Happy Reading! :D


Chapter 2: Dodge Frisbee Battle Again?


"SLIK ELLER BALLADE!"

Yah, terdengar suara teriakan cempreng menggelegar dari seorang ketua guru NNG di lapangan sekolah.

DUAK!

"Ini bukan Hetaween 2011, Anko Uzai!" bentak Lukas setelah melempari Mathias dengan gantungan baju.

"Hehehe, oke-oke!" balas pria jabrik itu watados sambil memegang kepalanya yang terkena lemparan barusan. "Nah, peraturannya seperti ini! Jadi, ..."


Di depan gerbang sekolah...

"Thias! Itu abang lu lagi ngapain, sih?" tanya Dark sambil menunjuk kerumunan di tengah lapangan.

Luthias pun melihat ke arah yang ditunjuk dan langsung sweatdrop.

"Aku juga kagak tau Aniki lagi ngapain di sana!" jawab pemuda jabrik yang masih sweatdrop tersebut. "Mendingan kita cari Giro aja, deh!"

"Dia bilang ada di ruang guru!" kata Girl-chan.

"Ayo kita ke sana!" ajak Idham sambil berjalan pergi diikuti keempat temannya.


Back to Battle Area...

"Nah, seperti itulah!" kata Mathias mengakhiri penjelasannya. "Siap?"

"Oke!" balas keenam demonstran yang menjadi tim lawan.

"Special Technique: Giant Axe Spin!" teriak sang Danish sambil melempar frisbee-nya.

Frisbee itu pun berubah menjadi kapak raksasa dan mengarah ke arah arena tim lawan.

"Dark Shield!" kata Ciel sambil merentangkan kedua tangannya.

Perisai ungu terang pun mulai menyelimuti arena tim lawan. Tapi sayangnya, Mathias memasang seringai licik saat melihat hal itu. Dia mulai menggerakkan tangan ke bawah dan kapak itu pun langsung masuk ke dalam tanah. Sontak, yang lainnya hanya bisa jawdrop berjamaah melihatnya.

'Kayaknya Anko/Dan/Makkun sering meng-upgrade skill itu, deh!' batin Lukas, Emil, dan Ieyasu sweatdrop.

'Kok bisa begitu, ya?' batin tim lawan cengo.

"Hehehe! Undervurder aldrig din modstander (Jangan pernah meremehkan lawan)!" ujar Mathias sambil nyengir lebar.

Sontak, kapak itu langsung muncul dari dalam tanah (tepatnya di dalam perisai Ciel). Alhasil, yang terjadi selanjutnya adalah...

DUAK!

Elsword yang berada paling dekat dengan tempat kapak itu muncul pun langsung terkena serangan tersebut. Setelah kapak itu menimpa Elsword, benda itu pun kembali menjadi frisbee.

"Elsword Sieghart, out!" kata seorang pemuda berambut pirang ponytail dengan mata hijau muda dan memakai baju Dragon Rider dari Lost Saga.

Webek, webek...

"Lu siapa?" tanya seisi lapangan cengo saat menyadari keberadaan wasit asing tersebut.

"Gue OC baru Author, Vience Andreas!" jelas orang asing itu watados.

"Oooh! Saudaranya si Daren, toh?" tanya Matt.

"Hooh! Lu kenal adek gue?" jawab Vience nanya balik.

"Dia nonton di sono, tuh!" balas Matt sambil menunjuk seorang pemuda berambut coklat ikal dengan mata ungu dan pakaian Treasure Hunter lagi duduk sambil makan telur rebus di ujung lapangan.

"Yo, Dary!" sapa Vience.

Pemuda yang disapa itu pun hanya mengangguk dan melanjutkan acara makannya.

"Terus, gue gimana? Haloooo~ Masa gue dicuekin gini?" tanya Elsword sambil melambaikan tangan dan masih dalam keadaan sekarat karena ditimpa kapak barusan.

"Bawa dia keluar arena!" perintah Vience.

"Permisi!" kata seorang pemuda berambut biru dengan pakaian penyihir setara dengan warna rambutnya sambil membawa sebuah tandu bersama seorang pemuda berambut hitam dengan pakaian ala prajurit Revolusi Amerika.

Mereka berdua pun mengangkat Elsword dan menaruhnya di atas tandu, kemudian mengangkat tandu itu dan pergi dari lapangan.

