesah kecewa. Raut wajahnya terlihat sangat lelah, terbukti dengan kehadiran keringat yang mengalir pada wajah berkeriputnya.

Karena tak mendapat respon yang berarti, kakek tua itu melangkah pergi. Dia kembali menawarkan bakpau buatan sang istri untuk pengobatan sang cucu, menawarkan kepada orang-orang namun masih tak ada yang berminat untuk membeli, bahkan ada diantara mereka yang menolak dengan cara kasar, hidup yang kejam. Bukankah memang selalu seperti itu? Hidup itu kejam.

Entah apa yang terjadi dengan dirinya, Sang Kage melangkah menyusul pria tua itu. Menyentuh pundak rentanya dan kakek itu menoleh, menoleh dengan alis putih yang terangkat.

Sang Kage terdiam selama beberapa detik, "Aku ambil tiga," ucapnya.

"A-ah Tentu saja," kakek tua itu tersenyum cerah. Tangan rentanya dengan segera membungkus tiga buah bakpau berukuran sedang ke dalam plastik hitam, bakpau yang berisi cincangan jamur yang ditambah beberapa jenis sayuran yang ditumis secara bersamaan.

"Terimakasih, anak muda. Aku mendoakan keselamatan untukmu, Semoga kami-sama selalu melindungimu," tuturnya tulus.

Kami-sama? Apakah seseorang yang disebut Kami-sama itu benar-benar akan melindunginya?

"Aa, "

Dia mulai mengigitnya. Merasakan tekstur lembut dan juga hangat bakpau dengan lidahnya. Sang Kage tersenyum tipis, hal yang sangat jarang dia lakukan.

"Terlalu asin, tapi cukup lezat. "

Dia merindukan masakan sang ibu, sarapan di pagi hari dengan menu sederhana namun akan terasa sangan nikmat karena ibunya yang pintar mengolah makanan, juga bahan makanan yang ditanam sang ayah di ladang pinggir hutan dan juga ikan yang mereka pancing di tepi sungai Nakano. Makan malam bersama, ibunya yang akan mengoceh ketika dirinya tak menghabiskan makanan. Saling mengobrol ditengah ruangan, kemudian tertidur di atas futon dalam satu ruangan yang sama, Sampai kemudian kembali terbangun di pagi hari dikarenakan aroma lezat dari arah dapur dan sang ibu akan menyambutnya dengan masih mengenakan apron merah muda serta centong sayur di tangannya, menyambutnya dengan bibir yang tersenyum membentuk lengkungan indah.

Sang kage merindukannya, perasaan hangat mengalir dalam dadanya. Namun langsung sirna ketika teriakan melengking Penuh ketakutan ibunya kembali terdengar. Bayangan keluarganya malam itu kembapi terlintas, tangannya terkepal erat dan ia berhenti melangkah. Bayangan itu terus berputar layaknya sebuah kaset rusak, jepalanya terasa berdenyut dan pandangan yang juga terlihat samar, menyentuh kening putihnya Sang Kage sedikit mengerang, membuat beberapa orang di pasar melihatnya dengan pandangan bertanya, namun tak banyak diantara mereka yang hanya melihat sekilas kemudian kembali melanjutkan aktifitas mereka tak acuh. Ingatan itu terasa sangat menyakitkan, rasa sakit seperti ini biasa terjadi jika dia membayangkan masa lalu.

Deru nafasnya kambali teratu, Sekarang dia tidak bernafsu untuk memakan bakpau. Perutnya bergejolak dan sudah dipastikan dia akan mengeluarkan isinya jika memakan makanan lagi. Dengan masih memegang kepalanya, Sang Kage menyentuh bahu anak kecil berpakaian kumuh, anak itu lantas menoleh dan dia dengan segera menyerahkan bakpau yang baru saja dibelinya.

"Ini apa tuan? " tanya anak itu dengan kedua alis yang mengkerut.

"Untukmu."

Mata biru gelap anak itu berbinar, dia lantas tersenyum lebar, "A-Ini, anda benar-benar memberikan ini padaku?" Nada suaranya terdengar tak percaya.

Masyarakat di sini hidup dalam kesulitan, membuat sebagian masyarakatnya cenderung bersikap egois. Jangankan membantu orang lain, bisa makan bersama keluarga dengan makanan seadanya saja merupakan sebuah anugrah yang patut disyukuri.

Sang Kage memandang anak kecil itu sekilas kemudian mendesah pelan, "Ambillah," ucapnya kemudian.

