The Wall
.
.
.
Park Chanyeol x Byun Baekhyun
and other(s)
.
.
.
Chapter III
.
.
.
.
.
Makan malam itu berlangsung santai, sebenarnya. Mengabaikan reaksi keras Baekhyun soal pernikahan, kini para lelaki—minus Baekhyun dan Chanyeol—telah terlibat pembicaraan seru soal bisnis. Hyesun dan Junsu sendiri asyik membicarakan usaha makanan mereka. Baekhyun hanya merengut dan memakan spaghettinya dalam diam. Dia terlalu malas. Apalagi, para orangtua itu membuatnya dan Chanyeol duduk berdampingan.
"Bagaimana, Baekhyun-ah?"
Baekhyun mendongak tiba-tiba dan menatap bingung Yoochun. Jejak saus di ujung bibirnya membuat Junsu berteriak gemas.
"Lihatlah." Wanita itu mengambil tissue dan membersihkan ujung bibir Baekhyun. "Kau benar-benar menggemaskan!"
"Ah, itu.." Baekhyun tersipu, merasa tak enak. "Terima kasih, Nyonya."
Jaehyun terkekeh. Putranya pasti melamun lagi. "Kau sangat lapar sampai tidak mendengar kami, Baekhyunie?"
Wajah Baekhyun memerah. "Maafkan aku, Appa."
"Kami berniat mengikat kalian dengan pertunangan. Mengingat reaksi Baekhyun yang sepertinya belum siap." Tawa Yoochun berderai. "Pertunangan akan diadakan bulan depan."
"Appa?" Chanyeol menyahut. "Apa tidak terlalu cepat? Maksudku—"
"Kandungan kakakmu akan menginjak tiga bulan. Kau harus segera menggantikannya di posisi CEO."
Tangan Baekhyun mengepal tanpa sadar. Tentu saja, sedari tadi Chanyeol diam saja. Ia benar-benar mencari untung dalam pengikatan ini. Semua soal bisnis.
"Lagipula, kufikir pernikahan memang terlalu cepat." Hyesun tersenyum. "Baekhyunie masih sembilan belas tahun dan baru bertemu dengan Chanyeol. Dia pasti terkejut dan butuh waktu."
"Aku—"
"Kita sudah pernah bertemu."
Sahutan Chanyeol membuat Baekhyun menoleh cepat. Mata kecil pemuda itu melebar. Apa Chanyeol mengingatnya? Apa dia ingin berkata mereka bertemu di Peru? Bukankah ini gila? Baekhyun menggeleng kecil sambil menggigit bibir bawahnya. Chanyeol pun tersenyum kecil, geli. Ia berdehem.
"Apa?" tanya Jaehyun. "Kalian pernah bertemu sebelumnya?"
Chanyeol mengangguk. "Ya. Kami bertemu di pesta keluarga Kim."
Dahi Baekhyun berkerut. Chanyeol kini menatapnya dengan binar mata yang usil. Si mungil berpikir keras. Mereka bertemu? Kapan? Baekhyun tidak lama disana.
"Oh, ya?" Sahut Junsu senang. "Itu artinya akan lebih mudah, bukan?"
"Apa kau bersamanya?" Hyesun ikut menimbrung. "Baekhyunie agak pendiam sejak pesta itu."
Chanyeol melebarkan matanya tidak peka. "Benarkah? Aku hanya bertemu dengannya sebentar di taman belakang."
Taman belakang. Baekhyun memang lewat sana saat akan pulang. Seingatnya, ia hanya melihat sepasang tamu yang melakukan hal yang tak sewajarnya. Lalu, tubuhnya ditarik oleh seseorang dan—
Tunggu. Jangan-jangan pria ini..
Baekhyun menatap tajam Chanyeol, yang mengedipkan sebelah mata padanya.
"Sudah ingat, anak manis?"
