Ailouros.
HAEHYUK
Lee Donghae / Lee Hyukjae
.
.
By Macchxato
Rate: M
Disclaimer: I own this fic. Plagiarism is illegal tho.
Warning: OOC, Alternative Universe, Hybrid!Hyuk, Human!Hae, BoyxBoy/Boys Love, Typo (s)
.
.
Rupanya menjadi orang-orang yang selalu berada di rumah dan membersihkan rumahnya sangat melelahkan. Sejak kejadian Spencer yang menumpahkan serealnya, membuat mangkuk menjadi menungging, banyaknya susu yang hampir memenuhi mangkuk sereal menumpahi karpet, dan meninggalkan aroma khas sapi yang berasal dari susu di ruang tengah, Donghae yang mengurusnya seorang diri. Dia dengan telaten dan setengah dongkol, memunguti satu persatu sereal yang bertebaran dan memasukannya kembali ke mangkuk kotor untuk dibuang. Menyerngit saat menciumannya menangkap aroma sapi yang kental. Tak lupa ia menggulung karpet mahal dan kesayangannya untuk dikirim ke laundry terdekat. Padahal di dalam hati, Donghae dengan berat hati melepaskan kesayangannya masuk ke laundry standar, bukan laundry terbaik karena mengingat status Donghae adalah pengangguran sekarang.
Jika Donghae tak menekan emosi serta rasa kesalnya, mungkin Spencer sudah berada di posisi yang sama seperti waktu itu; berjongkok, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Tapi mengingat kelakuan dirinya sendiri yang menyebalkan, juga janjinya sendiri untuk tidak membuat Spencer bersedih lagi, Donghae tidak melakukannya.
Acara makan pagi dia lewatkan untuk mengurus kekacauan kecil yang dilakukan Spencer. Donghae membiarkan Spencer duduk di kursi makan. Hampir sekali Donghae ingin mengikat tangan Spencer di belakang kursi makan agar Spencer tak lagi membuat kekacauan.
"Demi Tuhan, siapa pun namamu, aku harap kau diam di sana." Donghae menekan setiap kata-katanya. Suaranya dalam dan menakutkan. Spencer hanya terdiam. Donghae menunjuk segelas cokelat panas instan dengan marshmallow di atasnya, tepat di depan Spencer karena ia tahu Spencer belum makan sedikit pun. "Minum itu. Setelah itu kita akan berunding untuk menemukan nama yang pas untukmu, dan berkenalan denganku. Kita belum mengenal satu sama lain."
Spencer menunduk. Merangkum cangkir hangat cokelat panas marshmallownya. Matanya meneliti setiap partikel dari uap cokelat marshmallow yang menari-nari di atas cangkir. Dia berdeham, menjawab pertanyaan Donghae yang kini berjalan ke arah lemari es.
Tangan kanan kokoh Donghae menarik gagang pintu lemari es. Rasa dingin menyergapnya segera. Telunjuknya bermain-main di depan buah-buahan, memilih buah apa yang ia akan makan untuk mengganti sarapannya yang hilang. Telunjuknya berhenti di buah apel. Donghae menariknya keluar, kemudian menutup kembali lemari esnya.
Donghae membuka mulutnya lebar-lebar, menggigit buah apel tanpa dikupas terlebih dahulu. Dia mengunyah, tubuhnya bersandar di lemari es, menatap lamat-lamat lelaki bersurai madu yang memberanikan diri untuk menyentuh bibirnya di bibir cangkir, menyesapnya.
Spencer menyesapnya sekali lagi, sebelum menjauhkan kontak bibirnya dengan cangkir. "Enak..." Senyuman terulas manis di wajahnya, tak kalah manis dengan cokelat mashmallow di depannya. "Manis sekali... enak..."
Spencer ketagihan untuk menyeruputnya lagi, lagi, dan lagi. Begitu cepat hingga Spencer tak berhati-hati, membuat lidahnya terbakar. Spencer mengeluarkan suara seperti orang tercekik. Punggung tangan kanannya mengusap kasar jejak cokelat di sudut bibirnya.