Sang Kage berlalu pergi, baru beberapa langkah ia berjalan dirinya merasakan lengan kecil seseorang menarik tangannya. Kepalanya menoleh dan mendapati anak kecil tadi berdiri dibelakangnya.

"Saya tidak tau harus berkata apa, tapi terimakasih untuk... Bakpaunya." Ucap anak itu beserta senyuman gugup yang mengembang.

"Hn"

Kakinya kembali melangkah, melewati orang-orang yang memenuhi pasar. Suara mereka yang saling tawar menawar harga, para pedagang yang mempromosikan dagangan mereka dengan harga yang lebih murah namun kualitasnya sendiri masih diragukan, suara anak kecil yang menangis ketika kakinya terinjak pengunjung lainnya.

Sangat ramai, khas pasar tradisional.

Suasana tambah ramai ketika pedagan apel di ujung sana mulai berteriak, beberapa apel daganyanya dicuri oleh sekelompok anak jalanan yang menyamar menjadi pengemis cilik. Beberapa pria dewasa berlari mengejar anak-anak jalanan itu dan kini telah menghilang di balik perumahan.

"Sialan," pedagang itu mengumpat, "Boss besar pasti akan memotong gajiku," keluhnya.

Hal seperti ini sudah biasa terjadi, hidup penuh kesulitan. Masyarakat yang kekurangan padahal tanah di sini tergolong sangat subur, pajak yang tinggi dan juga para petinggi kerajaan yang terlalu serakah mengambil hasil panen warga secara paksa tanpa imbalan yang pasti. Tak sebanding dengan banyaknya keringat masyarakat yang bercucuran sementara orang-orang kalangan atas itu asyik bersenang-senang, sangat memuakkan.

Sandalnya menginjak selembaran kertas usang yang kotor, salah satu alisnya terangkat ketika melihat lukisan dari tinta hitam pada kertas itu. Sang kage menyunggingkan senyum remeh, lukisan itu bergambarkam dirinya, dengan topeng kucing hitam dan terdapat tulisan yang menjelaskan bahwa Sang kage diburu oleh kerajaan, kepalanyapun dihargai dengan harga fantastis.

"DISANA!"

Tujuh ekor kuda hitam dengan penumpang bersenjata.

Sang kage sontak langsung berlari. Dia kembali menutup kepalanya dengan tudung jubah hitam, Langkahnya cepat dan panjang, melewati orang-orang yang kian memadat.

Kedatangan pasukan kerajaan itu tak ayal langsung menjadi kekacauan, kuda-kuda yang tak sengaja menabrak beberapa keranjang sehingga isinya tumpah ke tengah jalan. Sayuran yang berserakan akibat kuda yang teralu bersemangat menendang, kotor dan sudah pastinya tidak layak untuk dikonsumsi. Para pedagang itu dipastikan akan merugi. Lagipula mereka bisa apa, jika melawan maka nyawa mereka akan melayang, masyarakat yang mulai was-was memilih memberi jalan, beberapa anak kecil menangis dan meringgkuk pada sang ibu.

Melewati beberapa rumah warga, kakinya bergerak dengan sangat lincah, beberapa kali dirinya menabrak masyarakat hingga membuat mereka jatuh dan mengumpati Sang kage dengan umpatan kasar.

Hutan dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi menyambut di depan sana, dia semakin mempercepat langkahnya. Suara kaki kuda mengejarnya di belakang, jarak keduanya tidak terlalu jauh.

"Berhenti! Berhenti atau kami benar-benar akan membunuhmu! " Salah satu dari pasukan itu berteriak kencang.

Pohon-pohon besar. Dahannya mulai memunculkan tunas baru akibat pergantian musim, musim dingin akan segera berakhir. Sesekali kepalanya akan menoleh ke belakang, rambut hitam kelamnya berkibar melawan arah angin.

Jari jarinya memegang gagang katana dengan erat, hingga dengan tiba-tiba Sang Kage menghentikan langkahnya, dia segera berbalik dan langsung mengayunkan katananya ke arah pasukan yang mengejar, salah satu diantara mereka jatuh ke tanah. Darah segar mengalir keluar dari pakaian zirahnya, sementara sang kuda yang juga merasa kaget langsung berdiri sembari bersuara keras, namun Sang Kage langsung melompat untuk mengambil alih kuda hitam itu dan memacunya dengan cepat. Memasuki area hutan dengan pepohonan yang gundul tanpa daun.