Dengusan halus Baekhyun dapat didengar yang lebih tinggi. Chanyeol terkekeh. Anak ini, si bocah lima belas tahun yang dulu dilecehkannya, telah berubah menjadi tuan muda yang menarik.
"Kalau begitu, kalian sepakat, bukan?"
Keduanya mengalihkan atensi mereka pada Yoochun. Pria itu tersenyum lebar. Gurat halus di sekitar matanya terlihat, namun tidak bisa menutupi binar bahagia di dalamnya. Chanyeol tertegun lalu tersenyum.
"Ya, Appa. Aku setuju."
Yoochun tersenyum begitu lebar, disambut dengan tepuk tangan kecil dari Junsu. Hyesun mendekatkan tubuh ke anaknya, mengelus pelan lengan si mungil.
"Baekhyunie? Bagaimana?"
Jujur saja, ini sangat berat. Pria disampingnya ini bukanlah siapa-siapa, tapi dia mengambil segala milik Baekhyun. Hal terpenting yang membuat dirinya bukan lagi dirinya.
"Baekhyunie?"
Kepala bersurai coklatnya mendongak. Senyum hangat Jaehyun ditangkapnya. Benar, kedua orangtua, perusahaan, dan mungkin ribuan karyawan ada diatas pundaknya kali ini. Baekhyun sadar dia harus lebih dewasa. Keputusannya malam ini adalah salah satunya.
Ia menghela nafas. "Ya. Aku setuju."
Baekhyun tidak bisa mendengar apa-apa lagi selain ketukan sepatu Junsu, disusul pelukan setelahnya. Euforia ruangan berubah menjadi segar. Mata kecil Baekhyun melirik, mencoba menebak ekspresi pria di sebelahnya. Chanyeol menatapnya. Entah apa artinya.
.
.
.
Bisa dibilang, kekayaan membuatmu berubah, dan atau, dirubah dengan cepat. Selepas pertemuan makan malam yang berakhir dengan keputusan tentang pertunangan, nama Baekhyun menjadi terkenal. Tuan Muda Byun itu bahkan bisa menggalang jutaan fans dalam semalam. Instagramnya banjir komentar dan follower. Fotonya tersebar kemana-mana dan ruang geraknya terbatasi.
Semua dimulai karena Park Enterprises yang begitu antusias mengumumkan soal pertunangan pewarisnya, tepat tengah malam tadi. Identitas Baekhyun terungkap. Kehidupannya tidak lagi bebas.
"Tuan Muda?"
Baekhyun mengintip dari celah kecil dibalik selimut tebalnya. Itu Taeyeon, pelayan junior yang sering mengurus Baekhyun. Gadis itu lebih tua tiga tahun darinya. Wajahnya mungil, dengan tubuh yang kecil. Sesungguhnya, Baekhyun menyukainya.
Entah rasa suka macam apa yang dirasakannya, ia hanya merasa nyaman dengan Taeyeon. Gadis itu baik dan cekatan, walau cuek luar biasa. Ia bahkan tidak tahu jika Baekhyun sering mencuri pandang kearahnya.
Tapi, hanya sebatas itu.
Sejak kejadian pemerkosaan oleh Chanyeol, Baekhyun merasa hidupnya berubah. Ia selalu berpikir kalau dia kotor, tak berguna. Tak pantas untuk wanita manapun. Terlebih, wajahnya jauh lebih cantik dari wanita kebanyakan. Ini yang selalu dikhawatirkan Michele—bahkan Louis. Pemuda pedagang koran itu kerap mengantar dan menjemput Baekhyun dengan sepedanya, karena takut seseorang akan menculik si mungil.
Sial, Baekhyun semakin merindukan keluarga berharganya itu.
"Tuan Muda."
Tepukan pelan tangan Taeyeon membuatnya bergerak gusar. Baekhyun kesal, entah pada apa. Ia membalikkan badan, enggan bangun.
"Aku tidak kuliah hari ini."