"Tetapi panas. Ng..."
Hampir saja Donghae memuntahkan apel yang setengah halus dari dalam mulutnya. Alih-alih memuntahkan apel, Donghae hanya tersenyum geli melihat seluruh tingkah Spencer yang menurutnya polos dan sangat menggemaskan. Jika perbedaan polos dan bodoh setipis kulit ari, maka, Spencer juga tampak bodoh dengan minuman yang menjadi kesukaannya ini.
Mereka menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan makanan dan minuman mereka masing-masing. Sekedar mengganjal perut mereka yang kosong sejak semalam. Walau di luar pengetahuan Donghae, Spencer telah makan, namun saat ia menjadi seekor kucing. Itu pun hanya setengah porsi karena perutnya sudah merasa kenyang.
Donghae mengambil kursi makan di sebelah Spencer, meninggalkan suara derit. Spencer sempat menangkup telinga kucingnya karena derit itu. Telinganya sakit, Spencer mengeluh dalam hati. Donghae menjatuhkan bokongnya di bantalan kursi makan. Tangan kanannya menopang dagu, menatap Spencer yang masih menangkup telinganya.
"Suaranya mengerikan, ya, kan?"
"Hm-mm," Spencer bergumam mengiyakan. Setelah yakin Donghae tidak menggesekkan kaki kursi dengan ubin lagi, Spencer melepaskan tangannya dari telinga. "Berdenging."
Donghae tertawa refleks. Matanya masih asyik menyelami mata Spencer yang amat gelap itu. Melihat pantulan wajahnya di sana; dia melihat seorang lelaki bersurai brunette, hobinya memaki, gemar berteriak, dan Donghae menyadari bahwa itu adalah dirinya.
Donghae berdeham sebentar. Berusaha fokus, tak terpengaruh oleh mata indah Spencer. "Kenapa kau mempunyai telinga kucing dan ekor?" Tanyanya penasaran.
Spencer tercekat. Dia mati kutu. Gelagatnya aneh sekali saat mendengar pertanyaan Donghae. Spencer kemudian menunduk dalam-dalam, mengingatkan Donghae pada kejadian menghukum lelaki itu. "Aku..."
"Ya...?"
Spencer mencicit. Tangannya bertautan di atas meja makan. "Aku takut... kau akan... menganggap ini adalah... sebuah lelucon?"
Donghae tergelak. Kepalanya menggeleng beberapa kali, dengan cengiran bodoh yang terpatri di wajahnya. "Tidak akan. Aku akan mendengarkanmu."
"Hm... begitu, ya..." Nada ragu terselip di perkataan Spencer. Spencer menunduk, mengusap rambut cokelatannya, kemudian bersidekap. Matanya menatap lurus ke meja makan. "Aku... adalahㅡ kucing yang kau gendong kemarin..."
Tubuh Donghae menegang dengan seketika. Mata sendunya terbelalak, mengerjapkan mata heran. Kemudian, Donghae tertawa lagi. Ah, Donghae rasa dirinya merasa sangat humoris beberapa hari ini. Mungkin karena pengaruh status pekerjanya yang berubah. Tak mengidahkan kata-kata Spencer, Donghae masih asyik tenggelam dalam tawanya. Ini terasa amat lucu.
Berbeda dengan Donghae yang tertawa hingga perutnya sakit, Spencer semakin menunduk. Matanya bergerak tak menentu, sudah berair. Air matanya menumpuk di pelukpuk matanya. "Betul... kau... tak akan percaya." Kedua sudut bibirnya tertarik canggung. Jemarinya mengusap hidung yang memerah. "Terdengar seperti lelucon, ya?"
Tak sampai satu detik, tawa Donghae terhenti. Tubuhnya yang semula melengkung ke depan karena tertawanya yang berlebihan, ia tegakkan. Matanya menatap ke arah Spencer kali ini, lurus, tepat di manik matanya. "Kau sungguhan kucing cokelat itu?"