Lolongan serigala kembali terdengar, suasana yang sama dengan malam sebelumnya. Sang Kage menoleh ke arah belakang, lahi. Mereka masih mengejarnya. Pria itu berdecih.

"Dasar, apa mereka tidak tahu siapa yang akan mereka hadapi. "

Seringai kecil terbentuk, Mata hitamnya memandang sekilas bulan di atas sana. Angin berhempus dari atas gunung, menerpa wajah rupawan pria itu.

Memejamkan mata tak lebih dari lima detik, kemudian iris itu perlahan terlihat. Tak lagi berwarna hitam kelam seperti sebelumnya, kini bola matanya sama seperti malam waktu itu, malam dimana ia terbangun saat kematian keluarganya. Merah, bibirnya kembali membentuk senyuman miring, "Akan kutunjukkan bagaimana kejamnya hidup. " Ucapnya dingin.

Kuda yang dia tunggangi berhenti berlari. Mereka mulai mengelilinginya, salah satu diantara mereka turun dari kuda, membuka sarung pedang hingga benda tajam itu terlihat, mengkilat dan juga berbahaya. Sang Kage berfikir berapa banyak nyawa manusia yang berhasil hilang oleh tebasanya, mungkin lebih banyak dari dirinya.

Pria itu melemparkan seringai meremehkan, "Apa kau menyerah ehh, Sang kage."

Mereka tertawa bersamaan. Meremehkan Sang Kage yang kini ramai menjadi perbincangan masyarakat karena aksinya yang berhasil menembus pertahanan kerajaan yang dikenal sebagai pertahanan besi, juga dirinya yang telah membunuh anak serta istri sang raja. Pandangan Sang Kage semakin menggelap, dia melirik satu persatu para pasukan itu. Hanya tiga kata yang terpikirkan dalam benaknya.

Mereka tidak berguna.

"Asuma-sama menginginkan kepalamu, sangat disayangkan mengingat kau adalah orang yang hebat. Mungkin kita bisa saling bekerja sama dalam hal ini, kerajaan ini sudah terlalu lama menyedihkan."

Laki-laki itu memandang Sang Kage dengan pandangan penuh ketertarikan. "Apakah itu yang dinamakan Sharinggan, terlihat sangat berbahaya seperti yang mereka bicarakan, kau benar-benar seorang iblis terkutuk."

Sang kage berdecih, "Tch, untuk ukuran manusia yang akan mati kau terlalu banyak bicara," ucapnya dengan sinis.

Mata coklat lak-laki di depannya memicing, "kau tak akan pernah bisa mengalahkanku, " desis pria itu, "Kenapa kalian diam saja! Cepat habisi dia! " Teriaknya kepada yang lain.

Dentingan logam terdengar, Sang Kage menendang salah satu tubuh yang berniat menyerangnya. Orang itu terjungkal dengan kepala yang membentur batuan keras dan langsung tak sadarkan diri dengan darah yang tak henti-hentinya mengucur dari kepala.

Empat orang menyerangnya secara bersamaan. Mengepung Sang Kage dan mereka mengacungkan pedang ke depan kemudian mulai menyerang, Suaranya sangat memekakan, ketika kedua benda tajam itu saling beradu. Sang Kage menunduk rendah ketika salah satu prajurit menghunuskan benda tajam itu yang justru kini mengenai kawannya yang lain. Tak ingin melewatkan kesempatan, dengan segera ia langsung menusuknya hingga menembus dada orang itu, mencabutnya kembali dengan cepat.

Suara teriakannya sangat indah, bagaimana mereka berteriak melengking tepat sebelum nyawa tercabut dari raga, seperti melodi pembangkit semangat untuk kembali mendengar suara penuh kesakitan itu.

Dua sekarat.

Tiga tewas, tinggal empat manusia lagi.

Prajurit lain mulai melangkah mundur, melihat teman sendiri yang terbunuh dengan cepat membuat rasa takut mulai menyebar. Sang Kage kembali menyeringai, dengan gerakan kilat dia berpindah tempat dan menebas dua orang hingga tumbang, mata mereka terbelalak lebar melihat betapa cepatnya Sang Kage bergerak. Bahkan tak sampai satu detik berlalu, hingga kemudian ambruk di atas tanah yang basah.

Mata merahnya dapat melihat lebih cepat, membantunya untuk melihat gerakan lawan lebih cepat dan hasilnyapun sangat akurat.

Hingga iris merahnya terbelak dan dirinya dengan segera melompat untuk menjaga jarak.

