Maaf bagi yang nungguin nih fic!! Saia terlalu molor untuk mengapdetnya!! Harap dimaklumi. Kegilaan kegiatan sekolah membuatku stres plus nambah gaje... =="
Dan ini adalah chapter ketiga yang berhasil selesai mendadak (?) karena awalnya saia niatan nyelesain ByaRuki, rekues dari salah satu dari Trio Author, kishina nadeshiko yang sedang hiatus itu.... Tapi agak stuck, dan beralih ke fic yang telah lama terbengkalai ini.
Dan jadilah dalam waktu singkat karena bagian awal fic ini sudah diketik sekian lama.
Okelah, ga ada yang betah mantengin curhat gaje begini untuk barisan yang panjang.
Let's see!!
****If Two Worlds Meet****
.
.
.
BLEACH © TITE KUBO
.
.
If Two Worlds Meet © kazuka-ichirunatsu23
.
- Chapter 3 -
"Hosh... Hosh...." Renji berusaha mengatur nafasnya dengan susah payah. Namun tetap tak bisa dengan mudah staminanya kembali lagi. Hollow besar ini sangat mengganggu. Bahkan selevel fukutaichou-pun mesti memakai bankai untuk menghadapinya.
"Ah, sial! Kemana saja Ichigo itu?!" desah Renji kesal. Lalu ia mengerling sejenak pada Tatsuki yang tak lagi sadar.
"Ini untuk yang terakhir, baka hollow!!" Renji mengarahkan Zabimaru-nya ke wajah hollow itu. Berharap itulah serangan terakhir yang ia layangkan. Bosan sudah berlama-lama dengan hollow tak berguna itu.
Hollow itu mengerang, menghindar walau itu kelihatan sangat dipaksakan, karena sebelah tangannya telah terpotong oleh bankai Renji.
"Groawwhh!!!" ia mengamuk, menghantam apa saja yang ada di depannya, termasuk Renji yang sudah kehilangan separuh energinya.
"Argh!! Hollow sialan!!" Renji menghindar, namun hollow itu lagi-lagi mengamuk. Menendangkan kakinya pada Renji, hingga Renji terlempar agak jauh....
... Menimpa Tatsuki.
Renji terdiam sesaat, saat ia memperhatikan wajah Tatsuki dengan mata terpejam itu. Hm, entah kenapa ia merasa agak lain ketika memandang dari sudut pandang seperti itu.
"Aih!" Renji tersadar akan posisinya.
"Sudahlah! Ini adalah yang terakhir untuk yang terakhir, hollow sial!!" Renji mengayunkan Zabimaru-nya.
CRASH!
Dan akhirnya hollow itu dengan sukses tertebas Zabimaru, berubah menjadi serpihan abu yang tak tertarik gravitasi --melayang pergi tak berbekas.
"Fuhh... Akhirnya...." Renji mendesah lega. Ia pun mengembalikan bankai-nya, menuju bentuk shinigami biasa.
"Bodoh. Hanya untuk hollow seperti itu aku mesti memakai bankai segala," ujarnya, sembari mengelap keningnya yang basah oleh peluh, dan tangannya yang berlumuran darah.
Ia melirik seseorang yang terbaring di dekatnya.
"Ah, yang satu ini lagi," Renji memperhatikannya. Ah, tak ada pilihan lain untuknya selain membawa gadis ini kepada yang lain. Orihime pasti bisa menyembuhkannya, batin Renji.
Renji lalu menggendong Tatsuki dengan kedua tangannya. Membawa gadis itu bershunpo menuju tempat Ichigo. Semoga Orihime masih ada disana.
xxx
"Benarkah? Dasar Kurosaki-kun!" Orihime tertawa lantang.
Tawa lepas yang bersahutan terdengar dari kamar itu.
"Hei, kalian!" teriak Renji, melompat menuju jendela.
"Iya, dia baru mau mengatakannya beberapa hari yang lalu!" Rukia tersenyum jahil.
Renji sedikit kesal. Ia tidak dipedulikan?
"Hei! Kalian lihat!! Tolong aku!! Gadis ini terluka!!" teriaknya dengan suara yang lebih keras. Barulah tiga orang yang berada di kamar itu menoleh ke arah jendela.
"Ah! Tatsuki-chan!!!" pekik Orihime.
"Tatsuki!" Ichigo terkejut.
"Apa yang terjadi, Renji?!" tanya Rukia.
Renji menaruh tubuh yang lemah itu ke atas tempat tidur Ichigo. Tanpa basa-basi, Orihime langsung memunculkan kekkainya. Menyembuhkan Tatsuki yang telah terluka parah.