Spencer mengadahkan kepalanya, membalas tatapan Donghae. Dari detik itu, Donghae teringat sebagian kecil; warna matanya persis seperti warna mata kucing itu, juga bisa melihat pantulannya. Benar-benar persis. "Apa perlu aku memanggilmu dengan sebutan tuan?"
Donghae membuka mulutnya. Otaknya bekerja dengan paksa. Berusaha mengaitkan apa hal ini adalah mimpi atau bukan. Apakah ini masuk di akal atau tidak. Apakah benar dia manusia luar biasa atau manusia biasa sepertinya. Donghae merasakan kepalanya pening.
"Aku bisa menyebutkan semuanya dengan rinci, tuan." Spencer masih menatap mata Donghae, berusaha meyakinkan lewat matanya. "Malam hari. Tuan menangis, tapi aku tak tahu apa penyebabnya. Lalu ada seekor kucing di balik semak. Dan kucing itu menyergap tubuhmu." Spencer mendesah perlahan. Kepalanya ia tundukkan. "Aku yang menyergapmu, tuan. Ekor dan telinga ini adalah bukti bahwa benar adanya." Lalu ia menggerakan ekornya. Menyimpan ekornya di paha Donghae yang terbalut celana pendek semalam.
"Tapi di depanku ini, kau adalah manusia, bukan kucing."
Donghae mengerang atas semuanya yang tak masuk di akal ini. Dia berusaha mengukuhkan argumennya bahwa lelaki di depannya itu tak nyata, walau dengan berat hati penjelasan lelaki di depannya benar-benar tepat.
Spencer menyengir. Menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum lebar hingga gusi merah mudanya terlihat, menampilkan dua pasang gigi taringnya lebih menonjol di banding gigi lainnya. Dadanya membusung, tangannya menepuk dadanya dengan bangga.
"Karena aku istimewa."
Donghae tergelak, namun kali ini tak mengerikan. Mata sendunya memancarkan kelembutan, bukan datar seakan ingin membunuh seperti tadi. Tangan Donghae menarik tangan Spencer, menelitinya sebentar sebelum menyimpannya di atas tangan Donghae yang hangat. "Karena kau istimewa." Donghae tersenyum, Spencer juga tersenyum. "Bagaimana rasanya saat aku gendong di malam itu?"
Spencer menatap mata Donghae juga. Kulit telapak tangannya terasa hangat di atas tangan Donghae. "Hangat sekali."
"Menyukainya?"
Spencer mengangguk beberapa kali. Manis sekali, seperti hiasan dashboard Audi silver Donghae yang sedang menjalani rawat inap di bengkel. "Sangat."
Donghae tertawa kali. Tangannya meraih tangan Spencer lainnya, menyimpannya di atas tangannya sendiri, menumpuknya agar hangat. "Seperti ini?"
"Ya... seperti itu."
Spencer tersenyum merasakan hangatnya tangan Donghae. Ia mendengkur nyaman, seperti seekor kucing saat dirinya merasa aman. Kepalanya bergerak beberapa kali, kentara sekali bahwa dia sedang merasakan nyamannya hangat tubuh Donghae.
Percakapan yang singkat dan sederhana itu berakhir dengan Donghae yang terus menatap mata Spencer. Tatapannya yang sangat dalam. Donghae tersenyum lembut sekali. Bibir tipisnya tertarik indah. Sedangkan Spencer ikut tersenyum bodoh.
"Oh, iya." Donghae membuka mulutnya. Mata sendunya mengerjap beberapa kali. Kepalanya memiring memerhatikan Spencer. "Hyukjae adalah nama yang pas untukmu. Nama itu terngiang saat kita bergulat di ranjang."
Spencer memiringkan kepalanya. Bukan mengenai nama yang Donghae sarankan, tetapi kosa kata baru yang ia dapatkan kali ini. "Gulat?"
Donghae menggedikkan bahunya. "Pertarungan fisik. Kau menggigit ini," Telunjuknya menyentuh luka gigit Spencer pagi tadi di lengannya. "dan aku menendangmu," Kemudian ia meringis. "Maaf ya."