"Walaupun begitu, ini sudah lewat dari jam sarapan, Tuan Muda." Taeyeon menghela nafas. "Anda harus makan."
"Ck!" Baekhyun bergerak kasar. Ia bangun dan mendudukkan dirinya dengan kasar. Mata kecil itu menatap tajam Taeyeon. "Biasanya kau akan membawakan sarapan ke kamar jika aku terlambat?"
Taeyeon berkedip heran. "Aku memang begitu, tapi—"
"Tapi apa?! Kau malas? Mulai bosan bekerja disini?!"
"Tidak, astaga, Tuan Muda." Gadis itu mengibaskan kedua tangannya panik. "Itu karena—"
"Karena kita seharusnya sarapan bersama."
Suara berat, dalam, dan tidak familiar membuat Baekhyun menoleh. Matanya membola kaget saat melihat pria yang paling dihindarinya telah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Chanyeol?"
"Itu yang ingin aku katakan, Tuan Muda." Taeyeon mendesah. "Tuan Muda Chanyeol telah menunggu di ruang makan."
Baekhyun menatap tajam gadis itu. Wajahnya mengeras saat menyadari Chanyeol telah berjalan kearah mereka. Taeyeon menjauhkan dirinya sebagai sikap sopan.
"Untuk apa kau kesini?"
Singkat, padat, jelas. Chanyeol menahan kedut diujung bibirnya. Pria tinggi itu melipat kedua tangannya di dada. Mata bulatnya melirik Taeyeon yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Nona Kim?"
Taeyeon menunduk sopan. "Ya, Tuan Muda?"
"Kau boleh keluar." titah Chanyeol. Pria itu kembali menatap Baekhyun. "Ada yang ingin kubicarakan dengan tunanganku."
Bibir Taeyeon membentuk kurva senyum yang sangat manis. "Tentu, Tuan Muda. Nikmati waktu kalian berdua."
Nikmati?, batin Baekhyun berdecih.
Taeyeon pun membungkuk hormat dan berbalik menuju pintu keluar, meninggalkan kedua tuan mudanya dalam kamar mewah Baekhyun. Saat debum pintu yang ditutupnya terdengar, wajah tegang Taeyeon berubah merah. Ia berjingkrak pelan.
"Ah! Aku harus melihat akun fanbase tuan muda sekarang!"
Sudahkah ada yang memberi tahu kalau Taeyeon adalah pembuat akun fans Chanyeol dan Baekhyun?
.
.
.
Ruangan itu hening. Baekhyun masih bertahan dengan posisi duduk dan selimut yang membungkus setengah tubuhnya. Sedangkan Chanyeol berdiri di sisi ranjangnya sambil bersidekap.
"Kau akan terus diam?" ucap Chanyeol. Matanya memandang tepat kearah wajah si mungil.
Baekhyun menghela nafas. "Memangnya aku harus bicara apa?"
"Entahlah." Ia mengangkat bahunya. "Mungkin, 'Selamat pagi, sayang. Sini cium aku'."
Baekhyun berdecih, lalu menatap tajam Chanyeol. "Dalam mimpimu."
Kekehan menyambut ucapan Baekhyun. Chanyeol bergerak mendekat, membungkukan sedikit tubuhnya dan menatap tepat ke wajah pria mungil itu. Baekhyun bergerak risih dan waspada.
"Mau apa kau?"
"Mauku?" Chanyeol tersenyum dan mencengkram pelan lengan Baekhyun. "Bagaimana jika kita mengulang hal empat tahun yang lalu?"
Mata Baekhyun melotot. Ia menatap kesal pria di sampingnya. Tubuhnya tegang dan emosinya naik. Ia menghempaskan tangan Chanyeol yang berada di lengannya.
"Asal kau tahu, aku akan membatalkan pertunangan ini secepatnya, sebelum kita benar-benar menikah."