Rasa perih mulai menjalar pada tubuhnya, "Arrgh! " Sang Kage mengerang, dia menumpu tubuhnya dengan katana yang tertancab di tanah.

Bagaimana bisa?

Sang kage menyentuh punggungnya yang terasa perih. Jubah hitam yang dia kenakan terkoyak pada bagian punghung. Dan juga terasa basah, apa yang terjadi? Mengapa terasa Sakit?

Ah, bukankah jawabanya sudah pasti.

Sang kage memejamkan mata, nafasnya terasa semalin berat. Dia melihat lawan satu-satunya berjalan mendekat kearahnya, tak lupa dengan seringai meremehkam yang terus melekat pada bibir orang itu.

Iris merahnya menyipit ketika melihat warna bola mata laki-laki di depannya telah berubah, tak lagi berwarna coklat tua seperti sebelumnya, melainkan berwarna ungu gelap dengan garis-garis lingkaran berwarna hitam. Dia berbahaya.

"Kau takkan bisa mengalahkanku," desis pria itu, kakinya membentuk posisi kuda-kuda. "Tak akan pernah," laki-laki itu menekankan kata-katanya, "Sekalipun ada beratus-ratus bayanganmu di dunia ini, kau akan tetap kalah, Dan aku akan terus menjadi pemenangnya." Rambut oranye pendeknya berkibar, dia menyunggingkan senyum miring sebelum kemudian berlari ke arah Sang Kage dengan pedang yang teracung sempurna.

"Bersiaplah untuk kematianmu, Neraka menantimu dan ucapkan selamat tinggal pada dunia yang memuakkan ini, wahai Sang Kage Yang Agung!"

Mereka kembali bertarung, kembali saling beradu kekuatan sampai matahari muncul ke permukaan. Tak ada yang mau mengalah, hingga pada akhirnya tubuh Sang Kage jatuh dari tebing dengan ketinggian tujuh puluh meter. Tubuhnya menampar dengan keras aliran sungai dingin di bawahnya, Sementara sang jendral berlalu dengan seringai puas.

"Mati kau."

.

.

Matanya terasa sangat berat, dengan perlahan kelopak mata itu terbuka menampilkan iris hitam yang masih tampak linglung.

Hal pertama yang dia lihat adalah kelopak Sakura yang berjatuhan, berwarna merah muda pastel bergerak turun dari atas sana dengan gerajan slow motuon. Tubuhnya terasa kaku, tak bisa digerakkan. Sang Kage mengerang ketika merasakan rasa nyeri pada bagian tubuhnya yang terluka.

Terluka?

Dengan segera dia meraba dadanya yang kini terlilit kain kasa. Terdapat beberapa sobekan besar pada jubah yang dia kenakan, Sang Kage merintih tertahan ketika rasa sakit itu kembali datang, seharusnya dia tak menyentuhnya, lukanya belum sepenuhnya mengering.

Tapi siapakah yang sudah mengobatinya?

Kepalanya bergerak ke arah lain, mata hitamnya terpaku memandang sosok gadis tengah bersandar pada batang besar pohon sakura. Sosok itu tertidur, kedua matanya terpejam dengan deru nafas teratur. Sangat mengagumkan, seperti bunga Sakura yang diam-diam dia kagumi, indah dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Tanpa sadar tubuhnya bereaksi, menggeliat mengabaikan sensasi perih ketika dirinya bergerak mendekat, berusaha menggapai sosok sang gadis. Sang Kage ingin melihatnya lebih jelas, dia ingin melihatnya, bagaimana sosok itu tertidur dengan damai.

"Arrgh! " Rasa akit itu kembali menjalar, Sang Kage mengerang tertahan, memegang dadanya yang terbalut kain putih Polos.

"Kau sudah sadar? "

Bola mata hijau yang jernih, memandangnya dengan sorot khawatir namun juga terlihat setitik kelegaan di sana. Suaranya juga indah, Seindah rupanya. Diam-diam sang Kage mengaguminya.

"Siapa kau? "

"Apakah kau sudah merasa lebih baik? apakah rasa perihnya masih terasa? Itu adalah hal yang wajar, setelah ini aku akan mengganti perbanmu dan kembali menumbuk Ashitaba sebagai obat, " gadis itu mengabaikan pertannyaannya.

"Siapa kau," Sang kage kembali bertanya.

Gadis itu mengalihkan pandangan dan menunduk, "Kau tidak perlu tahu siapa aku, itu bukanlah sesuatu yang penting. "

"Namamu? "

keras kepala.