Spencer meringis melihat luka gigitannya yang tercetak jelas di lengan penuh otot Donghae. "Aw..." Jemari indah Spencer terjulur, mencoba menyentuh luka yang ia timbulkan. Matanya berkaca-kaca, merasa jahat karena melukai seseorang. Akhirnya, Spencer menengadah. Menatap mata Donghae dengan matanya yang diselubungi air mata. "Ini pasti sakit..."
Donghae menatap mata Spencer yang diselubungi air mata. Ibu jarinya mencoba untuk menyentuh pipi Spencer. Ia tersenyum, merasakan betapa lembutnya pipi Spencer.
"Tidak sesakit yang kau pikirkan. Oh, iya. Jadi, sekarang, namamu adalah Hyukjae, kan?"
Spencer mengadah menatap Donghae. Ia menyengir hingga mata indahnya menyipit. Donghae tertawa melihatnya, tak tahan untuk mencubit pipi Spencer. Mata Spencer terlihat amat bersinar, dan Donghae menyukai sepasang bola mata itu. Rasanya ia betah hanya untuk melihat mata kesukaannya.
"Siapa namamu, hm?"
"Namaku adalah Yokjai!" Spencer berteriak dengan lantang. Ia terlihat bahagia. Ekornya mengibas dengan semangat, tak sengaja mengenai lutut Donghae. Tangannya mengepal dengan perasaan yang menggebu.
"Tidak, tidak." Donghae tertawa lagi sembari menggeleng. Mengacak rambut Spencer, berakhir dengan usapan memanjakan di rambutnya yang halus membuat Spencer memajukan kepalanya, meminta lebih dan mendengkur manja. "Bukan Yokjai."
"Lalu, siapa?"
"Ulangi setelah aku, ya."
"Hm-mm,"
"Hyuk?"
Spencer menatap mata Donghae dengan tatapan membulatnya. "Yok?"
Donghae menggeleng. Ia meralat kata Spencer. Matanya menatap bibir Spencer yang sedikit mengerucut karena mengucapkan kata yok dengan penuh antusias. Tanpa sadar, ia menelan salivanya. "Hyuk."
"Yok! Yok- Yokjai!"
Spencer memekik dengan bahagia. Matanya terpejam karena ia amat senang kali ini, walaupun Donghae sekarang sedang menghela napas berat. Sekarang, Donghae meragukan cara kerja telinga kucing Spencer yang katanya sangat tajam dan bisa mendengar hal sekecil apa pun. Donghae menyelipkan jemarinya di rambut cokelat gelapnya, menyugarnya dan mendesah pelan.
"Hyukjae. Jae." Donghae menatap Spencer dengan selembut mungkin. Tangan hangat kesukaan Spencer kini berada di pipinya, meminta Spencer untuk berkonstrasi dan mendengarkan kata-katanya. "Hyuk, bukan Yok. Dan Jae, bukan Jai. Jadi, Hyukjae, bukan Yokjae. Kau mengerti?"
Spencer mengangguk riang. Matanya membulat karena terlalu antusias, sedangkan telinganya bergerak ke kanan ke kiri perlahan, ekornya mengibas dengan semangat.
"Hyukjae?" Spencer menatap bola mata Donghae. Terselip nada ragu di sana. Kemudian, Spencer meringis karena menurutnya nama barunya sangat sulit hingga ia salah beberapa kali. Tetapi matanya langsung membulat senang saat Donghae mengangguk dengan semangat dan menyuruhnya untuk mengatakannya sekali lagi. "Oh! Hyukjae? Ah, Hyukjae! Hyukjae!"
"Ya, ya! Seperti itu. Namamu adalah Hyukjae. Hyukjae Lee." Donghae menyengir dengan semangat.
Donghae sengaja menyelipkan nama marganya, karena entah mengapa ia menilai bahwa lelaki di depannya yang berhasil ia namai Hyukjae itu akan menetap di atap yang sama dengannya. Jadi, tidak buruk juga.