Ucapan Baekhyun membuat Chanyeol terkekeh. Ia kembali berdiri dan menaruh kedua tangannya di saku.
"Lalu apa alasanmu? Kau tidak mau menikah dengan orang yang memperkosamu?"
Baekhyun kembali mendelik. "Berhenti membahasnya!"
"Hei, aku bertanya." bela Chanyeol. "Aku butuh alasan yang jelas. Kau tahu? Tunanganku baru berkata kalau dia menolak menikah denganku."
"Untuk apa? Aku hanya perlu bilang aku tidak menyukaimu dan masalah selesai!"
Chanyeol mengangguk, terlihat tidak peduli. Pria itu menghela nafas kecil dan menarik sebuah kursi dari depan meja belajar Baekhyun. Suara derit alami terdengar saat ia duduk diatasnya.
"Baekhyun, kau tahu siapa aku?"
"Ck." Baekhyun memutar bola matanya. "Apa ini akan berakhir seperti drama? Kau mengancam keberlangsungan perusahaanku?"
Chanyeol terkekeh. "Apa terlihat seperti itu?"
Baekhyun tidak menjawab. Pria itu membenarkan duduknya, bersandar pada kepala ranjangnya yang kokoh. Chanyeol menghela nafas.
"Kalau begitu, mari kita ganti topiknya." Ia menyilangkan kaki dan melipat tangannya di dada. "Terakhir kudengar, Korporasi Byun punya lebih dari lima ribu karyawan. Belum termasuk pekerja lepas di lapangan. Kau tahu?"
Baekhyun mendelik. "Kau sedang menghinaku?"
"Oh, Tuhan, Baekhyun." Chanyeol berdecak. Ia mulai lelah berdebat dengan si mungil. "Dari lima ribu karyawan, menurutmu, berapa persen yang berstatus kepala keluarga? atau tulang punggung bagi ibunya?"
"Itu bukan urusanmu! Berhenti mencampurinya!"
"Aku sedang mengajakmu berpikir! Jika kau tidak peduli pada korporasi, setidaknya pedulikan bagaimana lima ribu orang bisa makan saat perusahaanmu itu hancur!"
Baekhyun terkesiap. Binar matanya berubah redup saat Chanyeol berteriak, setengah memaki dirinya. Pria tinggi itu menghela nafasnya kasar, sementara Baekhyun meremas selimut ditubuhnya.
"Byun Baekhyun.." suara Chanyeol lebih dingin dari biasanya. "Suka atau tidak suka, Park Entreprises mengangkat nama korporasi Byun. Perusahaanmu besar, tapi tidak cukup besar menandingi kami."
Baekhyun menggigit bibirnya. "Dan apa maumu sebenarnya?"
Hening menyambut, tapi ia tahu, pandangan Chanyeol tak lepas darinya. Suara derap langkah di lorong perlahan makin terdengar. Baekhyun menunduk saat Chanyeol berdiri dari duduknya dan meraba pelan dagu si mungil.
"Tatap aku."
Suara berat nan dalam itu membuat detakan jantung Baekhyun menggila. Jemari panjang Chanyeol bergerak, menarik pelan dagu miliknya. Kedua mata itu bertatapan. Baekhyun merasa dirinya tertarik lagi saat memandang mata besar Chanyeol. Derap langkah di luar semakin mendekat dan bibir tebal Chanyeol kembali menginvasi bibir yang lebih mungil. Ayunan kenop dengan bunyi klik terdengar, di susul suara yang sudah Baekhyun kenal.
"Baekhyunie, eomma akan—astaga!"
.
.
.
'Tak'
Kedua pria dengan pakaian putih dan topeng pelindung saling menyerang dengan sebuah pedang tipis di tangan mereka. Gerakan keduanya begitu indah dan terlatih.