"Kau bisa memanggilku sakura, hanya Sakura. "

"Cantik," ucapnya tanpa sadar.

"Aku tahu aku memang cantik, Shizune-san bilang aku bahkan lebih cantik dari pendahulu-ku," Sakura tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri yang terlalu percaya diri, pipinya sedikit bersemu merah muda, "Jadi apakah kau merasa lebih baik, tuan?" tanya gadis itu.

Sang Kage tak menjawab, dia tak bisa sedikitpun mengalihkan pandangan dari gadis di depannya. Bahkan hanya sebatas mengeluarkan suara, mengapa rasanya sesulit ini?

"Apa kau bisa bicara tuan? aku ingin tahu apa yang terjadi sampai kau bisa terluka dengan beberapa sayatan pedang. Kau tahu, luka yang kau alami itu cukup dalam dan aku yakin kau baru saja bertarung dengan seseorang yang kuat."

Sang Kage mendesah lelah, ia membuang nafasnya dengan berat, "Anda tidak perlu tahu," ucapnya pelan.

Sakura memdengus, pria didepannya ini mulai melancarkan aksi balas dendam untuk merahasiakan semuanya. Gadis itu mengangkat kedua bahunya tak acuh, "Aku hanya ingin membantu."

"Terimakasih sudah menolongku. Padahal kau tidak perlu melakukanya, aku tidak akan mati hanya karena luka kecil seperti ini."

Gadis itu mendengus kesal tanpa sadar, "Oh terimakasih kembali, sepertinya kau harus belajar berbicara di depan seorang gadis, kau terlalu kaku untuk ukuran pria tampan, " dia terkikik.

Hening dalam beberapa saat.

"Namamu?" Tanya gadis itu dan Sang Kage sama sekali tak menjawab, yang justru kembali membuat Sakura berpikir jika dia adalah pria menjengkelkan-tapi tampan, persetan dengan itu.

"Aku hanya ingin tahu namamu, bukankah aku juga sudah mengatakan namaku dan sekarang aku ingin kau mengatakan hal yang sama."

Cukup lama dirinya terdiam, Sang Kage memandang keatas, memandang kelopak Sakura uang berjatuhan dari sana, "Kau bisa memanggilku Sang Kage."

"Aku bertanya namamu tuan, bukan julukanmu," gadis itu ikut memandang kelopak Sakura yang gugur. "Saa, dare no namae wa?"

Memperhatikan gadis di depannya, Sang Kage tak bisa menyembunyikan senyuman kecilnya ketika dia memandang gadis itu-agak ragu.

"Sasu-

"SASUKEEE! "

Teriakan keras diikuti suara logam yang dipukul dengan benda tumpul. Dengan perlahan iris hitamnya terbuka, matanya melihat atap kamarnya yang bergambar langit biru cerah. Sasuke membuang nafasnya dengan berat.

Mimpi itu lagi, kepalanya terasa pusing dan dia merasakan tangannya yang basah. Oh, dia kembali berkeringat.

"Apakah tidurmu nyenyak, ehh, Pangeran tidur."

Mikoto berdiri dengan wajah garang, ditangannya terdapat panci teflon dan juga sebuah centong sayur, Sasuke memutar kedua bola matanya.

"Kaa-san," suaranya serak, khas orang bangun tidur.

Sang ibu berkacak pinggang, "Segeralah mandi, lihatlah jam berapa sekarang. Kau melewatkan sarapanmu dan kaa-san melihatmu tidur seperti mayat, bukankah siang ini kau akan pergi ke Perpustakaan?"

Matanya melirik jam beker di atas meja nakas, pukul satu siang, berapa lama dirinya tertidur?

"Kau bermimpi melakukan sesuatu dengan wanita sayang? Tubuhmu basah sekali," tutur mikoto menggoda sang putra bungsu, "Ternyata putraku sudah dewasa, kaa-san ingin sekali menangis saking bahagianya. Kupikir Naruto adalah pasangan gay mu, kaa-san bahkan tak sanggup membayangkannya jika hal itu benar-benar terjadi."

Apa-apaan itu! Hey! sisi jantanya benar-benar ternoda.

"kaa-san, bukankah kau ada janji untuk menjenguk bibi Kushina di rumah sakit," Sasuke mengalihkan pembicaraan, ucapan sang ibu benar-benar berbahaya.