Spencer tertawa bahagia bak seorang gadis kecil yang mendapatkan sebutir kukis cokelat dari badut taman yang lucu. Matanya yang bersinar menyipit, telinganya berkedut beberapa kali dan ekornya melambai manis. Ia merasa seperti manusia kali ini; mempunyai pakaian, nama, dan ia meminum minuman manusia yang rasanya super duper enak.
"Dan namaku," Donghae meraih kembali tangan Spencer, menuntunnya untuk menyentuh dada bidanya. Merasakan hangat dari dada Donghae, Spencer mendengkur manja. "Adalah Donghae. Jangan panggil aku tuan, karena aku bukan tuanmu. Kali ini, kita adalah teman." Donghae menggerakan tangan Spencer untuk menepuk dadanya secara lembut. Kedua ujung bibirnya melengkung sangat indah. "Hae, Hae, Lee Donghae."
"Hae?"
Donghae terkesiap mendengar namanya dilantunkan amat merdu dari belah bibir kemerahan Spencer (yang kini adalah Hyukjae). Entah apa yang salah dengan dirinya atau memang pada dasarnya Donghae berotak cabul, kali ini Donghae sedang membayangkan namanya dilantunkan dengan suara serak karena menahan gairah, atau memohon dengan manja, menyerukan namanya saat Spencer akan mencapai puncak. Donghae malu sendiri setelahnya, menyadari bahwa ia benar-benar memiliki pikiran tidak senonoh.
"Hae?"
"Ah," Donghae mengerjap, menatap Spencer dengan cengiran bodoh. "Ya. Kau bisa memanggilku Hae, dan aku bisa memanggilmu Hyukkie. Itu manis di telingamu, iya, kan?"
Spencer mengangguk lagi. Telinganya bergerak kecil, ekornya mengibas sekali lagi.
...
Donghae membuka matanya dengan perlahan. Merasakan teriknya cahaya matahari menyusup lewat celah-celah tirai di kamarnya, menandakan hari sudah pagi. Matahari sudah menggantikan bulan. Dan Donghae tak lagi butuh alarm yang memang ia setel untuk bersiap bekerja. Donghae memang manusia pagi, tetapi jika dipikir-pikir, Donghae bangun pagi rasanya percuma mengingat kondisinya sekarang; ia pasti bingung akan melakukan apa untuk mengisi pagi kosongnya.
Sesuatu yang bergerak di balik lengan Donghae membuat Donghae tersadar, bahwa sepanjang malam ia memeluk perut Hyukjae. Lelaki itu membiarkan Hyukjae memakai piyama tidurnya yang lagi-lagi membuat tubuh kurusnya tenggelam. Awalnya Donghae tertawa lagi melihat ekspresi kikuk Hyukjae saat menyadari hampir separuh jemarinya tenggelam di piyama lengan panjang Donghae, tetapi Donghae menahan dirinya untuk tidak tertawa berlebihan. Alih-alih tertawa selanjutnya, Donghae merasa ini adalah gilirannya untuk menjadi kikuk saat matanya menangkap leher jenjang Hyukjae dan sedikit kulit dadanya yang terekspos.
Donghae merasakan Hyukjae bergerak sekali lagi. Tubuh di bawah dekapannya itu meregang, menendang-nendang angin dengan kaki dan tangannya. Ekornya melengkung ke dalam. Sedetik kemudian, Hyukjae menggerakan bibirnya dan kembali menyelami mimpinya yang sempat terputus.
Kepala Donghae melongok ke depan, menatap dahi Hyukjae yang ditutupi rambut cokelat yang jatuh. Jemari panjangnya menyentuh rambut-rambut itu, menyugarnya ke belakang hingga ia bisa melihat wajah Hyukjae secara jelas dari belakang. Setelahnya, Donghae tersenyum. Matanya menangkap bulu mata indah Hyukjae berkedut, hidung bangir Hyukjae mengeluarkan napas lembut, dan bibir kemerahan Hyukjae yang sedikit terbuka; Donghae bisa melihat sebagian kecil taring Hyukjae dari bibirnya yang sedikit terbuka.