'Tak' 'Tak'
Salah satu dari keduanya kini bergerak lebih agresif. Gerakan tangannya menusuk, mengecoh lawan. Ia memutar, menghindar dari serangan balik sebelum menunduk dan menghantam gagang pedang yang lain.
'Tak'
'Klang'
"Selesai!"
Kedua orang itu berdiri dari posisi saling menyerang. Pedang dari salah satunya sudah terjatuh di sampingnya. Seorang pria berusia empat puluhan mendekati mereka sambil bertepuk tangan.
"Kemajuan, Tuan Muda."
Secara bersamaan, kedua orang itu membuka topeng mereka. Minhyuk menghembuskan nafasnya lega. Didepannya, Kyungsoo cemberut dan membuang topengnya.
"Kemajuan apa?!" dengusnya. "Aku tetap kalah."
Pria tadi mengulum senyumnya, maklum. Minhyuk terkekeh sambil mengibaskan tangannya.
"Pulanglah, Pak Kim. Terima kasih untuk hari ini."
"Sama-sama, Tuan Muda."
Sepeninggal Pak Kim, Minhyuk berjalan kearah kursi empuk di sisi arena berlatih. Ya. Tempat ini adalah spot favorit empat sekawan itu. Hall lebar dengan arena berlatih anggar ditengahnya itu di bangun oleh ayah Minhyuk, sebagai hadiah ulang tahun keponakan favoritnya, Sehun.
Pemuda tampan itu duduk di salah satu kursi setelah mengambil minuman dari tas-nya. Di seberangnya, Kyungsoo masih cemberut, duduk bersebelahan dengan Sehun yang menatap fokus layar laptop-nya.
"Sudahlah, Kyung. Gerakanmu lumayan tadi."
Kyungsoo menghembuskan nafasnya kesal. "Aku ada janji berlatih dengan Jongin. Bagaimana aku bisa menang melawannya jika aku terus-terusan kalah?"
"Lagi pula untuk apa menang?" Minhyuk menegak minumannya. "Kau tidak akan kehilangan keperjakaanmu jika kau kalah, bukan?"
Pipi bulat Kyungsoo berubah merah. Sontak saja, kedua mata Minhyuk membulat melihat reaksi sahabatnya. Ia tertawa keras.
"Astaga." Tawa pemuda itu kian menggelegar. "Kau benar-benar? Apa ini sebuah taruhan? Huahahahahaha."
Wajah Kyungsoo makin merona. "Diamlah."
"Sehun-ah, hei, lihatlah." Ia menarik pipi Sehun, memaksanya melihat wajah menggelikan Kyungsoo. "Kau harus menjadi saksi sebelum Kyungsoo kita ditiduri. Huahahahahaha!"
"Ck." Sehun berdecak, menolak melihat dan masih fokus pada laptop-nya. "Diamlah, Hyung. Apa kau sudah membaca berita hari ini? Astaga, bagaimana mungkin bisa seperti ini."
Minhyuk mengangkat satu alisnya. "Soal pertunangan Baekhyun dan Chanyeol?"
"Kau sudah tahu?"
"Tunggu." Mata bulat Kyungsoo membola. "Apa maksudmu—pewaris Park dan Baekhyun?"
"Park Enterprises mengumumkannya tengah malam tadi." Minhyuk menarik resleting pakaian berlatihnya. "Mereka akan mengadakan pesta di Jeju, sejauh yang aku ingat saat membacanya."
"Aku tahu, aku baca beritanya." Sehun mendengus. "Maksudku, sejak kapan? Baekhyun tidak pernah cerita. Dia bahkan tidak tahu Park Chanyeol."
Minhyuk terkekeh. "Kupikir itu bagus. Chanyeol bisa jadi guru yang baik untuk Tuan Muda cerewet itu."
"Ya, Tuhan." Kyungsoo menghela nafas. "Aku harus menelepon anak itu. Awas saja."