Mikoto menepuk jidatnya dengan dramatis, "Ah! kau benar, bagaimana bisa aku melupakannya." Wanita paruh baya itu segera melangkah pergi, namun kembali terhenti dan menatap sang putra bungsu, "Oh ya Sasuke-kun, kaa-san sudah menyiapkan pasta di kulkas, panaskan terlebih dahulu di Microwave jika kau ingin memakannya. Perutmu perlu diisi sesuatu, " ucapnya kemudian, Sasuke hanya mengangguk singkat dan tubuh sang ibu kini tak lagi terlihat.

Ibunya telah keluar dan kini hanya tinggal dirinya sendiri. Sasuke membuang napas panjang dan segera bangun dari ranjang, kakinya langsung melangkah menuju kamar mandi, membiarkan ranjangnya yang berantakan dengan sprai yang sama berantakannya. Sasuke menutup pintu besi kamar mandi kemudian berjalan menuju wastafel untuk mencuci wajah.

Cermin besar memantulkan wajahnya, cukup buruk. Rambut hitamnya acak-acakan, matanya terlihat sayu. Kantung matanya tak sehitam sebelumnya, mungkin saja tidurnya waktu itu berhasil mengurangi kadar warna gelapnya. Memutar kran kemudian mulai membasuh muka, guna menyegarkan kembali kesadarannya.

Pikiran Sasuke melayang jauh, terbang menuju dunia tak terbatas. Banyak pertanyaan-pertanyaan tak masuk akal yang kian mendesak, mendesak pria itu untuk segera mencari jawaban.

Dimulai dari mimpi-mimpi aneh yang belakangan ini terus menghantuinya. Sasuke merasa pria dalam mimpinya itu adalah dirinya sendiri, namun hal itu tidak mungkin terjadi. Dirinya yang selalu mementingkan logika telah bangkit untuk menyangkal pernyataan bodoh itu.

Malam sebelumnya dirinya bermimpi terjebak dalam lubang besar nan gelap. Dia merasakan perasaan panas dan juga sakit tak terkira, dengan wanita yang sama, Sakura yang sama. Terjebak dalam kegelapan, namun anehnya dia juga merasakam kehangatan. Sasuke masih mengingatnya, masih mengingat bagaimana mereka berdua, 'tokoh dalam mimpinya itu yang sialannya juga terasa seperti dirinya sendiri atau sebenarnya memang dirinya di masa lalu itu' saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Kenapa semuanya terasa sangat berbelit-belit? Juga membingungkan.

Siapa dia?

Siapa dirinya sebenarnya?

Dia masih mengingat peristiwa apa yang terjadi ketika 'keduanya melakukannya,' bagaimana Sakura dalam mimpinya yang dengan tiba-tiba menghilang dari tempat itu, meninggalkan dirinya sendiri dalam kegelapan.

Dan dia juga masih mengingat dengan jelas bagaimana dirinya yang tiba-tiba merasakan sensasi terbakar yang luar biasa, sebelum semuanya berubah menjadi kegelapan total, tanpa cahaya sedikitpun. Juga suara terahir yang mengalun dengan begitu lembut, suara yang memanggil namanya dengan nada lirih.

"Sasuke-kun, "

Sasuke memejamkan matanya, suaranya terasa sangat nyata, Suara yang sama dengan sosok Sakura dalam mimpinya.

"Sasuke-kun, "

Terdengar begitu merdu dan entah mengapa Sasuke merasa sangat merindukannya. Merindukan suara itu, apa yang terjadi dengan dirinya?

"Sasuke-kun, "

Dan kenapa sekarang suara itu terus terdengar?

Netra hitamnya melebar menatap cermin, menatap pantulan yang terpantul disana.

Sosok gadis itu ada disana, menatap Sasuke dengan bibir yang menyunggingkan lengkungan miring.

"Lama tidak bertemu, Sasuke-kun."

Seseorang, tolong bangunkan Uchiha Sasuke dari mimpi yang terlanjur indah ini.

.

.

.

.

.

To be continue

.

A/N:

Sory baru up :')

BTW tinggal satu chap lg/oyee

Iya, satu chapter lg XD

and btw lg, jangan ada yg ngarep scen romance yaa.. hohoo

Aku harap gak ada yg bingung ma chapter kali ini, chap ini panjang ya.. tapi isinya cuman flashback doang, moga gak ada yg boring :')

Untuk endingnya sendiri, aku gak bisa ngomong happy end tapi jg gak bisa ngomong sad end.. karna emang bingung ini nanti masuk ke kategori apa, mungkin gantung kali ya/ditendang massal

see you next time XD

Sign

dhelineeTan