"Apa yang terjadi, Renji? Ada hollow lagi?"
"Iya! Oy, apa kau tak tahu? Mana ponselmu itu? Masa kau tidak memperhatikannya sama sekali?!"
"Ehm...." Rukia nampak berpikir, "Ichigo, kau lihat dimana ponselku?"
Ichigo ikut berpikir. "Mungkin kau tinggalkan di dapur? Saat kau membuat minuman tadi, mungkin saja kau kelupaan menaruhnya...."
"Iya juga...." Rukia mengangguk-angguk, kemudian keluar dari kamar. Sudah dapat dipastikan ia menuju dapur.
Renji menggerutu kesal. Sepertinya hari ini dia sedang tidak beruntung.
"Kenapa Tatsuki-chan sampai begini, Abarai-kun? Kau melindunginya?" tanya Orihime khawatir.
"Tentu saja, tahu! Nih, buktinya! Aku juga ikut terluka!!" Renji menunjukkan bekas-bekas luka yang masih dipenuhi darah segar dari tubuhnya.
"Baiklah, setelah ini aku akan menyembuhkanmu, Abarai-kun...." Orihime berkata. Wajahnya masih terlihat panik.
xxx
"Dimana... Aku?" Tatsuki bangkit, kepalanya terasa begitu pening, hingga ia harus duduk dengan hati-hati.
Ia lihat sekeliling. Kamarnya?
"Lho?" monolognya terdengar, bingung. Matanya mengelilingi ruang itu.
"Aku yang membawamu kesini," suara Renji terdengar dari bingkai jendela.
"Hei!! Kau!! Sedang apa disitu?!"
Renji menolehkan kepalanya ke arah Tatsuki, "Aku menjagamu disini, bodoh!!"
"Menjaga?"
"Ah, itu..." Renji memutar bola matanya cepat, bingung, sepertinya ada yang keliru dari cara bicaranya.
"Kenapa aku berada disini? Bukankah tadi...."
"Kau diserang hollow waktu di jalan. Kau terluka dan pingsan. Aku membawamu pada Orihime, dan dia menyembuhkanmu tadi."
Tatsuki memperhatikan sekujur tubuhnya. Yah, ada beberapa goresan-goresan luka yang mewarnai kulitnya.
"Terima kasih...." gumam Tatsuki pelan. Tak peduli Renji mendengarnya apa tidak.
Hening menyela lagi. Kikuk, tak ada yang mau mulai bicara.
"Hei, Renji!" mulai Tatsuki. Sepertinya ia tidak nyaman dengan suasana barusan.
"Apa?" tanya Renji, seolah tak peduli. Hei, kalau ia tak peduli, kenapa ia masih berada di tempat itu, bahkan tak sedikitpun beranjak dari pandangan Tatsuki.
"Kau bersahabat dengan Ichigo?"
"Sahabat?" Renji mendengus, "Mungkin hanya teman. Kami terlalu cepat untuk dikatakan sebagai sahabat."
"Tapi kalian kenal sudah sejak lama kan?"
"Yah, mungkin memang begitu. Tapi aku jadi agak dekat dengannya hanya karena Rukia. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa dekat dengan orang yang berkepribadian seperti dia."
Tatsuki menerawang. Sebenarnya ia juga bingung akan apa yang harus ia lihat. Ia hanya memfokuskan diri pada pendengarannya, serta menumpahkan pertanyaan yang begitu ingin ia cari tahu.
"Jika ia bertemu denganmu, apa yang ia ceritakan?"
"Ia ceritakan?" Renji nampak berpikir.
"Ah, maksudku, jika kalian bersama-sama, dengan atau tanpa Rukia-san, apa yang biasanya ia bicarakan? Tentang kehidupannya disini, atau apa?"
"Hm..." Renji berusaha memutar otaknya. Mengulang memori yang tepat untuk diceritakan pada seorang gadis yang sedang penasaran disampingnya kini. "Biasanya, kalau kami beramai-ramai, dia biasa bertanya tentang Seiretei. Tapi jika yang berkumpul adalah para shinigami laki-laki, biasanya ia ikut membicarakan wanita."
"Wanita? Memang dia pernah menceritakan siapa saja?" Tatsuki mulai antusias.
"Biasanya, kalau urusan membicarakan wanita, dialah yang paling pendiam. Paling hanya sesekali menimpali. Tapi, jika disinggung sedikit hubungannya dengan Rukia, dia akan bercerita panjang lebar hingga bosan mendengarnya," Renji memasang ekspresi tak bersemangat di kata-kata terakhir.