"Gue baru tau kalau OC Author bisa nyasar ke sini!" gumam Gerrard sweatdrop.

"Bisa dilanjutkan?" tanya Vience.

Yang lainnya pun mengangguk.

"Gue kagak nyangka kalau mereka pro banget main ini!" ujar Raven agak cemas.

"Setidaknya, Gerrard dan Andre masih Beginner!" celetuk Matt watados sambil mengambil frisbee-nya.

"Heh, kalian kan juga pemula!" protes kedua orang yang bersangkutan sewot.

Sekarang giliran tim lawan yang melempar.

"Take this, Ragnarok!" teriak Matt sambil melemparkan frisbee itu ke langit yang sukses membuat seisi lapangan cengo.

"Err, Matt! Itu tadi-"

"Liat dulu, tuh!" kata Matt memotong perkataan Chung sambil menunjuk sekumpulan pedang raksasa yang berterbangan di atas langit.

Sontak, mereka yang melihatnya langsung cengo parah melihatnya.

"Dafuq?!" gumam Andre jawdrop.

"RUN FOR YOUR LIFE!" teriak Gerrard sambil kabur diikuti Andre, Ieyasu, dan Emil.

Sayangnya, Lukas tetap diam dan telah memperlihatkan sebuah seringai mengerikan yang sukses membuat Mathias agak merinding melihatnya.

Kemudian, pedang-pedang itu pun mulai jatuh dari langit dan...

"Skill Delay!"

Anehnya, pedang-pedang itu malah menghilang tanpa bekas seolah tidak pernah dikeluarkan sebelumnya. Matt langsung jawdrop melihatnya, sementara Lukas hanya tersenyum puas.

"N-Norge! Itu tadi jurus apa?" tanya Mathias yang juga ikutan jawdrop melihatnya.

"Mau tau aja atau mau tau banget?" Lukas malah nanya balik dengan tampang sok imut plus suara gemas yang dibuat-buat.

'Si Norge/Nore/Bondevik-san kenapa, coba?' batin Mathias, Emil, dan Ieyasu yang sweatdrop melihat ke-OOC-an Lukas barusan.


Di ruang guru...

"Lho? Pak Lance kenapa?" tanya Luthfi heran saat mendapati Giro berada di ruangan Mathias bersama Lance yang tertidur di atas kasur sang ketua guru.

"Itu yang mau gue kasih tau, Luthy-pyon!" jawab Giro datar. "Dia bilang ada masalah sama Aisurando-pyon!"

"Hei, Giro! Memangnya masalahnya apaan?" tanya Girl-chan.

"Dia cerita kalau Noruwe-pyon nyium adeknya sendiri! Gue takutnya bakalan jadi salah paham dan berakhir dengan perang dunia di sini!" jelas Giro risih.

"Waduh!" Luthias langsung kaget mendengarnya.

"Kenapa lu, Thias?" tanya Dark melihat reaksi temannya tersebut.

"Apa jangan-jangan, perang yang kau maksud itu..." kata sang Greenlander menggantung.

"Itu mah tergantung sama Denmaku-pyon aja, sih!" balas Giro datar. "Eh iya, Nee-chan! Kayaknya 'mereka' juga ada di sini, deh!"

"Beneran?" tanya Girl-chan bingung.

"Tadi aku ketemu sama Vience-pyon!" jawab sang adik.

"Siapa itu Vience?" tanya Dark, Luthfi, Idham, dan Luthias bingung.

"Rahasia! Mendingan kita ke lapangan aja!" balas gadis itu datar.

"Tapi gue kagak bisa tinggalin Lance-pyon sendirian! Kasihan dia! Bahkan sampe sesak nafas pas ngomong sama gue tadi!" ujar Giro sambil menunjuk guru Sejarahnya yang tertidur dengan tampang miris.

"Gue aja deh yang jagain!" kata Idham menawarkan diri.

"Lu yakin, Dham?" tanya Luthfi ragu.

"Iye, Lut! Eh, Giro! Mending lu urusin masalah di lapangan aja, gue bakalan jelasin alesan lu pergi kalau dia bangun nanti!" balas Idham datar.

"Idham-pyon! Lu kerasukan apaan, sih?" tanya Giro dengan tampang skeptis.

"Kerasukan cinta sama Faeroe-chan, kali!" celetuk Luthias watados dengan sedikit jahil.

"Ih, Thias! Jangan ngaco, ah!" bantah Idham sambil blushing.