Pemuda bermata bulat itu buru-buru mengeluarkan iPhone dari tas coklat miliknya. Beberapa detik, nada sambung terdengar. Kyungsoo menempelkan handphonenya di telinga.
"Halo? Ya! Byun Baekhyun! Cepat kemari dan—apa?" Wajah Kyungsoo berubah merah. "A-ah, maafkan aku. Oh, t-tidak perlu. Nikmati saja waktu kalian, ehehe. Benar. Ya! Tentu saja, ah ya—sampai jumpa."
Kyungsoo menurunkan handphone mahal itu di meja dengan gerakan kaku. Minhyuk dan Sehun menatapnya dengan dahi berkerut.
"Ada apa?"
"Aku menelepon Baekhyun."
Sehun memutar bola matanya. "Ya. Kami melihatnya."
"Lalu dia bilang apa?" sambar Minhyuk.
"I-itu.." Kyungsoo menggigit bibirnya, lalu tertawa kaku. Kemudian, ia menghela nafas panjang.
"Telepon itu diangkat. Tapi, Park Chanyeol yang bicara."
.
.
.
"Kembalikan."
"Pilih dulu cincinnya."
"Aku butuh handphone-ku."
"Pilih dulu cincinnya."
Baekhyun menghela nafas kasar. Ia menyandarkan punggung pada kursi empuk yang didudukinya. Setelah adegan ciuman yang dipergoki Hyesun tadi, ia mau tidak mau ikut dalam pemilihan cincin untuk pertunangan mereka. Hyesun dan Junsu sedang di butik, mengurus busana. Sedangkan ia dan Chanyeol terjebak disini, di ruang VIP sebuah toko perhiasan dengan puluhan model cincin yang ditawarkan.
"Kau saja yang pilih." Baekhyun melipat tangannya di dada. "Aku ikut saja."
Helaan nafas terdengar dari bibir Chanyeol. Pria itu bergerak, mengambil telapak tangan Baekhyun dan menaruh handphone si pemuda diatasnya.
"Tunggulah di restoran cepat saji di seberang mall." ucap Chanyeol seraya berdiri dan masuk menemui sang pembuat perhiasan. "Aku akan menyusulmu kesana."
Baekhyun terdiam. Kenapa pria itu jadi berubah? Apa dia mulai lelah padanya? Bagus. Batin Baekhyun kini tertawa bahagia. Pemuda mungil itu berdiri dengan riang, bahkan bersiul saat keluar toko. Ah, ia hanya perlu menunggu. Sebenarnya, ia bisa langsung pulang. Tapi, itu bukan sikap sopan dan orangtuanya akan kecewa.
Oke. Baekhyun bisa duduk sambil makan ayam goreng.
.
.
.
"Daehyun-ah!"
Daehyun menoleh malas saat sepupu sekaligus teman sekelasnya, Krystal, memanggil sambil berlari kearahnya. Pemuda itu hanya mendengus pelan dan melanjutkan langkahnya. Krystal terengah-engah, mencoba mengimbangi jalan si pemuda.
"Kau sudah dengar? Soal Baekhyun?"
Daehyun menghela nafasnya. "Kau orang ke enam yang bertanya begitu."
"Jelas saja!" Krystal menyergah, menahan langkah Daehyun dan berdiri di hadapannya. "Kau tahu apa yang akan terjadi, kan? Mereka akan menikah!"
"Lalu? Kau cemburu karena Chanyeol hyung sudah punya calon?"
Mata Krystal melotot marah. "Kau ini! Kau tahu sendiri kalau Chanyeol oppa sudah punya seseorang. Dia bahkan sudah mencarinya selama empat tahun! Lagipula, kau yang akan kehilangan Baekhyun!"
"Sudahlah." Daehyun menepuk kening Krystal. "Aku lapar. Ayo makan."
Pemuda itu melangkah ke samping, mendorong pelan tubuh sepupunya dan kembali berjalan. Krystal menatapnya tak percaya sebelum menyusulnya.