Tatsuki menyeringai, "Rukia-san lagi ya?" kemudian ia terkekeh.
"Kenapa kau tertawa?"
"... Perlukah aku menjawabnya?"
Renji mengangkat bahu, "Aku bukanlah orang yang senang mengungkit-ungkit. Terserah kaulah."
"Misalnya, pernahkah begini, jika kau hanya berbicara berdua dengannya, dan yang kalian bicarakan itu tentang Rukia, bagaimana reaksi wajahnya?"
Renji terlihat berpikir lagi, "Kami jarang mengobrol berdua. Tapi pernah sih...."
"Bagaimana reaksinya?"
"Yah, aku tidak bisa membacanya dengan jelas. Aku malas memperhatikannya. Tapi jika membicarakan Rukia, ia tampak antusias."
"Oh, begitu...." tanggapan malas meluncur dari mulut Tatsuki.
"Apa ia serig melindungi Rukia?"
"Ah, tak bisa dihitung, tahu. Terlalu sering. Bahkan jika setiap ada misi membunuh hollow, Rukia-lah orang yang paling ia khawatirkan."
"Berarti benar saja...."
"Benar apanya?" Renji mengernyit heran.
"Ya, benar. Berarti benar kalau ia sungguh-sungguh pada Rukia."
"Hah? Hei, rupanya itu yang kau ragukan selama ini? Tentu saja, bodoh! Dia sendiri yang menyatakan perasaannya kok. Aku-- melihatnya sendiri."
"Aku cuma ingin memastikan. Siapa sebenarnya yang ada di hatinya. Supaya aku tahu, kalau ia telah menetapkan dirinya pada orang lain."
Renji menambahkan kerutan di dahinya.
"Pembicaraan ini mengarah kemana?"
"Terserah kau menanggapinya, baka!" Tatsuki berbalik. "Sudah, aku mau tidur, capek. Kau pulang sana," dorongnya pada tubuh Renji.
"A--a, baka!!" Renji benar-benar terjatuh dari jendela itu. Padahal tingginya lumayan, kamar ini berada di lantai dua.
Tatsuki baru sadar candaannya mendorong Renji ternyata berefek serius, dengan satu gerakan kilat segera ia ulurkan tangannya.
"Fuuh... Untunglah...." Renji menghela nafas lega.
Tatsuki melakukan hal yang sama. Ah, selamat. Untung saja. Kalau tidak ia tak tahu apa yang akan dilakukan nanas merah itu jika dirinya benar-benar jatuh.
"Eh, bodoh, untuk apa kau mendorongku segala?!" geram Renji. Kemarahan tak jadi ia lampiaskan habis-habisan. Setidaknya Tatsuki telah menolongnya.
"Maaf, tadinya aku cuma bercanda!" Tatsuki berdalih. Ia merasa tangannya mulai sakit setelah beberapa detik menahan tubuh Renji yang lebih berat darinya untuk beberapa detik.
"Sekarang cepat tarik! Kau bisa tidak?!!"
"Ah, iya, iya!"
"Bisa tidak?"
"Hei, begini-begini aku juara karate! Jangan remehkan aku!!" Tatsuki yang merasa agak kesal menarik Renji yang tergantung dengan kuat.
'BRAKK!'
Ah, pose yang membuat wajah kedua orang itu memerah.
Renji yang berhasil ditarik, sekarang jatuh menimpa Tatsuki. Tentu semua bisa menebak posisi mereka berdua sekarang....
"Cepat menjauh, bodoh!!" Tatsuki mendorong Renji paksa, setelah memakai waktunya beberapa saat untuk terbengong akan wajah Renji yang terlalu dekat dengan dirinya.
"Ah, maaf!" Renji berdiri, berbalik. Menutup mulutnya. "Aku pulang," pamitnya. Dan melompat keluar dari jendela itu.
Tatsuki bangun sembari menggerutu.
Sementara Renji, menjauh dengan langkah seribunya yang tak menyisakan jejak di udara.
Eh, ia merasa bodoh. Padahal jika tadi ia tak ditangkap oleh gadis itu, ia tak akan jatuh terluka, karena ia sendiri pun bisa berjalan di atas udara begini, kan?
Ah, aneh.
Dan sekarang, yang ia pikirkan, ia tak tahu harus memasang wajah seperti apa jika bertemu muka lagi dengan gadis itu. Ah, ia harap tidak akan lagi ada pertemuan dengan orang itu.
xxx
"Renji!!" panggil Rukia dari jendela kamar Ichigo, ketika melihat Renji yang datang.