"Terserah lu, deh! Mendingan kita langsung ke lapangan aja!" ajak Dark sambil keluar ruang guru bersama yang lainnya meninggalkan Idham dan Lance di sana.

"Aku harap masalah ini bisa diselesaikan! Kalau memang hanya kesalahpahaman, kenapa tidak ada yang mau jelasin?" gumam Idham yang mulai bingung dengan keadaan di sini.


Kita kembali ke lapangan!

Kelima anak itu pun sudah sampai di lapangan dan mendapati pemandangan mengejutkan di sana. Seorang pemuda berambut pirang dengan baju ala sherrif yang tak sengaja melihat mereka pun langsung menghampiri mereka berlima.

"Lho? BakAuhtor? Lu ngapain di sini?"

"Lu pake nanya lagi! Di lapangan ada kejadian apa?"

"Itu tuh, si Kambing! Katanya mereka main 'Dodge Frisbee' gara-gara pengen jelasin salah paham!"

"Salah paham apa?"

"Yang gue denger dari Ieyasu sih, Emil dicium Lukas dan Lance melihatnya! Terus, dia ketemu Matt dan jelasin hal itu hanya sekilas karena sesak nafas dan pingsan, terus bikin Matt salah paham mengira Emil selingkuh atau semacamnya! Jadinya kayak sekarang, deh!"

"DAFUQ?! SEPARAH ITU?!"

"Iye!"

"Cowboy! Lu kenapa kagak jelasin aja?"

"Percuma! Kalaupun bisa dijelasin, entar yang ada gue malah dijadiin samsak tinju sama Matt dan para cowok Elgang!"

"Aduh, aduh!"

"Cowboy-pyon!"

"What?"

"Itu ngapain yang lain pada nonton?"

"Menekedele! Katanya mereka bosen dan nyari tontonan bagus, makanya ke sini!"

"Girl-chan! Gue baru tau kalau lu punya OC seunik itu!"

"Yah, terserah lu aja Darukun!"

"Moncong-moncong, si Lance keadaannya gimana?"

"Lagi tidur, tapi keadaannya parah banget! Dia sampe sesak nafas dan ngomongnya tersenggal-senggal!"

"Sudah kuduga!'

"Tapi kayaknya seru, nih! Nonton, yuk!"

"Lut, lama-lama gue pengen banget deh cuci otak lu biar pinter sedikit!"

"Daripada kagak ada kerjaan!"

"Au ah, gue males sama lu!"

"Udahlah! Mendingan kita jenguk Lance aja, dah! Takutnya keadaanya malah tambah buruk!"

"Udah ada Idham yang jagain!"

"Gue kan kasihan sama dia! Harusnya kesalahpahaman kagak usah bikin hubungan dia sama Emil nyaris hancur begini!"

"Hubungan apaan?"

"That's secret!"

"Yah, daripada nonton pertandingan itu, usulmu bisa diterima!"

"Seharusnya lu bilang gitu dari tadi, BakAuthor!"

"Itu karena kalian berdebat terus, makanya gue diem aja!"

"Hush, ngobrol mulu! Ini lagi seru, nih!"

Mereka berenam pun menengok dan mendapati seorang gadis berambut coklat twintail berkacamata lagi makan popcorn tidak jauh dari tempat mereka menegur dengan tampang 'You-don't-say'.

"Nonton aja situ! Kagak usah perduliin kita, bego!" bentak Cowboy emosi.

Gadis itu pun hanya bisa diam saja dan kembali melanjutkan acara menontonnya, sementara keenam orang itu pun segera berjalan ke ruang guru untuk menjalankan rencana mereka.

Yah, tidak ada yang tau kapan ini akan berakhir! Tapi semoga saja masalah ini bisa selesai dengan cara yang normal!


To Be Continue...


Hehehe! Aku berusaha sebisa mungkin membuat ini! Memang agak sulit bikin fic serius kayak gini! -_-V

Betewe enewe beswe, soal kalimat awal barusan itu kepikiran dari Hetalia Halloween Event 2011 (kalau kagak salah) yang diucapkan Denmark pas pake baju 'Ghost Pirate' di lomba kostum yang diadakan America! Soal skill milik Matt yang itu, aku terinspirasi dari Limit Break-nya di 'Epic Battle Fantasy' (yang ketiga dan keempat)!

Review! :D