Donghae bernapas selagi ia meneliti wajah Hyukjae. Refleks mengerang tertahan tatkala penciumannya membaui aroma manis dari tengkuk Hyukjae.
Ah, sialan. Ini membuat libido seorang lelaki perkasa sudah mencapai batas wajar di pagi hari.
Donghae menutup matanya. Ia berdoa agar Hyukjae tidak bangun saat Donghae menikmati aroma tubuhnya, setidaknya sampai Donghae selesai menikmatinya. Badannya bergerak gelisah, Donghae hampir menyentuhkan pucuk hidungnya di kulit tengkuk Hyukjae, menyesap aroma tengkuk Hyukjae dalam-dalam dan menghembuskannya di sana.
"Nghhㅡ"
Tubuh Donghae menegang, terutama tubuh bawah Donghae yang mulai bereaksi atas lenguhan Hyukjae akibat perbuatannya.
Masih berdoa agar Hyukjae tidak tersadar dari tidurnya, Donghae masih menyesap aroma manis Hyukjae di tengkuk. Membaui tengkuk Hyukjae, cuping hidung Donghae bergerak pelan. Mengendus-endus tengkuk Hyukjae, bergerak ke sisi lain, hampir di area jakun Hyukjae yang mungil dan rata.
"H-hhhㅡ"
Donghae merasakan Hyukjae kali ini bernapas dengan berat. Maka dari itu, Donghae menyentuhkan bibirnya di tengkuk Hyukjae. Jika hidungnya tak berhenti membaui aroma manis Hyukjae, bibirnya mulai mengecup lama tengkuk Hyukjae yang sialnya terasa mulus hingga adik kecil Donghae di sana berdenyut dan mengeras perlahan.
"Shit, dia mempunyai aroma sangat menggairahkan," Donghae menggeram di sela-sela aktifitas mencium tepat di jakun. Lidah hangatnya mulai bergerak di sana, membuat pola lingkaran dan bibirnya menarik kulit tengkuk Hyukjae yang terasa manis.
Hingga suara bel menghentikan aktifitas memuja Hyukjae.
Donghae menjauhkan kepalanya dari tengkuk Hyukjae, kemudian mengerang kesal. Bibirnya terasa basah karena Donghae tak menyadari liurnya mulai menetes. Donghae menatap leher Hyukjae yang mengilap, justru membuatnya semakin menggiurkan di mata Donghae.
Donghae turun dari ranjang, melangkahkan kakinya santai dengan mulut yang penuh makian. Ibu jarinya menyentuh bibirnya, terasa lembap seusai mengagumi kulit tengkuk Hyukjae. Kepalanya mengingat apa yang ia lakukan kepada Hyukjae, dan dirinya merasa amat cabul, hampir seperti pemerkosa seseorang yang sedang tidur.
Intercom menampilkan wajah sahabat perempuannya, kawan kentalnya.
"Astaga,"
Donghae mengusap wajahnya sebelum membuka kenop pintu. Dia menahan senyuman setelah melihat wajah seseorang itu dari intercom yang sengaja ia pasang di sebelah pintu, walaupun ini adalah rumah bukan apartment. Donghae memasang intercom untuk berjaga-jaga, entah mengapa, mungkin alasan lainnya karena Donghae bingung bagaimana caranya untuk menghabiskan uangnya? Hanya Donghae yang tahu.
Pintu dibuka, seorang gadis cantik berwajah oriental melompat seperti kangguru ke arah Donghae dan berteriak kencang sekali.
"Donhe-kun!"
Donghae merasa tubuhnya limbung saat perempuan berdarah Jepang menubruk tubuhnya kencang sekali. Donghae mengaduh, sedangkan perempuan bernama Aira Amaya itu menyengir bodoh. Setelah merapalkan kata maaf dalam bahasa Jepang yang Donghae mengerti, Aira mengangkat tangannya, memamerkan sebuah goodie bag bergambar kartun katak berwarna hijau.