"Ini sebabnya kau tidak pernah mendapatkan Baekhyun! Kau terlalu lengah dan menerima apa adanya. Harusnya kau lebih keras pada anak itu— memaksa sedikit juga tak masalah. Dan—"
"Benarkah?"
Krystal menghentikan omongannya saat tiba-tiba saja Daehyun berhenti. Pemuda itu kini terdiam, dengan kepala menunduk dan sibuk bergumam. Dahi Krystal mengerut heran.
"Hei, Daehyun-ah?"
"Benarkah seperti itu?" Daehyun mengangkat kepalanya dan beralih menatap koridor sepi di depan mereka. Binar matanya berubah. "Aku harus memaksa, bukan?"
"Apa, sih?" sahut Krystal. "Maksudku itu—"
"Ya, kau benar." Daehyun mengepalkan kedua tangannya sambil tersenyum lebar. "Benar, tentu saja itu benar."
"Baiklah, itu benar. Tapi—hei! Daehyun-ah! Kau mau kemana?! Hei!"
Panggilan Krystal hanya bergema, karena Daehyun sudah berlari menjauh tanpa menoleh lagi. Gadis itu cemberut.
"Dia kenapa, sih?!"
.
.
.
Pengaruh media sosial jaman sekarang benar-benar luar biasa. Baekhyun merasakannya hari ini. Ia bahkan baru saja mengantri untuk memilih makanan, tapi kasir wanita di depannya berubah gagap dan hanya memperhatikan wajahnya. Sekarang, saat ia duduk dan menyantap kentang goreng, sekumpulan gadis SMA di meja pojok terang-terangan membicarakannya. Baekhyun mendengus. Ia mulai merasa jika Chanyeol sengaja menyuruhnya ke tempat ini.
"A-anu.."
Cicitan kecil di sampingnya membuat Baekhyun mendongak. Seorang anak muda, mungkin di usia lima belas tahun, dengan ransel merah dan kacamata bulat datang menghampirinya. Pemuda itu meneguk ludah saat Baekhyun menatapnya.
"Ya, ada perlu denganku?"
Dengan gugup, anak berkacamata itu membuka ranselnya, mengeluarkan sebuah note dan mengulurkannya pada Baekhyun. "K-kakakku sedih karena nilai ujiannya jelek hari ini. Tadi malam d-dia sibuk membicarakanmu. Bolehkah aku meminta tanda tanganmu untuknya? K-kalau tidak boleh juga tidak apa-apa, hyung! Hehehe."
Baekhyun tersenyum. Kurva bibirnya melengkung keatas dengan sempurna. Mata berhias eyeliner itu membentuk eyesmile cantik yang memukau. Ia tidak sadar, senyuman itu membuat seluruh orang terpesona.
"Tentu saja boleh." Baekhyun mengambil note itu dan mulai menandatanginya. "Siapa nama kakakmu?"
"S-Shin Yeonjoo."
"Shin Yeonjoo." gumam Baekhyun sambil menambahkan kata 'tetap semangat!' dengan sebuah emot senyuman di akhir tulisannya. "Nah, selesai."
Binar mata si anak berkacamata itu tidak lagi bisa di ekspresikan. Ia mengambil note itu dengan gemetar dan membungkuk sambil terus berucap terimakasih.
"A-aku benar-benar berterimakasih. Aku—"
"Sudah selesai?"
Semua orang menahan nafas. Bisik-bisik halus mulai terdengar saat figur Chanyeol sudah berdiri di belakang si anak. Seluruh konsumen bahkan membulatkan mulut mereka, terpukau dengan ketampanan pewaris Park Entreprises. Anak itu menoleh kaku dan ikut melotot.
"A-aku akan segera pergi." ucapnya sambil kembali membungkuk pada Baekhyun. "Sekali lagi, terima kasih!"