"Ada apa lagi?"
"Tadi ada kabar dari divisi 6, katanya semua petinggi divisi diharapkan untuk berkumpul di divisi satu," ucap Rukia, menutup ponsel lipat hitam-silver yang ia miliki.
"Aah, disaat aku sedang lelah begini!" Renji meregangkan kedua tangannya. Rasa sakit dari luka masih ia rasakan sedikit dari beberapa bagian tubuhnya.
"Sudahlah, ikuti saja," saran Ichigo. "Paling tidak lama. Tenang saja, sehabis itu pasti kau bisa beristirahat tanpa repot-repot memikirkan keadaan hollow disini. Biar aku dan Rukia yang mejaga kota ini."
"Baik, baik-" Renji menjawab agak malas. Tentu saja, ia merasa lelah sekali hari ini, yang berpengaruh pada cara bicaranya.
Lalu ia acungkan Zabimaru andalannya itu. Mengarahkannya ke udara dengan sepotong kata untuk pembuka gerbang penghubung dua dunia itu.
"Selamat berjuang, Renji!" Ichigo berkata seolah mengejek. Renji membalasnya dengan cuek, tak mau tahu menahu ekspresi Ichigo di belakangnya.
xxx
Renji menguap lebar, ketika ia telah masuk ke gerbang utama Seiretei. Beberapa penjaga memberi hormat padanya.
"Konnichiwa, Abarai fuku-taichou," sapa salah satunya.
"Ya, konnichiwa," jawab Renji. Semetara ia tetap berjalan lurus sembari memberi sedikit senyuman basa-basi.
"Abarai-kun!" sapa seorang gadis manis, Renji menoleh.
"Hinamori-kun?"
Momo, gadis itu tersenyum, "Kita bersama-sama ya...."
Renji mengangguk tanda setuju, lalu melajutkan langkahnya menuju ke divisi 1 yang masih ratusan meter lagi.
"Abarai-kun habis dari dunia nyata ya?"
"Yah, begitulah... Entah kenapa aku malah disuruh untuk mejaga kota itu. Padahal disana kan ada Ichigo, ditambah Rukia dan seorang Quincy itu...."
Momo tertawa kecil, "Mungkin Rukia-san terlalu asyik dengan kekasihnya, jadi Soutaichou mengirim Abarai-kun untuk mejaga kota itu saat Rukia-san lengah...."
Renji mendesah. Aha, dirinya memang selalu direpotkan. Mungkin tanggapan Momo barusan bisa dianggap menjadi sebuah kebenaran? Selama ini memang ia seolah menjadi bagian yang menderita.
Coba lihat, disaat kedua sahabatnya itu sedang asyik dengan urusan cinta mereka sendiri --tentu Renji menganggap itu merepotkan, ia adalah orang yang harus repot mengurus bagian yang ditinggalkan kedua orang itu.
Dan sekarang apalagi? Dipanggil mendadak oleh sang komandan pastilah karena ada berita besar. Apalagi, sampai fukutaichou pun ikut dipanggil.
"Abarai-kun mau kemana? Pintu gerbangnya sebelah sini," Momo berhenti di depan pintu besar berlogo angka 1.
"Eh, ah, iya...." Renji baru sadar dari lamunannya. Ia berjalan kelebihan, bahkan hampir melewati tempat tujuannya hanya karena mengeluh akan nasibnya sendiri.
xxx
"Nah, bisa kita mulai sekarang?" Soutaichou mengetukkan tongkatnya ke lantai. Menyuruh agar gemuruh kecil yang disebabkan oleh pembicaraan tak penting itu berhenti.
Suasana itu segera berganti dengan kesenyapan. Semua terdiam.
"Menurut beberapa kapten yang baru saja kembali dari lorong Garganta, mereka menemukan sebuah fakta."
Tak ada yang berani menyela bahkan ketika Soutaichou memberi jeda pada perkataannya.
"Ada beberapa hollow yang sedang menembus dimensi penghubung antara dunia nyata dan Seiretei. Beberapa diantaranya berlevel Menos Grandes."
Suasana tetap hening, meski mereka semua bertanya-tanya dalam hati. Tak ada yang berani menginterupsi.
"Menurut salah satu shinigami yang baru pulang bertugas, para hollow itu seperti mengejar manusia yang memiliki reiatsu tinggi, mereka memburunya karena mereka merasa hidup mereka terancam di Hueco Mundo, jadi mereka mencari kekuatan lebih dengan menyusup keluar ke dunia nyata. Sepertinya ada kesalahan saat misi terdahulu di Hueco Mundo, yang menyebabkan Garganta terbuka dan mereka leluasa keluar masuk."