"Aira, kita bertemu seminggu lalu dengan alibi kau membeli wet food untuk Bengal." Donghae mengingatkan. Tubuh mereka masih di ambang pintu. Jemari Donghae menyentil hidung Aira sedangkan Aira tertawa senang. "Dan sekali lagi, tolong jangan sebut namaku dengan nama Jepang. Aku Korea."
"Donhe-kun!"
"Donghae, Aira. Namaku Donghae."
Donghae tertawa saat matanya melihat mata Aira yang berwarna cokelat gelap. Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal. Kemudian, tangannya merangkul Donghae dengan gaya seperti seorang lelaki, menggerakan telunjuknya di depan wajah Donghae.
"Untukku, kau tetaplah Donhe." Aira menyengir congkak. Tangannya menepuk dadanya sendiri hingga terdengar suara berupa tulang rusuk yang ditepuk-tepukkan. "Donhe adalah nama kesayanganku untukmu. Berterima kasihlah kepadaku, He."
Donghae menggedik. "Terserah padamu."
"Oh, iya. Kau bawa apa? Wanginya enak sekali," lanjutnya dengan mata yang terkunci pada goodie bag katak yang dibawa Aira setelah hidungnya membaui aroma menggiurkan. "Bawa makanan lagi?"
"Ah, etto. Aira bawa steak!"
Lingkaran tangan Aira terlepas dari tengkuk Donghae. Aira langsung menyerahkan goodie bag berwarna hijau itu ke arah Donghae dengan tangan kirinya. Donghae tak peduli dengan tangan kanan atau tangan kiri, karena yang terpenting, perutnya meronta karena semenjak ia menjadi pengangguran, ia hanya memakan makanan beku dipanaskan.
"Steak?" Dibalas anggukan Aira, Donghae mengambil goodie bag tersebut. Donghae tersenyum senang saat aroma daging semakin menyeruak ke penciumannya. "Gomawo,"
"Yosh, douita!"
Aira tertawa setelah Donghae memukul kening Aira dengan tangan besarnya. Tawanya yang menurut Donghae indah sekali, hingga Donghae ikut tersenyum. Donghae memang senang memberinya kontak fisik berupa sentilan atau pukulan ringan di kening sebagai peringatan jika ia memakai bahasa ibunya. Aira memang lahir dan besar di Jepang, namun saat umurnya menginjak enam belas tahun, orang tua beserta neneknya terbang ke negeri gingseng untuk mengejar cita-cita Aira menjadi model. Walaupun Donghae mengerti kata-kata yang Aira ucapkan, tak mau gadis itu tak ingat diri bahwa dia ada di Korea, bukan di Jepang. Donghae memeringatinya agar memakai bahasa Korea jika berada di dekatnya.
"Donhe-kun! Aira pamit dulu, ya! Aira akan berkunjung ke rumah Jungsoo oppa! Tadi pagi dia bilang membeli kuda untuk Aira!" Aira melebarkan lengannya, memberikan Donghae pelukan singkat sebelum menyengir.
Donghae membelalakkan matanya. Mulutnya terbuka sedikit, dan dadanya berdenyut saat nama seseorang yang merupakan kakak kelas sewaktu ia duduk di bangku sekolah menengah disebut. Donghae menarik kedua sudutnya dengan terpaksa, tampak aneh sebenarnya. Donghae mengangguk tanpa memberikan sepatah kata pun.
Melihat punggung sempit Aira yang terbalut sweater merah yang hilang di tikungan jalan, Donghae menyunggingkan senyum pahitnya.
Donghae meringis sembari memutar badannya juga, berjalan ke arah ruang tengah sekedar untuk menyimpan steak pemberian Aira. Donghae baru menyadari saat telapaknya menahan bobot goodie bag, menyentuhkan telapak tangannya di bawah sana dan merasakan bahwa steaknya masih hangat.
Donghae menghela napas berat. Di detik yang sama, ponselnya bergetar; pesan elektronik dari Aira. Dengan cepat, ibu jarinya menekan notifikasi yang muncul di ponselnya yang ia semalam letakkan di meja, bersebelahan dengan steak.