Baekhyun tersenyum manis dan mengangguk seiring menjauhnya figur si bocah. Wajah menyenangkan itu tiba-tiba berubah saat matanya bertubrukan dengan pandangan Chanyeol. Baekhyun berdiri dari tempatnya.
"Ayo pulang."
Chanyeol refleks menahan lengan Baekhyun dan membawanya kembali berdiri di sisi kursi. "Kau belum menghabiskan makananmu."
"Aku sudah kenyang." ucapnya acuh. "Lagipula, bukankah aku hanya perlu menunggu dan kita pulang?"
Tidak ada jawaban. Restoran itu pun mendadak hening. Sejak tadi, kehadiran Baekhyun benar-benar mendapat perhatian. Chanyeol menaruh tas belanja dengan logo Rolex diatas meja. Ia melangkah mendekati Baekhyun, sedikit merunduk untuk menyamakan tinggi mereka.
"Byun Baekhyun."
Dalam dan berat. Suara Chanyeol membuat Baekhyun merinding. Pemuda mungil itu meneguk ludahnya sambil terus berusaha menatap Chanyeol.
"K-kau—"
Wajah Chanyeol terus bergerak mendekat. Para pengunjung restoran menahan nafas, bersiap dengan adegan selanjutnya. Baekhyun sendiri refleks menutup matanya, membuat Chanyeol tersenyum. Alih-alih mencium, pria itu mengambil sesuatu dari kotak beludru di kantung jas dan menaruh benda itu dalam mulutnya.
"Dengar, Byun Baekhyun."
Baekhyun mulai membuka matanya perlahan. Ia bisa merasakan saat Chanyeol memegang tangan dan mencium jemarinya. Baru saja ia akan bertanya, jari manis di tangan kirinya kini tengah dihisap Chanyeol. Sensasi hangat mulut pria itu membuat wajah Baekhyun merona.
"A-apa yang kau lakukan?"
Chanyeol menatap dalam matanya. Hisapan pelan itu berhenti dan Baekhyun bisa merasakan sesuatu lain yang melingkari jari lentik miliknya. Sebuah cincin, yang disematkan Chanyeol dengan mulutnya. Semua orang merona, malu sendiri dengan aksi pria itu.
"Aku hanya mengatakannya sekali, karena itu jangan buang waktu untuk menjawabnya." Chanyeol menggenggam jemari Baekhyun sambil mengelus cincin yang tersemat. "Byun Baekhyun, menikahlah denganku."
Pekikan rendah terdengar di restoran tersebut. Baekhyun dapat merasakan tatapan semua orang tengah menghujam mereka. Kakinya gemetar. Otaknya memutar ulang pembicaraan mereka di kamar Baekhyun, pagi ini. Segala tentang perusahaan dan bagaimana sikapnya berpengaruh bagi kelangsungan hidup ribuan orang. Baekhyun menggigit bibirnya sebelum menjawab.
"Ya." suara Baekhyun terdengar parau. "Ayo, kita menikah."
Chanyeol terkekeh dan menarik pria itu ke dalam pelukannya. Riuh rendah mulai memenuhi ruangan. Beberapa dari mereka bahkan bertepuk tangan. Baekhyun dapat merasakan beberapa kamera memotret. Kepalanya terbenam sampurna dalam dada bidang Chanyeol. Jika dilihat, keduanya terlihat sangat serasi. Chanyeol mendekatkan bibir ke telinga si mungil, berbisik sesuatu yang tidak akan pernah terpikir orang lain.
"Kau membuat pilhan bagus, pewaris Byun."
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
*Author's Note*
Halo gengs, up nih. Sekedar info kalau fic ini tidak memiliki jadwal update karena yes, saya mulai banyak kegiatan di rumah dan kampus.
Tapi, saya pasti update, kok. Hehehehe.
Yaudah ya, selamat membaca. Atuh saya blank mau nulis apalagi. /no
Ppapai~
Regards,
Purf.