Beberapa di antara orang yang ada di dalam sana mengangguk-angguk.
"Jadi, aku mengumpulkan kalian disini untuk memberi misi ke kota Karakura. Karena manusia dengan reiatsu berlevel tinggi berkumpul disana. Dapat dipastikan hollow-hollow itu mengarah ke kota Karakura."
Terdengar lagi bisik-bisik kecil. Namun kali ini yang berani melakukannya hanyalah beberapa, shinigami senior yang memang sudah tak takut-takut lagi menghadapi Soutaichou.
"Harap dengarkan baik-baik."
Peringatan kecil itu kembali menenggelamkan suasana dalam diam.
"Jadi aku akan menugaskan beberapa orang shinigami untuk membasmi hollow itu dan melindungi beberapa orang yang memang berkekuatan reaitsu tinggi di Karakura. Juushiro, Kyouraku, aku butuh kalian untuk menyusun daftar shinigami yang akan ditugaskan sesuai dengan jadwal mereka. Yang lain boleh keluar, dan tunggu pengumuman selanjutnya."
Barisan bubar. Tertinggal dua orang kapten yang memang diminta oleh Soutaichou tadi.
"Eh, Hinamori-kun, memangnya apa yang dibicarakan Soutaichou tadi?"
Momo nampak terkejut, "Jadi sejak tadi apa yang dilakukan Abarai-kun?"
"Ah, aku mengantuk. Aku tadi hampir ketiduran disana...." ujarnya, menguap lagi.
Momo menggelengkan kepalanya heran.
"Beberapa shingami akan ditugaskan ke dunia nyata lagi. Ada hollow dan beberapa diantaranya berlevel Menos yang menyusup untuk mencari orang-orang dengan reiatsu tinggi. Mereka terancam di Hueco Mundo, dan memilih tempat lain untuk mencari mangsa. Tampaknya ada kesalahan pada misi sebelumnya hingga mereka bisa menembus Garganta dengan mudah."
"Oh--" ucap Renji. Sepertinya tak antusias.
"Abarai-kun mau kesana lagi?"
"Ah, aku capek. Inginnya sih tidak lagi. Aku mau istirahat beberapa hari dulu," Renji meregangkan otot-otot tangannya lagi. Terdengar bunyi 'krek' ketika ia melakukannya, pertanda bahwa tulangnya pun terlalu lelah untuk digunakan. "Kau sendiri, ingin tidak kesana?"
Momo mengangkat bahu. "Mungkin Hitsugaya-kun tidak mau membiarkan aku pergi jauh-jauh ke dunia nyata tanpanya."
Renji menggeleng-geleng. Ah, punya orang yang disayang dan menyayangi terkadang repot, pikirnya.
"Kira-kira di Karakura sana banyak orang dengan reiatsu tinggi tidak ya?"
"Eh? Memiliki reaitsu tinggi? Ada yang bilang begitu ya?"
"Ya ampun Abarai-kun, sebegitu lelahnyakah kau sampai kehilangan konsentrasi yang benar untuk mendengarkan penjelasanku?"
Renji melongo.
"Memiliki reiatsu tinggi, berarti...." Renji menggantung kata-katanya.
"Kenapa, Abarai-kun?"
"Tatsuki!!" seru Renji. Segera ia berbalik ke gerbang divisi 1 yang telah tertutup.
"Mau kemana lagi, Abarai-kun?!"
"Aku akan minta pada Soutaichou agar aku yang pergi ke dunia nyata sana!! Ada hal penting yang harus kuurus!!" lambainya pada Momo.
Momo cuma menggeleng --untuk kesekian kalinya.
- To Be Continued -
Maaf kalo ancur... ==a
saia ngetiknya pas capek banget, dengan punggung yang sudah merengek minta ketemu ama tempat tidur. Ngepublishnya pun curi2 waktu, karena batas jam malam yang dikasih kaasan bentar lagi nyampe... T~T
Dan maafkan saia, sudah telat mengapdet, serta tidak ada balasan ripyu seperti biasa karena alasan yang sudah saia katakan barusan. Juga kalau ada typo, maaf, maklumlah... ~,~9
silahkan lindas saia.... *pasrah*
Dan, makasih BANYAK ya... ripyu kalian begitu memotivasi saia~
sankyu~
.
.
.
Review foc sleepy author, ne?
*dikremes*