Pengirim: Aira A.
Donhe kun! Aira tidak tahu Donhe kun mimpi apa semalam. Tapi Aira peringatkan sesuatu.
DONHE KUN! KAU 'BANGUN'!
Donghae membulatkan matanya. Jantungnya berdegup dengan kencang. Ada dua opsi; pertama, dia gugup karena dia mendapatkan pesan dari cinta pertamanya, atau kedua, dia gugup karena dia tidak menyadari bahwa jagoannya sudah berontak karena kejadian sebangun tidur. Tapi setelah dipikir-pikir, Donghae sudah sering bertukar pesan singkat dengan gadis yang berumur empat tahun di bawahnya itu, ini bukan yang pertama kalinya. Mungkin opsi kedua lebih tepat. Lagi pula, ada yang janggal di kalimat akhir; bangun?
Karena kejadian sebangun tidur?
Donghae menunduk, dan matanya membulat. Sialan, jadi dia ereksi karena aktifitas memuja Hyukjae yang dilakukan Donghae terhadap kulit tengkuknya? Padahal, Donghae termasuk tipikal lelaki yang tidak mudah terangsang. Sewaktu ia menjadi pemimpin redaksi, banyak sekali gadis yang memakai pakaian pendek hingga paha mereka banyak terekspos sampai-sampai Donghae pernah tak sengaja melihat warna celana dalam mereka. Nyatanya, jagoan Donghae di bawah sana tidak berontak, justru tertidur pulas.
Donghae adalah lelaki normal, bukan begitu?
"BAJINGAAAAN!"
Sebuah teriakan yang menyerukan kalimat tidak senonoh, dan terkejut karena Hyukjae sudah bangun, Donghae menutup selangkangannya. Matanya terbelalak sempurna melihat Hyukjae yang berlari ke arahnya, dan beberapa detik kemudian, Donghae berteriak keras sekali merasakan paha Hyukjae yang menabrak kejantanannya karena saat ini, Hyukjae memeluknya sangat erat.
"SIAL! MENJAUH! BADANMU SANGAT MENGGANGGUKU!"
"Bajingan! Aku lapaaar!"
"GOD DAMN IT! KAU TAHU BAHASA ITU DARI MANA?!"
Hyukjae mengerjapkan matanya yang masih sembab karena ia sendiri baru turun dari ranjang. Beberapa menit yang lalu, setelah mengucek matanya dan menguap lebar-lebar, Hyukjae keluar dari kamar Donghae yang menjadi kamarnya juga dan mencari Donghae, karena perutnya terasa sangat lapar. Kini, dia memiringkan kepalanya tidak mengerti dengan teriakan Donghae di paling akhir. Matanya mengerjap lagi, bingung. Tangan menggaruk rambut cokelatnya sendiri yang berbentuk seperti sarang burung. Memangnya ada yang salah dengan kata-katanya?
"Bajingan itu bukannya panggilan kesayangan? Aku lihat di benda bernama teleㅡ tele... pokoknya ituㅡ gadis yang seram sekali itu- itu, ng... memanggil gadis lainnya dengan kata bajingan. Mereka juga mengusap kepalanya!"
"GOD!" Donghae mengurut keningnya. Ia meringis sebentar.
"ITU ADALAH TINDAK BULLY-ING, DAN MEREKA BUKAN MENGUSAP KEPALANYA MELAINKAN MEMUKULNYA! Astaga Tuhanku, tolong kutuk aku menjadi guci terbaik buatan China kuno..."
"Hae, Hae, guci itu apa?"
"AAAARGH!"
...
TBC.
A/n. Chapter 3 akhirnya bisa update yeeeyyy! Terima kasih untuk support fanfiction inii karena sebenernya ide ini kesimpen sekitar 2 tahun yang lalu tapi gak tau harus mulai dari mana :") Semoga kalian suka dengan chapter ini dan gak bosen bosen kasih dukungan lewat review yang kalian tinggalin~
Selamat membacaaaa! :3
